Haiiiii….
Apa kabar semua? Lama tidak berjumpa ya…
Author ada FF baru niiiih. Semoga pada suka yaaa…
Hihihihihi.

Enjoy :*

*****

Annyeong!!!😀
Perkenalkan namaku Shim Johee. Umurku 24 tahun. Aku seorang gadis yang menurut bos-ku sangat menarik dan dapat diandalkan. Waktu bos-ku memujiku seperti itu, aku seperti sedang melayang ke udara tapi lama-lama aku tahu bos-ku hanya ingin menyenangkan hatiku. Sial.

Aku seorang sekretaris sekaligus asisten untuk General Manager perusahaan tempatku bekerja. General Manager-ku alias bos-ku adalah seorang pria yang jenius, tampan, kaya raya, baik hati tapi sayang sangat dingin. Hampir seluruh wanita di kantor ini tertarik padanya dan berusaha mendapatkan perhatiannya, begitu juga dengan wanita-wanita dari perusahaan sebelah. Semua jurus sudah mereka lakukan tapi tak ada satu pun yang berhasil menaklukkan bos-ku. Aku begitu penasaran sampai suatu saat aku menemukan jawaban kenapa bos-ku begitu sulit ditaklukkan.

Setelah hampir 6 bulan menjadi sekretaris bos-ku, aku bertemu dengan dengan seorang wanita. Wanita ini bisa dikategorikan cantik tapi bukan yang tercantik. Ia datang ke ruangan bos-ku dengan tergesa-gesa dan meminta bertemu dengan bos-ku. Aku tentu melarangnya karena bos-ku berpesan ia sedang ingin konsentrasi dengan pekerjaannya sehingga tidak mau diganggu oleh siapapun. Wanita ini melawan, ia menerobos masuk melewati aku dan satu security yang sudah mati-matian menahannya agar tidak masuk. Wanita ini cukup kuat sehingga bisa melepaskan diri dari kami berdua.

Wanita itu masuk dan aku buru-buru meminta maaf kepada bos-ku karena aku tidak berhasil melarang wanita ini masuk. Seperti biasa, bos-ku hanya melemparkan tatapan dingin dan menyuruhku kembali bekerja. Aku menuruti perintahnya. Aku keluar dari ruangannya dengan jantung deg-degan. Aku takut setelah wanita itu pergi, ia akan memarahiku.

Aku menunggu dengan cemas. Wanita itu tidak kunjung keluar. Semakin lama wanita itu berada di dalam, jantungku semakin tenang. Aku berharap wanita itu tidak akan pernah pergi. Harapanku terkabul. Aku tidak melihat wanita itu pergi dari ruangan bos-ku karena bos-ku keluar lebih dulu dan langsung mengajakku rapat.

Aku yang begitu ketakutan segera menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan oleh bos-ku. Dia memperhatikanku dengan santai. Dia bahkan seperti tidak peduli kalau aku memakan waktu lebih lama untuk mengumpulkan semua berkas. “Jwisonghamnida,” ucapku setelah 5 menit aku masih mengcopy bahan rapat dari komputer ke flashdisk-ku.

“Buat apa?” Tanyanya.

“Menyiapkan bahan rapat yang terlalu lama,” jawabku. Aku kemudian teringat kepada wanita yang masih berada di dalam ruangan bos-ku. “Dan wanita di dalam. Maaf aku tidak berhasil mencegahnya masuk.”

Bos-ku tersenyum. Tersenyum!!! Untuk pertama kalinya sejak menjadi sekretarisnya, aku tidak pernah melihatnya tersenyum tulus seperti itu. Aku biasa melihat senyum palsunya yang biasa ia berikan untuk meluluhkan klien. “Gwencana,” jawabnya.

Mwo?? Dia tidak marah?! Aku pasti sedang berada di dimensi lain. Bos-ku tidak marah padahal aku sudah melakukan dua kesalahan hanya dalam jangka waktu 30 menit. Dia pasti bercanda. “Gwencana? Jinjja?” Tanyaku saking tidak percayanya dengan pendengaranku. Aku berusaha meyakinkan diri dengan bertanya langsung padanya. Aku pasti sudah gila.

