image

Kyu, kau dimana? Apa bisa ke apartemenku setelah pulang kantor?

Hyejin membuka pintu apartemennya dan menemukan pria yang ditunggu-tunggunya berdiri di hadapannya. Tidak ingin membuang waktu, Hyejin memeluk pria itu dan meluapkan seluruh isak tangis yang sudah tertahan sejak lama.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis?” Tanya Kyuhyun dengan lembut. Tangannya membelai rambut wanita itu dengan harapan dapat menenangkan. Hyejin tidak menjawab. Ia hanya terus menangis di dalam pelukan Kyuhyun.

“Donghae meninggalkanmu?” Hyejin menangis semakin kencang. Pria itu selalu bisa menebak apa yang terjadi pada Hyejin. “Tidak usah sedih. Kau akan segera melupakannya.”

Hyejin tidak percaya begitu saja. Donghae telah bersamanya sejak kecil. Pria itu cinta pertama Hyejin dan wanita itu tidak tahu bagaimana caranya melupakan cinta pertama. Yang ia tahu, rasanya sangat sakit.

Kyuhyun memberikan secangkir coklat hangat kepada gadis yang sedang duduk di sofa dengan tatapan kosong. Matanya yang merah dan bengkak masih mengalirkan air mata. “Aku pikir ia akan memilihku,” ucap Hyejin dengan lirih.

“Aku memilihmu,” sahut Kyuhyun membuat Hyejin menoleh kepadanya, menatapnya dengan bingung, di antara genangan air mata yang membuat pandangan wanita itu agak kabur. “Aku tidak akan meninggalkanmu seperti yang Donghae lakukan. Sejak kecil, aku tidak pernah meninggalkanmu kan? Jadi, tidak usah khawatir,” kata Kyuhyun kemudian.

Donghae, Hyejin dan Kyuhyun adalah teman sepermainan sejak kecil. Mereka tinggal di dalam komplek perumahan yang sama. Orang tua mereka bekerja di perusahaan yang sama sehingga mereka bisa saling mengenal. Semua berjalan seperti biasa, sampai Hyejin menyatakan perasaannya ketika wanita itu berusia 17 tahun. Ia jatuh cinta pada Donghae.

“Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun ketika wanita di sebelahnya itu berdiri dan meninggalkannya. Namun, tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa sebuah bantal.

“Aku tidak ingin sendirian malam ini,” kata Hyejin sambil meletakkan bantalnya di atas pangkuan Kyuhyun dan membaringkan kepalanya di sana. Tubuhnya ditekuk menyesuaikan dengan panjang sofa. “Sebaiknya kau segera telepon eommonim. Bilang padanya, kau tidak bisa pulang malam ini karena kau harus menemani sahabatmu yang sedang sekarat. Karena cinta. Semoga eommonim dapat mengerti.”

Kyuhyun membelai kepala Hyejin dengan lembut, mengelus pipi wanita itu, sekaligus mengusap air matanya, sampai ia tanpa sadar terlelap. Kyuhyun memindahkan wanita itu ke kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. “Semoga kau segera melupakannya. Aku benar-benar sudah tidak tahan,” gumam Kyuhyun.

—–

Hyejin terbangun dan dapat dengan segera menyadari bahwa tubuhnya tidak lagi berada di ruang tamu. Tidak perlu ditanya, Hyejin tahu pasti Kyuhyun yang memindahkannya dan pria itu sudah tidak ada. Air mata Hyejin kembali mengalir. Rasa sakit yang kemarin ia rasakan kembali menghantam dadanya.

“Apa kau mau menangis sepanjang sisa hidupmu?” Tanya Kyuhyun yang sedang berdiri di pintu kamar Hyejin.

Wanita itu segera melompat dari tempat duduknya dan memeluk Kyuhyun dengan erat. Air matanya mengalir membasahi kemeja Kyuhyun. “Sebaiknya kau tinggal sementara di rumahku. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau tinggal sendirian dan yang kau lakukan hanyalah menangis sepanjang hari,” kata Kyuhyun dengan pelan.

