“If you love deeply, you’re going to get hurt badly,”
“But it’s still worth it.”

Cast: Lee Donghae, Kang Hamun, Song Hyejin, Cho Kyuhyun. Enjoy reading!🙂

******

Hamun punya seseorang yang ia cintai selama 3 tahun ini. Pria itu adalah tetangga yang tinggal di sebelah apartemennya. Namanya Lee Donghae.

“Hamun, bisakah kau tidak masuk apartemen orang seenaknya?” tanya Donghae saat ia mendapati Hamun sedang memasak di dapur apartemennya.

“Mianhe, oppa. Harusnya kau tidak meninggalkan kuncimu di dalam pot bunga yang ada di depan,” balas Hamun tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Duduklah, oppa. Sebentar lagi sopnya matang,” lanjutnya.

Donghae menghela nafas panjang melihat punggung gadis itu. Ini sudah ke puluhan kalinya Hamun menunjukan perhatiannya pada Donghae. Akan tetapi, pria itu merasa bersalah karena sampai sekarang Donghae pun sadar kalau ia tidak bisa membalas perasaan Hamun. Donghae berjalan mendekati gadis itu.

“Hamun, apa yang aku lakukan agar kau berhenti mencintaiku? Kau tahu aku belum melupakan Hyejin,” jelas Donghae dengan lirih. Hamun bisa melihat ada kesedihan dan rasa bersalah dari cara pria itu menatapnya.

“Meskipun oppa tahu kalau kau tak punya harapan dengan eonniku?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

“Kenapa?” tanya Hamun lagi.

“Karena aku mencintainya tanpa alasan,” jawab pria itu. Ia tampak tersakiti mengingat hatinya yang tak akan pernah menerima balasan karena Hyejin telah menikah dengan Kyuhyun setahun lalu.

Hamun mengelus punggung Donghae seakan ia tahu kalau pria itu sebentar lagi akan menangis. “Apa yang aku rasakan, sama seperti yang oppa rasakan pada eonni. Aku mencintaimu. Kalau oppa tidak mencintaiku, itu bukan salahmu,” jelas Hamun dengan senyum tulus diwajahnya. “Jika aku berhenti mencintaimu hanya karena kau mencintai orang lain, berarti aku tidak benar-benar mencintaimu, oppa,” lanjutnya.

Donghae mengelus pipi Hamun yang entah sejak kapan dibasahi oleh air mata gadis itu. Hamun mungkin tampak kuat, namun mengetahui kalau orang yang dicintainya mencintai orang lain tetap saja menyakitkan baginya. “Sampai kapan kau akan menangis untukku seperti ini?” tanya Donghae.
“Time solve most things, including my feeling toward you. But, if time can’t solve, i will solve it by myself. I will erase this feeling then. So, don’t ask me to not love you now,” kata Hamun.

Perkataan Hamun membuat Donghae terhenyak. Selama ini Donghae berpikir bahwa perasaannya pada Hyejin akan dihapus oleh waktu namun barusan ia sadar kalau ia belum berusaha. Donghae membiarkan dirinya terkekang oleh rasa sakit ini. Hamun benar, mungkin Donghae harus melakukan sesuatu untuk melupakan Hyejin.

“Apakah aku egois jika aku memintamu untuk membantuku melupakan Hyejin?” tanya Donghae yang membuat Hamun terdiam tak percaya. Donghae menarik Hamun dalam pelukannya. “Aku tahu bagaimana sakitnya saat perasaan yang kita miliki tidak berbalas. Aku tak mau kau merasakan itu lebih lama lagi. Berikan aku kesempatan untuk belajar menyayangimu, Hamun. Kau sendiri yang bilang jika waktu tidak bisa, maka aku harus berusaha melupakannya,”

Air mata Hamun menderas mendengar perkataan Donghae itu. Ia tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan memeluk pria itu dengan erat. Hamun tak tahu apakah ini akan menjadi akhir yang bahagia atau tidak. Akan tetapi, saat pria itu mau belajar mencintainya, Hamun akan membantunya.

*****

Donghae merenung saat mengingat ucapannya pada Hamun kemarin malam. Sudah sejak lama ia tahu kalau Hamun menyukainya. Ia pun tahu kalau Hamun sering menangis karenanya. Ia tak tahu apakah ini keputusan yang benar atau tidak, namun melihat kesungguhan Hamun membuatnya ingin belajar membuka hati pada gadis itu.

Donghae melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Disana ia mendapati kaca yang memisahkan balkon dan kamar Hamun tidak tertutup. Donghae menghela nafas panjang melihat kebiasaan gadis itu yang tidak kunjung berubah. Donghae melompat menuju balkon Hamun dan masuk ke dalam kamar gadis itu. Ia tertawa kecil melihat Hamun yang tidak menggunakan selimutnya dengan benar. “Kau bisa sakit kalau seperti ini,”  kata Donghae meskipun ia tahu Hamun tak akan dengar.

