image

SEMUA orang tahu Cho Kyuhyun bukanlah pria terkaya di negara ini apalagi sedunia tapi semua wanita tahu penghasilan pria itu cukup untuk membiayai kehidupan seorang istri dan paling tidak tiga orang anak sampai mereka lulus kuliah tingkat master. Menjadi manajer umum sebuah perusahaan distributor utama barang-barang ritel membuat dirinya menjadi pria incaran para wanita terutama para wanita yang berada satu kantor dengannya. Namun ternyata tidak mudah menaklukan hati seorang pria berkulit putih susu dan murah senyum tersebut.

Di usianya yang sudah melewati angka 30, Cho Kyuhyun belum memiliki kekasih. Ia juga belum menunjukkan tanda-tanda menyukai seorang wanita. Ia masih mendedikasikan 24 jam sehari hidupnya untuk perusahaan. Banyak orang, tidak terkecuali laki-laki, menyayangkan hal tersebut kecuali orang yang paling dekat dengannya sehari-hari. Shim Jung justru beranggapan tidak perlu pusing memikirkan status ‘still single’ perjaka-paling-diinginkan itu. Pria itu tahu siapa yang ia inginkan menjadi pendamping hidupnya.

Kata orang, jika kau ingin mengetahui rahasia seorang pimpinan, dekati orang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan orang tersebut. Shim Jung, sekretaris Cho Kyuhyun, boleh dibilang sudah sangat lelah menghadapi para wanita yang berusaha merebut hati Kyuhyun. Mereka menanyakan segala sesuatunya tentang Kyuhyun kepada Shim Jung dan ia akan punya jawaban jitu.

“Tidak tahu,” jawab Shim Jung ketika ada wanita, manajer bagian keuangan, yang menanyakan apa Kyuhyun menyukai wanita berpakaian seksi atau sederhana.

Shim Jung masuk ke dalam ruangan Kyuhyun untuk mengingatkan jadwal atasannya itu. Namun ternyata pria itu sudah siap-siap keluar kantor. “Aku tahu. Terima kasih sudah berusaha keras mengosongkan jadwalku siang ini. Aku akan kembali jam 3. Kalau ada yang mencariku, kau jawab apa?”

“Menjemput ibunya yang baru pulang dari Hong Kong?” Sahut Shim Jung seperti yang sudah diajarkan oleh Kyuhyun sejak seminggu yang lalu.

Kyuhyun tersenyum puas dan menepuk pundak Shim Jung sebagai ucapan terima kasih. “Aku akan membawakan tas yang kau inginkan nanti. Terima kasih banyak, Shim Jung-ah. Oh ya, aku sudah memesankan makan siang untukmu. Kalau kebanyakan, makan dengan teman-temanmu atau simpan untuk dibawa pulang ke rumah. Pakai saja kulkasku. Aku pergi ya.”

“Kamsahamnida, sajangnim.”

Cho Kyuhyun pun pergi meninggalkan ruangannya dan Shim Jung menjadi satu-satunya orang yang tahu kemana sebenarnya atasannya itu pergi. Tentu saja bukan menjemput ibunya yang baru pulang dari Hong Kong. Itu hanya karangan Kyuhyun yang ditanamkan pada Shim Jung. Pria itu sedang menjemput wanita yang sudah setahun tidak ditemuinya karena jarak yang sangat jauh. Seoul dan London itu sangat jauh bagi Shim Jung.

Shim Jung juga tahu wanita itu akan bekerja di perusahaan tempat ia bekerja. Itu artinya wanita itu akan mematahkan hati puluhan wanita yang mengincar atasannya. Meskipun atasannya tidak pernah bilang wanita itu memiliki tempat khusus di hatinya, Shim Jung tahu ada hubungan khusus antara Kyuhyun dan wanita yang diceritakannya seminggu penuh kepada Shim Jung dengan wajah berseri-seri.

