Back Hug

Back Hug

By @gurlindah93

Fighting, Park MinAh!” teriak Song Hyejin.

Dengan malas-malasan MinAh berjalan ke ruang guru sambil membawa setumpuk buku saat jam istirahat.

“Awas kau, Song Hyejin,” kata MinAh geram. Entah bagaimana caranya tapi teman sebangkunya yang sekaligus sekretaris kelas itu berhasil memperdayainya untuk mengumpulkan tugas Kimia milik teman-teman sekelasnya.

Dengan berhati-hati MinAh masuk ke ruang guru lalu berjalan menuju meja Jung Raewon, guru Kimianya. Setelah itu dia meletakkan buku tugas kelasnya dengan rapi di atas meja.

“Jadi kapan pindah, Jiwon-ssi?”

Tiba-tiba MinAh mendengar sebuah pertanyaan yang menarik saat akan meninggalkan ruang guru.

“Besok, Jongmin-ssi, keretanya pagi sekali. Aku tidak tahu apa aku bisa bangun atau tidak hahaha.”

Jawaban itu membuat MinAh menghentikan langkahnya.

“Tapi sekolah di Busan sudah diberitahu kan?”

Dengan perlahan MinAh berbalik arah mendekati dua orang guru yang sedang berbincang di pojok ruang guru.

“Ne, semua sudah beres. Surat kepindahan juga sudah beres.”

Agar bisa mendengarkan pembicaraan dengan lebih jelas, MinAh berjongkok di balik mesin fotokopi yang berada di samping mereka.

“Nanti kalau aku ke Busan aku bisa menginap di rumah Jiwon-ssi kan?,” tanya Lee Jongmin, guru olahraganya dengan girang.

“Tentu saja, aku akan dengan senang hati menyambut Jongmin-ssi di Busan.”

Jawaban Eun Jiwon, guru bahasa Inggrisnya membuat lutut MinAh lemas seketika.

Sejak pertama kali diajar Jiwon 8 bulan yang lalu, diam-diam MinAh mulai menyukainya. Karena tidak ingin menyimpan perasaannya selamanya, dalam beberapa hari terakhir ini MinAh berhasil menguatkan tekad untuk menyatakan perasaannya saat upacara kelulusan nanti.

Tapi sepertinya pengakuan itu tidak akan pernah terjadi.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Seorang guru memergoki MinAh yang sedang bersembunyi di balik mesin fotokopi.

“Ah.. Ponsel, ssaem. Ponselku jatuh di sini,” MinAh terpaksa berdiri dan menunjukkan ponsel yang sebenarnya sejak tadi ada di tangannya. Dia melirik ke arah Jiwon yang kini menatapnya karena penasaran.

“Ya sudah, kembalilah ke kelas kalau sudah menemukan ponselmu.”

“Ne, ssaem.”

MinAh bergegas kembali ke kelasnya dengan perasaan campur aduk.

“Yaaa~~ Wae geurae? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kau dimarahi Raewon ssaem?” tanya Hyejin.

MinAh menggelengkan kepalanya.

“Atau Raewon ssaem memarahiku karena menyuruhmu melakukan tugasku?” Hyejin menjadi panik karena Raewon adalah guru yang disiplin.

“Ani. Raewon ssaem tidak ada di mejanya.” jelas MinAh yang membuat Hyejin menghela nafas lega.

“Ah, aku hampir lupa, besok Sabtu sepupuku Hamun akan memperkenalkanku pada Donghae, kekasihnya. Kau ikut ya.. Kyu tidak bisa menemaniku,” rengek Hyejin.

MinAh mengangguk lemah. Di pikirannya masih terngiang kata-kata Jiwon ‘Aku akan dengan senang hati menyambut Jongmin-ssi di Busan.’

Good.. Kalau begitu besok sekalian traktir aku udon di tempat langganan kita ya?” Hyejin bertanya dengan hati-hati.

Tanpa sadar MinAh mengangguk mengiyakan.

