“Cho sajangnim,” panggil seorang gadis muda yang baru memasuki ruangan Kyuhyun dengan selembar kertas di tangannya. Gadis berkacamata tersebut secara perlahan berjalan mendekati atasannya. “Sajangnim,” panggilnya sekali lagi.

Kyuhyun membubuhkan tanda tangan terakhirnya terlebih dahulu sebelum mengangkat kepalanya untuk melihat sekretarisnya tersebut. Mata Kyuhyun langsung tertuju pada kertas yang dibawa oleh gadis tersebut. Dari bentuknya, Kyuhyun tahu kertas apa yang dibawa gadis kecil dengan baju terusan warna putih dengan motif bunga-bunga yang dilapisi blazer coklat muda. “Mau cuti lagi, Kang Hamun? Kemana tujuanmu kali ini?” Tanya Kyuhyun dengan sinis. Anak buahnya yang satu ini memang hobi travelling yang membutuhkan cuti panjang untuk menjalankannya dan Kyuhyun adalah salah satu korban sakit kepala jika gadis itu sudah mengajukan cuti.

Hamun, nama gadis itu, tersenyum lebar. “Keliling Eropa, sajangnim. Aku mau cuti dua minggu. Boleh kan?” Ujar gadis itu sambil menyodorkan surat permohonan cutinya. Kyuhyun menatap surat itu dan mengumpat kesal dalam hati saat melihat tanda tangan rekan kerjanya di kolom persetujuan cuti.

“Donghae hyung menyetujui cutimu begitu saja, Kang Hamun?” Tanya Kyuhyun tentang Donghae, rekan sesama Kepala Divisi dan sesama sekretaris. Satu sekretaris untuk berdua, Kang Hamun.

Hamun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jantungnya berdegup kencang saat Kyuhyun justru menyimpan pena-nya ke dalam saku kemeja. “Siapa yang akan menggantikanmu selama kau cuti?” Tanya Kyuhyun.

“Park MinAh dan Jung HyunAh,” jawab Hamun mencoba setenang mungkin. Ia tidak bisa membayangkan jika atasannya itu tidak menyetujui permohonan cutinya. Membatalkan tiket dan segala sesuatunya sama dengan bunuh diri.

Surat permohonan cuti itu terletak anggun di atas meja Kyuhyun. “Aku tidak bisa bekerjasama dengan Park MinAh. Jung HyunAh pasti akan selalu keluar dengan Henry, tidak mungkin ia bisa kerja denganku. Aku akan mendiskusikannya lebih dulu dengan Donghae hyung dan Siwon hyung. Okay, Kang Hamun-ssi?” Ujar Kyuhyun tanpa ingin dibantah dan Hamun pun hanya sanggup menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

“Saya paham, Sajangnim. Terima kasih banyak. Permisi,” ujar gadis itu berpamitan sebelum keluar dari ruangan pejabat lapisan kedua di SJ Company itu. Sedangkan Kyuhyun berulang kali mendecak kesal setiap melihat surat permohonan cuti tersebut.

—–

Choi Siwon berjalan memasuki ruang rapat kecil diikuti gadis tinggi semampai yang tidak pernah lepas dari tiga telepon genggam pintar di tangannya. “Apa yang ingin Kyuhyun bicarakan denganku?” Tanya Siwon sebelum sampai di singgasana kecilnya.

“Cuti seorang pegawai bernama Kang Hamun,” jawab sekretaris Siwon dengan lancar. Sebagai sekretaris, sudah kewajibannya untuk mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan bos-nya. Song Hyejin sudah sangat ahli untuk hal itu.

“Apa dia tidak bisa mengurus sendiri anak buahnya?! Buat apa menyangkut-pautkan aku?!” Desis Siwon kesal.

Pria itu mengambil tempat duduk tepat di depan Kyuhyun dan Donghae, yang sudah lebih dulu berada di ruang rapat. Tanpa membuang waktu, Siwon mencerca kedua Kepala Divisi-nya dengan pertanyaan sekaligus tatapan mata tajam. “Apa lagi kali ini? Cuti sekretaris kalian? Apa kalian tidak bisa mengurusnya sendiri? Kalau tidak setuju, tanda tangan di kolom tidak setuju. Apa susahnya sih?!” Omel Siwon saking kesalnya.

