Matching Up

By @gurlindah93

“Oppaaaaaaaa.”

MinAh langsung berlari ke pelukan Eric.

My babyyyy… I miss u sooooo much….”

Tepat saat Eric akan mencium MinAh, segerombolan gadis masuk.

Ouch.. Bad timing..”

“Aku kan sudah bilang masuknya nanti saja, eonni….”

Jihyo menutup matanya sambil berjalan perlahan ke arah ruang TV.

“Kukira mereka sudah selesai bermesraan,” balas Hyejin membela diri.

“Oppa, aku pinjam kamarmu ya.. Ada tugas yang harus kukirim malam ini,” Hamun melesat ke kamar Eric tanpa menunggu persetujuan si empunya.

“Yaaaaa yaaaaaaaa!!! Apa-apaan ini? Park MinAh, kau bilang kita akan menghabiskan malam bersama,” ucap Eric frustasi.

MinAh hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, “Maksudku, malam bersama dengan mereka,” tunjuknya ke arah Jihyo dan Hyejin yang sekarang berebut remote TV.

Ladies, sadarlah.. Kita ke sini untuk meminta tolong pada Eric oppa,” dengan kesal MinAh menyeret Eric ke ruang TV.

“Minta tolong apa?” Eric mengambil remote TV dari tangan 2 gadis yang kini menatapnya dengan sebal.

“Oppa tidak menyadari ada yang aneh dengan kami?” tanya Hyejin.

Eric memperhatikan gadis-gadis itu lalu menggeleng.

“Pria memang tidak peka… Kami hanya datang berempat, apa itu tidak aneh?” Jihyo memperjelas maksud pertanyaan Hyejin.

Eric memutar bola matanya lalu berpikir keras.

“Ah.. Tidak ada lady Jung?”

Bingo!”

Sebagai hadiah MinAh mengecup bibir Eric.

“Jadi, saat ini HyunAh sedang dilanda kebosanan yang amat parah. Sudah 2 minggu ini dia berlibur ke Singapore. Sendirian,” Hyejin menjelaskan keadaan salah satu membernya.

“Kalian tidak ada yang diajak?” Eric heran dengan tingkah laku HyunAh yang tidak biasanya.

Mereka semua menggeleng.

“Kami baru tahu dari manajer oppa, Hyun naik flight paling pagi tanpa berpamitan pada kami,” jelas MinAh.

Dia terlihat sedih karena harus tidur sendirian selama 2 minggu terakhir.

“Hmmmm.. Kau sudah memberitahu kalau HyunAh sedang di Singapore tapi kukira dia pergi karena urusan pekerjaan. Lalu, apa hubungannya denganku? Kenapa kalian tidak menghubungi Henry?”

Ketiga gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak, termasuk Hamun yang tertawa dari dalam kamar.

“Oppaaaaa.. Henry oppa itu sooooooo last year.. Mereka sudah putus cukup lama,” Jihyo yang tertawa paling keras memegangi perutnya.

Mata Eric terbelalak mendengar penjelasan Jihyo.

“Singkat kata, kami membutuhkan bantuanmu agar HyunAh kembali seperti HyunAh yang kita kenal. Dia sudah cukup lama tidak memasak untuk kami,” ujar Hyejin sedih.

“Hyun juga sudah lama tidak keluar rumah, setelah menyelesaikan pekerjaan dia akan langsung pulang ke dorm. Oleh sebab itu saat tahu kalau dia pergi sendirian ke Singapore kami semua terkejut..,” lanjut MinAh dengan suara pelan.

“Jadiiiii.. Kami ingin meminta tolong pada oppa untuk mengenalkan dia pada Ryu Junyeol oppa,” teriak Hamun tanpa basa-basi dari dalam kamar.

Entah bagaimana caranya dia mengerjakan tugas sambil mendengarkan pembicaraan di luar kamar.

“Joongki? Bagaimana dengannya?” Eric ingat kalau HyunAh sempat dekat dengan kakak Hyejin.

“Joongki oppa? Hah! Dia sedang syuting entah di mana,” sahut Hyejin kesal.

“Kenapa tidak minta tolong Kim Woobin?” Eric melakukan tawar menawar agar dia tidak menelepon seseorang yang bahkan belum pernah dia temui seumur hidupnya.

“Woobin oppa sedang di Kanada untuk pemotretan,” jawab Jihyo.

“Lee Jongsuk?”

“Kalau Jongsuk bisa kami hubungi, kami tidak akan meminta tolong pada oppa,” sahut MinAh gemas.

“Tapi aku tidak kenal dengan Junyeol. Kalian mau aku melakukan apa?”

Percuma saja Eric melawan keinginan 3 gadis itu, yang ada mereka bisa menginap di apartmentnya jika tidak dituruti.