Jam 3 sore lebih 10 menit, Kyuhyun sudah kembali berada di kantornya. Wajahnya terlihat cerah dan aura ketampanannya bertambah puluhan kali lipat di bawah sinar matahari yang masih menyengat. “Sudah kenyang? Bagaimana makanannya? Kau suka?” Tanya Kyuhyun kepada Shim Jung yang berhasil menghabiskan satu porsi spaghetti lobster pesanan Kyuhyun dan memilih menyimpan dua kotak besar pizza tuna dan keju untuk keluarganya di rumah.

“Aku super kenyang. Makanannya super enak. Apa aku tampak tidak suka? Sudah bertemu dengan teman lama sajangnim?” Sahut Shim Jung yang sedang meneguk minuman ringan yang dibelikan oleh Kyuhyun.

“Sudah.”

“Bagaimana? Apa dia tambah cantik? Dimana dia sekarang?”

Kyuhyun tertawa geli mendengar pertanyaan sekretarisnya. Harus diakui, hubungan Shim Jung dengan atasannya lebih dari sekedar hubungan kerja. Mereka punya hubungan pertemanan yang cukup kuat meskipun sebelumnya Shim Jung juga berada dalam barisan wanita-pengidam-Kyuhyun. Shim Jung mundur dengan pasti ketika Kyuhyun menyatakan ia tidak tertarik dengan wanita manapun di negeri ini. Jangan sia-siakan waktumu untuk menyukaiku, kata Kyuhyun waktu itu. Shim Jung pun mendengarkan dengan baik.

“Dia sudah ada di ruang Direktur Utama lalu mungkin akan ke ruang SDM untuk mengurus kepegawaiannya. Entah. Aku tidak punya jadwal pastinya,” kata Kyuhyun sambil tertawa disusul Shim Jung yang baru sadar bahwa Kyuhyun menyindirnya. Shim Jung tahu jadwal Kyuhyun sampai satu minggu ke depan.

“Jadi, dia akan bekerja di bagian apa? Kenapa ia pindah?” Tanya Shim Jung.

“Audit, katanya. Kenapa ia pindah? Apa aku harus memberitahukannya padamu, Shim Jung-ah?”

“Aku tidak memaksa.”

Kyuhyun tersenyum dan memilih tidak memberitahukan alasan wanita itu pindah dar London ke Seoul. “Apa jadwalku selanjutnya?” Tanya Kyuhyun.

“Aku mengosongkan jadwalmu sampai besok pagi. Kau ada meeting dengan Dewan Direksi jam 7 pagi, sajangnim,” jawab Shim Jung.

“Okay. Sampai jumpa besok pagi, Shim Jung-ah!” Seru Kyuhyun dengan ceria. Pria itu sudah mengangkat bokongnya dari kursi dan pergi menemui wanita itu. Untuk pertama kalinya, Shim Jung melihat wanita yang mampu membuat atasannya sumringah sepanjang hari. Kyuhyun menunjuk Shim Jung dari jauh, memberitahukan kepada wanita itu posisi Shim Jung di kehidupan Kyuhyun. Wanita itu tersenyum dan membuat Shim Jung salah tingkah. Pantas, atasannya itu bisa jatuh hati kepada wanita itu. Sebagai wanita saja, ia merasa jantungnya berdegup kencang saat wanita itu tersenyum.

Cho Kyuhyun
Aku ada urusan dan tidak akan kembali ke kantor. Silahkan pulang kalau sudah tidak ada pekerjaan.

Pesan Kyuhyun yang membuat Shim Jung senang bukan kepalang. Kesempatan yang sangat jarang ia bisa pulang tepat waktu apalagi lebih cepat seperti ini. Dengan cepat, Shim Jung menghubungi teman-temannya dan menyatakan ia akan ikut bersenang-senang malam ini sampai pagi menjelang.

—–

Kyuhyun datang lebih pagi dari biasanya karena ia punya jadwal rapat dengan dewan direksi jam 7 pagi. Sebelum jam setengah 7, ia sudah duduk manis di ruangannya sambil membaca bahan rapatnya nanti. Shim Jung juga sudah datang namun matanya masih setengah terbuka saat ini dan nyaris tidak sadar ada seorang wanita yang baru saja tersenyum melewatinya. “Selamat pagi, Shim Jung-ssi,” sapa wanita itu dan jantung Shim Jung terasa berhenti berdegup sepersekian detik. Shim Jung tersadar namun wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan atasannya.

