December 25th, 2015

Adalah sebuah keanehan melihat Hyejin berada di dalam kamar hotelku dimana seharusnya ia sedang tidur nyenyak di kamar kami di rumah Appa. Terlebih hari ini adalah hari Natal. Seharusnya ia berada di rumah Appa untuk merayakan Natal bersama kedua orang tuaku seperti yang sudah kami bicarakan sebelumnya.

Aku ada jadwal konser di Hongkong sehingga tidak bisa menghabiskan Natal bersama Hyejin. Itu alasannya jika ada yang bertanya-tanya mengapa kami tidak bersama di hari Natal tahun ini.

Hyejin berdiri di depanku dengan wajah ditekuk. Wajah muramnya sedikit menjelaskan alasan mengapa ia rela menempuh penerbangan tengah malam dari Seoul menuju Hongkong hanya untuk bertemu denganku. “Ada masalah apa?” Tanyaku sambil memeluknya.

Aku tahu ia pasti sedang merasa berat dan membutuhkanku untuk meringankannya.

Hyejin memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan kukunya mencengkram punggungku. Begitu juga dengan air matanya yang membasahi bahuku. Hyejin menangis dalam pelukanku. “Aku gagal,” katanya.

“Gagal apa? Kasting?” Tanyaku pelan sambil mengelus rambut pendeknya. Aku teringat pada jadwal pengumuman daftar pemain drama yang jadi incaran Hyejin sejak lama.

Hyejin menganggukkan kepala. Tidak ada suara keluar dari mulutnya kecuali sesengukkan yang terdengar sangat menyakitkan telingaku. Aku tidak tahan mendengarnya menangis. “Kau akan mendapatkan peran yang lebih baik. Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan,” ujarku berusaha menghibur.

Istriku tetap saja menangis tersedu-sedu. Ia masih membasahi bahuku dengan air matanya sambil mencengkram punggungku dengan erat. “Tenang saja.” Aku tetap berusaha menghibur. Aku berusaha meredakan tangisnya dengan tepukan lembut di punggungnya.

Hyejin tetap menangis. Aku menghibur. Terus seperti itu sampai setengah jam berikutnya, sampai Hyejin berhenti menangis, sampai wanita itu menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya dariku. “Sudah merasa lebih baik?” Tanyaku sambil memberikan secangkir teh manis hangat, minuman kesukaannya.

Ia menganggukkan kepalanya. “Gomawo,” ucapnya dengan suara sengau. Meskipun ia sudah berhenti menangis, aku masih bisa mendengar sisa-sisa kesedihannya.

Aku duduk di sebelah Hyejin sambil merangkul bahunya yang sempit. Aku tidak banyak bicara, hanya mengusap lengan Hyejin untuk membuatnya lebih nyaman. Sedangkan Hyejin menghabiskan minumannya tanpa suara.

“Enak?” Tanyaku dan Hyejin pun mengangguk. Aku tersenyum kepadanya. “Jangan menangis lagi. Kecantikanmu berkurang kalau sedang menangis,” ujarku dan Hyejin mencubit perutku. Aku meringis kesakitan. “Sakit, sayang,” keluhku dan Hyejin tertawa.

“Makanya jangan cari gara-gara denganku. Aku jauh-jauh datang bukan untuk dibilang jelek!” Omel Hyejin kesal namun aku tertawa. Ia sudah kembali normal.

“Memangnya siapa yang bilang kau jelek? Aku bilang kecantikanmu berkurang kalau sedang menangis. Aigoo… Kau tidak mendengarkan suamimu ini dengan baik ya?” Godaku dan sebuah cubitan mendarat lagi di perutku.

Aku menarik Hyejin lebih dekat kepadaku lalu mengecup keningnya. “Aku minta maaf,” ucapku entah untuk apa. Aku hanya ingin mengucapkan kata-kata itu untuk Hyejin.

Hyejin mengulaikan kepalanya di atas dadaku. Dengan lirih ia berucap, “Terima kasih sudah mau menemaniku. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak bertemu denganmu malam ini juga.”

“Terima kasih sudah mau menemuiku. Aku pasti sudah gelisah setengah mati memikirkanmu kalau kau tidak datang kepadaku,” balasku.

Hyejin mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan heran. “Mwo?” Tanyanya.

