Hope you enjoy it!🙂 would you like to leave your comments? Thank you so much for reading🙂

Donghae sedari tadi hanya duduk di ruang makan sambil melihat smartphonenya yang tak kunjung menerima kabar dari Hamun. Donghae akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat kembali fotonya dan Hamun yang sudah ratusan kali ia lihat. Hanya supaya rasa rindunya yang menggebu ini bisa berkurang.

“Kau sangat rindu dengan Hamun?” tanya Siwon yang sepertinya sudah sejak tadi memperhatikan Donghae. Donghae menjawab dengan anggukan. “Lalu bagaimana kabarnya? Apa dia sudah sembuh?” tanya Siwon lagi yang membuat dahi Donghae mengkerut.

“Sembuh? Memang Hamun sakit apa?” tanya Donghae lagi yang membuat Siwon sadar kalau ia berbicara terlalu jauh.

“Maksud aku, apa rasa rindumu sudah sembuh dengan melihat foto Hamun itu?” kilah Siwon yang tidak dipercaya Donghae. “Aku memang tidak sepintar kau, tapi kalau berbicara tentang Hamun, aku tidak mudah untuk dibohongi,” keluh Donghae. Sekeras apapun Siwon mengelak, akhirnya ia memberitahukan kebenarannya pada Donghae.

“Kata Jihyo, Hamun sakit. Sejak dua hari lalu ia dirawat. Katanya dia terlalu memforsir tubuhnya. Tapi, ia minta member SG merahasiakannya dari siapapun terutama kau, agar kau tidak khawatir. Jadi, jangan khawatir. Okay?” ujar Siwon sambil menepuk pundak Donghae.

“Aku harus segera menemui Hamun,” ujar Donghae yang sayangnya dicegah Siwon.

“Ini yang membuat Hamun tidak mau memberitahukan kondisinya padamu. Kau pasti mau menjenguknya tanpa peduli kau akan dihukum. Kalau begini, Hamun akan sedih karena rasa bersalah,” ujar Siwon mengingatkan. Donghae akhirnya kembali duduk dan menimbang-nimbang perkataan Siwon.

“Hamun dirawat dimana?” tanya Donghae.

“Aku tak mau memberitahu,” kata Siwon.

Donghae menghela nafas panjang. “Aku janji, aku tidak akan mengunjungi Hamun sebelum libur sabtu depan,” ucapnya.

Siwon menatap Donghae dengan seksama, menguji kesungguhan sahabatnya itu. “Baiklah. Di rumah sakit Seoul,” jawab Siwon.

Tak lama kemudian, bel yang menandakan mereka harus berkumpul berbunyi. Dalam waktu yang singkat, semua orang termasuk Donghae dan Siwon sudah berdiri di tengah lapangan.

“Besok, kepolisian Seoul mengadakan acara untuk anak-anak di rumah sakit Seoul. Kami butuh volunter yang mau menggunakan baju boneka polisi ini,” ujar kapten tim kesatuan Donghae di wajib militernya.
Semua orang saling berpandangan. Tidak ada yang mau menggunakan boneka itu di tengah suhu Seoul yang cukup tinggi beberapa hari ini. Donghae tiba-tiba mengangkat tangannya dan membuat heran semua temannya. “Aku mau,” kata Donghae dengan sungguh-sungguh.

Siwon hanya tertawa kecil melihat Donghae seakan ia bisa membaca isi kepala pria itu.

*****

Hamun terbaring dengan lemah di rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. Kata dokter, Hamun terlalu memforsir tubuhnya untuk kerja dan kuliah. Akibatnya, ia harus istirahat selama seminggu di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Hyejin, Jihyo, Hyunah, dan Minah bersamaan. Mereka adalah orang pertama yang mengunjungi Hamun pagi ini.

Hamun tersenyum sebisanya. Ia senang melihat perhatian dari onniedulnya itu. “Menurut onnie?” tanya Hamun balik.

“Kau tampak mengenaskan,” jawab Kyuhyun yang baru saja masuk ke ruangan Hamun.

“Hai, oppa,” sapa Hamun balik tanpa memandang pria itu. Hyejin sedang merapikan baju Hamun yang ia bawa di lemari, Minah merapikan make up yang ia bawa untuk Hamun, Hyunah sedang menyusun buah-buahan di lemari es, dan Jihyo kini sudah duduk di kasur Hamun sambil menunjukkan artikel yang membahas Park Bogum pada Hamun.