“Hyung…”

“Memangnya kalau Hamun cuti, tidak ada yang bisa menggantikannya? Eoh? Banyak pegawai di kantor ini yang kekurangan pekerjaan, ambil saja mereka jadi pengganti Hamun,” sela Siwon sebelum Kyuhyun sempat bicara.

Donghae mengangkat tangannya tanda ia mengajukan diri untuk bicara. “Aku sudah menyetujui cuti Hamun. Park MinAh dan Jung HyunAh yang akan menggantikan Hamun sementara,” kata Donghae disusul dengusan kasar oleh Kyuhyun.

“Hyungdeul-ku tersayang, aku bisa gila kalau dua minggu berhadapan dengan Park MinAh. Kalau ada apa-apa, dia yang akan mengomel padaku bukan aku sebagai atasannya. Sedangkan Jung HyunAh, bisa aku pastikan akan dikuasai habis-habisan oleh Henry. Aku pasti tidak akan kebagian waktunya. Kalau begitu caranya, kapan pekerjaanku akan diselesaikan?” Kyuhyun mencoba untuk mengemukakan pendapatnya sebelum Siwon menyelanya lagi.

“Lalu kau maunya bagaimana, Cho Kyuhyun-ssi?”

“Aku akan menyetujui cuti Hamun jika ada penggantinya yang setara,” jawab Kyuhyun lalu melihat kepada Hyejin yang berdiri di samping kursi Siwon dengan tegap dan anggun. “Song Hyejin bisa merangkap menjadi untuk sekretarisku dua minggu ini.”

Siwon melempar punggungnya ke senderan kursi lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Sudah aku duga kau akan bilang seperti itu dan aku yakin kau akan memaksa jika kau harus menyetujui cuti Hamun,” sahut Siwon sedikit kesal namun tidak ingin berdebat. Siwon hanya mendongak kepada sekretarisnya untuk mendapatkan jawaban dari gadis itu. “Bagaimana pendapatmu, Song Hyejin-ssi?”

“Kalau Siwon sajangnim mengijinkan dan gajiku bulan ini dikali tiga, tidak termasuk biaya lembur yang juga harus dibayar tiga kali lipat,” ujar Hyejin dengan cepat seakan ia sudah memikirkan lebih dahulu jawabannya jauh sebelum Siwon bertanya kepadanya.

“Tapi aku tidak mau membayar tambahan gajinya dengan uang perusahaan,” ujar Siwon lalu menyambut panggilan yang masuk ke telepon genggam pintarnya.

“Wen,” ucap Siwon lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruang rapat tersebut.

Donghae dan Kyuhyun menengok pintu ruangan yang baru saja tertutup. Dari kaca pembatas yang tembus pandang, terlihat Siwon sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam pintarnya tersebut. Raut wajah pria itu terlihat sangat cerah.

“Wen. Siapa Wen?” Tanya Donghae yang telah memalingkan wajahnya kepada Hyejin.

“Seorang wanita,” jawab Hyejin singkat.

Kyuhyun ikut menolehkan kepalanya kepada Hyejin. Pertanyaan yang akan diajukannya tidak jauh berbeda dengan pertanyaan Donghae. “Wen. Seorang wanita. Wen siapa?” Tanya Kyuhyun penasaran. “Apa kami mengenalnya?”

“Aku hanya bisa memberitahukannya sebanyak itu, tuan-tuan. Aku tidak bisa dipaksa,” kata Hyejin dengan tegas dan kedua pria itu pun tidak bertanya apa-apa lagi. Mereka menunggu Siwon menyelesaikan urusannya dan kembali masuk ke ruang rapat.

“Jadi Cho Kyuhyun, kau sudah memikirkan cara untuk membayar gaji Hyejin tiga kali lipat bulan ini?” Tanya Siwon sambil kembali duduk ke tempatnya.

“Call! Kau tidak usah khawatir, Song Hyejin. Rekeningmu bulan ini pasti akan menggendut jika kau bisa bekerja sebaik Hamun,” kata Kyuhyun dengan santai. “Dan Siwon hyung, aku tidak akan menggunakan uang perusahaan. Terima kasih sudah mau berbagi sekretaris denganku.”

“Eoh,” sahut Siwon singkat yang sudah tenggelam dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.

“Apa ini ada hubungannya dengan Wen? Wanita yang baru saja menghubungimu, Ma-Shi?” Celetuk Donghae iseng yang disambut dengan anggukkan kepala oleh Siwon.

