SELALU ada kelompok gadis cantik nan populer dan gadis biasa bergaya sederhana di sekitarku. Entah itu di sekolah ketika aku sekolah menengah atau di kampus ketika aku kuliah. Bahkan ketika aku berusia 20 tahun lebih dan beranggapan dunia perkantoran akan lebih membaur, ternyata aku salah. Aku tetap melihat kesenjangan itu bahkan di usiaku 34 tahun.

“SONG HYEJIN! ASTAGA! APA KAU BUTA?!  APA KACAMATA TEBALMU ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTU MATAMU?!”

Aku melihat ruangan sebelahku, manajer tim penjualan yang sedang memarahi anak buahnya yang termasuk dalam kelompok gadis biasa bergaya sederhana. Gadis berwajah polos itu memilih diam saja dimaki-maki atasannya. Berbeda dengan gadis cantik nan populer di sebelahnya yang dipuji sedemikian rupa padahal seharusnya gadis itu harus kena tegur dengan pakaiannya yang ketat dan sangat pendek. Aku nyaris bisa melihat buah bokongnya yang menyembul di balik roknya.

Ini yang aku namakan ketidakadilan.

“Song Hyejin, direktur Cho memanggilmu. Maaf menyela perbincangan kalian, manajer Gong.” Aku harus bertindak sebelum gadis ini pingsan atau mungkin mati mendadak karena menahan emosi.

Aku berjalan keluar dari ruangan manajer Gong dengan Hyejin mengikutiku dari belakang. Aku terus berjalan dan gadis itu terus mengikutiku. “Ah maaf, aku tidak konsentrasi. Aku akan segera menemui direktur Cho,” kata gadis sederhana itu ketika menyadari aku tidak membawanya ke ruangan direktur Cho melainkan ruangan santai di lantai 8.

Aku menahannya dengan sekaleng minuman coklat dingin yang tinggal ambil dari kulkas di ruangan itu. “Aku baru membohongi manajer Gong. Direktur Cho sedang ke Tokyo,” kataku lalu buru-buru menambahkan, “Ini rahasia kita berdua. Jangan sampai bocor.”

Hyejin menganggukkan kepalanya lalu meneguk coklatnya. “Terima kasih telah menyelamatkanku dari amukan manajer Gong.”

“Kalau aku boleh tahu, apa salahmu sampai ia mengamuk seperti itu? Aku tahu ia selalu seperti itu tapi aku ingin tahu hal apa yang membuatnya seperti itu? Apa kau melakukan kesalahan?” Tanyaku dan Hyejin hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa memberitahumu. Maafkan aku, manajer Cho. Sekali lagi, terima kasih telah menyelamatkanku,” katanya lalu keluar dari ruangan santai. Aku menyenderkan tubuhku ke kulkas, aku menonton tv sambil menikmati kopiku. Tidak sampai semenit, Hyejin kembali ke ruang santai. “Apa ada yang ketinggalan, Hyejin-ah?” Tanyaku.

“Manajer Cho, apa ada acara malam ini? Aku mau mentraktir makan malam sebagai ucapan terima kasihku. Bisa?” Tanyanya dengan percaya diri tanpa ada maksud menggodaku seperti gadis-gadis cantik nan populer.

“Jam berapa?”

“7?”

“Okay. Dimana?”

“Terserah manajer Cho mau makan dimana. Aku akan menemui manajer Cho di sana jam 7 malam. Nanti kabari aku. Aku harus segera kembali ke mejaku sebelum manajer Gong marah lagi. Permisi,” pamitnya dan aku kembali sendirian di ruang santai. Memikirkan tempat makan nanti malam.

Cho Kyuhyun
Noona, restoran atau kafe apa yang sedang hits akhir-akhir ini?

Cho Ahra
Kau mau ada acara apa?

Cho Kyuhyun
Makan malam biasa.

Cho Ahra
Dengan teman-temanmu atau orang kantormu?

Cho Kyuhyun
Orang kantor.

Cho Ahra
Wellmade di daerah Insadong. Berkelas tapi tidak mahal. Aku suka makan di sana.

Cho Kyuhyun
Ada makanan apa saja?

Cho Ahra
Western dan Korean. Semua makanan kesukaanmu ada di sana. Tidak usah khawatir.

Cho Kyuhyun
Ok.

Percaya atau tidak, aku menghabiskan lebih dari satu jam memikirkan tempat makan dan makanan apa yang ingin aku makan. Untung, pekerjaanku sudah selesai sehingga jika tiba-tiba direktur memanggilku, aku bisa berkelit.

——

AKU pulang tepat waktu dari kantor dan tidak lupa mengabarkan Hyejin tempat kami bertemu nanti malam sebelum aku mengeluarkan mobilku dari tempat parkir.

Cho Kyuhyun
Kau tahu Wellmade di Insadong?

Song Hyejin
Aku tahu. Kita bertemu di sana nanti?

Cho Kyuhyun
Kalau kau tidak keberatan. Aku belum pernah kesana tapi kata noona-ku cukup bagus.

