image

Donghae tersenyum saat mendengar pintu kamarnya terbuka perlahan-lahan. Ia menutup matanya membuat dirinya tampak sedang tidur.

Ia bisa merasakan ada seseorang yang duduk di tepi tempat tidurnya, mengelus kepalanya, membelai wajahnya, dan mencium keningnya.
“Happy birthday, sayang,” bisik suara orang itu, pelan sekali, tidak mau membangunkan Donghae.
“Istirahat yang cukup. Aku mencintaimu sebesar kau mencintaiku,” bisiknya lagi.
Donghae bisa merasakan kasurnya kembali mengembang tanda bahwa orang itu sudah bangkit. Ia langsung membuka matanya dan menahan kepergian wanita kesukaannya.
“Kau mau pergi begitu saja, Hamun?” tanya Donghae yang kini sudah duduk di tempat tidur dengan tangannya yang menahan Hamun. Melihat Donghae lebih jelas dengan rambut barunya membuat Hamun terkikik.
Donghae memasang wajah kesal. “Waeyo? Kau tak suka?” tanyanya.
Hamun menggeleng. Ia menghampiri Donghae dan mencium puncak kepala pria itu. “Bagiku, oppa adalah pria paling tampan. Bagaimana pun kondisimu,” ujar Hamun yang kini sudah menatap lekat kekasihnya.
Donghae tersenyum lalu mengerucutkan bibirnya. “Terima kasih sayang, sekarang cium aku,” pintanya dengan manja.
“Oppa, kenapa jadi manja seperti ini?” tanya Hamun tak habis pikir. Dia tidak marah, justru tertawa.
“Karena hari ini aku ulang tahun dan kau ada disini,” kata Donghae sambil memeluk pinggang Hamun. Ia menyandarkan kepalanya di perut Hamun. “Terima kasih untuk kue tartnya. Kalau aku tidak bangun, kau pasti sudah akan pulang sekarang dan kita tidak akan bertemu sampai aku cuti nanti,” ucapnya.
Donghae melepas pelukannya saat ia merasa Hamun tidak memberikan respon apapun. Ia melihat Hamun kini sedang menengadahkan kepalanya ke atas.
Donghae tersenyum. Ia menarik Hamun agar gadis itu duduk dipangkuannya. Hamun mengalihkan pandangannya, menolak untuk melihat Donghae.
“Lihat aku,” pinta Donghae dengan lembut. Saat Hamun menatapnya, Donghae bisa melihat wajah Hamun yang sudah memerah.
“Menangislah, sayang,” katanya. Perkataan Donghae itu membuat tangis Hamun merebak. Ia memeluk Donghae erat dalam tangisnya. “Mianhe.. Harusnya aku tersenyum. Harusnya aku menjadi kekuatanmu. Aku justru lemah dan menangis seperti ini,” kata Hamun yang berulang kali mengusap wajahnya namun tetap saja tangisnya tak berhenti.
Donghae menepuk pelan punggung Hamun, membiarkan wanita itu menangis dalam dekapannya. Ia tak berkata apapun, karena sesungguhnya ia juga selemah Hamun. Ia juga ingin menangis karena setelah ini akan susah baginya untuk bertemu dengan Hamun.
Setelah sekian menit Hamun menangis, akhirnya ia bisa mengontrol emosinya. “Kau disini saja ya, sayang,”
Hamun mengangguk dengan lemah. Mereka berdua tertidur tanpa berkata apa-apa. Hanya saling memandang. Donghae membelai wajah Hamun dan gadis itu menggenggam tangan Donghae.
*****
Donghae terbangun dan tertawa sendiri melihat kekasihnya yang tidur pulas sambil memeluknya erat. Dengan hati-hati, ia menjauhkan tangan Hamun dari tubuhnya. “Oppa… Mau kemana?” tanya Hamun dengan suara sengaunya.
“Aku haus, mau ambil minum, Hamunie,” jawab Donghae.
“Aku juga,” kata Hamun. Ia memeluk Donghae dari belakang dan mengikuti langkah pria itu. Donghae tertawa karena setelah mereka selesai minum, Hamun tidak melepas pelukannya. Kemana pun Donghae pergi, Hamun selalu mengikutinya. Baru kali ini Hamun cuek meskipun member yang ada di dorm sudah menggoda mereka.
“Aku sekarang mau mandi, aku akan senang kalau kau juga masuk kedalam, Hamun,” ujar Donghae yang membuat Hamun sadar kalau kini mereka berdiri di depan kamar mandi. Dengan segera, Hamun melepas pelukannya. “Oppa nakal,” keluh Hamun yang justru membuat Donghae tertawa.
****
Setelah selesau bersiap-siap, Donghae keluar dari kamarnya. Ia bisa melihat membernya, Chanyeol, Sehun, Suho, dan Taemin duduk di ruang tamu bersama Hamun.
“Kajja,” kata Donghae.
Serentak mereka semua berdiri. Donghae memeluk dan mengucapkan salam perpisahan. Begitu ia berdiri di depan Hamun, ia tersenyum lalu mengecup kening gadis itu. Ia sangat tahu, Hamun tidak suka dicium dibibir apabila ada orang lain.
“Aishh, kalian mau berpisah kenapa ciumnya hanya di kening, sih?” keluh Kyuhyun.
“Diam saja. Kau pikir kami seperti kau dan Hyejin?” balas Donghae yang membuat mereka tertawa.
Akhirnya satu persatu keluar dari dorm itu, tersisa Hamun dan Donghae di barisan paling belakang.
“Oppa,” panggil Hamun.
Saat Donghae menoleh, tiba-tiba Hamun mengecup bibirnya. “Aku sayang oppa,” bisik Hamun.
Donghae tersenyum lalu mengacak rambut Hamun. “Nado, aku pergi dulu ya, sayang,”.

