images (6)

 

“Sepertinya kau mengenal banyak kaumku.”

“Bukan hanya kaummu saja yang tau rahasia itu, nona.”

“Lalu apakah kau selalu mencium kaummu setiap kau bertemu dengan Healer?”

Sang Thinker menyalakan batang rokoknya, “Aku tak suka mencium namja, jika itu pertanyaanmu, Choi Jihyo.”

Jihyo mundur selangkah. “Kau tau namaku?”

“Aku lebih tau dirimu daripada The Reader yang sedang menunggumu. Siapa namanya? Kim Woobin?”

Jihyo teringat jika ia meninggalkan Woobin sendirian. Ia baru saja akan menengok ke belakang, namun tangan The Thinker memegang pipinya, menahannya untuk menoleh.

“Kau tidak ingin dia membaca pikiranmu dan mengetahui pembicaraan kita bukan?”

Jihyo menggeleng. “Namun kau sepertinya baik-baik saja, tidak butuh pertolongan apapun dariku.”

Namja itu tersenyum tipis, ia meletakkan salah satu tangannya ke genggaman tangan Jihyo. “Apa yang kau rasakan?”

Jihyo tidak tau apakah namja ini sedang mengetes kemampuannya atau tidak, namun ia putuskan untuk bersungguh-sungguh mencari setiap kesedihan maupun luka yang bisa disembuhkan oleh seorang Healer.

“Tidak ada. Aku tidak merasakan apa-apa,” Jihyo mempererat genggaman tangannya. “Aku tidak merasakan apapun.”

“Berarti aku tidak bisa membantumu,” ujarnya sarkas sambil menarik tangannya kembali.

“Tunggu! Tapi aku butuh bantuanmu!” Jihyo berusaha mencegah namja itu berlalu darinya. Ia tidak bisa melepaskan The Thinker, mimpi ini semakin lama semakin menyiksanya setiap malam.

“Aku katakan, jika kau mau menolongku, maka sebagai gantinya aku akan membantumu mengenai mimpi itu,” namja itu berjalan mendekati Jihyo.

“Aku tidak bilang kalau aku tidak mau! Aku hanya tidak menemukan luka apapun yang harus aku obati!”

The Thinker tersenyum, ia tidak bisa menahan keinginannnya untuk mencium Healer di depannya. “Maka aku tidak akan bisa membantumu, Jihyo,” ia meletakkan bibirnya sekali lagi ke bibir yeoja di hadapannya. “Terima kasih untuk kesenangannya.”

+++

 

“Kau tau, tidak baik orang sepertimu sering datang ke tempat seperti ini,” The Thinker melirik ke sampingnya. “Apakah kau tau kalau kau seperti medan magnet untuk orang-orang yang bermasalah?”

“Aku benar-benar butuh bantuanmu,” Jihyo menyodorkan sebotol soju ke arah namja itu. “Orang itu mungkin saja sudah menderita dan sekarat saat ini. Dia butuh bantuanku.”

The Thinker memutar tubuhnya menghadap Jihyo. Raut wajahnya mengeras. “Kau bilang apa tadi?”

“Aku tidak tau apakah saat ini dia sudah benar-benar sekarat atau tidak. Yang jelas, aku tau dia membutuhkan pertolonganku tapi aku tidak bisa berbuat apapun di dalam mimpiku.”

Sang Thinker tertawa, “Aku sarankan kau melupakan mimpimu, nona manis. Maaf, aku benar-benar tidak bisa membantumu.”

“Tapi-”

“Memiliki kemampuan menyembuhkan bukan berarti semua luka dan sakit adalah tanggung jawabmu, Choi Jihyo,” The Thinker berdiri dari tempat duduknya. “Kadang, kau harus merelakan bahwa kau tidak bisa menyembuhkan semua orang yang ada di muka bumi ini.”

“Tunggu!” Jihyo mengejar The Thinker yang berjalan ke kerumunan orang yang sibuk menari di tengah klub, namun namja itu sudah menghilang di tengah keramaian.

