image

Klek.
Suara pintu yang dibuka membuat Kyuhyun mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatiannya dari setumpuk pekerjaan kepada seorang gadis dan anak laki-laki yang memasuki ruangannya. Cho Kyuhyun bangkit berdiri, tersenyum lebar dan menghampiri kedua orang tersebut. Secara bergantian, Kyuhyun memeluk mereka dan memberikan kecupan di pipi masing-masing. “Sudah sampai? Mana eomma?” Tanya Kyuhyun.

Gadis muda yang sudah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk hanya memutar matanya kesal. “Appa sudah 4 bulan tidak bertemu denganku dan yang Appa tanyakan ketika melihatku ‘mana eomma’. Seriously? Appa tidak merindukanku?” Keluh anak itu.

Kyuhyun merasa bersalah. Dengan segera, Kyuhyun ikut menghempaskan diri di sebelah anak perempuan satu-satunya yang ia miliki lalu menciumi seluruh wajah itu. “Appa!!! Hentikan!” Teriak Jihyun sambil mendorong-dorong ayahnya agar menjauh darinya.

“Appa akan menjauh kalau kau memaafkan Appa,” kata Kyuhyun yang tanpa pantang menyerah menciumi pipi, kening dan hidung Jihyun. Anak gadis itu akhirnya menyerah. “Aku maafkan. Aku maafkan. Sekarang, lepaskan aku!!” Kata Jihyun.

“Terima kasih, anakku yang cantik,” ujar Kyuhyun yang tidak berminat untuk melepaskan anaknya. Ia justru semakin posesif. Dengan penuh kasih sayang, anak gadis itu sudah berada dalam pelukan hangat ayahnya. “Appa, lepaskan aku,” pinta Jihyun dan ditolak mentah-mentah oleh Kyuhyun.

“Tidak mau. Aku masih merindukanmu,” kata Kyuhyun tidak peduli. Ia terus menciumi Jihyun dengan gemas meskipun anak gadisnya itu meronta-ronta.

Jihyun menatap kepada adik bungsunya yang sedang asyik menonton film di televisi yang terpasang di ruang kerja ayahnya. Anak laki-laki itu begitu terhanyut dengan film kartun yang sedang ditontonnya sehingga tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi dengan ayah dan kakak perempuannya. “Yaaaa Cho Jinhyuk! Tolong aku!” Seru Jihyun yang membuat Jinhyuk akhirnya menoleh kepada Jihyun dan Kyuhyun.

“Ada apa?” Tanya Jinhyuk tidak mengerti karena ia tidak mengikuti jalan cerita sampai Jihyun meneriakkan namanya.

Jihyun hanya mengerang kesal. “Lepaskan aku dari Appa!” Kata Jihyun dengan tidak sabar. Kihyun menatap Kyuhyun dan Jihyun secara bergantian. Kyuhyun terlihat sangat menikmati bisa menggoda anak perempuannya yang hanya bisa ditemui setahun tidak lebih dari 5 kali karena gadis itu sekolah di London, namun Jihyun menunjukkan ekspresi yang sebaliknya. “Appa, lepaskan nuna. Kasihan dia,” kata Jinhyuk dengan santai lalu kembali menonton televisi, antara niat dan tidak niat menyukseskan permintaan kakaknya.

Kyuhyun menghentikan godaannya kepada Jihyun. Niatnya untuk menggoda Jihyun seketika hilang tergantikan niat untuk menggoda Jinhyuk. Seringaian jahil sudah tercetak jelas di wajahnya. Tidak peduli anak bungsunya itu sedang konsentrasi menonton, Kyuhyun menggendong Jinhyuk dan menciumi wajah anak laki-laki tersebut. “Appa!! Aku sedang nonton!! Turunkan akuu!!!” Seru Jinhyuk terkejut sekaligus kesal. Ia meminta diturunkan tanpa mengalihkan matanya dari layar televisi. Kyuhyun hanya tertawa-tawa geli. Jinhyuk tetap berada di gendongannya dengan pipi tembam yang sudah habis dicubiti oleh bibir Kyuhyun.

“Eomma!!” Teriak Jinhyuk yang membuat Kyuhyun menurunkan Jinhyuk. Hyejin sudah berada di dalam ruangan dengan Kihyun di sisinya. “Kau tidak bisa tidak mengganggu anak-anakmu ya, Kyu?” Tanya Hyejin dengan tenang. Kyuhyun tersenyum melihat kemunculan Hyejin. Tanpa membuang waktu, pria itu segera menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat.

“Kau lama sekali. Aku setengah mati merindukanmu,” kata Kyuhyun disusul tawa mengejek dari Jihyun. Kyuhyun menoleh kepada gadis itu dan mengangkat alisnya, menuntut penjelasan.

“Dad, come on. You see her almost in every second in your life. Do you still miss her?” Sindir Jihyun dengan bahasa Inggrisnya yang semakin lama semakin mengalir seperti air.