Song Hyejin
Aku sudah beberapa kali kesana. Tempatnya enak, makananannya juga. Kalau begitu, see you there manajer Cho.

Cho Kyuhyun
See you.

Aku segera pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Hanya ada eomma dan dua orang dayang setianya di rumah. Appa di Tokyo dan baru pulang besok sedangkan noona tentu saja di rumahnya sendiri bersama suami dan anak-anaknya.

“Halo, eomma.”

“Sudah pulang?” Sapa eomma ketika aku buru-buru mencium pipinya lalu masuk ke dalam kamarku.

“Mau pergi lagi?” Tanya eomma melihat aku keluar dari kamarku dengan rambut basah dan tubuh berbalut handuk kimono.

“Menurut eomma, lebih bagus kemeja yang mana? Biru muda atau abu-abu?” Tanyaku sambil menunjukkan kedua kemeja di tanganku dan eomma menunjuk kemeja biru muda. “Ok. Gomawo, eomma!”

“Kau mau kemana?”

Aku tidak sempat menjawab karena aku sudah masuk kembali ke dalam kamar untuk memakai pakaian. Aku lebih dulu memakai celana jeans hitam-ku baru kemudian memakai kemeja pilihan eomma setelah mengeringkan rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhku.

“Astaga, kau mau kemana?” Tanya eomma yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku sambil mengernyitkan hidungnya. Aku akui, aku terlalu banyak menyemprotkan parfum.

“Makan malam,” jawabku santai.

“Dengan?” Pertanyaan lebih lanjut dari eomma.

“Orang kantorku,” sahutku sambil bercermin merapikan rambutku.

Kening eomma berkernyit. Aku bisa melihatnya dari cermin karena ia berdiri di belakangku. Tidak tepat di belakangku, agak ke kiri, sehingga aku bisa melihat pantulan tubuhnya. “Wae?” Tanyaku heran.

“Kau terlalu tampan untuk makan malam dengan orang kantor. Kau mau makan malam dengan seorang wanita. Iya kan?”

Urusanku dengan cermin sudah selesai. Aku berbalik menghadap eomma lalu memeluk dan mengecup keningnya. “Aku hanya makan malam dengan orang kantor. Seorang wanita, iya. Tidak lebih. Jangan berpikiran aneh-aneh, eomma.”

“Eomma tidak berpikiran aneh-aneh. Eomma hanya berharap anak laki-laki eomma yang sudah berusia 34 tahun ini mau sedikit berpikir untuk mencari pasangan hidup. Itu saja. Tidak aneh-aneh kan?”

Aku kembali mengecup kening eomma tanpa menanggapi ucapannya. Aku sudah malas kalau membahas masalah pasangan hidup. “Aku pergi dulu ya, eomma. Tidak usah menungguku pulang. Sampai jumpa.”

“Hati-hati. Jangan mabuk!” Aku mendengar pesannya sebelum masuk ke dalam mobil. Tentu saja, aku tidak akan mabuk. Aku akan makan malam dengan seorang wanita. Kalau aku mabuk, siapa yang akan mengantarkannya pulang?

——

JAM 6 aku sudah tiba dan aku menyadari diriku terlalu cepat bersiap-siap tadi. “Masih satu jam lagi. Haish!” Gerutuku yang terpaksa keluar dari mobil dan memasuki restoran bernama Wellmade tersebut. Dari penampakannya sama sekali tidak mengecewakan.

Aku memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap taman penuh lampu yang juga dijadikan tempat makan. Sangat enak dilihat.

Pelayan memberikanku sebuah buku menu dengan ramah. “Silahkan. Kalau sudah mau pesan, silahkan panggil aku atau temanku yang lain. Terima kasih,” katanya sambil tersenyum lalu meninggalkanku.

Aku menyortir pilihan makanan untuk aku makan nanti bersama Hyejin sedangkan sekarang aku cukup minum cappucino hangat. Hampir saja aku memesan wine kalau aku tidak ingat aku harus menuntaskan kewajibanku setelah acara makan malam ini berakhir.

Satu jam adalah waktu yang lama jika dihabiskan sendirian. Apalagi jika dua jam.

Song Hyejin
Manajer Cho, maafkan aku. Aku akan datang terlambat. Manajer Gong memintaku untuk menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini. Besok ia cuti.

Song Hyejin
Aku akan datang jam 8. Maafkan aku, manajer.

Cho Kyuhyun
Ok. Tidak masalah. Santai saja.

Aku memesan cangkir ketiga minumanku. Kali ini americano. Sambil menyeruput pelan-pelan cairan panas itu, aku mengeluarkan ide-ide kreatifku sebagai manajer inovasi. Tidak terasa, waktu terlewati.

“Maaf membuat manajer Cho menunggu,” kata Hyejin yang akhirnya datang setelah lewat satu setengah jam dari waktu janjian, dua setengah jam dari waktu aku datang dan setengah jam dari waktu janjian ralatannya.

“Tidak apa. Aku belum lama menunggu. Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai?” Tanyaku.

