(First) Love At The First Sight

By @gurlindah93

“Aku pulaaaaaang,” teriak Park MinAh begitu dia menginjakkan kaki di ruang tamu rumahnya.

“Tidak perlu teriak-teriak!” balas Park Jungsoo entah dari mana.

“Jangan saling teriak,” kata ayah mereka, salah satu dokter anastesi terbaik di Seoul National University Hospital.

“Aigoo…. Ternyata sudah mulai makan malam,” MinAh akhirnya sampai di ruang tempat suara-suara tadi berasal.

“Makanlah, Jang ahjumma sudah membuat crispy chicken dengan saus lemon favoritmu,” ujar ibunya sambil menunjuk masakan Jang ahjumma favorit MinAh.

MinAh segera berlari ke dapur lalu memeluk wanita berumur 50 tahunan kesayangannya dari belakang, “Gomawo eommonim.”

Jang ahjumma yang dipanggil ‘eommonim’ hanya tertawa lebar melihat tingkah laku gadis yang sudah diasuhnya sejak 20 tahun lalu.

“Bulan depan saat ulang tahunku yang ke-24 eommonim harus memberiku kado. Arrachi?” pinta MinAh dengan nada merajuk. Sekali lagi Jang ahjumma hanya tertawa lebar.

“Park MinAh!”

Cukup dengan dua kata dari ibunya MinAh langsung melesat kembali ke ruang makan lalu duduk di tempat biasa.

“Kami berempat sudah hampir menghabiskan makanan kami tapi kau malah berlarian seperti anak kecil. Sekarang duduk dan makan yang benar,” perintah ibunya hanya ditanggapi anggukan oleh MinAh.

MinAh berhenti saat akan mengambil ayam. Dia berpikir ada yang janggal dengan perkataan ibunya. Berempat? Bukankah seharusnya hanya ada ayah, ibu, dan kakaknya?

Mata MinAh berhenti mencari saat menyadari ada yang duduk di sebelah Jungsoo.

Seorang pria tinggi berbahu lebar dan tegap dengan kulit kecokelatan dilengkapi senyum yang membuat jantung MinAh berhenti berdetak seketika.

“Nu… Gu… Se… Yo?” tanya MinAh dengan suara terbata-bata.

“Ah mianhaeyo, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Eric Mun, pegawai baru di SNU hospital sebagai dokter bedah umum,” pria itu memperkenalkan diri dengan sopan.

“Baru hari ini dia bekerja di SNU hospital, sebelumnya dia bekerja untuk WHO di Afrika,” jelas ayahnya.

“Eoh, oleh sebab itu aku mengundangnya makan untuk bertukar pikiran karena kau tahu kan, cita-citaku adalah bekerja untuk WHO,” kata Jungsoo dengan mulut penuh.

“Gomawoyo sudah mengundangku Park Jungsoo-ssi. Hahahaa,” balas pria itu.

MinAh tidak mendengar sepatah katapun perkataan ayah dan kakaknya. Matanya hanya tertuju pada satu arah dan telinganya hanya bisa mendengar suara tawa pria itu.

“Hyung, sudah selesai kan? Ayo kita mengobrol. Aku tidak sabar mendengar pengalamanmu bekerja untuk WHO,” ajak Jungsoo yang langsung disetujui pria itu.

Mereka berdua beranjak ke ruang tengah meninggalkan MinAh yang matanya masih mengikuti pria itu.

“Cepat makan, jangan melongo seperti itu,” ujar ibunya yang ikut beranjak dari meja makan meninggalkan MinAh sendirian.

Tidak perlu waktu lama bagi MinAh untuk menghabiskan makanannya lalu menyusul ke ruang tengah.

Jungsoo dan pria itu mengobrol dengan seru sampai tidak menyadari MinAh duduk si sebelah mereka berpura-pura menonton TV.

Sesekali MinAh melirik ke arah pria itu, memperhatikan gerak-geriknya sampai tiba-tiba Jungsoo bertanya sesuatu yang membuat MinAh menggunakan indera pendengarannya dengan maksimal.

“Apa kekasih hyung tidak keberatan dengan pekerjaan hyung yang membuat kalian tidak bisa bertemu?”

Tawa pria itu langsung meledak mendengar pertanyaan Jungsoo.

“Memangnya ada yang mau menjalin hubungan dengan pria yang tidak bisa dihubungi di pedalaman Afrika?”

“Lalu bagaimana dengan sekarang? Hyung sudah berada di negara yang memiliki kecepatan internet sangat tinggi. Apa hyung tidak ingin memiliki kekasih?” tanya Jungsoo penasaran.

Sama penasarannya dengan MinAh yang saat ini seluruh inderanya dia fokuskan untuk mendengar jawaban pria itu.

“Kalau aku tidak tahu kau sudah punya kekasih aku akan mengira kau naksir padaku, Park Jungsoo. Hahahahaa.”

“Hyuuuuung~ aku hanya penasaran bagaimana bisa seorang pria tampan dengan pekerjaan luar biasa tidak memiliki kekasih. Memangnya seperti apa tipe wanita idamanmu?”

“Hmmmmmmm.. Saat ini aku menyukai wanita yang seksi. Hahahhaa,”

Begitu mendengar hal itu MinAh langsung berlari ke kamarnya lalu membongkar isi lemarinya.

Dia tahu apa yang akan dia lakukan besok.

***

Sepulang kuliah MinAh langsung pulang, berganti baju dan menuju SNU hospital.

