​The greatest blessings in my life are seorang suami yang sangat mencintaiku dan keluarganya yang menganggapku seperti anak bungsu yang telah lama hilang. I will not trade blessing number two with anything in this world. Why? Karena kalau kau sudah mendapatkan hati keluarga suamimu, everything is gonna be okay when you have a fight with your husband. Keluarga suamimu pasti akan membelamu mati-matian dan kau bisa tertawa puas ketika suamimu yang akan datang meminta maaf lebih dulu. Tidak percaya?
Hyejin menatap layar ponselnya dengan penuh kekesalan karena sudah lebih dari 12 jam Kyuhyun belum menghubunginya. Pesan singkat yang dikirimkan Hyejin setiap satu jam sekali juga belum ada yang dibalas. “Aaaaarghhh! Kyuhyun menyebalkan! Awas kalau kau telpon nanti. Aku tidak akan mengangkatnya!” Teriak Hyejin sambil melempar ponselnya ke sofa di seberangnya.
Dengan kaki menghentak keras, sebagai pelampiasan kekesalannya, Hyejin berpindah ke kamar. Namun belum ada satu menit ia berada di dalam kamar, ponsel yang tadi ia lempar berdering nyaring. Dengan sigap, Hyejin melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju sofa yang menyelamatkan ponsel Hyejin dari kehancuran. Tangan panjang Hyejin berhasil meraih benda yang tidak bisa dibilang mungil untuk ukuran ponsel itu ketika deringnya semakin nyaring.
“Ahra eonni!” Seru Hyejin ceria namun tidak berhasil menutupi kekecewaannya.
Aku bohong kalau tidak akan mengangkat telepon dari Kyuhyun. Aku bahkan sangat menantikannya dan aku merasa kecewa karena bukan Kyuhyun yang meneleponku.
Ahra tertawa terbahak dari tempat yang tidak bisa dilihat Hyejin. “Kenapa eonni tertawa?” Tanya Hyejin.
“Kyuhyun belum juga meneleponmu dan kau menantikannya setengah mati. Ya kan?”
“Iya,” jawab Hyejin dengan lesu.
“Tidak usah ditunggu. Abaikan saja dia. Lebih baik kita bersenang-senang. Apa kau sedang sibuk, Hyejin-ah?”
“Ani. Aku seratus ribu persen pengangguran dan bosan. Apa eonni punya ide untuk membunuh waktu sampai bulan depan? Aku tidak punya jadwal apapun sampai satu bulan ke depan dan Kyuhyun punya jadwal padat merayap yang pasti berakibat fatal pada kesendirianku.”
Lagi, Ahra tertawa terbahak-bahak. “Aku punya jadwal untukmu yang tidak kalah padatnya dengan jadwal Kyuhyun. Kau bisa membantu aku mengurus kafe, hotel dan bisnis online-ku. Setuju?”
“Setuju. Kapan akan kita mulai, eonni?”
“Besok. Sekarang kau siap-siap. Kita akan makan malam bersama. Kau, aku, eomma dan haelmoni. Women’s night. Kau jemput kami di rumah ya, Hyejin-ah. Aku sedang tidak bisa menyetir. Kau tahu kan?”
“Iya, aku tahu. Aku akan melakukan apapun demi calon keponakanku. Tunggu aku ya. Sejam lagi aku sampai. Paling lambat satu setengah jam.”
“See you, anak bungsu. Oh ya, dresscode kita kemeja putih dan celana jins biru. Yang terang ya jangan yang gelap.”
“Ne, eonni cantik. Sampai jumpa!”
Hyejin segera bersiap dan karena Hyejin bukanlah tipe wanita yang suka berdandan, dua puluh menit adalah waktu yang sangat cukup untuk dia mandi sampai benar-benar siap berangkat. Tas putih kecilnya berisi dompet dan ponsel, tidak lupa Hyejin bawa.
“Eonni… Aku sudah dekat. Siap-siap ya.”
“Kau masuk saja dulu ya. Appa, haraboji dan suamiku memaksa untuk ikut. Bagaimana?”
“It’s okay tapi satu mobil pasti tidak akan cukup.”
“Masalahnya mobilku rusak. Begini saja, para tetua naik mobilmu. Biar suamiku yang menyetir. Aku, kau dan eomma naik taksi.”
“Okay.”
