image

Apartment 23

Tower 1 – Floor 2 – Room 203

“Belum berganti pria, Hyejin-ah?” Tanya MinAh mengejutkan Hyejin yang begitu membuka pintu apartemennya melihat wajah suram MinAh. Gadis itu melihat pria yang berdiri di belakang Hyejin yang melambaikan tangan kepadanya. “Hai Jongwoon-ssi,” sapa MinAh datar.

“Hai, MinAh-ssi,” sahut Jongwoon sambil tersenyum.

MinAh mendorong Hyejin dan Jongwoon masuk kembali ke dalam apartemen dan menyusul keduanya. “Kau sudah merasa lebih baik, Hye-ya?” Tanya MinAh sambil memegang perban-perban di kepala, kaki dan tangan Hyejin.

Hyejin sedikit meringis saat MinAh menyentuh bekas lukanya yang sudah mulai membaik. Jahitan-jahitan yang diberikan dokter Cho bulan lalu sudah mengering. Masih terasa sakit tapi tidak seberapa jika dibandingkan dengan saat ia baru dioperasi.

“Aku akan ke rumah sakit hari ini untuk terapi sekaligus ganti perban. Apa kau berencana mengajakku pergi hari ini, Min?”

MinAh menatap Jongwoon yang sedang duduk di sebelah Hyejin sambil menyuapi Hyejin. Tangan Hyejin masih belum bisa digerakkan dengan sempurna. “Kau pergi dengan Jongwoon?” Tanya MinAh sebelum menjawab pertanyaan Hyejin.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Hyun Bin Oppa mengajakku pergi ke acara peluncuran produk baru perusahaannya nanti malam,”

“Hyun Bin Oppa nugu?” Tanya Hyejin bingung. Baru kali ini ia mendengar nama Hyun Bin. Dari daftar pria tampan koleksi MinAh, Hyejin tidak pernah mendengar nama Hyun Bin.

“Hyun Bin,” MinAh menegaskan nama pria idamannya. “Pria tampan nan seksi yang sering kita lihat di kolam renang,” jawab MinAh sejelas-jelasnya namun Hyejin masih tampak bingung. “Oh astaga, Song Hyejin. Pria yang mentarktir kita minum bir minggu lalu di bar.

“Oh yang itu.” Hyejin akhirnya berhasil mengingat pria yang dimaksud oleh MinAh. “Yang wajahnya bersegi-segi itu kan?” MinAh menganggukkan kepala dengan tatapan berbinar-binar. Terlihat sekali MinAh sangat terpesona dengan pria bernama Hyun Bin tersebut. Pada saat pertama kali melihat pria bernama Hyun Bin itu pun, Hyejin sempat terpesona.

Hyejin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Sambil memakan buburnya, yang disuapkan oleh Jongwoon, Hyejin mendengarkan MinAh. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Hyun Bin mengajakmu. Ia tidak mengajakku,” kata Hyejin.

MinAh mendecakkan lidah. Ia meneguk segelas air putih yang disediakan oleh Jongwoon untuknya. “Aku tidak mengajakmu ke acara tersebut. Buat apa? Aku mau mengajakmu ke mall. Aku butuh baju baru untuk acara tersebut. Mengingat hanya kau yang punya banyak waktu luang, jadi aku ingin kau membantuku dalam memilih baju. Itu saja.”

Hyejin tanpa sadar tertawa. Sejak kecelakaan yang ia alami, Hyejin memiliki banyak waktu luang. Ia mendapat cuti tiga bulan untuk memulihkan kesehatannya. Setiap hari, selama tiga jam ia lakukan untuk terapi sedangkan sisanya akan dihabiskan dengan tidur atau menonton televisi. Tentu saja, ia punya banyak waktu.

“Jam berapa? Setelah aku bertemu dengan dokter Cho?”

“Okay. Aku akan menjemputmu ke rumah sakit,” kata MinAh lalu berpaling kepada Jongwoon. “Jadi Jongwoon-ssi, kau tidak perlu repot-repot mengantarkan wanita ini pulang.” Tunjuk MinAh kepada Hyejin.

Jongwoon tertawa kecil. “Aku mengerti. Aku akan langsung pulang setelah Hyejin selesai terapi,” kata Jongwoon yang sudah menyelesaikan bantuannya menyuapi Hyejin. Setelah itu, ia berpindah untuk membereskan semua peralatan makan yang telah dipakai Hyejin.

