Seoul, 8 April 2016

Sudah bukan masanya lagi ayam berkokok pagi-pagi buta untuk membangunkan manusia-manusia yang sedang terlelap nyenyak melepaskan kelelahan mereka. Ini sudah masanya ponsel pintar berdering nyaring tepat pada waktu yang telah diatur namun bisa diulur oleh yang merasa terganggu. Namun bagi sebagian orang, perubahan ayam menjadi ponsel pintar sama sekali tidak ada pengaruhnya.

Pria 28 tahun itu akan bangun jika ada orang yang membangunkannya.

“Kyuhyun-ah! Cho Kyuhyun!” Seruku yang sudah pusing mendengar bunyi alarm dari telepon genggam Kyuhyun yang sangat menyakitkan telinga. Masih dengan mata terpejam, aku mematikan alarm yang dipasang Kyuhyun untuk membangunkanku lalu menepuk-nepuk bahu Kyuhyun untuk membangunkan pria itu. “Kyuhyun-ah, bangun! Alarm-mu sudah bunyi!”

Aku merasakan tempat tidurku sedikit melesak dan kemudian kembali naik ke bentuk semula. Itu tanda Kyuhyun sudah bangun dan meninggalkan tempat paling nikmat di dunia. Kasur Empuk.

“Yaa Song Hyejin.” Cara memanggilnya selalu seperti itu. Seringkali aku melayangkan protes namun tidak ada perubahan apa-apa kecuali ia mengubahnya sekali menjadi ‘Hyejinnie’ dan aku merasa caranya memanggilku lebih baik.

Aku terlalu ngantuk untuk sekedar ingin melihat laki-laki telanjang di dalam kamar mandi yang dibatasi dengan kaca transparan. “Ada apa?” Sahutku masih dengan mata terpejam dan bahkan membelakangi kamar mandi hasil merenung Kyuhyun selama 5 bulan.

“Kau tidak ada kerja hari ini?” Tanya Kyuhyun yang dapat aku dengar dengan jelas karena ia tidak mengatakannya dengan bunyi suara normal melainkan berteriak.

“Tidak. Aku mau tidur,” jawabku dengan sisa-sisa nyawa dan tenaga yang masih bersemayam dalam tubuhku. Kali ini aku berharap Kyuhyun segera menyelesaikan mandinya dan kemudian pergi dari rumah ini. Aku ingin tidur nyenyak.

Aku merasakan tempat tidurku kembali sedikit melesak disusul beberapa tetesan air di mataku yang membuatku dengan sangat terpaksa membuka mataku. “Astaga.” Aku kaget tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk berteriak.

Wajah Kyuhyun berada tepat di atas wajahku, hanya terpaut beberapa senti. Ia tersenyum kepadaku dan kemudian mencium keningku. “Selamat pagi, ratu tidur sayang. Kau mau tidur sampai kapan? Sampai aku kembali minggu depan?” Tanyanya hanya dengan maksud menggodaku. Aku tahu.

Kyuhyun mengambil tanganku dan kemudian menempatkannya di pinggang kanannya, di batas antara handuk dan kulitnya. “Aku tidak akan tergoda. Kau harus segera siap-siap,” ujarku lalu menarik tanganku dari handuk bodoh yang tidak becus menutup bagian paling penting pada tubuh pria itu.

Kyuhyun menatapku kesal. Dari raut wajahnya, aku tahu ia juga kecewa. Ia pasti sangat menginginkan bagiannya yang sudah ditabung seminggu lewat 3 hari. “Aku sedang datang bulan.” Aku mengemukakan alasanku yang sebenar-benarnya, tidak ada bumbu kebohongan sedikit pun.

Kasurku kembali mengembang. Kyuhyun meninggalkan tempat tidur sambil menggerutu. “Kapan datang bulanmu selesai?” Tanyanya masih dengan nada kesal sambil memasukkan kepalanya ke dalam lubang kaus paling norak yang pernah aku lihat.

Sebuah kaus merah muda menyala dengan tulisan besar di bagian depan. “I AM SORRY. I AM MARRIED.” Aku benar-benar terbangun kali ini saking terkejutnya melihat kau yang dipakai Kyuhyun.

“Apa kau sudah gila, tuan Cho?”

Kyuhyun menatapku dengan polos, pura-pura tidak mengerti maksudku. “Ada apa, nyonya Cho?” Sahutnya dengan tenang. Ia juga menanggapi dengan santai ketika aku menunjuk kaus yang ia pakai.