“Gwencana,” katanya sekali lagi dan aku sukses melongo dibuatnya. Dia benar-benar tidak marah.

Okay, bos-ku ini memang tidak akan memaki kalau sedang marah. Biasanya ia hanya akan diam, menatap dengan tajam sehingga membuatmu merasa lompat dari atap sepertinya lebih baik daripada melihat tatapan matanya. Kali ini, dia hanya berdiri menungguku sambil memainkan gadget canggih yang aku ketahui sebagai konsol game, salah satu benda favoritnya.

—–

Aku kenal bos-ku adalah seorang pekerja keras yang tidak kenal pernah kenal lelah untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi tujuannya. Namun yang namanya manusia pasti punya keterbatasan. Setelah 3,5 hari non-stop berkelana ke berbagai negara, bos-ku akhirnya jatuh juga. Ia demam tinggi dan meminta izin untuk pulang begitu pesawat kami mendarat.

Aku begitu mencemaskan bos-ku. Aku mencemaskan kondisinya tapi aku lebih mencemaskan pekerjaan yang akan terbengkalai kalau ia tidak masuk. Aku mencoba menahan diri untuk tidak mengganggu bos-ku tapi telepon yang terus berdering meminta dokumen padahal belum ditandatangan oleh bos-ku. Hal ini membuatku terpaksa menganggunya.

Selamat pagi, sajangnim. Maaf mengganggu. Aku tahu sajangnim sedang sakit tapi ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani. Direksi sudah bolak-balik memintanya.

Aku sungguh-sungguh merasa menyesal begitu melihat layar handphone-ku yang menunjukkan laporan bahwa pesanku telah sampai dan dibaca oleh bos-ku. Tidak lama kemudian, aku mendapat balasan.

Bawa dokumennya ke apartemenku. Suruh supir untuk mengantarmu.

Aku segera mengumpulkan dokumen-dokumen yang harus ditandatangani oleh bos-ku. Setelah itu, aku memanggil supir untuk mengantarkanku ke apartemen bos-ku. Ini pertama kalinya aku datang ke apartemen laki-laki yang paling dipuja oleh seluruh wanita di kantorku dan aku merasa sangat excited. Tampaknya aku kehilangan fokusku.

Aku mengikuti supir bos-ku karena ia yang tahu dimana letak kamar apartemen bos-ku. Kami masuk ke dalam lift dan keluar lagi setelah pintunya membuka di lantai 3. Hanya ada satu pintu di lantai 3 ini dan aku yakin itu apartemen bos-ku. Pak supir memencet bel di depan pintu apartemen itu, membuatku mengernyitkan dahi. Berdasarkan cerita yang aku dengar, bos-ku hidup seorang diri. Bagaimana bisa seorang yang sedang sakit harus membukakan pintu?

Aku menanyakannya dan si supir hanya tersenyum sambil memencet bel untuk kedua kalinya. Pintu itu akhirnya terbuka dan aku melihat wanita yang beberapa hari lalu menerobos masuk ke dalam ruangan bos-ku. “Han ahjussi,” sapa wanita itu dengan ramah kepada supir bos-ku.

“Hai nona,” balas supir bos-ku dengan ramah. Aku merasakan kedekatan antara mereka. Tampaknya mereka sudah saling mengenal, cukup lama.

Wanita itu lalu memandangku. Sambil tersenyum ia menyapaku, “Hai. Nuguseyo?”

Sepertinya ia melupakan wajahku. Aku membungkukkan tubuh lalu mengenalkan diri, “Shim Johee imnida. Bangapseumnida.”

“Aaaah!!! Aku ingat! Kau sekretarisnya ya? Maaf sempat tidak mengenalimu. Silahkan masuk,” katanya.

Kami pun masuk mengikuti wanita itu. Apartemen ini sangat besar dan terasa sangat luas karena tidak terlalu banyak barang yang mengisinya. Kami sudah sampai di ruangan yang terisi dengan berbagai macam sofa warna-warni yang membuat ruangan ini sangat hidup dan membawa suasana ceria. Wanita itu mempersilahkan kami untuk duduk. “Silahkan duduk. Aku akan membuatkan minum untuk kalian. Han ahjussi seperti biasa kan? Kalau kau, Johee-ssi?”

