Hai semuanya, makasih banyak ya selalu baca ff di blog ini hehe
i made this fanfiction after i saw this picture. i really miss him hahaha.
hope you still enjoy it even it’s just a short and no conflict fanction hahaha
thank you for reading, if you don’t mind please leave your comments too. thank you ^^

Before i met you, i never knew what it was like to be able to look at someone and smile for no reason.

“Oppa sudah mulai ditugaskan?” tanya Hamun pada pria yang sedang memeluknya dari belakang sekarang. Pria itu mengeratkan pelukannya dan menopang dagunya di pundak Hamun.

“Ya, karena sewaktu natal nanti jalanan pasti ramai, kepolisian perlu tambahan personil untuk menjaga keamanan di beberapa daerah. Aku mendaftar sebagai volunteer untuk tugas itu,” jawabnya. Hamun yang sedari tadi sedang memasak segera mematikan kompornya dan melepaskan pelukan itu. Ia berbalik untuk menatap kekasihnya.

“Donghae Oppa mendaftarkan diri? Apa oppa tak mau menghabiskan Natal denganku? Padahal sudah kutunggu-tunggu,” gerutu Hamun dengan wajah sedihnya.

Donghae tersenyum sambil mengelus kepala Hamun. “Mianhe, aku sudah egois, tapi aku ingin menolong mereka, Hamun. Paman dan sunbae disekitarku sudah banyak menolongku. Setidaknya aku ingin membalas sedikit kebaikan mereka,” jelas Donghae dengan tampang yang memohon pengertian Hamun. Jika sudah dilihat dengan mata Donghae itu, Hamun tak bisa melawan.

Hamun menghela nafas lalu kembali berbalik untuk memasak. Donghae pun kembali memeluknya dengan erat. “Marah, sayang?” tanyanya lembut.

Hamun mengangguk. “Mianhe,” jawab Donghae sambil puncak kepala Hamun.

“Aku bukan marah pada, oppa. Tapi pada diriku sendiri,” ujar Hamun sambil tetap mengaduk sop yang baru ia tambahkan bumbu.

“Wae?” tanya Donghae tak mengerti.

“Aku tak menyangka diriku seegois ini jika berkaitan tentang dirimu. Aku marah karena tadi aku sempat kesal padamu yang memikirkan orang lain. Harusnya aku tidak boleh begitu, kan? Tujuanmu sangat baik, harusnya aku mendukungmu. Aku tak menyangka kalau aku bersikap kekanakan seperti ini. Kau pasti kecewa padaku,” ujar Hamun. Donghae tersenyum mendengar pengakuan kekasihnya.

“Kau umur berapa sekarang?” tanya Donghae.

“20 tahun. Keterlaluan kalau kau lupa, oppa,” balas Hamun sambil tertawa.

“It’s okay to act childish and be egoist, apalagi jika itu berkaitan dengan diriku,” jawab Donghae.

“Kau akan lari dariku jika aku bersikap seperti itu,” kata Hamun.

Donghae tertawa. “Well, sebagai pria sesekali aku ingin kau bersikap dependen padaku. I don’t mind if you being like that. Kau sudah berusaha menjadi gadis yang dewasa dan kuat untukku. Kau juga menerimaku apa adanya. Aku bersyukur karena kau mencintaiku. Aku pun juga ingin kau percaya padaku kalau aku sayang padamu bagaimanapun dirimu,” jelasnya.

“Hei, Donghae oppa. Bisa tidak untuk melepas pelukanmu agar Hamun lebih cepat masaknya? Kami sudah kelaparan,” seru Hyejin yang entah sejak kapan ada di depan dapur. Mendengar itu, Donghae langsung melepas pelukannya.

“Ini sudah selesai, onnie. Sabar,” balas Hamun.

“Tuh, bukan aku yang membuat Hamun lama masaknya. Memang sopnya yang tidak mau matang sedari tadi,” gerutu Donghae yang tidak dipedulikan Hyejin. “Sini, biar aku yang bawakan ke meja makan,” ujar Donghae mengambil alih mangkuk besar yang tadinya Hamun bawa.

