Selamat tahun baru! Happy new year, may the odds be ever in your favor. Hehe. I hope you enjoy the fanfiction. ^^ Terima kasih yang sudah membaca ehehehe

“Hei, lihat. Lee Donghae sajangnim makan siang sendirian,” ujar Choi Jihyo sunbae padaku dan sunbaeku yang lain, Park Minah dan Jung Hyunah. Kami juga sedang makan siang di kantin yang sama dengan Donghae sajangnim.

“Yaa, Kang Hamun. Kenapa kau melihatnya seperti itu?” tanya Minah sunbae.

“Jangan sampai kau kesana untuk menemaninya. Dia memang suka sendiri. Kau bisa dimarahi Kyuhyun sajangnim nanti,” jelas Hyunah sunbae. Aku tahu itu, tapi aku tidak peduli.

Aku langsung membawa makananku menuju meja tempat Lee Donghae sajangnim berada. Aku langsung duduk dihadapannya tanpa izin dari sajangnim. “Selamat makan,” ujarku padanya. Aku bisa merasa seluruh mata yang ada di tempat ini memandangku. Minah, Hyunah, dan Jihyo sunbae pun sudah memanggil-manggil namaku untuk kembali ke tempatku sebelumnya.

“Kau dipanggil, aku tidak masalah sendiri. Kau tahu, kan?” tanyanya tanpa memandangku. Ia tetap serius membaca koran disampingnya sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Aku akan pergi kalau sajangnim mengusirku,” ujarku. Akan tetapi, sudah lewat 30 detik, pria itu tidak mengatakan apapun. “Baiklah kalau begitu, aku akan makan disini dengan sajangnim. Sajangnim tidak boleh menyesal, aku sudah memberikan kesempatan untuk mengusirku,” jelasku yang membuatnya tersenyum sambil memandangku  (walau pun itu hanya sepersekian detik sehingga hanya aku yang menyadarinya).

“Dasar, akan kuminta Kyuhyun menghukummu nanti,” ancamnya.

Mendengar itu, aku langsung mengatupkan tanganku di depan wajah dan memasang tampang memelas. “Mianhe, mianhe, mianhe, tolong jangan laporkan ke Kyuhyun sajangnim. Dia bisa memberikanku tugas lembur yang mengerikan. Jebal, sajangnim,” mohonku padanya. Aku melakukan ini bukan karena aku takut (well, aku takut pada Kyuhyun sajangnim tapi aku tahu Donghae sajangnim tidak akan melaporkanku sesuai ancamannya), aku seperti ini karena ingin melihat senyum dan tawanya lagi.

“Pfft,” bisa kulihat Donghae sajangnim berusaha menahan tawanya dan segera kembali memasang tampangnya yang sendu dan gloomy. “Kau seharusnya juga punya rasa takut seperti itu padaku. Makan dengan tenang. Jangan sampai aku mengusirmu,” titahnya.

“Ne Sajangnim!” seruku yang langsung dia sambut dengan tatapan penuh ancaman. Aku tersenyum padanya tanpa rasa bersalah dan menemaninya dengan meceritakan peristiwa lucu yang kualami atau gurauan yang kupelajari dari buku ‘1001 Humor yang Pasti akan Membuatmu Tertawa’

“Hamun menemaninya karena ia tak bisa melihat Donghae sajangnim sendiri. Ia memang seperti itu. Tapi, harusnya dia sadar diri. Donghae sajangnim, kan, memang suka sendiri,” bisik beberapa suara yang berbicara di sekitarku. Ya, awalnya memang karena pria ini sendirian makanya aku menemaninya. Tapi, kini tidak lagi. Aku menemaninya karena aku ingin melihat senyumnya. Aku rasa jika memang dia orang yang suka menyendiri, dia tak akan tersenyum seperti itu. Dengan jabatan yang ia miliki, seharusnya dia dapat seenaknya mengusirku tapi tidak pernah dilakukannya. Aku ingin membuatnya bahagia.

*****

Untuk melihat orang-orang yang ada di kantor baruku ini, aku memutuskan untuk duduk di bench yang ada di lobby kantor ini. Dengan ini, aku dapat mengamati mereka yang keluar-masuk kantor ini. “Annyeong! Kau pegawai baru, ya? Aku tidak pernah melihat wajahmu,” ujar seseorang padaku. Aku menengadah untuk melihat siapa yang menyapaku. Seorang gadis yang merupakan pegawai di kantor ini. Ia memberikan sebuah minuman kaleng untukku.