“Air putih saja,” jawabku dengan sopan.

“Eiiiiy. Aku tidak bisa memberikan hanya air putih kepada sekretaris seorang General Manager. Aku akan memberikan pilihan, jus jambu atau jus apel. Seingatku, hanya itu yang ada di kulkas,” katanya sambil tertawa lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk aku dan supir Han.

Aku memperhatikan wanita itu yang begitu leluasa bergerak di apartemen ini. “Kita tidak salah apartemen kan?” Tanyaku kepada supir Han dan dijawab dengan nada yang sangat menyebalkan, “Aku sudah ke sini ratusan kali dan kau meragukanku?”

Keningku sepertinya sudah berkerut memikirkannya. Kalau ini benar apartemen bos-ku kenapa wanita itu begitu leluasa berada di tempat ini. Bos-ku tipe orang yang tidak suka berbagi kuasa atas barang-barang kepemilikannya. Untuk sebuah bolpoin saja dia tidak mau berbagi apalagi sebuah apartemen. Dengan seorang wanita lagi.

Wanita itu kembali dengan minuman untukku dan supir Han. Ia menyuguhkanku air putih dan jus apel serta jus jambu sedangkan supir Han diberikannya setengah gelas wine. “Tunggu sebentar ya. Dokter masih memeriksanya,” katanya lalu meninggalkan kami dan masuk ke sebuah kamar.

“Siapa wanita itu?” Tanyaku pada akhirnya kepada supir Han. Aku sudah hampir mati penasaran karenanya.

“Molla,” jawab supir Han dengan santai.

“Molla?” Tanyaku tidak percaya. Supir Han terlihat sangat dekat dengan wanita itu, mana mungkin ia tidak tahu siapa dia.

“Iya aku tidak tahu. Kau pasti mau bertanya apa hubungannya wanita itu dengan bos-mu kan? Jawabanku tidak tahu. Yang aku tahu, wanita itu nyaris selalu ada setiap aku ke sini.”

“Apa wanita itu asistennya?”

“Terlalu bagus untuk menjadi asisten.”

“Istrinya? Pacarnya?”

Aku terus mengajukan pertanyaan sampai wanita itu keluar bersama dokter, mengantarkannya keluar lalu menghampiriku. “Ayo masuk. Kau bawa semua dokumen yang harus dia tanda tangan kan?” Katanya mengajakku untuk masuk ke dalam kamar yang akhirnya kuketahui adalah kamar bos-ku.

Bos-ku terbaring di tempat tidurnya dengan infus yang menusuk di pergelangan tangannya. Ia terlihat pucat tapi aku masih bisa merasakan aura-aura mengerikannya kalau sedang bekerja. “Mana dokumen yang harus aku tanda tangani?” Tanyanya.

Aku memberikan dokumen-dokumen untuk bos-ku tanda tangani. Ia membaca dengan teliti dan kemudian membubuhkan tanda tangannya pada dokumen yang menurutnya sudah sempurna. Namun ada beberapa dokumen yang dia tidak tandangani dan aku malah mendapat beberapa coretan dan catatan besar : REVISI.

Bos-ku mengembalikan dokumen-dokumen tersebut kepadaku. “Revisi yang harus direvisi. Jangan ada kesalahan lagi,” kata bos-ku yang langsung membuatku stress. Itu artinya aku harus kembali ke kantor untuk merevisi lalu ke apartemennya lagi untuk minta tanda tangan lalu ke kantor lagi untuk memberikan dokumen tersebut kepada Direksi.

Wanita itu menatap bos-ku dengan kesal. “Sudah kubilang kau tidak boleh bawa-bawa urusan pekerjaan kalau sedang sakit. Kenapa bandel sekali sih?” Omel wanita itu dan aku menatapnya dengan takjub. Bos-ku terlihat tidak berdaya di bawahnya. Ia kehilangan aura mengerikannya yang selama ini selalu menjadi hal yang paling ditakutkan sekaligus dikagumi oleh orang-orang di kantor.

“Kau mau kemana?” Tanya bos-ku ketika wanita itu hendak pergi meninggalkannya. Aku menangkap ekspresi matanya yang meminta agar wanita itu tidak meninggalkannya. Ekspresi yang pasti tidak akan pernah aku lihat kalau aku tidak berada di sini sekarang.