“Kau membuatku sangat khawatir beberapa hari yang lalu. Kau tahu?” tanya Hyejin retoris. Hamun tertawa mengingat malam itu saat Hyejin memiscallnya hingga 50 kali dan menelponnya tiap 10 menit. Hyejin cemas karena saat Hamun harus masuk rumah sakit, ia masih syuting sehingga tidak bisa melihat kondisi Hamun secara langsung.

“Apa kau tahu? Keesokannya, pagi-pagi jam 4 Hyejin sudah ada di dorm Super Junior dan memaksaku untuk membawanya kesini,” imbuh Kyuhyun.

“Kami membujuk Hyejin mati-matian agar ia mau menunggu,” jelas Minah. “Aku membawakan beberapa make up, biar kau tidak tampak pucat,” lanjutnya.

“Bagaimana makanan disini Hamun? Aku ingin memasakkan bubur untukmu tapi suster melarangku. Aku sedih. Kau pasti makan sesuatu yang tidak enak,” kata Hyunah.

“Kau pasti bosan. Ini aku pinjamkan tabku untukmu,” kata Jihyo sambil memberikan tabnya tadi.
Hyejin tersenyum pada onnie dan oppanya itu. “Mungkin sakit adalah hal yang menguntungkanku saat ini,” kata Hamun.

“Yaa! Kenapa kau bilang begitu?” omel Hyejin.

“Karena aku bisa melihat bahwa onnie dan oppa sangat menyayangiku. Aku terharu,” kata Hamun yang membuat onniedul lainnya tersenyum.

“Meski kau tidak sakit, kami juga selalu menunjukan kalau kami menyayangimu,” kata Kyuhyun yang direspon dengan gelengan kepala oleh Hamun.

“Kalian sering menggangguku saat aku sehat,” jelas Hamun dengan wajah yang dibuat serius hingga membuat semua orang disitu tertawa.

“Ah, iya, kau tetap tidak memberi kabar pada Donghae oppa?” tanya Minah. Hamun menggeleng.

“Akan kuberitahu hari Sabtu nanti saat ia libur, eonni. Jika tidak, bisa-bisa ia berusaha kabur dari sana. Aku tidak tega melihatnya dihukum,” jelas Hamun. “Sudah jam 8 pagi, eonnidul. Kalian ada jadwal, kan? Sana pergi. Pasien mau istirahat,”

“Yaa, Kang Hamun! Tidak sopan!” seru keempat eonninya yang membuat Hamun tertawa sangat keras.

“Aku titip mereka, ya, oppa,” kata Hamun pada Kyuhyun. Kyuhun tersenyum pada Hamun dan menarik Hyejin, Minah, Hyunah, Jihyo, keluar dari ruangan itu.

Hamun hendak menutup matanya lagi karena ia masih mengantuk namun tiba-tiba pintunya diketok oleh seseorang. “Eonnidul, waeyo? Aku mau tidur,” keluh Hamun. Akan tetapi, Hamun terperanjat saat melihat sosok boneka dengan kepalanya yang besar dan memakai baju kepolisian Seoul membuka pintu kamarnya.

“Annyeonghaseyo!” sapa boneka itu sambil membungkukkan badannya. “Aku diminta oleh Hyejin untuk datang kesini menghibur dan menemanimu,” jelasnya.

“Jeongmalyo?” tanya Hamun penuh antusias. “Kau bisa menghiburku seperti apa?” tanya Hamun penasaran.

“Aku bisa menari,” jawab boneka itu.

“Jeongmal?” Hamun tampak tidak percaya karena menurutnya pasti akan susah untuk menari dengan baju itu. Akhirnya, boneka tersebut menarikan koreografi dari lagu Sorry Sorry, Mr. Simple, Devil, dan lagu Super Junior lainnya. Tak jarang boneka itu terjatuh, menabrak rak di belakangnya, dan lupa gerakannya. Hamun tertawa tak henti-henti karena boneka itu.

“Cukup, cukup, perutku sakit karena tertawa terus,” ujar Hamun, masih sambil tertawa dan menitikan sedikit air mata karena ia terlalu senang. Boneka itu menghampiri Hamun lalu tiba-tiba mengelus kepala gadis itu dan mengusap air mata Hamun.

Hamun tersenyum pada boneka itu dan menggenggam kedua tangan si boneka. “Kau mengingatkanku pada orang yang paling kusayangi dan kurindukan saat ini,” ujar Hamun.