Hyejin tidak berani menolak karena sesungguhnya ia juga takut tinggal sendirian. Ia takut kenangannya bersama Donghae akan menyergapnya 24 jam. Mungkin, jika ia bersama beberapa orang dapat membuatnya lupa.

—–

“Eommoni,” sapa Hyejin dengan sopan begitu sampai di rumah Kyuhyun dan bertemu dengan tuan rumahnya. Wanita tua berusia setengah abad lebih langsung memeluk Hyejin, mengecup kedua pipinya dengan lembut dan memperhatikan wajah Hyejin dengan seksama.

“Kau akan segera baik-baik saja. Aku yakin itu,” kata nyonya Cho sambil tersenyum memberikan semangat untuk Hyejin.

Hyejin tersenyum kepada wanita tua di hadapannya namun melemparkan tatapan mematikan kepada pria di sebelahnya. “Kau menceritakan apa yang terjadi kepada semua orang?” Tanya Hyejin dengan galak.

Nyonya Cho tertawa lebar. Telapak tangannya yang berkerut namun memberikan kehangatan untuk Hyejin, mengusap mata sembap Hyejin dengan lembut. “Aku sudah mengenalmu sejak kecil, sayang. Kyuhyun tidak perlu menceritakan segalanya padaku, aku tahu apa yang terjadi padamu,” ujar nyonya Cho selembut ibu Hyejin bicara, jika ia masih hidup.

Hyejin tersenyum malu. Seharusnya, ia tidak perlu mempertanyakannya. Sejak orang tuanya meninggal, ketika wanita itu berusia 18 tahun,  wanita tua itu yang dengan senang hati menawarkan diri untuk merawat Hyejin sampai sekarang ia berusia 28 tahun.

“Aku sudah membuat bubur dan sup untukmu. Ayo kita makan,” ajak nyonya Cho yang diikuti oleh Hyejin. Namun, Kyuhyun tidak beranjak dari tempatnya.

“Aku harus ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan,” kata Kyuhyun ketika Hyejin menarik tangannya.

“Di hari Minggu?” Tanya Hyejin cukup terkejut.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Gajiku tidak seberapa untuk menghidupi keluargaku kelak. Aku harus bekerja keras untuk itu,” kata Kyuhyun.

Hyejin mendengus keras lalu tertawa mengejek. “Memangnya kau punya pacar? Ada wanita yang mau menikah denganmu? Aku kan selalu mengganggumu,” kata Hyejin diiringi senyum mengejek. Kyuhyun tidak peduli. Paling tidak wanita itu baru saja tertawa dan tersenyum.

Kyuhyun menjawab dengan cuek, “Ada saja.” Pria itu kemudian mengusap wajah Hyejin dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. “Jangan menangis lagi. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku,” pesan Kyuhyun.

“Pasti. Aku diciptakan Tuhan memang untuk selalu mengganggumu,” kata Hyejin.

—–

Hyejin menyusul nyonya Cho ke ruang makan setelah Kyuhyun pergi ke kantornya. Wanita itu menyantap sup dan buburnya hanya ditemani oleh orang tua perempuan Kyuhyun. “Mana aboeji dan Ahra eonni? Aku tidak melihatnya dari tadi,” tanya Hyejin.

“Ahra kan sudah menikah jadi ia lebih banyak tinggal dengan suaminya. Mereka ada acara hari ini jadi tidak bisa pulang. Sedangkan tuan Cho kita yang sudah tua dan keras kepala itu sedang pergi memancing dengan teman-temannya,” jawab eomma Kyuhyun sambil tertawa.

Hyejin ikut tertawa. Ia sangat menyenangi cara nyonya Cho memanggil suaminya. Si tua dan keras kepala. Hyejin berharap suatu saat ia bisa memiliki suami dan memanggilnya seperti itu tanpa kena marah dari pria itu. Seperti tuan Cho yang tidak pernah marah jika dipanggil tua dan keras kepala. Ia akan balas memanggil istrinya si cantik-cerewet dengan nada merayu.

