“Hyejin-ah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Joong Ki di minggu pagi yang cerah di sebuah balkon hotel yang menghadap ke laut ditemani hembusan angin yang membuat sejuk kulitnya. Hyejin menyahut panggilan kakaknya dengan sebuah anggukkan sembari memotong-motong roti untuk kakaknya dan dirinya sendiri.

“Aku sedang menyukai seorang wanita,” kata Joong Ki dengan jujur. Sebagai kakak yang baik dan sangat menyayangi adiknya, Joong Ki memiliki prinsip tidak boleh ada yang ditutup-tutupi dari adiknya dan begitu juga sebaliknya. Sebagai adik yang baik dan juga sangat menyayangi kakaknya, Hyejin menghargai prinsip keterbukaan yang diterapkan Joong Ki meskipun kadang itu membuatnya kesal.

Hyejin menusukkan garpunya pada sepotong roti lalu menyuapkannya ke mulut Joong Ki. “Oppa makin kurus. Makan dulu,” paksa Hyejin lalu memakan rotinya sendiri setelah Joong Ki mengunyah roti yang disuapkan Hyejin.

“Aku menyukai seseorang.” Dengan cepat Joong Ki menelan rotinya lalu mengulang pernyataannya karena tampaknya Hyejin mengabaikan omongannya yang pertama.

Hyejin menyantap sarapan paginya yang hanya separuh roti tawar dan segelas susu dengan tenang. Ia belum memberikan reaksi yang memuaskan untuk Joong Ki. “Hyejin-ah, apa kau mendengarku?” Tanya Joong Ki yang sebenarnya mulai kesal tapi ia tidak akan pernah bisa marah pada satu-satunya saudara satu perut yang ia miliki.

Hyejin menatap Joong Ki dengan tatapan penuh kasih sayang namun tidak ada keingintahuan lebih lanjut mengenai wanita yang disukai oleh Joong Ki. Hyejin tersenyum lembut sembari tangannya membelai pipi tirus kakaknya. “Oppa benar-benar makin kurus. Tiga bulan lalu tanganku ini masih bisa mencubit pipimu. Sekarang, tidak menyenggol tulang saja sudah bersyukur,” kata Hyejin disusul tawa ringan.

“Kau pura-pura tidak mendengarkanku,” kata Joong Ki pada akhirnya menarik kesimpulan. Ia menarik tangan adiknya dari pipinya lalu meletakkannya di atas meja kecil yang memisahkan mereka. Digenggamnya erat tangan adiknya dengan matanya yang menatap langsung mata Hyejin. “Aku menyukai HyunAh,” kata Joong Ki dengan nada serius yang mampu membuat Hyejin menghempaskan punggungnya ke senderan kursi dan menarik tangannya dari genggaman tangan Joong Ki.

Hyejin menarik nafas panjang dan memalingkan wajahnya dari Joong Ki. “Apa yang salah dari menyukai temanmu? HyunAh gadis yang baik,” jelas Joong Ki berusaha memperjuangkan alasannya. Namun Hyejin tidak bergeming. Wanita itu tetap duduk menatap laut, menolak melihat kakaknya.

Seumur hidup mengenal Hyejin, Joong Ki tahu gelagatnya yang seperti ini menandakan ketidaksukaannya terhadap pernyataan Joong Ki dan satu-satunya cara untuk mencairkan hati adiknya adalah membujuknya pelan-pelan. “Hyejin-ah, aku hanya menyukai HyunAh. Aku bukan akan menikah dengannya. Aku hanya menyukai seorang wanita bukan ingin berkomitmen. Kau tidak akan kehilangan Oppa-mu yang paling tampan ini,” kata Joong Ki membujuk sekaligus bercanda untuk lebih menghangatkan suasana.

Hyejin mendengus pelan lalu menatap kakaknya yang memang tampan dengan tatapan sedih campur menyesal. “Aku hanya belum siap berbagi waktu dan perasaan Oppa dengan orang lain. Aku belum bisa,” kata Hyejin disusul isakan tangis tertahan yang membuat Joong Ki tersenyum geli. Adiknya selalu terlihat lucu jika sedang menahan tangis apalagi karena cemburu.

“Kau tetap nomor satu di hatiku,” kata Joong Ki sambil tersenyum dan mencubit pipi Hyejin dengan gemas. “Walaupun aku tahu aku tidak nomor satu di hatimu. Kau harus tahu, apapun yang terjadi, kita tidak mungkin akan terpisah. Ikatan darah kita tidak akan ada yang bisa memutusnya, adikku sayang.”

“Aku tahu,” sahut Hyejin dengan bibir mengerucut manja pada Joong Ki dan sukses membuat Joong Ki tertawa lebar.

“Jadi kembali ke permasalahan. Aku menyukai HyunAh. Is it okay for you?”

Hyejin menggelengkan kepalanya dan membuat Joong Ki gemas. Dengan lembut, Joong Ki menarik kepala Hyejin ke arahnya lalu mencium puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang yang selalu ia tunjukkan sejak pertama kali wanita itu lahir dari rahim ibunya 6 tahun setelah Joong Ki. “Daripada membahas masalah ini yang aku yakin tidak akan ada habisnya. Lebih baik kita segera habiskan sarapan lalu kita berenang ke pantai. Apa Kyuhyun sudah bilang akan datang menyusul?”

Lagi-lagi Hyejin menggelengkan kepalanya. Namun kali ini dengan tambahan kerutan di keningnya. “Kyuhyun memberitahu Oppa tapi tidak memberitahuku? Apa kalian bersekongkol? Yang istrinya itu aku atau Oppa? Haish!” Omel Hyejin dan beberapa detik kemudian Joong Ki sudah melihat adiknya mengomel kepada Kyuhyun melalui telepon. Joong Ki hanya berdecak heran karena tidak lama setelah adiknya mengomel, ia berubah menjadi wanita perengek manja yang sangat menyebalkan. Kalau Joong Ki yang berada di posisi Kyuhyun, mungkin sudah tidak sabar ingin segera menutup telepon.

“Kyuhyun-ah, maaf tidak bisa membantumu. Sampai jumpa nanti,” seru Joong Ki dengan lantang agar Kyuhyun dapat mendengar suaranya. Hyejin menatap Joong Ki menyuruh pria itu untuk segera bersiap-siap karena sesuai perkataannya yang ingin berenang namun pakaian yang dikenakannya masihlah setelan piyama bintang-bintang yang sakit dipajdang mata.

Kkeut!