“Naaahh itu sudah kami pikirkan.. Bukankah Dongwan oppa pernah bermain dalam satu film dengannya? Oppa minta nomor Junyeol oppa pada Dongwan oppa lalu oppa menghubunginya. Bilang saja oppa ingin menemuinya untuk mengobrol tentang sebuah karakter, atau apa sajalah,” kata MinAh panjang lebar dengan senyum yang tidak kalah lebar.

“Eoh.. Dia tidak akan bisa menolak permintaan oppa, oppa kan aktor seniornya,” timpal Jihyo super yakin.

“Shireo.. Apa dia tidak akan curiga kalau aku yang tidak kenal dengannya tiba-tiba ingin bertemu? Shireo,” tolak Eric.

Okay, kalau begitu aku akan meminta tolong pada Dongwan oppa langsung.”

MinAh mengeluarkan smartphonenya lalu menekan nomor Kim Dongwan.

“Andwae!! Baiklah, aku yang akan menghubungi Dongwan,” entah kenapa Eric selalu merasa sedikit cemburu bila melihat MinAh mengobrol dengan Dongwan. Mungkin karena Dongwan adalah tipe ideal MinAh.

Ketiga gadis itu menatap Eric yang sedang menelepon Dongwan dengan mata berbinar-binar penuh harap.

“Ini,” Eric menunjukkan pesan Dongwan yang berisi nomor telepon Junyeol. Gadis-gadis di depannya langsung bertepuk tangan seperti singa laut di kebun binatang.

“Ayo telepon Junyeol oppa, mumpung belum terlalu malam, jebaaal,” pinta Jihyo.

“Aku harus bilang apa? Kapan kami akan bertemu? Di mana?”

Eric masih saja bingung dengan tugas yang tidak mudah ini.

“Hari Sabtu atau Minggu saja, Hyun kan pulang hari Rabu besok,” jawab Hyejin.

“Setuju.. Bagaimana kalau bertemu di club?” usul MinAh senang. Dia sudah membayangkan akan menginjakkan kaki lagi di club setelah sekian lama.

“Shireo,” tolak Eric, dia sudah hafal jalan pikiran MinAh.

“Di sini? Agar lebih intim,” ujar Hyejin dengan senyum jahil.

“Shireo! Kalian pikir rumahku ini tempat kencan buta?” memikirkan rumahnya dijadikan pertemuan HyunAh dan Junyeol membuatnya merinding.

“Hohoho.. Taman bermain,” tempat pertama yang terlintas di kepala Jihyo tentu saja taman bermain.

“Apa Junyeol tidak akan curiga kalau aku mengajaknya bertemu di taman bermain?,” tanya Eric yang langsung disambut anggukan oleh ketiga gadis yang kini kehabisan ide.

“Restoran Jepang!” teriak Hamun dari dalam kamar.

“Hamun jjang!” Jihyo berlari ke kamar untuk memeluk Hamun.

“Eonni apa-apaan siiihh,” kata Hamun yang bisa didengar dari luar kamar.

“Okay, hari Sabtu atau Minggu di restoran Jepang langganan kita, jam 6 sore. Cepat telepon diaaaa,” perintah Hyejin.

Dengan terpaksa Eric menekan nomor telepon Junyeol yang dia dapat dari Dongwan.

“Yoboseyo~ Ryu Junyeol-ssi? Eric Mun-imnida… Mmmmm bagaimana kabarmu? …………………….”

Ketiga gadis pemaksa itu membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan pembicaraan paling random yang pernah mereka dengar sambil menahan tawa.

***

“Silahkan masuk.. Eric-ssi akan menyusul sebentar lagi,” kata seorang pelayan ramah sambil mempersilahkan pria yang ditunggu-tunggu masuk ke ruangan 4.

“Ssssssshhhhhhh,” pinta Hyejin pada ketiga temannya yang bersama-sama menempelkan telinga mereka dari ruangan 3.

“Aaaaacckk dia datang,” MinAh sangat senang sampai suaranya tertahan saat berbicara.

“Eonni, jangan dorong-dorong,” kata Hamun sebal karena Jihyo sejak tadi mendorongnya.

“Hehehe.. Mian.. Lagipula tumben kau ikut Hamun? Tidak ada tugas kuliah?” tanya Jihyo penasaran.

“Aku tidak akan melewatkan ini.. Kan aku yang memberi ide untuk mengenalkan Hyun eonni dengan Junyeol oppa? Dan tempat ini juga aku yang mengusulkan,” jawab Hamun. Sekarang dia menyusup ke bawah agar bisa mendengar dengan lebih jelas.

“Iya iyaaa.. Untung kita punya Kang Hamun,” sahut MinAh.

