​”Aku baru putus.”
“Aku juga.”
“Aku juga.”
Hyejin menatap tidak percaya kepada dua pria di hadapannya yang terlihat tidak ceria namun tidak cukup layak untuk dikatakan bersedih. Berbeda dengan Hyejin yang sudah tiga jam berurai air mata.
“Jinjja?”
Kedua pria itu menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dan membuat Hyejin berubah 180 derajat. Dengan cepat, Hyejin menghapus air matanya dan mengompres mata bengkaknya dengan handuk hangat. Ekspresi sedihnya seketika berubah menjadi sumringah. “Aku tidak akan berpura-pura bersedih untuk kalian. I’m so happy to hear that!”
“Kau bahagia melihat kami single?”
“Aku bahagia tidak single sendirian. Selesai ini, kita minum bersama,” kata Hyejin menunjuk handuk yang masih menempel di atas matanya.
—–
Kedua pria yang memang memiliki hubungan sangat dekat dengan Hyejin itu tidak bisa menolak kalau sudah satu-satunya wanita itu yang mengajak. Terlebih, Hyejin adalah yang paling muda di antara mereka sehingga mudah saja buat wanita itu untuk membujuk.
“Minum sepuasnya. Aku yang traktir,” kata Hyejin sambil mengangkat gelas bir pertamanya dan meneguknya sampai habis.
Kedua pria di hadapan Hyejin saling menatap sebelum meminum bir mereka. “Salah satu di antara kita tidak boleh mabuk. Harus ada yang mengantar Hyejin pulang ke apartemennya,” kata pria yang lebih muda.
Pria yang memiliki bentuk muka hampir sama dengan Hyejin tersenyum tipis. “Tentu saja itu kau. Kau sangat toleran terhadap alkohol. Aku akan minum sampai aku tidak sadarkan diri dan kau akan mengantarkan aku pulang setelah mengantarkan Hyejin.”
“Aku baru putus dengan wanita yang sudah tujuh tahun menjadi pacarku. Kau ingat?” Sambungnya buru-buru sebelum ia mendapat protes. “Enjoy your drink, Kyu!”
Kyuhyun hanya bisa menghela nafas pasrah jika rekan kerjanya yang juga kakak laki-laki dari Hyejin. Dia sudah terbiasa mendapatkan posisi terjepit di antara kakak beradik itu. “Enjoy your drink, Kyu. Lupakan semua,” bisik Kyuhyun kepada dirinya sendiri.
Hyejin telah menghabiskan dua gelas bir dan kini ia sudah mulai dengan gelas ketiganya dengan kondisi setengah sadar. Sedangkan kakaknya sudah menghilang dengan botol sojunya. “Joong Ki…Op…pa eodi…ga?” Tanya Hyejin lambat-lambat karena pengaruh alkohol.
Kyuhyun menunjuk bagian lantai dansa yang dipenuhi orang menari termasuk Joong Ki. “Don’t drink too much. You know your level,” ujarnya kepada Hyejin yang tentu saja tidak menggubrisnya.
“Harusnya aku yang bicara seperti itu kepadamu. Aku dengar kau yang bertugas mengantarkan kami pulang malam ini. Jadi, kau tidak boleh mabuk,” sahut Hyejin yang langsung menghabiskan birnya sekali teguk.
“I won’t. You know me.” Kyuhyun mengangkat gelas birnya yang entah sudah berapa kali isi ulang ke hadapan Hyejin diiringi senyuman sombong yang memang pantas dipamerkannya karena keahliannya bertahan terhadap alkohol tidak tertandingi.