“Yes! Udon dan tteokbokki?” tanya Hyejin sekali lagi. Dia sudah hafal kelakuan MinAh yang selalu mengiyakan sesuatu tanpa dia sadari saat sedang melamun seperti saat ini.

Seperti yang Hyejin duga MinAh kembali mengangguk.

“Hohoho.. Gomawo nae chingu… Aaaahh aku iri sekali dengan Kyu karena besok dia pergi ke Busan bersama keluarganya,” ujar Hyejin kesal.

“Mwo??? Busan???” tanya MinAh tiba-tiba sampai membuat Hyejin kaget.

“Eung.. Busan.. Wae?”

MinAh menghela nafas dalam-dalam mendengar kota itu. Dia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan tidak berdaya.

Hyejin yang tidak tahu apa-apa hanya menatap MinAh dengan bingung.

Selama pelajaran berlangsung yang ada di pikiran MinAh hanya pembicaraan yang dia dengar di ruang guru tadi.

“Yaaa~ kau kenapa?” tanya Hyejin saat bel pulang berbunyi karena dia menyadari kalau MinAh tidak memperhatikan pelajaran sama sekali.

“Gwenchana. Aku duluan ya. Annyeong.”

Dengan lunglai MinAh keluar kelas.

***

Seharusnya saat ini MinAh sudah berada di rumahnya, menonton acara TV kesukaannya sambil memakan camilan. Tapi nyatanya MinAh masih berada di sekolah.

Sudah berjam-jam MinAh duduk di tangga yang tidak terlalu jauh dari ruang guru agar bisa mempehatikan siapa saja yang keluar dari ruang tersebut. Dengan sabar MinAh menunggu sampai orang terakhir masih berada di dalam. Saat akhirnya orang tersebut keluar MinAh segera menyusulnya.

“Eun Jiwon, kajima.”

Entah apa yang ada di pikiran MinAh, tapi saat menyadarinya MinAh sudah memeluk Jiwon dari belakang.

“Mwo? Nugu?” tanya Jiwon yang tidak bisa melihat wajah MinAh dengan kaget dan berusaha melepaskan pelukan MinAh.

“Park MinAh dari kelas 3-2. Jebal, kajima.” MinAh semakin mempererat pelukannya.

“Ah.. Park MinAh? Wae geurae?”

“Aku ingin Jiwon ssaem tetap mengajar di Seoul. Ani, mengajar di sekolah ini,” pinta MinAh dengan suara tertahan.

“Arra, lepaskan dulu tanganmu lalu kita bicara, okay?”

MinAh menggeleng, “Aku tidak ingin ssaem melihat wajahku saat ini. Aku sangat malu, ssaem tidak tahu bagaimana aku harus mengumpulkan keberanian untuk melakukan ini.”

“Baiklah. Jelaskan dulu apa maksudmu ini.”

“Tadi aku mendengar semuanya. Jiwon ssaem akan pindah ke Busan besok pagi untuk mengajar di sana. Aku tidak ingin Jiwon ssaem pindah,” jelas MinAh.

“Kapan aku bilang akan pindah?”

“Tadi siang, Jiwon ssaem bicara dengan Jongmin ssaem tentang kepindahan ssaem. Bahkan Jongmin ssaem sudah berencana akan menginap di rumah Jiwon ssaem kalau Jongmin ssaem pergi ke Busan.”

Jiwon memutar matanya untuk berpikir lalu tersenyum, “Ah.. itu..”

“Seharusnya aku membuat pengakuan pada ssaem saat upacara kelulusan nanti. Lalu jika ssaem menerimaku, aku sudah siap menikah dengan ssaem setelah lulus SMA. Aku bisa jadi ibu rumah tangga yang baik karena aku selalu membantu eomma di rumah. Mungkin aku akan belajar memasak karena aku tidak pernah memasak. Tapi yang jelas sejak pertama kali ssaem mengajarku, aku sudah siap menikah dengan Jiwon ssaem kapanpun,” celoteh MinAh tanpa henti.

