image

Setelah berminggu-minggu jadwal yang padat dan panjang sehingga menyebabkan ia tidak bisa bertemu dengan belahan jiwanya, Kyuhyun memutuskan Hyejin akan menjadi orang pertama yang ia temui begitu ia kembali ke Seoul. Ia berencana akan mengunci Hyejin di kamar bersamanya, menghabiskan satu harinya dengan wanita itu. Ia akan menebus puluhan hari tanpa Hyejin hari ini.

“Merindukanku?” Kyuhyun langsung memeluk Hyejin begitu bertemu dengan belahan jiwanya. Hyejin hanya memberikan tepukan pelan pada punggung Kyuhyun dan mengecup pipi pria itu tanpa semangat. “Tampaknya kau tidak merindukanku,” kata Kyuhyun kecewa. Ia sudah berharap wanita itu akan melompat ke pelukannya dan menghujaninya dengan puluhan ciuman mesra.

Hyejin menatap Kyuhyun dengan perasaan bersalah. Ia tahu bahwa ia telah gagal memenuhi ekspektasi Kyuhyun bahwa seharusnya sepasang suami istri yang sudah lama tidak bertemu akan langsung bermesraan saat bertemu kembali. “Maafkan aku. Tentu saja aku merindukanmu. Aku hanya terlalu lelah. Maafkan aku. Sungguh,” ucap Hyejin nyaris menangis tanpa sebab.

“Jangan katakan itu. Aku mohon. Aku yang salah. Maafkan aku. Ya, sayang? Jangan menangis. Aku mohon.” Kyuhyun justru ikut merasa bersalah saat melihat Hyejin nyaris menangis karenanya. Namun Hyejin bukannya menahan air matanya agar tidak keluar, justru menangis. “Lebih baik kita makan sekarang. Aku sudah bosan selalu makan sendirian di dalam kamar hotel.”

“Kau tidak makan bersama para member?” Tanya Hyejin dan Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Manajer? Staff? Kru?” Kyuhyun menggelengkan kepalanya sekali lagi.

“Aku makan bersama mereka tapi rasanya berbeda jika bersamamu,” kata Kyuhyun yang berhasil membuat Hyejin mengusap air matanya dan tersenyum. “Kau mau makan apa? Daging? Sayur? Ikan?”

“Kau sudah bisa makan sayur?” Tanya Hyejin tidak percaya. Kyuhyun pun menggelengkan kepalanya.

“Aku mau makan galbitang. Kalau kau mau makan sayur-sayuran, kita akan ke tempat yang menyediakan sayur-sayuran dan galbitang,” jawab Kyuhyun disusul senyuman jahil khas miliknya.

“Kalau begitu, aku akan siap-siap. Setelah makan, kita ke rumah eommonim. Aku rasa ia juga merindukan anaknya yang sudah berminggu-minggu tidak pulang.”

“Apa kita akan menginap di sana?”

Hyejin mengedikkan bahunya. “Kita lihat nanti. Aku tidak tahu seberapa besar kerinduan eommonim kepadamu. Mungkin saja ia akan menahan kita di rumahnya.”

“Dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menelanjangi istriku? Aku tidak mau.”

Hyejin hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan suaminya. Ia tahu pria itu hanya beralasan agar tidak menginap di rumah orang tuanya karena ia lebih suka berada di rumahnya sendiri yang sudah lama ia tinggalkan. Soal menelanjangi istrinya, Kyuhyun sudah terbiasa melakukan hal tersebut di manapun asal di tempat tertutup.

“Aku mau mengambil tasku dulu dan kita langsung berangkat.”

“Kau sudah mengatakan hal itu bermenit-menit yang lalu dan yang kau lakukan tidak beranjak dari sisiku. Apa yang kau harapkan? Sedikit bemesraan sebelum kita pergi?” Senyuman nakal Kyuhyun terpatri sempurna di wajah pria itu membuat godaannya semakin berarti.

Hyejin mencubit perut Kyuhyun lalu beranjak pergi mengambil tasnya di dalam kamar. “Kau tampaknya sudah lupa bahwa aku sedang lelah, tuan Cho. Aku tidak mau mengecewakanmu,” kata Hyejin sambil berjalan kembali menuju Kyuhyun.

Kyuhyun menarik Hyejin kembali ke dalam pelukannya lalu mencium bibir wanita itu beberapa kali. “Kau tidak pernah mengecewakanku. Kau tahu itu? Kecuali saat-saat dimana kau menolakku,” kata Kyuhyun dengan suara yang semakin lama semakin melemah untuk menunjukkan kesedihan palsunya.