Hyejin sudah mulai terkulai di atas meja. Gelas keempatnya hanya mampu ia habiskan tidak sampai seperempat bagian. Sedangkan Kyuhyun masih kuat memesan botol yang kedelapan untuk dirinya sendiri. “Aku akan mengantarkanmu pulang setelah aku puas minum. Tenang saja, aku akan mengantarkanmu dengan selamat,” kata Kyuhyun tanpa berharap Hyejin akan mendengarnya.
Peringkat kedua yang memiliki ketahanan paling lemah terhadap alkohol adalah Joong Ki sehingga akan mengherankan jika sampai detik ini ia belum mabuk. “Kau tidak meminum soju-mu kan?” Tanya Kyuhyun saat melihat Joong Ki kembali ke meja tanpa ada tanda-tanda mabuk sesikitpun. Ia masih sama segar seperti sebelum meminum setetespun alkohol.
Joong Ki tersenyum sumringah kepada Kyuhyun. “Kau tahu salah satu cara melupakan mantan pacarmu? Selain minum alkohol sebanyak-banyaknya.” Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya dengan malas. “Berkenalan dengan sebanyak-banyaknya wanita. Kajja!”
Joong Ki mengajak Kyuhyun untuk turun ke lantai dansa namun ditolak. “Aku mau di sini saja menghabiskan semua birku. Tampaknya hyung masih punya kesadaran penuh untuk mengantarkan kami pulang. Kami berharap kepadamu,” kata Kyuhyun lalu kembali minum.
“Setelah aku berkenalan dengan 20 wanita minimal.”
“Take your time.”
Secepat kilat, Joong Ki kembali menghilang. Kyuhyun tetap berada di tempat duduknya bersama Hyejin yang sudah tertidur pulas dengan kepala di atas meja. “Posisi tidurmu pasti sangat tidak enak. Lebih baik kita pulang sekarang.”
Meskipun sudah meminum 8 botol bir, Kyuhyun masih punya kesadaran dan kekuatan yang cukup untuk memindahkan Hyejin dari tempat hiburan malam ke apartemen gadis itu. “Sehun-ah…”
Kyuhyun melihat wanita yang baru saja ia letakkan di sofa membuka matanya dan menatap Kyuhyun dengan tatapan sayu yang menyedihkan. “Sehun-ah…”
Kyuhyun tersenyum tipis melihat Hyejin dan mengelus lembut kepala gadis itu. “Sometimes, I wish I were Sehun. You drank too much, so did I,” gumam Kyuhyun dengan volume suara minimal yang hanya dapat didengar dirinya sendiri dan Hyejin.
“Aku pasti sedang bermimpi,” kata Hyejin sambil bangkit dari sofa untuk berpindah ke kamarnya. “Seorang Cho Kyuhyun tidak mungkin menyukaiku.”
“Tidak mungkin,” bisik Hyejin terakhir kali sebelum kantuk benar-benar menguasainya.
—–
Tujuh hari berlalu namun Joong Ki telah menemukan pengganti posisi mantan pacarnya dan ia tidak merasa malu untuk mengenalkannya kepada orang terdekatnya. “Malam ini jam 7 di restoran kita bertiga biasa berkumpul. Aku tunggu,” perintah Joong Ki kepada Hyejin dan Kyuhyun melalui group call tanpa menerima pertanyaan lanjutan dari kedua orang yang ia telepon.
Song Hyejin

