image

Sepasang suami istri itu sedang berpagutan dengan mesra ketika seseorang datang untuk mengganggu kegiatan mereka. “Apa kalian selalu seperti ini setiap pagi?” Tanya pria yang datang mengganggu itu dengan kening mengernyit dan tatapan mengejek. Hyejin nyaris terjatuh dari kursinya saking terkejutnya saat mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya. “Oppa!” Seru Hyejin begitu gembira melihat kakaknya berdiri menempel dinding dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Pria itu tersenyum ceria. Sebenarnya, pria itu sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilihat matanya tadi. Ia hanya ingin menggoda adik dan adik ipar kesayangannya.

Kyuhyun tersenyum sambil melambaikan tangannya membalas lambaikan tangan kakak iparnya yang sudah diserbu pelukan oleh Hyejin. “Hai, hyung. Apa kabar?” Sapa Kyuhyun.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” sahut Joong Ki. “Oh ya, apa aku mengganggumu?”

Kyuhyun menepuk-nepuk kepala Hyejin yang masih memeluk erat Joong Ki. Sambil tertawa ia menjawab pertanyaan Joong Ki, “Sama sekali tidak. Aku sudah puas mengeksploitasi Hyejin seharian kemarin. Hari ini hyung bisa meminjamnya seharian. Kebetulan aku ada jadwal sampai malam nanti.”

Joong Ki merasa agak kaget mendengar jawaban Kyuhyun. “Meminjam?”

“Hyejin sudah jadi istriku, hyung. Jangan lupa,” kata Kyuhyun sambil tertawa lebih keras. “Aku mandi dulu ya, hyung. Hye, jangan lupa aku sedang diet. Jangan pakai garam di setiap masakanmu.”

Kyuhyun kemudian pergi ke bagian lain rumahnya membiarkan sepasang kakak beradik itu saling melepas rindu. “Suamimu itu menyebalkan,” gerutu Joong Ki yang disambut tawa geli dari bawah dagunya. “Kenapa tertawa?”

“Bukannya oppa sangat menyukai Kyuhyun?” Ejek Hyejin mengingat Joong Ki adalah salah satu orang yang mendukung Kyuhyun untuk segera menikahinya bahkan Joong Ki termasuk yang berusaha keras meyakinkan Hyejin agar mau segera menikah dengan Kyuhyun.

“Aku masih sangat menyukainya namun ketika tadi ia bilang aku boleh meminjammu, aku merasa sangat kesal. Kau adikku. Aku lebih dulu kenal kau daripada dia. Bagaimana bisa dia bilang aku boleh meminjammu? Apa dia lupa siapa yang membantunya membujukmu agar mau menikah dengannya?” Joong Ki menggerutu membuat Hyejin semakin geli.

“Kyuhyun hanya bercanda. Kalau oppa mau kita menghabiskan waktu sampai besok, ia tidak akan marah. Hanya saja mungkin ia akan menyusul ke tempat kita berada begiu jadwalnya selesai.”

“Sama saja bohong.” Joong Ki kembali menggerutu kesal.

Hyejin tidak tahan lagi untuk tertawa lebih keras melihat oppa-nya. Dengan lembut, Hyejin menepuk dada Joong Ki. “Oppa mau sarapan apa? Roti bakar? Atau nasi sapi panggang?” Tanya Hyejin yang akhirnya melepaskan pelukannya dari Joong Ki setelah 10 menit memeluk pria itu.

“Apa saja asal tambahkan garam ke dalam masakanmu. Aku tidak sedang diet seperti si gendut,” jawab Joong Ki mengikuti langkah Hyejin ke dalam dapur.

“Si gendut?” Tanya Hyejin yang berhenti di depan peralatan masaknya sedangkan Joong Ki mengambil tempat duduk di meja makan yang hanya menyediakan sebotol air putih.

“Kyuhyun. Dia diet karena gendut kan?” Sahut Joong Ki tidak peduli jika orang yang ia maksud mendengar suaranya.

“Hyuuung, aku mendengarnya!!” Seru Kyuhyun yang sedang mencari sesuatu tidak jauh dari dapur. Hyejin hanya tertawa sambil mulai memasak dua makanan yang berbeda untuk kedua pria kesayangannya.

