That Lady (Part 4)

October 2015

‘Yoboseyo?’

‘Hyun~’

‘Eo oppa?’

‘Bogoshipo’

‘Kau mulai lagi’

‘Aigoo Hyun, tak bisakah kau bilang kau juga rindu padaku?’

‘Mian’

‘Kau benar-benar tidak rindu padaku rupanya’

‘Bukan begitu, oppa~’

‘Jadi kau rindu padaku??’

‘Okay.. Sedikit’

‘Aigoo, Hyun~’

‘Hehe’

‘Apa kau senang membuatku seperti ini?’

‘Huh? Memang apa yang kulakukan padamu, oppa?’

‘Kau benar-benar tidak sadar?’

‘Mwo?’’

‘Isshh! Lagipula, bagaimana bisa kau tak menghubungiku sama sekali?’

‘Aku tidak mau mengganggumu, kau kan sedang shooting’

‘Setelah malam itu,, bagaimana bisa kau-‘

‘Oppa~’

‘Waee?’

‘Bagaimana jika ada yang mendengarmu disana?’

‘Biarkan saja, apa yang salah dengan semalaman bersama seorang yeoja’

‘Orang lain bisa salah sangka kalau begitu caramu berbicara, oppa`

‘Itu fakta, kita memang bersama malam itu, Jung Hyun Ah’

‘Yaa~!’

‘Benar kan?’

‘Oppa~ keuman.. kita kan hanya melihat bintang malam itu’

‘Hanya?? Apa itu tidak berkesan Hyun?’

‘Anii~ bukan itu maksudku oppa’

‘Tunggu aku kembali ke Seoul akan aku berikan malam yang tak bisa kau

lupakan, Hyun’

 

               “Noona~!”

 

‘Hyun, suara siapa itu?’

 

               “Noona~ bisakah kau ambilkan baju yang berwarna biru tadi?”

               “Noonaaaa~ Eodi??”

 

‘Joongki Oppa, I’ll call you later’

‘Hyun? Yoboseyo? Yoboseyo?’

 

Isshh, bagaimana yeoja ini bisa menutup telponku begitu saja.. Siapa namja itu? Apa katanya? Ambilkan baju? Aisshh sedang apa HyunAh sekarang.. Noona? Berarti dia bukan Yonghwa, Joon, Yunho ataupun Yoochun.. Aigoo namja mana lagi itu.. Ayo cepat angkat telponku.. kenapa tak juga angkat telponku.. Aigoo Jung HyunAh, Jung HyunAh.. Astaga masih juga belum bisa dihubungi..

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

‘Yoboseyo?’

‘Ya~!! Jung Hyun Ah! Neo eodi? Sedang apa? Bersama siapa?’

‘Joongki Oppa~’

‘Bagaimana bisa kau menutup telponku, selama satu jam tak angkat telponku’

‘Oppa~ Jjamkanman.. Astaga 50 missed call??’

‘Hyun~!’

‘Kau belum take? Tidak lanjut shooting?

‘Bagaimana bisa aku take?? Cepat jawab aku Hyun~’

‘Sabaarr.. kau bahkan lebih seram daripada Yonghwa dan Joonie oppa’

‘Hyun~ aku serius, cepat jawab. Neo eodi? Sedang apa? Bersama siapa?’

  

               “Noona~! Bagus yang mana?”

               “Noona~ Kau sedang telpon siapa sih?”

 

‘Jangan coba tutup telponku Hyun!’

 

               “JJamkanman, noona telpon dulu. I’ll be back”

               “Arasseo

 

‘Minhyuk.. Kang Minhyuk CN Blue..’

‘Eodi?’

‘Aigoo~ relax oppa, aku sedang di mall menemaninya mencari baju’

‘Astaga Hyun!’

‘Wae? Kau kira aku macam-macam?’

‘Siapa dia?’

‘Dia sudah seperti nae dongsaeng sama seperti Minho’

‘Minho??’

‘Choi Minho, SHINee’

‘Aigoo.. Sebenarnya ada berapa namjadeul sih disekelilingmu?!’

‘Wae?’

‘Tidak bisakah hanya aku?’

‘Aaahh~ kau marah padaku?’

‘Ani~ Kalau aku marah padamu kau pasti membiarkanku begitu saja’

‘Good boy’

‘Mwoyaa ige~’

‘Oppa~ listen to me..’

‘Eo? Eo..’

‘Jangan berpikir macam-macam, walaupun disekelilingku banyak namja tapi

di hatiku hanya ada satu namja. Sering-sering telpon aku, awas kalau kau

menelponku kurang dari 3x sehari! Take care, eat well. Aku tau ada goddess

disana but don’t flirt! Araseo? Cepat pulang, akan kutagih janjimu, another

night with you. Annyeong oppa, nan bogoshipo ddo!’

