“Oppa…” Rengek Hyejin kepada kakak laki-lakinya yang diketahuinya sangat menyayangi dirinya. Pria itu memiliki kecenderungan untuk mengabulkan apapun yang Hyejin minta. Beruntung bagi pria itu, satu-satunya adik yang ia miliki itu tidak pernah meminta hal-hal aneh yang sulit dipenuhi dari sekian banyak permintaan yang ia ajukan.

Joong Ki mencium kepala adiknya dengan gemas lalu tersenyum lembut kepada gadis itu. Mengingat gadis itu adalah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki dan sebaliknya, tidak ada hal yang bisa menggambarkan betapa berharganya seorang Hyejin untuk seorang Joong Ki. Begitu juga sebaliknya.

“Ada apa?” Tanya Joong Ki.

Hyejin tersenyum manis selebar mungkin, memamerkan deretan giginya yang putih, melancarkan jurus terjitunya untuk mengambil hati Joong Ki. Lebih dari dua puluh tahun hidup dengan pria sedarahnya itu membuat Hyejin tahu bahwa hal yang paling disukai Joong Ki pada Hyejin adalah ketika ia tertawa. Ketika gadis itu bahagia.

Seumur hidup mengenal gadis itu membuat Joong Ki hafal berbagai jenis senyuman yang diberikan adiknya. Termasuk senyuman merayu untuk dibelikan sesuatu, seperti saat ini. Joong Ki tidak akan ambil pusing jenis senyuman apa yang dilemparkan Hyejin. Selama gadis itu bahagia.

“Kau ingin dibelikan apa dari Hongkong?” Tanya Joong Ki dengan lembut membuat Hyejin tersenyum lebih cerah.

“Oppa memang cerdas!” Puji Hyejin lalu mengecup pipi Joong Ki dengan penuh kasih sayang. “Setelah selesai sarapan aku akan memberikan daftarnya. Aku sudah menulisnya semalam.”

Joong Ki mengacak-acak rambut Hyejin dengan gemas. Ia sudah tahu bahwa adiknya itu pasti akan membuat berat kopernya bertambah setiap pulang dari bepergian tapi Joong Ki tidak pernah protes. Sedikit pun. Selama gadis itu bahagia.

Kedua bersaudara Song yang terpaut usia enam tahun menyelesaikan sarapannya tepat waktu karena Joong Ki harus segera ke bandara untuk mengejar pesawatnya yang berangkat tiga jam lagi. Sebagai general manager HonoLo Group, Song Joong Ki seharusnya tidak perlu khawatir karena semuanya pasti sudah diatur oleh sekretaris perusahaan. Namun sudah jadi prinsip hidupnya harus tepat waktu dalam segala hal. Termasuk naik pesawat. Dia tidak suka ditunggu dan tidak menunggu. Tipe orang yang sangat disiplin.

Hal yang sama yang selalu ia ajarkan kepada adiknya membuat Hyejin memiliki kedisiplinan soal waktu yang tidak jauh berbeda dengan Joong Ki, meskipun levelnya masih di bawah Joong Ki. Pria itu tidak punya toleransi terhadap keterlambatan.

Hyejin mengantarkan kakaknya sampai ke depan rumah, tempat mobil kantor yang menjemput Joong Ki sudah terparkir rapi. “Hati-hati. Jaga kesehatanmu. Jangan lupa makan,” pesan Hyejin setelah memeluk kakaknya dengan erat. “Dan jangan lupa pesananku.” Ucapan terakhir Hyejin membuat Joong Ki tersenyum.

“Tidak akan lupa,” sahut Joong Ki meyakinkan.

Joong Ki hendak masuk ke dalam mobilnya namun Hyejin menarik tangannya dengan pelan sehingga ia kembali berbalik menghadap gadis paling penting dalam hidupnya saat ini. “Ada apa? Apa ada yang aku lupakan?” Tanya Joong Ki. Hyejin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Lalu?”

“Apa Oppa pergi dengan Cho Kyuhyun?” Tanya Hyejin sesantai mungkin yang ia bisa.

