Kurasa otakku sedang kacau.

Aku tersenyum cepat saat Jongsuk tersenyum kepadaku. Mataku tidak bisa lepas dari smartphonenya yang baru saja ia masukkan ke kantung celananya.

“Anak itu selalu saja terlambat, iya kan?” Jongsuk terdengar sangat ceria untuk seseorang yang menunggu selama hampir setengah jam.

Aku yakin sekali tadi aku melihat di layar smartphone Jongsuk tertulis nama Jihyo. Jongsuk pun sejak tadi sibuk mengetikkan sesuatu di smartphonenya. Aku menyimpulkan jika dia sedang membalas pesan. Lalu untuk apa dia melontarkan pernyataan seperti itu jika dia sejak tadi sedang chatting dengan Jihyo?

“Oppa!” Jihyo berlari dengan napas tersengal-sengal. Dia menyeringai begitu melihat mukaku yang kusut. “Ya! Aku tadi harus mengantarkan MinAh onnie ke salon dulu! Mobilnya sedang di bengkel!”

“Jongsuk oppa, annyeong!” Jihyo melemparkan tubuhnya k earah Jongsuk dan langsung ditangkap Jongsuk dengan pelukannya. “Aku merindukanmu! Kau ini selalu sibuk, huh!”

Jihyo tidak pernah seakrab ini dengan Jongsuk. Tidak. Oke baiklah, mereka sangat akrab. Jongsuk sahabatku dan Jihyo kekasihku. Wajar kan kalau mereka akrab? Tapi kenapa mereka harus berpelukan selama ini?

Aku refleks menarik tangan Jihyo agar dia bisa melepaskan pelukannya dari Jongsuk. “Kajja! Aku lapar!”

“Arra, arra,” Jihyo mendengus kesal.

Kami bertiga masuk ke dalam mal, tentu saja disambut dengan teriakan para fans yang mengenali kami bertiga. Aku berusaha untuk memasang wajah seramah mungkin dan melemparkan senyum ke mereka. Aku berusaha. Aku tidak tau mengapa tiba-tiba aku sangat kesal seperti ini karena Jihyo dan Jongsuk.

Ini semua karena Jihyo yang tiba-tiba saja menonton drama terbaru Jongsuk.

Itu adalah salah satu hal yang tidak biasa dilakukan oleh Choi Jihyo.

Aku mengenalnya, aku paham benar dengan kebiasaan kekasihku ini. Seseru dan sebagus apapun serial drama yang sedang tayang, dia tetap saja baru akan menontonnya apabila drama itu sudah selesai tayang.

“Kalau aku menonton saat dramanya sedang tayang, aku bisa mati penasaran, oppa. Kau tau tidak sih rasanya harus menunggu seminggu kemudian untuk tahu bagaimana kelanjutan ceritanya?”

Aku ingat sekali Jihyo selalu mengatakan hal itu.

Mau itu drama yang diperankan oleh Siwon hyung, para member Super Girls, Eric hyung, Henry, Donghae hyung, ataupun aku sekalipun, dia tidak akan pernah menontonnya sebelum seluruh episode tayang.

Maka aku wajar saat dia belum menonton drama terbaruku. Dan aku tidak akan memaksanya, toh dia pasti akan menonton setelah dramaku tamat.

Tapi tiba-tiba saja dia kecanduan dengan drama baru Jongsuk. Aku ingat sekali dia tidak bisa ditelepom saat hari Rabu dan Kamis malam hanya untuk menonton dramanya Jongsuk.

Padahal drama-drama Jongsuk sebelumnya Jihyo juga baru akan menonton setelah dramanya selesai diputar.

“Woobin-ah,” Jongsuk menyadarkanku. “Jihyo mau ke toko mainan dulu.”

“Hah?”

“Aku mau beli action figure dulu, Kim Woobin. Makannya nanti dulu,” JIhyo menarikku masuk ke dalam toko diikuti oleh Jongsuk, Bagai bocah yang masuk ke istana, Jihyo langsung berlari dengan liar mencari barang yang mau ia beli.

“Gwenchanayo?” tanya Jongsuk.

Aku mengerenyitkan dahiku.

“Kau terlihat aneh.”

“Gwenchana,” Aku menepuk lengan Jongsuk. Kim Woobin, kau konyol. Di saat kau bisa bertemu dengan sahabat dan kekasihmu ditengah kesibukan yang padat kau malah berpikiran yang aneh-aneh.

“Jongsuk oppa!” Jihyo berteriak dengan kencang entah dimana posisinya sekarang, Jongsuk dengan secepat kilat mencarinya.