“Hanya satu? Lalu kau?” tanyaku.

“Ah, aku tak haus jadi ini boleh untukmu,” katanya.

Aku mengalihkan pandanganku darinya. Tidak mau menghabiskan waktu lebih lama dengan orang yang tidak kukenal. Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingku, gadis tadi. Ia mengambil tanganku seakan memaksaku untuk mengambil minuman yang ia berikan tadi. “Ini punyaku, jadi kau harus minum yang ini,” katanya sambil menunjukan minuman lain yang ada ditangannya. Aku bisa mendengar deru nafasnya yang tidak stabil dan keringat yang ada di lehernya. Kurasa ia berlari ke cafeteria untuk membeli minuman ini.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Lee Donghae,”

“Aku Kang Hamun,” ujarnya memperkenalkan diri meskipun tidak kutanya.

“Kau masuk divisi apa? Siapa supervisormu? Dia tidak mengajakmu berkeliling?” tanyanya yang hanya kujawab dengan gelengan.

“Baiklah, aku akan menemanimu disini dan menjelaskan tentang orang-orang yang kukenal saat mereka lewat di hadapan kita,” ujarnya. Aku menghela nafas, sepertinya aku bertemu dengan manusia yang suka ikut campur urusan orang lain.

Ia menjelaskan segala sesuatunya dengan sangat baik dan menarik. Beberapa kali aku tersenyum dan tertawa mendengar deskripsi yang ia buat tentang orang yang dikenalnya itu. Ia tak seburuk pemikiranku sebelumnya. Ia juga memberikan gurauan-gurauan yang lucu sehingga mau tak mau aku tertawa karenanya. Bahkan aku tidak sadar kalau sudah dua jam lamanya aku duduk disini bersamanya.

“Yaa Kang Hamun!” seru seseorang, Kyuhyun. Mendengar seruan Kyuhyun dan melihat pria itu menghampiri kami berdua, Hamun langsung berdiri dan menunduk, ia tampak tidak berani menatap Kyuhyun. “Apa yang kau lakukan disini? Jam istirahat sudah habis sejak 1 jam yang lalu! Lalu kau disini bersama Donghae. Kau pasti mengganggunya!”

“Aniya, Kyuhyun sajangnim. Aku disini menemani pegawai baru ini karena supervisornya tidak mengajaknya berkeliling. Jadi, aku menjelaskan tentang orang-orang yang ada disini padanya,” bela Hamun.

“Pegawai baru? Dia Lee Donghae sajangnim! Manager di divisi Accounting yang baru dipindahkan kesini. Aku tidak menemaninya karena Beliau memang suka sendiri,”

“Mwo?? Mana ada orang yang suka ditinggal sendirian?” ujar Hamun yang membuatku tertegun,

“Kau tidak sopan, Kang Hamun! Aku akan menghukummu!” seru Kyuhyun yang menjewer telinga Hamun.

Aku tersenyum melihat gadis itu. “Jangan menghukumnya terlalu keras,” kataku pada Kyuhyun. “Kau, gurauanmu tidak lucu. Kau harus banyak cari referensi,” kataku lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

“Tapi.. Kyuhyun sajangnim.. Donghae sajangnim selalu tertawa saat mendengar gurauanku. Kenapa dia bilang aku tidak lucu?” protesnya yang masih bisa kudengar.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah ada dalam ruanganku. “Memikirkan Hamun, eoh?” tanyanya.

Mendengar nama itu membuatku tertawa. Aku mengingat buku aneh yang ia baca untuk meningkatkan selera humornya. Aku mengingat dirinya yang menemaniku makan tadi. Aku tak menyangka ia berusaha sekeras itu untuk membuatku tertawa. “Ani,” sangkalku. “Kenapa kau kesini?” tanyaku.

“Aku mau memberitahu, ayah Kang Hamun meninggal dunia. Baru saja,” jelasnya. Mendengar itu, aku segera berlari menuju ruangan Hamun. Untungnya, ia masih menyiapkan barangnya.

“Sajangnim, wa-waeyo?” tanya pegawai lain yang ada disitu. Aku mengabaikan mereka dan segera menghampiri Hamun. “Aku antar,” kataku saat ia menatapku bingung.

