“Giliranmu!” seru Eric menyerahkan botol kosong ke arah Woobin.

Woobin menghela napas panjang dan meletakkan botol itu di tengah lingkaran orang-orang di ruang tamu Eric, kemudian memutarnya.

“Jihyo!” teriak Kyuhyun tanpa bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Ke kamar.. Sekarang!”

Mulut botol itu berhenti dan mengarah ke seorang yeoja yang sejak tadi duduk dengan malas dan tak bersuara sama sekali. Woobin memandang kikuk ke arah Jihyo, ia baru hari ini bertemu dengannya, namun ia sudah tau bagaimana reputasi yeoja itu dari hyungdeulnya.

“Ayo, ayo,” MinAh mendorong Jihyo untuk berdiri.

Yeoja itu berdiri dan menunggu Woobin untuk segera bangkit. “Cepatlah, kalau tidak mereka akan terus merajuk seperti anak kecil.”

Woobin berdiri dan memandang kesal ke arah dua sahabatnya yang sejak tadi menahan tawa. Ia berjalan menuju salah satu kamar yang ditunjuk oleh Eric diikuti Jihyo di belakangnya. Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamar, Woobin mendengar pintu terbanting tertutup dan ada suara klik pintu dikunci dari luar.

“Sepertinya mereka memang niat untuk mengerjaimu,” ujar Jihyo mengambil posisi duduk di lantai dan bersender di salah satu dinding kamar.

Woobin tau sejak awal memang ada niat busuk yang direncanakan Kyuhyuun dan Eric. Setiap bulannya, mereka berdua bersama kekasihnya, MinAh dan Hyejin, akan menjadi mak comblang dadakan. Bulan kemarin si magnae, Henry yang kena paksa oleh mereka, bulan sebelumnya Donghae hyung. Dan kini, tak ada lagi orang yang bisa mereka paksa selain dirinya.

“Sudah satu menit,” ujar Jihyo sambil memandangi smartphonenya.

Woobin bergabung dengan yeoja itu duduk di lantai, tepat di samping Jihyo. Namun Woobin sebisa mungkin menjaga jarak duduknya.

“Mengapa kau tidak melawan?”

“Huh?” Woobin memandang bingung ke Jihyo. Ia baru sadar jika dari jarak sedekat ini, dibalik wajah Jihyo yang sejak tadi memasang tampang malas dan tak bersahabat, ternyata bisa semanis ini,

“Kau tau kan tadi Kyuhyun oppa sengaja menendang botol supaya mengarah ke arahku,” Jihyo memandang Woobin dengan intens, membuat namja itu salah tingkah.

“Mau bagaimana lagi, pasti dengan cara apapun mereka akan membuatku dan kau masuk ke kamar ini,” ujar Woobin.

Woobin akhirnya melihat yeoja itu tersenyum. Ia jadi bingung mengapa Jihyo seringkali disebut oleh Kyuhyun dan Eric hyung sebagai miss evil.

“Hey, berhenti menatapku seperti itu,” Jihyo membuyarkan lamunan Woobin dan membuat namja itu salah tingkah. “Kau bisa jatuh cinta padaku jika kau terlalu lama menatapku,” goda Jihyo.

“Aku teringat cerita Eric hyung,” ujar Woobin mengalihkan pembicaraan.

“Apa?”

“Insiden kecoa.”

“Hahahaha, ya ampun, dia menceritakanmu hal itu?” seru Jihyo. “Ish, dia masih saja dendam padakuu. Aku tidak sengaja.”

Woobin akhirnya melihat Jihyo tertawa, mungkin apa yang dikatakan oleh Eric dan Kyuhyun hanya untuk menakutinya.

“Salah mereka sendiri pakai takut kecoa terbang. Akhirnya aku pukul kecoanya dengan sandal. Eh, ternyata kecoanya masuk ke dalam sup Eric oppa,” Jihyo tak bisa menahan tawanya membayangkan hal itu. “Kau tau, Eric dan Kyuhyun oppa berteriak seperti anak kecil. Mereka itu namja atau bukan sih, cckcck.”

“Mereka memanggilmu miss evil,” ujar Woobin.

“Itu karena aku sering mengerjai mereka. Lagipula salah sendiri, mau pacaran dengan onniedeul malah mengajak aku untuk jadi penonton.”

