(Second) Love At The First Sight

By @gurlindah93

MinAh menutup matanya.

“Aku menyukai wanita dengan ukuran double D. Kau tahu kan maksudku?” pria itu berbisik di telinga MinAh.

MinAh mundur selangkah lalu menatap pria itu dengan tidak percaya.

Pria itu mengangkat bahunya dan beranjak ke kursinya.

OkayOkay…. Aku mengerti,” gumam MinAh lalu keluar dari ruangan pria itu dengan pikiran kosong.

Double D???????

“Apa yang harus kulakukan agar mendapat ukuran double D dalam semalam?” tanya MinAh pada dirinya sendiri.

Saat itu dia melihat ayahnya berjalan ke arahnya.

Menghindari berbagai macam pertanyaan ditambah pakaian yang bisa membuatnya tidak boleh kembali ke rumah sakit ini, MinAh menyembunyikan diri di balik pilar terdekat.

“Tunggu sebentar, sepertinya aku melihat putriku,” MinAh bisa mendengar suara ayahnya yang berarti dia semakin dekat.

“Tidak ada siapapun di sini, dokter Park,” timpal seorang wanita.

“Aku yakin aku melihatnya sekilas, dia memakai coat yang kuhadiahkan untuknya tahun lalu,” ujar ayah MinAh yakin.

MinAh kesal dengan dirinya sendiri yang begitu bodoh datang ke rumah sakit menggunakan coat pemberian ayahnya.

“Dokter Park!” panggil seseorang.

“Eric…. Ada apa?” tanya ayah MinAh, derap langkahnya berbalik arah menjauhi MinAh.

“Ada yang harus kubahas dengan dokter Park.. Bisa datang ke ruanganku?” pinta suara yang MinAh yakini sebagai pria yang baru saja mengatakan kalau dia menyukai wanita berdada besar.

Setelah yakin ayahnya menjauh, MinAh langsung berlari keluar.

Di dalam mobil dia berpikir keras, apa yang harus dia lakukan besok.

***

Untunglah hari ini MinAh tidak ada kuliah karena dosennya harus melakukan operasi darurat.

Pagi-pagi sekali MinAh sudah datang ke rumah sakit. Setelah pria itu melakukan visit MinAh dipersilahkan masuk ke ruangannya.

“Annyeong oppa…,” sapa MinAh kemudian membuka jaketnya.

Pria itu menatap MinAh dengan terkejut lalu tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau masukkan ke dalam sana Park MinAh?” dia tidak bisa menghentikan tawanya.

“Oppa tidak perlu tahu, yang penting aku sudah menjadi seperti apa yang oppa harapkan,” ujar MinAh bangga.

“Astaga… Apa kau terlalu polos sampai tidak tahu kalau aku hanya bercanda kemarin? Hahahahahhahaa….,” sekarang pria itu memegangi perutnya yang sakit karena sejak tadi tertawa.

MinAh memicingkan matanya dan menatap pria itu dengan kesal lalu berbalik badan.

Dia mengeluarkan beberapa kaos kaki yang disumpalkan ke dadanya.

“Oppa puas?” diletakkannya semua kaos kaki di meja pria itu lalu menyilangkan kedua tangannya dengan kesal.

“Wow, ternyata bukan double D…,” goda pria itu yang membuat MinAh memanyunkan bibirnya.

Shut up, oppa… Kau sudah membuatku malu selama 2 hari berturut-turut jadi kau harus mentraktirku makan.”

Walaupun kesal tapi MinAh tahu ini adalah kesempatan untuk lebih dekat dengan pria itu.

“Itu namanya mencari-cari kesempatan dalam kesempitan.. Aku tidak mau ah, kita kan bukan teman, untuk apa aku makan dengan orang asing,” tolak pria itu. Suka tidak suka MinAh setuju dengan perkataannya. Mereka memang belum saling mengenal.

“Arra arra… By the way, terima kasih karena kemarin sudah menyelamatkanku dari appa.. Aku pasti dimarahi habis-habisan kalau sampai dia melihatku berpakaian seperti itu,” ucap MinAh sungguh-sungguh.

Pria itu menatap MinAh sampai membuat MinAh salah tingkah.

“Itu adalah ucapan tulus pertama yang keluar dari mulutmu,” katanya.

“Yaaaaa~!!! Kemarin aku juga mengucapkan sesuatu dengan tulus.”

“Yang mana?”

“Kalau aku menyukai oppa..”

Seketika itu juga mereka berdua terdiam.

Tok tok.

“Joesonghamnida dokter Mun, sudah waktunya dokter visit pasien di lantai 3,” seorang suster dengan nametag Hong JungAh masuk sambil membawa medical record beberapa pasien.

“Eoh…,” jawab pria itu pendek lalu bersiap-siap melakukan visit.

Tanpa berpamitan MinAh keluar dari ruangan pria itu.

Baru beberapa langkah keluar MinAh berhenti dan mengumpat, “Aiiisshhh kaos kaki sialan.”

Dengan terpaksa MinAh kembali masuk lalu mengambil kaos kaki yang ada di meja.

Suster Hong yang melihat hal itu hanya bisa menahan tawa.

“Park MinAh, tunggu..,” ujar pria itu sambil berjalan ke arah MinAh.

Kemudian dia membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga MinAh.

MinAh terbelalak lalu bergumam “No way… No way!”

Seperti kemarin, pria itu hanya mengangkat bahunya dengan santai “Terserah..,” kemudian meninggalkan MinAh sendirian.

“Tidak, aku tidak bisa melakukannya,” kata MinAh berulang-ulang pada dirinya sendiri.

-tbc-

Enjoy ^^