Hyejin sudah selesai menyantap sup dan buburnya tapi ia merasa masih lapar. Mungkin menangis seharian telah menguras energinya. “Apa aku boleh tambah, eommoni?” Tanya Hyejin malu-malu.

Dengan cekatan, nyonya Cho menuangkan sup dan bubur ke mangkuk Hyejin. “Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu. Tidak masuk akal. Kau itu anakku jadi kau boleh minta apapun padaku,” ujar nyonya Cho dengan wajah kesal yang dibuat-buat membuat Hyejin tertawa.

“Tapi eommonim yang memutuskan akan mengabulkannya atau tidak,” ujar Hyejin yang gantian membuat nyonya Cho tertawa.

“Tentu saja,” kata eomma Kyuhyun dengan tawa renyahnya. Ia duduk sambil menatap Hyejin, memperhatikan wajah Hyejin yang sudah sedikit berubah. Tidak lagi terlalu kuyu seperti saat gadis itu tiba di rumahnya. “Sehabis makan, kau mandi lalu istirahat. Kau tampak sangat lelah.”

“Ne,” kata Hyejin.

Wanita itu tiba-tiba teringat teman kecilnya. “Eommonim, apa Kyuhyun sudah punya pacar?” Tanya Hyejin.

Nyonya Cho hanya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu pasti. Ia tidak pernah cerita apalagi mengenalkan seorang wanita padaku. Padahal aku sering memergokinya senyum-senyum sendiri jika sudah sibuk dengan ponselnya,” jawabnya.

Perasaan kesal merasuki Hyejin. Baginya, Kyuhyun sangat menyebalkan karena tidak bercerita padanya jika pria itu memiliki kekasih atau paling tidak wanita yang disukainya. Namun membayangkan Kyuhyun bersama wanita lain dan mengurangi waktunya untuk Hyejin membuat wanita itu jauh lebih kesal. Ia tidak mau Kyuhyun terbagi.

——

Nyonya Cho menyuruh Hyejin untuk istirahat di kamarnya seperti biasa. Hyejin pun menuruti tanpa perlu bertanya lebih banyak. Rumah keluarga Cho sudah seperti rumahnya sendiri. Ia sudah hafal letak kamarnya. Tepat di sebelah kamar Kyuhyun.

Dasar iseng, Hyejin memasuki kamar Kyuhyun. Kamar itu tidak pernah berubah sejak pertama kali ia masuk ke dalamnya. Hanya perabotannya yang diganti-ganti dengan perabotan yang lebih baru. Letaknya tetap di tempat yang sama.

Hyejin berjalan masuk semakin dalam. Tangannya menyusuri setiap barang di kamar Kyuhyun sebelum akhirnya duduk di meja belajar Kyuhyun, satu-satunya benda yang tidak diganti di kamar ini. Hyejin dulu sering menggunakannya untuk membuat PR dan memaksa Kyuhyun untuk membantunya. Hyejin sedikit tertawa ketika mengingatnya.

Hyejin membuka-buka laci meja tersebut. Ia menemukan beberapa foto Kyuhyun dengan teman-teman sekantornya. Kyuhyun selalu tertawa di setiap foto. Dan di setiap foto, ada gadis itu. Ia selalu berdiri di sebelah Kyuhyun dan menggandeng lengan Kyuhyun.

Hyejin meletakkan kembali foto-foto tersebut ke tempatnya. Tidak lupa, Hyejin menutup laci meja itu sebelum keluar dari kamar Kyuhyun dan pindah ke kamarnya untuk istirahat. Ia merasa sangat lelah. Tubuhnya, begitu juga hatinya. Terasa sangat lemah.

—–

Hyejin terbangun ketika hari sudah malam. Tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya, sudah digantikan oleh cahaya lampu di langit-langit kamar. AC kamar pun sudah dinyalakan. Selimut menutupi tubuh Hyejin. Semua tidak dilakukan Hyejin sebelum tidur. Seseorang melakukannya setelah Hyejin tidur.