Joong Ki mengabaikan seruan adik iparnya. “Apa kau hanya punya air putih, Hye?” Tanya Joong Ki miris melihat hanya ada air putih di depan matanya padahal ia sangat menginginkan minuman dingin yang menyegarkan.

Hyejin menunjuk kulkasnya dan menyuruh Joong Ki untuk mengambil sendiri minuman yang ia mau. “Tapi kalau Oppa mau wine atau sejenisnya, Oppa minta saja ke Kyuhyun,” kata Hyejin yang tentu ditolak oleh Joong Ki. Ia lebih baik minum jus stroberi murah yang tinggal sisa setengah daripada harus meminta sebotol wine kepada Kyuhyun.

“Aku minta pudingmu juga ya, Hye,” kata Joong Ki dengan santai mengambil semangkok puding di kulkas Hyejin dan tanpa membuang waktu menyantapnya.

“Oppa,” panggil Hyejin yang masih sibuk memasak, membelakangi Joong Ki.

“Eoh,” sahut Joong Ki dengan mulut penuh puding coklat manis sesuai seleranya.

“Apa Oppa sudah punya pacar?” Tanya Hyejin tanpa basa-basi. Sebenarnya, pertanyaan itu adalah pertanyaan titipan dari eomma mereka yang pasti tiga kali sehari mengingatkan Hyejin untuk menanyakannya kepada Joong Ki ketika mereka bertemu.

“Belum. Wae?” Jawab Joong Ki yang masih fokus menghabiskan puding yang tinggal sisa sepertiga mangkok dalam waktu kurang dari lima menit.

“Eomma dan Appa mulai khawatir. Oppa kan sudah 30 tahun lebih sedikit, apa tidak berpikir untuk memiliki kekasih? Atau mungkin menikah?”

Joong Ki terdiam.

“Oppa,” panggil Hyejin.

“Pudingnya enak. Gomawo, adik kesayanganku,” ucap Joong Ki dengan tulus di tengah kekenyangannya. Ternyata Joongki terdiam bukan memikirkan kekhawatiran orang tuanya tapi ia mau lebih dahulu menghabiskan pudingnya.

Hyejin mendengus kesal melihat Joong Ki yang tidak menggubris pertanyaannya. “Oppa tidak menjawab pertanyaanku. Menyebalkan. Aku tidak suka diabaikan. Oppa tahu itu kan?” Joong Ki hanya tertawa melihat wajah kesal adiknya.

“Jadi hanya eomma dan appa yang khawatir aku belum punya pasangan. Kau tidak khawatir, adik kesayanganku?” Goda Joong Ki yang tahu betul watak adiknya yang dari kecil sangat posesif terhadap dirinya. Hyejin tidak pernah suka melihat Joong Ki bersama seorang gadis, sebaik apapun gadis itu.

Hyejin balik terdiam namun kali ini wanita itu terdiam karena berpikir keras mengenai nasib kakak kandungnya. “Sebenarnya, aku tidak suka kalau melihat Oppa pacaran apalagi menikah. Oppa pasti akan melupakan aku. Meskipun sedikit, aku tidak suka waktu Oppa untukku berkurang. Tapi, Oppa tidak mungkin hidup sendirian sampai mati hanya karena aku. Seperti aku, Oppa harus memiliki pasangan hidup. Menikah dan menghabiskan hidup Oppa dengan wanita yang Oppa cintai. Jangan cemaskan aku.”

Hyejin berkata begitu serius sampai ia meninggalkan kegiatan memasaknya namun ia tidak berani membalik tubuhnya untuk menghadap kepada Joong Ki karena ia tidak ingin menangis di hadapan Joong Ki hanya karena masalah sepele seperti ini.

Tanpa Hyejin ketahui, Kyuhyun sudah duduk di sebelah Joong Ki. Kedua pria itu saling bicara dengan suara berbisik yang tidak mungkin terdengar oleh Hyejin. “Istriku sangat seksi kan?” Ujar Kyuhyun dengan senyum cerah mengembang di wajahnya.

