Move On

Move On

By @gurlindah93

“Aku pergi,” pamit MinAh dengan terburu-buru.

“Mau ke mana dia?” mata HyunAh mengikuti MinAh yang menghilang di balik pintu dengan kilat.

Hyejin mengangkat bahunya.

“Dan kau, kenapa kau di sini?” tanya HyunAh.

“Wae? Aku tidak boleh di sini?” Hyejin balik bertanya.

“Ini kan malam minggu, kukira kau akan pergi dengan Kyuhyun.”

“Kyuhyun sudah ada janji minum dengan temannya. Aku malas sendirian di rumah. Bagaimana denganmu? Apa kakakku yang tampan itu tidak mengajakmu pergi?” mata Hyejin tidak bisa lepas dari TV yang sedang menayangkan drama favoritnya.

“Tidak.. Tidak ada kewajiban bagi Joongki oppa untuk mengajakku pergi. Kami kan tidak ada hubungan apapun saat ini,” kata HyunAh.

“Ckckck.. Joongki oppa masih saja membuatmu menunggu,” keluh Hyejin.

HyunAh menghela nafas panjang.

“Yaa~ Bagaimana dengan Jungsoo oppa?” ujar Hyejin tiba-tiba sambil menatap HyunAh dengan serius.

“Ada apa dengen Jungsoo oppa?” tanya HyunAh tidak mengerti.

“MinAh menceritakan bagaimana dia berencana menjodohkanmu dengan Jungsoo oppa karena Joongki oppa masih belum memberi kejelasan hubungan kalian,” kata Hyejin dengan nada jahil.

“Yaaaa~~! Kupikir hanya dia yang gila karena punya pikiran tidak masuk akal semacam itu, tapi ternyata kau dan MinAh sama-sama gilanya,” protes HyunAh dengan cemberut.

Tawa Hyejin langsung meledak mendengarnya.

“Aku pulaaang.. Eonideul, tadi aku bertemu MinAh eonni di bawah. MinAh eonni kelihatan keren sekali. Apa eonnideul tahu siapa yang menjemputnya?” lapor Hamun yang baru pulang dengan penuh semangat.

“Nugu?” tanya Hyejin dan HyunAh bersamaan.

“Dongwook oppa!” senyum lebar terkembang di wajah Hamun.

“Jinjja???” mata HyunAh membesar mendengarnya.

“Eung.. Aku yakin 100%,” Hamun menganggukkan kepalanya dengan yakin.

“Apa kalian saling menyapa?” tanya Hyejin.

“Ani.. Tapi aku melihat mereka dengan sangat jelas.”

“Jadi, pria misterius yang akhir-akhir ini dekat dengan MinAh itu Dongwook oppa?” Hyejin memutar bola matanya.

“Kurasa begitu. MinAh eonni terlihat senang dan bersemangat saat naik mobil Dongwook oppa.”

“Hmmmm.. Mungkin Dongwook oppa yang membantu MinAh move on, bisa melewati masa-masa putusnya terutama saat berita Eric oppa akan menikah muncul,” tebak Hyejin.

“Mungkin saja.. Aku mendukung siapapun pria yang akan menjadi kekasih MinAh, yang penting pria itu baik. Dan Dongwook oppa adalah pria yang sangat baik,” tambah HyunAh senang.

“Nado.. Nado..” ucap Hamun setuju.

Helloooooo.. I’m home,” sapa Jihyo sambil membawa pizza di kedua tangannya.

“Gomawo Jihyo-yaa,” HyunAh mengambil pizza dari tangan Jihyo lalu membukanya.

“Sepertinya kalian sedang senang. Wae geurae?” tanya Jihyo penasaran.

“Akhirnya kami tahu siapa pria misterius yang sepertinya sedang dekat dengan MinAh akhir-akhir ini,” jawab Hyejin dengan mulut penuh pizza.

Wajah Jihyo berubah, “Nugu?”

“Lee Dongwook oppa,” jawab Hamun.

“Mwo? Tahu dari mana?” Jihyo nampak tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya.

“Tadi aku melihat MinAh eonni dijemput Dongwook oppa,” kata Hamun.