Wanita itu keluar dari kamar, bermaksud untuk menemui eomma Kyuhyun dan meminta makan. Perutnya sudah kembali kosong. Namun selera makannya seketika menghilang ketika ia melihat Kyuhyun yang sedang duduk di ruang keluarga dengan seorang wanita, bercengkrama sambil tertawa.

Wanita yang duduk bersama Kyuhyun adalah wanita yang ada di setiap foto yang ditemukan oleh Hyejin. Wanita itu terlihat sangat cantik dan mempesona. Kemeja putih dan rok merah mini ketat membuat lekuk tubuh wanita itu tercetak jelas. Kyuhyun bahkan sampai tidak menyadari kemunculan Hyejin.

Pria itu baru menoleh ketika wanita yang bersamanya menunjuk Hyejin dan mempertanyakan identitas Hyejin. Hyejin hanya menundukkan kepalanya lalu kembali ke kamar. Sepertinya, ia sudah kehilangan keping terakhir dari hatinya yang sudah terpecah belah. Hyejin berbaring di tempat tidurnya dan kembali menangis.

—–

Hyejin merasa hidupnya tidak berguna mengingat dua hari ini kerjanya hanya menangis, tidur, bangun, makan dan berulang seperti itu. Ia bahkan menolak untuk bicara, bahkan dengan Kyuhyun. Kondisinya lebih parah dari saat Donghae meninggalkannya.

“Emmonim, aku mau pulang saja,” kata Hyejin saat nyonya Cho sedang memasak. Kyuhyun sudah berangkat ke kantor. Hyejin sengaja untuk bangun setelah Kyuhyun pergi. Entah kenapa, pria itu menjadi satu-satunya orang yang tidak ingin ia temui.

“Kau sudah sehat? Tidak makan siang dulu?” Tanya nyonya Cho tidak yakin. Hyejin menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Aku harus kembali masuk kantor besok. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” jawab Hyejin.

“Kalau begitu nanti malam saja. Biar Kyuhyun yang mengantarmu,” ujar nyonya Cho.

Hyejin tersenyum pahit. Nada suaranya berubah menjadi dingin dan mendesak. “Aku pulang sekarang,” kata Hyejin. Nyonya Cho tidak dapat berkata apa-apa lagi.

—–

Eomma bilang, kau sudah pulang? Kenapa tidak menungguku? Aku kan bisa mengantarmu.

Hyejin mengabaikan pesan dari Kyuhyun. Ia berusaha memperbaiki diri dengan terus berlari di atas treadmill.

Kau dimana sekarang?

Pesan kedua dari Kyuhyun masuk ke ponsel Hyejin namun tidak menggoyahkan ketetapan Hyejin untuk tidak membalas pesan dari Kyuhyun. Satu pun.

Kyuhyun berusaha menghubungi Hyejin dengan menelepon wanita itu yang hasilnya sama saja. Diabaikan.

Hye, aku mohon jawab aku. Kau dimana sekarang? Apa kau baik-baik saja?

Hyejin mempercepat langkah kakinya di atas treadmill. Ia terus melangkah meskipun nafasnya sudah terengah-engah. “Kau tidak perlu mencemaskanku. Buat apa kalau akhirnya kau juga akan meninggalkanku?” Desis Hyejin. Wanita itu terus berlari. Berlari. Berlari. Tidak sadar ia sudah melampaui batas kemampuannya.

Ia tidak sadarkan diri dan jatuh.

—–

Hyejin menyadarkan diri di sebuah ruangan yang sudah ia kenal. Ruangan dengan dinding putih polos, tempat tidur dan lemari yang saling berhadapan, AC yang berada di atasnya, jendela di sebelah kanan tempat tidur dan sebuah meja tua yang terletak di samping lemari. Hyejin hanya menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit kamar.

“Kau harus mulai belajar berhenti membuatku cemas, Song Hyejin,” kata seorang laki-laki yang berada di samping tempat tidur. Wajah laki-laki itu terlihat sangat kuyu. Kemejanya yang berantakan tidak lagi menambah ketampanan pria itu. Ia terlihat sangat kelelahan namun ada kelegaan yang muncul.

