Mungkin Hyejin sedang dalam tingkat kejenuhan yang sangat tunggi sehingga mampu membuatnya secara mendadak memesan tiket pesawat dan penginapan terbaik di Jeju. “Temani aku,” kata Hyejin kepada sahabatnya yang menolak dengan halus ajakan Hyejin karena mereka masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Maafkan aku, Hye. Aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak punya waktu Joong sampai dua minggu ke depan. Kalau boleh memilih, aku ingin ikut denganmu,” ujar MinAh, harapan terakhirnya, yang biasanya sangat mudah jika diajak senang-senang.

Hyejin menatap voucher elektronik pemesanan tiket pesawat dan hotelnya. Dengan malas, ia menghubungi orang terakhir  yang ia yakini pasti mau menemaninya. “Semoga mereka agak berbaik hati karena aku yang membayar semuanya,” human Hyejin sambil berusaha menghubungi orang-orang tersebut.

“Oppadeul,” panggilan Hyejin ketika panggilan grup-nya mulai tersambung. Hyejin dapat mendengar suara pria yang bisa ia kenali meskipun sedang tidur sekalipun.

“Hyejin-ah! Ada apa, sayangku?” Itu suara kakak laki-lakinya yang sangat bisa diandalkan dalam segala hal.

“Annyeonghaseyo, Joong Ki hyung.”

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun-ah!”

“Waeyo, jagiya?” Suara pria kedua adalah pria dimana Hyejin menggantungkan hidupnya. Pria yang tidak saja bisa diandalkan dalam segala hal namun juga dapat mempertanggungjawabkan komitmennya untuk hidup bersama Hyejin dalam susah maupun senang.

“Temani aku ke Jeju. Aku pusing. Aku butuh liburan,” kata Hyejin tanpa basa-basi. Hyejin bukankah tipe orang yang suka bercerita abesede terlebih dahulu sebelum menuju pokok pembicaraannya. Ia akan langsung mengatakan apa maunya.

“Kapan?” Tanya Joong Ki.

“Sekarang,” jawabnya Hyejin yang langsung mendapatkan respon mencengangkan dari kedua pria andalannya tersebut.

“SEKARANG?!” Keduanya kompak serempak berseru saking terkejutnya.

“Wae? Kalian tidak bisa? Aku sudah memesan tiket pesawat dan hotel. Kalau kalian tidak bisa, aku akan pergi sendiri,” kata Hyejin dengan nada mengancam.

Joong Ki menghela nafas panjang sedangkan Kyuhyun menggerakan kepalanya secara tidak beraturan karena ia bingung harus menjawab apa. Ia punya jadwal di Dubai yang tidak mungkin ia tunggakan karena ia sudah terikat kontrak lama sebelumnya.

Tanpa sepemgetahuan Hyejin, kedua pria itu saling berkirim pesan singkat.

Cho Kyuhyun
Hyung, ottoke?

Song Joong Ki
Kau bisa?

Cho Kyuhyun
Tidak bisa. Nanti malam aku harus ke Dubai.

Song Joong Ki
Aku juga tidak bisa. Tapi aku tidak mungkin membiarkannya pergi sendirian.

Cho Kyuhyun
Kau benar-benar tidak bisa, hyung?

“Oppadeul…” Hyejin mulai merengek dengan suara manjanya yang membuat Kyuhyun dan Joong Ki pusing.

“Kau memesan hotel dimana?” Tanya Joong Ki.

“Toscana. Junsu Oppa memberikanku kamar terbaiknya untukku,” jawabnya Hyejin.

“Apa hotelnya juga bisa menyedihkan mobil antar jemput terbaik untuk adikku yang paling cantik ini?”

Hyejin mendesah kecewa. Ia benar-benar akan pergi sendirian kali ini. “Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lusa, oppadeul,” ucap Hyejin dengan lesu membuat Kyuhyun tidak tega.

“Kau tidak bertanya padaku, sayang?”

“Aku sudah Tanya manajermu. Kau harus ke Dubai nanti malam dan baru kembali lusa. Sudah jelas kau tidak bisa. Kau tidak mungkin membiarkannya kan?”

“Memang tidak mungkin tapi kau bisa membatalkan rencana jalan-jalanmu ke Jeju. Kau bisa ikut aku ke Dubai. Bagaimana?”

Kekecewaan Hyejin berganti senyuman sumringah dalam hitungan detik. “Call!” Seru Hyejin kegirangan. Tanpa basa-basi ia segera meninggalkan panggilan grup yang dibuatnya sendiri. “Aku harus bersiap-siap. Sampai jumpa, suamiku yang baik. Sampai jumpa, kakakku yang tampan.”

Tinggallah Joong Ki dan Kyuhyun yang berada dalam ruang panggilan tersebut. “Dubai? Sekarang? Kau pasti menghasilkan banyak uang dengan ketenaranmu, adik ipar,” kata Joong Ki yang disambut tawa oleh Kyuhyun.

“Sekedar untuk pengetahuanmu, hyung. Aku membelinya dengan menggunakan fasilitas cicilan kartu kreditku. Tapi daripada Hyejin harus menginap di resor milik Junsu. Siapa yang menjamin pria itu tidak akan datang menemui Hyejin? Daripada hal itu terjadi, lebih baik aku membawa Hyejin ikut bersamaku,” kata Kyuhyun dengan tangan yang sibuk mengetik pesan kepada manajernya untuk memesankan satu tiket pesawat ke Dubai untuk Hyejin.

“Wow!” Komentar singkat Joong Ki yang hanya disambut dengan tawa oleh Kyuhyun.

“Kau akan merasakannya begitu bertemu dengan wanita yang tepat. Love is expensive, hyung. Very expensive,” kata Kyuhyun yang baru saja kehilangan limit kartu kreditku hanya karena sebuah tiket pulang pergi Seoul-Dubai jelas bisnis.

Joong Ki tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan adik iparnya. Tidak ada kata-kata Kyuhyun yang meresap ke dalam otak Joong Ki. Semuanya menguap begitu saja karena rasanya agak tidak masuk akal ia akan melakukan apa yang Kyuhyun lakukan. Meskipun ketika ia telah mendapatkan wanita yang tepat. Tentunya setelah Hyejin memberikanku lampu hijau.

“Okay. Selamat bersenang-senang kalau begitu. Jangan bawa pengaman, aku mohon. Aku ingin segera mendapatkan keponakan yang lucu-lucu,” ujar Joong Ki menutup pembicaraannya lalu kembali tertawa terbahak-bahak. Ia tahu Kyuhyun pasti tidak akan menjawabnya karena pria itu menginginkan hal yang sama dengannya, bayi yang lucu dan menggemaskan. Hanya saja, Hyejin masih bersikeras menundanya.

Kkeut!