+++

 

“Kau tau, saat aku pertama kali melihatmu dengan Woobin, aku merasa sangat aneh. Sekarang saat kau tidak bersama si Handsome Statue itu, aku juga aneh,” ujar MinAh sambil meneguk minumannya.

“Dia tidak ke klub, Jihyo?” tanya Hyejin. “Kalian berdua bertengkar?”

Jihyo menggeleng. “Mungkin dia sedang di perpustakaan.”

“Lalu mengapa wajahmu muram seperti itu?” selidik Hyejin.

“Onniedeul, aku kurang tidur,” Jihyo menghela napas panjang. “Aku mau tidur saja.” Jihyo membaringkan kepalanya ke atas meja, namun kepalanya jadi sakit ketika sesuatu menabrak mejanya dengan keras.

MinAh dan Hyejin berteriak ketika melihat adegan langsung dua orang sedang baku hantam di depan mereka. Beberapa pengunjung klub berusaha memisahkan dua namja yang sedang berkelahi, namun sisanya sibuk menyoraki pertarungan keduanya.

Jihyo bangkit dari kursinya begitu menyadari siapa salah satu tukang rusuh yang merusak keinginannya untuk tidur. Ia menyeruak ke gerombolan itu ketika security klub berhasil memisahkan dua orang yang berkelahi itu.

“Biar aku saja yang tangani dia,” ujar Jihyo kepada beberapa pengunjung yang mengelilingi The Thinker.

“Nona, kau mengenal orang ini? Dia mabuk sekali,” ucap seorang pengunjung yang menjadi saksi mata pertarungan ribut tadi.

“Aku mengenalnya, terima kasih untuk bantuannya,” Jihyo meraih tangan The Thinker dan berusaha membopohnya ke kursi.

“Kau! Jangan coba menyentuhku!” namja itu berteriak dan menghempaskan tangan Jihyo.

Jihyo memandangnya dengan simpati. “Apa kau harus mabuk dulu hingga aku baru bisa menolongmu? Ayolah, kau harus pulang.”

Jihyo kembali menuntun namja itu, namun kali ini The Thinker tidak melawan.

“Rumahmu dimana?” tanya Jihyo, namun ia tidak menjawab.

“Kau sudah tau bukan?” bisik The Thinker.

“Apa?” tanya Jihyo.

“Seberapa parah?”

“Parah, kau terlihat begitu kelam,” Jihyo berusaha mengucapkannya setenang mungkin. “Mengapa aku tidak bisa merasakan apapun sebelumnya?”

“Karena aku membangun dinding pelindungku,” namja itu tertawa kencang. “Selamat datang ke dalam luka dan penderitaanku, Choi Jihyo.”

+++

 

Hal terakhir yang The Thinker tadi malam adalah Jihyo memasukkannnya ke dalam taksi. Kini, ia terbaring di sofa orang lain dengan yeoja itu terduduk tidur sambil mengenggam tangannya.

“Dia sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Woobin yang duduk di sofa seberangnya. “Sepanjang malam dia tidak tidur untuk menyembuhkanmu.”

“Dia membawaku ke rumahmu,” gumam The Thinker. “Seberapa dekat kau dengan Jihyo?”

Ia sebenarnya tak perlu bertanya, ia tau semuanya, dari gerak-gerik Woobin dan raut wajahnya. “Cukup dekat?”

“Tidak, kami tidak dekat,” Woobin menyilangkan kedua tangannya di dada, wajahnya menunjukkan tanda tak suka. “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

The Thinker tersenyum. “Bagus, kalau begitu jauhi dia.”

Woobin tidak menjawab.

“Kau tidak perlu susah-susah membaca pikiranku, karena kau tidak akan pernah bisa,” ujar The Thinker sambil mengelus rambut Jihyo. “Kadangkala, orang yang bisa menyembuhkan adalah orang yang bisa menyakitimu. Dan saat ini, dia mulai membuat hatimu sakit, iya kan Woobin-ssi?”

