Cast :
Song Joong Ki
Song Hyejin
Cho Kyuhyun

image

Pada awalnya, aku merasa memiliki adik perempuan itu sangat menyenangkan. Aku jadi punya teman untuk aku goda kapanpun aku merasa bosan. Kencang suaranya saat menangis adalah tanda keberhasilan tersendiri untukku. Aku juga jadi punya teman untuk berbagi banyak hal, termasuk uang saku. Ketika aku memiliki kelebihan uang dan ingin belanja sesuatu tapi aku tahu aku tidak butuh apa-apa, aku punya alasan untuk membeli sesuatu. Lebar senyum Hyejin saat menerima pemberianku adalah salah satu definisi kebahagiaan untukku. Selain itu, yang paling utama sejak ia lahir, aku jadi memiliki seseorang yang membutuhkan perlindunganku. Ucapan terima kasihnya setiap aku berhasil menjauhkan laki-laki yang menganggunya merupakan kebanggaan untuk diriku sendiri.

Pada awalnya sampai ia  tiba-tiba muncul di kampusku dengan wajah sembap dan mata merah. Aku yakin sekali dia habis menangis. Ia duduk di hadapanku dengan menundukkan wajahnya tanpa bicara sepatah kata pun. Aku bertanya padanya tentang apa yang terjadi padanya sampai ia bisa menangis tapi ia tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Semua orang di kantin sudah menatap kami dengan curiga. Mungkin dipikir mereka aku melakukan yang tidak-tidak kepada bocah SMA ini dan ia datang meminta pertanggungjawabanku.

Tidak banyak yang tahu bahwa kami kakak beradik.

“Kau mau es krim? Atau jus?”

Hyejin menggelengkan kepala menolak penawaranku. Ia mengusap matanya yang tampaknya diam-diam mengalirkan lagi air. Aku mengangkat kepalanya dan membantunya mengeringkan air mata yang entah sudah berapa kali jatuh ke pipi tirus adikku ini. “Kau mau kita pulang? Atau kita ke suatu tempat yang kau inginkan?” Tanyaku dan Hyejin mengangguk.

Aku membawakan tas Hyejin dan menggandeng tangannya keluar dari kampus. “Kau mau kemana? Makan?” Hyejin kembali menganggukkan kepalanya. Aku seperti cenayang yang mampu membaca keinginan Hyejin. Aku pun mengajak Hyejin pergi ke restoran tempat kami berdua biasa makan, restoran kesukaan Hyejin.

“Kau mau makan apa?” Tanyaku sambil memilih-milih makanan. Kalau Hyejin tidak mau menjawab, aku sudah tahu akan memesan makanan apa untuknya.

“Aku minum saja,” jawab Hyejin. Akhirnya, ia bersuara.

“Kau mau minum apa? Coklat?” Minuman kesukaan Hyejin dari balita sampai sekarang dan mungkin sampai ia tua nanti.

“Yang dingin,” tambahnya. Aku pun segera memesan makanan untukku dan coklat dingin untuk Hyejin.

Mata Hyejin sudah tidak merah tapi wajah sembapnya masih jelas terlihat yang membuatku refleks menepuk-nepuknya dengan lembut. Aku tidak tahu apa manfaatnya tapi itu adalah kebiasaan yang dilakukan keluarga kami jika ada yang habis menangis. Kata eomma, itu bisa menenangkan jiwa yang sedang sedih. Aku percaya saja.

“Kenapa kau menangis? Apa ada yang mengganggumu? Bilang pada Oppa biar Oppa hajar,” kataku dengan nada berapi-api namun kemudian tertawa untuk menghiburnya. Aku tidak mau ia tambah sedih jika aku bicara dengannya dengan nada yang dalam.

Hyejin menggelengkan kepalanya. Aku ingat-ingat sudah lama aku tidak mendapat aduan dari adikku mengenai laki-laki yang suka menganggunya. Mungkin ia sudah punya jurus sendiri untuk mengusir para lelaki itu. Hilang satu pekerjaanku. “Lalu kenapa? Patah hati? Memangnya kau punya pacar?” Tanyaku agak menggoda.

“Oppa!!” Si cengeng ini mulai bersuara keras.