Hamun tersenyum melihat pria yang jalan di depannya. Semua perkataan Donghae tadi mengalir di kepalanya. Ia sadar kalau pria itu kembali membuatnya makin mencintainya.

“Tada! Sop buatan Hamun sudah tiba!” seru Donghae bangga akan masakan buatan kekasihnya.

“Sedari tadi Donghae oppa tidak melepas pelukannya dari Hamun,” kata Hyejin pada member SG dan para pasangannya yang ada disitu.

“Aish, sudah jangan membahas itu,” omel Donghae sambil menarik kursi yang ada dihadapannya. “Hamun, ayo duduk,” katanya sambil menunjuk kursi yang ia sediakan khusus untuk Hamun.

Setelah Hamun dan Donghae duduk, Hamun memanggil pria itu. “Donghae oppa.”

Donghae menoleh dan tersenyum pada Hamun. Belum sempat ia bertanya, Hamun langsung merengkuh wajah Donghae dan mencium bibir kekasihnya itu tepat dihadapan onniedul dan oppadeulnya.

“Yaa, Kang Hamun!” seru Jihyo, Hyejin, Hyunah, Minah, Henry, Eric, Woobin, dan Kyuhyun bersamaan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka Hamun bersikap agresif seperti itu, terlebih lagi di depan orang lain.

Hamun segera melepas bibirnya saat mendengar teriakan itu. Ia tersenyum saat mendapati Donghae menatapnya dengan tidak percaya. “Mianhe, onniedul, oppadeul,” balas Hamun sambil tertawa, wajahnya tidak menunjukan rasa bersalah sedikit pun.

“Yaa, kau masih 20 tahun, Hamun. Berani sekali kau mencium Donghae di depan kami,” ujar Kyuhyun.

“Habis, mau bagaimana lagi? Aku sangat sayang pada Donghae oppa dan tidak bisa menahan perasaanku,” balas Hamun. Mendengar pengakuan itu membuat jantung Donghae berdebar makin kencang. Ia sadar kalau dirinya tidak dapat melawan pesona Hamun itu. Lagi-lagi, Donghae kembali jatuh cinta pada Hamun untuk kesekian kalinya.

*****

“Hyung, appaku hilang,” ujar seorang anak yang menarik-narik celana Donghae saat ia berpatroli di sekitar jalanan Songdo. Donghae tersenyum melihat anak itu lalu berlutut agar dapat berbicara dengannya.

“Hebat sekali kau tidak menangis dan langsung mencari polisi,” puji Donghae sambil mengelus kepala anak itu. Ia menggenggam tangan anak kecil itu. “Kau pasti takut tapi sekarang sudah ada hyung polisi, aku akan bantu cari appamu. Siapa namamu?” tanyanya.

“Song Daehan. Ayahku bernama Song Il Kook,” jelas anak itu.

“Kajja, kita cari ayahmu,” ajak Donghae setelah ia mengambil mantel dan minta izin pada atasannya.

Selama beberapa saat Donghae mencari ayah anak tersebut, tidak terlalu jauh dari pos polisi tempatnya berpatroli tadi karena ada kemungkinan ayahnya akan mencari ke tempat itu. Dalam perjalanan, tanpa sengaja ia mendapati seorang gadis dengan baju santa yang manis. Ia melihat gadis itu dengan seksama dan tersenyum. “Buat apa dia ke tempat ramai seperti ini? Cari masalah saja,” omelnya sambil tertawa.

“Appa!” seru Daehan yang melihat ayahnya dari kejauhan. “Gamsahamnida, hyung,” ujar Daehan begitu juga dengan ayahnya. Setelah itu, Donghae berjalan kembali menuju tempat patrolinya. Di tengah perjalanan ia kembali mendapati gadis dengan baju santa tadi. Ia memperlambat langkahnya agar gadis itu tidak tahu Donghae ada di belakangnya. Donghae penasaran dengan apa yang dibawa gadis itu karena ia tampak kelelahan.