Kyuhyun memanjangkan tangannya untuk menyentuh dahi Hyejin namun wanita itu menarik kepalanya untuk menjauh dari tangan Hyejin. “Tidak usah mencemaskanku. Aku baik-baik saja,” kata Hyejin tajam.

“Mana mungkin kau baik-baik saja. Aku baru saja menggendong kau yang pingsan beberapa jam yang lalu. Apa kau sudah gila, Hye? Treadmill tanpa minum atau makan sebelumnya? Tubuhmu itu tidak cukup kuat. Tahu?!”

Hyejin menyibakkan selimutnya lalu turun dari tempat tidur. Ia ingin segera keluar dari kamar Kyuhyun ini. “Kau mau kemana?! Kau belum sehat, Hye!” Seru Kyuhyun.

Hyejin menatap tajam Kyuhyun, penuh emosi. Marah, kesal, sedih. Cemburu. Semua bercampur jadi satu. “Berhenti mencemaskanku jika pada akhirnya kau juga akan meninggalkanku,” kata Hyejin dengan susah payah. Sebenarnya, ia sudah ingin menangis.

“Kau bicara apa sih, Hye? Siapa yang bilang aku akan meninggalkanmu?”

Hyejin melangkahkan kakinya dengan cepat ke meja belajar Kyuhyun. Dibukanya laci meja tersebut untuk mengambil foto-foto yang ditemukannya kemarin. “Aku melihat kau dan wanita ini semalam di ruang keluarga. Wanita ini,” tunjuk Hyejin dengan jari telunjuknya kepada wanita yang menggandeng Kyuhyun dengan mesra, di dalam foto. “Jelas menyukaimu dan melihat caramu mengobrol dengan wanita itu seolah hanya ada kalian berdua di dunia ini, aku yakin kau juga menyukainya.”

Kyuhyun berjalan mendekati Hyejin, mengadu gadis itu dengan meja belajarnya. Tangannya mengambil foto-foto dari pegangan Hyejin lalu menyimpannya kembali ke laci meja belajarnya. “Bagaimana perasaanmu ketika melihat foto itu?” Tanya Kyuhyun pelan.

“Aku kesal,” jawab Hyejin. “Aku marah padamu karena kau tidak menceritakan apapun padaku. Aku juga sedih membayangkan kau akan pergi dariku.”

Kyuhyun tersenyum kecil mendengar jawaban Hyejin. “Aku juga merasa seperti itu ketika melihat kau dan Donghae,” sahut Kyuhyun lalu kembali bertanya, membiarkan Hyejin dengan kerutan bingung di keningnya.

“Kau tahu kenapa aku tidak pernah mengganti meja ini?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak tahu kenapa Kyuhyun masih mempertahankan meja kusam ini padahal pria itu punya cukup uang untuk menggantinya.

“Karena meja ini memiliki banyak kenangan denganmu. Aku tidak akan pernah sanggup menggantinya. Meja ini selalu mengingatkanku padamu, mengingatkanku bahwa ada wanita yang selalu membutuhkanku, memberikanku alasan untuk bekerja keras setiap hari.”

Kerutan di kening Hyejin semakin banyak, membuat gadis itu agak pusing. “Maksudmu apa?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun tersenyum. Ia menggendong Hyejin untuk duduk di atas meja belajarnya. Tangan Kyuhyun berada di kedua sisi tubuh wanita itu dengan tubuhnya yang dicondongkan menghadap Hyejin. Wanita itu tidak bisa lari kemana-mana.

“Aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadi dengarkan baik-baik,” kata Kyuhyun dengan serius. Hyejin merinding di duduknya. Ia bisa merasakan keseriusan pria itu dari caranya menatap mata Hyejin. “Aku mencintaimu. Sudah sejak lama. Bahkan ketika kau bersama dengan Donghae, aku tetap mencintaimu,” ujar Kyuhyun dengan jelas.