“Siapa dia? Aku boleh tahu?” tanya si boneka.

“Karena kau sudah menghiburku, aku akan memberitahukannya. Namanya Lee Donghae. Dia kekasihku,” jelas Hamun. Ia tampak bahagia saat memperkenalkan bahwa Donghae adalah kekasihnya.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahu dia kalau kau sakit?” tanya boneka itu.

“Karena, kalau dia tahu aku sakit, ia pasti akan berusaha untuk segera kesini meskipun ia harus melanggar banyak peraturan. Aku tidak mau kekasihku dihukum,” jawab Hamun.

Boneka itu kembali mengelus kepala Hamun. “Anak baik. Kekasihmu sangat beruntung memiliki pacar seperti dirimu,” katanya.

Hamun menggeleng. “Aku yang beruntung dicintai olehnya,” jawabnya.

“Sekarang aku harus pergi. Cepat sembuh ya, Hamun!” ucap si boneka itu lalu pergi keluar dari kamar Hamun. Setelah itu, Hamun langsung menelpon Hyejin untuk berterima kasih.

“Eonni, terima kasih! Boneka itu benar-benar berusaha menghiburku,” kata Hamun begitu Hyejin mengangkat teleponnya.

“Hamun… kau bicara apa? Aku tidak mengerti. Apa kau sedang mengigau? Atau kau berhalusinasi? Astaga! Apa aku perlu kembali kesana untuk memeriksa keadaanmu, Hamun?” tanya Hyejin bertubi-tubi.

“Ani, eonni. Aku baik-baik saja. Eonni tidak perlu kesini,” kata Hamun yang langsung menutup telepon itu sebelum Hyejin dan eonnidulnya yang lain benar-benar kembali kesini. Hamun terdiam mencoba mereview kembali ingatannya. Ia ingat bagaimana boneka tadi mengelus kepalanya dengan lembut. Ia juga teringat akan pertanyaan aneh yang ditanyakan boneka itu padahal Hamun tidak cerita kalau ia tidak memberitahukan Donghae tentang kondisinya yang sakit. Senyum Hamun menggembang saat memikirkan kemungkinan yang ada. Hamun segera turun dari tempat tidurnya sambil membawa infus untuk mencari boneka itu.

*****

“Hai,” sapa Hamun yang membuat boneka itu terperanjat.

“Kenapa kau ada di backstage?” tanya boneka itu.

“Menemui Siwon oppa dan Changmin oppa. Mereka teman-temanku,” kata Hamun. “Aku juga diminta tolong oleh kapten untuk membantu Elsa menyanyi. Katanya, suara gadis itu tiba-tiba serak sejak tadi pagi. Jadi, aku akan menyanyi dari belakang sini,” jelas Hamun sambil menunjuk polisi wanita yang menggunakan baju Elsa Frozen.

“Tapi.. Kau masih sakit. Harusnya kau istirahat saja,” kata boneka itu, dari cara bicaranya Hamun bisa merasa kalau orang yang ada di dalam boneka itu mengkhawatirkannya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya akan menyanyi dan tidak banyak gerak. Lagipula, aku mendapat tawaran yang menarik dari kapten jika aku membantunya,”

“Apa itu?”

“Rahasia,” jawab Hamun sambil tertawa. Hamun mengambil kedua tangan boneka itu. “Apa kau cemas karena sebentar lagi kau akan tampil?” tanya Hamun. Boneka itu mengangguk.

“Ayo berdoa. Aku dan kekasihku selalu melakukan ini bersama jika kami tampil di acara yang sama.” Hamun menutup mata dan mendoakan orang yang ada di dalam boneka itu. “Amin,” kata Hamun. “Semangat! Kau pasti bisa melakukannya dengan baik,”

Boneka itu mengacungkan jempolnya lalu segera naik ke panggung untuk mempertunjukan drama musical untuk anak-anak yang ada di rumah sakit ini.

Siwon menghampiri Hamun sambil tersenyum. “Kau sudah tahu?” tanya Siwon yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Begitu tahu kalau event ini akan diselenggarakan di rumah sakit yang sama dengan tempatmu dirawat, ia langsung mengajukan diri untuk menggunakan boneka itu,” jelas Siwon sambil tertawa.