Aku berusaha untuk menghiraukannya, tapi tidak bisa. Maka aku mengikuti Jongsuk mencari Jihyo. Aku menemukan mereka berdua di pojok ruangan. Jihyo tersenyum kearah Jongsuk sambil memegang kotak besar action figure, Jongsuk mengangguk dan meletakkan tangannya di atas kepala Jihyo, mengacaknya dengan lembut.

Aku tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan mereka berdua. Aku berusaha berada di jarak yang aman agar mereka berdua tidak curiga kepadaku. Jongsuk memang selalu menuruti kata-kata Jihyo, termasuk jika miss evil memintanya untuk membelikan mainan. Namun aku merasa ada yang aneh.

Aku memang sangat sibuk akhir-akhir ini, namun dengan apa yang sudah kami alami, aku berusaha paling tidak menyisakan satu hariku dalam seminggu, beberapa jam saja untuk bertemu dengan Jihyo.

Namun ia tidak bisa lepas dari smartphonenya, beberapa kali aku sekilas melihat nama Jongsuk di smartphonenya. Aku kira aku salah lihat. Namun bagaimana kalau aku benar jika Jihyo selalu bertukar pesan dengan Jongsuk?

Jongsuk melingkarkan lengannya di bahu Jihyo, mereka berdua berjalan menuju kasir sambil sesekali tertawa. Wajah Jongsuk terlihat memerah. Aku selalu tidak ada masalah jika Jongsuk merangkul bahu JIhyo. Itu hal yang biasa bukan? Itu hanya sebagai tanda keakraban antar teman, iya kan?

Tidak, itu bukan hal yang biasa.

“Aduh kasian kekasihku paling tampan kelaparan sampai mukanya ditekuk seperti itu. Mau makan apa, oppa?” Jihyo merangkul lenganku.

Aku tidak menjawab pertanyaan Jihyo dan langsung menuju restoran kesukaanku di mal itu. Jihyo duduk di sebelahku dan Jongsuk di depan kami. Aku sedang malas membaca buku menu sehingga aku memutuskan agar Jihyo memilihkan makanan untukku.

Kami bertiga tidak banyak berbicara, lebih tepatnya aku tidak berbicara Jongsuk dan Jihyo daritadi sibuk membicarakan hal yang aku bahkan tidak menyimak tentang apa topiknya. Tiba-tiba Jihyo berdiri dari tempat duduk dan berpindah ke sofa Jongsuk. Jongsuk mengeluarkan smartphonenya dan mereka berdua lalu tertawa karena sesuatu yang terpampang di layarnya.

Cukup! Aku berdiri dari sofa. Mereka berdua menoleh ke arahku.

“Mau kemana?” tanya Jongsuk.

“Bukan urusanmu!” Aku membentak Jongsuk. Aku ingin pergi dari tempat ini, aku sudah tidak lapar. Aku malah sangat kenyang melihat tingkah mereka yang sangat romantis itu.

“Kim Woobin,Kim Woobin!” aku mendengar suara Jihyo di belakangku juga derap langkahnya yang setengah berlari. “Tunggu!”

Aku tidak ingin bertengkar dengannya, tidak lagi. Terakhir kali kami bertengkar, hubungan kami hamper berantakan.

“Cukup, berhenti!”

Baiklah, namja akan selalu kalah. Aku menghentikan langkahku dan berputar ke arahnya. “Wae?”

“Wae? Harusnya aku yang bertanya begitu. Kau kenapa sih? Kau tidak senang bertemu dengan aku dan Jongsuk oppa? Kita sudah hampir setengah tahun lalu tidak berkumpul bertiga dan kau malah memasang tampang menyebalkan seperti itu?”

“Kau dan Jongsuk terlalu asyik berduaan,” Tanpa sadar aku menambahkan kesarkasanku dalam intonasi bicaraku.

Sentilan keras Jihyo melayang ke dahiku, aku refleks berteiak. “Kau apa-apaan sih?”

“Kau yang apa-apaan! Baiklah aku bisa terima kalau kau cemburu dengan Senghyun oppa. Tapi ini Jongsuk oppa, Kim Woobin! Lee Jongsuk!” Jihyo setengah berteriak.

“Apa? Aku? Cemburu dengan Jongsuk? Tidak mungkin,” aku tertawa gugup. Apa iya, Kim Woobin?

“Lalu kenapa kau berbicara seperti itu, hah?”