Joong Ki menganggukkan kepalanya sambil menelisik lebih dalam ekspresi wajah adiknya ketika menyebutkan nama salah satu anak buahnya. Hyejin tersenyum. Jenis senyuman malu-malu menutupi sesuatu. Joong Ki kenal senyuman itu. “Waeyo?” Sahut Joong Ki.

“Boleh… Ehm,” Hyejin menatap kakaknya sungkan. Dia masih ragu untuk mengatakannya namun ia tahu hanya Joong Ki, satu-satunya orang, yang dapat membantunya. “Apa oppa bisa menyampaikan salamku padanya?” Tanya Hyejin pada akhirnya.

Joong Ki menghela nafas panjang, menatap sedih adiknya. Sifat posesifnya menggeliat keluar dari persembunyiannya. Sejak kedua orang tua mereka meninggal, Joong Ki bertanggung jawab penuh atas Hyejin. Apapun akan ia lakukan untuk membuat Hyejin bahagia. Ia tidak akan pernah berani membuat Hyejin sedih. Orang tuanya berpesan begitu padanya.

“Apa itu akan membuatmu bahagia?” Tanya Joong Ki. Hyejin menganggukkan kepalanya. “Apa kau…” Joong Ki menelan ludah membayangkan kata-kata yang akan ia ucapkan. “Menyukainya?” Hal yang paling ditakutkannya adalah ada orang lain yang dapat menyakiti Hyejin. Paranoid.

Hyejin hanya menggedikkan bahunya ragu. “Aku baru mengenalnya jadi aku tidak tahu apa aku menyukainya atau tidak. Tapi ia sangat menarik. Sangat lucu,” kata Hyejin membuat Joong Ki terdiam. Ia menatap adiknya itu dengan seksama. Tatapannya membuat Hyejin khawatir.

“Kenapa? Apa Oppa tidak bisa menyampaikannya?” Tanya Hyejin. Joong Ki menggelengkan kepalanya. Selama Hyejin bahagia, ia akan melakukannya. “Dari seluruh permintaanmu, ini adalah hal yang paling susah. Dan jujur, aku menyesal mengenalkan Kyuhyun padamu. Dia memang baik tapi aku merasa ia bukan yang terbaik untukmu,” kata Joong Ki.

Hyejin tertawa ringan sambil mendorong kakaknya masuk ke dalam mobil. Baginya, kecemasan Joong Ki agak berlebihan. “Aku hanya berteman dengannya. Jangan biarkan imajinasi Oppa melanglang buana kemana-mana,” kata Hyejin sambil tertawa. “Dan sampaikan salamku untuk Myung Ri nuna. Kau harus mulai memikirkan sekretarismu itu, Oppa. Aku rasa ia cukup baik.”

Joong Ki mengabaikan kata-kata adiknya jika sudah membahas seorang wanita. Selalu. Dalam hidupnya hanya ada dua hal, yaitu bekerja dan Hyejin. Tidak ada yang lain. Mencari pacar adalah hal yang tidak mungkin dilakukannya. Tidak ada dalam jadwalnya yang padat. “Aku akan menghubungimu begitu sampai di bandara. Jangan tidak mengangkatnya,” kata Joong Ki disambut sebuah OK dari jari-jari tangan Hyejin.

Mobil Joong Ki pun melaju dan Hyejin kembali ke dalam rumah untuk mulai pekerjaannya sebagai fashion blogger, online trader sekaligus endorsement model. Hidupnya tidak akan bisa jauh dari internet dan peralatan elektronik canggih yang menunjang pekerjaannya. Itu pekerjaannya.

—-

“Hyejin titip salam untukmu,” kata Joong Ki kepada Kyuhyun di tengah-tengah acara makan malam terakhir mereka di Hongkong sebelum kembali ke Seoul keesokan paginya dengan penerbangan paling awal. Kyuhyun hampir saja tersedak dim sum udangnya kalau saja ia tidak cepat tanggap untuk segera meminum air putih. “Kenapa terkejut? Apa ini kali pertamanya kau mendapat titipan salam dari seorang gadis? Tidak kan?” Tanya Joong Ki datar. Dingin.