Hamun memukul Siwon pelan. “Kau, sih, oppa. Kalau kau tidak kelepasan memberitahu dia, Donghae oppa tidak akan menggunakan boneka itu ditengah-tengah suhu yang tinggi seperti sekarang,” gerutu Hamun dengan tampang yang ia buat-buat marah. Tawa Siwon makin keras sambil mengacak rambut Hamun.

*****

Acara itu berjalan dengan baik dan mendapat sambutan yang baik pula dari berbagai pihak. Setelah acara itu selesai, semua polisi, anggota wajib militer, dan semua pihak yang membantu berkumpul di backstage. “Terima kasih Kang Hamun sudah membantu kami!” seru mereka semua pada Hamun. Hamun pun tampak bahagia karena ia menjadi bagian dari acara charity ini. Tak lama kemudian, orang-orang di backstage saling berfoto bersama dan banyak pula yang minta foto bersama dengan Hamun.

“Apa aku boleh foto denganmu?” tanya salah seorang polisi.

“Tapi wajahku sangat pucat saat ini bahkan aku masih menggunakan baju rumah sakit. Tidak apa?” tanya Hamun balik.

“Tidak apa, kau tetap sangat cantik!” serunya. Para polisi itu minta tolong pada Siwon dan Changmin karena sejak tadi mereka berdua berdiri di sisi kanan-kiri Hamun. Sebenarnya, Donghae yang minta tolong pada mereka berdua untuk menjaga Hamun dari para pria buas lainnya. Lagipula, Hamun masih sakit, Donghae tak mau Hamun terjadi  sesuatu pada Hamun.

Tiba-tiba, Hamun menghampiri boneka itu. “Aku mau foto denganmu. Boleh?” tanya Hamun pada orang di dalam boneka itu. Boneka itu sejak tadi berdiri di pojokan backstage entah kenapa. Akhirnya, dibantu oleh Siwon, Hamun berfoto dengan boneka itu.

“Ayo semuanya berkumpul di tengah,” seru kapten. Dalam sekejap, semua orang sudah mengelilingi kapten itu. Begitu juga dengan Hamun, Siwon, Changmin, dan si boneka.

Setelah memberikan kata penutup yang cukup panjang untuk anggotanya, kapten itu bertanya, “Ada yang mau bertanya?”

Hamun mengangkat tangannya. “Kapten, apa aku boleh meminta bayaranku sekarang?” tanya Hamun yang membuat orang-orang disitu kaget. Menurut mereka, membicarakan masalah uang di depan banyak orang itu kurang pantas.

Hamun tertawa melihat tampang kapten dan semua orang yang ada disitu kebingungan. “Aku tidak butuh uang. Apabila suatu hari nanti kapten butuh bantuanku lagi dan aku punya jadwal kosong, aku akan membantu dengan sukarela,” jelas Hamun.

“Lalu apa yang kau inginkan sekarang, nona Hamun?” tanya kapten.

Hamun menoleh pada boneka di sampingnya. “Aku ingin meminjam boneka ini seharian,” jawab Hamun yang membuat semua orang disitu heran. “Ah, ani, maksudku…” kalimat Hamun terpotong. Ia menjinjit untuk melepaskan kepala boneka itu.

“Maksudku, aku mau meminjam orang yang ada di dalam boneka ini,” kata Hamun sambil tersenyum pada pria yang ada di dalam boneka itu, pria yang sangat ia sayangi, Lee Donghae.

Semua orang yang ada di tempat itu sudah heboh karena permintaan Hamun tadi. “Sejak kapan?” tanya Donghae yang masih tak percaya kalau kekasihnya tahu bahwa orang yang ada dalam boneka itu adalah dirinya.

“Sejak kau keluar dari kamarku, oppa. Lagipula, jika ada Siwon dan Changmin oppa ada disini kau juga pasti ada,” kata Hamun. Hamun mengusap keringat di sekitar wajah dan leher Donghae dengan tangannya. “Kau pasti lelah. Terima kasih sudah berusaha, oppa,” lanjutnya. Siwon, Changmin, dan polisi lainnya tampak sangat iri pada Donghae

Kapten berdeham untuk menghentikan aktivitas pasangan tersebut. “Baiklah, sebagai bayaran untuk nona Hamun, aku akan mengabulkan permintaannya. Donghae akan kuberikan libur hari ini,” kata Kapten. Hamun yang senang langsung memeluk Donghae. Donghae membalas pelukan itu sambil memberikan senyum penuh kemenangan pada Siwon, Changmin, dan teman-temannya yang lain.

