W’s

LIMA bulan lalu, pernikahanku dibatalkan tepat pada harinya. Seorang wanita dan dua anak kecil tiba-tiba muncul yang mengaku sebagai istri dan anak-anak calon suamiku. Awalnya aku tidak percaya namun setelah wanita itu menunjukkan dokumen-dokumen asli yang membuktikan hubungan yang sebenarnya dengan calon suamiku, aku menyerah. Aku mencoba menerima kenyataan bahwa aku dibohongi oleh pria yang paling aku cintai. Aku dipermalukan di depan ratusan undangan yang entah kapan akan selesai membicarakan peristiwa itu.

TIGA bulan lalu, ibuku meninggal karena stress. Satu-satunya alasan bernafas di hidupku terlalu banyak memikirkan nasib anak tunggalnya dan omongan orang sampai otaknya tidak sanggup lagi. Pembuluh darah di kepalanya pecah saat aku tidak ada di rumah. Aku menemukannya sudah terbujur kaku di lantai dapur ketika aku pulang dari kantor jam 8 malam. Aku tidak bisa melakukan apa-apa sampai ia dimakamkan. Aku baru bisa menangis ketika aku kembali ke rumah setelah pemakaman ibuku dan menyadari aku tidak akan bisa melihatnya lagi sampai aku mengikuti jejaknya.

SATU bulan lalu, aku menjual rumahku. Rumah ibuku lebih tepatnya. Aku tidak sanggup lagi tinggal di rumah itu. Setiap aku pulang ke rumah, keinginanku hanyalah pergi menyusul ibuku. Aku tidak punya hasrat untuk hidup. Tidak ada pekerjaan yang bisa aku selesaikan. Bahkan aku bisa tiba-tiba menangis saat sedang bekerja. Tidak jarang aku tiba-tiba pingsan. Perusahaan pun memecatku.

SEKARANG, aku tidak punya apa-apa lagi kecuali sebuah buku kecil catatan harian ibuku. Bagiku isinya tidak penting kecuali beberapa halaman dimana ia mencurahkan isi hatinya karena batalnya pernikahan yang diimpikannya sebagai seorang ibu. Ia kecewa, sedih, sakit hati dan malu namun bukan karena aku tidak jadi menikah tapi karena aku ternyata terlihat sangat menderita setelah kejadian itu. Ia menulis : Anakku, aku tahu bagaimana rasanya dibohongi apalagi oleh orang yang paling kau cintai. Rasanya duniamu runtuh, kiamatmu sudah tiba tapi hidupmu harus tetap berjalan. Hidup adalah anugerah Tuhan yang paling indah, kau tidak boleh menyia-nyiakannya. Karena itu, aku masih bertahan hidup sampai saat ini dengan tabunganku, hasil penjualan rumah ibuku dan pekerjaanku sebagai pelayan di restoran ramen yang terletak di bawah kamar sewaku.

“Permisi!” Seorang tamu memanggilku sambil mengangkat tangannya. Aku berjalan ke arahnya dengan sebuah buku menu dan catatan kecil untuk mencatat pesanan tamu tersebut. Saat aku sedang menunggu tamu tersebut memilih makanan, tamu di seberangnya memanggilku untuk meminta tagihan. Aku pun meminta tamu tersebut untuk menunggu. Belum kumulai tugas kedua, tamu lain sudah mengangkat tangan untuk memintaku membersihkan mejanya dari bekas peralatan makan tamu sebelumnya. Aku sangat sibuk sampai aku tidak sanggup bernafas.

Rumah makan tempat aku bekerja sangat sederhana. Hanya ada 10 buah meja kecil yang diisi masing-masing oleh dua buah kursi. Rumah makan ini juga hanya memiliki 3 orang pegawai yang ditempatkan sebagai koki, pelayan dan bagian kebersihan. Untuk bagian kasir, dipegang sendiri oleh ibu pemilik rumah makan ini  Karena itu, jika sudah jam makan entah itu siang atau malam, kami selalu kewalahan. Hal yang paling kami tunggu adalah jam tutup toko.

“Ini bonus kalian hari ini. Terima kasih sudah banyak membantuku,” ujar ibu pemilik rumah makan sekaligus kamar kecil yang aku sewa. Ia memberikan kami masing-masing sebuah amplop berisi tambahan uang karena kami sudah banyak membantunya. Begitu katanya. Itu dilakukannya setiap hari yang membuat kami betah bekerja dengannya. Ia wanita terbaik kedua setelah ibuku, menurutku.

