image

Jongwoon memberikan secangkir coklat panas untuk Hyejin lalu merangkul bahu gadis itu dengan hati-hati. “Gwenchanayo?” Tanya Jongwoon pelan.

Hyejin hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau kau mau, kau bisa bercerita padaku kalau masih ada yang mengganjal di hatimu. Siapa tahu bisa membuatmu lebih tenang,” ujar Jongwoon dengan tulus.

Hyejin tersenyum, meskipun terlihat lemah. “Jeongmal gomawo, Jongwoon Oppa. Kau sudah banyak membantuku,” ujar Hyejin sambil meletakkan kepalanya di atas bahu Jongwoon.

Jongwoon balas tersenyum. Dengan lembut, pria itu mengelus rambut Hyejin. “Aku selalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanmu. Kau tahu itu kan?”

Hyejin sekali lagi menganggukkan kepalanya. “And I wish you don’t break your promise like Kyuhyun did. You’re the only one I have right now.”

“I won’t. I promise you.”

Hyejin melupakan coklat panasnya. Ia lebih memilih untuk memeluk Jongwoon dan menumpahkan air mata kepedihannya di atas dada Jongwoon. “Don’t ask,” kata Hyejin dengan suara paraunya.

Jongwoon memeluk Hyejin lebih erat. Ditempelkannya pipinya di atas kepala Hyejin dengan tangannya mengelus punggung Hyejin. “You’ll feel better,” sahut Jongwoon sambil terus memeluk Hyejin.

——

Hyejin mungkin akan datang terlambat ke kantor kalau saja Jongwoon tidak tiba-tiba datang ke apartemennya pagi ini. “Ada apa?” Tanya Hyejin saat membuka pintu apartemennya sambil mengucek matanya.

Jongwoon tersenyum. “Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Boleh aku masuk?”

Hyejin tertawa. Tawa pertama sejak Kyuhyun memutuskan hubungan mereka yang sudah berjalan delapan tahun, begitu saja. “Of course you can. But, please, do selfservice,” jawab Hyejin mengundang tawa Jongwoon.

Jongwoon berjalan masuk ke dalam apartemen Hyejin sambil melihat ke sekeliling ruangan. “New decoration, eoh?” Tanyanya melihat banyak perubahan di dalam apartemen Hyejin. No more pictures of her ex-boyfriend. Not one.

“I should move on, shouldn’t I?”

Jongwoon mengacungkan jempolnya kepada Hyejin. “I’m proud of you,” ucap Jongwoon yang membuat Hyejin tertawa.

“Tidak usah berlebihan terhadapku,” kata Hyejin sambil berjalan masuk ke kamarnya. “Aku mau mandi dulu. Oppa tunggu dulu di sini. Kalau lapar, ada makanan di atas meja makan atau di kulkas. Aku tidak melarang kalau Oppa mau menggunakan dapurku.”

“Maksudmu, aku memasak? I hate cooking. You know it,” kata Jongwoon.

Hyejin hanya menyeringai jahil kepada Jongwoon. “Bagaimana bisa seorang owner restoran tapi tidak suka memasak,” ejek Hyejin dengan nada bercanda.

“Cepat mandi sana. Aku akan mengantarkanmu ke kantor,” balas Jongwoon yang sudah masuk ke area dapur dan membongkar-bongkar isi kulkas Hyejin.

“Oh ya Oppa, aku juga belum sarapan!” Seru Hyejin dari kamarnya kepada Jongwoon yang sudah mulai berkutat dengan berbagai jenis bahan makanan dan peralatan masak milik Hyejin. He hates cooking but his foods are the best. Begitu yang dirasakan Hyejin.

—–

Hyejin duduk di hadapan Jongwoon sambil menyantap tteokbokki kesukaannya. “Thank you.”

“For?” Tanya Jongwoon yang juga sedang menyantap makanan yang sama dengan Hyejin.

“This,” tunjuk Hyejin pada tteokbokki-nya. “Oppa membuatnya dengan sempurna. Tidak pedas sama sekali. Manis. Sesuai seleraku. Enak.”

“You’re welcome,” sahut Jongwoon sambil tersenyum senang mendengar pujian Hyejin.

Hyejin begitu menikmati tteokbokki yang Jongwoon masak khusus untuk dirinya. Begitu sukanya, Hyejin mengambil bagian Jongwoon yang belum habis dimakan. “Oppa nanti bisa masak lagi kan?” Alasan Hyejin.

Jongwoon pun merelakan tteokbokki-nya untuk Hyejin. “Oh ya, Jongjin Oppa kemana? Aku tidak melihatnya dari tadi,” tanya Hyejin mengenai keberadaan satu-satunya adik laki-laki Jongwoon.

“Dia sedang mengantarkan kekasihnya pulang. Sebentar lagi juga muncul,” jawab Jongwoon.

Hyejin melihat jam tangannya dengan sekilas. “Waeyo?” Tanya Jongwoon.

“Tidak terasa sudah jam 11 malam,” ujar Hyejin dengan santai. “Bersama Oppa rasanya waktu berjalan terlalu cepat. Ha ha ha ha!” Hyejin tertawa.

“Aku akan mengantarkanmu pulang nanti. Kita harus menunggu Jongjin kembali dulu. He will take care of this restaurant while I’m gone.”

“Okay.”

Jongwoon pergi ke dapur untuk mengambil secangkir coklat panas untuk gadis yang sangat menyukai minuman tersebut. Saat ia kembali, ia melihat gadis itu sedang asik berbicara dengan seorang pria. “Jongjin-ah, kau sudah pulang?” Tanya Jongwoon.

