Sejak pulang dari Amerika, aku memiliki kebiasaan baru yang sangat menyebalkan. Aku jadi senang memamerkan kemesraanku dengan Hyejin kepada semua orang. Aku juga jadi lebih memanjakan Hyejin dari biasanya. Jangankan apapun yang Hyejin minta, tanpa diminta pun jika ada sesuatu yang aku anggap cocok dengan Hyejin, aku akan membelikannya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

“Cho Kyuhyun-ssi. Cho Kyuhyun-ssi.” Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari panggilan Hyejin untukku. Aku mengangkat kepalaku dari bahu Hyejin dan menatap wanita itu dengan sayu. “Ada apa?” Tanyaku.

Hyejin mendekatkan mulutnya ke telingaku. Ia membisikkan sesuatu yang membuatku gemas, “Lepaskan tanganmu. Semua orang sedang melirik kita.” Aku menatap seluruh penumpang lift yang juga sedang aku tumpangi. Mata mereka memang sedang berusaha mencuri-curi pandang ke arahku dan Hyejin.

“Lift pribadiku sedang rusak. Apa kalian keberatan jika kami menumpang? Apa ada masalah dengan melihat kemesraan Direktur kalian dengan istrinya?” Tanyaku dengan santai kepada seluruh penumpang sambil tetap memeluk Hyejin dari belakang.

Para penumpang lift yang notabene adalah pegawaiku tentu akan menjawab tidak keberatan. Salah satu dari mereka bahkan mendukungku. “Aku senang melihat kemesraan tuan dan nyonya Cho. Sangat enak dilihat,” katanya diikuti anggukan kepala pegawaiku yang lain.

Aku mengacungkan jempolku sebagai tanda terima kasih. “Aku akan mentraktir kalian semua makan siang. Taesung yang akan membawanya ke meja kalian masing-masing.” Pegawaiku bersorak kesenangan dan Hyejin hanya tertawa ringan melihat tingkahku.

“Kau tidak mentraktirku?” Tanyanya dengan suara lemah yang tertelan riuh sorakan para pegawaiku.

Aku tersenyum manis pada Hyejin. “Aku sudah menyiapkan makan siang khusus untuk kita,” jawabku. Aku menatap Hyejin cukup lama untuk menikmati kecantikannya. Perlahan, aku mendekatkan kepalaku sehingga tidak ada jarak berarti antara mulutku dengan pipinya. “Hanya kita berdua,” bisikku lalu mengecup pipi Hyejin dengan cepat.

Para pegawai wanita tersipu malu melihat kemesraanku dan Hyejin. Mereka menundukkan kepala sambil memegang pipi mereka yang memerah. Para pegawai pria? Mereka berusaha tetap berdiri tenang meskipun aku tahu dalam hati mereka pasti iri melihat kemesraanku dan Hyejin.

Lift berhenti di lantai 34. Aku melepas pelukanku terhadap Hyejin dan menggantikannya dengan gandengan tangan. “Kita turun di sini,” kataku. Para pegawai yang sudah berganti beberapa kali memberikan jalan padaku dan Hyejin untuk keluar dari lift.

“Selamat bekerja!” Seruku kepada para pegawai sebelum lift tersebut membawa mereka ke lantai yang lebih tinggi.

Hyejin berdiri di sebelahku dengan setia. Ia menggandeng tanganku dan tersenyum kepadaku. “Aku lapar. Apa kita sudah bisa makan sekarang? Atau masih ada rapat yang harus kau hadiri?” Tanyanya polos membuatku tergelak.

Aku membelai rambut pendeknya dan kemudian mencium keningnya yang cukup cembung. “Kita makan sekarang,” kataku.

Aku berjalan di depan Hyejin dengan menggandeng tangannya. Aku menuntun Hyejin menuju sebuah ruangan kecil sederhana yang sudah aku sulap menjadi ruangan yang cukup romantis untuk makan siang bersama istri tercinta.

Okay. Taesung yang menyulapnya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menghias-hias ruang rapat sehingga bisa menjadi tempat berduaan yang romantis.

“Silahkan masuk.”

Hyejin tampak sangat takjub melihat perubahan pada ruang rapat kecilku. Sebuah meja di pinggir jendela dengan pemandangan kota Seoul yang cerah yang sudah berisi makan siang kami, beberapa botol anggur dan sebuah sofa di sisi yang berseberangan dengan meja makan.

“Sofa? Untuk apa?” Pertanyaan yang sudah aku duga akan keluar dari mulut Hyejin.

“Untuk jaga-jaga jika kita membutuhkannya. Awalnya Taesung ingin menyiapkan tempat tidur kecil tapi ternyata tidak bisa masuk jadi ia menggantinya dengan sofa ini,” jelasku.