Hyejin sampai dengan selamat di rumah mertuanya dan ia melihat tiga generasi sedang berkumpul. “Aku dataaang!!” Seru Hyejin dengan ceria sambil menyapa keluarga suaminya satu per satu dengan ramah.
“Hyejin-ah!!” Seru haraboji tidak kalah ceria. Ia bahkan dengan semangat bangkit dari tempat duduknya untuk memeluk Hyejin.
“Apa Kyuhyun sudah memberi kabar kepadamu?” Tanya eomma Kyuhyun ketika Hyejin datang memeluknya dan Hyejin hanya menggelengkan kepalanya. “Aku mulai khawatir,” lanjut eomma Kyuhyun dengan nada cemas yang membuat Hyejin yang tadi tidak berpikiran apa-apa jadi berpikiran macam-macam tentang Kyuhyun.
“Kita tunggu saja sampai besok, eommoni. Mungkin Kyuhyun sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya,” kata Hyejin yang akan berbanding terbalik jika ia bicara dengan Ahra. Hyejin pasti akan mengeluh, bertanya kemana Kyuhyun paling tidak sepuluh kali sambil menatap layar ponselnya atau mencurigai apapun yang dilakukan Kyuhyun sampai tidak bisa menghubunginya.
Hyejin menatap tiga pasang suami istri di hadapannya dengan wajah cemberut dibuat-buat. “Jadi hanya aku yang akan sendirian? Kalian semua curang. Awas nanti kalau aku ketemu Kyuhyun, aku pasti akan menghabisinya,” ujar Hyejin kemudian tertawa. “Kita berangkat sekarang?”
“Iya, sekarang saja. Aku sudah lapar,” jawab haelmoni dengan suaranya yang terdengar ringkih.
“Aku akan memanggil taksi,” sahut Ahra.
“Mana kunci mobilmu, Hyejin-ah?” Tanya suami Ahra kepada Hyejin.
“Aku mau ke kamar mandi dulu sebelum taksinya datang. Aku ikut naik taksi bersama kalian. Biar eomma yang naik mobil,” kata appa Kyuhyun lalu menghilang ke dalam kamar mandi.
Mobil Hyejin pergi lebih dulu dengan isi suami Ahra, eomma dan haraboji serta haelmoni. Hyejin, Ahra dan appa menyusul dengan taksi tidak lama kemudian.
Beruntung Ahra sudah memesan tempat di restoran ini seminggu sebelumnya karena kalau tidak pasti tidak akan kebagian. Restoran ini cukup terkenal sehingga untuk dapat makan di tempat ini butuh pemesanan maksimal seminggu sebelum datang. Pelayan yang ramah langsung mengantarkan keluarga Cho ke sebuah ruangan khusus yang tidak kosong.
“Kejutan!” Seru Kyuhyun yang entah sejak kapan berada di dalam ruangan itu.
Eomma Kyuhyun langsung memeluk anaknya dengan erat dan penuh kelegaan. “Eomma pikir ada apa-apa denganmu, nak,” ujarnya lalu mencium kedua pipi Kyuhyun dengan penuh kasih sayang.
Kyuhyun lalu berganti memeluk haelmoni dan Ahra baru kemudian Hyejin. “Melihat pesan singkat yang kau kirimkan setiap jam, aku berasumsi kau pasti sangat merindukan aku jadi aku yakin seharusnya paling tidak balas memelukku,” kata Kyuhyun dari atas bahu Hyejin yang tidak bereaksi sedikit pun.
“Tidak mau,” kata Hyejin datar lalu melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. Ahra yang berada tidak jauh dari keduanya hanya tertawa geli.
“Kalian tidak pernah berubah. Selalu miskomunikasi,” komentar Ahra melihat adik dan iparnya yang mulai menegang.
Hyejin hanya tersenyum datar. “Dan selalu dia yang memulai duluan,” kata Hyejin kemudian meninggalkan Ahra dan Kyuhyun.
“Sudah kubilang, istrimu tidak cocok dengan yang namanya kejutan,” kata Ahra kepada Kyuhyun yang hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
“Ahra eonni tahu dia akan datang?” Tanya Hyejin yang hanya membalikkan tubuhnya menghadap Ahra dan Kyuhyun.
“Dia mengancamku untuk tidak memberitahumu. Maafkan aku, Hyejin-ah,” kata Ahra merasa bersalah karena menyembunyikan kehadiran Kyuhyun dari adik iparnya yang sudah nyaris gila menunggu kabar dari Kyuhyun.