Woobin meluruskan kakinya, ia mulai merasa ternyata permainan ini tidak semenyeramkan yang ia bayangkan.

“Bagaimana kau bisa kenal dengan Eric dan Kyuhyun oppa?” tanya Jihyo penasaran.

“Aku, Eric hyung, dan Henry sejak kecil bertetangga, lalu Kyuhyun dan Donghae hyung satu universitas dengan Eric hyung. Kami berlima suka berkumpul bersama,” jelas Woobin.

“Eric oppa seperti ketua suku ya?”

“Lebih mirip seperti appa untuk kami.”

“Hahaha, jelas saja, dia sudah tua begitu,” cengir Jihyo.

Woobin tak bisa menahan tawanya begitu mendengar kata tua untuk Eric hyungnya. Diantara kelima namja itu, biasanya hanya Woobin yang berani mengatakan Eric tua, dan selalu dihadiahi jitakan oleh kekasih MinAh itu.

“Kalau kau dengan para yeojadeul?”

“Hyejin onnie dan Hamun, itu loh kekasihnya Donghae oppa, mereka sepupu. Sedangkan Hyejin onnie dengan MinAh onnie dan HyunAh onnie yang dikejar-kejar oleh Henry oppa itu teman di universitas. Aku adik kelas Hyejin onnie saat sekolah.”

“Sudah berapa menit?” tanya Woobin.

“Mmmh, 6 menit,” Jihyo memandangi layar smartphonenya dan terdiam. “Hey, kau mau mengerjai mereka semua?”

“Mereka selalu memakai permainan ini ke semua orang. Waktu itu Donghae oppa dan Hamun, begitu pintu dibuka, mereka malah duduk berjauhan ketakutan. Lalu Henry oppa dan Hyun onnie, mereka malah asyik mengobrol soal menu masakan. Kita harus membuat Eric oppa, Kyuhyun oppa, Hyejin onnie, dan MinAh onnie kaget,” lanjut Jihyo.

Jihyo bangkit dari posisi duduknya dan dengan santai duduk di kaki Woobin, kini mereka berdua berhadapan.

Woobin memandang Jihyo dengan tatapan bingung. Ia kembali teringat dengan ucapan Eric. ‘Hati-hati dengan miss evil itu, jangan sampai kau kena kejahilannya.’

“40 detik,” gumam Jihyo.

“Jihyo, kau sedang apa?” Woobin tiba-tiba tersadar posisi mereka berdua saat ini. Mungkin saja dengan jarak sedekat ini, Jihyo bisa mendengar jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang.

Yeoja itu meletakkan tangan kanannya di pipi Woobin dan tangan kirinya melingkari leher namja itu. Jihyo menyeringai melihat wajah Woobin yang terlihat tak siap.

“20 detik,” bisik Jihyo sebelum mendekatkan wajahnya ke Woobin. Woobin memundurkan kepalanya hingga dengan kencang terdengar bunyi duk, kepalanya beradu dengan dinding. Ia dalam posisi terjebak, dan bibir yeoja itu sudah menempel dengan bibirnya.

Woobin pikir ini hanya main-main, tentu saja harusnya main-main. Namun ia tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri, tangannya kini sudah berada diantara kedua pipi Jihyo dan tanpa ia sadari, ia sudah membuka mulutnya dan menyambut ciuman dari yeoja itu.

“Oppaaa!” teriak Hyejin membuka pintu dan menemukan dongsaengnya sedang dalam posisi berciuman dengan namja yang baru dikenalnya.

“Wow!” Kyuhyun berlari menghampiri Hyejin dan bertepuk tangan melihat adegan di depan matanya.

“Apa apa, ada apa?” Eric dan MinAh menyusul dan ikut heboh melihat Woobin dan Jihyo.

“Kim Woobin, daebak!” seru Eric yang langsung dihadiahi jitakan oleh MinAh.

Woobin tersadar apa yang terjadi, namun ia tak bisa menggerakkan tubuhnya.

Jihyo melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Woobin, “Terima kasih atas partisipasinya mengerjai mereka,” kemudian dengan lembut mengecup pipi sambil membelai rambut Woobin.

“Oke, 7 minutes in heaven selesai!” teriak Jihyo dan bangkit berdiri. “Selanjutnya kita akan main apa lagi?”