“Hey, hey, itu Kang Hamun. Member Super Girls,” seru beberapa orang di sekitar Donghae. Donghae menjadi panik saat mengetahui kalau orang lain sudah mengenali gadis itu. Dalam sekejap, beberapa orang sudah menghampiri Hamun dan memotret dirinya.

“Hamun ah, apa mau kubantu bawa? Sebagai gantinya, tolong cium aku di pipi. Aku kesepian natal tanpa pacar tahun ini,” ujar seorang pria yang diikuti pria lainnya. Mendengar ucapan itu membuat Donghae tidak bisa menahan dirinya.

“Maaf ada apa ini ramai-ramai? Kalian mengganggu pedestrian lain karena banyak yang berkumpul disini,” ujar Donghae.

“KYA! Omona! Itu Donghae!!!!” seru seorang gadis yang membuat gadis lainnya segera berkumpul di tempat itu. Melihat situasi yang semakin kacau, Donghae segera mengambil bawaan Hamun dan menggandeng gadis itu. “Ayo pergi, sayang,” seru Donghae yang membawa Hamun lari menuju pos polisi tempatnya tadi. Untung Hamun dan Donghae dapat berlari dengan cepat sehingga tidak ada yang tahu kalau Donghae ke pos polisi.

“Yaa, Kang Hamun!” seru Donghae begitu mereka bersembunyi di pos polisi tempat Donghae berpatroli tadi. Hamun terdiam sambil merunduk tanpa bisa melawan.

“Mianhe, tapi kata oppa aku boleh bersikap childish,” kata Hamun pelan, ia takut kalau Donghae lebih marah padanya.

“Tapi aku tidak mengizinkan kalau itu sampai membahayakanmu seperti tadi,” kata Donghae dengan emosi yang telah mereda. Ia menarik Hamun dalam pelukannya. “Aku tidak akan memaafkan diriku kalau terjadi apa-apa padamu,” katanya.

“Mianhe, oppa. Aku hanya ingin menghabiskan Natal ini denganmu dan teman-temanmu yang bertugas juga hari ini. Aku ingin memberi semangat untuk kalian,” kata Hamun yang membuat Donghae mengelus kepala gadis itu. Donghae sendiri sudah menduga isi kepala Hamun itu.

Donghae menghela nafa lalu melepas pelukannya. “Lalu kenapa kau pakau baju santa seperti milik Seola dan Sua ini?” tanya Donghae.

“Karena sewaktu melihat mereka pakai baju ini oppa bilang mereka lucu. Jadi kupikir jika oppa melihatku pakai ini, kau akan lebih bersemangat,” jelas Hamun.

Donghae menggaruk kepalanya karena memang Hamun sangat lucu saat ini. “Kau sangat lucu dan aku senang melihatmu pakai itu. Tapi, aku tidak mau laki-laki lain memandangmu seakan mereka juga menginginimu,” kata Donghae. Ia melepas mantelnya dan memakaikan itu pada Hamun. “Kau milikku, aku tidak suka berbagi. Bahkan kalau bisa aku juga ingin melarang Kyuhyun, Henry, Woobin, dan Eric hyung menyentuhmu,” kata Donghae dengan wajah yang memerah. Hamun tertawa melihat sikap Donghae itu. Ia tak meyangka kalau kekasihnya sangat pencemburu.

“Aku tak menyangka oppa seposesif itu,” ujar Hamun sambil tertawa.

“Aku malu mengakuinya tapi selama ini aku memang berusaha menahan diri. Aku tidak ingin mengekangmu,” jelas Donghae. “Ah, lalu kenapa kau tidak minta diantar onnie atau oppamu?”

Hamun menghela nafas. “Mereka ingin menghabiskan waktu dengan pasangan masing-masing. Kyuhyun oppa bilang, cinta butuh perjuangan. Ia bahkan mengambil dompetku dan hanya memberikan kartu bus milikku. Jadi terpaksa aku naik bus lalu jalan kaki dari halte terdekat,”

“Sialan mereka. Akan kuberi pelajaran nanti,” geram Donghae yang membuat Hamun tertawa.