*****

Hamun hanya terdiam sepanjang perjalanan. Tidak menangis sama sekali. Saat di rumah duka pun, ia tidak menangis. Ia justru tersenyum menguatkan ibunya. “Sepertinya ia tidak punya hati, sampai-sampai ia tidak menangis sama sekali,” ujar beberapa orang yang lalu lalang di hadapanku.

“Kalau kau tak tahu apa-apa tentang dirinya, jangan asal bicara,” sanggahku yang membuat mereka terdiam. Waktu pun berlalu, semua tamu sudah pergi dan ibunya pun diajak pulang untuk beristirahat. “Kau tak pulang, sayang?” tanya ibunya.

“Ibu duluan saja, aku akan menyusul,” kata Hamun. Aku melihatnya duduk menatapi foto ayahnya dalam diam. Aku masuk dalam ruangan itu dan duduk di sebelahnya.

“Sajangnim, terima kasih. Kau bahkan menunggu sampai upacara ini selesai,” ujarnya sambil tersenyum padaku.

“Kenapa kau selalu tersenyum? Disaat seperti ini pun, kenapa kau tersenyum?” tanyaku heran.

“Ayah selalu bilang kalau ia menjadi semangat saat  melihatku tersenyum. Ibuku bilang senyumku yang membuatnya kuat menghadapi hari-harinya. Untuk mereka aku tersenyum. Lagipula, ayahku sudah lama menderita. Menurutku ini yang terbaik untuknya,” jelas Hamun.

“Kau pasti sedih,”

“Tidak juga, buktinya aku tidak menangis,”

“Aku, bahkan saat ayah yang sangat kubenci meninggal, aku menangis karena aku sedih. Bagaimana pun ia adalah ayahku. Terlebih lagi dirimu. Kau punya ayah yang begitu sayang padamu,” kataku. Aku merengkuh wajahnya sehingga saat ini aku bisa melihat matanya. “Untuk mereka kau tersenyum. Untukku, menangislah. Aku ingin kau jujur pada perasaanmu sendiri. Jika kau tidak bisa seperti itu di depan orang tuamu, di depan orang lain, setidaknya dihadapanku.”

Detik berikutnya bisa kulihat air matanya mengalir. Aku menariknya dalam pelukanku dan menepuk punggungnya dengan lembut. “Menangislah sampai puas,” kataku.

Setelah beberapa lama ia menangis histeris, akhirnya emosi Hamun mereda. “Ayo, kuantar pulang. Kau perlu istirahat,” ujarku namun Hamun menahanku.

“Wajahku bengkak, Ibu pasti tahu aku menangis. Aku tak mau membuatnya khawatir,”

Aku menghela nafas lalu kembali duduk disampingnya. Aku merengkuh kepalanya dan menyandarkannya di pundakku. “Tidurlah,” kataku.

“Gomawo, sajangnim,”

Aku berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa. Jantungku berdetak sangat kencang entah kenapa. Dengan perlahan, aku memindahkan kepalanya ke pahaku, agar ia tidur lebih nyaman. Aku menyelimutinya dengan kemejaku. Mataku tak bisa menolak keinginan hatiku untuk melihatnya lebih lama lagi. Tanganku sudah bergerak untuk membelai wajahnya. Selanjutnya, yang kusadari adalah aku mencium bibirnya. “Aku sudah gila,” gumamku. Aku tak menyangka tubuhku bereaksi seperti itu terhadap gadis ini. Apa aku mencintainya? Aku tidak mengerti. Apa yang membuatku jatuh cinta padanya?

*****

Waktu berlalu begitu cepat. Aku tidak merasakannya karena aku sangat menikmati kebersamaanku dengan Donghae sajangnim. “Donghae sajangnim, kau pulang saja. Aku bisa menyelesaikan maket ini lebih cepat jika kukerjakan sendiri,” ujarku.

“Aku tak salah dengar? Seorang Kang Hamun yang tidak bisa sendiri menyuruhku pulang untuk lembur sendirian? Sepertinya dia sudah benar-benar stress dengan hukuman dari Kyuhyun ini,” ejeknya tanpa memandangku. Ia sangat serius dengan kegiatan yang ia lakukan sekarang. “Kau, kurangi membuat masalah dengan Kyuhyun,” peringatnya.

“Yaa, sajangnim. Aku dihukum juga karena kau kalau lupa,” kataku yang membuatnya tersenyum.