“Hamun, aku ganti baju dulu. Siwon ah, Changmin ah, jaga Hamunku,” ujar Donghae yang membuat Hamun tertawa karena Siwon dan Changmin sudah menatap Donghae dengan sebal.

Tak berapa lama kemudian, Donghae keluar dengan kemeja putih dan celana hitam. Jas seragam polisinya ada di tangannya. “Kajja. Kita kembali ke kamarmu,” ajak Donghae. Saat Hamun hendak berdiri, tiba-tiba ia merasa pusing dan hampir terjatuh. Untung saja Donghae berdiri di dekatnya dan dengan sigap menangkapnya.

“Waeyo?” tanya Donghae khawatir.

“Hanya kelelahan, oppa,” jawab Hamun.

Melihat wajah Hamun itu membuat Donghae tidak tega. Tiba-tiba, Donghae mengangkat Hamun dan menggendongnya ala bridal style. Anggota polisi yang lain sudah bersiul menggoda mereka. Wajah Hamun merona merah karena malu. “Oppa, turunkan aku,” pinta Hamun. Donghae hanya tertawa melihat wajah Hamun yang sudah ditutupi dengan tangannya sendiri.

“Bye, kami pergi dulu,” pamit Donghae. “Terima kasih, kapten!” serunya dengan riang.

*****

Donghae meletakkan Hamun di tempat tidurnya pelan-pelan. “Apa kabar sayangku?” tanya Donghae yang berdiri di hadapan Hamun.

“Setelah melihat oppa, aku merasa jauh lebih baik,” jawab Hamun yang membuat Donghae gemas dengan kekasihnya dan mencubit pipi Hamun. “Oppa bagaimana?” tanya Hamun balik.

“Tidak baik. Aku kesal karena kau selfie dengan polisi-polisi yang lain,” gerutu Donghae yang membuat Hamun tertawa terbahak-bahak. “Bagus, Hamunku jauh lebih cantik saat tertawa,” ujar Donghae.

“Dasar Lee Donghae! Jangan membuatku malu oppa,” omel Hamun. Ia langsung tidur di tempat tidur itu dan memunggungi Donghae. “Aku mau tidur saja,” katanya.

Donghae berjalan ke sisi tempat tidur yang lain sehingga kini Hamun berhadapan lagi dengan pria itu. “Geser. Aku juga capek, mau tidur,” ujar Donghae. Tanpa menunggu persetujuan Hamun, Donghae langsung naik ke tempat tidur. Ia menggenggam salah satu tangan Hamun.

“Oppa.. Kalau ada suster yang masuk bagaimana?” tanya Hamun.

“Biarkan saja. Aku sudah sangat merindukanmu, Hamun. Tidurlah. Kau harus istirahat,” ujarnya sambil mencium kening Donghae.

Hamun tersenyum pada pria itu. Kini ia mendekati tubuh Donghae dan memeluk erat pria itu. “Aku sangat rindu pada oppa. Terima kasih oppa sudah berusaha untuk menemuiku disini,” kata Hamun. Ia menengadahkan kepalanya untuk memberikan senyum terbaiknya pada Donghae.

Dengan secepat kilat, Donghae mengecup bibir Hamun. “Maaf, aku tidak tahan,” kata Donghae sambil menyeringai. Hamun memukul Donghae pelan dan membuat pria itu tertawa. Donghae menarik Hamun kembali dalam pelukannya dan mencium pipi gadis itu. “Terima kasih sudah sangat memikirkanku, Hamun,”

*****

Hyejin dan Joongki membuka pintu kamar Hamun tanpa mengetuk terlebih dahulu, rencananya mereka mau mengejutkan Hamun karena ditengah kesibukannya, Joongki menyempatkan diri untuk menjenguk dongsaeng kesayangannya selain Hyejin (Hyejin hanya menemani, tapi ia juga tertarik untuk memberikan kejutan pada Hamun). Akan tetapi, sebelum mereka sempat mengeluarkan suara, Joongki menutup mulut Hyejin.

“Astaga, Lee Donghae!” seru Joongki dengan volume sekecil mungkin.

“Oppa, mereka sangat sweet. Ini seperti di scene Descendant Of The Sun sewaktu oppa dirawat di rumah sakit dan tidur dengan Hyekyo eonni,” kata Hyejin yang tak kalah ecxited.

Joongki mengangguk setuju. Mereka berdua bertatapan dan senyum mereka terkembang diwaktu yang bersamaan seakan mereka punya pemikiran yang sama.