Kyuhyun memilih mengabaikan ocehan anak gadisnya itu. Ia merasa lebih baik kembali memeluk Hyejin. “I hate her English,” ucap Kyuhyun dengan volume suara keras, ditujukan kepada Jihyun yang sudah cemberut di atas sofa.

Hyejin hanya tertawa melihat tingkah laku keduanya yang sudah seperti anjing dan kucing tapi Hyejin berani bertaruh selama berada di Seoul, Jihyun pasti akan meminta untuk tidur bersama ayahnya. “Kalian berdua lebih baik berhenti bertengkar. Kalau tidak, kita tidak jadi makan malam bersama malam ini,” ujar Hyejin sedikit mengancam tanpa ada niat untuk benar-benar melakukannya.

Jihyun tampak tidak peduli. Begitu juga dengan Kihyun. “Aku mau kencan dengan Ahreum malam ini,” kata Kihyun yang sudah ikut-ikutan Jinhyuk terhiptonis pada sebuah film kartun, meskipun ia sudah berusia 22 tahun.

“Aku juga,” susul Jihyun kemudian.

Kyuhyun menajamkan matanya kepada Jihyun. “Kau mau kencan? Dengan siapa?” Tanya Kyuhyun tidak kalah tajam. Keterkejutan dan ketegangan Kyuhyun terasa pada pinggang Hyejin yang diremas kuat oleh tangan Kyuhyun.

Hyejin mengelus dada Kyuhyun untuk menenangkan pria itu. Dengan senyumannya, Hyejin berhasil menurunkan ketegangan Kyuhyun. Remasan di pinggang Hyejin tidak sekuat tadi. “Jihyun hanya akan pergi dengan Johae. Ya kan, sayang?” Tanya Hyejin kepada anak perempuannya.

Jihyun menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan satu nama yang membuat Kyuhyun terkesiap, “Juga Dongjoo Oppa.” Senyum di wajah Jihyun merekah ketika menyebutkan nama pria selain nama ayahnya.

Kyuhyun menyadari sesuatu di usia 17 tahun anak gadisnya. Anak itu sudah bisa jatuh cinta. Segala macam pikiran berdesakan di dalam otak Kyuhyun. Ia ingin bertemu dengan Dongjoo. Ia ingin tahu sudah sejauh apa hubungan anaknya dengan pria itu. Ia akan ikut makan bersama dengan anak-anak itu. “Kalau begitu, kita makan malam bersama saja. Kau, Johae dan Dongjoo makan bersama keluarga kita,” kata Kyuhyun.

Entah sudah berapa kali Jihyun menatap kesal ayahnya hari ini tapi kali ini bisa ia pastikan bahwa tatapan matanya benar-benar menunjukkan kekesalan. Hyejin menyadari hal tersebut. Dengan bijak, wanita itu mencari jalan keluar. “Biarkan saja Jihyun makan dengan Johae dan Dongjoo. Kita makan malam bertiga saja. Kau, aku dan Jinhyuk,” ujar Hyejin membujuk.

Kyuhyun menoleh kepada Hyejin, menatap wanita di sebelahnya dengan bingung. “Hye, anak perempuanmu akan pergi dengan seorang pria. Apa kau tidak khawatir?” Tanya Kyuhyun yang jelas sekali khawatir. Kecemasan sudah memenuhi ekspresi wajahnya.

Hyejin memutar bola matanya tanda ia sudah sangat kesal. “Kau berlebihan. Jihyun hanya akan pergi dengan anak-anak Donghae Oppa! Apa ada yang salah dengan keluarga Lee Donghae?” Kata Hyejin yang lebih terdengar seperti omelan.

Kyuhyun tidak ingin memperpanjang masalah. Tangannya sudah bersedekap di depan dada, matanya menatap tajam Jihyun. “Kau harus sudah kembali ke rumah sebelum jam 10 malam. Dan! Tidak ada mabuk-mabukkan,” kata Kyuhyun.

“Tentu saja aku tidak akan mabuk-mabukkan. Kena setetes alkohol saja aku bisa masuk rumah sakit,” oceh Jihyun dalam gumaman sambil memainkan jari-jarinya di atas layar telepon genggamnya. “Aku pergi. Johae dan Dongjoo Oppa sudah datang,” kata Jihyun sambil bangkit berdiri dari sofanya. Ia menghampiri Hyejin untuk memberikan sebuah pelukan dan ciuman singkat di pipi.

“Ingat pesan Appa,” kata Hyejin sebelum Jihyun pergi.

Kyuhyun membuka tangannya lebar-lebar untuk menerima pelukan dari anak keduanya itu tapi gadis itu berhenti di depan Kyuhyun dan menatap Kyuhyun dengan memelas. “Kau tidak akan memeluk Appa?” Tanya Kyuhyun.

“Untuk pria yang satu ini, aku mohon jangan mempersulitnya. Aku mencintai Dongjoo Oppa seperti Appa mencintai Eomma. Aku mohon,” jawab Jihyun tidak nyambung sama sekali.

Kyuhyun hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dengan lembut, Kyuhyun memberikan sebuah pelukan untuk Jihyun. “Lain kali kalau kau mau keluar dengannya, ia harus datang menemuiku lebih dulu,” kata Kyuhyun dengan serius. “Hanya itu syarat dariku.”

