images (2)

“Kau sedang baca apa?”

Woobin mengintip dari balik bukunya, yeoja itu lagi.

“Kau tidak lihat aku sedang apa?” Woobin mengembalikan fokusnya ke buku yang dia pegang.

“Namamu Kim Woobin-ssi kan?”

Woobin mengangguk.

“Aku-“

“Choi Jihyo,” Woobin meletakkan bukunya di atas meja dan kini memfokuskan pandangannya ke Jihyo.

“Jadi kau benar The Reader yah?” Jihyo mengembangkan senyumannya, Woobin tidak suka melihat seseorang memanggilnya dengan sebutan itu.

“Tenang, aku tidak akan memberitahukan siapapun tentangmu. Kau sedang baca apa?” Jihyo memajukan tubuhnya ke arah Woobin.

“Bukan urusanmu.”

“Aku tertarik padamu,” Jihyo mengucapkan kalimat itu dengan pelan, namun terdengar menyakitkan bagi Woobin.

“Aku tidak.”

Kau menyakitiku.”

Kau tau kan, kaummu tidak mudah disakiti,” Woobin menghela napas panjang. Manusia biasa saja sudah cukup merepotkan baginya, apalagi mereka yang punya kemampuan spesial sepertinya.

Woobin-ssi, kumohon,” Jihyo menengok ke kiri dan kanan, hanya ada beberapa orang di perpustakaan universitasnya.

Woobin menatap Jihyo sekali lagi, “Kau tau kan kalau aku bisa membaca pikiranmu?”

Jihyo mengangguk cepat. “Makanya jangan biarkan aku melakukan hal ini. Ayo, kau cukup membantuku saja menemukan The Thinker. Setelah itu aku janji, aku tidak akan mengganggumu.”

Aku tidak mau,” Woobin menutup bukunya dan beranjak pergi dari mejanya meninggalkan Jihyo.

Ya! Oppa! Bagaimana bisa kau meninggalkanku untuk yeoja sialan itu! Oppa, jangan tinggalkan aku, oppa!” Jihyo mulai berteriak memancing perhatian seluruh mahasiswa di perpustakaan.

Sejak kapan aku menjadi namjachingumu?” Woobin memutar tubuhnya ke arah Jihyo yang kini sudah menangis sesenggukan.

Sejak hari ini, dan akan aku pastikan kau selamanya tersiksa menjadi namjachinguku jika kau tidak mau membantuku,” ancam Jihyo.

+++

Jadi tidak ada The Thinker di kampus kita?” Jihyo memanyunkan bibirnya. “Ah, tidak asik!”

Sudah kan? Aku sudah membantumu? Sekarang hentikan drama ini,” Woobin risih melihat lengan Jihyo melingkar di lengannya.

Tidak akan. Aku sudah bilang aku akan membiarkanmu hidup tenang setelah kau membantuku menemukannya, hihihi,” Jihyo menarik Woobin menuju cafetaria. “Kau mau apa, oppa?”

Woobin mendengus kesal setiap melihat mata Jihyo. Ia tau Jihyo sangat menyukai kejahilan ini. Lagipula, tanpa membaca pikirannya, ia tetap tau reputasi yeoja satu ini di universitasnya.

Jihyo, omo!” seorang yeoja mahasiswi senior berpapasan dengan mereka berdua. Yeoja itu menatap aneh melihat seorang mahasiswi populer di universitas ini bergandengan dengan mahasiswa yang cukup populer karena selalu menyendiri di perpustakaan.

MinAh onnie! Kau sudah kembali dari New York? Ah, aku merindukanmu!” Jihyo melepaskan tangannya dari Woobin dan memeluk MinAh.

Kau, kenapa dengan patung itu?” bisik MinAh.

Dia namjachinguku, hihihi,” Jihyo menyeringai.

Jihyo!” MinAh menarik Jihyo yang ingin berjalan kembali ke arah Woobin. “Kau serius? Kau sedang tidak bercanda?”

Jihyo menggeleng. “Aku akan cerita padamu besok di klub. Okay?”

Dia menganggap otakmu tidak waras,” Woobin mengatakan apa yang ia lihat dari pikiran MinAh.

Tentu saja semua orang akan menganggapku seperti itu, iya kan?” Jihyo menggeret Woobin menuju kursi terdekat.

Mengapa kau ingin mengorbankan reputasimu di universitas ini hanya demi menemukan The Thinker?”

