“Sudah aku bilang aku tidak percaya hal seperti itu,” Jihyo menarik selimutnya kembali. Ia sudah muak mendengarkan kisah romantis sepupunya, Park MinAh dengan kekasih barunya yang super kaya, Eric Mun.

“Sepupu yang cantik, ayolah dicoba saja, sekali saja, MinAh membuka tirai jendela kamar Jihyo dan menarik selimut yang menutupi tubuh Jihyo. “Kau semacam zombie.”

Jihyo memelototi MinAh yang sudah mengganggu tidurnya. “Argh! Yasudah aku datang nanti malam! Sekarang biarkan aku tidur, onnie!”

MinAh bertepuk tangan kegirangan. “Yes! Begitu dong anak manis. Kuyakin kau akan dapat jodoh di festival kembang api nanti malam.”

Jihyo mengangguk seadanya dan menutup kepalanya dengan bantal.

+++

“Halo evil magnae!” Eric memeluk Jihyo dengan cepat dan merangkul lengan yeoja itu. “Kukira kau tidak akan datang.”

“Dipaksa. MinAh. Onnie” Jihyo membanting tubuhnya ke sofa. “Oppa aku boleh makan dan minum sepuasnya kan?”

“Sepuasnya, tenang,” Eric menyengir jahil. “Aku sudah beli restorannya, hahaha.”

Jihyo memelototi Eric, “Seriusss? Restoran ini kan paling terkenal di kota.”

“Ne. Kata MinAh dari restoran ini bisa melihat dengan jelas festival kembang apinya. Berhubung aku malas berdesak-desakkan diluar jadi aku beli saja restoran ini, hahaha.”

Jihyo hanya bisa menganga tak percaya. “Terserah kau lah. MinAh onnie mana?”

“Katanya dia masih ada sesuatu yang perlu dikerjakan. Kau minum apa?”

Jihyo menggeleng. “Aku ambil saja di dapur. Ini sudah jadi restoranmu kan? Aku bebas meminta apa saja di dapur kan?”

Eric mengangguk. “Bilang saja kau calon adik sepupu ipar Eric Mun. Arra?”

Jihyo mengangguk dan berjalan ke arah dapur. Ia melihat suasana sibuk di dalam dapur yang sedang mempersiapkan pesanan para tamu.

“Maaf agassi, tamu tidak diperbolehkan masuk ke dapur,” ujar seorang yeoja dengan pakaian putih ala chef menghampirinya.

“Mmh, kata Eric oppa boleh?’ Jihyo mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Biarkan dia, Eunju,” seorang berbadan tegap dengan suara berat yang menurut Jihyoo sangat maskulin menghampiri dirinya dan yeoja yang ternyata bernama Eunju itu.

“Ne, chef,” Eunju bergegas kembali menuju station tempat memasaknya.

“Aku menganggu ya?” Jihyo memandang namja yang dipanggil chef itu dengan sedikit takut. Jihyo tidak pernah melihat seseorang yang dapat mengintimidasinya seperti itu, bahkan hanya dengan berdiri di hadapannya.

“Gwenchana, nona Park. Kami sudah mendapat pemberitahuan jika-”

“Tunggu, aku bukan Park MinAh. Aku sepupunya,” Jihyo dengan cepat meralatnya. “Aku rasa aku lebih baik tidak mengganggu tugas kalian, maaf.”

“Pasti ada sesuatu yang ingin kau pesan kan?” Chef itu kini tersenyum kepada Jihyo.

“Strawberry shortcake?” Jihyo tertawa kikuk dan rasanya ingin menampar dirinya sendiri. Sudah datang ke restoran semacam ini kenapa dia malah meminta Strawberry shortcake ketimbang makanan mahal sekalian.

“Baik tuan puteri,” namja itu tersenyum.

“Heh?’ Jihyo tak percaya apa yang ia dengar. Apa semua orang yang menjadi karyawan Eric oppanya harus seaneh dia?

“Park MinAh ratunya, iya kan?”

+++

“Jadi saat terdengar suara kembang api pertama kali, kau lihat ke atas langit, lalu ucapkan keinginanmu, dan orang pertama yang kau lihat pasti akan jadi kekasihmu,” cerocos MinAh.

“Kalau orang pertama yang aku lihat kakek-kakek bagaimana?” Jihyo memanyunkan bibirnya.

“Tidak mungkin! Buktinya ada kan,” MinAh merangkul lengan Eric dengan mesra.