—–

image

Hyejin sedang sibuk merapikan barang-barang di atas meja kerja Kyuhyun ketika pria itu datang dan langsung mengelilingi ruangannya sendiri seperti orang bingung. “Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah pusing sendiri?” Tanya Hyejin.

“Aku tidak bisa menghubungi Siwon hyung daritadi. Handphone-nya tidak aktif. Aku telepon ke rumahnya, dibilang dia tidak pulang semalam. Kemana dia?” Ujar Kyuhyun balik bertanya.

Hyejin mengetahui jawabannya. Oleh karena itu, di jam setengah tujuh pagi ini ia bisa berada di ruangan Kyuhyun bukan di ruang kerja bos utamanya. “Choi sajangnim pergi ke Hongkong tadi malam,” kata Hyejin datar.

Kyuhyun menghentikan kegiatannya berkeliling ruangan dan langsung berubah haluan untuk mendekat ke arah Hyejin. “Ada apa di Hongkong? Kenapa Siwon hyung tiba-tiba pergi kesana?” Tanya Kyuhyun ingin tahu sambil dalam hati berdoa tidak terjadi apa-apa dengan kantor cabang di Hongkong. Karena, kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di kantor itu, ia pasti akan kena imbasnya. Ia bisa saja disidang dewan komisaris.

Hyejin memberikan sentuhan terakhir pada meja kerja Kyuhyun dengan sebuah kotak berisi beberapa tempat makan yang sudah terisi dengan berbagai jenis makanan yang lezat. “Ini untuk sarapanmu, makan siang dan makan malam. Kau harus menghabiskannya. Tidak ada makan makanan berminyak. Ingat pesanku!” Dikte Hyejin dengan sangat tegas. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan.

“Yaa Song Hyejin, apa yang terjadi di Hongkong?” Tanya Kyuhyun mulai kesal.

Hyejin memutar bola matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Kyuhyun kesal. “Kalau ada sesuatu yang terjadi di Hongkong, kau pasti lebih dulu mengetahuinya. Siwon Oppa pergi karena urusan pribadi,” jawab Hyejin akhirnya.

Hati Kyuhyun pun lega. Jantungnya tidak berdegup kencang seperti sebelumnya. Senyum cerah sudah mulai muncul di wajahnya. “Apa ada hubungannya dengan wanita bernama Wen?” Tanya Kyuhyun penasaran. Tidak biasanya orang nomor satu SJ Company itu meninggalkan perusahaan secara mendadak untuk urusan pribadi, kecuali urusan pribadinya sangat penting.

Hyejin menganggukkan kepala.

“Apa wanita bernama Wen itu sudah menjadi sangat penting buat Siwon hyung?”

Hyejin kembali menganggukkan kepalanya. “Sekarang makan sarapanmu. Aku tidak mau bergosip pagi-pagi begini. Kalau kau mau tahu lebih lanjut, silahkan langsung tanyakan pada Siwon Oppa,” kata Hyejin.

Kyuhyun mengangkat alisnya dengan heran. “Waeyo?” Tanya Kyuhyun.

“Kau memanggil Siwon hyung dengan sebutan ‘Oppa’?”

“Choi sajangnim maksudku,” ralat Hyejin atas panggilannya terhadap bos utamanya.

“Sejak kapan hubungan kalian berdua menjadi sedekat itu? Maksudku, sejak kapan kau memanggilnya ‘Oppa’?”

Hyejin tidak menjawab. Ia hanya mengambil kotak makan pertama yang langsung disodorkannya ke dada Kyuhyun. “Makan pagi. Sekarang,” perintah Hyejin tidak terbantahkan.

Kyuhyun mengambil tempat makan tersebut dan mulai menghabiskannya setelah ia duduk di singgasananya. “Hyejin-ah,” panggil Kyuhyun di suapan terakhirnya.

Hyejin mendelikkan mata, membuat gadis itu terlihat sangat menyeramkan. “Habiskan dulu baru kau boleh bicara,” ujar Hyejin dan Kyuhyun pun dengan cepat menghabiskan makanannya. Hyejin tersenyum puas lalu membereskan peralatan makan yang habis dipakai Kyuhyun tersebut.

“Apa aku sudah boleh bicara?” Tanya Kyuhyun pelan.

“Silahkan,” sahut Hyejin dengan santai sambil berjalan kembali ke meja kerja Kyuhyun. Peralatan makan Kyuhyun sudah berpindah ke atas meja lain untuk dibereskan cleaning service nanti.