Mengapa kau tidak baca pikiranku?” Jihyo menatap Woobin dengan serius.

Aku bukan tipe orang yang suka mengetahui rahasia orang lain.”

Tapi itu adalah sifat naturalmu, iya kan? Sekuat apapun kau berusaha tidak membaca pikiran orang lain, namun kau tidak bisa menahannya, iya kan? Itulah sebabnya kau mengisolasi dirimu di perpustakaan. Tempat sedikit orang.”

Woobin tertawa, “Kau kini terdengar seperti The Thinker.”

Sudah beberapa bulan ini aku selalu bermimpi buruk,” Jihyo melepaskan lengannya dari lengan Woobin. “Aku melihat seseorang sekarat di mimpiku, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, namun aku tau dia sangat kesakitan dan membutuhkanku.”

Kau ingin The Thinker mengartikan mimpimu?”

Entah, mungkin saja. Aku sangat membutuhkannya. Setiap malam aku tersiksa karena di mimpi itu aku hanya diam saja tanpa bisa membantunya.”

Tidak mudah menemukan mereka. Mereka tidak akan membiarkan pikiran mereka dengan mudah aku baca.”

Aku percaya padamu,” Jihyo mengatakan dengan sungguh-sungguh.

+++

Woobin mulai terbiasa melihat makhluk lain yang sangat suka berlompatan seperti bola bekel ini disampingnya. Jihyo seperti magnet, selalu menarik semua orang di sekitarnya.

Bisakah kau tidak hiperaktif seperti itu?” Woobin menarik tangan Jihyo.

Ayolah, kita sedang di taman bermain. Kau harus menunjukkan rasa senangmu sedikit, Woobin!”

Kita tidak aka menemukan The Thinker di sini,” Woobin menahan Jihyo.

Siapa yang bilang kita mau mencari The Thinker di sini?” Jihyo tersenyum tengil menatap Woobin.

Choi Jihyo, jangan menatapku seolah kau mau aku membaca pikiranmu! Oh Tuhan, kau ini apa-apaan?” Woobin dengan jelas bisa membaca pikiran Jihyo. Yeoja di hadapannya ini bertaruh dengan teman-temannya untuk membuat dirinya tidak seperti patung lagi?

Semua orang di universitas memanggilmu The Handsome Statue! Kau tidak merasa panggilan itu aneh? Ih coba lihat darimana tampannya sih? Muka selalu ditekuk, tatapanmu seperti gangster,” Jihyo mulai berbicara sendiri.

Woobin tak bisa marah saat ia tak sengaja mendengar pikiran Jihyo.

‘Kurasa dia memang cukup tampan.’

+++

Hey,” Woobin berdiri di hadapan kelima yeoja yang sejak tadi asyik menggosipkan salah satu dosen muda, Eric Mun.

Woobin!” Jihyo terkejut melihat namja itu keluar dari persembunyianya di perpustakaan tanpa harus ia geret.

Kau sedang sibuk?” Woobin menatap keempat teman Jihyo yang lainnya, Woobin tak bisa menahan senyumannya saat membaca pikiran mereka.

Tidak, kami tidak sedang sibuk, iya kan Hyonnie?” ujar MinAh menggeser tempat duduknya. “Silahkan duduk.”

Jihyo memutar bola matanya, mungkin Jihyo bukanlah seorang Reader, tapi ia tau ketiga onnie dan magnaenya itu mulai salah tingkah di hadapan Woobin.

Kau mau apa ke sini?” ucap Jihyo ketus.

Ya! Anak ini kenapa galak sekali sih!” Hyejin menjitak kepala Jihyo. “Maafkan uri Jihyo ya, Woobin-ssi. Kau harus sabar menghadapinya. Kau mau minum apa?”

Terima kasih, namun tidak usah,” Woobin tersenyum dan seketika ia bisa mendengar kepalanya dipenuhi dengan gumaman heboh dari pikiran para yeoja di hadapannya.

Onniedeul, magnae, aku pergi dulu. Kajja!” Jihyo menarik Woobin pergi namun Woobin bertahan.

Kita mau kemana?”

Kemana saja.”

‘Kau tidak lihat teman-temanku tiba-tiba menjadi cacing kepanasan begitu melihatmu?’ Jihyo memelototi Woobin, ia tau Woobin akan membaca pikirannya.

Noona, sebenarnya aku ke sini ingin mengenal Jihyo lebih jauh. Selama kami berpacaran dia tidak pernah bercerita sedikitpun tentang teman-temannya,” Woobin melirik jahil ke Jihyo.