Semua orang mengatakan bahawa MinAh adalah gadis yang impulsif, tapi ini merupakan tindakan paling impulsif yang pernah dilakukan MinAh seumur hidupnya.

Sebelum memasuki rumah sakit MinAh melepas coatnya, meninggalkan sebuah dress berwarna merah yang membalut tubuh MinAh dengan sempurna. Sebelumnya MinAh tidak pernah menggunakan dress ini karena belahan dadanya begitu rendah dan modelnya yang provokatif.

Tapi demi cinta pertama dalam hidupnya MinAh sanggup melakukan apapun.

“Oppa!” teriak MinAh saat melihat kakaknya berjalan keluar dari ruang NICU.

Jungsoo yang tidak siap dengan apa yang ada di hadapannya menjatuhkan kertas-kertas yang sedang dia tandatangani.

What the…….,” Jungsoo tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena begitu banyak mata yang mengawasi mereka.

Untungnya orang-orang di rumah sakit mengenali MinAh sebagai adik Park Jungsoo, kalau tidak mereka pasti sudah berpikiran macam-macam.

Dengan semua kesulitan yang dihadapi karena berlari menggunakan stiletto ber-hak 8 cm, akhirnya MinAh berhasil mendatangi Jungsoo.

“Oppa tahu di mana Eric oppa?” tanya MinAh terengah-engah.

“Dia baru saja melakukan operasi,” jawab seorang pegawai magang dengan nametag ‘Kim Myungjae’ yang matanya tidak bisa lepas dari tubuh MinAh.

“Yaaaa!! Kim Myungjae! Kenapa kau memberitahunya.. Aiiisshh.. Park MinAh, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, tapi jangan berbuat yang aneh-aneh…….”

Chuu~

MinAh mencium pipi Jungsoo “Gomawo oppa, gomawo Myungjoo-ssi,” lalu langsung berlari menuju OR.

“Park MinAh! Park MinAh!” teriak Jungsoo yang tentu saja tidak dihiraukan MinAh.

Tepat saat MinAh tiba di depan OR, pintu OR terbuka dan pria itu keluar.

“Park MinAh,” pria itu terbelalak melihat MinAh berdiri di depannya. Matanya melihat MinAh dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Annyeong oppa..,” MinAh tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria itu.

“Ingin bertemu dengan oppa,” pipi MinAh bersemu saat menjawab.

“Whoooooaaaaa.”

“Suiitt suiiiitt.”

“Uhuk uhuk!”

Beragam reaksi terdengar setelah mendengar jawaban MinAh.

“Ikut aku,” ajak pria itu.

MinAh hanya mengangguk-angguk senang seperti anak anjing ketika mendengar ajakan pria itu.

Pria itu berjalan beberapa langkah sebelum menyadari kalau MinAh masih diam saja di tempatnya, jadi dia berbalik untuk menghampiri MinAh lalu menggandeng tangan gadis itu agar berjalan mengikutinya.

Ternyata pria itu mengajak MinAh ke ruangannya.

“Tunggu di sini, aku akan berganti pakaian,” pintanya. Kemudian pria itu meninggalkan MinAh sendirian.

MinAh berjalan mengitari ruangan pria itu sambil memperhatikan sekelilingnya.

Ada foto pria itu bersama keluarganya, foto bersama anjing cokelatnya, lalu ada beberapa fotonya saat sedang memancing.

“Jadi ada perlu apa kau menemuiku?” pria itu duduk di meja setelah berganti pakaian dengan kemeja hijau tua, celana abu-abu, dan jas putih.

MinAh tidak pernah menyangka seseorang bisa nampak begitu seksi dengan jas putih.

“Hanya ingin mengatakan sesuatu pada oppa,” MinAh menghampiri pria itu dengan senyum mengembang.

“Aku menyukai oppa…”

“Mworago? Apa kau tidak salah orang? Kita baru pertama kali bertemu tadi malam,” pria itu terdengar meragukan perkataan MinAh.

“Benar sekali, oleh karena itu aku datang menemui oppa. Dan menjadi wanita idaman oppa adalah langkah pertama kita dalam proses untuk saling mengenal.”

“Wanita idamanku? Memangnya apa yang kau tahu tentang wanita idamanku?”

“Wanita seksi,” jawab MinAh yakin.

Pria itu berpikir sejenak lalu menyunggingkan seringai jahil yang membuat MinAh ingin melumat bibirnya, tapi MinAh menahan diri.

“Aaaahh kau pasti mendengar pembicaraanku dengan Jungsoo semalam. Apa kau tidak tahu kalau aku hanya bercanda?”

Seketika itu MinAh langsung mengenakan coat yang sejak tadi dia pegang, “Syukurlah kalau wanita idaman oppa bukan wanita seksi. Aku tidak bisa membayangkan harus bertemu oppa setiap hari menggunakan baju seperti ini. Eomma bisa membunuhku,” ujar MinAh lega.

“Kau… Tidak marah?” pria itu mengerutkan dahinya.

“Marah? Untuk apa? Bukan oppa yang menyuruhku berpakaian seperti ini, aku yang ingin melakukannya.. Jadi, katakan padaku, wanita seperti apa yang oppa inginkan”

“Lalu apa kau akan mengikuti segala keinginanku?”

MinAh mengangguk pasti.

Pria itu menarik MinAh lalu mencondongkan tubuhnya ke arah MinAh.

-tbc-

Enjoy ^^