“Membeli makanan dan obatmu. Kau harus minum obat,” jawab wanita itu dengan santai sambil menyisir rambut bos-ku yang berantakan dengan jari-jarinya.

“Aku tidak suka obat.”

“Kau harus minum obat. Tidak ada pembangkangan, aku mohon.”

Bos-ku mengunci mulutnya seakan menyerah dengan segala perkataan wanita itu. Ia hanya menatap wanita itu seperti seorang anak laki-laki yang sedang meminta sesuatu kepada ibunya tetapi tidak punya pilihan selain menerima apapun yang akan ibunya berikan meskipun itu tidak sesuai dengan keinginannya karena ia tahu ibunya pasti akan memberikan yang terbaik untuknya.

Wanita itu kemudian berpaling padaku. “Kau pakai saja komputer di depan. Minta temanmu untuk mengirim dokumen yang harus direvisi. Kau pasti capek sekali kalau harus bolak-balik hanya demi satu atau dua tanda tangan,” katanya dengan ramah kemudian mengajakku ke tempat komputer berada. Ia tersenyum sebelum meninggalkanku.

Wanita itu kembali ke kamar bos-ku dan keluar tidak lama kemudian dengan beberapa potong baju yang aku kenali sebagai baju yang dipakai bos-ku saat baru tiba di Korea tadi pagi dan piyama yang baru saja ia pakai saat aku berada di kamarnya. Aku menyadari bahwa wanita itu mungkin memiliki banyak arti di apartemen ini.

—-

Bos-ku sudah kembali masuk kerja dan ia tidak melupakan pribadinya yang dingin jika sudah berurusan dengan urusan pekerjaan. Ia memerintahku seperti biasa, detil dan harus sempurna. Ia memimpin rapat dengan jelas, tanpa basa-basi dan tidak menerima sedikitpun kemunafikan. Ia bertemu klien, berbasa-basi dan hanya dengan satu kalimat ia berhasil mendapatkan hati para klien. Ia adalah bos-ku yang aku kenal bukan pria yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur dan meminta pertolongan seseorang wanita hanya untuk minum segelas air.

“Direksi jadi rapat?” Tanya bos-ku tepat di jam setengah lima sore, jam dimana seharusnya pekerjaan telah selesai dan pegawai diperbolehkan pulang. Bos-ku adalah penganut pantang pulang sebelum pekerjaannya selesai meskipun itu sudah jam 12 malam. Namun hari ini saat langit masih cerah dan pekerjaannya masih menggunung, ia sudah bolak balik melihat jam dengan gelisah. Kegelisahannya bertambah parah ketika mendengar kabar Direksi mengadakan rapat mendadak.

Aku menelepon sekretaris Direksi untuk memastikan dan tampang bos-ku berubah muram ketika aku memberitahukannya, “Rapatnya dimulai setengah jam lagi.”

Tanpa berterima kasih, mengucapkan salam atau hanya ‘ok’ yang biasa dia ucapkan setiap menerima informasi dariku, bos-ku kembali ke ruangannya. Ia berada di dalam ruangannya, mengerjakan pekerjaannya yang belum ia selesaikan, dalam diam. Ia tidak mempedulikan aku yang bolak balik masuk ke ruangannya dengan berbagai dokumen yang salah satunya merupakan bahan rapat dengan Direksi yang harus dia hadiri dalam waktu beberapa menit lagi. Bos-ku tidak menyentuh dokumen itu sampai aku mengingatkannya untuk segera berpindah ke ruang rapat besar di lantai 2. Ia membawa dokumen itu tanpa membukanya selembar pun. Parah!

Aku mengikutinya ke dalam ruang rapat. Duduk di sebelahnya tanpa berharap ia akan mengajakku ngobrol atau hanya sekedar menyuruhku mencatat. Ia sedang dalam mood terburuknya. Ia datang rapat tanpa memperhatikannya. Ia duduk dengan tenang tanpa ekspresi namun matanya bolak-balik melihat jam tangannya dan mendecak kesal setiap melihat handphonenya bergetar.