Tiba-tiba Hamun membuka setengah matanya lalu menutupnya lagi. “Hamun…. Ayo bangun… Mimpimu mulai berlebihan… Mana mungkin Donghae oppa ada di kamarmu pagi-pagi ini… Ia mencintai eonni. Bukan dirimu…,” gumam Hamun dengan suara sengaunya. Air matanya mengalir setitik diakhir kalimatnya. Donghae melihat itu semua.

Donghae duduk ditepi tempat tidur Hamun dan mengelus pipi gadis itu. “Aku menyakitimu. Mianhe. Jangan menangis lagi karenaku. Aku mohon,” katanya.

Hamun memegang tangan Donghae yang ada dipipinya tadi. Matanya menatap Donghae. Ia tersenyum meskipun air matanya kembali mengalir. “Aku kira aku bermimpi ternyata tidak. Terima kasih,” kata Hamun.

Donghae menarik Hamun ke dalam pelukannya. “Mianhe, Hamun,” gumam Donghae sambil menepuk pelan punggung Hamun untuk menenangkan gadis itu.

Tiba-tiba pintu kamar Hamun terbuka. Donghae dan Hamun terperanjat dan segera menjauhkan tubuh mereka. Pria yang berdiri diambang pintu kamar Hamun tersenyum semringah. “Sejak kapan hubungan kalian sedekat itu?” tanyanya.

“Hai, Kyuhyun ah,” sapa Donghae pada kakak ipar Hamun yang adalah sahabatnya sendiri.

“O-oppa. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini pagi-pagi?” tanya Hamun berusaha bersikap biasa saja. Bagaimana pun ia merasa malu karena Kyuhyun melihatnya berpelukan dengan Donghae, di kamarnya.

Kyuhyun tertawa melihat wajah Hamun yang memerah, begitu juga Donghae. “Kyuhyun ah, apa Hamun sudah bangun?” tanya Hyejin dari kejauhan. Hamun menatap Kyuhyun dengan penuh arti agar Kyuhyun tidak memberitahu Hyejin apa yang dilihatnya. Kyuhyun justru membalas tatapan itu dengan penuh arti.

“Hyejin ah, Hamun pagi-pagi sudah berpelukan dengan-” suara Kyuhyun terputus karena dengan segera Hamun melompat ke punggung Kyuhyun dan menutup mulut pria itu dengan tangannya. Merasa ada yang tidak beres, Hyejin segera berjalan menuju kamar Hamun.

“Kalian berdua sedang apa, sih? Pagi-pagi sudah ribut,” omel Hyejin. Kyuhyun tetap tidak bisa menjawab karena Hamun belum melepaskannya. “Ani, tidak ada apa-apa, eonni,” balas Hamun.

“Kyuhyun tadi melihatku berpelukan dengan Hamun di kamarnya,” ujar Donghae dengan tenang yang keluar dari kamar Hamun. Melihat itu, mata Hyejin langsung membesar dan mencubit telinga adik kesayangannya itu. “Yaa, Kang Hamun!”

*****

Hamun mengelus telinganya yang masih terasa sakit akibat cubitan kakaknya. Kini mereka berempat sudah duduk di meja makan. “Gwencana?” tanya Donghae dengan lembut sambil mengelus telinga Hamun.

Hyejin berdeham melihat Donghae bersikap seperti itu pada adik kesayangannya. “Jadi.. Sejak kapan?” tanyanya.

“Kemarin,” jawab Donghae.

“Lalu.. siapa yang menyatakan perasaan duluan?” tanya Kyuhyun penasaran.

Donghae menatap Hamun dengan lembut. Gadis itu terlihat menghindari tatapan mata eonninya itu. “Rahasia. Aku tidak mau memberitahu,” jawab Donghae sambil tertawa.

“Yaa, Lee Donghae!” seru Hyejin.

Donghae tersenyum lembut pada gadis itu. Rasa sakit di dada Hamun kembali menyeruak. “Kau terlalu protektif. Sekarang biarkan aku yang menjaganya,” kata Donghae. Kini, Donghae menatap Hamun dan menggenggam tangan gadis itu seakan ingin menyakinkan Hamun tentang keputusannya semalam. Ia mau melupakan Hyejin dan mencintai Hamun.

*****

“Hamun, kau beruntung dicintai oleh pria seperti Donghae,” kata Hyejin saat ia mencuci piring bersama dengan Hamun.