“Apa yang kau ingin bicarakan?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun tidak menjawab. Pria itu justru berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu masuk ruangannya lalu menguncinya. Hyejin yang berdiri tepat di samping meja kerja Kyuhyun terpaksa menyingkirkan semua barang-barang yang ada di atasnya. Mengosongkannya. “Aku tidak percaya kita lebih memilih meja sempit ini dibanding tempat tidur kita yang luas di rumah,” kata Hyejin sambil tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa meskipun kecil. Keinginannya untuk menyentuh wanitanya lebih besar dari apapun sekarang. Pria itu dengan cepat memeluk Hyejin dan mendudukkan wanita itu di atas meja kerja miliknya. Dengan cekatan, tangannya menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan Hyejin. “Kau terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini sampai aku takut kau lupa bahwa aku ini masih suamimu,” ujar Kyuhyun lalu melumat habis bibir Hyejin.

Hyejin tertawa dalam ciumannya. Tangannya menekan kencang belakang kepala Kyuhyun. Ketika bibir pria itu sibuk di atas dadanya, Hyejin membuka ikat pinggang Kyuhyun dan dengan mudah menanggalkan celana pria itu beserta dalamannya. Hyejin tidak membutuhkan hal lain kecuali inti tubuh suaminya memasuki inti tubuhnya. Entah kapan terakhir kali mereka melakukannya namun saat ini Hyejin begitu mendambakan persetubuhan dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menarik Hyejin mendekat. Meskipun diburu nafsu dan waktu, Kyuhyun tetap dengan hati-hati ia memasuki tubuh istrinya. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti wanitanya tersebut. Hyejin hanya mampu menggigit bahu Kyuhyun, untuk meredam teriakan, lenguhan dan atau erangannya ketika mereka berdua bergerak berlawanan arah.

—–

image

Siwon menatap ponselnya kesal. Ia sudah mencoba berulang kali untuk menghubungi sekretarisnya dan juga Kepala Divisi-nya yang sedang meminjam sekretarisnya tersebut. “Aku tahu ini akan terjadi jika aku memperbolehkan Hyejin menjadi sekretarisnya. Haish!” Gerutu Siwon di tengah makan paginya bersama seorang wanita cantik.

“Apa ada masalah?” Tanya wanita itu dengan lembut.

Siwon menggelengkan kepalanya lalu kembali melahap daging lezat di atas piringnya. “Kyuhyun pasti telah berhasil memerangkap Hyejin,” ujar Siwon.

“Hyejin, sekretarismu itu?” Siwon menganggukkan kepalanya. “Lalu siapa Kyuhyun?” Tanya wanita itu lagi.

“Kyuhyun itu salah satu kepala divisi di kantorku. Mereka berdua itu suami-istri. Aku yakin sekarang mereka sedang sibuk sendiri. Kyuhyun memang nakal,” kata Siwon membuat wanita di hadapannya tertawa. “Kenapa tertawa?” Tanya Siwon.

“Aku pikir kau dan Hyejin memiliki hubungan khusus. Wanita itu selalu ada dimanapun kau berada, menyediakan segala sesuatunya untukmu dan kau selalu bersikap lembut kepadanya. Aku pikir kalian sepasang kekasih,” jawab wanita itu yang membuat Siwon terbahak-bahak namun tetap menjaga image-nya sebagai seorang pria.

“Tidak. Tidak. Kyuhyun tidak akan segan membunuhku kalau berani mendekati Hyejin. Perlakuanku yang lembut kepada Hyejin dikarenakan Kyuhyun berpesan seperti itu padaku. Kau mau lihat pesan-pesan yang dikirimkan Kyuhyun kepadaku agar menjaga istrinya tersebut dengan baik? Kau pasti akan geleng-geleng kepala heran. Padahal Hyejin jauh lebih canggih dalam urusan menjaga dirinya sendiri. Aku akan mengenalkanmu pada Kyuhyun kapan-kapan. Ia menyenangkan namun sekaligus menyebalkan.”

Wanita itu tertawa kecil. “Aku pikir… Akan sangat menyenangkan bisa berkenalan dengan teman-temanmu, Oppa,” ujarnya.

“Kapanpun kau ada waktu, kau bisa mengunjungi Seoul dan aku akan menemanimu ke tempat-tempat terbaik di sana,” sahut Siwon.

“Okay,” sahutnya pelan. Entah kebiasaan atau memang hobinya, wanita itu tidak pernah berhenti tersenyum.