Hyejin tersenyum lalu menciumku. “Terima kasih banyak. Semoga kerja keras Taesung tidak sia-sia,” ujar Hyejin yang membawa seringaian lebar di wajahku. “Kita makan sekarang?”

“Eoh.” Aku menarik kursi untuk diduduki Hyejin dan kemudian mendorongnya lagi ke dekat meja setelah Hyejin mendudukinya. Baru setelah itu, aku mengambil tempat dudukku sendiri.

Hyejin sudah mulai terkecoh dengan hidangannya sehingga aku harus membuatnya kembali fokus kepadaku sebelum kami menyantap makan siang kami. “Aku punya sesuatu untukmu,” kataku sambil menyodorkan sebuah kotak kecil ke bawah hidungnya.

“Cincin? Kalung? Berlian? Emas?” Tanyanya penuh semangat.

Seorang wanita jika sudah melihat kotak kecil beludru dengan nama sebuah perusahaan perhiasan terkenal tercetak di atasnya pasti tidak akan bisa tenang. “Apa aku boleh membukanya sekarang?” Tanya Hyejin tidak sabar.

Aku tertawa geli melihat ekspresi Hyejin yang menurutku sangat sangat menggemaskan. Aku menarik kotak cincinku menjauh dari Hyejin. “Kau boleh membukanya setelah memberikan sebuah ciuman,” kataku dengan telunjuk mengarah ke bibirku. “Aku tidak keberatan jika kau menghabisinya.”

“Demi sebuah perhiasan baru,” kata Hyejin yang langsung mencium bibirku dengan ganas. Hyejin bahkan menggigit.

“Kau mengerikan,” kataku bercanda. Bagaimanapun caranya menciumku, aku selalu menyukai saat-saat dimana bibir Hyejin menyentuh bibirku. Aku seperti merasakan ada kehangatan yang mengalir di sekujur tubuhku.

“Mana kotaknya?” Tanya Hyejin. Aku pun menyerahkan kotak kecil berisi cincin emas 24 karat bertahtakan sebuah berlian dengan berat 20 gram. “Aku masih punya dua kotak lagi jika kau bersedia bercinta denganku di siang bolong seperti ini,” kataku.

Hyejin tertawa sambil mengagumi cincin berlian barunya. “Biarkan aku makan siang dulu sambil mempertimbangkannya,” kata Hyejin. Rupanya, Hyejin masih ingat dengan urusan perut.

Aku memasangkan cincin tersebut ke jari tengah kiri Hyejin sebelum kami benar-benar makan siang. “Jihyun bilang ia melihat Kihyun berciuman kemarin,” kataku yang tidak suka jika sebuah acara makan bersama hanya dipenuhi suara adu piring dengan peralatan makan lain.

“Anak laki-lakimu sudah besar, sayang. Tidak ada yang salah dengan berciuman dengan seorang gadis cantik. Aku akan mempermasalahkannya jika Kihyun berciuman dengan seorang laki-laki,” sahut Hyejin dengan tenang.

“Aku tidak mempermasalahkannya. Tapi bagaimana bisa dia baru berciuman di usia 17 tahun?! Saat aku usia 12, aku sudah mencium teman sekelasku,” kataku yang tahu akan percuma membahas ciuman pertama dengan Hyejin. Ia tidak akan terpancing.

“Kihyun agak pemalu. Dia berbeda denganmu,” kata Hyejin.

“Buat apa jadi pemalu? Tidak ada untungnya. Tidak heran tidak banyak gadis yang mengejarnya. Waktu aku masih muda, sehari paling tidak ada 3 gadis yang menyatakan cinta padaku. Belum lagi yang bersedia bermain-main denganku,” kataku berharap respon yang tidak mungkin dikeluarkan oleh Hyejin.

Hyejin tersenyum. “Kau memang populer. Aku tahu,” ujarnya santai. “Ah, apa aku sudah menceritakan padamu kalau dulu aku sering mendapatkan bunga dari banyak pria?”

Akhirnya selalu seperti ini, Hyejin yang berhasil membuatku cemburu. “Aku tidak mau dengar lagi. Lagipula tidak ada gunanya. Biarpun ada seribu pria tampan yang memberikanmu bunga, tetap hanya aku yang bisa menanam benih di tubuhmu,” kataku yang entah kenapa menjulurkan lidahku kepada Hyejin. Seperti Jinhyuk jika sedang mengejek Jihyun.

Kekanakan.

Hyejin mengelus pipiku. “Habiskan makan siangmu. Aku mau melihat isi kotak yang masih kau rahasiakan,” katanya dengan jelas. Wanita ini memang agak maniak perhiasaan seperti wanita pada umumnya.