Jiwon berpikir sebentar, “Kurasa aku akan lebih senang kalau kau kuliah dulu setelah lulus SMA.”

“Jinjja? Tapi ssaem harus menunggu 4 tahun agar kita bisa menikah. Apa ssaem mau menungguku? Aku tidak ingin menikah saat sedang kuliah, sepertinya mengurus bayi sambil kuliah merepotkan,” lanjut MinAh dengan khawatir.

“Menurutku 4 tahun waktu yang sebentar. Tapi… Bukankah sebelum menikah kita harus berpacaran dulu?” tanya Jiwon yang membuat wajah MinAh memerah. Membayangkan berpacaran dengan Jiwon membuatnya luar biasa bahagia. Dia semakin menenggelamkan wajahnya ke punggung gurunya.

“Ah.. Ne, oleh sebab itu kumohon Jiwon ssaem jangan pindah ke Busan,” ucap MinAh lirih.

“Tapi aku tidak akan pindah,” timpal Jiwon.

“Mworago?” MinAh tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Aku tidak akan pindah. Yang pindah nunaku, dia yang akan mengajar di Busan.”

“Tapi bukankah besok pagi-pagi sekali ssaem akan berangkat ke Busan?” tiba-tiba MinAh merasa linglung.

“Tentu saja aku akan berangkat ke Busan untuk mengantar nuna karena harus membantunya merapikan rumah halmoni yang sudah lama kosong, tapi setelah itu aku akan kembali lagi ke Seoul untuk mengajar di sekolah ini.”

Perlahan-lahan MinAh melepaskan pelukannya.

“Ottokkae? Park MinAh pabo,” MinAh merutuki kebodohannya.

Jiwon tertawa mendengarnya, dia berbalik badan dan menatap MinAh dengan geli. “Jadi, apa besok aku tetap tidak boleh pergi?”

“Anieyo.. Silahkan, silahkan saja pergi ke Busan, ssaem. Nuna ssaem pasti senang mendapat bantuan dari ssaem,” MinAh bisa merasakan wajahnya terbakar karena malu.

“Geurae.. Besok aku akan pergi ke Busan dan kembali ke Seoul secepat mungkin.”

“Ah.. Ne.. Jeosonghamnida, ssaem. Jeongmal jeosonghamnida. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan,” MinAh tidak berani mengangkat kepalanya.

“Hahaha gwenchana..”

“Ohya ssaem.. Aku harap ssaem bisa melupakan semua yang kukatakan tadi,” pinta MinAh dengan suara hampir tidak terdengar.

“Kata-kata yang mana? Pengakuan saat upacara kelulusan? Atau siap menikah denganku kapanpun juga?” goda Jiwon.

“Semuanya.. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan semua itu,” MinAh semakin menundukkan kepalanya.

“Hmmmmm.. Sayang sekali, padahal aku menantikan pengakuanmu saat upacara kelulusan,” kata Jiwon dengan serius.

MinAh mengangkat kepalanya lalu menatap Jiwon.

“Wae?” tanya Jiwon.

“Ssaem bercanda kan?”

“Aku serius. Kau boleh membuat pengakuan padaku saat upacara kelulusan.”

MinAh menyipitkan matanya, “Tapi ssaem akan menolakku.”

“Belum tentu, kau kan tidak tahu isi hatiku,” Jiwon balas menyipitkan matanya.

“Tapi aku yakin ssaem akan menolakku,” ujar MinAh yakin.

“Sudah kubilang kau tidak tahu isi hatiku, aku saja tidak bisa menebak bagaimana isi hatiku nantinya.”

Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Kurasa kau harus pulang sekarang, sudah terlalu malam. Pembicaraan ini kita lanjutkan saat upacara kelulusanmu, deal?” Jiwon mengacak rambut MinAh dengan lembut.