“Apa-apaan itu?”

“Bukan apa-apa. Hanya sebuah kaus. Tidurlah kembali,” ujarnya dan yang aku lakukan adalah turun dari tempat tidur untuk melepas kaus norak itu dari badan Kyuhyun.

“Ganti. Warna pink tidak cocok untukmu. Kau jadi seperti banci,” kataku sambil mencob melepaskan kaus itu. “Angkat tanganmu!” Perintahku dengan galak karena aku tahu ini tidak akan mudah.

Kyuhyun mengangkat tangannya ke atas dan aku mengikuti dengan menaikkan kausnya namun ketika aku sampai di tengah, Kyuhyun menurunkan tangannya dan secepat kilat menggendongku serta mengadu punggungku dengan tembok terdekat.

“Yaa Song Hyejin. Sudah berapa kali aku bilang aku mencintaimu?” Tanyanya nyaris berbisik dengan tatapan mata yang sangat teduh langsung ke dalam mataku. Dalam hitungan detik, aku luluh. Aku melepaskan tanganku dari kausnya dan meletakkannya di kedua pipi Kyuhyun yang semakin lama semakin penuh.

“Jangan mengalihkan keadaan. Aku sudah tidak ingat berapa kali saking seringnya,” jawabku sambil tertawa kecil. Melihat wajahnya dari jarak kurang dari 5 sentimeter membuatku gemas. Aku mengelus pipinya dan kemudian menggigit pelan hidungnya yang tidak terlalu mancung namun tidak juga pesek.

“Aku juga tidak ingat tapi aku tidak akan pernah bosan mengatakannya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu,” katanya berulang-ulang sampai kami berdua saling tertawa.

“Terima kasih. Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu,” kataku lalu memberikan ciuman di kedua pipi Kyuhyun secara bergantian.

Kyuhyun menatap langsung mataku. Tatapan matanya begitu menggemaskan sehingga aku tidak sanggup jika harus menahan tawa. “Ya Tuhan. Kenapa kau menciptakan makhluk semenggemaskan ini? Harusnya kau dijadikan koleksi saja,” kataku yang hanya direspon oleh dengusan oleh Kyuhyun.

“Kau memang paling pintar mengulur-ngulur waktu tapi aku tidak akan melepaskanmu. Hati-hati kepalamu karena aku akan sedikit kasar,” katanya yang tanpa membuang waktu langsung menciumku. Ia menempelkan bibirnya di bibirku dan kemudian melumatnya lalu menggigitnya dan kembali melumatnya sampai aku nyaris lupa Kyuhyun harus segera pergi.

Dengan sangat menyesal, karena aku selalu menyukai ciumannya, aku menarik bibirku dari penguasaannya. “Kau belum siap-siap. Kau akan dijemput sebentar lagi,” kataku yang sama sekali tidak didengarkan oleh Kyuhyun. Ia kembali meraup bibirku dan mengekalsploitasinya sesuka hati.

“Kita masih punya banyak waktu. Bahkan untuk nonton film,” katanya disusul seringaian jahil yang sangat sangat menyebalkan.

Aku memukul punggungnya dan meluapkan kekesalanku. “Kalau begitu kenapa buat alarm jam 5 pagi? Aku pikir kau akan pergi pagi-pagi sekali,”  kataku yang hanya ditanggapinya dengan tawa santai yang meluluhkan kekesalanku.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya lalu menurunkan aku dari gendongannya sehingga kakiku bisa kembali merasakan lantai kamar tidur kami. “Aku capek menggendongmu,” ujarnya dan aku berterima kasih karena ia bisa merasakan lelah menggendong tubuhku. Biasanya, ia punya kekuatan yang cukup besar untuk menahanku.

“Tumben,” komentarku yang hanya mendapatkan sebuah seringaian darinya.

Kyuhyun melenggang menuju lemari untuk mengganti baju noraknya dengan baju yang jauh lebih baik. Ia memilih kaus coklat susu yang berada paling atas pada tumpukan bajunya di lemari dan aku tidak bisa bilang itu pakaian terbaiknya tapi setidaknya ia tidak memakai sesuatu yang norak.

“Sampai kapan kau mau memperhatikanku?” Tegurnya saat ia menangkap mataku yang memperhatikan penampilan Kyuhyun dari ujung kepala sampai ujung kakinya. “Aku hanya ingin memastikan kau memakai pakaian yang tidak norak.” Tawa Kyuhyun pun meledak.