“Aku akan mengambil resiko itu,” ujar Woobin.

“Aku bilang, jauhi dia. Kita hanya akan mendapatkan Jihyo menghilang jika kau terus bersikeras ada di sampingnya,” ia tidak bisa menahan suaranya dan emosinya hingga membuat Jihyo terbangun.

“Kau sudah bangun?” Jihyo menguap dengan lemah.

“Kemari,” The Thinker menarik tubuh Jihyo naik ke sofa dan menyelimuti yeoja itu dengan selimut. “Tidurlah, maaf membuat semua energimu terkuras.”

+++

 

“Annyeong!” Jihyo menghampiri tempat duduk The Thinker. Ia segera memesan sebotol soju kepada bartender.

“Bukankah sudah aku bilang tempat ini tidak baik untuk Healer?” The Thinker mengangkat alisnya melihat yeoja di sampingnya begitu ceria hari ini. “Dan kau menggunakan banmal kepadaku.”

“Wow, baru kali ini kau protes aku berbicara banmal padamu,” Jihyo menyodorkan botol soju yang tadi ia pesan ke The Thinker. “Untukmu, aku yang traktir, hihihi.”

“Kau aneh.”

“Ya! Aku sudah susah payah membawamu ke tempat Woobin oppa dan mengobatimu sepanjang malam lalu kau bilang aku aneh?” Jihyo memelototi namja di sampingnya. “Kau harusnya berterima kasih padaku!”

“Kau panggil The Reader oppa sedangkan aku yang sudah jelas lebih tua darimu malah kau marahi seperti itu?” The Thinker memijit dahinya.

“Dia namjachinguku, terserah aku mau memanggilnya dengan sebutan apa! Aku saja tidak tau siapa namamu!”

“Choi Seunghyun. Choi Seunghyun oppa. Lagipula Woobin bukan namjachingumu. Meskipun kau terlihat begitu menyukainya,” namja itu memutar kursi Jihyo sehingga kini mereka berdua berhadapan. “Dan kau berpikir kalau namaku bagus kan?”

“Ya!” Jihyo memukul lengan Seunghyun. “Kau bukan seorang Reader tapi kenapa bisa membaca pikiran sih?”

Seunghyun tertawa, “Kami tidak membaca pikiran, nona. Kami tau niat dan gerak-gerik seseorang.”

“Terserah. Yang penting sekarang aku bisa menolongmu dan kau juga akan membantuku mengenai mimpi itu.”

“Aku tidak akan membantumu sebelum kau memanggilku oppa,” Seunghyun melipat kedua tangannya di depan dada. “Ucapkan Seunghyun oppa.”

“Shiro! Kenapa juga aku harus memanggilmu oppa?” protes Jihyo.

“Kau ini tidak sopan kepada orang lebih tua,” Seungyun menyentil dahi Jihyo. “Lagipula, aku namja tipemu kan?”

“Memang, itu dulu. Sebelum kau tiba-tiba datang menciumku seenaknya dan sekarang bertingkah menyebalkan tidak mau membantuku, huh.”

“Salahmu karena kau terlahir sebagai kaum Healer.”

“Salahmu karena tau rahasia kami!” Jihyo kini sudah berdiri dari tempat duduknya. “Salahmu, Seunghyun oppa.”

Seunghyun tersenyum puas dan ikut bangkit dari tempat duduknya. “Salahmu karena kau seperti medan magnet, Hyonnie.”

+++

 

Jika Seunghyun dulu bisa memilih, ia tidak akan pernah berurusan dengan kaum Healer. Namun, ia tak bisa, dan kini ia malah terperangkap untuk menjaga salah satu Healer muda di depannya.

“Gwenchana?”

“Gwenchana, oppa,” Jihyo menyenderkan tubuhnya di sofa. Matanya memejam, namun ia tetap tidak bisa tidur.