“Hai tampan, bukankah kau ada rapat pagi ini? Kenapa bukan bersiap-siap malah memanggilku?” Kyuhyun tersenyum lebar ketika mendapati suara itu memasuki daun telinganya. Wanita itu berdiri di hadapan Kyuhyun dengan kedua tangan terlipat di depan dada namun bibirnya melengkung melemparkan senyuman menggoda.

“Aku masih punya waktu 15 menit. Kau ikut rapat pagi ini?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan manis. “Aku hanya pegawai biasa, tampan. Staf khusus bukan berarti aku memiliki posisi penting di perusahaan ini. Berbeda denganmu yang seorang general manager. Kau pasti harus hadir di setiap rapat di perusahaan ini,” ujar wanita itu terkekeh sambil membetulkan kerah kemeja Kyuhyun. “Kau sangat tampan. Tidak heran banyak wanita mengejarmu.”

Kyuhyun mendengus mendengarnya. “Aku akan mempertimbangkan mereka kalau wanita yang aku kejar tidak segera memberikana respon positif,” sindir Kyuhyun yang hanya dibalas dengan tawa oleh wanita itu.

Wanita itu tersenyum menatap Kyuhyun lalu leher pria itu, merasa puas dengan hasil kerjanya. “Apa aku pernah menolakmu, tuan Cho?” tanya wanita itu dengan suara pelan. Posisi wanita itu sudah sangat dekat dengan Kyuhyun sehingga hidung Kyuhyun dapat dengan sangat cepat menghirup wangi parfum yang dipakai wanita itu. Tambah lagi bibir merah merona yang tepat berada di bawah hidung Kyuhyun yang membuatnya menggeram. “Menjauh dariku atau aku akan merusak lipstikmu.” Lagi-lagi wanita itu hanya tertawa.

Shim Jung sepenuhnya tersadar ketika telepon di mejanya berbunyi dan menyuruhnya mengingatkan Kyuhyun untuk segera turun ke ruang rapat. Shim Jung pun melaksanakan tugasnya sebagai seorang sekretaris. Dengan segera, ia bangkit dari tempat duduknya dan kemudian masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Kakinya terhenti di langkah pertama ia memasuki ruangan itu. Ia melihat seorang wanita yang membelakanginya berada sangat dekat dengan atasannya. “Maaf, aku mengganggu,” ucap Shim Jung dengan suara serak.

Wanita itu segera berbalik dan menatap Shim Jung sambil tersenyum. “Tidak, kau tidak mengganggu. 15 menit waktu bosmu sudah habis. Aku juga harus kembali ke ruanganku. Selamat rapat, Shim Jung-ssi. Awasi bos-mu dengan baik. Kalau dia macam-macam, ingatkan dia bahwa aku akan menghajarnya,” ujar wanita itu lalu mengecup pipi Kyuhyun dengan mesra dan meninggalkan ruangan.

“Aku pikir kalian hanya berteman. Seingatku, sajangnim bilang wanita itu teman lama yang sudah tidak bertemu sangat lama karena kalian terpisah jarak yang sangat jauh,” ujar Shim Jung dengan nada datar namun tatapan menuntut penjelasan langsung. Sebenarnya, walaupun tidak dijelaskan, Shim Jung juga sudah tahu siapa wanita itu. “Best friend?”

“Best friend,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum.

Kalau sedang tidak ada kerjaan, Kyuhyun dan Shim Jung suka mengobrol tanpa alur yang jelas. Mereka akan membicarakan apa saja tanpa terkecuali protes Shim Jung yang sudah lelah menghadapi wanita-wanita pengejar Kyuhyun.

“Sajangnim, kau itu mencari wanita seperti apa? Dari sekian banyak, apa tidak ada yang memenuhi kriteriamu. Pacari saja salah satu dari mereka, yang lain pasti akan mundur. Aku lelah meladeni mereka,” ujar Shim Jung waktu itu dan Kyuhyun hanya tertawa.