“Apa kau yakin, magnae?” tanya Jihyo dengan kening berkerut.

“100% yakin!”

“Apa itu benar-benar Dongwook oppa?” tanya Jihyo sekali lagi.

“Wae? Apa kau tidak percaya kalau MinAh bisa dekat dengan Dongwook oppa? Atau kau cemburu?” Hyejin menatap Jihyo tajam.

“Aniya.. Tidak mungkin aku cemburu, aku malah senang kalau memang MinAh eonni sedang dekat Dongwook oppa.. Hanya saja…”

Jihyo terlihat berpikir keras.

“Apa karena Dongwook oppa tidak pernah cerita padamu kalau dia sedang dekat dengan MinAh?” tanya HyunAh.

“Mungkin saja Dongwook oppa malu,” ujar Hamun.

“Mungkin.. Tapi apa tidak sebaiknya kita bertanya langsung pada MinAh eonni?” usul Jihyo. Dia masih terlihat meragukan kebenaran berita ini.

“Tidak usah. Kita pura-pura tidak tahu saja, kalau MinAh merasa sudah siap dia pasti cerita. Dia kan selalu cerita apapun pada kita,” jawab HyunAh.

“Eoh.. Cepat atau lambat MinAh pasti menceritakan semuanya. Yang penting sekarang dia sudah move on,” tambah Hyejin senang.

Jihyo menganggukkan kepalanya pelan. Tapi dalam pikirannya terbayang kembali kejadian di tempat parkir beberapa waktu yang lalu. Dan dia sangat yakin siapa yang dia lihat saat itu.

***

The end



Thanks for reading ^^

It Ain’t Me

It Ain’t Me

By @gurlindah93

Ketegangan begitu terasa di dorm Super Girls pagi ini. Semua berawal dari sebuah berita yang sangat mengejutkan.

“Di mana MinAh sekarang?” tanya Hyejin.

“Masih di kamarnya,” jawab HyunAh pelan.

Jihyo menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya mengeras.

“Wae?” Hyejin menatap Jihyo.

“Berita ini.. Sungguh tidak kuduga,”

“Kurasa kita semua tidak ada yang menduganya, eonni,” Hamun sedang membaca berita itu entah untuk keberapa kalinya, tapi isinya tetap tidak masuk akal.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jihyo hampir tak terdengar.

HyunAh menggeleng pelan.

“Kita hanya bisa menunggu. Apapun yang MinAh katakan atau lakukan, kita harus tetap mendukung MinAh.”

“Aku setuju, MinAh eonni cukup tegar. MinAh eonni pasti bisa melewatinya,” ujar Hamun yakin.

“Tapi tetap saja, berita ini akan membuatnya sedih,” gumam Hyejin.

Good morning,” sapa MinAh tiba-tiba.

HyunAh, Hyejin, Hamun, dan Jihyo saling berpandangan dengan canggung.

“Baru bangun Min?” tanya Hyejin.

“Sudah sejak tadi, hanya malas keluar kamar,” jawab MinAh sambil mengambil segelas air lalu kembali ke ruang tengah.

MinAh melirik tablet Hamun lalu tersenyum simpul.

“Jadi beritanya sudah keluar,” gumamnya.

“Mwo?”

“Berita itu,” MinAh menunjuk tablet yang dibawa Hamun.

Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan MinAh.

“Gwenchana.. Aku sudah tahu sejak tadi pagi,” MinAh mengambil tablet Hamun lalu membaca berita ‘Shinhwa Eric akan menikahi kekasihnya Na Hyemi pada bulan Juni’.

“Jeongmal? Siapa yang memberitahumu?”

“Eric oppa.”

Semua terkejut dengan jawaban MinAh.

“Tadi pagi Eric oppa meneleponku untuk memberitahu berita ini. Eric oppa tidak ingin aku mengetahui dari internet atau orang lain, jadi dia memberitahuku terlebih dahulu sebelum memposting berita ini di facebook dan sebelum wartawan memberitakannya,” jelas MinAh dengan cukup tenang.

“Boleh aku memeluk eonni?” tanya Jihyo. Tapi sebelum MinAh menjawab, Jihyo sudah memeluk MinAh dengan erat.

