“Yoboseyo.”

“Oppa, keluar sebentar.”

“Wae? Kau dimana?”

“Di depan restoran. Ayolah kau tega apa membiarkan yeoja sendirian jam 11 malam?”

Seunghyun berjalan ke arah jendela terdekat, ia langsung menutup sambungan teleponnya dan berlari keluar restoran.

“Kau sedang apa di sini? Kau sudah tidak waras apa?” Seunghyun melepaskan jasnya dan melingkarkan di pundak Jihyo.

“Hehe, saengil chukkae!” Jihyo mengangkat plastik hitam yang ia tenteng. “Mau es krim?”

“Haish. Kau tau darimana aku di sini? Lagipula apa yang ada di pikiranmu ada di depan restoran sendirian selarut ini?” Seunghyun menarik tangan Jihyo untuk masuk ke restoran, bergabung dengan para member Bigbang yang sedang merayakan ulang tahunnya, namun Jihyo menahannya.

“Kau masih makan malam dengan para member?” tanya Jihyo. “Kalau begitu tidak apa-apa. Aku tunggu sampai selesai, aku tidak mau mengganggumu hehe.”

“Ppabo!” Seunghyun menjitak kepala Jihyo. “Kau mau kemana?”

“Makan es krim, bersamamu,” Jihyo mengunjuk ke arah taman yang tak jauh dari restoran. “Di sana.”

Seunghyun menghela napas panjang sebelum merangkul pundak Jihyo. “Kau memang tidak bisa ditolak, kajja!”

“Kau tidak sedih aku belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu seharian ini,” goda Jihyo.

“Memangnya aku harus sedih?” balas Seunghyun.

“Tentu saja! Kau harus sedih, sedih sekali!” Jihyo berjalan cepat meninggalkan Seunghyun, bergegas menuju taman.

“Ya! Choi Jihyo! Aku sedih!” Seunghyun tertawa melihat tingkah kekanakan yeoja di depannya. Seunghyun tau Jihyo tidak akan lupa hari ulang tahunnya. Hanya saja ia ingat bagaimana sifat jahil nona Choi itu. Ia hanya lupa jika Jihyo bisa mengerjainya dengan cara yang aneh seperti saat ini.

“Duduk di ayunan sebelah, oppa,” perintah Jihyo yang sudah lebih dulu sampai di taman dan duduk di ayunan. Ia menyodorkan es krim kepada Seunghyun.

“Kau seharusnya menraktirku yang lebih mahal, Hyonnie.”

“Sudah oppa, makan saja yang benar!”

“Gomawo,” Seunghyun menoleh ke yeoja di sampingnya yang sibuk menjaga agar es krim di genggamannya tak menetes ke tangannya.

“Gwenchana. Es krimnya murah kok, hehe.”

“Maksudku terima kasih karena selarut ini kau tiba-tiba berdiri di depan restoran dan mengajakku ke taman untuk bermain ayunan, Choi Jihyo,” Seunghyun mendorong ayunan dengan kedua kakinya.

“Sebisa mungkin aku menghindari banyak orang yang melihat kita, kau tau kan karena apa,” goda Jihyo.

Seunghyun tersenyum tipis, tentu saja ia tau karena apa.

“Oppa.”

“Mmh?”

“Terima kasih sudah menjadi oppa ketiga terbaik dalam hidupku.”

“Wae?” Seunghyun meninggikan suaranya. “Oppa ketiga terbaik?”

“Ne. Setelah Siwon oppa dan Kyuhyun oppa, hahahaha.”

“Ya! Maksudku aku masuk ke dalam brotherzone?” pelotot Seunghyun.

“Memangnya kau mau dimasukkan ke dalam list apa? Friendzone?” ucap Jihyo asal.

“Haish anak ini!” Seunghyun menghentikan ayunannya. “Aku harusnya oppamu nomer satu!”

Jihyo menggeleng cepat. “Kau oppa nomer tiga, titik.”

“Jihyo-ah, mengapa kau tidak membuatku senang di hari ulang tahunku sih?”

“Karena, namja terakhir yang aku rayakan ulang tahunnya, beberapa minggu kemudian, dia malah membuatku sedih,” Jihyo tertawa kencang. “Apa kau bisa menjamin jika aku membuatmu senang hari ini, kau tidak akan membuatku sedih di kemudian hari?”

Seunghyun bangkit dari ayunannya dan berjalan ke belakang Jihyo, dengan pelan ia mendorong ayunan nona Choi.

“Aku tidak akan pernah berjanji kepadamu, tapi aku akan berusaha.”

“Baiklah, berusahalah untuk tidak punya yeojachingu, okay?” teriak Jihyo.

“Ya! Apa-apaan itu? Aku tidak mau seperti itu! Umurku sudah matang untuk memiliki kekasih!”

“Yasudah kalau begitu, kau tetap jadi oppa nomer tiga, hahaha.”

 

 

 

 

Halo semuanya! Sebenarnya FF ini mau dipublish pas ulang tahun Choi Seunghyun 4 November kemarin, tapi kelupaan, hahaha. Apakah ada Seunghyo shipper di sini? *angkat tangan*