Oppa! Kenapa langsung mematikan sambungannya? Aku belum selesai bicara!
Song Hyejin

Ada acara apa malam nanti?
Cho Kyuhyun

Joong Ki hyung mau mengenalkan pacar barunya.
Song Hyejin

Oh. Ok.
Cho Kyuhyun

Aku akan menjemput ke kantormu nanti jam 6.
Song Hyejin

Ok.
Hyejin kembali bekerja untuk membunuh waktu paling tidak sampai jam setengah 6 sore karena ia membutuhkan waktu paling tidak setengah jam untuk berdandan sebelum Kyuhyun datang menjemputnya. Empat setengah jam menuju setengah enam yang terasa sangat lama bagi Hyejin.
“Aku sudah di bawah.”
“Tunggu sebentar. Aku sedang turun ke bawah.”
Tidak sulit bagi Hyejin untuk menemukan mobil Kyuhyun yang sudah ia hafal luar kepala bentuk dan nomornya. “Good evening,” sapa Hyejin dengan ceria dan penuh semangat.
“Good evening,” balas Kyuhyun yang tidak kalah ceria dan sumringah. “Kita berangkat sekarang? Tidak ada yang tertinggal?” Hyejin menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk Kyuhyun menginjak pedal gas mobilnya.
“Kita punya waktu 30 menit kalau tidak macet.”
“Satu jam kalau tidak beruntung. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”
Hyejin memanggil memorinya sejam lalu ketika ia menulis daftar pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Kyuhyun. 35 pertanyaan konyol namun ia sangat ingin mengetahui jawabannya. “Yang pertama…”
“Memangnya kau punya berapa banyak pertanyaan?”
“35 kalau aku tidak tiba-tiba terpikir pertanyaan baru.”
“Okay. Pertanyaan pertama?”
“Pertanyaan pertama, berapa banyak mantan pacarmu?”
“Kau kenal aku hampir separuh umurku dan tidak ada yang tidak aku ceritakan padamu. Kau tahu jawaban dari pertanyaan itu.”
“Jawab saja. Tidak ada protes.”
“8. Kau?”
“Dan pertanyaan balik.”
“Kau curang.”
“Pertanyaan kedua, apa saja yang sudah kau lakukan dengan mantan-mantan pacarmu?”
“Kencan. Makan, nonton, pergi ke taman. Seperti itu.”
“Bukan itu maksudku. Berciuman?”
“Sometimes.”
“Lebih dari itu?”
“Aku tidak punya waktu yang cukup untuk melakukannya. Aku paling lama pacaran lima bulan dan itu tidak cukup untuk melakukan hal yang lebih dari ciuman.”
Hyejin tersenyum. “Pertanyaan ketiga,”
“Pertanyaan kelima, maksudmu? Aku menghitung sudah ada 5 kali tanda tanya.”
Kyuhyun tertawa kecil ketika Hyejin mengerucutkan bibirnya dengan kesal. “Jangan menertawakanku. Pertanyaan ketiga,”
“Kau terlalu banyak pertanyaan membuatku pusing. Aku hanya punya satu pertanyaan yang harus kau jawab. Setelah itu, kau boleh mengajukan lagi pertanyaan kepadaku. 1000 pertanyaan pun akan aku jawab.”
“What question?”
“Apa kau sedang menyukai seseorang saat ini?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Jawab saja. Tidak ada pertanyaan balik.”
“Tidak ada.”
“Enough said. What’s your next question?”
“Eung… Waktu kau bilang, kau ingin menjadi Sehun, apa maksudnya?”
“Don’t you know?”
Hyejin menggelengkan kepalanya.
“Aku akan memberitahukannya setelah acara makan malam bersama Joong Ki hyung dan kekasih barunya.”
—–
Joong Ki terlihat terlalu mesra dengan kekasih barunya sehingga membuat mata Hyejin muak melihatnya. Hyejin tahu wanita ini mungkin salah satu pelarian tapi cara kakaknya memperlakukan kekasihnya sangat norak.
Song Hyejin