“Aku kesal karena kau malah dengan bersemangat menonton drama Jongsuk, kau daritadi sibuk bersama dengannya, kau malah terus membicarakan karakter Jongsuk di drama itu setiap ada kesempatan mengobrol denganku!”

“Kim Woobin,” suara Jihyo melembut, tangannya mengusap pipiku. “You know, there are so many uncontrollable things in the world, one of them is your jealousy.”

“Aku tidak cemburu,” aku masih mencoba mempertahankan harga diriku. Aku tidak bisa mengakui jika sesaat tadi aku sempat cemburu dengan Jongsuk dan berpikir jika Jihyo berpaling kepada sahabatku sendiri.

“Iya, kau cemburu,” goda Jihyo.

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Baiklah, baiklah, aku cemburu! Puas?” Aku memeluk Jihyo.

“Minta maaf pada Jongsuk oppa sana,” Jihyo mengusap punggungku sebelum ia melepaskan pelukanku.

“Minta maaf untuk apa?”

“Karena kau sudah membuang-buang waktu kita bertiga dengan tingakh konyolmu itu.”

“Nona, bukannya kau yang membuang waktu kami berdua karena datang terlambat?” aku menyunggingkan senyumku, senang rasanya bisa kembali menyindir Jihyo.

“Ya! Aku kan sudah bilang tadi aku harus mengantar MinAh onnie ke salon! Kau harus minta maaf ke Jongsuk oppa pokoknya! Mmh, belikan sesuatu untuk permintaan maaf!” usul Jihyo.

“Beli apa? Lagipula aku tidak melakukan kesalahan yang besar.”

“Kau meragukan kesetiaan kekasihmu yang cantik jelita rupawan ini dan sahabat nomer satumu. Kau harus belikan barang untuk permintaan maaf. Apa ya? Mmh, oiya Jongsuk oppa pernah bilang padaku dia mau beli drone.”

“Drone?” Aku berpikir apakah memang sebaiknya aku harus membelikan Jongsuk hadiah permintaan maaf.

“Iya, drone. Sana sana cepat belikan, aku tunggu sini!” Jihyo mendorongku agar aku lekas bergerak.

 

+++

Choi Jihyo

OPPA

Choi Jihyo

Aku tidak mau ah

Lee Jongsuk

Jihyo-ku yang manis, sekali saja

Lee Jongsuk

Kau sudah dimana?

Choi Jihyo

Parkiran

Choi Jihyo

Duh biasanya yang iseng itu kan aku dan Woobin oppa

Choi Jihyo

Jiwa suci nan polos sepertimu tidak pantas mengerjai orang

Choi Jihyo

Lagipula kalau Woobin oppa tau, dia bisa murka

Lee Jongsuk

Haha, aku penasaran bagaimana nikmatnya mengerjai orang

Lee Jongsuk

Lagipula salah dia sendiri sudah 3 kali membatalkan janji bertemu denganku

Lee Jongsuk

Kau tidak tau apa terakhir kali kami berjanji bertemu, aku sampai harus meminta undur syuting

Lee Jongsuk

Dan anak itu malah tidak datang

Lee Jongsuk

Kau yakiin tidak mau bocoran episode selanjutnya? :p

Choi Jihyo

Siap laksanakan! Aku mau oppa!

 

 

Jihyo langsung berlari dari parkiran menuju loby tempat janjian dirinya, Jongsuk, dan Woobin. Ia berusah senatural mungkin saat melihat kedua sahabat itu menunggunya.

Dengan cepat ia menyapa Woobin lalu melancarkan skenario yang sudah dirancang oleh ia dan Jongsuk beberapa waktu lalu.

 “Jongsuk oppa, annyeong!” Jihyo melemparkan tubuhnya kea rah Jongsuk dan langsung ditangkap Jongsuk dengan pelukannya. “Aku merindukanmu! Kau ini selalu sibuk, huh!”

“Choi Jihyo, ternyata kau berat ya,” bisik Jongsuk sambil memeluk Jihyo.

“Ya! Aku ini tidak berat tau!” balas Jihyo.

“Kau harus lihat ekspresinya.”

“Kenapa, kenapa?”

“Sama saat dia bercerita kepadaku tentang kekesalannya terhadap Seunghyun.”

“Hahaha, Woobin ppabo!”

Woobin refleks menarik tangan Jihyo agar dia bisa melepaskan pelukannya dari Jongsuk. “Kajja! Aku lapar!”

“Arra, arra,” Jihyo mendengus kesal. Ia menengok ke arah Jongsuk. Namja itu mengedipkan matanya dan tertawa geli. Jongsuk paling tidak bisa menjalankan rencana rahasia seperti ini. Namun sepertinya Woobin tidak menyadari jika sejak tadi Jongsuk tidak bersikap seperti biasanya karena kegugupannya.