“Aku sedang mencari teman terbaik untuk hidupku. Shim Jung, dengar, kalau kau ingin hidup bahagia, hiduplah dengan teman terbaikmu. Kalau aku sudah menemukannya, aku akan memberitahukannya padamu,” kata Kyuhyun.

—–

Bukan rapat dengan dewan direksi jika tidak berlangsung lama dan melelahkan. Shim Jung sudah merasakannya puluhan kali sampai ia akhirnya sadar bahwa ia harus duduk di sebelah orang-orang yang bisa membunuh rasa bosannya. “Kapan rapat ini selesai? Aku mau muntah,” desis Ah Rin, sekretaris manajer divisi teknologi yang ternyata sudah merasakan hal yang sama dengan Shim Jung.

“Mungkin tiga jam lagi,” sahut Wang Jun, sekretaris manajer gudang, diiringi hela nafas panjang penuh kebosanan. “Aku mau kembali ke mejaku saja. Kau tidak bosan, Jung?”

“Aku sudah mau tidur justru,” sahut Shim Jung dengan malas melihat rapat yang tidak kunjung selesai dan tidak ada gunanya ia berada di sini kecuali untuk berjaga-jaga jika atasannya membutuhkan bantuannya dimana hal itu jarang terjadi.

Seseorang di belakang Shim Jung tiba-tiba menepuk pundak Shim Jung pelan. “Apa kau sudah dengar gosip tentang atasanmu, Jung? Katanya, Cho sajangnim memiliki hubungan dengan staf khusus di bagian Audit. Apa itu benar?”

Shim Jung tahu segalanya tapi ia selalu punya jawaban untuk pertanyaan macam ini. Bahunya mengangkat disusul jawab paling jitu, “Aku tidak tahu. Siapa yang bilang begitu?”

“Tadi pagi ada yang melihat bos-mu datang bersama wanita itu. Mereka turun dari mobil Cho sajangnim yang diparkir di basement.”

“Lalu?”

“Cho sajangnim bahkan mengantarkan wanita itu dulu ke ruangannya baru kemudian ke ruangan Cho sajangnim sendiri. Sudah banyak orang yang membicarakan hal ini. Kau masa tidak tahu?”

Shim Jung menggelengkan kepalanya dan hanya bisa berpasrah dalam hati jika setelah rapat ini selesai akan banyak wanita mengerubunginya untuk mengetahui hubungan atasannya dengan staf khusus Audit tersebut. Membayangkannya saja, Shim Jung sudah merasa malas.

Jam 2 kurang 20 menit, rapat dengan dewan direksi dinyatakan selesai. Para direksi meninggalkan ruangan bersamaan dengan asisten dan sekretaris mereka masing-masing disusul oleh para manajer dan pegawai yang memiliki jabatan lebih rendah. “Ayo kita makan,” ajak Kyuhyun kepada Shim Jung yang sudah setengah nyawa setelah hampir 7 jam rapat tanpa henti.

“Aku sudah tidak nafsu makan,” gerutu Shim Jung disusul dengan raungan perut kosongnya. “Tapi perutku harus diisi,” lanjutnya dengan wajah tertunduk malu. Kyuhyun hanya tertawa melihat tingkah sekretarisnya.

“Kau mau makan dimana?” Tanya Kyuhyun sambil bermain dengan ponsel pintarnya.

“Dimana saja asal aku ditraktir karena sebentar lagi aku akan dibombardir oleh para wanita pengejarmu. Aku minta bayaran di awal,” ujar Shim Jung tidak bisa ditawar.

Kyuhyun merangkul bahu Shim Jung dan mengajaknya pergi ke sebuah restoran di depan kantor untuk makan siang bersama. “Kau sudah dengar gosipnya juga ternyata? Aku tidak akan memintamu untuk berbohong lagi tapi bantu aku menghadapi wanita-wanita itu. Ya?” Shim Jung tersenyum menyanggupi namun tersadar tugasnya semakin berat ketika ia masuk ke dalam restoran dan wanita itu melambaikan tangan ke arah mereka, memanggil atasannya juga dirinya.