“Aku hanya ingin membuat kejutan,” bela Kyuhyun atas dirinya sendiri.
“Aku maafkan Hyejin eonni tapi tidak dengan dirimu, Kyu,” kata Hyejin lalu mengambil tempat duduk.
Kyuhyun menyusul mengambil tempat duduk di sebelah Hyejin yang sama sekali tidak memedulikan Kyuhyun meskipun pria itu sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Hyejin. “Maafkan aku. Okay?” Pinta Kyuhyun namun diabaikan oleh Hyejin.
“Haelmoni dan haraboji mau makan apa?” Tanya Hyejin kepada pasangan tertua yang kebetulan duduk di sebelahnya juga.
“Aku sudah pesan makanan tadi sebelum kalian datang, termasuk untuk haelmoni dan haraboji,” sahut Kyuhyun disusul senyuman paling manis yang bisa ia buat di wajahnya namun mendatangkan wajah penuh kecaman dari Hyejin.

Hyejin meletakkan buku menu di atas meja makan dan mendengarkan orang di sekelilingnya berbicara. Sebagian besar topik pembicaraan adalah si manusia super sibuk Cho Kyuhyun. “Apa jadwalmu selanjutnya, Kyuhyun-ah? Kau sudah mulai kembali bekerja kan?” Tanya saudara ipar Kyuhyun yang adalah suami Ahra.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan senang. “Akhirnya setelah tiga minggu yang menyiksa dan membosankan,” kata Kyuhyun sambil tertawa, tidak sadar seseorang di sebelahnya sudah memasang tampang kesal dua kali lipat lebih buruk dari sebelumnya.
Selama tiga minggu istirahatnya, yang dilakukannya adalah mengikutiku kemana saja aku pergi, tidak jarang memaksa, dan sekarang ia bilang itu adalah hal yang menyiksa dan membosankan. Andai aku bisa menjambak rambutmu sekarang, Cho Kyuhyun!
“You just made a mistake,” kata Ahra kepada Kyuhyun sambil melirik Hyejin.
“I mean, three weeks without singing. It’s really sucks. Tidak ada hubungannya sama sekali denganmu, Hye. Really!” Kyuhyun berusaha meralat ucapannya namun Hyejin tidak memedulikannya. Ia belum menoleh sedikit pun kepada Kyuhyun meskipun kini tangan Kyuhyun sudah bertengger di bahu Hyejin.
“Hyejin-ah, kata Ahra mulai besok kau akan membantu di kafe dan hotel. Kau serius?” Tanya eomma Kyuhyun sambil menunggu makanan yang dipesan Kyuhyun datang.
“Aku serius, eommoni. Aku full pengangguran sampai bulan depan. Aku pasti akan membantu. Kalau boleh, aku akan menginap di rumah emmoni,” jawab Hyejin diiringi senyuman manis yang selalu berhasil mencuri hati mertuanya.
Hal ini mendatangkan reaksi dari Kyuhyun. “Kau tidak ada jadwal sampai satu bulan? Kau tidak mengatakannya padaku,” tanya Kyuhyun.
“Mungkin aku terlupa. Tapi biasanya kau kan mengecek jadwalku ke manajemen. Bukankah kau lebih tahu jadwalku daripada aku?” Ujar Hyejin dengan santai namun nadanya terdengar sangat menusuk.
“Aku agak sibuk beberapa hari ini mempersiapkan pekerjaanku jadi aku tidak sempat mengecek jadwalmu.”
“Ada bagusnya kau tidak tahu. Aku jadi punya kegiatan tanpa melibatkan dirimu. Sebulan tanpa diriku pasti tidak akan membosankan dan menyiksa. Seperti yang kau bilang tadi.”
“Yaa Song Hyejin! Ayolah… Jangan bertingkah seperti anak kecil. Aku minta maaf, okay?”
Hyejin hanya tersenyum singkat kepada orang-orang di sekitarnya kecuali Kyuhyun. “Aku mau ke kamar mandi dulu ya. Permisi,” pamit Hyejin dan enam pasang mata langsung menghakimi Kyuhyun.
“Kau harus segera minta maaf.”
“Aku sudah minta maaf,” protes Kyuhyun kepada kakak perempuannya.
“Sesibuk apapun kau, harusnya tidak mengabaikan Hyejin. Apalagi sampai setengah hari lebih.”