Kyuhyun tersenyum. Tentu saja ini bukan kali pertama ada seorang gadis yang menitip salam padanya. Hanya saja, ini kali pertama atasannya menyampaikan salam seorang gadis kepadanya dan gadis itu adalah adiknya sendiri. Kyuhyun tahu perlindungan macam apa yang diberikan atasannya ini kepada adiknya. Semua orang di kantor tahu tipe kakak macam apa General Manager yang satu ini. Adiknya itu nyaris tidak tersentuh. Jadi, wajar kalau ia cukup terkejut. Iya kan?

“Terima kasih sudah menyampaikannya. Sampaikan juga salamku untuknya ya, Sajang hyung,” sahut Kyuhyun dengan hangat, mencoba memangkas jarak antara dirinya dengan Joong Ki. Sebagai atasan dan bawahan, rekan kerja satu tim, hubungan Kyuhyun dengan Joong Ki bisa dibilang sangat dekat namun topik pembicaraannya kali ini membuat Kyuhyun semakin yakin bahwa pria itu memiliki sikap protektif yang sangat tinggi terhadap adiknya. Joong Ki menatapnya dengan tajam.

“Aku tidak akan menyampaikannya,” kata Joong Ki. Datar. Dingin.

Kyuhyun tetap tersenyum. Ia menatap Joong Ki dengan penuh kehangatan. “Sajang hyung-ku yang paling baik, aku dan Hyejin hanya berteman. Aku tidak akan menyakitinya. Jangan terlalu cemas,” kata Kyuhyun mengakhiri ucapannya dengan seringaian lebar yang menggemaskan.

Joong Ki tetap melempar tatapan dinginnya kepada Kyuhyun begitu juga nada bicaranya yang tidak berubah sedikitpun. “Aku bisa mempercayakan apapun padamu tapi tidak dengan adikku. Kau tahu itu kan, Kyu?”

Tentu saja Kyuhyun memahaminya dengan sangat jelas. Dengan apa yang telah dilakukannya, pria itu selalu merasa dirinya kurang sempurna dalam hal menjaga dan memberikan kebahagiaan untuk Hyejin jadi bagaimana ia bisa percaya pada pria lain untuk membahagiakan Hyejin.

“Paling tidak izinkan kami untuk berteman,” kata Kyuhyun dengan tegas. Tatapan keseriusan matanya langsung tertuju pada mata Joong Ki. Pria itu bahkan tidak berkedip sampai Joong Ki menyahut perkataannya. “Aku akan mengawasimu,” sahut Joong Ki.

—-

Hyejin menunggu di lobby HonoLo Group untuk bertemu dengan Joong Ki. Bukan karena ia merindukan Joong Ki setelah dua hari tidak bertemu namun karena ia sudah tidak sabar untuk mendapatkan pesanannya dari Hongkong. Akibat keterlambatan pesawat dari Hongkong, Joong Ki tidak sempat kembali lebih dulu ke rumah. Joong Ki bilang kalau Hyejin ingin segera mendapatkan pesanannya, ia yang harus datang sendiri mengambilnya. Joong Ki akan pulang larut malam ini. Dengan senang hati, Hyejin yang menghampirinya. Siapa tahu, ia dapat menemui teman barunya. Cho Kyuhyun.

Alih-alih bertemu Cho Kyuhyun, gadis itu bertemu dengan seorang pria yang tak asing dalam kehidupannya. Pria putih dengan wajah tirus bersegi, berjalan ke arahnya. Mata Hyejin memicing untuk memastikan identitas pria itu. Tiga tahun waktu yang cukup lama untuk membuat ingatan Hyejin kabur akan bentuk wajah orang.

“Lee Donghae!!” Seseorang memanggil pria itu membuat pria itu berhenti di tempat lalu membalikkan tubuh untuk melihat orang yang memanggil namanya. Buru-buru, Hyejin angkat kaki dari lobby tersebut menuju tempat yang bisa menyembunyikannya dari pria itu. Tidak ia sangka akan bertemu lagi dengan laki-laki itu di gedung ini. Seoul sangat luas. Kenapa harus di tempat kakaknya bekerja? Salah satu tempat yang paling sering ia kunjungi.

Hyejin bersembuyi di balik tembok lift, mencuri lihat kepada pria yang sekarang sedang memutar-mutar tubuhnya seperti sedang mencari sesuatu. Hati Hyejin mencelos lega ketika pria itu akhirnya berhenti mencari dan memilih keluar dari gedung.