Hyejin tertawa geli melihat tingkah suaminya lalu menjelajah wajah suaminya dengan ujung jari telunjuknya dengan cara yang sangat menggoda. “Kau tahu aku tidak pernah berhasil menolakmu,” ujar Hyejin lalu mencium bibir Kyuhyun dengan intens, merangsang insting terliar pria itu keluar dari persembunyiannya.

“Kau…” Kyuhyun menggigit bibir Hyejin sambil tertawa. “Menggodaku lebih dulu. Rasakan akibatnya.” Tiga detik berikutnya, Hyejin sudah berada dalam gendongan Kyuhyun hanya dengan memakai kaus dan celana dalamnya. Entah sejak kapan Kyuhyun berhasil melepas celana jeans-nya.

Hyejin merangkul leher Kyuhyun dengan erat sambil mengecupi leher pria itu. “Kita harus melakukannya dengan cepat. Aku belum makan dan kita masih harus ke rumah orang tuamu,” ujar Hyejin dengan nafas terengah-engah.

Kyuhyun tertawa di tengah kegiatannya bergerilya di dada Hyejin. Ia tertawa penuh seperti sudah bertahun-tahun tidak tertawa. “Kenapa kau sangat tidak sabaran? Kita masih punya banyak waktu. Kita bisa menggunakan waktu makan kita. Kita bisa langsung pergi ke rumah orang tuaku dan makan di sana,” ujar Kyuhyun lalu mencium bibir Hyejin.

“Kau selalu…” Hyejin turun dari gendongan Kyuhyun namun tidak melepaskan ciumannya dengan Kyuhyun. “Seperti itu,” lanjut Hyejin setelah berhasil menarik bibirnya dari rengkuhan bibir Kyuhyun. Keduanya saling menatap lalu tertawa.

Kyuhyun bergerak lebih dulu. “Ayo kita lakukan dengan cepat. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” katanya lalu melakukan apa yang sudah ada di pikirannya sejak hari pertama ia meninggalkan Hyejin.

“Lihat, siapa yang tidak sabaran? Bukankah kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya?”

Kyuhyun mengangkat tubuh Hyejin kembali ke dalam gendongannya lalu menggigit leher wanita itu saking gemasnya. “Apa kau sudah berubah menjadi drakula, tuan Cho?” Goda Hyejin membuat Kyuhyun semakin gemas.

“Berhenti menggodaku atau aku akan membuatmu menderita sepanjang hari,” kata Kyuhyun dengan mulut setengah tersumpal daging Hyejin. Hyejin hanya tertawa mendengarnya. Wanita itu balas menggigit leher Kyuhyun yang menurutnya menjadi berkali-kali lebih nikmat setelah berminggu-minggu tidak merasakannya.

“Uhm, aku rasa aku akan minta maaf pada eomma dan appa karena kita akan datang terlambat,” ujar Kyuhyun dengan cepat sambil membawa wanitanya ke tempat tidur yang empuk di dalam kamar mereka.

——

“Kenapa kalian datang terlambat? Aku sudah menyiapkan makanan dan harus memanaskannya karena kalian datang bukan untuk makan siang melainkan makan malam,” omel nyonya Cho saat melihat anak laki-lakinya dan menantu kesayangannya berdiri di depan pintu rumahnya, terlambat 5 jam dari waktu yang mereka janjikan.

Hyejin tersenyum lalu memeluk ibu mertuanya dengan hangat. “Hai, eommonim-ku yang makin cantik. Tadinya aku mau datang untuk makan siang tapi anak eommonim yang satu ini menahanku,” kata Hyejin sambil menunjukkan bercak-bercak kemerahan di lehernya.

“Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Anak ini pasti melampiaskannya habis-habisan kepadamu,” ujar nyonya Cho sambil menjitak kepala Kyuhyun. “Dasar anak nakal. Bagaimana bisa hanya itu yang ada di pikiranmu?”

“Aku sudah berminggu-minggu tidak menyentuhnya dan aku rasa bercinta seharian penuh dengan istriku sendiri setelah berminggu-minggu yang panjang, tidak melanggar hukum.”

“Haish! Tapi seharusnya kau memperhatikan kondisi istrimu juga. Semalaman ia bekerja mengejar deadline. Seharusnya ia istirahat sepanjang hari di atas tempat tidur bukan memuaskan nafsumu.”

Hyejin hanya tertawa melihat ibu mertuanya yang selalu membela Hyejin apapun yang terjadi meskipun ia berada dalam posisi yang salah sekali pun. “Eommonim, sudah. Ayo kita masuk. Eommonim masak apa?” Tanya Hyejin sambil merangkul ibu mertuanya. Kedua wanita itu membiarkan Kyuhyun yang menutup pintu rumah.

