“Yoboseyo! Yoboseyo! Aduh! Suaramu tidak kedengaran. Yoboseyo! Telepon lagi saja nanti ya.”

Hyejin mematikan ponselnya dan aku menatapnya untuk diberikan penjelasan. “Mwo?” Tanyanya entah memang tidak mengerti atau hanya pura-pura.

“Sejak kapan kau pandai berbohong? Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Apa telingamu yang rusak?” Sahutku langsung. Aku tidak ingin menempuh jalan berkelok-kelok hanya untuk menyatakan aku tidak suka dengan perbuatan Hyejin. Sebagai kakak yang bertanggung jawab, aku tidak pernah mengajarkannya untuk berbohong.

Hyejin tidak berani menatapku. Ia mungkin merasa bersalah padaku. Ia memainkan sedotan untuk mengaduk jus tomat di hadapannya. “Aku sedang bertengkar dengan Kyuhyun. Aku malas berurusan dengannya,” ujar Hyejin dan kini aku mengerti penyebabnya.

“Jadi itu alasannya kau menggangguku pagi-pagi. Kenapa kalian bertengkar?” Tanyaku ingin tahu agar aku bisa membantu adikku yang keras kepala dan tidak mau mengalah ini segera berdamai dengan suaminya.

Hyejin meneguk sedikit jus tomatnya lalu menjauhkan jus itu sejauh jangkauan tangannya. Ia lalu menghempaskan diri ke sofa dengan helaan nafas panjang. “Aku lelah. Dari sekian banyak hari dalam sebulan, aku hanya punya satu atau dua hari untuk bertemu dengan Kyuhyun. Itupun hanya beberapa jam. Sisanya, Kyuhyun akan sibuk dengan pekerjaannya.”

“Harusnya kau senang suamimu sibuk. Ia punya banyak pekerjaan yang menghasilkan uang untuk menghidupi rumah tangga kalian termasuk anak-anak kalian nanti,” ujarku yang tampaknya membela adik iparku namun sebenarnya tujuanku hanya ingin mendinginkan kepala Hyejin.

“Aku tahu tapi aku juga membutuhkannya. Banyak permasalahan yang harus aku ceritakan padanya. Aku bagi padanya. Aku juga harus meminta pendapatnya untuk tawaran-tawaran pekerjaan yang aku dapatkan tapi Kyuhyun terlalu sibuk. Waktu terus berjalan, kalau aku tidak segera mengambil keputusan, pekerjaanku akan diambil orang. Setelah itu, Kyuhyun akan marah jika ia tahu aku mengambil pekerjaan tanpa persetujuannya lebih dulu apalagi kalau ia tidak suka.” Hyejin menghela nafas lalu menahannya. “Aku lelah. Itu saja,” lanjut Hyejin dengan mata berkaca-kaca.

“Kau tahu ia sangat mencintaimu kan?” Sekali lagi aku tegaskan, aku hanya ingin mendinginkan kepala adikku meskipun terdengarnya aku seperti membela pria bernama Cho Kyuhyun itu.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Karena itu aku mau menikah dengannya. Karena aku tahu ia sangat mencintaiku. Aku rasa aku akan sanggup melewati rintangan apapun di dunia ini asal bersamanya. Tapi ternyata menikah tidak semudah itu,” katanya.

Aku memasang telingaku baik-baik untuk mendengarkan ceritanya. Aku memang belum menikah dan mungkin aku tidak paham bagaimana pernikahan itu tapi aku lebih dulu dari Hyejin yang tahu tentang pernikahan. Aku lebih dulu melihat orang-orang jatuh bangun mempertahankan pernikahan mereka.

“Kyuhyun bukan laki-laki jahat. Kau tahu itu kan?”

“Oppa, ia laki-laki paling baik sedunia.”

“Jadi pertengkaran kalian hanyalah masalah salah paham. Kau ingat apa yang selalu eomma katakan sebelum kau menikah dengan Kyuhyun?”

“Mengalah saja jika itu membawa kedamaian.”

Kali ini aku terdengar seperti menyalahkan Kyuhyun. Aku adil kan?