MinAh tidak bisa membaca ekspresi Jiwon ataupun menerka apa maksudnya, tapi dia tahu Jiwon bersungguh-sungguh saat mengatakan kalau MinAh boleh menyatakan perasaannya saat upacara kelulusan.

“Ne, ssaem.. Gomapseumnida.. Aku akan berusaha keras sampai upacara kelulusan. Sampai bertemu hari Senin,” pamit MinAh lalu berjalan meninggalkan sekolah dengan hati berbunga-bunga. Dia menjadi semakin tidak sabar menunggu upacara kelulusan 3 bulan lagi.

***

Advertisements

Something Special 

Something Special

By @gurlindah93

MinAh sedang mendengarkan lagu di kamarnya saat ponselnya berbunyi.

“Yoboseyo, oppa,” sapa MinAh sambil tersenyum senang menerima video call dari kekasihnya.

“Eoh.. Sedang apa kau?”

“Malas-malasan di kamar. Ohya, chukkae Eun Jiwon-ssi. Konser oppa tadi malam sukses! Mian aku tidak bisa datang, tapi aku tahu setelah 20 tahun fans loyal oppa pasti akan memenuhi tempat konser,” ujar MinAh sambil tersenyum lebar.

“Gomawo,” sahut Jiwon pendek lalu dia terdiam sambil menatap MinAh.

“Wae? Apa ada sesuatu di wajahku?” MinAh langsung beranjak ke depan kaca untuk memeriksa wajahnya.

“Ani.. Mmmmm.. Apa Jihyo sudah menyerahkannya padamu?” tanya Jiwon dengan nada penasaran.

“Menyerahkan apa?”

“Jinjja? Dia belum menyerahkan padamu? Apa kau belum bertemu dengannya?” Jiwon mengernyitkan keningnya.

“Kurasa Jihyo belum pulang, sejak tadi siang pergi entah kemana. Aku belum mendengar celotehannya,” jawab MinAh.

“Aiiisshh.. Dasar, anak itu membohongiku,” gumam Jiwon kesal.

“Wae geurae, oppa?” MinAh menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak memahami perkataan kekasihnya.

Braakk!!

Pintu kamar MinAh terbuka lebar.

Aloha~~”

“Yaaaaaa~~!!” teriak MinAh.

“Hehe.. Mian, eonni,” Jihyo yang baru saja mendobrak pintu kamar MinAh menyengir tanpa rasa bersalah.

“Wae?? Kau ada perlu denganku?”

“Eung.. Ini.”

Jihyo berjalan mendekati MinAh lalu menyerahkan sebuah kotak hadiah.

“Apa ini?”

“Itu dari Jiwon oppa. Tadi aku ke rumahnya untuk mengembalikan VR yang kupinjam. Tenang saja, aku tidak mengintip isinya apalagi membukanya. Ohya, Jiwon oppa belum menghubungi eonni kan?”

MinAh akan membuka mulutnya tapi Jihyo sudah melanjutkan celotehannya, “Baguslah kalau begitu. Eonni, nanti kalau Jiwon oppa tanya tolong bilang kalau aku sudah menyerahkan hadiahnya sejak 1 jam yang lalu ya. Jebal.”

Jihyo menatap MinAh dengan memelas.

“Wae?”

“Aku sudah janji pada Jiwon oppa untuk langsung pulang dan menyerahkan hadiah itu pada eonni. Tapi, tiba-tiba di jalan Bogumie meneleponku dan mengajak makan es krim bersamanya. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya, bagaimana bisa aku menolak permintaan bocah menggemaskan itu. Eonni juga tidak akan bisa menolaknya kan?”

MinAh mengangguk setuju tanpa dia sadari.

“Nah, itu sebabnya aku terlambat memberikannya pada eonni. Mian, eonni. Dan kumohon jangan bilang Jiwon oppa, okay?”

“Yaaaaaaa~~!!!!! Choi Jihyo!!!!!!!”

Jihyo terperanjat mendengar suara yang muncul entah dari mana.