Bos-ku menjadi orang pertama yang meninggalkan ruang rapat besar begitu Direksi menutup rapat. Ia menyerahkan semua dokumen kepadaku lalu berlari sambil menelepon seseorang. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi tapi aku tidak berani menanyakannya. Aku mendapatkan jawabannya keesokan harinya ketika fotonya yang sedang mencium seorang wanita tersebar di semua handphone pegawai di kantor ini, termasuk aku. Aku memperhatikan foto itu dan aku nyaris kehilangan detak jantungku melihat wanita di foto itu. Aku mengenalnya. Bos-ku mencium wanita itu.

—-

“Selamat pagi, Shim Johee-ssi,” sapa bos-ku pada suatu pagi yang membuatku merasa dunia pasti sedang terbalik. Aku melihat ke luar jendela dan matahari masih terbit dari sebelah timur. Ini benar-benar kenyataan. Ia menyapaku sebelum masuk ke dalam ruangannya, sambil tersenyum. Ter. Se. Nyum. Astaga! Semoga keajaiban ini bisa bertahan lama.

Setelah 4 jam menyibukkan diri sendiri, Bos-ku memanggilku untuk membawakan beberapa dokumen. Aku melihat ia masih sama seperti pagi tadi saat ia menyapaku. Ia masih tersenyum sumringah walaupun aura dinginnya tidak sepenuhnya mati. “Terima kasih,” ucapnya saat aku menyerahkan dokumennya. Ia lalu bangkit berdiri mengajakku mengikuti rapat pertama hari ini.

Aku mengikutinya. Tiba-tiba ia berhenti untuk meletakkan konsol game-nya di atas meja tamu yang berada di ruangannya. “Tidak dibawa, sajangnim?” Tanyaku. Tumben. Seingatku ia tidak pernah meninggalkan barang-barang favoritnya apalagi kalau ia sampai meninggalkan konsol game-nya. Bos-ku hanya menarik ujung bibirnya setengah senti lalu melanjutkan langkahnya ke luar ruangan.

“Nanti kalau dia datang, suruh saja masuk. Jangan biarkan dia menunggu,” pesannya kepada petugas keamanan lalu berkata kepadaku, “Saat aku bilang tidak ada yang boleh masuk ke ruanganku, wanita itu pengecualian.” Aku teringat pada kejadian pertama kali aku melihat wanita itu dan melarangnya masuk ke ruangan bos-ku karena ia bilang ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun tapi ia tidak bilang ada pengecualian. Pantas saja dia tidak memarahiku. Wanita itu pasti memiliki tempat khusus dalam kehidupan bos-ku.

—-

Akhir-akhir ini wanita itu semakin sering muncul, entah di ruangan bos-ku, di tempat parkir, di restoran dekat kantor atau dimanapun bos-ku berada pada saat ia memiliki waktu luang, wanita itu akan selalu ada.

“Siapa dia?” Tanya salah satu temanku yang melihat kebersamaan mereka saat kami makan siang bersama di restoran di dalam kantor.

“Molla,” jawabku.

Teman-temanku menatapku tidak percaya. “Tidak mungkin. Kau hampir seharian bersama dengan bos-mu itu masa kau tidak tahu siapa wanita itu?” Kata temanku meminta penjelasan lebih lanjut.

“Aku sungguh-sungguh tidak tahu,” jawabku yang benar-benar tidak tahu.

Wanita itu pernah bercerita padaku bahwa ia dan bosku sudah saling mengenal hampir 20 tahun, itu artinya sejak bos-ku kecil mereka sudah berteman. Dia bilang bos-ku memang seperti itu dari lahir, dingin, cuek tapi jenius dan tampan. Dari kecil, banyak wanita yang mengejarnya tapi tidak ada satu pun yang berhasil menaklukkannya sampai sekarang. Wanita itu sampai bilang, “Jangan-jangan bos-mu itu homo, Johee-ya. Hahahahahaaha.”