Aku tersenyum masih sambil menepuk-nepuk pelan pipi Hyejin. “Lalu kenapa? Ceritakan pada Oppa biar Oppa bisa bantu,” kataku.

Hyejin menatapku. Dari caranya menatapku, aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu. “Katakan saja. Oppa akan membantumu,” kataku.

“Aku tidak ingin jadi artis. Aku mau kembali saja ke Swiss,” katanya tanpa basa-basi dan aku hanya punya satu kata untuk menyahut pernyataannya.

“Kenapa?”

Hyejin menghela nafas berat. Ia melepaskan tanganku dari pipinya. Matanya menerawang entah kemana namun mulutnya menceritakan semuanya kepadaku. “Aku lelah. Training menjadi artis sangat berat. Aku melakukan segalanya sebaik mungkin tapi mereka tetap menilaiku jelek. Aku dibilang harus masih banyak belajar. Mereka tidak mungkin mendebutkan artis tidak bisa apa-apa sepertiku. Padahal aku bisa menari, aku juga bisa menyanyi walaupun tidak sebaik Taeyeon. Aku juga bisa berakting. Aku lebih baik dari Yoona tapi mereka selalu memuji-muji Yoona. Aku tidak sanggup lagi.”

“Kau mau menghentikan cita-citamu hanya karena orang lain bilang kau jelek? Menurut Oppa, bukannya lebih baik kau menunjukkan kau yang terbaik? Tunjukkan bahwa kau yang terhebat,” ujarku memberikan semangat. “Kau tidak boleh putus asa begitu saja.”

“Aku sudah menjadi trainer sejak umur 12 tahun dan aku sudah berlatih lebih keras dari siapapun di agensi itu. Kalau memang aku tidak bisa debut, mungkin memang bukan jalanku untuk jadi artis?” Sifat keras kepalanya kembali muncul.

“Kalau begitu, apa kau pernah berpikir untuk pindah agensi? Mungkin kau tidak cocok dengan agensimu sekarang bukan kau tidak cocok untuk menggapai cita-citamu. Kau sudah lihat agensi-agensi lain?” Hyejin menganggukkan kepalanya. “Bagaimana menurutmu?”

“Molla. Aku belum mencobanya,” jawabnya.

“Kalau begitu, kita akan mencobanya mulai besok. Aku akan mencari tahu tentang audisi-audisi di tempat agensi lain dan kau tetap harus berlatih sepulang sekolah. Kau tidak boleh menyerah begitu saja. Ya?”

Hyejin menganggukkan kepalanya.

“Lalu ada apalagi? Apa hanya karena masalah itu kau menangis?”

Hyejin mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya. “Yang benar yang mana? Ceritakan padaku,” kataku sambil mencubit hidung Hyejin dengan gemas.

“Masalah sekolah. Tidak penting,” katanya dan aku tidak akan memaksa Hyejin untuk bercerita jika memang ia tidak mau bercerita padaku.

“Oppa masih lapar tidak?” Tanya Hyejin tiba-tiba menyadarkanku bahwa pesanan kami sudah datang namun kami belum sedikit pun menyentuhnya. “Aku boleh bagi sedikit?”

“Aku akan memesan yang baru untukmu. Yang ini sudah tidak panas lagi,” kataku sambil mengangkat tangan untuk memanggil pelayan namun Hyejin bersikeras untuk memakan makanan punyaku.

“Aku hanya bagi sedikit. Aku sedang diet,” katanya dan menyantap makananku tiga sendok banyaknya.

“Cukup?” Tanyaku takjub melihat caranya bertahan hidup.

Hyejin menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. “Terima kasih sudah membantuku, Oppa,” katanya dan aku merasakan kepuasan tersendiri karenanya.

Itu baru satu permasalahan.

Permasalahan berikutnya datang ketika aku sedang mencari-cari agensi baru untuk Hyejin. Aku bertemu dengan seseorang dan menawarkanku untuk menjadi aktor di agensinya. Aku bilang, aku akan membicarakannya dulu dengan keluargaku. Aku membicarakannya dengan Hyejin.