Jihyun tersenyum. “Gomawo, Appa,” ucap Jihyun sambil membalas pelukan ayahnya. Sebuah kecupan mendarat di pipi Kyuhyun. “No matter what, you’re still my first love. I love you, Dad,” kata Jihyun.

Kyuhyun mengantarkan Jihyun sampai ke depan lift, melambaikan tangan kepada gadis itu ketika pintu lift mulai menutup dan membawa gadis itu pergi meninggalkannya. Tidak ada yang tahu bahwa Kyuhyun baru saja menitikkan air mata.

“Gwencana?” Tanya Hyejin melihat suaminya yang kembali ke ruang kerja dengan wajah muram.

Kyuhyun menganggukkan kepala dengan lemah dan Hyejin tahu itu tanda suaminya ada apa-apa. “Kau akan segera terbiasa. Cepat atau lambat, Jihyun harus berpisah dari kita. Ia akan memiliki suami dan anak-anak. Dia akan punya keluarga sendiri.”

Kyuhyun menatap Hyejin penuh keterkejutan. “Aku tidak akan setuju jika Jihyun ingin segera menikah,” kata Kyuhyun tegas. Hyejin menggedikkan bahunya dengan santai. “Aku juga tidak setuju tapi kita harus mulai membiasakan diri melihat Jihyun pergi dengan orang lain, bukan kita,” sahut Hyejin. Kyuhyun terpaku di tempatnya. Imajinasi tentang Jihyun yang sudah menikah mulai menghantui Kyuhyun. Ia sampai bergidik membayangkannya.

Hyejin menepukkan tangannya, mengambil perhatian tiga pria di sekitarnya. “Okay, karena kita tinggal tersisa tiga dari lima, Jinhyuk mau makan di mana malam ini? Sayang?” Hyejin memanggil anak bungsunya.

Jinhyuk menggelengkan kepalanya. “Aku mau di rumah saja. Aku banyak tugas,” jawab Jinhyuk muram. Anak itu suka sekolah tapi ia benci tugas-tugas yang diberikan para guru untuk dikerjakan di rumah karena baginya itu mengurangi waktu untuk bermain.

Kihyun mencoba untuk menggoyahkan Jinhyuk. “Kau tidak mau ikut denganku? Aku mau makan di Chocolate Heaven,” kata Kihyun. Jinhyuk menelan ludah begitu mendengar kafe kesukaannya disebut.

“Jadi kau mau ikut Kihyun hyung, sayang?” Tanya Hyejin.

“Tapi tugasku,”

“Kau bisa membawanya. Aku dan Ahreum akan membantumu,” sela Kihyun meyakinkan. Jinhyuk akhirnya bertekuk lutut. “Aku mau ikut, hyung,” kata Jinhyuk.

Kihyun bangkit berdiri, merapikan kemeja dan celana panjangnya. Ia meminta adiknya untuk mengikutinya. “Kita berangkat sekarang. Hyung harus menjemput Ahreum nuna dulu. Kajja,” kata Kihyun dan diikuti oleh Jinhyuk meskipun tidak rela meninggalkan kartunnya.

Kyuhyun dan Hyejin hanya saling bertatapan sepeninggal Kihyun dan Jinhyuk. “Kita hanya berdua lagi,” kata Hyejin sedih. “Aaaah, aku merindukan makan bersama dengan keributan mereka bertiga. Kenapa mereka tumbuh begitu cepat?”

Kyuhyun membelai rambut Hyejin lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Cepat atau lambat, mereka akan berpisah dengan kita. Kau akan terbiasa,” ujar Kyuhyun hanya bermaksud menggoda namun mendapat tatapan mematikan dari Hyejin sebagai ganjarannya.

“Kau menyebalkan!”

Kyuhyun hanya tertawa terbahak-bahak sambil meminta maaf. “Kita makan malam berdua saja kalau begitu. Aku akan memesan tempat di Paradise khusus untuk kita berdua,” kata Kyuhyun dengan semangat. Seingatnya terakhir kali ia makan berdua dengan Hyejin adalah dua minggu lalu. Sudah lama sekali.

Sayang, Hyejin menggelengkan kepala. “Dua hari lagi Seoul Fashion Week akan dimulai. Aku dan tim harus bekerja keras untuk menampilkan yang terbaik. Kau,” Hyejin menatap Kyuhyun sambil menyusuri pipi pria itu dengan ujung kukunya. “Tidak bisa menggangguku,” ujar wanita itu dengan nada menggoda.

Kyuhyun hanya tersenyum lalu melancarkan serangannya, tanpa peringatan, di sekujur tubuh Hyejin. “Kau punya banyak hutang padaku, nyonya. Sebaiknya kau segera menebusnya,” kata Kyuhyun sambil menciumi Hyejin tanpa henti. Wanita itu hanya tertawa sambil bergelayut manja pada suaminya. “Kau akan terbiasa,” kata Hyejin usil.

Kkeut!

xoxo @gyumontic