“HYUUNG! AARGH!” Teriakan itu. Aku sangat benci teriakan itu. Teriakan yang kapan saja bisa membuatku terbangun dari aktivitas yang paling aku sukai, tidur. Sambil mengumpat kesal, aku turun dari tempat tidurku dan keluar menghadapi penyebab aku harus mengomel di jam 2 pagi. “YAK CHO KYUHYUN! SONG JOONG KI! KALAU KALIAN MASIH INGIN MAIN DENGAN TENANG, KELUAR DARI RUMAH INI!”

“Kau membangkitkan monster, bodoh!” Aku bisa mendengar desisan Oppa kepada Kyuhyun dan aku langsung melemparkan tatapan mata tajam kepada Oppa. “I heard you,” ujarku dengan Nada tajam dan Joong Ki Oppa menyengir lebar kepadaku, seperti biasa.

“The most beautiful monster I’ve ever met,” katanya sama sekali tidak lucu.

Tidak berbeda jauh dari Joong Ki Oppa, Kyuhyun tersenyum lebar kepadaku. “The best creature I’ve ever known,” katanya tanpa merasa bersalah karena sudah membangunkanku.

Aku berdecak kesal. Aku tidak punya cukup banyak kosakata untuk mencurahkan kekesalanku kepada duo putih susu ini. Mereka pasti juga tidak akan menanggapiku dengan serius. Aku hanya punya satu cara. “Kalian boleh keluar kalau masih ingin melanjutkan permainan ini,” kataku setelah mematikan konsol game mereka langsung dari pusatnya. Aku mencabut sambungan listriknya.

Keduanya serempak berteriak kepadaku dengan panik, “YAAAK SONG HYEJIN!!” Aku melemparkan tawa lebar, seperti yang mereka lakukan, namun bernada sinis. Kyuhyun dan Joong Ki Oppa terlihat frustasi. Mereka pasti belum sempat menyimpan tahap terakhir yang mereka mainkan tadi.

“Kalian bisa mengulangnya besok saat aku sedang tidak ada di rumah,” kataku lalu melenggang santai kembali ke dalam kamar. Dari dalam kamar, aku bisa mendengar kedua makhluk itu saling menyalahkan satu sama lain.

“Salahmu tidak bisa tutup mulut! Kenapa kau harus berteriak?!”

“Kenapa hyung lupa menyimpan permainan kita?! Apa hyung sudah terlalu tua untuk mengingat tugas pokok hyung sebagai pemimpin di permainan ini?!”

“KALIAN BERDUA, KALAU MASIH INGIN BERTENGKAR, SILAHKAN KELUAR!” Seruku dari dalam kamar. Keadaan seketika berubah sunyi. Tidak ada pertengkaran ataupun gerutuan. Hanya ada suara langkah kaki yang menjauh dan kemudian mendekat. Tidak sampai satu menit, aku mendengar pintu kamar tamu ditutup dan kemudian pintu kamarku.

“Tidak ingin melanjutkan permainanmu?” Tanyaku tanpa ada maksud menyindir. Aku hanya ingin mengganggunya saja. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil berjalan mendekat kepadaku. Dengan santai, ia menaiki tempat tidur lalu menyelipkan tangan kirinya di bawah kepalaku.

Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajah kelelahannya yang luar biasa tapi aku tidak pernah habis pikir bagaimana ia masih bisa punya tenaga untuk bermain permainan elektronik sialan itu di jam yang seharusnya bisa ia gunakan untuk istirahat. Begitu juga dengan pria yang tidur di kamar tamu.

“Kau sampai jam berapa?” Tanyaku.

“Setengah 12. Kau sudah tidur saat aku datang. Hanya ada Joong Ki hyung dan TV yang masih menyala,” jawabnya menurutmu aneh karena ia masih bisa tersenyum. “Maafkan aku sudah mengganggu istirahatmu. Sungguh, aku tidak sengaja.”

Aku bisa menangkap kesungguhan dari nada bicaranya. Ia benar-benar tidak sengaja dan menyesali ketidaksengajaannya itu. “It’s okay.” Dengan mudah, aku memaafkannya. Meskipun besok ia akan melakukan hal yang sama, aku akan memaafkannya.

“Thank you,” ucapnya setelah mengecup keningku. “Kau tidak ingin minta maaf kepada Joong Ki hyung karena sudah membentaknya?”

Keningku yang habis diciumnya seketika berkerut banyak. Aku tidak mengerti maksud ucapan Kyuhyun. Kenapa aku harus minta maaf kepada Joong Ki Oppa? Bukankah kebalikannya? Joong Ki Oppa yang harus minta maaf padaku karena mengganggu tidurku. Dan mengatakan aku monster.

