“Aku tidak menyangka kau akan menyusulku kesini,” Jihyo memandang ketus kearah kekasihnya yang sedang tersenyum penuh kemenangan.

“Aku mau tau yang mana namanya Park Bogum,” Woobin melipat kedua tangannya di dada, “Hingga kau sampai bawakan truk makanan ke lokasi syutingnya.”

“Cari saja di internet, gampang kan?”

“Ih,” Woobin mencubit lengan Jihyo. “Itu retoris, pertanyaan retoris!” Woobin melirik beberapa kru yang datang untuk berterima kasih ke Jihyo karena sudah membawakan makanan. “Kau tidak pernah seperti ini saat aku syuting.”

“Syuting dramamu kan saat Super Girls tur ke Asia Tenggara,” Jihyo memelototi Woobin. “Jadi kau cemburu karena aku mengunjungi Bogum dengan membawakan truk makanan untuknya?”

“Aku? Cemburu?” Woobin tertawa sarkas. “Mana mungkin aku cemburu dengannya.”

“Baguslah. Lagipula tidak lucu kalau kau cemburu dengan anak kecil.”

“Anak kecil? Kau bilang namja berumur 23 tahun dengan tinggi 182 cm itu anak kecil?”

“Dan kau bilang kau tidak tau Bogum tapi kau tau tingginya berapa?”

“Ada di internet!” wajah Woobin merah padam begitu melihat Jihyo menatapnya dengan curiga.

“Noona!”

Jihyo melihat dari kejauhan Bogum berlari ke arahnya, dia masih memakai jubah pangeran mahkotanya.

Namun Bogum memperlambat larinya begitu melihat Woobin duduk di sebelah Jihyo. Bogum memilih untuk berjalan biasa, dan tersenyum ketika melihat keduanya.

“Annyeonghaseyo, Kim Woobin-ssi,” ucap Bogum.

“Ah, annyeonghaseyo, Park Bogum-ssi,” Woobin memperhatikan Bogum dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Kau tidak menyapaku?” Jihyo menekuk wajahnya berpura-pura kesal.

“Annyeong, Jihyo noona,” Bogum memasang ekspresi kekanakan sambil menunjuk kearah truk makanan. “Gomawo, noona!”

“Ne, dongsaeng,” Jihyo mencubit hidung Bogum. “Sini duduk, ada yang ingin aku bicarakan.” Jihyo menggeser kursi ke sampingnya, namun Bogum menarik kursi lain dan memilih duduk di sebelah Woobin.

“Kenapa kau duduk disana?”

“Gwenchana, noona,” Bogum melirik Woobin yang sejak tadi memandangnya dengan intens karena menempel dengan Jihyo.

“Ya! Kim Woobin! Jangan buat Bogum tidak nyaman!” Jihyo menendang kaki Woobin dan mendorong kursinya menjauh. “Park Bogum, duduk disampingku, sekarang!”

Bogum mau tak mau berpindah ke samping Jihyo, meskipun ia berusaha tak terlalu menempel dengan noonanya.

“Kenapa kau seperti ini sih?” Woobin mendengus kesal melihat tingkah Jihyo.

“Kau yang kenapa seperti itu! Kau tau tidak kalau tingkahmu itu konyol! Kau masa cemburu dengan Bogum sih?”

“Aku? Hah? Cemburu?” Woobin tertawa. “Hanya dalam pikiranmu saja!”

“Yasudah kalau begitu.”

“Yasudah.”

“Ya! Kau menyebalkan!” Jihyo memukul lengan Woobin.

“Kau yang menyebalkan!” gantian Woobin memukul lengan Jihyo.

“Kau berani memukulku, hah?” Jihyo memukul lengan Woobin bertubi-tubi.

“Noona,” Bogum menyela pertengkaran sepasang kekasih itu. “Tadi di telepon, kau bilang tadi ada yang ingin dibicarakan denganku.”

“Ah, iya. Aku sampai lupa karena namja cemburuan ini,” Jihyo memalingkan wajahnya dari Woobin. “Dongsaengku paling tampan. Noona kesayanganmu ini boleh tidak minta tolong?”