Dengan jarak sedekat ini, Hyejin dapat mendengar semuanya. Ucapan Kyuhyun, detak jantung pria itu, detak jantungnya, hembusan nafas Kyuhyun juga hembusan nafasnya. Pria itu tidak perlu mengulangi ucapannya. Telinganya dapat mendengar jelas dan dicerna dengan baik oleh otaknya.

Hyejin meletakkan tangannya di pinggang Kyuhyun dan menarik pria itu semakin lebih dekat dengannya. Entah mantra apa yang diucapkan Kyuhyun sehingga membuat otak Hyejin memerintahkan pemiliknya untuk mencium pria di hadapannya. “Kau tidak boleh meninggalkanku. Aku mohon,” ucap Hyejin.

“Kali ini, kau juga tidak boleh meninggalkanku. Aku tidak mau lagi jadi yang kedua di hidupmu,” kata Kyuhyun sambil mengelus pipi Hyejin dengan lembut. Tatapan mata pria itu langsung ke mata Hyejin, tersenyum mengalirkan ketenangan untuk Hyejin.

Hyejin menganggukkan kepalanya, sesuai perintah otaknya. Tangannya tetap berada di pinggang pria itu tanpa berniat untuk melepaskannya. Hyejin kembali mencium bibir Kyuhyun, memagutnya dengan lembut sampai nyaris kehabisan nafas. Kyuhyun tertawa geli melihatnya.

“Aku tidak pernah membayangkan meja ini akan menjadi tempat ciuman pertama kita. Aku pikir meja ini hanya akan menjadi rongsokan. Aku berencana membuangnya kalau kau jatuh ke tangan pria lain,” kata Kyuhyun sambil tertawa.

“Aku tidak akan menyerahkanmu ke wanita manapun,” sahut Hyejin sambil memeluk erat Kyuhyun dengan kedua tangan dan bahkan kakinya. Kyuhyun tertawa di bahu Hyejin.

“Bagus,” kata Kyuhyun.

Hyejin menarik kepala Kyuhyun agar dapat melihat wajah itu. “Aku tidak tahu apa aku bisa melupakan Donghae dengan cepat. Aku juga tidak tahu apa aku mencintaimu. Yang aku rasakan, aku ingin memilikimu. Hanya milikku. Tapi aku akan belajar untuk mencintaimu.”

“Dan melupakan Donghae.”

“Dan melupakan Donghae,” tambah Hyejin sesuai permintaan Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa untuk ke sekian kalinya. “Sekarang, aku berencana untuk menjadikan meja ini sebagai tempat bercinta kita yang pertama,” kata Kyuhyun sambil tertawa. Ia terlalu bahagia sampai rasanya tertawa terus tidaklah cukup.

Hyejin tersipu malu-malu. Ia sedikit menundukkan wajahnya ketika bicara. “Kau…ingin kita…bercinta…sekarang?” Tanya Hyejin dengan gugup. Kyuhyun lagi-lagi tertawa.

Kyuhyun menaikkan wajah Hyejin sejajar dengan wajahnya. Bibir wanita itu sudah berada sangat dekat dengan bibirnya, bersemu merah muda dan sangat menggoda. “Kau menginginkannya?” Tanya Kyuhyun hanya bermaksud menggoda.

Hyejin buru-buru menggelengkan kepalanya sebelum imajinasinya berkeliaran lebih jauh. Kyuhyun mengecup bibir Hyejin sekilas. “Aku juga tidak ingin. Aku akan melakukannya ketika kau sudah siap. Ketika kau menginginkannya. Ketika kau sudah yakin padaku,” ucap Kyuhyun lalu menyambar bibir wanita tercintanya dengan rakus. Kyuhyun sudah lama mendambakan ciuman panas dengan wanita yang paling ia puja.

Kyuhyun tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada Hyejin untuk lari. Semakin lama, tubuh Kyuhyun semakin dekat. Begitu juga dengan Hyejin. Wanita itu semakin lama justru semakin menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kyuhyun. Mereka begitu intim sampai lupa mereka tidak hanya berdua di rumah itu.