MinAh tersenyum geli lalu menunjukkan layar ponselnya pada Jihyo.

“Astaga.. Jiwon oppa…. Eonni kenapa tidak memberitahu kalau sedang video call dengan Jiwon oppa?” tanya Jihyo wajah kaget.

“Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau kau terus menyeloteh tanpa henti,” MinAh menyeringai jahil.

“Lalu tadi saat kutelepon kau bilang sudah dekat rumah itu bohong?” tanya Jiwon gemas.

“Eung.. Hehe.. Mian oppa, tadi aku sedang makan es krim dengan Bogumie. Tapi yang penting hadiahnya sudah kuserahkan kan. Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua agar bisa melanjutkan mengobrol. Messenger Jihyo pamit, ciao.”

Dengan cepat Jihyo meninggalkan kamar MinAh sebelum diomeli lagi.

“Yaaaaa~ Choi Jihyo~! Yaaaaaa!!!! Kajima!!!!!!”

“Hahaha.. Biarkan saja oppa, dia memang selalu begitu. Beritahu dulu ini hadiah apa?” MinAh menunjukkan hadiah yang ada di tangannya.

“Buka saja.”

Dengan hati-hati MinAh membuka hadiah itu. Di dalamnya ada sebuah kotak berwarna perak dengan ukiran huruf ‘M’ di atasnya.

“Apa ini, oppa? Yeppeo…”

MinAh menatap kotak itu dengan penuh kekaguman.

“Kau bisa menggunakannya untuk menyimpan aksesoris atau apapun di dalamnya. Joha?”

“Neomu joha.. Gomawo, oppa. Oppa beli di mana?”

“Aku membuatnya.” jawab Jiwon dengan senyum bangga.

“Mwo???? Oppa membuat ini?” mata MinAh terbelalak kagum.

Jiwon mengangguk dengan yakin, “Aku membuatnya di workshop temanku yang punya toko aksesoris. Sebenarnya aku sudah ingin menyelesaikannya sejak lama, tapi ternyata butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan benda berukuran 12 x 8 cm itu. Apalagi aku belum pernah membuat benda seperti itu sebelumnya. Mian.”

Mata MinAh semakin membesar mendengar pengakuan Jiwon.

“Gwenchana.. Gomawo, oppa. Jeongmal gomawo. Aku sungguh menghargainya, oppa berusaha keras menyelesaikannya di tengah-tengah kesibukan oppa.” ucap MinAh dengan tulus. Dia tidak pernah menyangka kekasihnya mau menyisihkan waktu dan tenaga untuk membuatkannya sesuatu yang sulit seperti kotak perhiasan itu.

“Sebenarnya aku membuatnya karena ingin membalas hadiah ulang tahun darimu. Kalau kau mau belajar sesuatu yang baru untukku, aku juga ingin melakukan hal yang sama untukmu.”

Wajah MinAh berseri mendengar ucapan Jiwon.

“Aniya, oppa.. Aku memang ingin menjahit kemeja untukmu sebagai hadiah ulang tahun. Lagipula HyunAh banyak membantuku, bahkan aku menggunakan mesin jahitnya karena aku tidak punya mesin jahit sendiri hehee..”

“Arra..”

By the way.. Aku tidak menyangka uri Eun choding si tukang protes dan merajuk ternyata bisa melakukan hal semanis ini,” goda MinAh sambil tersenyum jahil.

“Cerewet. Kalau tidak mau kembalikan saja,” gerutu Jiwon.

“Shireo! Barang yang sudah diberikan tidak bisa diminta lagi,” MinAh menjulurkan lidahnya dengan geli

“Hyung~ Sebentar lagi kita akan tampil,” kata seseorang tiba-tiba.

“Annyeonghaseyo Sunghoon oppa…,” sapa MinAh dengan senyum paling manis begitu tahu siapa yang berbicara.

“Aigoo.. MinAh, annyeong.. Apa kabar?” balas Kang Sunghoon dengan ramah.