“Woobin-ah,” Jongsuk menepuk pundak Woobin, waktunya rencana nomer dua. “Jihyo mau ke toko mainan dulu.”

“Hah?”

“Aku mau beli action figure dulu, Kim Woobin. Makannya nanti dulu,” Jihyo menarik Woobin masuk ke dalam toko diikuti oleh Jongsuk. Jihyo langsung berlari mencari action figure yang ia inginkan. Jongsuk memang sudah berjanji untuk membelikan Jihyo action figure sebagai sogokan agar miss evil mau membantunya.

“Gwenchanayo?” tanya Jongsuk kepada Woobin. Jongsuk tau jika Woobin berusaha untuk tidak gelisah. Woobin tau ada sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung.“Kau terlihat aneh.”

“Gwenchana,” Woobin menepuk lengan Jongsuk. Mereka berdua dikagetkan dengan teriakan Jihyo yang memanggil nama Jongsuk. Jongsuk dengan secepat kilat mencarinya.

“Sudah ketemu?” tanya Jongsuk begitu melihat Jihyo memegang kotak besar action figure superhero favoritnya.

“Sudah, hehehe. Jadi kan dibayarin, oppa?” Jihyo memasang tampang penuh harap.

Jongsuk mengangguk dan meletakkan tangannya di atas kepala Jihyo, mengacaknya dengan lembut. “Ne, miss evil. Kau sepertinya sudah mulai menikmati permainan ini.”

Jihyo tertawa, “Dan kau daritadi terlihat nervous, oppa. Lihat, di ruangan ber-AC seperti ini kau malah keringatan heboh!”

Jongsuk melingkarkan lengannya di bahu Jihyo, mereka berdua berjalan menuju kasir.

“Kalau rencanamu kali ini berhasil, kau akan aku angkat jadi tangan kananku, oppa!” goda Jihyo.

“Tangan kanan dalam mengerjai orang?”

“Betul sekali, hahaha.”

“Kalau aku gagal?” tanya Jongsuk.

“Berarti kau harus mengakui kalau kamu memang tidak cocok jadi bad boy. Kau harus banyak belajar dari Woobin oppa, hahaha.”

Setelah beres membayar di kasir, mereka bertiga menuju restoran biasa tempat mereka makan sekaligus restoran kesukaan Woobin di mal itu.

Jongsuk bisa melihat mood Woobin semakin kacau, dan Jongsuk semakin tidak bisa menahan keinginannya untuk tertawa. Ia melanjutkan rencananya yang ketiga, mengobrol dengan Jihyo tentang topik yang tidak Woobin ketahui.

Jongsuk tau betul sifat sahabatnya, ia paling tidak suka juga dirinya tidak dilibatkan dalam sebuah pembicaraan, ataupun tidak tau topik pembicaraan. Woobin akan merasa dikucilkan.

Jongsuk memberi kode ke Jihyo untuk duduk disampingnya. Jihyo pun berdiri dari tempat duduk dan berpindah ke sofa Jongsuk.

Jongsuk sempat melirik ke arah Woobin ketika Jongsuk sedang mengeluarkan smartphonenya. Dalam hitungan detik Woobin pasti akan murka. Dan benar saja, Woobin berdiri dari duduknya.

“Mau kemana?” tanya Jongsuk.

“Bukan urusanmu!” Woobin membentak Jongsuk dan bergegas keluar dari restoran.

Jihyo hampir saja tertawa kencang jika Jongsuk tidak menyikut lengannya.

“Hahahah, rencanamu berhasil oppa!” teriak Jihyo ketika Woobin sudah hilang dari pandangan mereka berdua.

“Aku sudah bisa jadi tangan kananmu, sekarang?” goda Jongsuk.

“Tentu saja! Kau, Lee Jongsuk, mulai saat ini resmi menjadi tangan kanan Choi Jihyo!” Jihyo menyodorkan telapak tangannya dan langsung disambut Jongsuk dengan menepuk tangan Jihyo.

“Sana susul Woobin. Oiya, jangan lupa soal drone.”

“Ne ne. Arraseo. Kalau sampai dia membelikanmu drone, kau harus memberikan spoiler dua episode sekaligus, oke?”

Jongsuk mengangguk dan Jihyo segera berlari mengejar Woobin.

“Mianhae, Jihyo. Aku tidak bisa memberikan spoiler padamu,” Jongsuk tersenyum penuh kemenangan.