“Oppa, kau percaya hal ini?” Jihyo memohon agar kekasih sepupunya itu masih sedikit logis.

“Entah. Tapi buktinya aku langsung tertarik saat melihat MinAh di tengah kerumunan orang di festival kembang api tahun lalu.”

“Agassi, ini pesanan anda,” seorang pelayan mengantarkan strawberry shortcake pesanan Jihyo.

MinAh langsung bersuara ‘ooowwwwh’ begitu melihat betapa cantiknya sepotong kue di hadapannya. “Siapa yang membuat kue ini?”

“Chef Choi sendiri yang membuatnya, agassi,” jawab sang pelayan.

“Aaaaakh, cute!” pekik MinAh. “Ayo dicoba Jihyo, dicoba.”

Jihyo dengan malas menyendokkan kue itu ke dalam mulutnya, bibirnya tidak bisa menahan untuk mengembangkan senyum.

+++

Jihyo memutuskan untuk berjalan-jalan lebih dulu, ia tidak mau bersama MinAh dan Eric yang sudah membuat Jihyo mual dengan tingkah romantis ekstrim mereka. Pesta kembang apinya baru akan dimulai setengah jam lagi.

Jihyo dengan berhati-hati melengkahkan kakinya diantaranya kerumunan oengunjung yang ingin menyaksikan pesta kembang api. Namun tiba-tiba kerumunan berteriak heboh, entah trjadi apa, semuanya mulai saling mendorong dan berdesak-desakan. Seseorang berlari ke arah Jihyo dan menabraknya dengan keras hingga dia terjatuh.

“Bangun!” teriak seorang namja tak berapa lama orang yang menabrak Jihyo terus berlari meninggalkannya. “Kau lihat orang yang tadi menabrakmu?”

Jihyo menggeleng.

“Cepat bangun!” Namja itu menarik tangan Jihyo untuk membantunya berdiri, namun Jihyo dengan cepat menampik tangan namja itu.

“Jika kau tidak mau membantuku, tidak usah marah-marah seperti itu!” Jihyo memelototi namja di hadapannya.

“Kau tidak tau orang yang menabarakmu tadi itu buronan, aish!” namja itu mengambil walkie talkie dari jaketnya dan berbicara sesuatu.

Jihyo memandangi namja yang tinggi menjulang di hadapannya, meskippun namja itu menggunakan kemeja berwarna biru tua dengan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat seperti foto model, namun dari perkataannya tadi dan pembicaraan namja itu di walkie talkie, sepertinya namja itu polisi.

“Detektif Kim, buronan sudah ditangkap,” ujar namja lainnya menghampiri Jihyo dan namja itu.

Namja itu masih berbicara dengan rekannya dan Jihyo sudah tidak ingin memperpanjang kemarahannya kepada detektif di hadapannya. Jihyo pun melangkah menjauh dari mereka.

“Agassi, tunggu,” cegah namja itu. “Maaf aku tadi membentakmu. Orang itu bisa membahayakanmu,” namja itu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, sapu tangan.

“Awww,” Jihyo meringis ketika namja itu mengikatkan sapu tangannya ke lengan Jihyo yang ternyata sudah mengucurkan darah. “Terima kasih, detektif.”

Namja itu tersenyum, dan tanpa sadar Jihyo ikut tersenyum melihatnya.

+++

10, 9, 8, 7, 6

Semua orang menghentikan aktivitasnya, mulai menghitung mundur munculnya deretan kembang api.

“Baiklah tidak ada salahnya mencoba apa yang dikatakan MinAh onnie,” Jihyo memandang ke atas langit yang masih gelap.

5,4,3,2,1

Festival kembang api dimulai, sederet kembang api mewarnai langit dan membuat semua orang bersorak dan terpukau melihat keindahan kembang api.

Jihyo memejamkan matanya, mengucapkan apa yang MinAh suruh di dalam hati.

‘Baiklah, jika memang ini bukan cerita khayalan MinAh onnie saja. Pertemukan aku dengan orang yang bisa mencintaiku sepenuh hati.’

Jihyo membuka matanya dan melihat kedepan, kearah kerumunan.

Ia hampir memekik ketika melihat orang pertama yang ia lihat ketika membuka matanya.

Dua orang tak jauh di hadapannya yang sedang berbalik memandang Jihyo yang terpaku seperti melihat hantu.

“Oh tidak.”