“Gomawo Jihyo-yaa”

Lalu satu persatu member Super Girls bergantian memeluk MinAh.

“Gomawo, ladies.”

MinAh tersenyum penuh rasa terima kasih.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?” HyunAh bertanya dengan penuh simpati.

Semua mata tertuju pada MinAh sedangkan MinAh hanya bisa menghela nafas panjang.

“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang kurasakan, tapi aku bisa menerimanya.”

“Tapi kau baru 7 bulan putus, apa kau tidak terkejut?” tanya Hyejin.

“Tentu saja terkejut. You guys know how much I dreamed about being mrs. Mun Junghyuk, that I’m the one who will taking care of him for the rest of his life. But then, it ain’t me,” jawab MinAh.

So I have to move on,” lanjut MinAh dalam hati.

Bagi MinAh, berita pernikahan ini akan menjadi langkah awal untuk membuka hatinya.

***

The End


Thanks for reading ^^

Assumptions

Assumptions 

By @gurlindah93

“Whoaaaa.. Park MinAh, apa yang kau lakukan?” tanya Hyejin dengan mata membesar melihat kamar MinAh yang berantakan.

“Mencari… Celana jeans.. Warna biru…,” jawab MinAh sambil mengaduk-aduk isi lemarinya.

“Ini warna biru kan?”

Hyejin mengambil 2 buah celana jeans biru yang tergeletak di tempat tidur.

“Bukan itu~~~ Itu sedang tidak muat kupakai… Aaaaakkkhhh kenapa makanku banyak sih akhir-akhir ini,” gerutu MinAh frustasi.

“Memang kau terlihat lebih berisi Park MinAh, ckckck.. Untung kita tidak ada jadwal comeback dalam waktu dekat,” komentar Hyejin yang semakin membuat MinAh frustasi.

“Geumanhae! I know and I regret my previous abnormal appetite. Eeeerrgghhhh..”

Hyejin tertawa melihat MinAh yang sekarang duduk terpaku di lantai, menyesali berat badannya yang naik beberapa kilo.

“Eonni, aku menemukan celana jeans ini di lemariku. Apa ini punya eonnideul?” Hamun masuk ke kamar MinAh sambil membawa sebuah celana jeans berwarna biru.

Hyejin menggeleng karena dia yakin celana itu kebesaran untuknya.

“Magnaeeee, gomawo,” MinAh memeluk Hamun lalu mengambil celana jeans yang ada di tangan Hamun.

“Ne, eonni,” balas Hamun.

“Sekarang kalian keluar, aku mau ganti baju,” MinAh mendorong kedua temannya keluar dari kamarnya.

“MinAh eonni kenapa?” tanya Hamun bingung.

Hyejin mengangkat bahunya.

“Min, ini aku buatkan kentang goreng untukmu,” HyunAh masuk ke kamar MinAh sambil membawa kentang goreng yang baru digorengnya.

No Jung HyunAh! Please stop feeding me, can’t you see that I’ve gained weight?” pinta MinAh dengan mengiba karena sebenarnya masakan HyunAh sangat sulit untuk ditolak.

Okay okay,” HyunAh keluar dari kamar MinAh sambil membawa kentang goreng yang belum tersentuh.

“Sini aku saja yang makan,” ujar Hyejin.

“Dia kenapa sih?” tanya HyunAh setengah berbisik.

Hamun dan Hyejin bersama-sama mengangkat bahu mereka.

Tidak lama kemudian MinAh keluar kamar dengan wajah berseri-seri.

How do I look?”

Ketiga temannya memperhatikan MinAh dari atas sampai bawah. 

“Jjang!” Hamun mengangkat kedua jempolnya.

“Yeppeo,” komentar Hyejin dengan wajah sumringah.

You’re back,” ujar HyunAh bangga.

Thank you, ladies. Now I have to go, bye,” MinAh memeluk teman-temannya satu persatu lalu pergi.

“Aku senang akhirnya MinAh dress up lagi,” kata HyunAh lega.