“Kyaa!” Pekik Hyejin ketika ia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Reaktif, Hyejin membalikkan tubuhnya dan melihat pria berkulit putih susu yang 10 cm lebih tinggi darinya, menatapnya sambil menyeringai jahil. “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Hyejin.

Kening pria itu berkerut tiga. “Bukannya ini kantorku? Aku bisa berada dimana saja di gedung ini,” sahut Kyuhyun dengan santai dan Hyejin sadar ucapan pria itu memang benar. Tidak ada guna memperpanjang persoalan tersebut. Niat utamanya adalah mendapatkan pesanannya dengan segera.

“Apa Joong Ki Oppa sudah selesai rapat?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan penuh penyesalan namun senyumnya menunjukkan ia sama sekali tidak menyesal. Pria itu justru tampak sangat senang. “Karena itu aku menemuimu. Sajang hyung, maksudku Joong Ki hyung, menyuruhku untuk menjemputmu di lobby. Aku cari-cari di lobby ternyata kau ada di sini. Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun. Sesungguhnya ia penasaran kenapa gadis itu bisa berada di balik tembok sebuah lift.

Hyejin teringat pada penyebab ia bersembunyi tapi tidak mungkin ia menceritakannya kepada Kyuhyun. Menceritakannya kepada Joong Ki saja ia tidak akan melakukannya. “Tidak ada,” jawab Hyejin singkat sambil tersenyum, mengganti topik pembicaraan. “Jadi, apa aku sudah bisa mendapatkan barangku?”

“Tentu saja. Ada di lantai 3. Ada satu koper penuh. Sajang hyung juga bilang kalau bisa sekalian bawa pulang kopernya,” kata Kyuhyun.

“Akan aku bawa pulang,” sahut Hyejin. Cepat atau lambat, koper-koper itu akan berada di tangannya untuk dibongkar dan dipilah-pilah isinya. Setiap Joong Ki pulang bepergian, Hyejin selalu kebagian oleh-oleh untuk membereskan koper-koper yang dibawa pria itu. Hyejin dengan senang hati melakukannya. Tidak pernah terbayang olehnya, Joong Ki yang sudah lelah masih harus beres-beres.

Kyuhyun masih berhadapan dengan gadis bermarga Song tersebut. Seringaian jahilnya telah berubah menjadi senyuman manis tak terelakkan yang dapat meluluhkan seluruh wanita. “Oh ya satu lagi, salammu sudah disampaikan dengan selamat kepadaku oleh Sajang hyung. Terima kasih,” kata Kyuhyun membuat Hyejin tersipu malu karenanya. Gadis itu menundukkan wajah untuk menutupi semu merah di pipinya. “Aku membalas salammu melalui Sajang hyung tapi mungkin ia belum sempat menyampaikannya ya?”

Pria itu sukses membuat Hyejin semakin tersipu malu. Pipinya sudah semakin merah. Ia semakin tidak berani mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun. Ia tahu matanya tidak sanggup menutupi ketertarikannya kepada Kyuhyun. Pria itu terlalu mempesona baginya.

Kyuhyun tersenyum seperti orang bodoh. Matanya berkeliling tanpa tujuan, tidak berani melihat gadis yang sedang menunduk di hadapannya. Gadis itu tidak sedang menatapnya namun Kyuhyun tidak berani mengarahkan matanya kepada gadis itu. Kyuhyun melangkah mundur dua langkah. Tangannya memegang dadanya yang terasa seperti sedang digedor dari dalam. Kyuhyun tidak berani membayangkan jika gadis itu mendengar debar jantungnya yang tidak karuan.

“Kalian bilang kalian berteman.” Hyejin dan Kyuhyun menoleh secara bersamaan ke arah suara yang rasanya ditujukan kepada mereka.

Joong Ki berdiri lima langkah di depan Kyuhyun dan Hyejin, menatap kedua orang tersebut tanpa ekspresi. Keduanya hanya bisa salah tingkah melihat kemunculan Joong Ki. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hyejin tidak melihat Kyuhyun. Kyuhyun juga tidak melihat Hyejin. Namun, Joong Ki melihat semuanya. Juga mendengar.