Hamun menatap Hyejin dengan heran. Perkataan Hyejin seakan menutupi suatu hal yang Hamun rasa sangat penting. Hyejin menghela nafas menyadari kalau ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari adiknya itu. “Aku pernah sangat mencintai Donghae,” kata Hyejin. Jantung Hamun berdetak sangat kencang mendengar hal tersebut. “Bahkan sampai sekarang pun kadang aku berharap Kyuhyun memiliki beberapa sifat Donghae yang lembut dan dewasa itu,” lanjutnya.

Dada Hamun terasa sesak mendengar kenyataan itu. Ia berharap eonninya tidak melanjutkan pembicaraan ini. “Dia terlalu sempurna untukku. Aku pikir, aku tidak punya harapan sama sekali. Saat aku terpuruk itu, ada Kyuhyun yang mengatakan bahwa ia menyayangiku. Ia menerimaku apa adanya karena itulah aku memutuskan untuk belajar mencintainya,” jelas Hyejin. “Tapi, kau jangan khawatir Hamun. Saat ini suamiku adalah Kyuhyun. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Lagipula yang Donghae sayangi adalah kau.” Hamun tidak tahu harus memberikan respon apa atas cerita kakaknya itu. Ia hanya bisa tersenyum untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Hamun terlalu kaget mendengar semua kenyataan itu.

“Aku tak pernah tahu kalau kau menyukai Donghae, Hamun. Kau tidak cerita padaku,” gerutu Hyejin. “Jadi, sejak kapan kau menyukainya, Hamun?”

Hamun tak mau membuat hubungannya dan Hyejin menjadi canggung jika Hyejin tahu kalau Hamun sudah lama menyukai Donghae. “Rahasia,” kata Hamun.

Hyejin mencipratkan sedikit air ke wajah Hamun. “Menyebalkan. Kalian berdua suka merahasiakan segala sesuatu dariku.”

“Kalian cuci piring lama sekali? Ppali, agar kita dapat tempat untuk piknik di taman itu,” kata Kyuhyun mengingatkan Hyejin dan Hamun. Kyuhyun menghampiri mereka dan memberikan sinyal pada Hamun untuk pergi meninggalkan pasangan suami istri itu berdua.

“Hamun, ada yang perlu kubantu?” tanya Donghae yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Melihat wajah itu membuat Hamun teringat semua ucapan Hyejin tadi. Apakah perlu ia menyampaikan semua itu pada Donghae dan membiarkannya kehilangan kebahagian yang baru ia rasakan?

Hamun tersenyum. “Tidak ada, oppa. Aku mau mandi dan siap-siap,” kata Hamun. Donghae mengacak rambut Hamun dengan lembut. “Sana mandi. Ada bekas air liur di ujung bibirmu,” kata Donghae yang membuat Hamun kaget dan segera menutup area mulutnya.

“Aku bercanda,” ucap Donghae sambil tertawa lebar. Hamun memukul Donghae pelan karena pria itu membohonginya. Ia tidak benar-benar kesal pada pria itu. Akan tetapi, satu hal yang Hamun putuskan, ia tidak akan memberitahu Donghae rahasia Hyejin. Lagipula, Hyejin eonni sudah memiliki suami. Ia tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun, kan?

*****

Sesampainya di tempat piknik, kedua pasangan itu menikmati kebersamaan mereka dengan makan bersama dan saling bercanda gurau. Banyak cerita nostalgia antara Kyuhyun-Hyejin-Donghae yang diceritakan pada Hamun. Semua rahasia memalukan Donghae pun telah diberitahu pada Hamun.

“Kami mau jalan-jalan. Hanya berdua. Kalian disini saja,” kata Kyuhyun yang membuat Hyejin tersipu malu. “Kalian sudah setahun menikah tapi masih seperti pengantin baru,” sindir Donghae yang tidak dipedulikan Kyuhyun dan Hyejin.

“Jaga adikku. Awas kalau kau macam-macam padanya,” ancam Hyejin.

“Aku tidak janji,” balas Donghae sambil tertawa.

“Yaa, Lee Donghae!” seru Hyejin.

“Eonni, pergilah. Aku mau berduaan dengan Donghae oppa,” kini giliran Hamun yang berbicara. Ia bahkan mengalungkan tangannya di lengan Donghae. Kyuhyun segera menarik Hyejin sebelum gadis itu mulai naik darah lagi.

Tiba-tiba, Hamun merasakan kehangatan di pipinya. Donghae mengelusnya dengan lembut. “Kau kenapa? Kau tidak tampak ceria,” kata Donghae. Hamun terdiam, tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. “Apa kau khawatir dengan perasaanku pada Hyejin?” tanyanya.

“Sedikit,” jawab Hamun tanpa membohongi perasaannya.