“Setidaknya kita jadi bisa menghabiskan hari Natal bersama,” kataku. Aku tersenyum menatapnya. Detik berikutnya, aku sudah mengulum bibir Hyejin di dalam mulutku.

“Aku punya penawaran menarik untukmu. Aku jamin besok kau sudah tidak sedih lagi. Kau bahkan akan lupa kenapa kau menangis,” kataku.

Hyejin menatapku dengan curiga. Aku yakin ia sudah bisa membaca pikiranku. Ia pasti sudah tahu apa yang akan aku tawarkan untuknya. “Kau mau menghiburku dengan tubuhmu? Iya kan?” Bingo! Aku menyengir lebar mendengar tebakannya. Sudah aku duga, ia pasti sudah tahu.

Hyejin mendecakkan lidahnya seperti orang yang sedang kesal. “Aigoo… Apa kata Tuhan kalau melihat umatNya merayakan hari kelahiranNya dengan cara yang sangat manusiawi itu?” Oceh Hyejin namun tidak lama kemudian ia tersenyum kepadaku. “Mungkin aku tidak akan sedih lagi besok tapi aku tidak mungkin lupa dengan kejadian hari ini. Peran yang sudah dijanjikan untukku, yang sudah aku pelajari setiap hari, tiba-tiba diberikan begitu saja untuk orang lain. Aku tidak akan mungkin lupa itu,” katanya.

Aku mencium bibir Hyejin sekali lagi, sebagai tanda aku mendukungnya, apapun yang terjadi. “Aku tidak keberatan selama aku memiliki bagian terbesar di dalam ingatanmu,” ujarku yang membuat Hyejin tertawa.

“Dasar tukang gombal,” sahutnya dan kemudian berbalik menciumku. Ia terus memajukan tubuhnya sehingga aku terpojok di kepala tempat tidur dan tidak bisa lari kemana-mana.

Aku sedikit mendorong Hyejin sehingga ia berhenti menciumku. Dengan raut wajah kesal yang menggemaskan, ia melayangkan protes. “Kau mulai tidak suka berciuman denganku. Eoh?”

Aku terdiam. Pura-pura diam hanya untuk membuatnya semakin kesal.

Hyejin menarik tubuhnya menjauh dariku. “Kau menolakku,” katanya lalu berbalik memunggunggiku. Ia berbaring membelakangiku.

Aku tertawa kecil di belakang Hyejin. “Jangan tertawa. Kau menyebalkan. Kalau kau sudah tidak suka denganku, tinggalkan saja aku. Satu lagi, kau yang keluar dari kamar ini,” ocehnya panjang lebar yang membuatku semakin gemas.

Aku menyelipkan tangan kananku di bawah tubuh Hyejin sedangkan tangan kiriku memeluk pinggangnya. “Kau mau tidur membelakangiku seperti ini dan punggungmu yang habis aku gigiti atau kau tidur menghadapku agar aku bisa menghabisi bibirmu?” Godaku dan berhasil.

Hyejin berbalik menghadapku. Ia menatap mataku lalu bibirku dan kembali ke mataku. “Tidurlah. Kau sudah lelah,” ujarnya sambil mengelus pipiku. Aku tidak tahu apa maksudnya tapi aku tidak suka mendengar perintahnya agar aku tidur. Aku justru sangat semangat.

“Aku tidak pernah lelah jika sudah berurusan denganmu,” sahutku lalu menyambar bibir Hyejin dengan bibirku, tanpa ampun. “Pilih. Malam romantis yang tenang atau malam liar yang panas? Aku akan membuatmu nyaman.”

Hyejin menciumku dan aku bisa merasakan Hyejin tertawa dalam ciuman kami. “Dua-duanya sama saja. Kau akan berusaha memasuki tubuhku tidak sampai lima menit lagi. Dasar licik,” ujarnya sambil melirik bagian bawah tubuh kami yang sudah tidak terlindung apapun.

Aku tidak banyak bicara. Hanya tertawa lalu menarik tubuh Hyejin untuk semakin dekat kepadaku. “Bersiaplah,” ucapku lalu mengunci mulut Hyejin dengan mulutku, berjaga-jaga kalau ia berteriak atau menjerit kesakitan.

Hyejin menatapku dengan kesal. Tangannya yang dikalungkan di leherku menjadi berpindah ke punggungku. Aku terpaksa melepas ciumanku ketika telapak tangannya mendarat keras di punggungku. Hyejin pun langsung melayangkan protes, “Kau pikir aku gadis kemarin sore yang baru akan menikmati malam pertamanya? Buat apa membungkam mulutku? Kau takut ketahuan Yongsun Oppa ya?”