It’s been 6 months Hyun, she deserves to be happy again and back to her normal life,” sahut Hyejin mengingatkan apa yang sudah terjadi pada MinAh selama 6 bulan ini.

“MinAh eonni pergi dengan siapa ya? Pasti Jungsoo oppa. Pantas eonni berdandan seperti itu,” gumam Hamun.

“Tunggu, apa dia benar-benar pergi dengan Jungsoo oppa?”

Hyejin menatap HyunAh meminta penjelasan.

“Wae? Memang dia pergi dengan siapa lagi kalau bukan dengan Jungsoo oppa?” HyunAh balik bertanya.

Hamun, Hyejin, HyunAh saling berpandangan.

“Apa kalian sadar kalau akhir-akhir ini MinAh tidak bisa lepas dari smartphone-nya?”

“Bukannya MinAh eonni memang tidak bisa hidup tanpa smartphone ya?” Hamun garuk-garuk kepala.

“Ah iya Hye, aku juga cukup lama curiga. Dia memang tidak bisa lepas dari smartphone-nya, dan biasanya dia hanya membalas pesan sekedarnya lalu menonton video atau sibuk dengan media sosial. Tapi akhir-akhir ini dia seperti selalu membalas pesan, aku jarang melihatnya menonton video bahkan membuka media sosial,” HyunAh berusaha mengingat apa yang dilakukan MinAh akhir-akhir ini.

“Ohya, kadang aku memergoki MinAh eonni mengetik sesuatu dengan mata berbinar-binar atau pipi bersemu merah,” tambah Hamun.

“Apa MinAh tidak cerita apa-apa pada kalian?” tanya Hyejin penasaran.

Hamun dan HyunAh menggeleng.

“Baiklah, mari kita asumsikan kalau MinAh sedang dekat dengan seseorang. Tapi siapa pria itu? Apa kita kenal?” HyunAh mencoba mengingat siapa saja pria di sekitar mereka.

“Jangan-jangan Yunho oppa,” tebak Hyejin.

“Jeongmal? Tapi kurasa Yunho oppa sedang sibuk mempersiapkan album baru,” ujar HyunAh.

“Mungkin saja Yunho oppa, eonni. Apa Yunho oppa tidak pernah menanyakan MinAh eonni?”

HyunAh menatap Hamun dengan bingung, 

“Memang Yunho oppa sering menanyakan MinAh. Tapi dia juga selalu menanyakan member yang lain.”

“Hmmmm.. Apa Daesung oppa?”

“Tidak mungkin. Mereka sudah seperti saudara kandung.” HyunAh menggelengkan kepalanya.

“Gong Yoo oppa?” Hyejin terdengar tidak yakin.

“Sepertinya bukan, dia sekarang cukup dekat dengan Jihyo, tidak mungkin dia tidak berkata apapun pada Jihyo.”

“Lalu siapa ya? Dongwook oppa?” tebak Hamun.

“Bisa jadi,” kaya Hyejin.

Kemudian mereka bertiga terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Aku pulaaaang… Waaahh ada apa ini, kenapa kalian terlihat serius sekali,” kata Jihyo yang baru pulang menonton film dengan Woobin.

“Jihyo-yaa, apa Gong Yoo oppa pernah menanyakan atau bercerita tentang MinAh?” tanya Hyejin.

Jihyo berpikir sebentar lalu menggeleng, “Nope. Tidak pernah sekalipun. Wae?”

“MinAh pergi dan dia dress up,” ujar HyunAh merangkum apa yang sudah terjadi hari ini.

“Apa yang aneh? Bukannya MinAh eonni memang suka dress up ya kalau pergi?”

“Tapi tidak selama 6 bulan ini. Setelah kejadian itu dia dress up hanya untuk kepentingan pekerjaan kan,” jelas Hyejin.

“Ah iya juga. Memang eonni pergi dengan siapa? Jungsoo oppa?” tanya Jihyo.

“Nah itu yang jadi pertanyaan kami, kalau Jungsoo oppa kan tidak mungkin tidak kemari untuk menjemput MinAh eonni.”

“Jadi pasti bukan Jungsoo oppa, tapi seseorang yang masih MinAh rahasiakan.”