“Sudah, sudah, oppa. Jangan kesal lagi. Bagaimana kalau sekarang oppa bantu aku memberikan hadiah natal ini pada teman-teman oppa?” usul Hamun. Tentu saja tak menunggu lama Donghae langsung membantunya.

“Ini untuk ajjushi, terima kasih sudah mau mengorbankan waktu anda dengan keluarga untuk menjaga kami. Terima kasih juga sudah menjaga Donghae,” ujar Hamun saat memberikan hadiah pada seorang paruh baya yang ternyata adalah atasan Donghae.

Ajjushi itu segera menghampiri Donghae setelah Hamun pergi. “You should cherish her,” kata atasannya yang tanpa diberitahu pun, pasti akan Donghae lakukan.

“Hey, Hoobae, kenalkan aku padanya. Dia manis sekali,” ujar salah seorang senior Donghae padanya.

“Kalau kau berani menyentuh pacar Donghae sedikit pun, tidak akan kuberi ampun,” ancam atasan Donghae yang membuat pria itu tertawa.

“Everytime I look at her, she make me fall in love all over again,” ujar Donghae.

*****

“Oppa, aku sudah memberikan semua yang ada di karungku. Apa di karung oppa ada sisa hadiah untukmu?” tanya Hamun sembari ia menghampiri Donghae yang duduk di luar pos polisi.

“Tidak ada, di karungku juga habis,” kata Donghae. “Lagipula, kau mau memberiku hadiah yang sama seperti mereka?” tanyanya lagi.

Hamun menggaruk kepalanya. “Betul juga. Harusnya aku sediakan yang spesial buat oppa. Mianhe,”

“Kau benar-benar merasa bersalah?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi-,” ucapan Donghae terputus saat bibirnya menempel tepat di bibir Hamun. Hamun yang ingat tempat dimana ia berada sekarang berusaha mendorong Donghae untuk melepas ciuman itu. Usaha apa pun yang Hamun lakukan tidak berhasil, sepertinya sejak mengikuti wajib militer Donghae menjadi semakin kuat.

Donghae melepas ciuman itu setelah keduanya kekurangan oksigen untuk bernafas. “Yaa, oppa!” seru Hamun. “Aku juga bisa nekat sepertimu, sayang,” bisik Donghae.

“Hei, Hamun masih muda. Kau harus menjaganya,” seru ajjushi atasan Donghae. Ternyata mereka semua menyaksikan kejadian itu dari awal.

“Siap, pak kepala!” seru Donghae sambil memberikan hormat dan membungkukan badan.

“Yaa, oppa! Aku malu! Aku mau pulang saja!” seru Hamun yang tidak diizinkan oleh Donghae. Ia menahan kepergian Hamun dan membuat gadis itu kembali duduk disampingnya. Donghae menggenggam tangan Hamun dengan erat.

“Aku.. ingin bersamamu. Apa kau masih mau pulang?” tanya Donghae dengan mata yang memandang lekat Hamun.

“Ugh, mana bisa aku pulang setelah oppa mengatakan itu dan menatapku seperti itu. Dasar licik,” gerutu Hamun yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.

“Aku sayang padamu, Hamun,”

“Aku tahu, oppa,”

“Lalu? Bukan itu yang ingin aku dengar, sayang,”

“Aku tak mau bilang. Ada banyak teman oppa disini,”

Donghae menghela nafas dan melepas genggaman tangan itu. “Aku tidak jadi sayang padamu kalau begitu. Aku tidak cinta pada Kang-,”

Hamun segera menggenggam tangan Donghae lagi dan membisikkan sesuatu ditelinga Donghae. Kata-kata yang paling ingin Donghae dengar. “Jangan berkata seperti itu lagi, oppa. Aku akan marah,” ujar Hamun setelahnya.

Donghae tersenyum lalu mencium pipi gadis itu. “Tentu saja, sayangku,”

“I love you,” bisik Hamun.

END