“Yaaaa bukankah yang akan bertemu dengan Junyeol itu HyunAh? Untuk apa kau mengoleskan lipstick berkali-kali?” Eric terheran-heran dengan Hyejin yang sejak tadi membenahi lipsticknya.

“Siapa tahu nanti aku akan bertemu dengan Junyeol oppa,” ujar Hyejin penuh harap.

“Dasar wanita..”

“Ssssshhhh ssssshhhhh. HyunAh datang,” kata MinAh.

“Silahkan masuk,” kata pelayan yang sama dengan ramah seakan-akan tidak ada yang terjadi. Tidak salah jika Eric memberinya sogokan cukup besar.

“Loh.. HyunAh-ssi.. Annyeonghaseyo,” sapa Junyeol ramah walaupun terdengar terkejut.

“Annyeonghaseyo… Ryu Junyeol-ssi.. Mianhaeyo, sepertinya aku salah ruangan, kata teman-temanku seharusnya kami bertemu di ruangan 4.”

“Aniya.. Ini memang benar ruangan 4, aku diajak bertemu Eric Mun-ssi di sini. Katanya dia harus membicarakan karakter yang pernah kumainkan walau aku tidak tahu karakter mana yang Eric-ssi maksud,” jelas Junyeol.

HyunAh mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sudah memahami apa yang sedang terjadi di sini.

“Mianhaeyo Junyeol-ssi, sepertinya ini rencana teman-temanku untuk mempertemukan kita. Jeongmal jeosonghamnida kalau sudah membuat Junyeol-ssi merasa tidak nyaman. Aku akan pergi, senang bertemu dengan Junyeol-ssi,” pamit HyunAh bersiap-siap pergi.

“Andwaeyo HyunAh-ssi.. Gwenchanayo.. Kita sudah di sini kenapa kita tidak makan dulu?” ajak Junyeol dengan ramah.

HyunAh tersipu melihat senyum Junyeol yang biasanya hanya dia kagumi di drama favoritnya.

“Aaaahh jadi begitu rupanya, aku mengerti situasi ini. Kudengar Eric-ssi berpacaran dengan salah satu member Super Girls. Pantas saja tiba-tiba Eric-ssi mengajakku mengobrol padahal kami belum pernah bertemu,” Junyeol memencet tombol untuk memanggil pelayan.

“Ah ne.. Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo.. Aku tahu teman-temanku memiliki ide-ide gila, tapi tidak kusangka bisa segila ini….”

Perkataan HyunAh terputus saat pelayan yang sama datang.

Setelah mereka memesan, HyunAh melanjutkan perkataannya.

“Aku memang pernah bilang pada mereka kalau aku sangat menyukai drama Junyeol-ssi,” ujar HyunAh dengan malu-malu.

“Gomawoyo.. Aku juga menikmati lagu-lagu Super Girls dan menonton drama HyunAh-ssi. Melihat akting HyunAh-ssi, aku berpikir kalau aku ingin bermain dalam 1 drama dengan HyunAh-ssi,” puji Junyeol.

“Aku merasa sangat tersanjung Junyeol-ssi.. Aku tidak akan menolak kalau ada yang menawariku…………..”

Braaaaakkk!!!!!!!!

Dinding kertas yang memisahkan antar ruangan tiba-tiba ambruk.

“Apa…. Yang kalian lakukan?” HyunAh syok melihat keempat membernya sudah tergeletak di lantai di atas dinding kertas yang ambruk.

“Hehee.. Annyeonghaseyo Junyeol-ssi.. Senang bertemu denganmu,” sapa MinAh. Kemudian secepat mungkin dia langsung berlari keluar dari ruangan.

“Hehee..”

Hamun, Jihyo, dan Hyejin hanya bisa tertawa dengan canggung lalu ikut berlari mengikuti MinAh.

“Yaaaaa yaaaaaaa!!! Kalian!! Kembali!!!” teriak Eric dengan panik.

“Annyeonghaseyo Eric sunbaenim,” sapa Junyeol ramah lalu berdiri dan menyalami Eric yang langsung disambut Eric dengan bingung.

“Annyeonghaseyo Junyeol-ssi. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu… Mmmmmm aku harus menemui manajer restoran untuk membahas penggantian dinding yang kami rusakkan.. Silahkan kalian menikmati makanannya, aku yang mentraktir.. Hyun, aku titip tas mereka,” layaknya Usain Bolt, Eric berlari secepat mungkin mengejar keempat biang onar yang sudah mempermalukannya di depan orang yang baru dia temui.

“Seharusnya aku tidak usah menuruti mereka. Sudah kuduga akan seperti ini,” rutuk Eric dalam hati.

Junyeol dan HyunAh hanya bisa menertawakan kejadian absurd yang baru saja mereka alami.

-end-

Enjoy ^^