“Apa tadi kau bertemu MinAh di bawah?” tanya HyunAh.

Nope.. Aku bukan bertemu MinAh eonni, tapi……”

Jihyo nampak terkesiap. Di pikirannya langsung terlintas kejadian beberapa saat yang lalu.

***

“Gomawo karena sudah menemaniku menonton film yang sebenarnya tidak oppa sukai,” ujar Jihyo dengan super manis.

“Walaupun tadi aku ketiduran di dalam bioskop?” Woobin memicingkan matanya.

“Ne… Aku tidak peduli apa yang oppa lakukan tadi, yang penting oppa ada di sampingku. Oppa tahu kan aku suka film horror tapi sebenarnya takut?”

“Eoh. Tentu saja aku ingat dengan detail sifat dan kepribadian kekasihku.”

Chuuu~

Jihyo mencium pipi Woobin.

“Oppa, bukankah itu…” tiba-tiba Jihyo menunjuk sebuah mobil SUV hitam yang diparkir tidak jauh dari mobil Woobin.

“Benar juga.. Apa yang dia lakukan di sini?” Woobin menajamkan pengelihatannya. Walaupun samar tapi dia yakin siapa pria di dalam mobil itu karena bentuk fisiknya yang menonjol.

“Molla.. Mungkin dia punya teman atau kekasih yang tinggal di sini,” tebak Jihyo dengan tidak yakin.

“Memang siapa yang tinggal di sini selain Super Girls?”

“Hmmmm.. Setahuku sih hanya kami, tapi di tower sebelah ada beberapa aktris dan idol grup.”

“Mungkin yang duduk di sebelahnya itu bukan aktris atau penyanyi,” Woobin berkonsentrasi melihat siapa yang duduk di kursi penumpang.

“Bisa jadi,” ujar Jihyo sambil lalu karena dia berkonsentrasi memakai jaketnya sebelum turun.

“Ya ya yaa~ Bukankah itu Park MinAh?” Woobin menunjuk sebuah mobil SUV hitam yang baru saja melintas.

“Di mana?”

“Di dalam mobil itu.”

“Tidak mungkin. MinAh eonni tidak kenal dengannya, untuk apa dia pergi bersamanya?” sahut Jihyo dengan penuh keyakinan.

“Tapi gadis di sebelahnya benar-benar mirip MinAh noona,” balas Woobin tidak kalah yakin.

“Tapi oppa hanya melihat sepersekian detik kan?”
Woobin termenung lalu mengangguk. Tapi entah kenapa dia cukup yakin kalau barusan yang dia lihat adalah Park MinAh.

***

“Jihyo-yaa.. Kau kenapa? Kau melihat siapa tadi?” tanya HyunAh.

“Ani.. Bukan siapa-siapa..”

“Tapi wajahmu pucat sekali Jihyo-ya. Apa kau sakit?” Hyejin meyentuh dahi Jihyo dengan cemas.

“Ani.. Gwenchana.. Aku masuk ke kamar dulu ya, aku lelah,” pamit Jihyo.

Di dalam kamar, walaupun Jihyo tidak terlalu yakin dengan apa yang sedang terjadi tapi dia langsung mengambil smartphone-nya lalu mengetik pesan untuk Woobin.

‘Kim Woobin, apa yang barusan kau lihat di tempat parkir, jangan kau beritahukan ke member Super Girls atau orang lain. Ini rahasia kita berdua. DON’T YOU DARE TO TELL ANYONE.’

***

The End


Enjoy ^^

The Parks

The Parks

By @gurlindah93

“Annyeong~~~,” sapa Jungsoo ceria saat memasuki dorm Super Girls.

Jihyo hanya mengangguk pelan karena sedang berkonsentrasi menyelesaikan game di smartphone-nya.

“Annyeong, Jungsoo oppa,” balas Hamun yang keluar dari kamarnya begitu mendengar suara Jungsoo.

“Bagaimana rasanya tidur sendiri, magnae?” tanya Jungsoo.

Baru 2 minggu ini Super Girls pindah ke apartemen yang lebih luas sehingga para member kini menempati kamarnya masing-masing.