Walaupun sudah beberapa kali bertemu dengan salah satu member Sechskies itu, tapi MinAh masih saja tersipu setiap melihatnya karena terpesona dengan wajahnya.

Tentu saja MinAh tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini dan berusaha mengajak ngobrol Sunghoon, “Baik sekali oppa. Sunghoon oppa sudah makan malam?”

Belum sempat mendapat jawaban dari Sunghoon, tanpa berkata apapun Jiwon memutus sambungan video call mereka.

“Yaaaaaa~ Eun Jiwon! Kau menyebalkan! Kenapa kau menyabotase pembicaraanku dengan Sunghoon oppa?” gerutu MinAh pada ponselnya yang layarnya sudah berubah menjadi hitam.

Saat akan menelepon Jiwon untuk protes tiba-tiba ada pesan yang masuk ke ponsel MinAh.

My Number 1: Saranghae

Senyum tipis langsung tersungging di bibir MinAh begitu membacanya. Dengan secepat kilat MinAh mengetik pesan balasan untuk Jiwon.

“Kyaaaaaaa~!!!” MinAh berguling-guling di kasur sambil memeluk kotak perhiasan spesial pemberian Jiwon.

“Eonni, berisik!” teriak Jihyo dari luar kamar.

Di tempat lain Jiwon senyum-senyum sendiri membaca pesan yang tertulis di ponselnya.

My Lady: Saranghae

***

It’s Been A While 

It’s Been A While

By @gurlindah93

“Park MinAh!” teriak ibunya.

“Waeyo~~~~?”

“Buka matamu!”

“Ini sudah jam 7 pagi, bukankah kau ada janji dengan klien jam 8?”

Mendengar pertanyaan ibunya MinAh langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.

“Aaaaaaarrrgghhhh!!!”

Kalau bukan karena permintaan pemilik firma tempatnya bekerja yang sekaligus sepupunya, MinAh tidak akan menemui klien di hari Minggu seperti ini. Hari di mana seharusnya dia bangun saat matahari tepat di atas kepala.

***

Seminggu sebelumnya.

“MinAh-ssi, kau dipanggil depyonim di ruangannya,” kata Hera rekannya.

“Ne.. Gomawo.”

Setelah memastikan apa yang sedang dia ketik sudah tersimpan semua MinAh segera melangkahkan kakinya ke ruangan paling besar di lantai itu.
MinAh mengetuk pintu lalu langsung membukanya.

“Ne, depyonim. Wae geuraeyo?” tanya MinAh.

“MinAh, aku ingin kau mengurus kasus penting yang baru saja kuterima,” jelas Park Jungnam, bos MinAh.

“Ne, depyonim. Perusahaan apa?”

Sebagai pengacara spesialis perusahaan, MinAh berharap kali ini dia akan mengurus kasus dari perusahaan besar.

“Ani. Perceraian.”

MinAh menatap bosnya, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Eoh. Wae? Kasus yang akan kau kerjakan kali ini adalah perceraian,” jelas Jungnam.

“Perusahaan mana yang akan bercerai?”

Jungnam menatap MinAh dengan tidak percaya. “Yang akan bercerai ini manusia MinAh-yaa.”

“Jinjjayo? Tapi aku tidak punya pengalaman mengurus kasus perceraian, depyonim.”

“Oleh karena itu aku memberimu pengalaman baru. Kau kan selalu menolak kalau aku menawarkan kasus-kasus yang bukan kasus perusahaan.”

“Apa kali ini aku harus menerimanya?” MinAh bertanya dengan lirih.

Selama 2 tahun ini sejak lulus kuliah MinAh memang selalu memilih mengurus kasus perusahaan karena dia malas berurusan dengan orang-orang yang sedang berkasus yang menurutnya akan sangat menyita waktunya. Dan karena dia adalah sepupu dari pemilik firma, maka sampai saat ini tidak ada yang keberatan dengan sifat pemilih MinAh.