“Mwo?! Oppa mau jadi aktor?! Yang benar?” Seru Hyejin dengan emosi meluap-luap. Ekspresi tidak percaya tergambar jelas di wajahnya. “Bukannya Oppa mau jadi pengusaha? Kenapa sekarang ingin jadi aktor?”

“Tidak ada salahnya mencoba kan? Aku punya kesempatan, kalau tidak dicoba justru aku yang rugi. Kalau sudah dicoba dan aku tidak cocok, aku tidak akan menyesal,” kataku memberikan alasan. Untungnya, Hyejin tidak terlalu ribet untuk urusan-urusan seperti ini.

“Ya sudah, coba saja. Tapi aku ingatkan, dunia hiburan itu kejam. Sangat kejam, Oppa,” kata Hyejin berlagak seperti senior yang sudah makan asam garam dunia hiburan dan itu cukup untuk membuatku tersenyum.

“Terima kasih atas nasihatnya, sunbae,” ujarku yang membuat Hyejin tertawa. “Ngomong-ngomong, aku sudah mendaftarkanmu di beberapa audisi. Ini. Kau mau mencobanya?”

Hyejin melihat dokumen audisinya di beberapa agensi. Ia tampak sedang menimbang-nimbang dan kemudian memilih tiga audisi di antaranya. “Sebetulnya, aku sudah dijadwalkan debut bulan depan. Tapi aku mau mencoba tiga agensi ini. Apa mereka lebih baik dari SM atau tidak,” katanya yang membuatku cukup terkejut. Adikku akan benar-benar menjadi artis.

“Kau akan debut menjadi apa? Girl group? Solo? Atau apa?” Tanyaku saking senangnya atas pencapaian adikku. Akhirnya ia diakui setelah sekian lama berada di agensi itu.

“Aku akan menjadi cameo di sebuah drama. Hanya satu episode tapi aku sudah cukup senang mendapatkannya. Aku akan jadi artis, Oppa. Jadi artis!” Serunya lebih senang daripada aku. Aku pun memeluknya dan memberikan ucapan selamat berkali-kali tanpa rasa bosan sedikit pun.

Senyum ceria Hyejin seketika hilang saat seorang wanita datang dan menginterupsi kebahagiaan kami. “Ternyata kau di sini. Boleh aku ikut bergabung?” Tanyanya.

Hwang Mo Yeon. Kalau tidak salah aku mengingat namanya. Ia teman satu kelasku dan yang aku tahu, ia yang paling cantik di angkatan kami. Berasal dari keluarga terpandang dan pintar membawa diri. Kenapa tiba-tiba ia bisa berada di sini?

Hyejin bertanya padaku melalui tatapan matanya dan aku menjawab hanya dengan gidikan bahu yang menyatakan aku juga sama-sama tidak tahu maksud kedatangan gadis ini di antara kami. “Kenalkan, namaku Kang Mo Yeon. Aku sekelas dengan Joong Ki,” katanya kepada Hyejin dan Hyejin hanya memicingkan mata dengan sinis. Aku tahu Hyejin tidak suka pada gadis ini dan aku tahu ternyata aku salah mengingat namanya. Kang Mo Yeon bukan Hwang Mo Yeon.

“Aku Kim Hyejin. Aku kekasih Joong Ki Oppa,” katanya dan aku membelalakan mataku kepada Hyejin. Kekonyolan apalagi ini di siang bolong? Hyejin bangkit berdiri dari kursinya lalu menarikku untuk berdiri mengikutinya. “Ayo Oppa, kita pergi.”

Kami berdua berjalan keluar dari restoran dan aku masih sempat melihat ekspresi terkejut Mo Yeon saat mendengar bahwa Hyejin adalah kekasihku sebelum Hyejin memutar kepalaku untuk menghadap kepadanya saja.

“Oppa, dengar! Aku tidak akan pernah setuju jika kau mengencani gadis macam Mo Yeon tadi. Dari cara bicaranya saja aku tahu ia pasti tipe wanita penindas. Ia pasti akan memperlakukanmu seperti budaknya bukan sebagai kekasihnya. Aku tidak akan setuju!” Omel Hyejin penuh prasangka buruk yang belum tentu kebenarannya.

“Jangan berpikiran negatif dulu. Aku saja cuman tahu namanya, bagaimana aku bisa berkencan dengannya? Mungkin ia tidak dapat tempat duduk jadi duduk bersama kita?”