“Liuwen,” panggil Siwon dengan tatapan mata ang bisa mematikan setiap wanita yang menatapnya.

“Ya, Oppa?” Sahut wanita itu.

“Bagaimana kalau kita berkencan hari ini, sebelum kau kembali ke New York?”

Liuwen meletakkan kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Siwon yang masih belum bergeming. “Jadi, Oppa jauh-jauh datang ke Hongkong untuk mengajakku berkencan?” Tanya Liuwen sambil tersenyum manis.

Siwon menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Tepat sekali. Jadi… Bagaimana kalau kita segera menghabiskan makanan ini lalu pergi jalan-jalan berkeliling Hongkong?”

“Deal,” sahut Liuwen dengan senang hati. Ia masih memiliki banyak waktu sampai jam penerbangannya nanti malam. Tidak ada ruginya membunuh sisa waktu bersama dengan seorang Choi Siwon.

—–

image

Donghae menanti dengan sabar panggilannya yang belum juga dijawab oleh Hamun. Perbedaan waktu tujuh jam antara Seoul dan Zurich membuat Donghae merasa tidak enak hati menelepon Hamun di jam 3 pagi waktu Zurich. Donghae tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendengar suara wanita itu. “Oppa…” sahut Hamun dengan suara paraunya. Terdengar jelas ia baru saja bangun.

“Maaf mengganggu tidurmu. Bagaimana Swiss? Menyenangkan?” Tanya Donghae lembut.

“Sangat menyenangkan. Sangat indah. Tidak heran Cho sajangnim sangat suka ke tempat ini,” sambut Hamun dengan nada yang lebih ceria. Gadis itu juga sudah duduk di atas tempat tidurnya, tidak lagi berbaring.

Donghae tersenyum seorang diri, membayangkan wajah senang Hamun di sana. “Besok kau akan kemana? Sudah selesai kan mengelilingi Swiss?” Tanya Donghae lagi.

“Sudah. Besok, maksudku nanti sore, aku akan ke Paris lalu lusa ke Berlin.”

“Lalu kemana lagi?”

“Amsterdam, Milan, Kopenhagen, baru terakhir ke Madrid. Aku pulang dari Spanyol.”

“Berapa hari lagi itu?”

“Dua belas hari lagi, Oppa. Waeyo?”

Donghaw menghela nafas panjang namun kembali tersenyum. “Masih lama ya… aku sudah merindukanmu,” kata Donghae membuat Hamun tertawa kecil namun juga tidak enak hati.

“Sabar ya Oppa sayang. Dua belas hari tidak lama kok. Fokuslah pada pekerjaan Oppa,” ujar Hamun.

“Terima kasih, sayang.”

Hamun memberikan ciuman melalui sambungan internasional tersebut. Donghae dapat mendengar suara, “Muah!” Dari speaker ponselnya. Mau tidak mau, laki-laki itu tertawa geli. “Terima kasih lagi, sayang. Aku akan menunggumu pulang dengan sabar,” ujar Donghae.

“Ngomong-ngomong, apa Cho sajangnim masih marah soal cutiku?” Tanya Hamun.

Donghae menggelengkan kepalanya meskipun Hamun tidak dapat melihatnya. “Dia mendapat keuntungan dengan cutimu. Sekarang ia bisa terus-terusan bersama Hyejin. Kau tahu apa yang mereka lakukan tadi pagi?”

Hamun tertawa terbahak-bahak. Ia sudah hafal kelakukan bos-nya yang satu itu. “Tidak usah menceritakannya kepadaku. Aku sudah tahu. Mereka pasti mengacaukan ruang kerja Cho sajangnim pagi ini,” kata Hamun sambil tertawa.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ini bukan yang pertama kalinya, Oppa. Kita semua tahu itu.”

Donghae ikutan tertawa. Kepala Divisi termuda SJ Company itu memang tidak pernah berubah. Sejak kuliah sampai usia 30 tahun seperti sekarang ini, tidak pernah bisa lepas dari wanita tercintanya.

“Kau kembalilah tidur. Nanti siang, aku akan kembali meneleponmu ya sayang? Jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit. Jangan sampai lupa pulang,” pesan Donghae.

“Aku tidak akan lupa pulang kalau setiap hari Oppa mengingatkanku seperti ini.”

“Aku merindukan Oppa.”

“Aku juga merindukanmu, sayang. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

——

Kkeut!

xoxo @gyumontic