“Apa yang terjadi padanya? Bagaimana ia bisa bicara seperti itu? Apa kepalanya pernah terbentur sesuatu yang keras?” Tanya Joong Ki yang begitu terkejut mendengar perkataan adiknya yang tidak pernah ia bayangkan meskipun dalam mimpi sekalipun. Yang ia bayangkan selama ini, ia akan berusaha membujuk mati-matian adiknya jika suatu saat ia ingin menikah. Ia bahkan sudah siap dengan puluhan skenario jika Hyejin tidak mau mengajaknya bicara hanya karena tidak merelakan Joong Ki menikah.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Dengan senyum penuh kebanggaan kepada dirinya sendiri, Kyuhyun menjawab, “Aku membujuknya setiap hari. Kau harus berterima kasih padaku, hyung.”

Joong Ki hanya mendesis kesal melihat begitu percaya dirinya adik iparnya itu. Namun tidak perlu diragukan cintanya kepada Kyuhyun sama besarnya seperti cinta yang ia berikan kepada Hyejin. Joong Ki tahu meskipun kadang menyebalkan, Kyuhyun adalah pria baik. Pria terbaik untuk adik kesayangannya.

Joong Ki bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk Hyejin dengan penuh kasih sayang. “Aku mau rasa asin di nasi sapi panggangku itu karena garam bukan karena air matamu.” Bukannya berhenti menangis, Hyejin justru mengalirkan air mata dengan lebih deras.

“Hyung, aku minta maaf kalau rasanya nanti agak tidak pas,” kata Kyuhyun yang mengambil alih masakan karena Hyejin sudah tidak bisa diandalkan dalam hal ini jika sudah masuk ke dalam pelukan Oppa-nya apalagi ditambah sesengukkan.

Joong Ki mengelus punggung Hyejin dengan lembut berusaha menenangkan adik kecilnya yang tidak lagi kecil. “Terima kasih sudah mau memikirkanku, adik kesayangan. Kau sungguh menggemaskan,” ujar Joong Ki sambil tersenyum meskipun Hyejin tidak melihatnya karena wanita itu lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada Joong Ki.

“Jika nanti aku sudah menemukan wanita yang tepat, kau pasti orang pertama yang tahu. Aku akan mengenalkannya padamu dan meminta pendapatmu tentang dia. Kalau kau tidak setuju, Oppa tidak akan menikah,” lanjut Joong Ki dengan nada suara halus yang sangat menenangkan.

“Aku pasti setuju,” sahut Hyejin sambil sesengukkan kecil. Air matanya sudah mulai mengering. Ia tidak lagi menangis.

“Maksud Oppa, kalau kau merasa kurang baik untuk Oppa dan keluarga kita atau kau tahu sesuatu yang kurang baik dari wanita itu, kau berhak untuk tidak setuju. Okay, adik kesayangan?”

Hyejin menganggukkan kepalanya. Dengan erat, Hyejin memeluk Joong Ki dan begitu sebaliknya. Keduanya kemudian saling melempar tawa disusul tawa Kyuhyun dari meja makan. “Kenapa tertawa?” Tanya Hyejin kepada Kyuhyun.

“Melihat Joong Ki hyung memelukmu, aku merasa duniaku akan kembali  aman damai sentosa,” jawab Kyuhyun.

Joong Ki merasa heran. “Wae?” Tanyanya.

“Kalau ada hyung, Hyejin pasti akan berlari pada hyung di saat dia sedang sedih,” kata Kyuhyun yang membuat Joong Ki tersenyum penuh kebanggaan karena dirinya memiliki posisi penting dalam kehidupan adiknya. “Ketika aku tidak ada. Kalau aku ada, Hyejin pasti akan datang lebih dulu kepadaku,” lanjut Kyuhyun sambil tertawa keras membuat Joong Ki melempar serbet kepada Kyuhyun.

“Dasar kau gendut menyebalkan!” Seru Joong Ki yang membuat Kyuhyun tertawa makin keras. Melihat kakak beradik yang sangat mirip tidak hanya dari wajah tapi juga cara mereka bicara dan menyadari kenyataan bahwa ia akan berada di antara mereka sampai mati, itu sangat menyenangkan menurut Kyuhyun. Itu berarti ia akan selalu memiliki dua orang untuk menjadi korban kejahilannya.

Kkeut!

xoxo @gyumontic