“Joha~~ Tapi kadang-kadang kesepian, biasanya ada Jihyo eonni yang menemaniku belajar sampai malam,” jawab Hamun sambil melirik Jihyo. Jihyo hanya menyeringai bangga mendengar jawaban Hamun.

“Ada apa kemari, oppa?” HyunAh yang tadi membuka pintu untuk Jungsoo tiba-tiba menghampiri Jungsoo sambil membawa segelas jus semangka buatannya.

“Gomawo, aku ingin menjemput adikku,” Jungsoo menghabiskan jusnya dalam hitungan detik.

“Masuk saja ke kamarnya, dia belum keluar kamar sejak tadi pagi,” ujar HyunAh.

“Baiklah,” Jungsoo beranjak dari sofa tempatnya duduk lalu berjalan menuju kamar yang di pintunya bertuliskan ‘Everything Happens For A Reason’.

Tok tok.

Jungsoo membuka pintu kamar dan mendapati adiknya sedang duduk di tempat tidur sambil membaca majalah.

“Yaaa~ Kenapa kau tidak keluar kamar?” keluh Jungsoo. Dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur lalu mengambil majalah yang ada di tangannya adiknya.

“Yaaaa~ Apa yang kau lakukan, oppa? Kapan oppa datang?” MinAh melepaskan earpod yang ternyata sejak tadi terpasang di telinganya.

“Eung? Sudah dari tadi. Aku tidak mengerti kenapa kau suka sekali membaca majalah yang isinya hanya baju-baju seperti ini,” Jungsoo membolak-balik majalah fashion di tangannya dengan kening berkerut.

MinAh mengambil kembali majalahnya, “Ini untuk membantu cordi eonni memilih pakaian yang pas untuk aku dan member yang lain. Jadi pergi atau tidak?”

Jungsoo melirik adiknya lalu mengangguk-angguk dengan penuh semangat.

“Kaja,” ajak MinAh yang ternyata sudah siap pergi.

“Kaja,” Jungsoo memeluk MinAh lalu menuntunnya meninggalkan kamar.

***

“Aku tidak menyangka kita akan pergi naik subway,” bisik MinAh ke telinga Jungsoo.

“Kurasa aku sudah bilang kalau akan mengajakmu jalan-jalan santai,” ucap Jungsoo dari balik maskernya.

“Kalau santai kenapa oppa pakai masker?”

Jungsoo melirik MinAh sambil berkedip-kedip, “Aku kan sedang berkencan.”

Jawaban kakaknya membuat MinAh tertawa terbahak-bahak.

Tawa yang sempat hilang beberapa bulan ini.

***

“Kita beli tiket dulu lalu makan ya, nanti kehabisan kalau tidak beli sekarang,” pinta MinAh begitu mereka menginjakkan kaki di mall.

“Siap putri,” Jungsoo mengangguk patuh.

Benar saja, sudah ada antrian panjang untuk membeli tiket film tentang balapan mobil mewah yang baru saja dirilis.

“Permisi, Park MinAh-ssi. Apa boleh aku berfoto denganmu?”

Tiba-tiba seorang pria menghampiri MinAh yang sedang mengantri.

“Ah ne,” MinAh mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan pria itu.

“Biar kubantu memotret kalian,” ujar Jungsoo menawarkan diri.

“Ne, gamsahamnida,” pria itu memberikan smartphone-nya pada Jungsoo.

Setelah berfoto bersama MinAh dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Jungsoo pria itu pergi.

“Apa dia tidak mengenali oppa karena oppa memakai masker ya?” tanya MinAh heran.

“Mungkin saja. Atau mungkin dia tidak peduli dengan idol pria,” jawab Jungsoo.

Tidak lama setelah itu, seorang gadis menghampiri mereka.

“Annyeonghaseyo Leeteuk oppa, boleh aku berfoto denganmu?”

“Ah.. Ne,” kata Jungsoo sedikit terkejut.

“Biar kubantu memotret kalian,” kali ini MinAh yang menawarkan diri.

“Ne,” jawab gadis itu.

Setelah berfoto dengan Jungsoo, gadis itu langsung meninggalkan mereka.