“Aku akan memasak untukmu tapi aku punya syarat,” katanya tiba-tiba ketika ia sudah kembali berdiri di depanku dengan wajah tampan nan menggemaskan miliknya itu.

“Apa syaratnya?” Tanyaku.

“Kau harus terus memelukku sampai aku selesai memasak.”

Aku hanya punya satu tanggapan atas ide ajaib makhluk satu ini. “Tidak. Lebih baik aku yang memasak. Aku akan membuat sarapan terbaik untukmu.” Membayangkan aku hanya akan berada di belakang Kyuhyun, memeluknya dan mengikuti kemanapun ia bergerak sementara perutku sudah berteriak kelaparan. Tidak, terima kasih.

“Aku yang akan memasak.”

“Tidak,” kataku dengan tegas. Aku menjepit rambutku lalu keluar dari kamar untuk menunjukkan keahlianku membuat sandwich dan fusilli. Kyuhyun mengikutiku dari belakang dan melakukan apa yang biasa ia lakukan jika aku sedang menyiapkan makanan.

Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggangku dan meletakkan kepalanya di atas bahuku. Ia sudah menempel di belakangku. “Kau pasti belum cuci rambut.” Mulai. Kyuhyun tidak akan pernah komentar mengenai makananku namun dengan senang hati ia akan mengomentaribrambutku, lemak di perutku, lengan tanganku bahkan sampai sisa make up yang belum aku cuci bersih karena aku sudah terlalu ngantuk.

“Kau pasti sudah jarang olahraga. Lemakmu menggelambir dimana-mana,” katanya sambil mencubit lengan, perut dan dadaku. Yang terakhir, ia hanya memiliki niat menjahiliku. Aku bisa tahu dari caranya tertawa dan kemudian mencium pipiku.

“Cepat selesaikan masakanmu. Aku sudah lapar,” ujarnya lalu melepaskan pelukannya dan meninggalkanku sendirian di dapur. Hal yang sangat jarang terjadi di bawah atap rumah ini.

Aku tidak tahu kemana Kyuhyun pergi lebih tepatnya tidak peduli karena aku yakin ia yang akan kembali mencariku. Namun ternyata aku salah. Kyuhyun memanggil-manggil namaku, menyuruh aku menyusulnya. “Kau dimana?” Tanyaku dengan suara keras agar ia bisa mendengarku.

“Kamar. Cepat. Aku sudah lapar,” teriaknya. Tidak sabaran. Aku membawa makan pagiku dan makan paginya dalam satu tempat karena aku tidak mau repot. Sesampainya di kamar, aku agak terkejut melihat keadaan kamar yang gelap. Kyuhyun menutup tirai jendela dan mematikan lampu, menggantikannya dengan sinar dari proyektor yang memantul ke tembok.

Kyuhyun memasang sebuah film untuk kami tonton bersama. “Kita menonton apa?” Tanyaku sambil meletakkan makan pagi kami di atas meja di sebelah tempat tidur.

Kyuhyun hanya tersenyum dan menarikku untuk duduk di sebelahnya. “Kau orang pertama yang akan menonton dramaku. Aku akan menerima semua komentarmu yang paling sadis sekalipun,” katanya sambil tersenyum dan aku menyesal kenapa tidak memilih menuruti nafsunya saja tadi pagi. Setidaknya aku tidak akan melihat ia bermesraan dengan wanita lain.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun karena aku justru menjauh darinya.

Aku mengangkat kedua alisku sebagai jawaban. Seharusnya Kyuhyun sudah tahu alasan kenapa aku tidak mau menonton dramanya. Drama musikalnya yang sudah 7 judul saja tidak ada yang satu pun aku tonton. Alasannya, aku tidak suka melihat Kyuhyun menatap wanita lain seperti ia menatapku. Apalagi menyentuh mereka.

Kyuhyun menarikku kembali ke sebelahnya. Kali ini ia merangkulku dengan erat sehingga aku membutuhkan tenaga ekstra jika ingin lepas darinya. “Kau fans nomor satuku yang paling objektif. Aku membutuhkan pendapatmu untuk meningkatkan kemampuanku,” katanya.

Aku melepaskan rangkulan Kyuhyun di bahuku. Dengan cepat, aku berpindah ke dalam selimut dan membungkus tubuhku sampai sebatas pinggang. “Itu sarapanmu. Cepat kau makan lalu pergi. Aku tidak mau menonton dramamu. Aku mau kembali tidur,” kataku dengan tegas menunjukkan ketidakinginanku untuk menonton bersama Kyuhyun. Namun Kyuhyun tetap memasangnya.