Selama beberapa bulan ini aku terus berpikir apa yang membuatku jatuh cinta padanya. Kini aku tahu. Ia melihatku lebih dari apa yang kutunjukan padanya. Ia tahu saat aku sedih, ia tahu saat aku kesusahan, ia tahu saat aku membutuhkan orang lain, dan ia  yang selalu ada disaat aku seperti itu. Ia tidak tertipu dengan tameng yang aku buat. Ia membuatku merasa diterima bahkan saat aku tidak bisa menerima diriku sendiri.

Hukuman ini selesai juga walau akhirnya kami harus mengerjakan sampai pagi. “Aku belikan kopi untuk sajangnim dulu,” kataku.

Aku menuju ruangannya dengan segelas kopi yang kubelikan untuknya. Akan tetapi, saat aku membuka pintu itu, aku melihat seorang gadis memeluknya. Donghae sajangnim tampak tidak menolak pelukan itu. Terlebih lagi, ia tersenyum sambil mengeluh kepala wanita itu. Hatiku terasa sakit.

“Ah, mianhe, aku lupa mengetuk pintu sajangnim,” kataku. Dengan segera, aku meletakan kopi itu di mejanya.

“Tidak masalah. Hamun, kenalkan. Dia Song Hyejin,” ujar Donghae.

“Annyeong, nona Hyejin. Donghae sajangnim, permisi,” pamitku pada mereka berdua.

“Cantik sekali, ya, Nona Song Hyejin. Cocok sekali dengan Donghae sajangnim. Kudengar, mereka bertunangan sudah lama. Untunglah, aku kira Donghae sajangnim suka dengan Hamun. Kalau ada wanita secantik Song Hyejin disekitarnya, kurasa dia tidak akan tertarik dengan Hamun,” Itu yang kudengar. Sepanjang hari ini, Song Hyejin menjadi topik pembicaraan semua pegawai di kantor ini.

Aku menatap diriku di kaca kamar mandi. Aku kalah telak jika menjadikan Song Hyejin sebagai sainganku. Aku tidak mau menyerah tapi bukankah ini tandanya aku sudah kalah? Tapi.. kenapa saat itu ia menciumku?”

*****

“Hai hyung, Song Hyejin noona,” sapa Chanyeol saat ia masuk ke ruanganku.

“Hai sayang, kau pasti ingin menyambutku,” sapa Hyejin yang notabene adalah sepupu Chanyeol dan sepupuku juga. Chanyeol juga bekerja di perusahaan ini sejak 3 bulan yang lalu. Ia berada di divisi yang sama dengan Hamun.

Chanyeol menggeleng. “Ani. Aku mau bicara dengan Donghae hyung,” katanya.

“Masalah apa?”

“Hamun,” ujarnya. Aku tertegun mendengar nama itu namun aku berusaha bersikap tenang.

“Wae? Dia membuat masalah?” tanyaku.

“Ani. Aku mulai tertarik padanya, hyung. Aku mau mengenalnya lebih lagi. Kudengar hyung dekat dengannya. Jadi mungkin kalau hyung berbicara dengannya mungkin hyung bisa sebut-sebut namaku agar dia penasaran, hehe,” pintanya. Jantungku berdetak kencang. Aku ingin menolaknya tapi aku tak tahu bagaimana caranya.

“Hamun? Yang tadi itu, Donghae oppa?” Hyejin bertanya.

“Kau mau membantuku, kan, hyung?” tanya Chanyeol lagi.

“Hm, akan aku bantu,”

Untuk pertama kalinya, aku menyesal hidup dalam tubuhku ini. Bagaimana mungkin menjodohkan gadis yang aku cintai sekian lama ini dengan adik sepupuku?

*****

“Ada apa Donghae sajangnim?” tanyaku begitu masuk ruangannya.

Ia menatapku lalu memberikan sebuah undangan. ‘Acara tahun baru keluarga Lee’ itu judul event yang ada diundangan tersebut. “Kenapa aku diundang?” tanyaku tak mengerti.

“Chanyeol ingin kau datang. Ia suka padamu dan memintaku untuk membantunya. Ia pikir kau pasti akan menolak jika ia yang mengundangmu. Karena aku atasanmu, kau pasti akan datang, kan?” tanyanya. Hatiku tersakiti saat mendengar perkataannya itu. Jadi, ia ingin menjodohkan aku dengan orang lain. Ia tidak menyukaiku. Lalu apa artinya ia menciumku saat itu?

“Donghae sajangnim, aku tahu kau menciumku saat itu,” kataku. Bisa kulihat dirinya yang menatapku terkejut. “About that kiss, should I remember it or should I forget it?”