Bogum mengangguk cepat. Apapun yang diminta Jihyo, sebisa mungkin akan dia lakukan.

“Hehe, kalau begitu. Besok main ke dorm Super Girls, ya? Hyejin noona, MinAh noona, dan Hyunah noona-mu katanya kangen.”

“Shiro!” teriak Bogum dan Woobin bersamaan.

“Ya! Kau mau menyerahkan nyawa anak kecil ini kepada tiga yeoja Super Girls yang haus dengan darah namja itu? Tidak akan aku biarkan!” Woobin mendelik kesal ke arah Jihyo

“Kau kira onniedeulku itu vampire apa! Dan sekarang kau bilang Bogum anak kecil? Tadi saja kau tidak setuju kalau aku menganggap Bogum anak kecil!”

“Dongsaeng, jangan turuti permintaan Jihyo jika kau masih mau hidup!” seru Woobin tak menghiraukan Jihyo.

“Ne, hyung,” suara Bogum terdengar panik, dia mengangguk dengan cepat.

“Dongsaeng? Hyung? Sejak kapan kalian jadi akrab begini!” Jihyo hampir saja berteriak kalau tidak sadar mereka bertiga ada di ruang publik.

“Noona, aku takut,” ujar Bogum jujur. “Waktu itu saat di restoran pipiku dicubit terus oleh MinAh noona. Aku hampir mau muntah karena HyunAh noona menyuruhku menghabiskan semua makanan bahkan aku sampai dipaksa disuapinya. Hyejin noona terus membombardirku tentang berbagai pertanyaan yang bahkan aku sudah tidak ingat saking banyaknya.”

“Tuh kan, lihat apa yang diperbuat ketiga yeoja itu kepada anak sepolos dia!” Woobin menarik kursinya ke depan Jihyo dan Bogum. “Dongsaeng, hyung ada dipihakmu.”

“Mianhaee, my baby. Tapi kalau permintaan ketiganya tidak dituruti nanti noona-mu ini yang kena omelan,” Jihyo memasang tampang memelas. “Sekali ini saja ya, Bogummie? Setelah ini noona janji tidak akan memaksamu ketemu dengan Super Girls lagi, oke?”

Bogum tak tega membayangkan Jihyo diamuk oleh ketiga member tertua, namun dia masih trauma juga bertemu dengan Super Girls setelah dirinya diajak untuk makan di restoran setelah berkunjung ke tempat syuting Joongki beberapa bulan lalu.

“Sekali ini saja ya, noona?” Bogum memaksakan senyumnya.

“Yes! Gomawo, my baby!” Jihyo mau memeluk Bogum namun sudah ditarik oleh Woobin.

“Park Bogum, kau sudah tidak waras, hah?”

“Kalau hyung bersedia, aku mau ditemani hyung ke dorm Super Girls,” Bogum menyengir penuh harap.

“Shiro!”

“Ya! Temani dia. Lagipula kau kan sedang tidak ada kerjaan saat ini!” Jihyo memukul kepala Woobin. “Jongsuk oppa juga akan datang.”

“Lee Jongsuk? Choi Jihyo, kau mau membuat sahabatku itu trauma apa?” Woobin segera mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi Jongsuk.

“Noona,” ucap Jongsuk ketika melihat Woobin bangkit dari duduk dan berjalan menjauh dari Jihyo dan Bogum untuk menelpon.

“Ne?”

“Aku harus kembali syuting lagi.”

“Arra. Syuting yang benar ya, putra mahkota,” Jihyo menepuk pundak Bogum. “Oiya, aku hampir lupa. Ini multivitamin titipanmu. Dimakan yang rutin. Aku tidak mau melihatmu sakit.”

“Siap laksanakan, noona. Gomawo!” Bogum mencubit gemas pipi Jihyo. “Oiya noona, sebelum aku pergi,” Bogum melihat Woobin masih menelpon. “Aku mau dipeluk, boleh?”

“Hahaha, dasar bocah. Sini!” Jihyo memeluk Bogum dan mengelus punggungnya.

“Ya! Ya! Ya! Park Bogum aku melihat apa yang kau lakukan! Itu yeojachinguku, tau! Choi Jihyo lepaskan!” teriak Woobin.