“Kau menyebalkan!” Desisku kesal dan semakin memasukkan tubuhku dalam selimut. Aku tidak peduli dengan tawa Kyuhyun yang memenuhi seluruh kamar. Ia pasti sedang menertawaiku yang saat ini bertingkah seperti anak remaja umur tujuh belas tahun.

Aku merasakan tempat tidur di sebelahku sedikit melesak dan aku bisa merasakan wangi parfum Kyuhyun yang menguar ke hidungku. “Hei, kau cemburu?” Tanyanya sambil menyelipkan tangannya di bawah kepalaku. Ia juga menghujani kepalaku dengan banyak ciuman. Ia lalu membalik tubuhku karena tidak kunjung menoleh kepadanya dan aku memasang wajah cemberut.

Tangan Kyuhyun yang jelas lebih besar dariku menepuk-nepuk pipiku pelan lalu menurunkannya untuk mencari tautan yang lebih nyaman. Tanganku. “Kau cemburu,” katanya menjawab sendiri pertanyaannya.

“Lucu sekali,” sambungnya kemudian mencium bibirku dengan lembut. Sudah aku bilang, aku sanggup menolak bercinta dengannya tapi tidak dengan ciumannya.

“Aku tidak lucu,” sahutku lalu membalas ciumannya. Aku memagut bagian bawah bibir Kyuhyun dan merasakan sensasi tersendiri yang menurut tubuhku sangat menyenangkan.

“Aku mencintaimu,” ucapku ketika mulutku memiliki kesempatan. Kyuhyun berhenti tidak sampai satu sentimeter dari wajahku dan ia tersenyum sumringah sambil menatapku. “Pernyataan cinta yang manis,” katanya membuatku bingung.

“Manis darimana? Aku kan cukup sering mengatakannya,” Tanyaku.

Kyuhyun hanya tertawa kecil karena pertanyaanku. Tanpa perlu waktu untuk berpikir, Kyuhyun menjawab pertanyaanku. “Dari mulutmu. Mulutmu sangat manis. Kau tahu? Karena itu aku sangat senang menciummu.”

“Jadi bukan karena kau mencintaiku?” Selidikku dengan mata memicing, menunjukkan ketidaksukaanku. Aku selalu berpikir ciumannya karena ia mencintaiku bukan karena fisik yang aku miliki.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, menambah kekesalanku. “Aku kesal,” omelku lalu berdiri hendak pergi meninggalkan Kyuhyun sendirian di kamar namun pria itu lebih cepat menarikku dan mengunciku di dalam pelukannya.

“Pilih mana, ciuman denganku atau aku akan minta produser untuk memasangkan aku denganmu sebagai pasangan di MV single solo Yesung hyung?” Pilihan yang sangat mudah namun memberikan dilemma. Aku sangat ingin menjadi model MV Yesung Oppa tapi tidak berpasangan dengan Kyuhyun.

“MV Yesung Oppa tapi tidak berpasangan denganmu,” jawabku dan Kyuhyun langsung mencubit pipiku dengan gemas.

“Yaa Song Hyejin. Tidak ada pilihan seperti itu,” katanya dengan cepat karena ia ingin segera menciumku. Detik berikutnya, ia sudah berada di atasku dan menciumiku sesuka hatinya. “Kau tidak boleh tidur sendirian di rumah selama aku pergi. Kembali ke dorm atau menginap di apartemen Joong Ki hyung.” Kyuhyun menyela ciumannya sendiri yang aku tahu tidak akan lama karena ia sudah kembali menciumku.

Kami pembohong jika mengatakan tidak menjadi bergairah untuk melakukan hal yang lebih dari ciuman namun kami harus menghargai ‘tamu’ yang datang. Sepertinya Kyuhyun sudah puas dengan bibirku karena kini ia sudah berpindah ke leherku. “Aku harap waktu mengerti aku masih mau bersamamu,” ujar Kyuhyun posesif yang membuatku tertawa meskipun ia sedang menggigitku seperti vampir kelaparan.

“Aku justru berharap waktu mempercepat jalannya,” sahutku sambil tertawa. Kyuhyun tertawa dalam ciumannya dan terus menciumku sampai manajernya datang menjemput.

“Terima kasih sudah memberikanku energi. Aku mencintaimu.”