“Baru kali ini kau bertahan dengan pria lebih dari sebulan. Ada apa denganmu?” Bisik MinAh kepada Hyejin sambil melirik Jongwoon. Hyejin hanya tersenyum.

“Dia hanya kasihan kepadaku. He can’t see a woman suffer,” sahut Hyejin cuek.

MinAh mendecak kesal. “Haisssh! Percuma bicara denganmu. Lebih baik aku pulang. Jangan lupa aku akan menjemputmu nanti siang setelah kau selesai berurusan dengan dokter Cho. Arraseo?”

“Arraseo.”

MinAh bangkit berdiri dari kursinya disusul oleh Hyejin. “Jongwoon-ssi, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa,” pamit MinAh sebelum membuka pintu apartemen Hyejin. Jongwoon melambaikan tangannya dari dapur sebagai salam perpisahan untuk MinAh.

MinAh membuka pintu apartemen Hyejin dan nyaris terjatuh ke belakang saat melihat dokter Cho berdiri tegak di depan apartemen Hyejin sambil tersenyum. “Annyeonghaseyo, apa kabar, Hyejin-ssi? MinAh-ssi?” Sapa dokter Cho dengan ramah.

“Ke…kenapa dokter bisa berada di sini?” Tanya MinAh terkejut. Bagaimana tidak? Untuk menemui dokter Cho, setiap pasien wajib membuat janji seminggu sebelumnya. Tapi hari ini, tanpa diduga, Dokter Cho muncul di hadapan mereka.

“Ah, aku baru pindah ke apartemen ini. Aku datang untuk berkenalan dengan tetangga-tetanggaku. Aku tinggal di lantai 3. Kamar 302,” jawab dokter Cho tenang.

Jongwoon berjalan mendekat. Ia melihat dokter Cho melambai kepadanya. “Apa kau tinggal di sini juga, Jongwoon-ssi?” Tanyanya.

Hyejin menengok Jongwoon kemudian kembali menatap dokter Cho. “Tidak. Aku tinggal sendirian. Jongwoon Oppa hanya membantu-ku bergerak. Dokter tahu sendiri,” jawab Hyejin sambil menunjuk tangan dan kakinya yang masih diperban.

Dokter Cho tersenyum. “Sebentar lagi juga akan sembuh asal kau rajin terapi,” ujarnya.

MinAh berdeham. Meskipun dokter Cho menyapa Jongwoon dengan ramah namun MinAh bisa menangkap nada mengancam dalam suaranya. Tatapan Jongwoon pun terlihat sangat tidak bersahabat. “Hyejin-ah, aku pulang dulu. Telepon aku kalau urusanmu sudah selesai ya,” kata MinAh berpamitan pada Hyejin lalu dokter Cho. “Sampai jumpa lain kali, dokter.”

—–

Lobby

MinAh berjalan pelan-pelan menuju apartemennya. Di tengah perjalanan, MinAh mendapat panggilan dari Hyun Bin. Sambil tersipu malu, MinAh menerima panggilan tersebut.

“Yoboseyo,” sahut MinAh dengan nada suara semanis mungkin yang ia bisa.

“Jigeum odiya?” Tanya Hyun Bin tanpa basa-basi.

“Masih di apartemen. Waeyo, Oppa?” MinAh masih memasang gaya manisnya.

“Kau jadi datang nanti malam kan, MinAh-ya?”

“Eooh,” jawab MinAh dengan sengaja mengalun-alunkan nada suaranya.

“Okay. Kalau begitu aku akan menjemputmu jam 6 sore. Otte?”

MinAh nyaris berteriak kegirangan saat mendapatkan tawaran Hyun Bin akan menjemputnya namun ia tahan untuk menjaga image-nya sebagai wanita yang manis. Sayang, usaha tersebut gagal total karena peristiwa mencengangkan di depan mata MinAh.

“YAAAAA!” Teriakan MinAh lolos begitu saja dari mulutnya.

Hyun Bin, yang sedang berada di kantornya, menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan MinAh. “Waeyo, Min? Apa ada yang salah jika aku menjemputmu nanti sore?” Tanya Hyun Bin mulai salah tingkah.