Jongjin baru saja duduk tidak lebih dari lima menit dan ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, tanpa disuruh oleh kakaknya. “Aku akan siap-siap. I will take care everything,” kata Jongjin.

Hyejin memandang dua kakak-beradik tersebut dan tanpa sadar tersenyum. “Don’t smile. Hyung-ku bisa tidak tidur karena terus memikirkan senyummu,” kata Jongjin dan senyum Hyejin terkembang semakin lebar.

—–

Jongwoon datang menghampiri Hyejin dan menyampirkan jas-nya di atas bahu Hyejin untuk melindungi gadis itu dari dinginnya angin malam ini. “Apa saja yang sudah bocah itu katakan padamu?” Tanya Jongwoon sambil berjalan menyusuri tepi sungai Han, beriringan dengan Hyejin.

“Bocah? Nugu?” Tanya Hyejin bingung. Ia tidak mengerti siapa yang dimaksud dengan bocah oleh Jongwoon.

“Jongjin,” jawab Jongwoon.

Seketika Hyejin tertawa. Meskipun ringan, tawa itu membuat Jongwoon lega. “Your third laugh today,” ucap Jongwoon dalam hati.

“Apa Oppa benar-benar mau tahu apa yang dikatakan Jongjin Oppa kepadaku?” Hyejin justru balik bertanya.

Jongwoon pun mengangguk. Ia sudah tidak sabar untuk mendengar cerita dari Hyejin tentang apa saja yang telah dikatakan Jongjin. “Anak itu pasti sudah mengatakan banyak hal pada Hyejin,” pikir Jongwoon mengingat mulut adiknya memang ditakdirkan untuk tidak berhenti bicara.

Hyejin menghentikan langkahnya ketika Jongwoon justru berjalan terus melaluinya. Pria itu berhenti lima langkah di depan Hyejin. “Kenapa berhenti?” Tanya Jongwoon.

“Jongjin Oppa bilang kau menyukaiku,” kata Hyejin tanpa malu-malu. Ia berdiri tegak dengan mata menatap langsung kepada Jongwoon yang berdiri salah tingkah.

“Oppa melakukan semua ini karena menyukaiku. Benarkah?” Tanya Hyejin lebih menuntut jawaban.

Jongwoon masih berdiri di tempatnya. “Aku akan menjelaskan semuanya asal kau janji tidak akan pergi meninggalkanku,” kata Jongwoon.

Jarak lima langkah tampaknya cukup berpengaruh untuk Hyejin. “Rentangkan tangan Oppa,” ujar Hyejin membuat Jongwoon bingung.

“Mwo?”

“Rentangkan tangan Oppa,” kata Hyejin sekali lagi. “Ppali!”

Jongwoon pun mengeluarkan tangannya yang nyaris beku dikeluarkan dari saku celananya. Hyejin yang tidak lagi berjarak lima langkah darinya, tersenyum lebar. “I trust you. Catch me whenever I fall. Hug me whenever I run to you,” kata Hyejin.

Jongwoon terpaku melihat gadis yang tadi berada jauh darinya kini sudah berada di depannya, sambil memeluknya dengan erat. Jongwoon terlalu terkejut sampai ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Apa kau tidak dengar, Oppa? Hug me whenever I run to you,” ulang Hyejin yang membuat Jongwoon akhirnya tersadar.

Jongwoon melihat gadis itu memeluknya, tersenyum kepadanya. Jongwoon balas tersenyum dan memeluk gadis itu dengan erat. Tidak ada hal yang lebih indah dari mendapatkan gadis yang disukainya berada dalam pelukannya.

Hyejin mendongakkan kepalanya karena tangan Jongwoon mengangkatnya sehingga mereka bisa saling menatap dan melemparkan senyum malu-malu yang menggemaskan sekaligus membahagiakan. “Aku menyukaimu,” kata Jongwoon dengan tegas, tanpa keraguan sedikitpun.

Hyejin tersenyum. Rona merah pipinya sudah hampir sama dengan warna lipstik di bibirnya. Wajah Jongwoon sudah semakin dekat. “Someday, will be coming time I ask your lips against my lips gently. But now, I demand you repeat what you’ve just said to me.” Jongwoon tertawa geli.

“Berapa kali? Aku akan mengatakannya sebanyak yang kau mau,” kata Jongwoon.

“Just once. Perlakuanmu padaku sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya,” sahut Hyejin.

“I love you. Really really really love you.”

Hyejin melepaskan tangan Jongwoon dari pipinya dan menguncinya dalam genggaman tangannya. Sambil tersenyum, gadis itu mencium bibir Jongwoon. Dengan lembut, ia mengulumnya.

“Aku tidak menyangka waktu itu akan datang secepat ini,” ujar Jongwoon merujuk pada ucapan Hyejin beberapa menit yang lalu. “You didn’t ask.”

Hyejin mencubit pipi Jongwoon lalu menggigitnya dengan gemas. “Berisik. Oppa pilih diam dan dengarkan pernyataan cintaku atau…?”

Jongwoon memeluk Hyejin lebih erat dan menempelkan pipinya yang sejajar dengan kepala Hyejin. “Aku pilih memelukmu seperti ini sampai pagi. Aku tidak keberatan menjelaskan kepada orang tuamu kalau mereka tahu kau tidak pulang malam ini,” kata Jongwoon. Ia sudah tidak merasakan lagi dinginnya angin malam ini karena Hyejin.

Karena pelukannya dengan Hyejin. Karena akhirnya, Hyejin membalas perasaannya.

Kkeut!

xoxo @gyumontic