“Kenapa aku?” Tanyaku singkat. Aku malas bicara panjang lebar. Aku yakin Kyuhyun pasti sudah mengerti maksudku.

“Karena kau membentaknya tadi, sayang. Joong Ki hyung tidak bersalah. Yang mengganggunya tidurku itu aku bukan Joong Ki hyung. Ia tidak bersalah. Justru seharusnya kau berterima kasih,” kata Kyuhyun yang membuatku semakin bingung.

“He said I’m a monster.”

“He was joking.”

Aku hanya mengerutkan keningku dan Kyuhyun tertawa gemas kepadaku. “He loves you a lot. Itu kenapa dia berada di sini selama aku tidak ada. Ia hanya ingin menjagamu.”

Tidak jarang aku merasa iri dengan kemampuan Kyuhyun memahamiku tanpa perlu aku berkata panjang lebar. Aku baru bisa memahami kemauan Kyuhyun jika ia menjelaskan dengan detik kepadaku.

Kembali kepada Oppa-ku yang saat ini mungkin sedang berbalas pesan dengan eomma karena ia tidak punya teman apalagi kekasih untuk berbalas pesan di hari selarut ini. Joong Ki Oppa memang selalu menginap di rumah jika aku sendirian. Kalau Kyuhyun pergi dan aku tidak tinggal di rumah mertuaku atau apartemennya SG, ia akan datang menemaniku meski kegiatannya berada jauh dari rumahku. Ia akan menggangguku sepanjang hari dengan lelucon-leluconnya atau bahkan cerita garingnya yang penting aku tidak merasa kesepian.

“Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun saat aku beranjak dari sampingnya.

“Berterima kasih kepada pria di kamar tamu,” jawabku sambil memakai sandal tidurku.

Kyuhyun tersenyum manis sekali yang membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya. “Tapi ia tetap harus meminta maaf kepadaku karena mengambil andil dalam aksi mengganggu tidurku,” kataku lalu berpindah ke kamar yang terletak tiga meter di sampingnya kamarku.

“Oppa,” panggilku dan kemudian pintu kamarnya terbuka.

“Kau belum tidur?” Tanyanya ketika melihatku dan aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Kenapa? Tidak bisa tidur lagi?”

“Bukan. Ada yang ingin aku sampaikan kepada Oppa,” jawabku. Joong Ki Oppa tersenyum jahil kepadaku namun tangannya yang sedang mengelus kepalaku berkata sebaliknya. “Apa yang ingin kau katakan, sayang?” Tanyanya dengan lembut.

“Aku ingin berterima kasih  karena Oppa sudah mau menjagaku. Di saat eomma Dan appa tidak ada, Oppa menjagaku. Ketika Kyuhyun pergi, Oppa juga yang menjagaku. Terima kasih.”

Joong Ki Oppa menatapku sambil tersenyum. Meskipun tipis, aku bisa melihat senyumannya, namun telapak tangan Joong Ki Oppa sudah bertengger di keningku. “Apa kau sedang sakit, Hye? Tumben-tumbennya kau berterima kasih padaku,” ujarnya diiringi seringaian yang aku tahu adalah seringaian jahil andalannya.

Aku mencubit perut Joong Ki Oppa lalu memeluknya dengan erat. Aku yakin ia bisa merasakan kasih sayang seorang adik dari pelukanku. “Selamat tidur! Mimpi indah. Aku menyayangi, Oppa,” ucapku yang dibalas dengan sebuah senyuman yang paling menenangkan yang pernah aku lihat sejak aku bayi.

Joong Ki Oppa menepuk pelan puncak kepalaku sambil berbisik, “Selamat tidur, adik kecil. Terima kasih sudah membiarkan aku tahu kau masih menyayangiku.” Aku tidak bisa berkata sedikitpun. Lidahku terlalu kelu untuk menanggapi ucapannya. Aku hanya bisa kembali memeluknya.

Joong Ki Oppa tertawa lalu melepaskan pelukanku. Dengan tatapan lembutnya, ia menyuruhku pergi. “Kembali ke suamimu sana. Jangan berisik kalau kau masih belum ingin memberikanku keponakan.” Kedipan mata jahilnya membuatku ingin mencubit perutnya lagi sampai ia menjerit kesakitan tapi Kyuhyun pasti akan mendengarnya dan kemudian menyuruhku meminta maaf. Sebenarnya, yang sedarah daging itu siapa?