“Eoh. Kali ini kau harus menerimanya. Sudah waktunya kau berkembang, Park MinAh,” tegas Jungnam.

“Tapi, oppa..”

“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kembalilah bekerja. Nanti aku akan memberikan nomor ponselmu pada klien itu agar kalian bisa bertemu untuk konsultasi terlebih dahulu.”

Mendengar keputusan Jungnam yang tidak bisa diganggu gugat MinAh keluar ruangan dengan tertunduk lesu.

“Hera-ssi, aku ingin pinjam buku-buku tentang hukum perceraian milikmu,” pinta MinAh pada rekannya yang paling berpengalaman menangani perceraian dengan suara pelan.

“Wae, MinAh-ssi? Apa kau akan mengurus kasus perceraian? Jeongmal?” mata Hera membesar mendengar permintaan MinAh.

“Eung.. Depyonim memaksaku,” jawab MinAh kesal.

“Hehehee akhirnya kau mengurus kasus selain kasus perusahaan, MinAh-ssi. Chukkae,” Hera tersenyum jahil sambil menyerahkan beberapa buku tentang hukum perceraian miliknya.

“Gomapseumnida.. Mohon bantuanmu, Hera-ssi. Ini pengalaman pertama buatku,” ujar MinAh tanpa semangat.

“Fighting!”

Sayangnya dukungan dari rekannya bagaikan angin lalu di telinga MinAh.

***

MinAh sampai di cafe tempat bertemu dengan kliennya 10 menit lebih lambat dari janji awalnya.

Di dalam cafe ada beberapa pengunjung yang duduk sendirian. MinAh mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi kliennya untuk pertama kalinya. Selama ini mereka hanya saling berkirim pesan untuk menentukan tempat pertemuan mereka.

“Yoboseyo,” sapa MinAh.

Yoboseyo.”

Dia melihat seorang pria yang berbicara di telepon lalu memutuskan untuk mendekatinya karena cukup yakin kalau orang itu adalah kliennya.

“Annyeonghaseyo,” ucap MinAh sambil memutuskan sambungan teleponnya.

“Ne?” orang itu cukup terkejut dengan kedatangan MinAh yang tiba-tiba.

“Eun-ssi? Park MinAh-imnida, pengacara dari firma ‘Park and Han’,” MinAh memperkenalkan diri pada pria yang menatapnya dengan kaget.

“MinAh? Apa kau benar-benar Park MinAh?”

“Oppa?” MinAh terkesiap saat menyadari siapa klien yang ada di depannya.

“Jadi pengacara Park yang akan mengurus perceraianku itu kau?”

“Jadi Eun-ssi yang akan bercerai itu oppa?”

Mereka berdua sama-sama tertawa menyadari keadaan yang tidak terduga ini.

MinAh tidak pernah menyangka kalau ternyata kliennya adalah Eun Jiwon, mantan kekasihnya yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Terakhir kali MinAh mendengar kabar tentang Jiwon sekitar 2 tahun yang lalu, saat itu salah seorang temannya memberitahu kalau Jiwon akan menikahi teman masa kecilnya. Kabar yang sempat membuat MinAh terpuruk untuk waktu yang cukup lama.

It’s been a while, Park MinAh. Senang bertemu denganmu lagi,” ujar Jiwon sambil tersenyum.

“Ne, oppa. Nado,” balas MinAh senang. Dia menatap pria yang duduk di depannya dengan perasaan yang tidak pernah berubah sejak 5 tahun yang lalu.

***

Disclosure

Disclosure

By @gurlindah93

Tidak seperti biasanya meja makan di dorm Super Girls sangat sunyi saat makan siang.

Hyejin menyipitkan matanya, sejak pagi dia merasa curiga dengan gerak-gerik MinAh yang tidak biasa, “Mwoya?”

“Mwo?” MinAh balik bertanya tanpa menatap Hyejin.

“Yaa~ Seharian ini tingkahmu sangat aneh, Park MinAh. Nampak gelisah dan tidak tenang.”

(more…)