MinAh membetulkan nada bicaranya. “Ani. Ani. Hanya ada anjing yang menginjak kakiku. Aku baik-baik saja. Aku akan siap sebelum jam 6 sore. Sampai jumpa, Oppa.”

“Okay, sampai jumpa.”

MinAh menutup ponselnya lalu mengejar pasangan mengejutkan yang baru saja masuk ke dalam lift. Tidak beruntung, MinAh terlambat. Pintu lift tertutup sebelum MinAh masuk ke dalamnya. Ia tidak sempat ikut masuk ke dalam lift tersebut. “Haisssh Jung HyunAh. Bagaimana bisa ia memperbolehkan Ji Sub bebas mencium-ciumnya di tempat umum seperti ini? Astaga!!” Gerutu MinAh setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ji Sub mencium HyunAh tanpa henti di pipi dan bibir HyunAh.

—–

Halla Boutique

MinAh memilih banyak baju untuk dia coba di kamar pas sedangkan Hyejin menunggu di depan kamar pas yang digunakan MinAh sambil membalas pesan-pesan dari Jongwoon. “Hyejin-ah, bagaimana menurutmu?”

Hyejin mengalihkan pandangannya kepada MinAh yang sudah terbalut gaun merah marun yang sangat pas di tubuh gadis itu dengan ekor yang menjuntai panjang ke belakang. “Mengerikan,” komentar Hyejin.

MinAh masuk kembali ke dalam kamar pas dan mencoba gaun lain yang ia ambil, gaun berwarna hitam panjang  dengan model kemben yang bertahtakan batu swarovski di bagian dada. “Kalau ini?” Tanya MinAh meminta pendapat.

“Perfect,” jawab Hyejin dengan jujur. Gaun itu memang terlihat sangat cantik di tubuh MinAh. MinAh pun terlihat sangat anggun dengan gaun tersebut.

MinAh masuk kembali ke dalam kamar pas untuk mengganti gaun hitam tersebut dengan pakaian biasanya. Ia lalu keluar dan menyerahkan gaun hitamnya kepada Hyejin.

“Kau tidak cari sepatu?” Tanya Hyejin yang sudah tahu kebiasaan temannya yang selalu belanja satu set gaun dan sepatunya.

MinAh tanpa ragu menjawab, “Tentu saja. Kau tunggu saja di sini. Jangan kemana-mana,” kata MinAh mulai mencari sepatu dibantu salah satu pelayan yang sudah sangat mengenal selera MinAh.

“Apa kau melakukan ini semua untuk Hyun Bin-ssi?” Tanya Hyejin dengan suara agak keras agar terdengar oleh MinAh yang berdiri agak jauh darinya.

“Tentu saja. Menurutmu untuk apa? Aku hanya ingin menarik perhatian Hyun Bin Oppa. Aku tidak akan membiarkan ia berpaling kepada wanita lain. Dimana lagi aku bisa mendapatkan pria jackpot sepertinya?” Sahut MinAh sambil memilih-milih sepatu.

Pria jackpot adalah sebutan dari MinAh untuk pria-pria tampan yang pintar dan super kaya. Hyun Bin atau hyun bin termasuk dalam kriteria tersebut.

“Tapi menurutku, ia sudah terperangkap dalam pesonamu,” kata Hyejin.

MinAh datang menghampiri Hyejin dengan beberapa pasang sepatu hak tinggi. MinAh mencobanya satu persatu sampai ia mendapat persetujuan dari Hyejin. Sepasang sepatu berwarna emas yang sangat pas dipadukan dengan gaun hitam yang akan dibelinya.

MinAh tersenyum penuh arti kepada Hyejin melalui cermin yang sedang memantulkan dirinya yang sangat sempurna dengan sepatu barunya. “Kita lihat malam ini,” kata MinAh.

—–

Tower 2 – Floor 3 – Room 303

MinAh membuka pintu apartemennya dan tersenyum menyambut Hyun Bin yang memakai setelan jas berwarna senada dengan gaun MinAh. “Kau cantik sekali,” puji Hyun Bin yang sudah terpesona dengan kecantikan MinAh.