“Sudah. Manajer Gong sudah bisa cuti dengan tenang,” katanya sambil tersenyum.

Pelayan kembali datang membawa menu. “Mau pesan langsung?” Tanya pelayan dengan ramah kepada Hyejin.

“Aku mau lasagna lobster dan salad melon. Minumnya, air mineral dan chinese tea,” pesan Hyejin lalu bertanya kepadaku. “Manajer Cho mau makan apa? Apa sudah pesan?”

“Aku sirloin steak saja dan red wine segelas,” pesanku. Segelas red wine tidak akan membuatku mabuk. Tenang saja.

“Manajer Cho.”

“Eoh?”

“Apa tidak ada lowongan untuk jadi anak buahmu?”

“Eum? Memangnya kenapa? Kau sudah tidak tahan dengan manajer Gong?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak cocok di bagian penjualan. Aku tidak bisa bekerja dengan baik sehingga aku selalu salah. Kalau bisa, aku mau pindah bagian. Apa saja asal bukan penjualan,” katanya tanpa basa-basi. Dia mengatakannya dengan jelas tanpa ada nada-nada manja untuk menggoda.

“Sayang sekali, tim-ku sudah penuh tapi aku akan coba carikan posisi yang tepat untukmu. Apa kau sudah tanya ke bagian lain? Keuangan atau Audit?”

“Penuh. Mereka tidak menerima orang lagi katanya sampai waktu yang tidak ditentukan.”

“Kasihan sekali. Mungkin memang kau harus sabar-sabar dengan Manajer Gong,” kataku sambil tertawa karena aku hanya ingin menggodanya dan Hyejin ikut tertawa bersamaku.

Makanan kami datang dan aku cukup terkesan dengan lasagna lobster pesanan Hyejin. “Tidak usah kaget. Ini makananku sehari-hari,” katanya yang membuat mataku semakin membelalak.

“Kau makan lobster setiap hari? Kau tidak sakit?”

Hyejin tertawa. “Porsi makanannya maksudku. Aku selalu makan sebanyak ini setiap hari tapi aku tetap kurus karena aku naik turun tangga stasiun metro setiap hari.”

“Bukan karena dimarahi manajer Gong?”

Hyejin hanya tertawa lalu menyantap lasagna-nya. “Aku tidak akan terpancing olehmu, manajer Cho,” ujarnya.

Aku mulai memakan sirloin steak pesananku dan aku akui makanan di tempat ini memang enak. “Kau biasanya makan dengan siapa di tempat ini?” Tanyaku.

“Teman-temanku,” jawabnya.

“Teman kantor?”

Ia menggelengkan kepala. “Teman waktu kuliah. Sejenis denganku,” katanya.

“Sama-sama perempuan maksudnya?”

“Salah satunya.”

“Selain itu?”

“Sama-sama tidak bisa dandan.” Tawa kecil Hyejin terdengar renyah di telingaku. “Manajer Cho tahu kenapa manajer Gong sering memarahiku? Karena aku tidak bisa tampil menarik dan merayunya. Kalau masalah pekerjaan, aku tidak lebih jelek daripada Jaeyoung. But you know, she’s our goddess.”

Gadis cantik nan populer dan gadis biasa bergaya sederhana. Kelompok itu akan selalu ada dimanapun kau berada.

“Kenapa kau tidak coba berdandan?”

“Sudah dan tidak sampai sejam aku menghapus tata rias wajahku karena tidak tahan. Wajahku terasa panas.”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar alasannya. Sangat lucu. Begitu juga dengan cara penyampaiannya. Ia terdengar begitu polos. Ah, bukan. Aku rasa lebih tepat asli. Ya, asli. Dia begitu asli, tidak ada kepura-puraan.

“Bagaimana dengan pakaian? Sudah coba?”

“Meskipun pakaian bagus tapi kalau wajah tidak menunjang, kurang efektif. Tapi kalau maksud manajer Cho aku harus memakai pakaian sempit dan pendek, tidak akan pernah terjadi. Tidak.”

Aku kembali tertawa sampai dua jam ke depan karena makanan kami sudah habis dan restorannya juga sudah mau tutup. “Terima kasih atas traktirannya. Aku tidak akan menolak jika ada tawaran makan lagi,” ujarku sebelum kami keluar dari Wellmade.

“I will, of course. Terutama kalau Manajer Cho berhasil menyelesaikan misi penyelamatan luar biasa,” ujarnya sambil tertawa.

“Kau pulang ke daerah mana? Akan aku antar pulang.”

“Tidak usah. Apartemenku hanya satu stasiun dari sini. Aku bisa pulang naik metro. Manajer Cho tenang saja.”

“Jangan. Aku akan mengantarkanmu pulang. Kalau ada apa-apa denganmu, siapa lagi yang mau mentraktirku makan di tempat seenak ini? Ayolah.”

“Ok.”

Aku mengantarkan Hyejin pulang lalu kembali ke rumah. Sesampai di rumah, aku langsung menemui eomma. “MOM! I WANT TO GET MARRIED!!!” Aku pasti sudah membuat heboh seisi rumah.

——