Aku tahu bos-ku mendengarnya. Aku juga tahu bos-ku mendengar wanita itu membeberkan semua tentang dirinya kepada diriku tapi ia tidak melakukan apa-apa. Ia membiarkan wanita itu terus bercerita dan sesekali tersenyum tipis. Hal yang tidak mungkin dilakukannya kepada orang lain. Aku pernah melihat bos-ku membekap mulut temannya yang akan bercerita tentang dirinya ketika kami sedang minum bersama di sebuah kafe. Ia jelas tidak suka mendengar orang lain membicarakan tentang dirinya. Apalagi kalau sampai mengatainya homo.

“Hei,” panggilnya dan wanita itu langsung menengok kepadanya. “Wae?” Tanya wanita itu dengan santai.

“Kau sudah terlalu banyak bicara. Sudah saatnya kau menutup mulut,” ujar bos-ku dengan datar tapi aku bisa melihat semburat merah di wajahnya ketika wanita itu memandangnya.

Wanita itu tersenyum. “Johee kan sekretarismu. Dia harus tahu dirimu yang sebenarnya supaya dia tidak stress menghadapimu,” kata wanita itu sambil menyisir rambut bos-ku dengan jari-jarinya, salah satu kebiasaannya yang sangat aku sukai karena hal itu membuat rambut bos-ku jadi lebih rapi dan wajahnya terlihat lebih tampan. Ia kemudian membersihkan sisa-sisa saus jjangmyeon yang tertinggal di sekeliling bibir bos-ku langsung dengan tangannya. Aku melihat wajah bos-ku semakin memerah.

Wanita itu kembali bercerita padaku dan aku mengetahui bahwa mereka sudah seperti kakak beradik. Waktu kecil mereka bahkan sering mandi bersama. Bos-ku hanya tertawa sambil menunduk menatap makanannya ketika wanita itu menceritakan hal itu. Mungkin bos-ku malu. Aku tertawa kecil meskipun sebenarnya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Aku mengetahui hampir seluruh tentang bos-ku. Aku harus berterima kasih kepada wanita ini, meskipun aku belum mengetahui apa hubungan mereka sebenarnya.

“Jangan bilang-bilang yang lain ya. Ini hanya kau dan aku yang tahu. Kau harus tetap menjaga image bos-mu dengan baik,” bisiknya sambil tertawa kepadaku.

“Aku mendengarnya, bodoh,” ujar bos-ku kepada wanita itu yang ditanggapi dengan tawa serta elusan lembut tangan wanita itu di pipi bos-ku dan bos-ku pun diam.

Harus aku akui wanita ini memiliki sisi-sisi menarik yang mungkin tidak dimiliki oleh wanita lain dan aku senang bisa berteman dengannya. Dia begitu menyenangkan dan sangat membantuku dalam menghadapi bos-ku khususnya pada saat bos-ku sedang keluar aslinya.

—–

Sampai saat ini aku masih penasaran dengan hubungan antara bos-ku dan wanita itu. Aku belum mendapatkan jawaban yang pasti. Aku pernah memberanikan diri untuk bertanya dan bos-ku hanya menyeringai. “Kau mau tahu saja,” katanya tanpa ekspresi.

Semakin lama aku bekerja untuk bos-ku ini semakin aku tahu sifat-sifatnya yang menurutku sangat tidak cocok dengan image-nya selama ini yang dingin dan angkuh. Bos-ku ternyata tipe pria yang tidak bisa ditinggalkan. Pernah suatu saat aku tidak melihat wanita itu dalam jangka waktu yang lama dan efeknya terhadap bos-ku sangat sangat sangat buruk. Bos-ku tidak lagi dingin tapi juga semakin galak. Ia tidak lagi menatap orang dengan tajam tapi tidak berpikir dua kali untuk mengomel jika orang itu melakukan kesalahan. Hampir setiap hari, bos-ku akan uring-uringan.

Tiba-tiba wanita itu muncul kembali dan memasang wajah cemberut karena bos-ku tidak bisa menemaninya makan siang padahal ia sudah sangat lapar katanya. Bos-ku seolah tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Ia menyuruhku menunda rapat beberapa jam lalu menemani wanita itu makan siang. Wanita itu menyeringai senang dan bos-ku mengomel habis-habisan yang tampaknya tidak digubris oleh wanita itu.