“Bersabarlah. Aku sedang berusaha. Aku yakin, aku bisa mencintamu. Kau gadis yang pantas untuk dicintai,” kata Donghae sambil mencium kening Hamun. Hati Hamun terhenyak karena perbuatan Donghae. Ia tahu sebuah rahasia yang bisa membuat Donghae bersatu dengan wanita yang masih sangat dicintainya, tapi Hamun tidak mau melepas kehangatan ini. Ia terlalu mencintai Donghae.

*****

Dua bulan berlalu sejak kebersamaan Donghae dan Hamun. “Pagi, sayang. Kau sengaja tidak mengunci pintu agar aku bisa masuk ke dalam, hm?” tanya Donghae yang sudah berada di tempat tidur Hamun. Tadi pagi, lagi-lagi Donghae mendapati Hamun tidak mengunci jendela antara kamarnya dan balkon. Hamun tersenyum mendapati pria itu ada di sampingnya. Ia justru menempatkan kepalanya di atas lengan Donghae dan memeluk pria itu. “Aku masih ngantuk, oppa,” gumam Hamun.

“Tapi kau harus kelas jam 9,” ujar Donghae mengingatkan.

“Aku mau memeluk oppa sebentar lagi,”

Donghae tersenyum mendengarnya. “Dasar manja,”

“Oppa…. Saranghae,” kata Hamun.

“Hm, aku juga menyayangimu, Hamun,” ujar pria itu sambil mengecup puncak kepala Hamun. Hamun tersenyum mendengar itu. Sepenuh hatinya percaya bahwa Donghae kini telah mencintainya. Hal yang tidak pernah Hamun pikirkan sebelumnya kalau hal ini dapat terjadi.

“Hamun, nanti malam jangan membuat janji apapun, ya. Aku mau mengajakmu pergi,” kata Donghae.

“Kemana?” tanya Hamun yang masih belum sepenuhnya sadar.

“Kau ingin nonton musical Goong, kan? Aku dapat tiketnya. VIP,” jawab Donghae yang membuat Hamun bangun seketika.

“Jeongmal? Jeongmal?” tanyanya sekali lagi yang Donghae jawab dengan anggukan. Hamun kembali memeluk Donghae dengan erat sebagai tanda terima kasihnya. “Aku makin mencintaimu, oppa,” seru Hamun yang membuat Donghae tertawa.

*****

Sore itu hujan turun dengan lebat. Sudah 2 jam Hamun menunggu namun Donghae tidak kunjung memberikan kabar. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Panggilan bukan dari Donghae melainkan dari Kyuhyun. “Hamun, apa Hyejin bersamamu? Apa ia menghubungimu? Apa kau tahu dia dimana sekarang?” tanya Kyuhyun bertubi-tubi bahkan sebelum Hamun mengucapkan salam. Hamun merasa ada yang janggal. Kyuhyun terdengar sangat panik.

“Ada apa, oppa? Pelan-pelan. Aku tidak akan mengerti kalau kau berbicara dengan panik seperti itu,”

“Hyejin.. Ia pergi dari rumah saat aku bilang padanya kalau Donghae pernah sangat mencintainya,” jelas Kyuhyun. Jantung Hamun berdetak kencang mendengar penjelasan Kyuhyun itu. “Aku menceritakan itu karena aku tak mau ada rahasia apa pun antara aku dan dirinya. Apakah aku salah menceritakan itu, Hamun? Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Hyejin menghilang,” jelas Kyuhyun.

“Oppa, aku akan menghubungimu jika Hyejin ada di apartemenku.” Pikiran Hamun mulai memikirkan segala kemungkinan terburuk. ‘Apa ini yang menyebabkan Donghae oppa tidak menjemputku sejak tadi?’

*****

Hati Hamun terasa sakit saat melihat Donghae memandangi Hyejin yang tertidur di kamarnya dengan lembut. Ia juga melihat kalau tangan Donghae menggenggam tangan Hyejin dengan erat. ‘Apa karena eonni sampai  kau lupa mengabariku dan membiarkanku menunggu sekian lama, oppa? Apa karena eonni ada disini makanya kau lupa padaku? Apakah kau masih begitu mencintainya?’ Semua pertanyaan itu silih berganti melewati pikiran Hamun namun tidak ada satu pun yang bisa ia suarakan saat pria itu menatap wajahnya.

“Hamun,” kata Donghae yang langsung melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menghampiri Hamun. “Mianhe, aku lupa memberikan kabar,” ujarnya sambil mencium kening Hamun.

“Apa yang terjadi pada, eonni?” tanya Hamun, berusaha mengabaikan perasaannya yang penuh kegundahan. Hatinya bertarung antara harus mempercayai perkataan Donghae yang mengatakan kalau ia mencinta Hamun atau mempercayai apa yang ia lihat sendiri beberapa menit lalu.

