I hope you still want to read Donghae fanfiction hehe. And thank you so much for all of you who had read the previous fanfictions. I’m sorry i haven’t replied it yet. And thank you so much if you still willing to read this one hehehe.Enjoy reading!

 

“Donghae hyung! Annyeong! Lama tidak bertemu kau semakin tampan!” seru Taemin begitu melihat kekasih sahabatnya itu.

“Hyung, ada apa mengajak kami lari pagi seperti ini?” tanya Sehun tanpa niat menyapa sunbaenya itu.

Donghae tersenyum pada mereka berdua. “Aku mau mengajak kalian hidup sehat. Kajja,” kata Donghae yang lari lebih dulu di depan mereka. Taemin dan Sehun saling pandang sambil tersenyum seakan ada akal bulus dalam pikiran mereka.

“Hyung, kau mau tanya tentang Hamun pada kami?” tanya Taemin setelah ia berhasil menyusul Donghae.

“Jangan mengelak hyung, kami bisa melihatnya dari wajahmu. Haha,” canda Sehun.

“Hm, sebenarnya aku ingin tahu apa pendapat Hamun tentang diriku selama aku tidak bersamanya. Aku yakin member SG pasti sibuk dengan pasangannya masing-masing sehingga Hamun pasti lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kalian. Kurasa Hamun cerita banyak pada kalian berdua,” ujar Donghae.

“Sayangnya Hamun jarang bercerita tentangmu, hyung,” jawab Taemin yang disetujui Sehun dengan anggukan kepala. Langkah Donghae terhenti mendengar hal itu.

“Jeongmalyo?” tanya Donghae tak percaya. “Lalu, dia bercerita tentang apa?”

“Hamun selalu bercerita tentang teman sekelompoknnya di kampus. Ia pria yang sangat tampan kata Hamun. Badannya bagus, punya sifat romantis, dan selalu menolong Hamun kapan pun Hamun butuh pertolongan. Hamun tidak bilang, sih, tapi menurutku Hamun mulai menyukainya,” jelas Sehun.

“Mwo??” Donghae tak percaya dengan yang ia dengar. Ia tidak mau mempercayainya. Hamun yang tidak bisa jauh darinya dan beribu kali mengatakan kalau pria yang ia cintai hanya Donghae, kini ia punya perasaan pada pria lain.

Sehun dan Taemin saling pandang lagi. Mereka berusaha untuk mengontrol wajahnya saat melihat raut muka Donghae yang sudah pucat pasi. Kini Donghae berjalan dengan gontai, tidak bersemangat sama sekali.

“Aku pernah lihat sekali waktu pria itu mengantar Hamun ke studio. Harus kuakui, dia memang tampan, hyung,” kata Taemin.

“Sepertinya dia kaya juga. Mobilnya seperti mobil Siwon Hyung, padahal dia masih anak kuliahan,” timpal Sehun yang membuat Donghae makin terpuruk.

Taemin menghela nafas panjang. “Hyung, tapi bagaimana pun aku lebih setuju kau yang mendampingi Hamun. Aku tahu kau sangat sayang padanya,” katanya.

“Ne, bahkan Chanyeol hyung sampai mundur karena ia melihat Hamun bahagia dengan hyung,” sela Sehun.

“Tapi jika Hamun tidak mencintaiku lagi, aku bisa apa?” tanya Donghae dengan lesu.

“Kau bisa merebut hatinya kembali hyung,” jawab Sehun.

“Caranya?” tanya Donghae yang setelah itu mendengarkan penjelasan Taemin-Sehun dengan seksama.

*****

“Hamun, ada tamu untukmu,” ujar manager Hamun saat gadis itu sedang make-up untuk show di Music Core sore itu. Belum sempat Hamun bertanya, tiba-tiba sebuket bunga mawar yang indah ada di hadapannya. Melalui pantulan kaca, Hamun bisa melihat siapa pembawa bunga itu. Hamun langsung berdiri dan memeluk pria itu.