“Apa Oppa tidak dengar ucapannya pertama tadi? Ternyata kau di sini. Dia pasti sedang mencari-cari Oppa. Dia pasti naksir Oppa. Oppa harus menjauh darinya. Titik! Aku akan musuhan denganmu kalau Oppa sampai dekat-dekat perempuan itu!”

Hyejin terlalu protektif kepadaku. Mungkin akibat ia tidak boleh pacaran dari agensinya sehingga ia menyabotaseku seolah aku hanyalah miliknya. Padahal, gadis sekelas Mo Yeon tidak mungkin aku dapatkan meskipun aku berusaha keras. Duh, Song Hyejin.

“Kau tidak kembali ke agensi? Bukankah kau harus berlatih hari ini?” Tanyaku hanya untuk mengalihkan topik pembicaraan yang semakin lama semakin memanas. Hyejin sudah berpuluh-puluh kali mengingatkanku untuk tidak mendekati Mo Yeon. Hanya dalam beberapa menit.

Tidak sampai di situ, Hyejin mengawasiku sampai ke dalam kampus. Ia lebih memilih tidak masuk kelas menyanyinya untuk memastikan aku tidak bertemu dengan gadis itu atau mungkin gadis yang lainnya. Karena ketika ada teman wanita satu kelompok kerjaku datang menghampiri, Hyejin terlihat seperti singa siap memangsa rusa. “Kau sebaiknya segera punya pacar, Hye. Aku takut kau malah jatuh cinta padaku. Ingat, kita ini kakak beradik,” kataku hanya untuk menggodanya.

“Aku tahu dan sebagai adik yang baik aku membantu Oppa agar tidak jatuh ke tangan wanita yang salah. Zaman sekarang itu mengerikan. Wanita tidak lagi sungkan untuk mengejar pria yang ia sukai kalau Oppa tidak…” Aku tidak lagi mendengarkan ocehan Hyejin. Lebih baik aku belajar sambil mencuri lihat kepada gadis-gadis yang berseliweran di hadapanku. Memang lebih baik Hyejin punya pacar agar tidak menggangguku.

Ah! Aku ingin menarik perkataanku. Adikku masih kecil, belum saatnya ia punya kekasih!

Hyejin jatuh sakit karena kelelahan. Sekolah, training dan syuting benar-benar menyita waktunya sehingga membuatnya lupa untuk menjaga kesehatan. Tiga hari ia harus beristirahat di rumah dan selama itu ada laki-laki yang selalu datang menjenguknya minimal dua kali sehari.

“Namanya Cho Kyuhyun. Dia satu agensi denganku,” kata Hyejin memperkenalkan laki-laki itu padaku tanpa ada embel-embel lain yang membuatku sedikit lega. Itu artinya laki-laki ini belum resmi jadi pacar adikku. Ia masih dalam tahap pendekatan atau bahasa ekstrimnya mengejar-ngejar adikku.

“Sudah lama kenal dengan Hyejin?” Tanyaku saat Hyejin pergi ke kamar mandi sehingga hanya ada kami berdua di kamar ini.

“Baru 6 bulan, hyung. Aku juga baru masuk SM,” jawabnya cukup sopan namun tidak segan. Ia berusaha untuk mendekatkan diri denganku.

“Masih trainee atau sudah debut?” Tanyaku lagi hanya untuk membuat suasana tidak kaku. Sekaligus mengorek alasan keberadaannya di tempat ini yang lebih sering daripada siapapun.

“Aku baru saja debut. Super Junior. Apa hyung pernah menontonnya di televisi?”

Aku tidak pernah menontonnya. Hyejin yang memberitahukan kepadaku bahwa agensinya baru saja menambahkan satu personil untuk boy grup dengan jumlah personil yang sudah lebih banyak dari kesebelasan sepak bola. Salah satu personilnya duduk di hadapanku. “Apa posisimu di sana?” Tanyaku.

“Lead vocal,” jawabnya dan aku bertepuk tangan riang mendengarnya.