Mereka keluar makan siang bersama dan aku mendapatkan cerita bos-ku tidak memakan makanannya. Ia hanya memperhatikan wanita itu dengan seluruh pikirannya tertuju kepada wanita itu. Bos-ku bahkan berkali-kali merapikan rambut-rambut wanita itu yang jatuh menutupi wajah wanita itu dan mengganggu makan siangnya.

“Siapa sih wanita itu?”

“Pacar bos-mu?”

“Bos-mu akhirnya berhasil ditaklukkan?”

Berbagai pertanyaan sudah sering aku dengar dan aku punya jawaban paling jitu, “Tanya saja sendiri ke orangnya.” Meskipun aku orang yang berada paling dekat dengannya dan hampir selalu bersamanya, aku tidak tahu apa-apa mengenai bos-ku itu kecuali soal pekerjaan.

Dari banyaknya waktu yang aku habiskan dengan bos-ku dan wanita itu, aku menyimpulkan bahwa mereka berada dalam zona hubungan yang tidak bisa didefinisikan. Aku pernah bertanya pada wanita itu dan ia dengan enteng menjawab, “Bos-mu itu salah satu orang penting di hidupku.”

“Kau mencintainya?”

“Kalau maksudmu sebagai lawan jenis, kekasih, jawabannya tidak. Tapi ya aku mencintainya. Dia hampir setara dengan orang tua-ku.”

“Bagaimana kalau ia tiba-tiba menikah dengan wanita lain?”

“Kalau ia mencintainya dan bahagia aku akan ikut bahagia.” Ia kemudian terdiam, menatapku. “Jangan mengajakku membayangkan hal-hal yang menakutkan, Shim Johee-ssi.”

Aku hanya tersenyum.

Pada suatu hari, aku pernah melihat bos-ku menggendong wanita itu ke dalam kamarnya. Kalau sampai orang-orang tahu terutama para wanita pemuja bos-ku, kantor pasti akan heboh 7 hari 7 malam.

Suatu malam, Aku terpaksa mampir ke apartemen bos-ku untuk mengambil dokumen yang sangat penting untuk kelangsungan presentasi yang harus aku selesaikan malam ini juga. Aku melihat wanita itu sedang tertidur nyenyak di sofa berselimutkan jas bos-ku. “Tunggu sebentar,” katanya kepadaku. Ia membawa wanita itu ke dalam kamarnya dan kembali menemuiku tidak lama kemudian bersama dengan dokumen yang aku butuhkan.

Aku mengambil dokumen itu. Tanpa sengaja aku melihat mata bos-ku yang memerah dan agak sembap. “Sajangnim, apa kau baru saja menangis?” Tanyaku. Astaga Shim Johee! Kenapa kau dilahirkan menjadi seseorang yang selalu penasaran?

Bos-ku tertawa dingin. “Ia akan pergi lagi meninggalkanku. Siap-siaplah,” katanya dan aku langsung mengerti maksudnya. Aku pasti akan menghadapi bos-ku yang mengerikan begitu wanita itu pergi. Aku sudah cukup kebal. Aku hanya baru tahu bahwa bos-ku bisa juga menangis dan itu karena seorang wanita akan pergi meninggalkannya, membuat hidupnya kembali sendirian.

“Lalu kenapa sajangnim harus menangis? Memang ia akan meninggalkanmu berapa lama?” Tanyaku lagi. Aku seharusnya menutup mulut rapat-rapat.

“Rasa penasaranmu tinggi juga ternyata,” katanya. “Apa wanita itu tidak pernah menceritakan padamu bahwa aku punya kelemahan?”

Aku menggelengkan kepalaku. Dia tersenyum lalu menjawabku rasa penasaranku selama ini, “Aku punya kelemahan tidak bisa berpisah dari orang-orang yang aku cintai. Aku sudah hidup bersama dengannya hampir 20 tahun dan tanpa aku sadari aku jatuh cinta padanya. Aku mengetahui bahwa aku jatuh cinta padanya ketika aku harus kuliah ke Amerika dan yang aku lakukan hanyalah menangis karena tidak bisa bersama dirinya. Kekanak-kanakan ya? Tapi begitulah diriku kalau sudah berurusan dengan wanita itu. Sejak saat itu aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirinya.”

“Apa ia mengetahui perasaanmu, sajangnim?” Tanyaku.