“Jelaskan saja baik-baik pada Kyuhyun. Aku yakin Kyuhyun akan mengerti. Sama halnya seperti waktu Kyuhyun mengambil tawaran drama dimana ia harus berciuman dengan lawan mainnya di setiap episode. Kau marah-marah tapi Kyuhyun menjelaskan dan memohon pengertianmu. Apa yang kau lakukan saat itu?”

“Mencoba mengerti walaupun sangat kesal.”

“Kyuhyun pasti akan melakukan hal yang sama. Sifat kau dan Kyuhyun itu sama. Persis. Seperti di fotokopi. Kalau saja wajah kalian mirip pasti sudah dibilang anak kembar. Jadi, bagaimana kalau kau telepon dia, minta maaf dan mohon pengertiannya?”

Hyejin tiba-tiba menangis.

“Kenapa kau menangis? Kau menyesal sudah bertengkar dengan Kyuhyun ya? Takut tidak ada lagi yang tiba-tiba memeluk dan menciummu. Iya?” Godaku dan tangisan Hyejin semakin pecah.

“Sudah jangan menangis. Sini,” kataku.

Aku ingin menarik Hyejin dan memeluknya tapi ia menolak. Ia hanya meminta tisu untuk menghapus air matanya. “Pelukan Oppa tidak akan membantu. Oppa membuatku merindukan Kyuhyun. Menyebalkan!” Ocehnya yang membuatku tersenyum.

“Sudah tidak kesal lagi pada Kyuhyun? Sudah tidak lelah?”

“Masih tapi terima kasih sudah mendengar keluhanku. Terima kasih juga sudah memberikan saran,” ujar Hyejin. “Itu saran kan? Boleh tidak aku lakukan kan?”

“Sebaiknya segera kau lakukan,” kataku.

“Tidak sekarang. Aku masih agak marah padanya.”

“Itu namanya gengsi menurutku.”

Aku tidak memaksa. Masalah rumah tangga adalah masalah pribadi yang harus diselesaikan sendiri oleh yang bersangkutan. Keluarga boleh ikut campur kalau keadaan sudah cukup genting.

Keadaan genting tidak akan pernah ada dalam kamus Kyuhyun dan Hyejin. Percayalah.

“Lalu apalagi yang bisa Oppa lakukan untukmu?” Tanyaku tulus ingin menawarkan apapun agar Hyejin merasa lebih ceria.

“Temani aku minum sampai aku tertidur dan lupa bahwa aku sedang bertengkar dengan Kyuhyun. Siapa tahu bangun-bangun aku bisa menelepon Kyuhyun dan menyelesaikan masalah ini.”

“Tapi aku ada kencan hari ini.”

Hyejin membuka matanya lebar-lebar. Ia menegakkan tubuhnya dan menghadapku dengan tatapan mata penuh keterkejutan. “Oppa kencan dengan siapa?” Tanyanya seperti polisi yang sedang menginterogasi penjahat.

“HyunAh,” jawabku dengan senyuman lebar menunjukkan aku sangat senang dengan ide ini dan sudah tidak sabar menantinya.

Kening Hyejin berkerut banyak. “Setahuku, HyunAh hari ini ada jadwal. Tidak mungkin dia punya jadwal kencan denganmu.” Hyejin tampak berpikir keras. Ia mengecek jadwal HyunAh kepada manajernya lalu menatapku kembali dengan menyipitkan matanya. “HyunAh tidak punya jadwal kencan denganmu. Ia akan pergi ke undangan makan siang dengan Presiden. Sejak kapan kau pandai berbohong, Song Joong Ki-ssi?”

“Aku tidak berbohong,” kataku sambil menunjukkan undangan acara yang dimaksud Hyejin. “Aku sudah minta untuk duduk tepat di sebelah HyunAh. Bagaimana menurutmu?”

Hyejin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku kasihan padamu,” katanya lalu pergi meninggalkanku sendirian. Ia pergi ke kamarnya.

“Langsung pulang dan temani aku minum!” Teriak Hyejin dari dalam kamarnya. Aku hanya tersenyum menatap undangan yang berhasil membuatku setidaknya bisa ngobrol dengan HyunAh.