—-

“Kenapa kau menangis?” Tanya Kyuhyun melihat Hyejin yang sedang duduk di sofa sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.

“Aku merindukan Donghae Oppa,” jawab Hyejin jujur dengan sesengukkan. Tarikan nafasnya belum stabil karena masih menangisi Donghae yang baru masuk wajib militer hari ini.

“Donghae hyung hanya akan pergi dua tahun. Bahkan tidak sampai dua tahun. Kau juga masih bisa melihatnya saat dia cuti. Sudah, jangan menangis lagi,” kata Kyuhyun sambil menepuk-nepuk kepala kekasihnya dengan lembut. Pria ini sudah memahami jiwa fangirl di dalam diri Hyejin. “Mana Hamun? Apa dia juga menangis sepertimu?”

“Lebih parah,” sahut Jihyo dengan setoples biskuit coklat di tangannya. Mata gadis itu terlihat sembap.

“Kau juga menangis, Jihyo?” Tanya Kyuhyun tidak percaya.

Jihyo menganggukkan kepalanya. “Aku tidak tahu bagaimana reaksi saat Siwon oppa yang masuk wajib militer nanti. Mungkin aku bisa nangis tujuh hari tujuh malam sampai meraung-raung di lantai,” kata Jihyo.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Jihyo. “Kau paling hanya menangis sehari lalu asik sendiri dengan teman-temanmu. Begitu Siwon hyung kembali, kau akan mengganggunya. Begitu kan?”

Jihyo menyeringai jahil. Memang seperti itu yang akan ia lakukan jika Oppa-nya pergi wajib militer nanti. “Tapi sebaiknya Hyung Oppa mulai memikirkan bagaimana membuat Hyejin eonni menangisimu saat wajib militer,” kata Jihyo dengan tawa usil.

“Yang pasti ia tidak akan menangis sesedih ini. Aku yakin,” kata Kyuhyun. “Mana Hamun?”

“Di kamar. Mengurung diri sejak tadi. Habis merayakan ulang tahun Donghae Oppa, kami pulang dan Hamun menyendiri di kamarnya. Tidak ada yang berani masuk,” jawab Jihyo.

Kyuhyun berjalan mendekati kamar Hamun. Terasa aura yang menyedihkan hanya dari pintubkamar itu. Perlahan, Kyuhyun membuka pintu kamar tersebut. “Hamun-ah, apa aku boleh bicara sebentar?” Tanya Kyuhyun dengan lembut.

Hamun sedang berbaring di tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dari punggungnya yang gemetar, Kyuhyun tahu gadis itu sedang menangis. “Donghae hyung menitipkan pesan padaku,” kata Kyuhyun sambil duduk di tepi tempat tidur Hamun dan mengelus kepala gadis itu.

Hamun tidak menjawab. Gadis itu tetap menyembunyikan wajahnya dengan gulingnya yang sudah basah terkena air mata. “Donghae hyung bilang, kau jangan terus bersedih. Ia akan menulis surat padaku untuk disampaikan kepadamu. Dan setiap cuti atau libur, ia akan menemuimu. Dua tahun tidak lama, katanya. Kalau ia sudah ditempatkan, kau mungkin bisa mengunjunginya,” ujar Kyuhyun.

Hamun mencoba menghentikan tangisnya, meski hanya untuk semenit. “Aku akan berusaha tapi aku tidak bisa berjanji. Dua tahun tanpa Donghae Oppa rasanya seperti aku telah kehilangan separuh jiwaku. Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpanya,” ujar Hamun.

Kyuhyun mengelus lagi kepala Hamun. “Kau pasti bisa. Donghae hyung juga akan sedih kalau tahu gadis yang paling dicintainya terus menangis. Bukankah kau ingin jadi sumber kekuatannya?”

Hamun memeluk gulingnya lebih erat. Tangisannya perlahan berhenti. “Oppa, tolong sampaikan pada Donghae Oppa, aku selalu merindukannya,” kata Hamun. “Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan menjadi yang pertama menyambut kepulangannya.”

Kkeut!

xoxo @gyumontic