“Hai, Shim Jung-ssi. Rapat yang melelahkan?” Sapa wanita itu dengan ramah kepada Shim Jung sambil mempersilahkan Shim Jung duduk di hadapannya. Sedangkan Kyuhyun, seperti sudah terprogram, langsung duduk di sebelah wanita itu.

“Aku sudah mau pingsan di rapat itu,” ungkap Shim Jung setengah kesal tapi juga sudah melupakan rapat super lama tersebut. Pikirannya kini terpusat pada makanan-makanan super enak di hadapannya. “Apa aku boleh makan sekarang, sajangnim?”

“Makan sepuasmu,” kata Kyuhyun yang sudah mulai melahap daging sapi di atas nasinya.

Shim Jung makan dengan perlahan karena ia ingin menikmati makanan di hadapannya meskipun semakin perlahan ia makan, semakin lama ia akan melihat pasangan di depannya bermesraan dan merasakan dirinya hanyalah obat nyamuk di tengah-tengah mereka. Keduanya hanya mengobrol tapi melihat mereka mengobrol saja sudah cukup membuat panas.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Shim Jung setelah ia selesai makan namun Kyuhyun belum. Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Sejak kapan kalian berdua saling mengenal?”

“Kuliah. Aku tingkat pertama dan Kyuhyun seniorku di kampus,” jawab wanita itu tanpa malu-malu dan Shim Jung pun semakin penasaran dengan jawaban atas pertanyaan selanjutnya yang akan dia lemparkan.

“Sejak kapan kalian pacaran?”

Wanita itu tersenyum lalu menatap Kyuhyun dan mengelus pipi tembem Kyuhyun dengan lembut. “Apa kau mengaku kepada semua orang kalau kita bilang sepasang kekasih?”

Shim Jung merasa salah bicara tapi melihat tingkah kedua orang di hadapannya tidak mungkin mereka hanya sebatas teman. “Tidak, tapi Cho sajangnim bilang kau ‘best friend’-nya,” jawab Shim Jung membuat wanita itu tertawa ringan.

“Best friend, eoh? Apa Kyuhyun mengatakan aku best friend-nya?” Shim Jung menganggukkan kepalanya karena ia pikir tidak akan menjadi masalah jika ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi ternyata ia salah. Kyuhyun baru saja melemparkan tatapan mata paling mematikan kepada Shim Jung.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apa salahku, sajangnim?”

Wanita itu tertawa semakin keras namun masih dalam batas kewajaran. Tangannya masih berada di atas pipi Kyuhyun dan mengelusnya dengan lembut. “Aku agak terkejut saat kau bilang dia menyebutku ‘best friend’. Apa dia mengatakan kepadamu kalau aku juga termasuk dalam barisan gadis pengejar Cho Kyuhyun?” Shim Jung menggeleng tidak mengerti.

“Waktu kuliah, aku yang pertama kali naksir pada atasan-mu ini tapi ia menolakku mentah-mentah. Atasanmu ini dulu tidak tampan, percaya padaku, tapi aku sangat menyukainya. Pantang menyerah, aku mendekatinya. Seribu kali aku menyatakan perasaanku, seribu satu kali ia menolaknya. Sampai di hari wisudanya, ia datang bersama seorang gadis. Aku melihat mereka sangat mesra dan dari tatapan mata atasanmu ini aku tahu ia menyayangi gadis itu. Singkat cerita, aku mundur. Aku tidak pernah mengganggunya lagi. Aku bahkan berusaha keras tidak mencari tahu kemana pria ini pergi setelah lulus kuliah. Sampai tiga tahun lalu kami kembali bertemu di London. Kau tahu bagaimana wajahnya saat itu? Sangat menggemaskan! Ia jauh lebih tampan dan keren dengan setelan jasnya.”

“Apa waktu itu, kau masih menyukainya?” Shim Jung sudah terhipnotis dengan cerita wanita itu. Ia sangat ingin mendengar kelanjutan kisah antara atasannya dengan wanita ini.