“Forget it,” katanya tanpa keraguan. Air mataku mengalir begitu mendengarnya. Kukira ia punya perasaan yang sama sepertiku, ternyata aku cuma pemimpi. “Aku hanya terbawa suasana saat itu. Lagipula, aku sudah punya Hyejin,” jelasnya.

Cukup, jangan bicara lagi. Aku tidak ingin mendengar apapun darinya. Aku keluar begitu saja dan menangis sendirian di kamar mandi. Hei Kang Hamun, kau ingin melihatnya bahagia, kan? Itu artinya kau harus merelakan ia saat ada orang lain yang akan membuatnya lebih bahagia. Tapi, aku tak menyangka kalau sesakit ini untuk merelakannya.

*****

“Oppa, kau suka juga pada Hamun?” tanya Hyejin yang membuatku tesadar dari lamunan.

“Ani,” sangkalku.

“Aku melihat kau memandangnya terus saat di aula tadi,” kata Hyejin.

“Jangan bercanda,”

“Jangan mengelak. Kau pasti merasa sakit melihat Chanyeol selalu ada didekatnya makanya kau menyendiri di balkon ini,”

“Kyuhyun belum datang ya sampai kau mengangguku terus, hm?” tanyaku.

“Bagian apanya yang membuatmu menyukainya? Aku penasaran,”

“Sudah kubilang, aku tidak menyukainya,”

“Hm, wajahnya biasa saja. Pendek jika dibandingkan diriku. Kurasa tidak terlalu pintar. Sepertinya ia tipe yang suka ikut campur urusan orang lain. Dia….”

“She is beautiful, but not like those girls in the magazines. She is beautiful, for the way she thought. She is beautiful, for the sparkle in her eyes when she talked about something she loved. She is beautiful, for her ability to make other people smile, even if she was sad. No, she isn’t beautiful for something as temporary as her looks. She is beautiful, deep down to her soul. That’s why I love her,”

“Gotcha, you said it yourself. Go get her befor it’s too late and you regret it,” kata Hyejin. “Chanyeol memang baik tapi apa kau yakin ia sayang pada Hamun seperti dirimu?” tanyanya lagi. “Bukankah air mata Hamun saat itu menunjukan kalau ia juga sayang pada oppa?”

*****

“Hamun, kau suka pestanya?” tanya Chanyeol padaku. Aku menggeleng. “Aku tidak suka pesta mewah seperti ini. Aku merasa terasing,” jawabku jujur.

“Apa yang kau lakukan?! Bajuku jadi kotor semua!” seru seorang wanita pada pelayan yang kini sedang mengambil pecahan piring dilantai.

Aku hendak menghampiri pelayan itu untuk membantunya namun Chanyeol menahanku. “Jangan, kalau kesana, nyonya itu bisa marah padamu juga,”

Aku melepas tangannya dan tersenyum padanya. “Aku lebih suka dimarahi daripada harus berdiam diri. Tenang, aku sudah biasa dimarahi Kyuhyun dan Donghae sajangnim,”

Aku menghampiri pelayan itu dan membantunya. “No-nona, tidak perlu,” katanya. “Kau akan malu lebih lama jika aku tidak membantu membereskan ini secepatnya,” bisikku padanya.

“Hei, kau, jangan membantunya. Itu hukuman bagi dia. Apa dia tidak tahu berapa harga gaunku ini? Bahkan biaya berobat kalau tangannya terluka tidak ada apa-apanya,” katanya. Aku menghela nafasku agar amarahku mereda namun sepertinya tidak bisa.

Aku berdiri untuk membuka tasku. Mengeluarkan sedikit uang tunai yang kumiliki dan kutaruh dalam genggaman tangannya. “Sisanya akan aku bayar setelah aku gajian,” ucapku. Ia memandangku dengan dengki dan sepertinya sebentar lagi ia akan mengumpat padaku.

“Yaa! Kau! Kau tak tahu aku siapa sampai bertingkah seenaknya seperti ini, ha?!” serunya. Saat aku hendak menjawab, Donghae tiba-tiba muncul di depanku.

“Kau tahu aku siapa?” tanya Donghae pada wanita itu. Ia langsung menutup mulutnya dan menatap Donghae ketakutan. Donghae mengeluarkan cek dan menuliskan nominal uang, entah berapa, lalu memberikannya pada wanita itu. “Yang lain, jika tidak mau membantu, tidak perlu melihat seperti itu,” katanya. Akhirnya Donghae sajangnim membantuku dan pelayan itu membersihkan potongan kaca itu.