“Aku pulang dulu. Han Na, tolong bersihkan toko sampai bersih. Pastikan tidak ada sampah dan sisa makanan. Hyejin, jangan lupa kunci semua pintu. Selamat malam. Sampai jumpa besok,” pesannya kepadaku dan temanku yang merupakan bagian kebersihan. Koki kami ikut pulang karena ia akan mengantarkan bos kami pulang.

Aku menemani Han Na bersih-bersih sambil bercerita mengenai rencananya untuk segera menikah dengan pacarnya yang merupakan kurir antar jemput online. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya mereka bertemu sampai akhirnya mereka jatuh cinta dan memutuskan menikah. “Kalian sudah benar-benar yakin?” Tanyaku dan Han Na menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.

“Aku doakan semoga pernikahan kalian berjalan lancar dan langgeng selamanya,” ucapku tulus. Meskipun aku punya sejarah yang tidak menyenangkan dengan pernikahan tapi aku selalu merasa bahagia jika ada yang bahagia dengan ikatan hubungan paling sakral tersebut.

“EOMMA! EOMMA!!” Suara seorang pria sedang berteriak-teriak terdengar dari luar rumah makan. Ia juga menggedor pintu yang sudah aku kunci dengan alasan keamanan mengingat aku dan Han Na hanyalah dua orang perempuan yang punya kekuatan tidak seberapa.

“Siapa itu?!” Seruku dari dalam dan menjauhi pintu.

“Eomma!!” Pria itu kembali berteriak. Gedoran di pintu bertambah kencang. Aku dan Han Na berdiri berdekatan dengan tubuh gemetar ketakutan.

“EOMMA!!!”

Baik aku dan Han Na tidak ada yang berani mendekati pintu. Han Na mencoba menghubungi pemilik rumah makan ini namun tidak terhubung. Kami hanya berdiri berdampingan dengan pikiran masing-masing karena ketakutan.

“Hyejin, Han Na, apa kalian ada di dalam?” Suara ibu pemilik tempat kami bekerja terdengar dan kami dengan cepat membuka pintu. Kami melihat ia tersenyum hangat kepada kami. “Aku lupa anakku mau datang malam ini. Aku menyuruhnya menjemputku ke sini tapi aku justru pulang duluan. Apa ia membuat kalian takut?”

Han Na menggelengkan kepala tapi aku berkata sebaliknya, “Sedikit.”

“Maafkan aku,” ucap Bos kami sambil tersenyum lalu berjalan masuk diikuti oleh pria yang tadi memanggil-manggil ‘eomma’ sambil menggedor pintu membuat kami takut. Aku dan Han Na mengikuti dari belakang. Insting pelayan, aku mempersilahkan mereka duduk di sebuah meja yang letaknya dekat dengan kulkas minuman. Aku juga menyuguhkan air putih dan soju kesukaan bos ku. “Silahkan,” ucapku sebelum meninggalkan ia dan anaknya.

“Han Na, Hyejin, kalian pulang saja. Aku yang akan menyelesaikan sisanya. Aku mau bicara dengan anakku,” katanya. Aku dan Han Na mematuhi perintahnya. Han Na keluar sambil membawa plastik sampah untuk diletakkan di tempat pengumpulannya sedangkan aku naik ke kamarku yang terletak di atas rumah makan ini.

Aku terbiasa berdoa lebih dulu sebelum tidur agar aku merasa lebih tenang. Aku tidak ingin tidur dengan mimpi aneh atau tiba-tiba menangis karena mengingat ibuku. Aku harus berdamai dengan hidupku agar arwah ibuku juga merasa damai di alam sana. Aku juga terbiasa membaca buku sampai tertidur. Namun kali ini pengantar tidurku adalah obrolan ibu dan anak di bawah sana.

“Aku tidak jadi menikah. Ia membatalkannya. Ia bilang tidak sanggup menghabiskan sisa hidupnya bersamaku,” kata pria itu pelan namun masih bisa terdengar jelas karena suasana sepi di tempat ini. Suaranya merambat ke telingaku dengan baik. “Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mau mati saja.” Aku mendengar isakan pelan disusul raungan yang terdengar sangat menyakitkan.

DULU, mungkin aku seperti itu atau lebih parah. Aku tidak tahu.

Aku mendengarkan dan terus mendengarkan. Tanpa sadar, aku menangis. Aku membayangkan semua perkataannya. Semua ingatan lima bulan laluku kembali dan memukul keras diriku. Buru-buru aku mengambil buku catatan kecil ibuku dan membaca baik-baik pesannya.

HIDUP adalah anugerah Tuhan yang paling indah.