“Aku tidak tahu. Ia datang dengan basah kuyub dan menangis histeris,” jelas Donghae. Hamun bisa melihat baju Donghae yang basah kuyub. Ia bisa membayangkan bagaimana Donghae sangat khawatir dan memeluk erat Hyejin. “Mianhe. Kita tidak jadi melihat drama musical itu. Suhu tubuh Hyejin cukup tinggi, Hamun. Kau mandi dulu saja, aku mau membuatkan bubur untuk Hyejin,” kata Donghae yang beranjak menuju dapur.

Saat Donghae hendak mengambil panci untuk membuat bubur Hyejin, sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Donghae sangat tahu siapa pemilik kehangatan ini. “Ada apa Hamun?” tanya Donghae dengan lembut sambil mengelus tangan Hamun yang ada di depan dadanya. Hamun terdiam, tidak menjawab. “Kau khawatir, sayang?” tanya Donghae yang sudah mengenal gelagat Hamun.

Hamun menatap Hyejin dengan sendu. Entah sejak kapan, eonninya sudah berdiri diambang pintu kamar, melihat Hamun memeluk Donghae. Hamun bisa melihat mata eonninya yang sudah memerah. Apakah ia menangis?

Donghae memutar tubuhnya sehingga kini ia bertatapan langsung dengan Hamun. “Aku mencintaimu. Percayalah padaku,” kata Donghae sambil mencium bibir Hamun lembut. Bibir mereka terlepas saat tanpa sengaja Hyejin menyenggol lemari yang ada didekatnya. Suara benda terjatuh membuat Donghae sadar kalau Hyejin melihat mereka.

“Mi-mianhe,” kata Hyejin dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya, gadis itu langsung melangkah keluar setelahnya.

Donghae terdiam. Tidak berusaha mengejar Hyejin. “Hamun, aku mau menelpon Kyuhyun dulu agar ia segera menjemput istrinya,” kata Donghae. Sebelum Donghae melangkah lebih jauh, Hamun menahan tangannya. “Oppa.. apa aku bisa percaya bahwa kau sudah mencintaiku saat ini?” tanyanya.

“Tentu saja,” jawab Donghae dengan yakin.

“Bahkan setelah kau tahu kalau Hyejin pernah mencintaimu?” tanya Hamun lagi sambil menatap pria itu dengan lekat. Hamun bisa melihat wajah Donghae yang terkejut mendengar hal itu. “Saat melihat Hyejin eonni tadi, dapat kupastikan kalau saat ini pun ia masih menyayangimu,” lanjut Hamun. Donghae terdiam, tak bisa berkata apa-apa, bahkan kini ia sudah menghindari tatapan Hamun. “Kau tetap mencintaiku, oppa?” tanya Hamun lagi. Hatinya berulang kali ia ingatkan agar kuat untuk menerima apapun jawaban Donghae.

“Aku.. mencintaimu, Hamun,” kata Donghae menjawab pertanyaan Hamun. Tangisan Hamun mengalir karena itu. Bukan tangis haru, tapi tangis pedih. Ia terlalu mencintai Donghae. Ia terlalu mengenal pria itu tapi ia tidak bisa mempercayai perkataan pria itu lagi.

Hamun menggenggam tangan Donghae dan membawanya menuju pintu apartemen Hamun. Hamun membuka pintu. “Ia masih mencintaimu, oppa. Kau punya kesempatan. Kejarlah,” kata Hamun. Sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya. Donghae menatap Hamun lirih namun pada akhirnya ia tetap pergi meninggalkan Hamun.

Hamun menutup pintu apartemennya. Tangisan yang ia tahan sedari tadi akhirnya mengalir. Rasa sakit ini jauh melebihi apa yang pernah ia rasakan selama ini.

*****

Saat Hamun hendak berangkat ke kampus, ia tidak sengaja bertemu dengan Donghae di depan apartemennya. Hamun tersenyum pada pria itu. “Hyejin eonni masih tidur, oppa. Tapi, panasnya sudah menurun. Kau mau menemuinya?” tanya Hamun. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak mengalir.

Melihat semua kepalsuan yang Hamun lakukan demi dirinya membuat hati Donghae tersakiti. “Hamun, if you love deeply, you’re going to get hurt badly. You know it, right?”

Senyum Hamun tak hilang dari wajahnya. Katanya, “It’s still worth it.”

“Donghae ah?” panggil Hyejin yang mendengar suara Donghae di luar.

“Sepertinya Hyejin eonni sudah bangun. Tolong jaga eonniku, oppa. Aku akan coba berbicara dengan Kyuhyun oppa. Mungkin ia bisa mengerti keadaanya. Bye, oppa. Aku kuliah dulu,” pamit Hamun. Saat air matanya mengalir, ia segera menghapusnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ini adalah yang terbaik untuk Donghae.