Tentu saja kami mau! Apa yang mau kau tanyakan Woobin-ssi? Kami kenal Jihyo sejak kecil, semua rahasianya kami tau!” seru HyunAh.

Oppa,” rengek Jihyo. ‘Kau berani bicara satu kata lagi maka aku akan menghajarmu!’

Bagaimana Jihyo waktu kecil? Apa dia selalu hiperaktif seperti ini?” Woobin tak bisa menahan kesenangannya membaca pikiran empat yeoja ini, meskipun nona hiperaktif di hadapannya sudah meraung-raung mengamuk menyuruhnya pergi.

+++

Aku tidak percaya onnieku mengundangmu ke klub!” teriak Jihyo di tengah hingar bingar musik.

Kau tidak usah berteriak, nona manis. Aku bisa membaca pikiranmu,” seru Woobin.

Sebaiknya kau datang ke sini ada gunanya, Kim Woobin. Siapa tau The Thinker datang ke tempat seperti ini,” Jihyo berjalan menjauh dari Woobin.

Ini bukan tempat favorit Woobin. Dengan musik yang hingar bingar dan banyak orang dengan pikiran liar mereka membuat kepala Woobin mau pecah. Namun, ia tak bisa menolak ajakan dari teman-teman Jihyo.

Annyeonghaseyo, Woobin sunbae,” seru suara kecil di belakangnya.

Ah, annyeonghaseyo, Kang Hamun-ssi. Kau juga datang ke sini?” Woobin tak percaya melihat yeoja paling alim di kelompok Jihyo datang ke klub sambil membawa buku tebal di tangannya.

Onniedeul memaksaku ke sini. Aku sudah biasa belajar di tempat ramai, sunbae. Sudah bertemu dengan Jihyo onnie?”

Sudah. Oiya Hamun-ssi,” Woobin menahan Hamun. “Kau mau aku antarkan menuju para onniemu?” Woobin tidak suka melihat namja-namja tanggung di sekelilingnya menatap Hamun dengan pikiran iseng seperti itu.

Gwenchana, sunbae,” Hamun tersenyum dan membungkuk ke arah Woobin lalu pergi di tengah kerumunan.

Woobin seketika teringat Jihyo, orang sepertinya tak bisa dibiarkan di tempat seperti ini, bagaimana bisa Jihyo rutin datang ke klub seperti ini?

Woobin berusaha memfokuskan pikirannya, mencari suara pikiran Jihyo, namun tempat ini terlalu ramai, ia tak bisa berkonsentrasi.

Oh tidak! Kau baik-baik saja? Kurasa seharusnya kau tidak minum sebanyak ini! Ayolah, yeoja di dunia ini bukan hanya satu.”

Woobin menengok ke arah bar begitu mendengar suara familiar itu. Ia melihat Jihyo berusaha membopong seorang namja yang sedang mabuk.

Aish, jangan dekati yeojachinguku!” Woobin berlari dan mendorong namja itu.

Kim Woobin, apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat dia sedang mabuk seperti itu? Dia butuh bantuanku!”

Tidak semua membutuhkan bantuanmu. Kau tidak lihat apa bagaimana dia menatapmu?” Woobin tak tahan untuk membaca semua yang ada di pikiran namja itu, apa yang akan ia lakukan kepada Jihyo.

Aku bisa menjaga diriku sendiri,” Jihyo menghempaskan genggaman tangan Woobin. “Dan seharusnya kau tau, aku memang tidak bisa menahan diriku untuk menolong orang lain.”

Kalau begitu, kau harus menolong diriku,” seorang namja tiba-tiba saja hadir di depan mereka berdua. Woobin tidak bisa membaca pikirannya, seolah namja di depannya membentengi pikirannya.

Namun Woobin bisa membaca pikiran yeoja di sampingnya. Jihyo terkejut bukan main, terkejut karena tiba-tiba saja, ada seorang namja yang ia pikir sangat tampan dan tipenya berada di hadapannya.

Kau mau menolongku kan, The Healer?” namja itu mendekatkan dirinya ke Jihyo. “Sebagai gantinya, aku akan membantumu mengetahui arti mimpimu,”

Jika Woobin bisa membaca pikiran namja itu, pasti ia sudah menonjoknya saat ini juga. Namun ia tak bisa, ia hanya bisa melihat namja misterius ini mencium yeoja di hadapannya.