Wanita itu menggelengkan kepala. “Sejak aku memutuskan untuk tidak mengejar Kyuhyun lagi, aku bergonta-ganti pacar. Ada yang aku suka, ada yang tidak. Aku bahkan sempat pacaran dengan beberapa teman pria ini,” ujarnya sambil tertawa. “Aku banyak berkelana mencari cinta sejatiku.”

“Jadi bagaimana kalian bisa kembali dekat?”

“Panjang ceritanya. Biarkan hanya aku, dia dan Tuhan yang tahu bagaimana ceritanya.”

“Lalu, apa sekarang kau menyukai Cho sajangnim?”

Seketika, sekujur tubuh Kyuhyun menjadi kaku. Ia juga tidak tahu harus melayangkan pandangan matanya kemana. Mata wanita itu sudah menatap Kyuhyun sambil tersenyum manis. “Apa aku terlihat seperti membencinya, Shim Jung-ssi? Tidak kan?” Jawab wanita itu mengambang yang membuat Shim Jung kesal sekaligus penasaran.

——

Shim Jung kembali ke kantor lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus ia bereskan sebelum bos-nya kembali rapat dengan orang-orang yang berbeda namun di ruangan yang sama jam 4 sore nanti. Sedangkan Kyuhyun dan wanita itu masih berada di restoran dengan mata saling berpandangan satu sama lain. “Apa aku terlihat membencinya, Shim Jung-ssi?” Ujar Kyuhyun menirukan omongan wanita itu dengan nada yang lebih sinis namun dibalas dengan tawa oleh wanita itu.

“Aku memang tidak membencimu, Cho Kyuhyun,” sahut wanita itu dengan santai.

“Tapi aku juga tidak melihat tanda-tanda kau menyukaiku,” kata Kyuhyun mulai kesal. Meskipun mereka sudah bersama hampir tiga tahun, wanita itu belum pernah menunjukkan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Kyuhyun kepadanya. Wanita itu masih saja terlihat santai.

“Oh ya?” Wanita itu menanggapi keluhan Kyuhyun dengan santai. Ia hanya tersenyum menatap Kyuhyun yang sudah memasang wajah kesal kepadanya seperti anak berusia lima tahun yang tidak dibelikan mainan yang diinginkan. “Apa bercak merah di lehermu ini kurang, sayang?”

Kyuhyun tahu wanita itu sedang berusaha menggodanya namun ia tidak akan terjerat. Ia sudah menunggu terlalu lama. “Kau tahu aku menginginkan lebih.”

“Aku sudah menawarkannya tapi kau menolak.”

“Aku tidak meminta tubuhmu. Kau tahu aku pasti akan meminta lagi, lagi dan lagi jika aku sudah kecanduan. Aku tidak ingin hal itu terjadi sebelum aku menikah denganmu.”

“Kenapa harus buru-buru, tuan Cho? Kau baru berumur 32. Kau masih punya waktu 3 tahun lagi untuk mencapai targetmu. Ingat?”

“Aku mengubahnya. Aku mau menikah tahun ini dan memiliki paling tidak satu anak ketika aku berusia 35 tahun.”

Wanita itu tertawa kecil lalu bangkit dari tempat duduknya. “Dulu, aku jatuh bangun mengejarmu selama 3 tahun tanpa hasil apapun. Sekarang, aku hanya memintamu bersabar lebih lama.”

“Kau mau balas dendam?” Wanita itu tersenyum.

“Kalau aku mau balas dendam, aku tidak duduk di sini bersamamu sekarang. Dasar kau memang pria tidak sabaran. Aku hanya ingin membuat kenangan yang indah. Kau tahu dari dulu aku selalu punya angan-angan melakukan banyak hal denganmu. Aku mau mewujudkannya dulu satu per satu baru aku akan memikirkan untuk menikah denganmu.”

“Yaa….”

“Kau pasti menyesal tidak membalas perasaanku dari dulu kan?” Goda wanita itu dengan senyuman jahilnya dan sebuah kecupan mesra di pipi Kyuhyun. “Jangan menghapus bekas lipstikku. Kalau para fans-mu memanas karena hal ini, kau harus menjelaskannya. Aku duluan ya…”

Kyuhyun menggelengkan kepala, pusing menebak jalan pikiran wanita itu. Di satu sisi, wanita itu sangat santai menjalani hubungannya dengan Kyuhyun namun di sisi lain ia menunjukkan kepada semua orang bahwa Kyuhyun adalah miliknya.