*****

Malam itu, Kyuhun mengajak Hamun bertemu di restaurant untuk berbicara mengenai Hyejin. Alangkah kagetnya Hamun saat ia mendapati kalau Kyuhyun tidak sendirian, melainkan ia sudah bersama dengan Hyejin.

“E-eonni? Kenapa ada disini?” tanya Hamun.

“Karena aku istri Kyuhyun,” balas Hyejin dengan lembut. Ia tersenyum memandang adiknya.

“Karena aku mencintai Hyejin,” kata Kyuhyun juga.

“Kyuhyun bisa menerimaku. Ia juga sudah memaafkanku. Aku tak mau menyakitinya lebih dari ini karena aku juga mencintainya,” jelas Hyejin.

“Lalu.. Donghae?” tanya Hamun tak mengerti.

“Aku tahu sekarang siapa yang benar-benar aku cintai,” ujar sebuah suara yang sangat Hamun kenal. Ia sangat kaget saat melihat Donghae sudah berdiri di sampingnya. “I love you, the one who make an effort to stay in my life,” kata Donghae.

“Bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Hamun yang masih takut untuk mempercayai kenyataan yang ada.

“Aku sadar, mungkin aku tidak benar-benar mencintai Donghae. Jika aku mencintainya, aku tidak akan menyerah sebelum mencoba. Saat aku melihat Kyuhyun, aku teringat semua usahanya yang membuatku mencintainya. Itu lebih berarti buatku. Lagipula, aku tidak cukup pantas untuk merebut seseorang yang sangat mencintai adik kesayanganku. Kau berkorban terlalu banyak padaku,” jelas Hyejin.

“Aku sadar kalau yang aku cintai adalah kau saat hatiku terasa sakit karena kau melepasku begitu saja, karena kau tidak percaya pada perasaanku. Aku tidak pernah menyangka kalau rasanya akan sesakit itu. Melebihi saat aku tahu Hyejin akan menikah dengan Kyuhyun,” kata Donghae.

Hamun menatap Donghae dalam diam. Air mata sudah menumpuk di pelupuknya. “Aku tahu kau diam karena kau takut untuk percaya, kan, Hamun?” tebak Donghae yang sudah sangat mengenal Hamun. “Tidak apa-apa, aku akan menunggu sama seperti kau yang selalu menungguku,” lanjutanya. Ia mengecup kening Hamun lalu keluar dari tempat itu.

“Kau yakin tidak mau mengejarnya, Hamun?” tanya Kyuhyun yang Hamun jawab dengan anggukan kepala.

Hyejin berpindah tempat duduk ke samping Hamun. “Kemarin saat Donghae mengejarku, yang ia lakukan pertama kali adalah meminta maaf padaku,” jelas Hyejin.

“Waeyo?” tanya Hamun tak mengerti.

“Ia bilang, ia tidak bisa membalas perasaanku karena gadis yang ia cintai adalah kau. Akhirnya ia menelpon Kyuhyun untuk menenangkanku. Saat aku tanya kenapa ia tidak mencintaiku lagi, ia menjawab, ‘Aku menemukan seseorang yang ingin kubahagiakan. Ia adalah gadis yang merelakan segala sesuatunya, bahkan kebahagiaannya, demi kebahagiaanku. Apa ada orang sebodoh dia di dunia ini? Ada. Aku. Kenapa butuh waktu yang lama untukku menyadari bahwa ia sangat berharga?’” ujar Hyejin.

“Ia mengejar Hyejin bukan untuk kembali padanya melainkan untuk menyelesaikan masalahnyanya. Ia bilang, jika ia tidak melakukan ini sampai kapan pun kau tidak akan bisa tenang,” jelas Kyuhyun. “Sebagai kakak ipar yang baik, aku menilai Donghae adalah pria yang tepat untuk membahagiakan adik iparku,” lanjutnya sambil mengelus kepala Hamun.

“Sebagai kakak yang baik, aku percaya kalau kau tahu apa yang terbaik untukmu. Jadi.. apa kau masih mau diam saja disini?” tanya Hyejin.

“Aku butuh waktu, eonni, oppa,” jawab Hamun singkat memohon pengertian mereka. Hyejin menghela nafas panjang mendengar jawaban itu. Ia tahu bahwa Hamun juga tidak bisa disalahkan. Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang Hamun rasakan selama ini.

*****

Selama dua minggu ini, sudah menjadi kebiasaan Donghae untuk menyelinap masuk ke kamar Hamun. Gadis itu belum mengubah kebiasaannya. “Kau ini tidak berubah juga ternyata. Bagaimana kalau aku kalap dan menyerangmu?” gerutu Donghae sambil membetulkan posisi selimut yang Hamun gunakan. Donghae duduk di tepi tempat tidur Hamun dan melakukan kebiasaannya, mengelus puncak kepala Hamun.