“Yang ini lebih menyakitkan. Jelas-jelas dia mengenaliku karena aku tidak pakai masker, tapi dia tidak menghiraukanku. Bahkan berterima kasihpun tidak,” komentar MinAh pura-pura sedih.

Jungsoo hanya bisa tertawa geli mendengar ucapan kekanak-kanakan MinAh.

***

Setelah berhasil membeli tiket, MinAh mengajak Jungsoo makan malam di restoran Spanyol favoritnya.

“Kau kelaparan atau kau memang suka makanan Spanyol?” Jungsoo mengernyitkan matanya melihat makanan pesanan MinAh yang cukup banyak bagi mereka berdua.

“Dua-duanya hehehee. Percayalah padaku, kau akan menyukai makanan di sini. By the way, oppa yang akan membayar semuanya kan? Kan oppa yang mengajakku berkencan.”

“Memangnya kapan kau pernah membayar kalau kita pergi berdua?”

MinAh memutar bola matanya lalu tersenyum, “Tidak pernah.”

Jungsoo mendengus lalu menyantap makanan yang sudah ada di depannya.

***

“Aku suka sekali filmnya, oppa,” kata MinAh senang setelah mereka selesai menonton.

“Tentu saja, tapi menonton film itu membuatku ingin memiliki salah satu mobilnya,” ujar Jungsoo.

“Kudoakan oppa bisa memiliki salah satu mobil itu. Lalu mengajakku berkencan menggunakan mobil itu,” MinAh menutup matanya berdoa dengan sungguh-sungguh.

Jungsoo mengacak-acak rambut MinAh mendengar doa MinAh.

“Ayo pulang,” ajak Jungsoo.

“Shireo.. Aku lapar,” MinAh menatap Jungsoo dengan puppy eyes yang menjadi senjatanya sejak kecil saat MinAh menginginkan sesuatu dari Jungsoo.

“Mworago??????”

“Aku lapar..”

“Ke mana semua makanan yang tadi kau makan?”

MinAh mengangkat bahunya.

“Kaja”

Mau tidak mau Jungsoo mengikuti MinAh yang berjalan ke arah penjual makanan di pinggir jalan.

“Jadi….”

Jungsoo tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Jadi apa?” tanya MinAh sambil mengunyah donat.

“Jadi kenapa kita duduk di sini?” nada suara Jungsoo terdengar janggal. Dia mengikuti MinAh yang duduk di bangku taman.

“Karena kita harus menghabiskan donat ini,” jawab MinAh sekenanya.

Jungsoo hanya bisa menghelas nafas panjang.

“Oppa kenapa tiba-tiba aneh sekali? Ohya, kemarin aku menonton oppa di acara Guesthouse Daughters. Oppa memasak bersama Park Shiyeon sunbaenim ya?”

“Eoh.. Wae?”

“Aigoo.. Oppa dan Park Shiyeon sunbaenim cocok sekali. Hahahahahaa,” goda MinAh.

“Yaaa~! Apa kau gila?” Jungsoo mengacak-acak rambut MinAh dengan gemas. MinAh tertawa jahil melihat kakaknya yang selalu salah tingkah bila digoda tentang wanita.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Pertanyaan Jungsoo membuat MinAh terdiam.

“Kenapa diam?”

“Aku sedang memakan donat ini. Kalau tersedak oppa mau tanggung jawab?”

Jungsoo sudah hafal bagaimana kelakuan adiknya bila menghindari sebuah topik pembicaraan.

“Aku baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir,” ujar MinAh akhirnya tanpa menatap Jungsoo.

“Aku percaya padamu. Kau tahu kan kalau kau bisa menghubungiku kapan saja?”

Yes, sir!”

Lalu mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Oppa…”

“Eung?”

“Akhir-akhir ini aku sedang intens berkomunikasi dengan seseorang.”

Jungsoo melirik adiknya, “Pria?”

MinAh mengangguk.

“Lalu?”

“Aku hanya merasa aneh. Dan sedikit merasa bersalah,” MinAh menghela nafas dalam-dalam.