—–

Kyuhyun dan Hyejin duduk bersebelahan di meja makan. Keduanya menyantap makan malam tanpa berhenti melirik dan tersenyum satu sama lain. “Ada apa dengan kalian? Kenapa tersenyum-senyum sendiri?” Tanya tuan Cho yang ikut makan malam bersama mereka.

“Iya, kau seperti orang gila, Kyu,” timpal Ahra yang kebetulan akan menginap di rumah itu.

Baik Kyuhyun dan Hyejin tidak ada yang menjawab. Mereka hanya tersenyum penuh misteri. Ahra sampai menjambak rambut Kyuhyun saking gemasnya. “Ada apa sih sebenarnya?” Geram Ahra.

Nyonya Cho yang dari tadi hanya diam, meletakkan peralatan makannya lalu menatap Kyuhyun dan Hyejin. “Sebaiknya kalian segera menetapkan tanggal pernikahan sebelum perut Hyejin semakin buncit,” ujar wanita paruh baya itu.

Tuan Cho dan Ahra menatap nyonya rumah tangga dengan bingung. “Pernikahan? Perut Hyejin semakin buncit?” Ahra menatap Hyejin. “Kau hamil, Hye?!”

Tuan Cho ikutan menatap Hyejin dengan tatapan terkejut. “Siapa yang menghamilimu? Donghae yang melakukannya padamu?!”

Nyonya Cho menghela nafas panjang. Perasaan kesal, senang dan ingin marah sebagai ibu membuncah dalam diri nyonya Cho. Ia menatap anak laki-lakinya dengan tajam. “Aku tahu apa yang kau lakukan sore ini, Cho Kyuhyun! Jelaskan pada Appamu dan tetapkan tanggal pernikahan kalian. Aku tidak tahu apa kalian melakukannya karena saling mencintai atau tidak,” kata nyonya Cho.

Kyuhyun dan Hyejin seketika terdiam. Sepertinya, nyonya Cho melihat atau paling tidak mempunyai bukti perbuatan anaknya dengan kekasih barunya di atas meja belajar tua itu. “Aku menyentuh Hyejin karena aku mencintainya. Aku akan bertanggung jawab atas hidup Hyejin baik dia hamil atau tidak,” kata Kyuhyun.

“Kau mau bertanggung jawab atas anak yang dikandung Hyejin meskipun itu bukan anakmu?” Tuan Cho bertanya. Ia masih belum mampu mengurutkan cerita di meja makan ini.

“Appa!!” Seru Ahra kesal.

“Selain tua dan keras kepala ternyata kau juga bodoh, suamiku. Anakmu ini yang melakukannya bukan pria lain. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri anakmu ini tidur, tanpa pakaian, memeluk Hyejin dengan kejantanannya berada di dalam tubuh Hyejin. Aku tidak akan bertanya jika dua minggu atau bulan depan, Hyejin terlihat lemas dan muntah-muntah lalu Kyuhyun akan memohon-mohon padaku untuk merawat Hyejin,” kata nyonya Cho penuh emosi.

“Eommonim, mianhe,” ucap Hyejin dengan lirih.

“Oh sayang, aku tidak marah padamu. Aku tidak keberatan untuk merawatmu seumur hidup. Aku sedang memarahi anakku. Dia memanfaatkanmu yang sedang patah hati,” lanjut nyonya Cho.

Hyejin mengelus pipi Kyuhyun dengan tangannya. Sambil tersenyum, Hyejin menjelaskan semuanya, “Kyuhyun tidak memanfaatkanku. Aku yang menyerahkan diri. Kyuhyun sudah terlalu baik bagiku. Aku tidak bisa membiarkan dirinya dimiliki wanita lain jadi aku ingin mengikatnya lebih dulu. Agak tidak masuk akal. Egois. Tapi cinta itu memang tidak masuk akal dan egois kan?” Sepertinya Hyejin sudah menyadari perasaannya.

—–

Kkeut!

xoxo @gyumontic