*****

“Hamun, kau harus mengurangi sifat nekatmu ini. Kau tak tahu siapa dia? Dia bisa memecatmu kalau dia mau,” kataku padanya. Aku membawanya ke ruanganku.

Aku bisa mendengar Hamun menghela nafas. “Aku tahu resikonya. Lagipula kalau aku harus dikeluarkan, aku tak masalah,” jawabnya yang membuatku kaget.

“Wae?” tanyaku tak mengerti.

“Aku tak bisa melihat orang yang tersenyum pada wanita yang ia cintai. Hatiku sakit,” katanya. “Kau sendiri, kenapa menolongku dan membawaku kesini? Nona Hyejin pasti mencarimu,”

“Siapa pria yang kau cintai?” tanyaku sambil menatap matanya lekat.Aku tak mengabaikan debaran jantungku yang makin cepat.

Ia mengusap air mata yang sempat mengalir di pipinya. “Kau. Puas? Aku mau pulang,” ujarnya. Sebelum ia membuka pintu itu, aku menahan tangannya. Aku merengkuh wajahnya dan mencium bibirnya. Ia menatapku dengan kesal setelah aku melepas ciuman tadi.

“Should I apologize or should I confess?” tanyaku.

“Mwo? Yaa! Kau pikir, karena kau bosku dan telah menolongku tadi kau bisa bertingkah seenaknya? Kau sudah punya tunangan tapi menciumku sesukanya. Aku ma-,” kalimatnya terputus karena aku kembali menciumnya. “Should I apologize or should I confess? Answer it,” pintaku dengan senyum yang selalu kutunjukan hanya padanya.

“Confess,” jawabnya tegas.

“Hyejin sepupuku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku terlalu pengecut untuk menolak permintaan Chanyeol tapi aku tak mau melepasmu lagi sekarang. Masalah Chanyeol akan kupikirkan nanti. Dan, aku tidak akan membiarkanmu pulang malam ini.”

Aku memberikan piyama yang kupunya untuknya. “Kamar mandinya disana. Kau tak mau tidur dengan gaun itu, kan?” ujarku. Tak berapa lama kemudian ia keluar dari kamar mandi dan menghampiriku yang sedang duduk di sova kamarku.

“Sajangnim, kenapa kau tidak memperbolehkanku pulang dan menyuruhku tidur di kamarmu ini?” tanyanya.

Aku menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya. “Aku ingin bersamamu. Tapi kalau kau ingin lebih, aku tidak keberatan,” godaku yang membuatnya segera menarik tangannya dan wajahnya memerah.

“Sajangnim, kau belum mengatakannya tapi apa boleh aku menyimpulkan kalau kau juga cinta padaku? True or false?” tanyanya.

Aku mencium keningnya, lalu matanya, pipinya, dan bibirnya. “Menurutmu?” tanyaku menggodanya.

“Yaa, sajangnim! Berhenti menciumku seenaknya! Wanita butuh kejelasan, kau tahu?” serunya yang membuatku tertawa. “Kau sendiri tahu aku tidak suka banyak bicara,”

“Tapi aku tidak tahu kalau kau suka menyerang lebih dulu,” balasnya.

“Harusnya kau sadar, aku mencuri ciumanmu malam itu. Ingat?” kataku yang membuatnya malu.

“Akhh, geumanhe. Aku ingin mendengarnya. Sekali saja, tidak apa,” katanya.

Kini aku tersenyum, ani, sedari tadi aku telah tersenyum karena melihatnya berada bersamaku saat ini. Aku membelai wajahnya, berharap ia bisa tahu kalau saat ini aku sama nervousnya dengan dirinya. Lee Donghae, ingat, jangan lupa diri.

“Isn’t it obvious? I love you, since the beginning, Kang Hamun,” kataku. “And, Happy new year,”

“Apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu?” tanyanya bingung.

“Well, yeah, because my resolution in this year is to make you happy. I won’t let you to cover your sadness with smile because i’ll give you real happiness. I’ll try as hard as i can,” jelasku.

“Don’t,” selanya.

“Why?” Aku tak mengerti.

“You’re mine and i’m yours. So, let’s think about our happiness,”

“As long as you’re with me, i’ll be happy. And now, should i hug you or should i kiss you?”

End.