Hamun tidak pernah berbicara lagi dengan Donghae. Ia bersikap seakan pria itu tidak ada saat mereka bertemu tanpa sengaja. Hati Donghae sakit, namun ia tidak bisa menyalahkan Hamun. Ia sadar kalau dirinya adalah orang yang paling sering menyakiti Hamun dan ia bisa menerima kalau Hamun bersikap seperti itu padanya. Akan tetapi, ia tidak dapat menahan rasa rindunya, akhirnya inilah yang ia lakukan. Menatap Hamun dalam diam. Ia ingin lebih dari itu, namun ia tahu kalau dirinya tidak memiliki hak untuk itu.

Setelah setengah jam melihat wajah Hamun yang tertidur dengan tenang, Donghae akhirnya beranjak pergi. Mendengar suara pintu kaca yang tertutup, membuat Hamun membuka matanya. Air matanya mengalir mengingat kehangatan tangan Donghae yang mengelus kepalanya dengan lembut. Ia tahu selama dua minggu ini Donghae selalu datang menghampirinya. Ia pun bisa merasakan kalau perasaan Donghae padanya bukan ilusi. Akan tetapi, hatinya belum siap untuk tersakiti kembali.

*****

Siang harinya, tiba-tiba Hyeji menelpon Hamun. “Waeyo eonni?” tanya Hamun.

“Do..Dong..Donghae kecelakaan, Hamun..,” ujar Hyejin yang membuat air mata Hamun langsung mengalir. Ia tak bisa mendengar apa pun yang eonninya katakan setelah itu. Hamun langsung beranjak pergi menuju rumah sakit yang diberitahukan.

Setibanya Hamun di emergency room, Hamun tidak melihat keberadaan Donghae. Lalu, sebuah tempat tidur dengan pasien yang telah ditutupi selimut lewat dihadapannya. “Maaf, suster. Pasien itu kenapa?” tanya Hamun sambil menunjuk pasien yang baru melewatinya.

“Ia sudah meninggal karena kecelakaan mobil dua jam yang lalu,” jelasnya. Tubuh Hamun lemas mendengar hal itu. Langkahnya gontai namun ia berjalan menuju tempat pasien itu dibawa. Begitu ia sudah di samping pasien itu, air mata Hamun kembali mengalir. “Mianhe, oppa.. Mianhe.. Jangan tinggalkan aku seperti ini.. Aku masih sangat mencintaimu, oppa.. Aku mohon, oppa.. kembalilah padaku..,” tangisan Hamun tak kunjung berhenti.

“Aku menunggumu untuk mengatakan itu, Hamun. Aku ingin kembali bersamamu,” ujar sebuah suara. Hamun menengadahkan kepalanya dan mendapati Donghae berdiri di sampingnya dengan senyumnya yang lembut. “Oppa?” tanya Hamun yang takjub karena keberadaan pria itu. Ia berdiri lalu menyentuh wajah Donghae dan luka yang ada di dahinya. Meyakinkan kalau orang dihadapannya ini adalah Donghae. “Kau.. baik-baik saja?” tanya Hamun.

Donghae tertawa pelan sambil mengusap air mata Hamun yang belum berhenti mengalir. “Aku mengalami luka ringan di kepala dan kakiku. Aku melihatmu tadi di emergency room tapi kau tak melihatku dan mengira kalau pasien ini adalah aku. Jadinya aku mengikutimu ke ruangan ini. Mianhe, aku kembali membuatmu menangis, Hamun,” ujarnya.

Hamun menggeleng lalu menarik pria itu ke dalam pelukannya. “Aku tidak bisa membayangkan kalau kau benar-benar pergi meninggalkanku. Lebih baik aku merasa sakit karena kau daripada tidak bisa melihatmu lagi,” kata Hamun.

Donghae membalas pelukan itu dan mengelus kepala Hamun. “Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku bisa menjamin, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia. Give your heart permission to be happy. It’s been too long, Hamun,”

Hamun mengangguk. Ia sudah membuat keputusan. “Saranghae, oppa,” kata Hamun. Ia menengadahkan wajahnya untuk dapat melihat pria itu. Donghae mengecup bibir gadis itu. “Aku juga, sayang. Sepertinya kita harus segera pindah tempat. Disini auranya cukup mengerikan,” ujar Donghae yang membuat Hamun tertawa.

 

*****

“Oppa, bangun.. kau sengaja tidak mengunci kacamu agar aku bisa masuk ya?” ujar sebuah suara yang Donghae kenal. Donghae tersenyum karena memang ia sengaja melakukan hal itu. Ia membuka matanya dan mendapati Hamun berdiri di samping tempat tidurnya.