“Shim Jung-aaaaah!!!” Seru Kyuhyun begitu kembali ke kantor dan menemukan sekretarisnya di depan ruangan. “Kalau ada yang bertanya tentang aku dan wanita itu, bilang saja ia calon istriku dan aku mencintainya. Titik. Selain itu, bilang saja tidak tahu.”

“Ne, sajangnim,” sahut Shin Jung dengan patuh karena ia juga sudah lelah menerima pertanyaan para wanita pengejar bos-nya baik secara langsung di hadapannya atau melalui pesan singkat di ponselnya.

Shim Jung Ah
Ini pernyataan resmi dari bosku. Ia mencintai wanita itu dan berniat menikahinya dalam waktu dekat! Titik. Tidak ada pertanyaan lagi.

Ponsel Shim Jung bertambah ramai begitu juga dering telepon di atas mejanya.

“Apa kau langsung memberitahukannya kepada seisi kantor ini, Shim Jung-ah?”

“Bagaimana sajangnim tahu?”

Kyuhyun menunjukkan ponselnya kepada Shim Jung. Di sana tertulis belasan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan yang belum dibaca. “Ini tanggung jawabmu. Balas pesan mereka satu persatu dengan kata-kata yang tidak menyakitkan hati. Mengerti?”

“Ne, sajangnim.”

Menit demi menit berlalu. Kyuhyun memimpin rapat dan Shim Jung membalas pesan penggemar Kyuhyun satu per satu sesuai dengan permintaan bosnya. Penderitaannya belum berakhir ketika selesai rapat, Shim Jung diharuskan berhadapan dengan orang-orang yang ingin mengetahui kisah bos-nya sedangkan pria itu pulang ke rumah untuk beristirahat.

—–

Kyuhyun pulang ke rumah dan segera mandi untuk menghilangkan rasa lelah yang menderanya. Pancuran air panas serasa memijit-mijit bahu pegalnya karena hampir seharian duduk tegak. Selesai mandi, Kyuhyun berencana untuk tidur. Namun rencana tinggalah rencana ketika ia melihat wanita itu keluar dari ruang kerjanya dengan gaun tidur satin biru muda yang sangat ringkih. “Kau tidak tidur di kamarmu?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya semakin dalam ke kamar Kyuhyun. “Aku mau tidur denganmu. Tidak apa kan?”

Kyuhyun menepuk bagian kosong tempat tidurnya tanda wanita itu boleh menempatinya dengan satu syarat, “Kau tidak boleh menggodaku. Aku mohon.”

“Aku tidak akan menggodamu,” sahut wanita itu.

Mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur yang sama tanpa melakukan apapun kecuali menonton film kartun yang disiarkan oleh saluran televisi kabel khusus anak-anak. Keduanya saling mengobrol sambil sesekali tertawa.

“Jadi, kau sudah memberitahukan semua orang?”

“Tentang?” Kyuhyun pura-pura tidak tahu membuat wanita itu mencubit hidung Kyuhyun dengan gemas.

“Tentang aku dan kau. Apa aku punya hal lain yang lebih penting yang bisa diberitakan?”

“Entah. Aku tidak tahu.”

Wanita itu tersenyum sambil menatap Kyuhyun yang balas menatapnya setelah beberapa detik kemudian. “Apa?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Aku akan menikah denganmu,” ujar wanita itu membuat mulut Kyuhyun menganga lebar. “Kenapa terkejut? Itu yang kau inginkan kan?”

“Aku menginginkannya tapi aku tidak memaksamu untuk menuruti keinginanku.”

“Aku tidak merasa terpaksa.”

“Kau masih punya angan-angan untuk diwujudkan kan?”

“Tidak.”

“Mwo? Tadi siang kau bilang masih banyak angan-angan yang ingin kau wujudkan sebelum menikah denganmu. Kenapa malam ini tiba-tiba kau bilang sudah tidak ada?”