Yang terjadi selama 4 tahun tidak akan begitu saja dilupakannya dalam waktu 4 bulan. Sehingga ketika akhirnya ada seseorang yang bisa diajak mengobrol untuk meringankan perasaannya dia malah merasa bersalah.

“Kau hanya butuh waktu,” kata Jungsoo pendek.

“Eoh.”

“Apa aku mengenalnya?”

MinAh terdiam sebentar, “Entahlah. Aku tidak pernah mendengar oppa menyebutnya. Aku juga tidak pernah membahas oppa dengannya.”

Jungsoo menyunggingkan senyum, dia senang karena MinAh sedang fokus pada dirinya sendiri.

“Apa membermu mengetahuinya?”

MinAh menggeleng.

“Yang jelas dia lebih tua dari oppa,” pipi MinAh memerah saat mengatakannya.

“Lagi??? Aku harus kembali memanggil hyung?” Jungsoo memelototi MinAh sampai MinAh tertawa geli.

“Eoh.”

“Ckckck.. Kenapa seleramu yang tua-tua sih?” gerutu Jungsoo pura-pura marah.

“Selera apa, oppa? Aku kan hanya berteman dengannya. Masih berteman. Oppa jangan terlalu jauh berpikirnya,” MinAh mengeluarkan smartphone-nya yang sejak tadi berbunyi.

“Yoboseyo.. Ne oppa..”

MinAh beranjak dari kursi lalu menjauhi Jungsoo untuk berbicara di telepon.

“Sudah selesai?” tanya Jungsoo begitu MinAh kembali. Dia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.

“Eung.. By the way baru saja terlintas di pikiranku wanita yang bisa oppa dekati,” ujar MinAh tiba-tiba.

“Nugu?”

MinAh menyeringai jahil.

“Jung HyunAh,” dengan sigap MinAh berlari menjauhi Jungsoo yang termenung mendengar jawaban MinAh.

Setelah berhasil memproses apa yang dikatakan MinAh, Jungsoo langsung mengejar adiknya itu.

“Yaaaa~~ Park MinAh!! Kau benar-benar sudah gila. Jung HyunAh itu adikku, bagaimana bisa aku memacarinya!!”

***

“MinAh.. Park MinAh…”

Dengan tidak sabar Hyejin menggoyang-goyangkan tubuh MinAh yang masih terlelap.

“Wae? Wae? Ada gempa bumi?” tanya MinAh asal dengan mata tertutup.

“Apa kau benar-benar pergi dengan Jungsoo oppa semalam?”

“Tentu saja.. Wae geurae?”

“Ini, buka matamu,” Hyejin menunjukkan tabletnya.

‘Super Girls MinAh terlihat berkencan dengan seorang pria bermasker yang tidak diketahui identitasnya’

Begitu membaca judul beritanya, MinAh langsung tertawa terbahak-bahak.

***
The End


Enjoy ^^

Her

Gong Yoo menatap gedung di hadapannya dengan wajah bingung. Betapa bodohnya dia tidak bertanya ke Dong Wook sebelumnya lantai berapa dan nomor pintu apartemen Super Girls.

Namun senyum di wajahnya mengembang ketika melihat gadis mungil berkacamata berjalan ke arahnya.

“Kang Hamun-ssi!” teriak Gong Yoo sambil melambaikan tangannya dengan semangat.

Hamun berhenti sejenak ketika melihat sosok Gong Yoo dihadapannya, lalu bergegas berlari begitu menyadari namja yang memanggilnya. (more…)

Him

“Dia akan baik-baik saja kan di sana?”

“Mana aku tau. Pasti dia akan bertahan selama dua tahun.”

JIhyo menerima kopinya dari barista dan segera keluar dari stall kopi di lobi gedung salah satu media televisi tersebut. Ia menghela napas panjang mendengar nada bicara Woobin yang seolah tak peduli.

“Kau lihat kan di semua media? Seunghyun oppa kurus sekali. Dia bahkan tidak menemuiku menjelang dia mau wamil. Itu aneh,” Jihyo tersenyum begitu beberapa staff di gedung itu menyapanya.

“Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Lagipula kau terlalu mengurusinya.” (more…)