“Kau masih bermimpi buruk?”

“Jika tidak mungkin sekarang kau akan terbebas dariku, oppa,” keluh Jihyo. “Aku hanya butuh kau untuk mengartikan apa mimpi itu. Kumohon.”

Seunghyun terdiam sesaat. Ia sudah berjanji tidak akan pernah mengatakan arti mimpi itu kepada siapapun Healer yang mengalaminya. Ia tidak akan membuat pengeculian terhadap Healer di hadapannya saat ini.

“Mengapa kau tidak jadi dokter saja, Jihyo?”

“Eh?” Jihyo membuka matanya. “Apa?”

“Kebanyakan kaum Healer yang aku kenal memilih untuk menjadi dokter. Mengapa kau tidak memilih kuliah di kedokteran saja?”

“Karena aku tidak suka kemampuanku,” jawab Jihyo. “Aku sudah berusaha menahannya namun aku selalu berakhir menolong orang lain, menyembuhkan orang lain. Aku tidak mau menjadikan ini sebagai pekerjaanku.”

Seunghyun tersenyum. “Kalau begitu kau sebenarnya tau bahwa tidak semua orang yang terluka harus kau tolong kan?”

“Kau juga tau bahwa kemampuan ini sudah menjadi bagian dari instingmu, bukan?” tanya Jihyo. “Seperti kalian, para Thinker.”

“Tidak ada yang bisa kami lakukan, Jihyo,” Seunghyun menyodorkan segelas coklat hangat. “Kami hanya bisa membaca tanda, mengartikan maksud tersembunyi dan terselubung, menerka apa yang akan terjadi.”

“Apa kita sedang masuk ke pelajaran filsafat? Karena kau sudah mulai terdengar seperti dosen kelas filsafat, Eric seonsangnim, oppa,” cengir Jihyo.

“Kau akan terus mengikutiku kan hingga aku mengartikan mimpimu?”

Jihyo mengangguk. “Aku akan terus mengikutimu, sampai kau lelah, sampai kau sebal, sampai kau mau muntah melihatku, hahaha.”

Jihyo benar, sekuat apapun menahan semua kemampuan ini, cepat atau lambat kemampuan Seunghyun sebagai Thinker tetap akan memaksanya mengartikan arti mimpi Jihyo.

“Dulu ada seorang Healer yang bermimpi sama denganmu,” Seunghyun menghela napas sejenak. “Dan semenjak saat itu, aku berjanji tidak akan pernah mengatakan arti mimpi itu kepada siapapun juga.”

“Berarti mimpi itu sesuatu yang buruk ya?” Jihyo tersenyum, tangannya meraih tangan Seunghyun saat ia melihat aura namja itu berubah jadi kelam. “Tapi lagipula mimpi itu memang sudah buruk sih.”

“Buruk untuk semuanya, orang di mimpi itu dan juga untuk The Healer,” jawab Seunghyun. “Maka jangan tanya aku lagi apa arti mimpi itu.”

“Apa dia yang menyebabkanmu seperti ini? Maksudku lukamu bukan luka kebanyakan,” Jihyo melihat aura Seunghyun semakin kelam meskipun ia sudah mencoba menyembuhkannya.

Belum sempat Sang Thinker menjawabnya namun Jihyo sudah melepaskan tangannya dari tangan Seunghyun ketika smartphone di saku celananya bergetar.

Seunghyun melihatnya, melihat ekspresi yang sama dengan Healer yang pernah ia baca mimpinya. Jihyo menatap Seunghyun dengan tatapan takut, wajahnya menegang. Seunghyun tau apa yang terjadi. Kini hanya ada dua pilihannya, mencegah Jihyo pergi atau merelakan Jihyo pergi sama seperti yeoja Healer itu.

“Woobin,” ucap Jihyo.

Dan Seunghyun tau, Jihyo tidak akan pernah bisa dicegah saat ini.