Aku mengunyah makananku dengan cepat. Aku bahkan bicara dengan makanan masih berada di dalam mulutku. Aku tidak ingin membuang banyak waktu. “Kalau kau melihatnya, tidak akan bisa jadi kejutan untukmu,” elakku.

Hyejin melirikkan matanya pada sofa di seberang tempat kami duduk. “Aku mau memperhitungkan harga yang tepat untuk dua kotak perhiasan yang masih kau simpan. Aku tidak ingin sofa itu tergeletak percuma di tempat ini,” kata Hyejin merayuku dengan caranya yang cerdas.

Aku buru-buru menghabiskan makan siangku dan kemudian mengambil dua kotak perhiasan di dekat sofa. “Aku sarankan beberapa jam yang panas dan penuh gairah,” kataku dan kotak-kotak beludru lain sudah berpindah ke tangan Hyejin.

Hyejin menikmati satu set perhiasan berupa anting, kalung dan gelang yang juga berpasangan dengan cincin yang sudah lebih dulu aku berikan. “Aku setuju,” katanya yang langsung melompat ke diriku sehingga aku terjatuh ke sofa karena tidak sanggup menyeimbangkan tubuhku.

“Well, we can do it for a whole day not just a couple hours,” bisiknya dengan nada menggoda dan langsung menghujaniku dengan ciuman-ciuman panasnya.

—–

Apa aku sudah bilang kebiasaan baruku semakin menjadi-jadi setiap harinya? Yang aku rasa hari ini adalah yang paling parah sejak seminggu aku terserang kebiasaan baru tersebut.

Setelah memanfaatkan sofa yang disiapkan Taesung dengan sangat baik, aku seperti anak orang utan yang selalu menggantung di tubuh induknya. Aku selalu berada di balik tubuh Hyejin, memeluknya dengan erat dimana pun berada.

“Kyu, aku mau ke toilet. Bisa lepaskan aku?” Tanya Hyejin. Dengan terpaksa, aku melepaskan Hyejin. Aku membiarkannya pergi ke toilet sedangkan aku tetap mengantri tiket untuk film yang akan kami tonton. Ketika Hyejin kembali, secara otomatis ia akan kembali berada di dalam pelukanku.

Kami masih berada dalam antrian yang sangat panjang. “Kenapa tidak meminta Taesung saja untuk membelikan tiket?” Tanyaku yang sudah mulai lelah berdiri. Selain itu, sejak kapan seorang Direktur terkaya mengantri hanya untuk dua buah tiket film sinema.

Hyejin mengingik geli. “Aku ingin merasakan pengalaman para pasangan biasa. Lagipula kalau kita meminta Taesung untuk membeli tiket, kau tidak akan bisa memelukku seperti ini. Ya kan?” Sindirnya dengan cara yang menggemaskan sehingga membuatku tidak tahan untuk tidak melumat bibirnya di depan puluhan mata manusia.

Aku tahu mereka menatap kami.

Hyejin menarik bibirnya lebih dahulu sehingga tautan di antara kami terlepas. Ia tersenyum kepadaku sambil mengelus leherku di bagian kanan. “Kau memang sengaja mau memamerkan kissmark mengerikan ini?” Tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepala.

Aku sudah bercermin untuk melihat hasil kerja Hyejin tadi siang. Menurutku, biasa saja. Hanya ada luka sedikit karena Hyejin tidak sengaja mengigitnya. Karena ulahku. Saat Hyejin sedang asik membuat kissmark tersebut, aku begitu terangsang sehingga tidak bisa menahan diri untuk segera sepenuhnya berada di dalam tubuh Hyejin. Rupanya, Hyejin belum siap. Ia terkejut dan mengigit leherku sebagai pelampiasan rasa sakitnya.

“Menurutku, kissmark ini sangat seksi,” ujarku.

“Terserah apa katamu. Setelah nonton, aku mau makan burger,” kata Hyejin setelah kami mendapatkan tiket. “Ok,” sahutku tanpa pikir panjang.

“Dengan taburan emas di atasnya?”

“Ok.” Apapun yang diinginkannya, asal membuatnya bahagia, aku akan mengabulkannya. Kebiasaan baruku untuk mengumbar kemesraan dan memanjakan Hyejin, berbahaya. “Tidak. Kita tidak bisa makan burger bertabur emas!” Ralatku kemudian yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Hyejin.

“Aku juga tidak mau makan emas. Aku hanya bercanda. Kajja,” ujar Hyejin lalu menarikku mencari burger kesukaannya.

xoxo @gyumontic