Entah kesal atau tidak suka, Joong Ki menghela nafas panjang melihat adik dan anak buahnya berada dalam satu situasi yang sangat canggung seperti anak sekolah yang baru jadian dan ketahuan pacaran oleh gurunya. “Sudah kuduga pasti seperti ini sebenarnya,” gumam Joong Ki. Perasaan tidak rela merayap di sekujur tubuhnya.

Joong Ki segera menghampiri Hyejin dan merangkul adiknya dengan posesif. Ia berjalan menuju ruangannya di lantai tiga bersama Hyejin dengan Kyuhyun yang mengikuti dari belakang. Sesekali, Joong Ki menoleh untuk melihat anak buahnya itu dan Kyuhyun hanya akan menunduk sambil tersenyum setiap kali atasannya itu mengecek keadaannya.

“Kau tidak akan selamat jika berani menyakiti adikku,” kata Joong Ki di depan ruangan kerjanya, sebelum menyusul Hyejin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan sebuah jawaban, “Aku mengerti, Sajang hyung.” Dan pintu pun tertutup. Kyuhyun tidak lagi bisa melihat Hyejin. Untuk sesaat.

Song Joong Ki tidak memberikan larangan untuk menemui Hyejin. Ia hanya mengancam untuk menjaga kebahagiaan adiknya. Sebuah kejadian luar biasa yang sangat bagus bagi Kyuhyun. Dalam otak pria itu sudah tersusun berbagai macam ide untuk mendekati Hyejin dan meluluhkan Joong Ki.

“Semoga berhasil,” ucap Myung Ri, sekretaris Joong Ki sekaligus teman curhat Kyuhyun di kantor. Hanya ia yang tahu bahwa pria itu tertarik pada adik bos-nya sejak gadis itu muncul di kantor, membagi-bagi makanan untuk seluruh pegawai dengan ceria, tiga tahun silam.

—–

Joong Ki menatap tajam namun penuh kelembutan ke dalam mata Hyejin. Dari tatapannya saja, Hyejin tahu kakaknya meminta penjelasan. “Sejak kapan kau menyukai Kyuhyun?” Tanya Joong Ki selembut mungkin agar adiknya tidak takut bercerita kepadanya.

Hyejin tersenyum kepada Joong Ki. “Bagaimana menurut Oppa? Kyuhyun cukup baik kan?”

“Jawab dulu pertanyaanku jangan balik bertanya. Haisssh,” keluh Joong Ki mulai tidak sabar. Ia ingin segera tahu apa yang dirasakan adiknya terhadap anak buahnya itu.

“Aku akan menjawabnya kalau Oppa mau mempertimbangkan Myung Ri eonni. Apa Oppa tidak bisa melihat wanita itu menyukaimu?”

Joong Ki hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi adiknya. Gadis itu sekarang sedang tersenyum jahil kepada Joong Ki. “Baiklah, aku akan mempertimbangkannya. Sekarang ceritakan padaku bagaimana perasaanmu pada Kyuhyun? Sejak kapan kau menyukai Kyuhyun?

Hyejin mengangkat bahunya. Matanya menerawang sambil tersenyum malu-malu. “Aku tidak tahu apa dia menyukaiku. Menurutku, Kyuhyun sangat menarik. Ia memberikan warna dalam hidupku. Cerita-ceritanya selalu membuatku tertawa. Berbeda dengan Oppa, dia tidak pernah serius. Selalu bertingkah konyol. Dia membuatku lupa ada laki-laki di dunia ini selain Oppa dan Donghae. Tanpa sadar, aku menyukainya,” kata Hyejin sejujur-jujurnya.

“Apa kau bahagia?” Tanya Joong Ki

“Saat ini aku bahagia. Wae?”

Joong Ki membelai puncak kepala adiknya lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang. Dengan erat, Joong Ki memeluk Hyejin. “Kalau suatu saat ia menyakitiku, bilang padaku. Aku akan membuat perhitungan dengannya.”

Hyejin tertawa geli di dalam pelukan Joong Ki. Tangannya memeluk erat kakak yang paling ia cintai, satu-satunya keluarga yang ia miliki. “Gomawo, Oppa. Kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu.”

xoxo @gyumontic