Wanita itu kembali mencubit hidung Kyuhyun dan kemudian bergelung memeluk Kyuhyun. Ia meletakkan kepalanya di atas dada Kyuhyun dan berceloteh ringan, “Mungkin kau tidak sadar, kau tidak pernah memberitahukan pada siapapun tentang aku. Maksudku, mereka semua tahu aku punya hubungan khusus denganmu tapi mereka tidak tahu dengan jelas hubungan apa yang kita punya. Kau hanya selalu menyebutku teman terbaikmu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu kau mencintaiku tapi aku selalu mengharapkan kau memberitahukan kepada dunia apa posisiku di kehidupanmu. Hanya itu. Jadi ketika tadi siang Shim Jung berseru ke seluruh orang di kantor, itu momen terbaik dalam hidupku. Impianku sudah terwujud. Aku akan menikah denganmu.”

Kyuhyun menatap wanita dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. “Kau aneh. Kenapa tidak bilang saja padaku?”

“Aku menginginkan kau sendiri yang mengatakannya tanpa harus aku paksa.”

“Aku tidak akan merasa terpaksa kalau kau memintanya.”

Wanita itu mengangkat kepalanya sehingga matanya kini sejajar dengan mata Kyuhyun. “Apa kita harus berdebat, Cho Kyuhyun? Kenapa kau tidak menciumku saja? Kalau kau tidak mau juga, aku saja yang menciummu daripada aku harus berdebat melawanmu.” Wanita itu pun beringsut mendekati Kyuhyun dan meraih bibir Kyuhyun dengan bibirnya. Sekali, dua kali, wanita itu mengecup bibir Kyuhyun dan kemudian mengulumnya  sebelum Kyuhyun membalik posisi.

Kyuhyun menjatuhkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur dan kemudian menindihnya disusul kecupan, kuluman dan esapan di bagian tubuh wanita itu mulai dari puncak kepala sampai bahunya. Wanita itu merangkul leher Kyuhyun dan memberikan tanda di sebelah bercak merah yang belum hilang. Kamar itu terasa lebih panas meskipun sudah dipasang AC tapi pasangan yang sedang bercumbu di dalamnya tidak berpikir untuk menghentikan kegiatan mereka sedetik pun.

Kyuhyun menarik mulutnya dari leher wanita itu dan tersenyum puas dengan hasil karyanya yang terpatri di sana. “Aku bersumpah akan membuatmu merengek meminta lebih di malam pertama kita nanti,” kata Kyuhyun disusul kekehan dari wanita itu.

“Aku menantinya,” sahut wanita itu yang kemudian bungkam karena Kyuhyun sudah kembali menempelkan bibirnya dan mengulumnya untuk melampiaskan nafsu tertahannya. “Ngomong-ngomong, malam ini kau tidak meneriakkan namaku. Kau sudah mulai bisa bertahan ya?” Goda wanita itu.

Kyuhyun sadar pertahanannya akan segera runtuh tapi ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ia punya untuk bersama dengan wanita itu. Ia ingin menghabiskannya sampai ia benar-benar tidak bisa bertahan. “Kau bawel,” balas Kyuhyun dan kemudian kembali menciumi wanita itu sampai tembok pertahanannya benar-benar rata dengan tanah.

“Yaaa Song Hyejin!!” Pekik Kyuhyun ketika wanita itu tidak sengaja menyentuh pusat tubuhnya yang sudah berada di puncak ketegangan. Wanita itu, Song Hyejin, hanya mengikik geli melihat Kyuhyun buru-buru turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan penderitaannya.

“Bersabarlah, sayang. Beberapa bulan lagi aku akan menyelesaikan penderitaanmu!” Seru Hyejin dari tempat tidur disusul tawa geli yang membuat Kyuhyun menggeram di dalam kamar mandi.

“Aku tidak mau menunggu beberapa bulan lagi. Kita menikah bulan depan!” Hyejin tentu tidak akan menolak. Ia sudah terlalu lama menunggu untuk menjadi pendamping hidup seorang Cho Kyuhyun.

Kkeut!