“Aku tidak tahu. Aku sudah berkali-kali menunjukkannya. Tidak tahu kalau ia begitu bodoh sampai tidak menyadarinya.” Bos-ku bercerita dengan sangat jujur. Aku merasakan luapan emosinya yang begitu tulus dan membuatku merinding mendengarnya. Aku yakin bos-ku pasti sungguh-sungguh mencintai wanita itu. Aku juga ingin dicintai seperti itu.

—-

“Tolong masukkan ke Direksi,” kata bos-ku sambil menyodorkan surat permohonan cutinya kepadaku untuk ditandatangani oleh Direksi. Aku membaca permohonan cuti itu. Bos-ku akan pergi ke Milan selama 2 minggu. Untuk apa? Aku berusaha mencari tahu.

Setelah mencari tahu lebih dari seminggu, aku mengetahui bahwa bos-ku pergi ke Milan untuk bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sudah meninggalkan bos-ku 3 bulan lebih karena ia harus berkeliling dunia demi karir modelnya yang lebih cemerlang. Selama 3 bulan, ia seperti kehilangan pegangan hidupnya. Walaupun mereka tidak putus komunikasi, tidak melihat wanita itu sehari saja, bos-ku sudah seperti Bruce Banner yang siap berubah menjadi Hulk.

Sehari sebelum keberangkatannya, ia tersenyum cerah sepanjang hari, membebaskanku melakukan apapun yang aku sukai tanpa peduli Direksi yang berteriak-teriak menagih pekerjaannya. Aku rasa kepalanya sudah dipenuhi oleh wanita itu saja seorang.

Ditinggal cuti 2 minggu oleh bos-ku, membuatku sadar bahwa ia memang pantas dianugerahi gelar pegawai terbaik, manajer terbaik, strategi terbaik dan gelar-gelar lainnya meskipun ia terkenal dingin. Dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, memberikan solusi dari setiap masalah yang muncul, membimbing anak buahnya dengan baik dan benar dan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh manajer-manajer lain. Ia bahkan masih sempat mengirim pesan kepadaku, menanyakan keadaanku dan kantor meskipun dengan kata-kata super irit.

Bagaimana keadaan kantor? Baik-baik?

Ne, sajangnim. Semua baik-baik saja. Semua pekerjaan untuk sementara dialihkan ke Manajer Sam. Kami di sini semua merindukanmu. Apalagi para wanita. Kami serasa kehilangan pangeran William kami. Sajangnim…

Apa kau mengalami kesulitan?

Aniya, sajangnim. Sajangnim sudah banyak mengajariku jadi aku sudah bisa mengatasi semua persoalan yang muncul. Manajer Sam malah memujiku karena kinerjaku yang baik. Gomawo, sajangnim.

Ok.

Aku sepertinya benar-benar merindukannya karena ketika bos-ku kembali aku serasa mendapatkan kembali induk semang-ku. Aku bahkan tanpa sengaja memeluknya saking senangnya. “Selamat datang kembali!!!” Seruku dengan girang.

Bos-ku tertawa. “Gomawo,” ucapnya sambil menepuk kepalaku dengan lembut. Aku tersenyum sumringah kepadanya. Tanpa sengaja aku melihat kilatan menyilaukan dari tangannya yang baru saja ia turunkan dari kepalaku. Sebuah cincin emas melingkar di jari manis kanannya.

“Apa itu?” Tanyaku.

Dengan tenang diiringi senyuman lebar yang belum pernah aku lihat sebelumnya selama aku menjadi sekretarisnya. “Aku akan menikah,” jawabnya.

“Dengan siapa?” Tanyaku dengan bodohnya. Tanpa perlu dijawab, aku sudah tahu apa jawabannya.

“Wanita itu,” jawabnya dengan wajah berseri-seri, menunjukkan kebahagiannya. Aku memeluknya lagi dengan wajah yang tidak kalah menunjukkan kebahagiaannya. Aku mengerti betapa berartinya wanita itu dalam kehidupan bos-ku. Aku tahu bagaimana bos-ku mencintai wanita itu untuk sekian tahun sampai akhirnya benar-benar mendapatkan hatinya. Aku hampir menangis bahagia untuknya. Chukkae, bos!

xoxo
@gyumontic