Annyeooong!

Author kangen dengan kalian semua. Maafkan author sudah lama tidak aktif. Selamat Idul Fitri 1437 H untuk semuanya yang merayakan. Maaf lahir dan batin ya.

Semoga kalian senang dengan cerita baru ini.

 

 

Aku baru saja ingin menenggak vodka ku saat aku melihatnya duduk tak jauh di sampingku. Dia tersenyum simpul kepada bartender dan memesan segelas orange juice.
“Kau harusnya memesan yang lebih keras lagi,” aku menggeser tempat dudukku ke sampingnya.
Dia mengarahkan pandangannya kepadaku dan mengucapkan kalimat yang membuatku tertawa. “Kau mabuk.”
“Aku tidak mabuk, cantik.” Aku kembali menenggak vodkaku. “Aku tidak akan pernah bisa mabuk di depan wanita secantikmu.”
Dia memasang tampang tidak tertarik. “Aku sudah punya kekasih, maaf.”
“Dan aku juga sudah punya kekasih yang amat sangat cantik,” Aku meraih alas gelasku dan mengeluarkan pulpen dari saku kemejaku, menyodorkan ke arahnya. “Tapi tidak ada salahnya kan berkenalan dengan wanita lain?”
“Dan tidak ada salahnya jika ini akan berujung ke perselingkuhan?”
“Tidak ada salahnya,” Aku mengangguk. Tidak ada salahnya berselingkuh dari kekasihku yang terus menerus mementingkan pekerjaannya daripada aku. Tidak ada salahnya.
“Kau mabuk. Aku pesankan taksi ya?” wanita itu kini memandangku dengan lembut, seolah dia mengasihaniku karena nasibku yang tidak baik ini.
“Ini nomerku,” Aku menuliskannya di alas gelas tadi. “Kim Woobin.”
Dia tak menggubrisku, malah berbicara dengan bartender di depannya. Bartender itu pun berlalu dan beberapa saat kemudian sudah berada di sampingku.
“Kim Woobin-ssi, aku sudah pesankan taksi untukmu. Selamat malam,” ujar wanita itu.
+++
Aku memandang alas gelas yang ada di genggamanku. Haruskah aku menghubunginya? Tidak Jihyo, tidak. Kau percaya dengan pria yang tidak kau kenal dan kau temui dalam keadaan mabuk? Kau gila!
“Eomma,” Aku menjawab telepon dengan malas. Pasti eomma sudah mengatur pertemuan dengan anak dari rekan kerjanya. Entah sudah berapa puluh kali ia lakukan demi melihat anak semata wayangnya ini cepat menikah.
‘Jihyo sayang, kau sudah lima kali membatalkan pertemuan dengan anaknya Nyonya Choi. Eomma harus beralasan apalagi, nak?’
“Bilang saja aku masih ada deadline pekerjaan, eomma,” jawabku malas.
‘Tidak bisa. Kali ini kau harus menemuinya. Dia pria baik-baik, Hyonnie. Dia sudah Deputy Director di bank ternama. Keluarganya pun sudah dekat sekali dengan keluarga kita. Eomma tidak memintamu untuk langsung menikah dengannya. Berkenalan saja dengannya, nak.’
“Yasudah, hanya satu kali ini. Oke?”
‘Terima kasih, anak eomma paling cantik! Kalau begitu kau turun ke restoran loby gedung kantormu sekarang ya nak, makan siang dengannya.’
“Eomma! Tidak bisa mendadak seperti itu!” Aku mendengus kesal. “Eomma, jangan bercanda! Memangnya anak temannya eomma juga bisa datang apa kalau mendadak seperti itu?”
‘Tenang, dia sudah datang ke restoran itu kok. Katanya dia ada rapat di gedung kantormu juga. Kebetulan sekali kan?’
Aku bisa mendengar kegirangan dari nada suara eomma. Baiklah, kali ini aku tidak bisa mengelak. Aku langsung menutup telepon dan berjalan menuju lift. Aku bahkan tidak mau bertanya siapa namanya dan bagaimana tampangnya. Pria itu yang sepakat lebih dulu untuk menemuiku, biarlah dia yang mencari. Kalau dalam waktu 15 menit dia tidak muncul, aku tinggal.
Aku masuk ke dalam lift dan menyenderkan tubuhku di dinding lift. Seumur hidup tidak punya kekasih dan kini ada pria yang memberikan nomer teleponnya kepadaku, kenapa tidak aku manfaatkan? Lagipula, cepat atau lambat, eomma akan merengek aku harus menikah dengan salah satu pria pilihannya.
“Halo, nona cantik.”
Aku terkejut mendengar suara yang begitu dekat denganku. Lebih terkejut lagi begitu melihat siapa orang di hadapanku. Pria mabuk tadi malam!
“Ternyata kau lebih cantik dibanding tadi malam. Terima kasih sudah memesankan taksi untukku,” Pria itu tersenyum, dia mirip rubah saat tersenyum, rubah yang tampan.