Donghae menggenggam tangan Hamun dan menarik gadis itu ke tempat tidur. “Aku masih mengantuk. Sini, temani aku sebentar,” kata Donghae yang sudah kembali tidur sambil memeluk Hamun dengan erat. Sambil menunggu Donghae, Hamun memainkan rambut kekasihnya yang sudah tumbuh lebih panjang. Ia juga mengelus pipi Donghae dengan lembut. Entah sejak kapan akhirnya Hamun mengecup singkat bibir pria itu. Hamun tertawa kecil menyadari apa yang ia lakukan. “Mianhe, oppa,” bisik Hamun.

Tiba-tiba, Donghae memutar tubuh Hamun sehingga kini gadis itu berada di atas tubuhnya. “Akan kumaafkan kalau kau menciumku sepuluh kali,”

“Yaa, oppa! Kau tidak benar-benar tidur?” omel Hamun yang kesal. Ia merasa malu karena Donghae mengetahui perbuatannya.

“Bagaimana aku bisa benar-benar tidur kalau wanita yang aku sayangi ada di sampingku?” jelas Donghae. Donghae memajukan bibirnya beberapa kali seakan meminta Hamun melakukan apa yang ia minta tadi. Ia sangat senang melihat Hamun yang tersipu malu.

“1,” hitung Donghae saat Hamun mengecupnya kilat.

“2,” kecupan Hamun yang kedua.

“3..,”

“Wah-wah-wah, kalian…,” ujar sebuah suara.

“Oppa?” gumam Hamun yang kaget karena kakak iparnya sudah berdiri di balkon kamar Donghae.

“Aku disuruh Hyejin memeriksa apakah ada Donghae di kamar Hamun. Tapi, Hamun tidak ada. Aku merasa aneh karena pintu kaca Hamun terbuka. Ternyata kau disini,” jelas Kyuhyun dengan senyum seringai penuh maksud.

“Mana Hamun, Kyu?” tanya Hyejin dari kamar Hamun yang bisa didengar oleh ketiga orang lainnya.  Hamun menatap Kyuhyun dan menggeleng seakan meminta pria itu untuk tidak memberitahu kakaknya.

Donghae meminta Hamun untuk berdiri, begitu juga dirinya. Ia menggandeng tangan Hamun dan berjalan menuju balkon. “Hyejin disini Hamun,” kata Donghae dengan tenang sambil menunjukan tampang Hamun yang bersembunyi di belakangnya. “Kami butuh waktu berdua. Jadi, kalian bisa mempercayakan Hamun padaku,” lanjutnya. Ia langsung menutup pintu itu dan juga menutup kordennya.

“Lee Donghae!!!” Donghae tertawa mendengar teriakan Hyejin.

“Hyejin ah, aku mohon jangan melompati pagar pembatas itu. Jangan kesini. Jangan. Jangan. Ingat perutmu, sayang. Ingat Kihyun yang ada di perutmu,” pinta Kyuhyun yang terdengar sampai ke kamar Donghae.

Hamun tertawa mendengar hal itu. “Kyuhyun oppa pasti kerepotan mengurus eonni,”

“Itu akibatnya kalau berani mengganggu kita,” ucap Donghae. “Kau libur, kan, hari ini? Aku akan bolos kerja. Maaf membuatmu menyiapkan segala sesuatunya sendiri selama ini, aku akan membantumu seharian,” lanjutnya sambil menarik Hamun ke dalam pelukannya. “Tapi tadi baru sampai 3. Jangan pura-pura lupa, Hamun,”

“Yaa, oppa-” ucapan Hamun terpotong karena Donghae menciumnya dengan lembut.

“Itu tidak dihitung karena aku yang menciummu,” kata Donghae setelah ia melepas bibirnya.

“Oppa!” seru Hamun untuk menyembunyikan besarnya kebahagiaan yang ia dapat dari Donghae selama 4 tahun ini.

‘Finally, I find the one who isn’t afraid to admit that he miss me. The one who know that I’m not perfect but treat me as I am. The one who’s bigger fear is losing me. The one who give me his heart completely,’

“Aku tahu sekarang kenapa Hyejin sangat protektif padamu. Kau sangat lucu, Hamun,” ujar Donghae sambil tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak sabar menunggu bulan depan. Kau pasti sangat cantik dengan wedding dress itu,”

‘Last but not least, I find the one who wouldn’t mind waking up with me in the morning, seeing me in wrinkles and gray hair, but still falls for me all over again,’ – Hamun.

END

Your comments are loves for me, so if you don’t mind, would you like to leave your comments here? thank you for reading!