“Donghae oppa, nomu bogoshipo,” ujar Hamun nyaris menangis karena perasaan bahagianya. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan kekasihnya di awal tahun ini. Donghae membalas pelukan Hamun dan menyerahkan bunga itu setelahnya. “Oppa, kau akan menungguku?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

“Aku akan melihatmu dari bangku penonton nanti. Kau selesaikan make-up mu dulu, sayang,” kata Donghae sambil mencium kilat bibir Hamun. Hamun menuruti apa yang Donghae katakan. Ia sangat senang karena kehadiran kekasihnya itu.

*****

Setelah Hamun menyelesaikan show-nya, Donghae langsung membawa Hamun ke toko perhiasan. “Kenapa kita kesini, oppa?” tanya Hamun bingung.

“Aku mau memberimu hadiah, sayang,” kata Donghae pada Hamun. “Aku mau kalung berlian yang banyak permatanya,” ujarnya pada staff di toko perhiasan tersebut. Mendengar itu Hamun sangat kaget. Saat staff tadi memberikan beberapa pilihan, Hamun bertanya, “Berapa harganya?”

“17 juta won,” jawabnya dengan ramah. Hamun tercengang mendengar nominal itu. Ia lebih kaget lagi saat Donghae bilang, “Kau boleh pilih diantara ketiga design ini, aku akan membelikannya untukmu, sayang,” jawab pria itu dengan senyum merekah di bibirnya.

Hamun menelan lidahnya dan menarik Donghae keluar dari toko perhiasan itu. “Oppa, aku tidak suka modelnya tapi aku tidak enak mengatakan itu tadi. Mungkin oppa bisa menghadiahkan aku yang lain,” ucap Hamun.

‘Apa itu kurang mahal menurut Hamun?’ tanya Donghae dalam hati. Ia setuju dengan ide Hamun dan akhirnya membawa Hamun ke sebuah showroom mobil.

Hamun tak bisa berkata apa-apa saat ia melihat mobil Mini Cooper dengan beragam warna dan seri berjajar dihadapannya. Donghae tersenyum melihat tampang Hamun yang antusias itu. “Hamun,” panggilnya dengan lembut. “Kau boleh pilih mana yang kau suka,” katanya.

Wajah antusias Hamun tadi langsung berubah menjadi serius. “Oppa, kau mau menghadiahkan aku mobil?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan. Mendengar itu, Hamun langsung keluar dan berjalan menuju mobil Donghae lebih dulu.

“Hamun-ah, waeyo?” tanya Donghae tak mengerti. “Kau tak suka?”

“Nde,” jawab Hamun tegas. “Oppa, kita pulang saja,”

Mendengar cara bicara Hamun dan melihat wajahnya membuat Donghae tidak bisa melawan. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu. Saat di dalam mobil, Donghae merasa bersalah karena Hamun tampak marah padanya. ‘Apa tawaran hadiahku kurang mewah? Aku harus membuat Hamun senang dengan cara terakhir,’ tekadnya.

Donghae menggenggam tangan Hamun sembari ia menyetir. Ia mencium punggung tangan Hamun. “Mianhe, sayang. Aku tidak akan membuatmu marah lagi. Mau ke apartemenku sebentar?” tanya Donghae. Hamun menatap Donghae dan mendapati pria itu menatapnya dengan tampang memelas. Hamun tidak pernah bisa berkata ‘tidak’ pada Donghae kalau ia sudah seperti itu.

*****

Hamun tercengang saat ia melangkah memasuki apartemen Donghae. Semuanya tersusun rapi dengan dekorasi minimalis dan romantis. Di meja makan sudah tersedia wine dan makanan kesukaan Hamun. Ada aroma terapi yang menenangkan jiwa dan alunan musik yang mengundang untuk berdansa. “Would you like to dance with me, my princess?” tanya Donghae sambil mengulurkan tangannya.

Hamun menyambut tangan itu dan berdansa bersama kekasihnya. Ia tak berbicara apa-apa. Selama berdansa, mereka hanya saling pandang. Menyampaikan perasaan rindu yang tidak terucap lewat kata. Setelah itu, Hamun mencicipi makanan yang Donghae masakan khusus untuknya. Hamun menyentuh jemari tangan Donghae yang ditutupi oleh hansaplast. “Kukira ini akibat latihan oppa saat di markas ternyata kau luka karena belajar masak makanan ini ya?” tebak Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

“Memasak lebih susah daripada menembak, sayang,” candanya yang membuat mereka berdua tertawa.