“Sama-sama,” Aku menggeser tubuhku menjauh darinya. Namun tangannya menahan pergelangan tanganku yang memegang smartphone.
“Kau belum menghubungiku. Nomerku hilang?”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu,” Dia mengambil smartphoneku lalu menyentuh layarnya, tak berapa lama aku mendengar ada dering dari saku celananya. “Ini nomerku, simpan. Aku juga sudah punya nomermu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?”
“Aku sudah ada janji makan siang bersama kekasihku,” jawabku asal.
“Sayang sekali,” Pria itu mengangkat tangannya mendekatiku, mengusap rambutku dengan lembut. “Kau tidak boleh tampil berantakan di depan kekasihmu, iya kan?”
Aku menepis tangannya begitu pintu lift terbuka. “Selamat tinggal.” Aku dengan cepat berjalan keluar dari lift.
“Sampai jumpa!”
+++
Aku tersenyum sendiri memandangi smartphoneku. Bukankah ini sebuah kebetulan bertemu dengan wanita itu lagi di sini? Apa di gedung ini kantornya?
“Woobin! Kau kemana saja sih?” teriak Jongsuk, sahabatku sekaligus rekan kerjaku. “Bagaimana menurutmu. Gedung ini cocok kan untuk kantor startup kita?”
Aku mengangguk. “Kapan kita bisa pindah ke sini?”
“Sepertinya awal bulan depan,” Jongsuk memandang aneh kearahku. “Kau terlihat bersemangat.”
“Tentu saja! Kita akan pindah kantor, iya kan?” Aku tertawa kikuk. Jongsuk dan aku sudah bersahabat sejak kami baru masuk kuliah. Dia salah satu dari sedikit orang yang bisa melihat apa yang terjadi pada diriku dengan mudah tanpa harus bertanya banyak.
“Terserah apa katamu. Aku mau makan. Kau tidak lapar? Katanya restoran di sini enak-enak.” Jongsuk memimpin jalan menuju restoran yang tak jauh dari meja resepsionis loby.
Dan di situ aku melihatnya kembali. Bersama kekasihnya. Mereka tampak serasi, dan itu membuatku kesal. Hah, untuk apa aku kesal untuk wanita yang baru aku temui tadi malam?
Aku selalu ingin tau, bagaimana rasanya mengeyampingkan kekasihmu demi sesuatu hal yang lain? Seperti apa yang kekasih lakukan kepadaku. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai sekretaris. Mungkin aku yang kekanakan. Ujung-ujungnya dia akan bilang aku egois dan tidak mengerti akan betapa sulitnya untuk mencapai jabatannya yang sekarang.
Dan aku terpikat dengan senyuman wanita itu tadi malam, ketika ia tersenyum saat bartender menanyakan ia ingin memesan minum apa. Saat ia tersenyum lembut mengatakan ia sudah memesankan taksi untukku. Dan kali ini, saat ia tersenyum kepada pria dihadapannya.
“Woah, she’s taken, bro,” Jongsuk menyenggol lenganku. “And you’re not available, anymore.”
“I know, I know,” Aku menarik kursi dan duduk. “Kau tidak mau duduk, Jongsuk?”
“Serius. Kau harus menghilangkan pandangan seperti itu,” Jongsuk menghela napas sangat keras. “Kau tau kan, aku juga yang kena kalau kau ada masalah.”
“Gwenchana. Nobody harm.”
+++
Kali ini aku harus mengakui jika selera eomma sangat bagus.
Namanya Choi Seunghyun, dia lebih tua 4 tahun dariku. Jangan ditanya soal penampilan fisiknya. Much more better dari pria terakhir yang eomma tunjukkan fotonya kepadaku! He’s gorgeous, apalagi dengan kacamata yang bertengger cantik di hidungnya. Matanya yang runcing mengingatkanku dengan seseorang yang aku kenal, tapi aku lupa siapa.
“Jadi mengapa kau akhirnya setuju untuk bertemu denganku, Jihyo?” Seunghyun memandangku dengan tajam, seperti guru yang sedang menguji anak muridnya.
“Jawaban jujur atau bohong?” aku menyengir mencoba mencairkan suasana, dan tentunya gagal. Dia sama sekali tidak tersenyum.
“Kau sudah lima kali membatalkan pertemuan,” Seunghyun menyondongkan tubuhnya ke arahku. “Dan kau wanita pertama yang melakukan itu padaku.”
Lima kali? Oh crap! Aku bahkan tidak tau jika yang aku tolak itu adalah pertemuan dengan pria setampan ini! Kalau aku tau, pasti aku tidak akan sekonyol itu meminta eomma membuat berbagai alasan untuk menutupi ketidakdatanganku.