—–

SEPERTI biasa, aku bangun pagi untuk membuka restoran karena Han Na dan Jun Mo, si koki, datang pagi untuk mempersiapkan bahan-bahan masakan. Meskipun restoran baru akan buka jam 11 siang tapi kami harus menyiapkannya dari pagi. Jun Mo bahkan berbelanja di pasar dari jam 4 pagi.

“KYAAAAA!!!!” Betapa terkejutnya aku melihat sebuah tubuh terbujur di lantai. Aku buru-buru mendekatinya dan mengecek pernafasannya. Ia masih hidup. Ia hanya tertidur karena terlalu banyak minum. Aku melihat ada 8 botol soju di atas meja. Pria ini kuat minum rupanya. Aku menepuk-nepuk pipinya untuk membangunkannya namun pria itu tidak bereaksi. Ia tetap tidur seolah sedang berada di atas kasur empuk.

“HALOOOO! PERMISIIII!” Teriakku sambil memukul-mukul pipi pria itu berharap ia segera tersadar. “TUAAAAN!!” Sekali lagi, namun aku tidak berhasil. Pria itu hanya berbalik memeluk kaki kursi yang mungkin dalam bayangannya adalah sebuah guling.

“HAAISHH!” Keluhku dengan suara seruan yang sangat keras.

“Maafkan anakku. Ia sedang tidak enak badan,” kata ibu pemilik restoran ini yang membuatku terkejut. Buru-buru aku membungkukkan tubuhku kepadanya dan meminta maaf. Ia hanya tersenyum lembut. “Bantu aku memindahkannya. Boleh aku pinjam kamarmu, Hyejin-ah?” Tanyanya yang tidak mungkin aku tolak. Kamar itu meskipun aku sewa tapi dengan harga yang sangat murah bahkan menurutku sangat tidak layak sebagai harga sewa.

Dengan susah payah, aku bersama dengan ibunya mengangkat tubuh pria ini ke kamarku. Kami bahkan tidak bisa langsung keluar dari kamar setelah meletakkan ya di atas tempat tidur. Kami butuh waktu hampir setengah jam untuk memulihkan tenaga kami. “Namanya Cho Kyuhyun, anakku satu-satunya. Ia baru saja ditinggalkan calon istrinya jadi kalau ada perilakunya yang tidak menyenangkan, tolong dimaafkan ya.” Tentu saja, aku tidak mungkin keberatan.

Aku mengerti perasaannya.

——

M’s

Aku menatap kosong langit-langit di atasku. Kepalaku terasa sakit karena aku terlalu banyak minum semalam. Aku juga merasakan sakit yang luar biasa di hatiku mungkin karena seharusnya hari ini aku berada di sebuah ruangan untuk menghias ruang resepsi pernikahanku bukan di sebuah kamar kecil tua.

Tapi hidupmu harus tetap berjalan. Hidup adalah anugerah Tuhan yang paling indah.

Sebuah tulisan tertempel di dinding. Cukup besar sehingga aku bisa membacanya di keadaan sakit kepala seperti ini. Seberapa indah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepalaku.

“Aaaargh!” Seruku kesal tiada akhir.

Seorang wanita tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Ia tersenyum kepadaku dan menanyakan keadaanku. “Sudah merasa lebih baik? Aku akan membawakan obat dan makanan ke sini tapi kalau kau ingin kembali istirahat, silahkan.” Ia kembali tersenyum lalu menutup pintu kamar.

Kepalaku terasa mau pecah tapi aku masih bisa melihat sebuah foto yang terletak di atas meja tidak jauh dari tempat tidurku. Foto wanita itu dengan seorang wanita yang lebih tua dalam pelukannya. Di bawah foto itu terdapat tulisan : your body leave me but i know your pray won’t. Until we meet again in heaven.

“Ini obat untuk mengurangi pusing dan ini makanannya. Aku juga disuruh membawakan handuk dan baju ganti untukmu. Silahkan pakai kamar mandinya,” katanya sambil menunjukkan letak kamar mandinya kepadaku. Ia kembali tersenyum kepadaku sebelum meninggalkan kamar. “Di bawah sedang sibuk sekali. Permisi.”

Aku menatap pintu kembali tertutup dan aku kembali terpaku pada foto wanita itu dengan ibunya. Mereka sangat mirip jadi aku bisa perkiraan bentuk hubungan antara kedua wanita itu. Bagaimana ia bisa tetap tersenyum setelah ditinggal ibunya? Pikirku. Aku bahkan tidak berani membayangkan jika aku harus hidup tanpa ibuku. Luar biasa.