“Gomawo,” kata Hamun sambil mencium jemari Donghae itu. “The pain will go away soon,” ucap Hamun. Donghae tersenyum menerima perhatian dari kekasihnya it. ‘Ternyata meski ia mulai menyukai pria lain, ia tetap baik padaku’ pikir Donghae. Sekarang ia hanya perlu melaksanakan rencana terakhir untuk merebut hati Hamun.

“Hm, Hamun, apa kau tak kepanasan?” tanya Donghae tiba-tiba yang membuat Hamun bingung. Ini masih musim dingin dan suhu diluar pun masih dibawah 0 derajat.

“Apa oppa sakit?” tanya Hamun khawatir sambil memeriksa suhu tubuh Donghae dengan tangannya. “Tidak panas, tapi mungkin itu gejala. Aku ambilkan obat untuk oppa. Kotak obat di kamar oppa, kan?” tanya Hamun. Ia langsung masuk ke kamar Hamun dan mencari obat itu di salah satu laci yang ada di kamar Donghae.

Tiba-tiba Hamun mendengar suara pintu di kunci. Ia menoleh dan mendapati Donghae menatapnya lekat. Kekasihnya berjalan menghampirinya. “Oppa, kenapa kau topless seperti itu? Nanti kau makin sakit, sayang,” kata Hamun.

Donghae tidak menjawab, yang ia lakukan selanjutnya adalah mencium bibir Hamun. Ia mencium Hamun dengan lembut namun intens. Ia bahkan merengkuh wajah Hamun dan membelainya tanpa melepas bibir Hamun. “I really love you, can you feel it?” bisik Donghae sambil menatap Hamun lekat, ia kembali mencium Hamun seperti tadi setelah mengatakan hal itu.

Hamun awalnya merasa takut, tapi ia bisa merasakan kalau kekasihnya sama nervousnya seperti dirinya. Ia bisa merasakan debaran jantung Donghae yang tidak biasa. Akan tetapi, Hamun sangat kaget saat Donghae tiba-tiba melepaskan jaket yang Hamun pakai. Hamun makin tercengang saat Donghae tiba-tiba menciumi lehernya sambil membuka kancing sweater yang Hamun gunakan.

“O-oppa, wa-waeyo?” tanya Hamun yang tidak direspon oleh Donghae. Hamun menahan tangan Donghae yang hendak membuka kaosnya. “Yaa! Oppa!” seru Hamun yang membuat Donghae menghentikan perbuatannya.

Kini Donghae menatap Hamun dengan wajah yang sedih. “Wae, Hamun? Apa aku tak bisa merebut hatimu lagi? Apa yang kulakukan ini tidak cukup? Apa tak bisa kau belajar mencintaiku lagi?” tanya Donghae lirih.

“Maksud oppa apa? Aku sayang padamu oppa,” ujar Hamun merengkuh wajah Donghae. Donghae pun bisa melihat bahwa di mata Hamun tidak ada kebohongan.

“Tapi, Sehun dan Taemin bilang-”

Hamun menghela nafas panjang begitu mendengar kedua nama itu. Hamun mencium kekasihnya dengan lembut. “Aku mengerti sekarang kenapa oppa seharian ini bersikap sangat aneh. Apapun yang mereka katakan, mereka hanya mengerjaimu, sayang,” jelas Hamun.

“Mworago?” tanya Donghae tak percaya. “Jadi, pria lain yang kau taksir itu tidak ada?”

“Mereka bilang seperti itu pada, oppa? Awas kalau aku bertemu dengan mereka nanti,” gumam Hamun penuh dendam.

“Jadi, Hamun, apa kau masih sayang padaku?” tanya Donghae untuk memastikan perasaan kekasihnya itu. Hamun tersenyum pada pria itu lalu berjalan menuju lemari Donghae dan mengambil piyama favorit kekasihnya. Ia memakaikan atasan piyama itu ke tubuh Donghae. “Kau bisa sakit oppa kalau tidak pakai baju lama-lama di musim dingin seperti ini. Aku tidak mau itu terjadi,” ujar gadis itu sambil mengancingkan piyama Donghae.