“Akhirnya aku bisa bertemu dengan teman Hyejin yang pintar menyanyi. Selama ini yang aku kenal hanya yang jago menari. Luar biasa!” Seruku senang lalu kembali kepada inti dari aku melakukan basa-basi ini. “Apa yang membuatmu tertarik pada Hyejin?”

Kyuhyun terdiam dan Hyejin datang menyelamatkannya. “Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Oppa. Aku dan Kyuhyun hanya berteman. Kasihan anak orang Oppa interogasi seperti itu,” kata Hyejin tidak aku gubris.

Aku menatap Kyuhyun yang salah tingkah sekaligus bingung harus berkata apa. Dari gelagatnya, aku tahu ia naksir adikku. Tapi Hyejin belum membukakan pintu untuknya. Belum. Kenapa aku bilang belum? Karena kalau ia tidak mau, ia sudah menyuruhku mengusir pria ini bukan menyuruhnya masuk ke dalam kamar.

“Aku tidak menginterogasinya. Aku hanya bertanya. Iya kan, Kyu?”

“Ne, hyung,” jawabnya.

Kyuhyun mengulurkan tangannya ke kening Hyejin dan menatap gadis manja itu dengan tatapan yang selalu Appa berikan kepada Eomma setiap hari. Penuh kasih sayang dan cinta. Bodoh kalau Hyejin sampai menolak pria ini.

“Kau sudah tidak panas. Makan yang banyak biar cepat sembuh. Aku pulang dulu ya. Nanti setelah jadwalku selesai aku akan datang lagi menjengukmu ya?”

“Tidak usah..”

Aku ingin sekali menjahit mulut Hyejin karena tega sekali berkata seperti itu. Kalau aku yang jadi adikku, aku akan dengan senang hati menerima kehadiran Kyuhyun untuk yang ketiga kalinya dalam satu hari. Sepertinya, gadis ini tidak diajarkan menghargai pria di agensinya atau setidaknya belajar rendah hati sedikit.

Anehnya, Kyuhyun tetap tersenyum. “Cepat sembuh ya,” ucapnya sambil membelai puncak kepala Hyejin sebelum ia pamit keluar kepadaku.

Aku mengantarkan Kyuhyun sampai depan pintu rumah kami. Aku begitu penasaran sampai akhirnya aku tidak tahan untuk tidak menanyakan hal ini kepadanya. “Kau menyukai adikku?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Aku sangat menyukainya,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Apa aku butuh alasan untuk menyukainya, hyung?”

“Tidak. Aku hanya ingin tahu apa kau pantas diberikan harapan.”

Kyuhyun tersenyum kepadaku. “Aku tidak keberatan jika ternyata tidak punya harapan tapi paling tidak aku ingin menyampaikan perasaanku  kepada Hyejin. Aku menyukainya. Aku juga menyukai hyung,” katanya.

Sekarang, aku mengerti memiliki adik perempuan itu tidak hanya untuk lucu-lucuan. Adik perempuan artinya aku memiliki  tanggung jawab untuk membuatnya bahagia. Termasuk dalam urusan percintaan.

“Aku juga menyukaimu. Kau akan datang lagi jam berapa?” Tanyaku.

“Memangnya kenapa, hyung?”

“Aku mau pergi sebentar. Kalau kau datang sebelum jam 7, aku akan menunda acaraku. Aku mengijinkanmu datang sesering yang kau mau tapi aku tidak akan membiarkanmu berduaan saja di rumah dengan adikku.”

Kyuhyun tertawa. “Aku akan menjaga Hyejin dengan sangat baik, hyung. Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun, aku janji.”

“Aku tidak percaya. Jam berapa kau akan datang?”

“Jam 8. Tunggu aku ya, hyung!” Jawabnya dengan hangat sambil melambaikan salam perpisahan kepadaku. Ia terus melambaikan tangannya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.

Sebenarnya, aku yakin pria ini dapat dipercaya tapi aku tidak tahan untuk tidak mengorek lebih banyak hal tentang dirinya. Aku harus memastikan pria ini adalah pria yang tepat untuk Hyejin. Aku harus pastikan ia sungguh-sungguh dengan perasaannya.

Akh! Bukannya tadi aku bilang Hyejin jangan punya kekasih dulu? Dia masih kecil. Seharusnya aku duluan yang punya kekasih.

Kkeut!