“Dan ucapanmu tadi membuatnya semakin fatal.”
“Susul Hyejin sana. Cepat!”
“Baiklah. Baiklah.” Kyuhyun pun menuruti perkataan kakeknya untuk menyusul Hyejin. Tidak ada gunanya juga membantah karena enam orang siap menjadi musuhnya kalau ia tidak segera meminta maaf pada Hyejin.
Kyuhyun berdiri di depan pintu toilet, menunggu Hyejin keluar. “Hyejin-ah,” panggil Kyuhyun saat istrinya keluar dari kamar mandi.
“Sedang apa kau di sini?” Tanya Hyejin dingin dan berlalu begitu saja melewati Kyuhyun.
Kyuhyun melangkah menyusul Hyejin. “Aku minta maaf. Apapun yang aku lakukan yang menyakitimu, aku minta maaf. Sungguh. Aku mohon, maafkan aku, Hye.”
“Buat apa kau minta maaf kalau kau tidak tahu apa salahmu?”
“Aku tahu salahku. Aku minta maaf karena tidak menghubungimu tapi aku punya alasan. Aku hanya mau memberikan kejutan untukmu.”
“Aku tidak suka kejutan.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa masih kau lakukan?”
“Maafkan aku.”
Hyejin berjalan lebih dulu di depan Kyuhyun. “Kesalahanmu yang kedua?”
“Maafkan aku karena mengatakan tiga minggu terakhirku ini sangat menyiksa dan membosankan tapi itu sungguh bukan karena kau. Kau adalah hal paling menyenangkan selama tiga minggu istirahatku.”
“Kenapa aku harus memaafkanmu?”
“Hyejin-ah… Sayangku… We’ve been known each other for almost ten years, 8 years together. Of course you should forgive me. What will you do then?”
“But please stop making surprises. I hate them.”
“I can’t promise you that.”
Hyejin tak menjawab. Ia berjalan di depan Kyuhyun dengan senyum yang ia sembunyikan dengan rapi di balik bibirnya yang terkulum.
Hyejin masuk ke dalam ruang khusus tempat keluarganya berada disusul oleh Kyuhyun. “Aku sudah meminta maaf. Jangan memandangku seperti itu,” protes Kyuhyun dengan kesal kepada enam pasang mata yang menatapnya curiga.
“Kyuhyun sudah benar-benar minta maaf, sayang? Apa yang dikatakannya?” Tanya eomma dengan tatapan khawatir pada Hyejin.
“Not in sweetest way but he did apologize to me. I forgive him,” jawab Hyejin sambil menyisir rambuf Kyuhyun dengan jari-jari tangannya.
“See? Dia memaafkanku,” pamer Kyuhyun kepada keluarganya dengan gaya paling menyebalkan tingkat dewa. “Boleh aku menciumnya?”
“Andweee! Tidak! Aku sudah muak melihatnya!” Protes Ahra disusul tawa renyah dari para tetua.
“Tapi kita belum membahas jadwalmu selama sebulan ke depan, Sayang,” kata Kyuhyun. “Kau bisa menemani aku.”
Hyejin menatap Kyuhyun dengan raut wajah penuh penyesalan walau sesungguhnya tidak sepenuh itu ia menyesal karena tidak mengisi waktu kosongnya bersama Kyuhyun. “No. no. Aku akan membantu eomma dan eonni mengurus bisnis. Aku tidak mau mengikuti kau selama sebulan. Aku pasti tidak akan tahan, Kyu. Tidak. Terima kasih.”
Ahra dan eomma serempak tersenyum merekah. “Sudah aku bilang, Hyejin seharusnya lahir di keluarga kita,” kata Ahra disusul protes Kyuhyun, “Yaa! Lalu aku kalian anggap apa?”
“Suatu saat mungkin ada sepasang suami istri yang mau mengakui dirimu sebagai anak?” Goda eommanya yang membuat Kyuhyun merajuk.
“Kalian seharusnya berterima kasih padaku karena telah menemukan anggota keluarga kalian yang hilang.”
“Terima kasih banyak,” ucap Hyejin sambil tertawa diikuti anggota keluarga lainnya kecuali Kyuhyun yang mengerucutkan bibirnya.
“Awas kau! Aku akan minta bayaran atas jasaku,” ancam Kyuhyun dengan berbisik namun  Hyejin hanya tertawa.
Sekarang, kau percaya padaku?