Kyu, aku mau pulang. Aku tidak tahan.
Cho Kyuhyun

Hahaha. Setelah aku menghabiskan steak-ku.
Hyejin menunggu Kyuhyun menghabiskan makanannya dengan tidak sabar. Setiap detik yang dilaluinya melihat Kyuhyun mengunyah terasa seperti satu jam. “Kyu, tidak bisakah kau lebih cepat makannya? Aku benar-benar muak,” bisik Hyejin sambil melirik kakaknya yang sedang berciuman dengan kekasih barunya.
Kyuhyun hanya tertawa. “Kami merasakan hal yang sama ketika kau baru pacaran dengan Sehun,” sahut Kyuhyun dengan raut wajah yang tidak terpengaruh dengan kelakuan rekan kerjanya.
Hyejin mengerucutkan bibirnya tanda ia kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Kyuhyun menghabiskan makanannya. Ia tidak akan mau pulang sendirian, naik bus, di malam hari di tengah suhu minus 10 derajat. Tidak.
“Oppa, kami pulang duluan. Aku sakit perut. Sampai jumpa,” kata Hyejin secepat kereta ekspress Seoul-Busan dan langsung menggandeng Kyuhyun untuk segera pergi meskipun Kyuhyun belum menelan makanan yang sedang ia kunyah.
“Aku bahkan belum minum!” Protes Kyuhyun setelah menelan potongan terakhir steak kesukaannya di dalam mobil.
“Kau bisa minum sepuasnya di apartemenku. Sekarang jalan.”
Kyuhyun menginjak pedal gasnya dan terpaksa menahan haus sampai ke apartemen Hyejin yang paling tidak butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana.
“30 menit. Apa kau masih ingin bertanya sesuatu kepadaku?” Tanya Kyuhyun.
Hyejin menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya tampak sangat kesal. “Bagaimana bisa mereka berciuman lebih dari lima kali hanya dalam waktu sejam?! Cih!” Omel Hyejin mengingat kelakuan kakaknya di restoran tadi.
Kyuhyun hanya tertawa. “Let them go. As long as they’re happy.” Namun Hyejin tetap saja kesal. Ia tidak suka melihat kenorakan kakaknya itu.
“20 minutes. No questions?”
“No.”
“Tidak ingin tahu kenapa aku ingin seperti Sehun?”
Hyejin tiba-tiba teringat apa yang lebih penting dari seorang Song Joong Ki dan kekasih barunya. “Kenapa kau ingin seperti Sehun?” Tanya Hyejin sambil menganggukkan kepalanya.
“In a very simple way, I like you.”
“Kau…menyukaiku? Sejak kapan?”
Waktu serasa berhenti sesaat untuk Hyejin. Rasa penasarannya selama seminggu ini terjawab sudah. Meskipun jawaban Kyuhyun selalu berada di peringkat pertama dalam kemungkinan yang Hyejin susun tapi Hyejin berusaha untuk mengeliminasinya sebelum ia senyum-senyum sendiri memikirkannya.
“I don’t know. Three or four years ago. Saat aku melihatmu di bandara menjemput aku dan Joong Ki hyung yang baru pulang dari Kanada. Kau terlihat sangat cantik waktu itu. Kau tidak berhenti bicara menceritakan apa yang kau lakukan selama tiga minggu tidak ada kami. Aku bahkan masih ingat apa yang kau lakukan selama tiga minggu tidak ada kami.”
“Apa?”
“Sleep. Work. Eat. Go home. Sleep,” kata Kyuhyun sambil tertawa. “Dan mengeluh tentang pekerjaanmu.”
Hyejin tertawa takjub Kyuhyun masih mengingat hal itu. “Kenapa kau diam saja? Maksudku, kau tidak pernah menunjukkan kau menyukaiku.”
“I always do, baby. Tapi kau saja yang mungkin terlalu bodoh sampai tidak menyadarinya.”
“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya saja? Is it so easy, isn’t it?”
“Oh, itu hal yang paling susah kau tahu. Terlebih setiap kita bertemu yang kau ceritakan adalah pria yang sedang kau sukai atau pacarmu yang entah apa yang dilakukannya sampai kau tidak bosan-bosannya membahasnya selama dua jam penuh. Itu menyakitkan, you know.”
“Sorry.”
Hyejin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun yang sedang menyetir dengan santai. Tidak ada rasa canggung yang muncul di antara mereka setelah pernyataan Kyuhyun yang mampu membuat jantung Hyejin berdegup kencang. “Kau…benar-benar menyukaiku?”
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Waeyo?”
“Aku butuh bukti.”
“Bukti apa? A kiss? Ciuman tidak bisa menjadi bukti keseriusan seorang pria, sayang. Coba pikirkan hal lain.”
Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”
Kyuhyun menepikan mobilnya ke bahu jalan dan menoleh kepada Hyejin setelah mobilnya benar-benar berhenti. “Aku akan bicara dengan Joong Ki hyung besok pagi tentang hal ini. Malamnya, setelah kau pulang kerja, kita akan sama-sama ke rumah orang tuamu. I will get their permission to date their beautiful daughter.”
Hyejin terpaku di tempatnya, berpikir betapa bodohnya ia tidak menyadari ada pria yang mencintainya dalam jarak yang sangat dekat. Untuk beberapa menit, Hyejin berusaha keras untuk menyembunyikan ketegangan dalam dirinya. Ia kaget namun terlalu bahagia untuk berpikir dua kali. She should in love with her bestfriend.
“Kyu…”
“Eoh?”
“Can you kiss me once? To prove this is real?”
Kyuhyun tersenyum. Dengan perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejin. Jantung Hyejin berdegup semakin kencang saat ia bisa merasakan nafas Kyuhyun berhembus ke wajahnya. Dengan hidungnya, Hyejin bisa merasakan wangi wine yang tadi diminum Kyuhyun. Hyejin bersiap namun ciuman itu tidak datang juga.
“It’s real,” ucap Kyuhyun setelah mencium kening Hyejin.
Hyejin tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya dan Kyuhyun bisa melihatnya dalam satu kilatan mata. “Your lips after I have license from your parents. Be patient.”
“Kau seharusnya meyakinkan aku dulu sebelum meyakinkan orang tuaku. Apa gunanya kau meyakinkan orang tua kalau anaknya tidak mau? Kau mau pacaran denganku atau orang tuaku sih?”
Kyuhyun hanya tertawa kecil mendengar omelan Hyejin. “Sekali lagi aku menawarkan diri, semua terserah padamu mau menerimaku atau tidak.”
“Jam 6 sore besok. Jemput aku sebelum ke rumah appa.”
Kkeut!