“Tidak,” jawabku singkat.

“Lalu kenapa? Kau takut aku berteriak kan?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Lalu kenapa?” Tanyanya lagi.

Dasar wanita. Bagaimana bisa mereka membagi pikiran mereka di saat mereka sedang bercinta? Kalau pria, tidak bisa. Aku jamin seratus persen.

Aku mencium kening Hyejin. “Aku akan menjawabnya nanti. Sekarang, biarkan aku mendapatkan kebutuhanku dan kau menikmatinya sebelum jadwal-jadwal sialan itu kembali memisahkan kita,” kataku.

Hyejin tertawa renyah. “Berhubung aku gagal mendapatkan peran itu, aku tidak punya jadwal yang padat. Aku punya banyak waktu senggang. Aku rasa, paling lama, minggu depan kita akan berada entah dimana melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan sekarang,” katanya dengan tatapan nakal, membuatku semakin gencar menggodanya. “Dasar kau wanita nakal. Berani-beraninya kau menggodaku seperti itu.”

Hyejin kembali tertawa. Senang. Aku rasa ia sudah lupa dengan kesedihannya. Ia bahkan tetap tertawa sambil memelukku ketika aku menjatuhkan diriku di atasnya. “Terima kasih sudah menghiburku, suamiku sayang,” ucapnya yang tidak terdengar jelas di telingaku. Aku setengah terlelap sepertinya.

—–

December 26th, 2015

Aku terbangun dan mendapatkan hanya aku dan selimut yang berada di atas tempat tidur ini. Hyejin sudah pergi menghilang bersama dengan baju dan tasnya. Mataku berkeliling kamar, mencari, mungkin ada yang ditinggalkannya untukku.

“Haiish!”

Hyejin tidak meninggalkan apapun bahkan salam perpisahan melalui pesan singkat sekalipun.

“Menyebalkan!”

Aku menatap ponselku dengan sebal meskipun aku tahu bukan ia yang salah. Aku menatap ponselku karena wajah wanita yang seenaknya meninggalkanku itu terpajang sebagai latar belakang layar ponselku.

“Haish!” Gerutuku untuk yang kesekian kalinya.

Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul. Dengan cepat, aku meraih ponselku. Aku membaca notifikasi pesan yang dikirimkan oleh Hyejin.

Hai pria tampan. Sudah bangun? Maaf tiba-tiba harus meninggalkanmu. Aku lupa ada syuting nanti siang. Tidurmu juga sangat nyenyak. Aku tidak berani membangunkanmu.

Tanganku bergerak dengan lincah di atas layar. Tidak sampai semenit, aku sudah membalas pesan Hyejin.

Hai wanita cantik. Berani-beraninya kau pergi begitu saja meninggalkan suamimu yang tampan ini. Setelah malam liar dan panas yang kita habiskan bersama. Apa kau dengan mudahnya melupakan itu semua?

Kau bahkan tidak meninggalkan pesan untukku!!!

Balasan Hyejin datang tidak lama kemudian.

Aku harus segera naik pesawat. Terima kasih banyak sudah menghiburku. Kau benar, aku sudah tidak sedih lagi. Sekali lagi, terima kasih suamiku tersayang. Jaga dirimu baik-baik. Semoga konsermu hari ini lancar. Aku mencintaimu.

Oh ya sebelum semakin terlambat. Merry Christmas!

Tambahan : sebaiknya kau segera berkaca.

Membaca pesan terakhirnya, aku pun segera menyalakan kamera depan ponselku dan melihat pantulan wajahku. Hyejin memang tidak meninggalkan pesan saat meninggalkanku tadi tapi ia meninggalkan jejak ciumannya di leherku yang akan hilang dalam jangka waktu beberapa hari padahal konserku akan mulai dalam hitungan jam.

YAA SONG HYEJIN!! Siapa yang mengajarkanmu menjadi nakal seperti ini?!?!

Aku buru-buru mengirimkan pesan itu kepada Hyejin namun tidak sampai. Ia mungkin sudah masuk pesawat yang akan membawanya kembali ke Seoul, tanpa aku.

—–

Kkeut!

xoxo @gyumontic