*****

Setelah tertidur cukup lama, Hamun terbangun. Ia mengelus lembut kepala Donghae yang masih tertidur nyenyak. Tanpa sengaja, Hamun menyisir pandangannya kesetiap sudut kamarnya. Ia menemukan bingkisan buah di lemari yang ada di sebelah kasurnya. Ada note di atasnya. ‘Kalau sudah bangun, cek smartphonemu nae dongsaeng – Song Joongki’

Hamun yang bingung dengan pesan itu pun tetap membuka smartphonenya. Ia sangat terkejut saat melihat banyak notifikasi terutama di akun media sosialnya. Ia pun membuka notifikasi itu dan melihat postingan terbaru dari Joongki dan Hyejin.

“Menurut kalian, mana yang lebih romantis? Versi mereka atau versiku?” itulah caption yang ditulis Joongki dari foto yang diuploadnya. Foto Donghae dan Hamun yang sedang tidur sambil berpelukan di rumah sakit versus foto scene Joongki dan Hyekyo di Descendant of The Sun. Ada ribuan komentar yang memilih versi Hamun-Donghae lebih romantis.

“Bagus juga fotonya,” gumam Donghae yang entah sejak kapan sudah bangun dan melihat foto itu melalui smartphone Hamun. Donghae tampak sangat senang dengan hasil foto itu.

“Yaa, oppa! Jangan senang dulu!” seru Hamun panik.

Dari posisinya saat ini, Donghae bisa melihat kalau banyak perawat dan dokter berdiri diambang pintu kamar Hamun. Mereka terlihat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh kedua insan itu. Mereka juga mengeluarkan smartphone mereka untuk memfoto dan memvideo kedua pasangan itu. “Hamun, coba lihat ke pintu kamar,” ujar Donghae.

Saat Hamun menoleh, wajahnya berubah menjadi merah padam. Ia bahkan sudah menutup kepala hingga mukanya dengan selimut karena ia sangat malu. “Oppa……,” gumam Hamun meminta pertolongan Donghae.

Hamun bisa merasakan kalau Donghae turun dari kasur dan mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali. “Aku sudah meminta mereka pergi, Hamun,” ujar Donghae.

“Jeongmal?” tanya Hamun yang belum berani membuka selimut yang menutupi wajahnya.

Donghae tertawa lalu mengangkat sedikit selimut itu sehingga kini ia bisa melihat wajah Hamun. “Tenanglah. Mereka pasti akan segera lupa,” ujar Donghae sambil mengecup bibir Donghae.

“Kau benar, oppa,” ujar Hamun berusaha mensugesti dirinya sendiri. Donghae kembali mengambil posisi tidur di samping Hamun. “Sini,” ajak Donghae dengan tangannya yang terbuka lebar untuk memeluk Hamun.

Meskipun malu, Hamun tetap memeluk Donghae kembali. “Aku tidak mengantuk, oppa,”

“Aku juga. Tapi aku ingin seperti ini lebih lama lagi,” kata Donghae yang membuat Hamun tertawa. Donghae sangat bahagia melihat wajah Hamun itu. “I have a story to tell,”

“Jeongmal? Tentang apa, oppa?” tanya Hamun penasaran.

Donghae menatap gadis itu dalam. Ia menggenggam tangan Hamun dan mengecup kening Hamun. “This story tells about the sun that loved the moon so much so he died every night to let her breath. I’m the sun and you’re my moon. I love you,”

*****

“Kyu oppa, lihat ini,” ujar Hyejin sambil memberikan smartphonenya pada Kyuhyun. Hyejin menunjukkan postingan instagram Donghae yang memperlihatkan tangannya bersanding dengan tangan Hamun. Dijari manis Donghae terdapat sebuah cincin dengan ukiran matahari, sedangkan dijari manis Hamun terdapat cincin dengan ukiran bulan. Captionnya: “I’m the sun and she’s my moon. I hope there’s a word can describe something that more than love. That’s how i feel toward her,”

“Waeyo?” tanya Kyuhyun bingung.

“Donghae oppa sangat so sweet,” gerutu Hyejin dengan bibir yang sudah ia manyunkan beberapa senti.

Kyuhyun menahan tawanya. “Aku juga. Tapi dengan caraku sendiri,” ujar Kyuhyun yang langsung mencium bibir Hyejin.

END

CiPMHaRUkAEYmV-