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

HyunAh menutup telponnya, meninggalkan kehangatan di hatiku dan senyum lebar di wajahku.

Jung Hyun Ah, that lady, jjinnjaaa jjinnjaa membuatku jungkir balik

Apa yang harus kulakukan padanya

Apa jadinya aku tanpanya

 

-to be continue-

Conversation 

Conversation
 
By @gurlindah93
 
“Eoh….”

“Oppa oppa oppaaaaaaa….. Sedang apa? Oppa tidak ada jadwal kan hari ini?” tanya MinAh pada kakaknya begitu Jungsoo mengangkat teleponnya.

“Eoh, tapi aku sedang menyetir pulang ke rumah,” jawab Jungsoo pendek.

“Rumah? Rumah siapa?”

“Rumah kita, Park MinAh. Memang rumah siapa lagi?” nada suara Jungsoo terdengar kesal dengan keterlambatan adiknya dalam memahami perkataan Jungsoo.

“Oh…”

“Wae geurae?” Jungsoo merasa ada yang tidak beres dengan adiknya setelah mendengar komentar super pendek yang tidak biasanya dilontarkan MinAh.

MinAh menghela nafas panjang. “Aku ingin bercerita sesuatu pada oppa.”

“Baiklah.. Telepon aku satu jam lagi, okay?” pinta Jungsoo.

Tanpa menjawab MinAh langsung menutup teleponnya.

“Park Jungsoo! Apa kau tidak sadar kalau adikmu ini sedang ingin mencurahkan perasaannya?” teriak MinAh pada smartphonenya yang tidak bersalah.

Segera saja MinAh beranjak dari sofa di ruang TV dorm menuju kamarnya, dia mengambil sebotol wine lalu kembali ke sofa tempatnya duduk sejak 3 jam yang lalu.

Hari ini tidak seperti member yang lain, MinAh sedang tidak ada jadwal apapun sehingga dia menghabiskan waktu sendirian di dorm.

“Aku akan menghabiskanmu,” bisik MinAh pada botol yang tidak berdaya saat MinAh membuka dengan paksa tutupnya lalu langsung meminumnya tanpa basa-basi.

MinAh berhenti setelah pusing mendera kepalanya, dia terkejut karena tanpa sadar dia sudah menghabiskan ¾ isi botol yang sebelumnya tidak pernah MinAh lakukan seumur hidupnya.

“Pantas saja kepalaku pusing,” gumam MinAh kemudian meletakkan botol di meja. Tidak sengaja MinAh melihat smartphonenya yang ada di sebelah botol. Dengan menahan rasa sakit di kepalanya dia melihat jam di smartphonenya.

“Masih lama” gerutu MinAh.

Karena tidak sabar menunggu, MinAh mengambil smartphonenya dan memutuskan untuk menelepon Jungsoo, tidak peduli apa yang sedang Jungsoo lakukan. Langsung saja dia menekan nomor paling atas yang ada di recent calls, berharap kakaknya mau mengangkat telepon.

“Eoh…” sapa sang penerima telepon.

“Oppa oppa oppaaaa… ” seru MinAh senang.

“Wae?”

“Jungsoo oppaaaaa” panggil MinAh sekali lagi.

“Mworago?”

“Jangan tutup teleponnya!” ujar MinAh cepat.

“Omong-omong oppa sedang ada di mana? Kenapa berisik sekali sih?” tanya MinAh karena mendengar latar suara yang sangat berisik.

“Cafe… Wae geurae?”

“Cih, tadi katanya mau pulang ke rumah. Pembohong…Ya sudah aku akan mulai ceritanya ya….”

“…………………”

“Mmmm.. Sebenarnya aku berharap oppa datang ke dorm lalu kita minum wine bersama sambil mendengarkan ceritaku. Wine mahal ini seharusnya untuk Eric oppa, oleh-olehku dari Prancis. Tapi tidak jadi kuberikan, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.”

“Wae?”

“Nah, ini yang akan kuceritakan pada oppa. Tapi oppa janji jangan menceritakannya pada siapapun ya.. Eomma, appa, member Super Girls, manager oppa, terutama Eric oppa.”

“Okay.”

“Geurae. Oppa diam saja, dengarkan saja aku. Aku tidak butuh komentar dari oppa, aku hanya ingin hal yang mengganjal di hatiku ini kubagikan ke orang lain. Okay?”

“Eoh.”

“Good.. Jadi, aku pernah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah menonton drama Eric oppa. Aku tidak ingin melihat Eric oppa mencumbu atau berada di ranjang dengan wanita lain, rasanya seperti melihatnya berselingkuh dengan mata kepalaku sendiri.. Huh! Eh tapi Eric oppa tidak tahu hal ini, aku selalu memberinya alasan kalau aku tidak tertarik dengan cerita drama-dramanya. Untungnya Eric oppa mengerti dengan alasan yang kubuat-buat……”

Cerita MinAh berhenti saat dia tiba-tiba bersendawa.