“Eomma menjebakku dan mengatakan kau sudah ada di restoran yang satu gedung dengan kantorku. Aku tidak bisa mengelak,” aku akhirnya memutuskan untuk menjawab jujur. Biarkan dia yang menilai aku orang seperti apa. “dan kau adalah anak Choi ahjumma, dia sudah seperti eommaku sendiri,” aku menambahkan perkataan manis di belakangnya.
Seunghyun tersenyum puas dan kembali memakan steak di hadapannya. Sejujurnya, dia sedikit aneh untuk pria setampannya. Sejak 10 menit aku bersamanya, setiap pertanyaannya seperti ujian untukku, jika bukan ujian, ini seperti sebuah jebakan.
“Kau sudah punya pacar?”
“Hah, aku? Belum,” aku merutuk diriku sendiri kenapa harus berkata sejujur ini. Dimana harga dirimu, Jihyo! “dan kau?”
“Sudah,” jawabnya singkat.
“Wow, bagus,” aku dengan santai menyuapkan spaghetti carbonara ke mulutku.
“Dan lagi-lagi kau wanita pertama yang tidak terdengar kecewa.”
“Karena akan aneh jika pria setampanmu belum punya pacar,” Jihyo apa yang kau katakan?! Kau mengatakan dia tampan secara langsung di hadapannya? Kau menyedihkan, nona!!!
Seunghyun tersenyum, “Kau lucu sekali Choi Jihyo.”
“Dan kau?”
“Apa? Kau sudah tau aku punya kekasih.”
“Kenapa kau setuju untuk bertemu denganku?”
“Kau percaya dengan cinta, Jihyo?” Seunghyun malah balik bertanya kepadaku.
“Apa? Cinta? Aku percaya, tapi aku tidak percaya yang namanya jatuh cinta,” jawabku mantap.
“Kenapa?” Seunghyun mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.
“Kau tau, jatuh cinta itu seperti sebuah dongeng. Kau bertemu dengan seorang pria asing, lalu kau mempercayai jika pria itu adalah pangeran untuk hidupmu, kalian jatuh cinta, dan bahagia,” aku menyuapkan lagi makananku. “Aku sudah melewati fase itu, aku sudah menjalaninya dan aku menyadari jika di dunia nyata tidak ada yang namanya pangeran untuk hidupku.”
“Aku juga percaya di dunia ini tidak ada yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta itu hanya untuk orang bodoh,” Seunghyun tersenyum kepadaku, kali ini senyuman paling tulus yang aku terima dari hampir setengah jam kami bersama.
“Saat kau jatuh cinta, kau tidak bebas kehendak menentukan pilihanmu. Hatimu yang memutuskan kau jatuh cinta kepada siapa, dan hati seringkali salah. Hanya orang bodoh yang mengikuti hati yang sudah jelas salah.”
“Lalu mengapa kau punya pacar?denganmu oleh mengerenyitkan dahiku.
“Cinta itu simbiosis mutualisme, Jihyo. Aku mendapatkan yang aku inginkan darinya, dia mendapatkan apa yang dia inginkan dariku. Semudah itu. Jika aku berpikir aku sudah tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari orang itu, maka itu artinya aku tidak mencintainya lagi, semudah itu.”
“Dan dengan setuju bertemu denganku, kau mendapat keuntungan, iya kan?” Aku semakin nyaman untuk bicara blak-blakan dengannya. “Kau tidak lagi harus dikejar-kejar oleh orangtuamu untuk datang ke blind date seperti ini.”
Seunghyun mengangguk. “Lalu bagaimana kau bisa menemukan cinta jika kau tidak percaya dengan yang namanya jatuh cinta, Jihyo?”
“Cinta itu sebuah kesepakatan. Kau sepakat untuk mencintai seseorang dan orang itu sepakat untuk mencintaimu.”
“Menarik,” Seunghyun mengelap mulutnya dengan serbet. “I bet we can be a perfect strange couple, someday.”
Aku tertawa mendengarnya. Sejujurnya aku sama anehnya dengan Seunghyun.
Aku terdiam ketika melihat smartphoneku bergetar, ada sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak aku kenal.
Taman kota, besok. Kencan pertama. Jangan lupa.
Aku mengerenyitkan dahi, mungkin SMS nyasar.
Smartphoneku bergetar lagi.
Kau pasti belum menyimpan nomerku. Ini aku, pria tampan yang mabuk karena senyumanmu tadi malam, Kim Woobin.
Aku tertawa geli membacanya. Masih ada orang narsis sekaligus konyol seperti ini.
“Pesan penting?” tanya Seunghyun.
Aku mengangguk. Ini pesan super duper penting. Nobody harm, Jihyo. Apa salahnya berkencan dengan pria yang sudah punya kekasih? Lagipula pria di hadapanmu, pria yang kemungkinannya besar akan dijodohkan denganmu oleh orangtuamu ini juga sudah memiliki kekasih.
Ok.