MinAh menundukkan kepalanya malu-malu, begitu juga dengan kuluman senyumnya yang membuat Hyun Bin tersipu. “Kau sudah siap?” Tanya Hyun Bin. MinAh menganggukkan kepalanya.

“Tapi aku harus mengambil tasku dulu. Sebentar ya, Oppa.”

MinAh kembali menemui Hyun Bin setelah mengambil tasnya. “Kajja,” ajak Hyun Bin meletakkan tangannya di pinggang sehingga MinAh dapat menggandengnya.

MinAh pun menggandeng lengan Hyun Bin, mengikuti langkah pria itu membawanya pergi. Dengan sopan, Hyun Bin mempersilahkan MinAh masuk ke dalam mobilnya. Selayaknya seorang putri, Hyun Bin memperlakukan MinAh.

“MinAh-ya,” panggil Hyun Bin membuat jantung MinAh berdegup kencang. Baru kali ini Hyun Bin memanggil namanya dengan akrab.

“Ne, Oppa?” Sahut MinAh berusaha menguasai diri. Ia tidak mau cepat terbuai oleh perasaannya.

“Sebenarnya acara perusahaanku hari ini dibatalkan,” kata Hyun Bin. Perasaan kecewa menghampiri MinAh. Segala usahanya untuk tampil cantik malam ini terasa sangat sia-sia. Namun wanita itu tidak mau menunjukkannya.

“Waeyo, Oppa?” Tanya MinAh.

“Persiapannya belum selesai. Mungkin baru minggu depan diadakan.”

MinAh menganggukkan kepalanya pelan. “Lalu kita mau kemana? Dengan pakaian seperti ini?” Tanya MinAh melihat gaun dan setelan jas resmi yang mereka kenakan.

Hyun Bin tersenyum. “Aku mau mengajakmu makan malam. Kau mau?”

MinAh tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menunjukkan kesukarelaannya untuk makan malam dengan Hyun Bin.

—–

Restaurant

Hyun Bin membawa MinAh ke sebuah restoran mewah dan romantis dimana ternyata Hyun Bin sudah lebih dulu memesan tempat untuk makan malam mereka berdua. “Kau sudah merencanakan ini, Oppa?” Tanya MinAh.

Hyun Bin tersenyum kepada MinAh. “Aku tahu acara ini dibatalkan sejak tadi pagi tapi aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengajakmu keluar. Maaf sudah membohongimu,” kata Hyun Bin melelehkan hati MinAh.

MinAh tertawa kecil. Sebuah kebohongan kecil untuk sebuah kencan romantis malam ini sungguh bisa ditoleransi. “Aku memaafkan Oppa kali ini,” ujar MinAh dengan nada bercanda.

“Gomawo. Kau mau makan apa malam ini? All you can eat. Aku tidak peduli kalau kita naik beberapa kilogram besok,” kata Hyun Bin sambil tertawa. Tangannya terjulur mengajak MinAh berdiri dari tempatnya. “Kajja.”

MinAh meraih tangan Hyun Bin yang terus menggandengnya mencari makanan. “Mau sushi?” Tanya Hyun Bin. Begitu MinAh mengangguk, Hyun Bin akan mengambilkan makanan tersebut. Begitu sampai tangan keduanya penuh piring berisi berbagai jenis makanan.

“Aku rasa kita kebanyakan mengambil makanan,” kata MinAh sambil tertawa melihat makanan yang ada di atas mejanya. “Gaun ini bisa langsung tidak muat besok.”

“Aku tidak peduli. Kau pasti tetap cantik. Lagipula, kalau kau makin gendut, aku jadi memiliki alasan untuk mengajakmu ke gym. Olahraga bersama,” kata Hyun Bin dengan senyumnya yang mematikan.

“Oppa…” MinAh tersenyum malu mendengarnya. Dengan wajah tertunduk untuk menyembunyikan wajah malunya, MinAh memakan sushi-nya. Sedangkan Hyun Bin hanya tertawa-tawa geli melihatnya.

MinAh dan Hyun Bin terlibat pembicaraan seru sampai mereka tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekati MinAh. “Kau bilang ada acara di Gangnam. Kenapa ada di tempat ini?” Tanya pria itu dengan galak. Ia hanya menengok sekilas kepada Hyun Bin dan bertingkah seolah pria itu tidak melihat Hyun Bin.