“Hamun, kau belum menjawabku,” pinta Donghae, kini ia memakaikan sweater Hamun dan mengancingkannya. Ia juga tidak mau kekasihnya sakit ditengah jadwal kerja dan kuliahnya.

“Oppa, lihat aku,” titah Hamun. Ia memegang kedua tangan Donghae. “I think, I can’t love someone else the way I love you. This feeling always grow deeper everytime I look in your eyes, because its tell me how big is your love, for me,” jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dari Donghae. “Aku tak butuh hadiah mewah darimu. I just need you,”

“I need you too, always,” jawab Donghae lalu mencium Hamun lembut. “Hamun, apa boleh kau menginap disini?” pintanya.

Hamun tersenyum pada kekasihnya. “Asal oppa tidak melakukan apa-apa padaku,” katanya.

Donghae tertawa mendengar hal itu. “Aku hanya akan memelukmu,”

*****

“Hyung!” seru Taemin dan Sehun bersamaan saat ia melihat Donghae sudah siap untuk berlari pagi.

“Hei, kalian!” balas Donghae dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan.

“Wah, sepertinya berjalan lancar,” tebak Sehun dengan senyum seringainya.

“Bagaimana hyung semalam? Ayo kita lari sambil hyung bercerita,” kata Taemin.

“Yaa! Kalian berdua! Berani-beraninya kalian mengerjai Donghae oppa kesayanganku!” seru sebuah suara yang membuat Taemin dan Sehun lari terbirit-birit. Hamun tanpa ragu langsung mengejar dua sahabat nakalnya itu. Dari kejauhan, Donghae tertawa melihat Hamun memukul tubuh Taemin-Sehun dan menendang pantat mereka. Donghae yang kasihan dengan duo magnae itu segera mengejar mereka.

“Kalian berdua harus berlari sambil menggendongku sebagai hukuman! Sehun dulu baru Taemin!” seru Hamun. Dengan berat hati, Sehun berjongkok agar Hamun dapat naik ke punggungnya. Namun, tiba-tiba Donghae menahan Hamun.

“Hamun, biar aku gendong,” kata Donghae.

Hamun menatap Donghae bingung. “Ani, nanti oppa capek. Aku mau menghukum mereka,”

“Tapi, aku cemburu melihat kau digendong pria lain, sayang,” jawab Donghae dengan wajah memelas. Melihat itu, lagi-lagi Hamun tidak bisa membalas. Ia menghela nafas lalu naik ke punggung kekasihnya. Ia menatap Sehun dan Taemin dengan penuh ancaman. “Jangan senang dulu, akan kupikirkan balasan yang setimpal untuk kalian!” serunya yang membuat Donghae tertawa terbahak-bahak sedangkan Sehun-Taemin sudah berlari meninggalkan pasangan itu.

“Oppa, aku berat. Pelan-pelan saja, jangan berlari. Kalau sudah capek, aku akan turun. Bilang saja,” kata Hamun.

“Ne, my princess,” jawab Donghae yang membuat Hamun tertawa.

Hamun mengeratkan pelukannya. “Oppa,” panggilnya. Saat Donghae menoleh, Hamun langsung mencium bibir Donghae kilat. Donghae tertegun karena perbuatan Hamun itu. Hamun tersenyum lalu menyuruh Donghae untuk lihat ke depan lagi. “Oppa, lihat depan,” titah Hamun.

Setelah berjalan beberapa langkah, Hamun kembali memanggil nama pria itu. “Donghae oppa.” Saat Donghae menoleh Hamun kembali menciumnya. “Nomu saranghae,” kata Hamun yang membuat Donghae tertawa.

“Kalau kau melakukan itu lagi, aku akan langsung membawamu kembali ke apartemenku,” ancam Donghae yang membuat Hamun tidak berani melakukan hal itu lagi.

“Hamun,”

“Wae, oppa?”

“ Everytime I remember you or when you’re with me like this, i’ve never stopped thanking God because he gave you to me,”

END.

(supaya ada bayangan kalo Donghae topless gimana) kwkwkwkw