“Aboeji!!” Seru Hyejin saat melihat ayah mertuanya lalu memeluknya dengan penuh kehangatan. “Aboeji terlihat lebih tampan.”

“Kau tidak boleh menyebut tampan pria lain termasuk Appa-ku,” kata Kyuhyun menyela kemesraan ayah dan istrinya.

“Apa suamimu secemburu itu, Hyejin-ah?” Tanya ayah Kyuhyun lalu mengecup pipi menantunya dengan penuh kasih sayang.

“Ya, dia secemburu itu. Menyenangkan bukan punya suami seperti anak Appa itu? Dia pasti mengikuti semua kegiatanku. Mengecek aku pergi dengan siapa dan apa saja yang aku lakukan. Aku juga tidak perlu repot-repot memberikan laporan kepadanya karena ia pasti sudah tahu lebih dulu. Iya kan, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mendecak kesal namun ketiga orang terpenting dalam hidupnya hanya menertawainya. “Kau memang menyebalkan, Song Hyejin. Awas kau,” kata Kyuhyun.

Hyejin hanya tersenyum lembut kepada suaminya. Ia lalu duduk di sebelah Kyuhyun dan memeluk pria itu dengan erat. “Kau juga menyebalkan tapi aku tetap mencintaimu,” ucap Hyejin dan membuat Kyuhyun kehilangan kesadarannya. Ia seperti sedang dibawa terbang ke udara.

“Aku juga mencintaimu,” balas Kyuhyun lalu mencium bibir Hyejin dengan intens. Dengan sekuat tenaga, Kyuhyun berusaha agar dirinya tidak lepas kendali. Setidaknya, tidak di depan kedua orang tuanya.

“Aaaah… Seharusnya aku sudah menimang cucu kalau melihat keganasan kalian seperti ini,” komentar ibu Kyuhyun melihat kelakuan anak dan menantunya. “Apa kalian belum terpikir untuk punya anak?”

Kyuhyun dan Hyejin sama-sama tertawa. Dengan kompak mereka menjawab, “Belum.”

“Bagaimana bisa? Apa kalian tidak bosan hanya berdua terus? Hampir 10 tahun.”

“Tidak,” jawab keduanya lagi dengan kompak.

Eomma Kyuhyun hanya menarik nafas saking kesalnya. Kedua anaknya, Kyuhyun dan Ahra, sama saja. Tidak ada satupun yang ingin segera memiliki anak. “Hyejin-ah, kalau Kyuhyun yang memaksamu karena ia belum ingin memiliki anak, kau harus bilang padaku.”

“Kami punya perjanjian, eommonim. Kami akan memiliki anak setelah Kyuhyun masuk wajib militer. Setelah ia tidak punya jadwal sebagai seorang Cho Kyuhyun. Aku janji,” kata Hyejin mencoba mengatakan selembut mungkin agar tidak menyakiti hati ibu mertuanya.

Nyonya Cho hanya bisa pasrah dan tuan Cho menepuk pelan bahu istrinya untuk melipur kekecewaan wanita itu.

Hyejin merasa agak bersalah namun itu sudah keputusannya setelah menikah dengan salah satu laki-laki paling populer di negaranya. Selain itu, ia tidak mau menambah pikiran Kyuhyun dengan kehamilannya. Pikiran Kyuhyun sudah cukup penuh dengan jadwal-jadwalnya.

—–

Sesuai perkiraan Hyejin, melihat tingkah laku mertuanya yang meskipun tidak berhenti mengoceh kepada anak laki-lakinya tapi sesungguhnya ia sangat merindukan Kyuhyun, eomma Kyuhyun memaksa mereka untuk menginap di rumah.

Seperti biasa, Kyuhyun dan Hyejin mendapatkan kamar yang dahulu merupakan kamar Kyuhyun. “Hyejin-ah, kau sungguh-sungguh akan menepati janjimu kan?” Tanya Kyuhyun yang sedang sibuk bermain game dengan ponsel pintarnya kepada Hyejin yang sedang memakai krim malam di depan meja rias.

“Janji yang mana? Aku memiliki banyak janji denganmu, aku pikir-pikir,” sahut Hyejin dengan santai.

“Aku tidak peduli dengan janjimu yang lain. Janjimu, kita akan punya anak setelah aku masuk wajib militer,” ujar Kyuhyun.

“Tentu saja. Memang kapan aku pernah tidak menepati janjiku?”

“Sering.” Hyejin berbalik menatap Kyuhyun dan melemparkan tatapan kesalnya. “Memang benar kan? Kau selalu berjanji akan menjemputku ke bandara kalau aku pulang tapi pada kenyataannya, sampai detik ini kau belum pernah menjemputku.”