“Jung Hyuk Oppa… Tadinya memang begitu tapi acaranya dibatalkan dan disinilah aku,” jawab MinAh. “Oh ya, kenalkan ini Hyun Bin Oppa.”

Lagi-lagi Jung Hyuk hanya menatap sekilas kepada Hyun Bin. Ia bahkan menunjukkan ketidaksukaannya kepada Hyun Bin. “Kau harus pulang sekarang,” kata Jung Hyuk dengan galak. Ia juga menarik tangan MinAh untuk segera beranjak pergi dari restoran.

Hyun Bin ikut-ikutan berdiri. Dengan lembut, ia meraih tangan MinAh dari genggaman Jung Hyuk. “Dia bersamaku jadi aku yang akan mengantarkannya pulang. Selain itu, kalau kau belum tahu, aku dan MinAh adalah pasangan kekasih. Jadi aku rasa, aku lebih bertanggung jawab atas dirinya,” kata Hyun Bin tepat sasaran membuat Jung Hyuk terdiam.

Jung Hyuk melepaskan tangan MinAh lalu pergi begitu saja meninggalkan Hyun Bin dan MinAh. “Siapa dia? Kenapa ia tampak kesal melihat kau bersamaku?” Tanya Hyun Bin.

MinAh tampak seperti berpikir untuk memberikan jawaban terbaik. Ia dan Jung Hyuk memang sangat dekat tapi MinAh menganggapnya tidak lebih dari sekedar kakak laki-laki. MinAh mencintainya hanya sebagai saudara.

“Dia seperti kakak laki-laki untukku. Mungkin dia cemburu melihat adik perempuannya bersama pria lain?”

Hyun Bin mendengus. Ia melepaskan tangan MinAh dan menyuruh gadis itu kembali duduk. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Hyun Bin serius. Ia menatap langsung mata MinAh.

“Apa yang ingin Oppa katakan?” Tanya MinAh.

Hyun Bin melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapannya masih tidak beranjak dari kedua mata MinAh. “Dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya.” MinAh terpaku di kursinya. Dia membuka telinganya lebar-lebar.

“Mwareba,” kata MinAh.

“Aku mencintaimu,” ucap Hyun Bin dengan singkat, padat dan jelas.

MinAh ingin sekali berteriak kesenangan atau paling tidak langsung menelepon Hyejin untuk mengabarkan berita gembira tersebut. Namun yang terjadi MinAh hanya terdiam saking terkejutnya.

“Oppa, jangan bercanda padaku.”

“Aku tidak bercanda. Aku serius,” kata Hyun Bin dengan nada yang lebih meyakinkan. Hyun Bin lalu mencondongkan tubuhnya sehingga kini wajahnya bisa berada lebih dekat dengan wajah MinAh. “Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Begitu juga kali ini. Aku jatuh cinta padamu.”

MinAh masih terdiam di tempatnya. Ia hanya mampu menatap Hyun Bin tanpa berkata-kata sedikit pun. “Aku tidak bisa mengulangnya jadi aku akan membuktikannya,” ujar Hyun Bin lalu mencium bibir MinAh dengan lembut. Tidak terburu nafsu. Hanya ingin membuktikan perasaannya kepada MinAh.

MinAh tersenyum kegirangan. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan MinAh saat ini. Terlebih ketika Hyun Bin berhasil membuat ciuman pertama mereka di tempat yang romantis. Serasa ada ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan di perutnya.

MinAh menatap manik mata Hyun Bin yang tepat berada di depan matanya. Tidak ditemukan sedikitpun kebohongan di dalamnya. Pria itu sedang menatapnya lembut dan penuh ketulusan. MinAh mengelus pipi Hyun Bin. “I’m yours,” katanya lalu mencium Hyun Bin.

Keduanya hanya saling melempar tawa geli ketika seorang pelayan datang memberitahukan ada seseorang yang menitipkan pesan agar mereka segera menghentikan ciuman mereka.

MinAh melirik ke arah meja tempat Jung Hyuk duduk. Dengan sengaja, ia melemparkan senyum mengejek kepada Jung Hyuk dan kembali mencium Hyun Bin. “Once you run, I will follow behind. So does him. Be careful,” kata MinAh sambil tertawa.

—–

Kkeut!!!

xoxo @gyumontic