“Itu karena aku tidak sempat. Aku juga mempunyai jadwal yang cukup padat, kau tahu?” Alasan Hyejin.

Kyuhyun tidak menanggapi alasan itu. Ia malah menambahkan janji-janji yang belum ditepati Hyejin. “Kau juga berjanji akan kencan di tempat terbuka jika aku nomor satu dengan A Million Pieces. Aku nomor satu dan kau belum juga menepati janjimu.”

“Kau juga jarang menepati janjimu. Kau bilang akan selalu menghubungiku meski kau sedang sibuk sekalipun. Kenyataannya, kalau aku sedang beruntung, kau hanya akan menghubungiku dua hari sekali.”

Kyuhyun meletakkan ponselnya di laci nakas di samping tempat tidurnya. Ia lalu menepuk-nepuk sisi yang kosong di sebelahnya. “Sini, aku akan memasangkan masker untukmu,” kata Kyuhyun.

Hyejin pun berbaring di sebelah Kyuhyun dan membiarkan pria itu memasangkan masker tisu di wajahnya. “Kau sedang tidak ingin berdebat ya?” Tanya Hyejin tidak leluasa karena masker yang dipakainya.

“Besok aku sudah harus pergi lagi, jadi aku tidak mau meninggalkanmu dengan pertengkaran. Lebih baik kita habiskan malam ini dengan berbincang sampai kita terlelap. Jadi, apa yang akan aku lakukan setelah aku tinggal pergi besok?” Tanya Kyuhyun sambil memijat lengan Hyejin.

“Aku akan kembali syuting, syuting dan syuting. Tidak ada pilihan lain. Kau mau pergi kemana besok? Aku sudah kehilangan jejak jadwal-jadwalmu,” sahut Hyejin dengan mata terpejam saking menikmati pijitan Kyuhyun.

“Thailand? Aku sendiri juga lupa kemana aku akan pergi. Besok aku akan memberitahumu,” kata Kyuhyun. “Ah, bagaimana kalau kau mengantarku ke bandara?”

“Jam berapa pesawatmu?”

“Jam sepuluh.”

Dengan sangat menyesal, Hyejin menggelengkan kepalanya. “Besok jam 8 pagi, aku akan dijemput manajerku. Mianhe.”

Kyuhyun mendengus kesal lalu menggigit lengan Hyejin dengan gemas. “Kenapa jadwalmu selalu mulai lebih awal dariku? Jadi besok, mungkin aku akan meninggalkanku di saat aku masih tidur? Begitu?”

“Kurang lebih.”

Kyuhyun melepaskan gigitannya lalu menggantinya dengan cubitan di lengan Hyejin. “Kau memang menyebalkan. Kalau begitu, aku akan menghabiskan malam ini bersamamu sampai puas. Malam yang santai namun berkualitas.”

“Malam yang santai.” Hyejin berbalik untuk memeluk Kyuhyun dan merebahkan kepalanya di atas dada Kyuhyun. Tangan Hyejin sudah meraba dada pria itu untuk menggodanya. “Atau malam yang…”

Hyejin sengaja menggantung ucapannya melihat Kyuhyun yang sudah menarik nafas panjang, menahan diri agar tidak tergoda. Ia menatap Kyuhyun dan kemudian mengecup bibir suaminya dengan lembut. “Malam yang santai. Karena kau sudah memberikan siang yang sangat berat untukku. Aku takut besok pagi tidak bisa bergerak jika malam ini kau melakukannya padaku,” kata Hyejin dengan lembut. Ia kemudian mengecup pipi Kyuhyun.

“Saranghae,” ucap Hyejin dan setelah itu merebahkan kembali kepalanya di atas dada Kyuhyun.

“Kau memang menyebalkan,” kata Kyuhyun lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala Hyejin. “Tapi aku mencintaimu.”

“Aku berharap tahun depan ada bayi yang menghalangi kita sehingga aku tidak bisa menelanjangimu setiap aku ingin melakukannya,” kata Kyuhyun yang mengundang tawa untuk Hyejin.

Gadis itu tertawa dengan mata terpejam. “Tahun depan. Aku janji,” sahut Hyejin. “Sekarang, tidurlah. Kau harus istirahat.”

Kyuhyun kembali mencium puncak kepala Hyejin lalu merengkuh Hyejin lebih erat ke dalam pelukannya. “Jalja. Selamat tidur, cantik,” ucap Kyuhyun.

Hyejin terlelap lebih dulu sehingga Kyuhyun memiliki kesempatan untuk menikmati wajah polos Hyejin yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini. Kyuhyun begitu menikmatinya karena ia harus merekam wajah cantik kesukaannya untuk obat tidur selama beberapa hari ke depan.

Kkeut!

xoxo @gyumontic