“Hahahahahahahahaaaa..”

“Yaaaaaaaa~ Park Jungsoo! Diam kau! Haiiisshhh” hardik MinAh. Baru beberapa saat kemudian tawa yang MinAh dengar akhirnya berhenti.

“Arra arra… Lanjutkan.”

“Dasar…. Kulanjutkan ya.. Drama Eric oppa kali ini membuatku penasaran. Ceritanya dan karakter Eric oppa sungguh menarik dan belum pernah kulihat sebelumnya. Ditambah lagi, Eric oppa terlihat sangat mengagumkan di drama itu. Seksi sekali….” senyum di bibir MinAh merekah saat mengatakan itu.

“Mwo?”

“Eung.. Aku suka style Eric oppa di drama itu, dia terlihat lebih muda, hehee. Singkat cerita, akhirnya setelah beberapa saat menyiapkan hati, jiwa, dan raga, aku menonton drama itu. Dan ternyata, aku suka dengan ceritanya, aku berencana untuk menontonnya sampai selesai. Segala sesuatu di drama itu benar-benar menghibur.”

Lalu MinAh terdiam sejenak.

 “Tapi, chemistry Eric oppa dengan Hyunjin sunbaenim bagus sekali, terlihat nyata. Mungkin karena Eric oppa dan Hyunjin sunbaenim pernah sama-sama berada di SM jadi tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk membangun chemistry. Dan karena chemistry mereka yang bagus sekali itu, sejujurnya…. Aku cemburu dengan Hyunjin sunbaenim. Sangat cemburu,” lanjut MinAh lirih. Dia menghela nafas dalam-dalam.

MinAh tidak percaya kalau dia menceritakan hal ini pada orang lain walaupun orang itu adalah kakaknya sendiri.

Semua orang mengenal MinAh sebagai wanita yang jarang merasa cemburu pada wanita lain, tapi saat ini dia sedang mengakui kalau dia sedang cemburu pada lawan main kekasihnya. Sungguh kekanakan.

“Eeeerrrgghhh” tiba-tiba kepalanya terasa semakin pusing.

“Gwenchana?”

“Eung.. Hanya semakin pusing…”

“Kenapa tidak minum air jeruk? Kau selalu meminumnya kalau sedang mabuk”

“Aku sedang malas membuatnya… Ohya oppa, ingat ya, jangan sampai Eric oppa tahu hal ini. Aku bisa sangat malu kalau sampai dia tahu…”

“MinAh….” seseorang menepuk pundaknya.

“Aaaaaaaaaaacccckkkkkkk!!!!!!” teriak MinAh saat melihat orang yang menepuk pundaknya barusan.

“Wae? Wae?”

“Jung… Soo… Op.. Pa?” MinAh hampir pingsan saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

“Eoh… Wae? Kenapa mukamu pucat? Kau mabuk ya?” Jungsoo melirik ke arah botol wine yang hampir habis lalu memperhatikan wajah MinAh yang pucat pasi.

“Heol.. Lalu….. Siapa yang bicara denganku di telepon?”

“Molla… Memangnya kau menekan nomor telepon siapa?”

“Aku rasa aku menekan nomor paling atas di recent calls… Nomor oppa…”

“Nomorku?” Jungsoo menatap MinAh dengan bingung.

“Tolong aku oppa, tolong lihat siapa yang sejak tadi kuajak bicara..” pinta MinAh, nada suaranya terdengar bergetar, dia menyerahkan smartphonenya ke Jungsoo dengan jantung yang berdetak kencang.

Jungsoo menerima smartphone adiknya lalu melihat caller idnya.

“Eric…. Hyung….” jawab Jungsoo pelan.

Selama sepersekian detik MinAh merasa nyawanya melayang entah ke mana.

“Andwaeeeeeeeeeee!!!!!” disertai teriakan yang mampu membangunkan tetangga, MinAh berlari ke kamarnya lalu menguncinya.

“MinAh! Ada apa? Apa yang terjadi padamu?” Jungsoo menggedor-gedor kamar MinAh, tidak memahami apa yang sedang terjadi.

“Yoboseyo… Yoboseyo…”

“Ah.. Ne hyung… Sudah dulu ya hyung, aku akan mencari tahu dulu ada apa dengan adikku. Nanti aku akan menelepon hyung lagi. Mianhae.. Saranghae…” langsung saja Jungsoo memutuskan sambungan telepon lalu mulai menggedor-gedor lagi pintu kamar MinAh untuk meminta penjelasan dari adiknya.

***

Di sebuah cafe di daerah gangnam, Eric tersenyum-senyum sendiri sambil membaca naskah yang ada di tangannya.

“Ada apa oppa? Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Seo Hyunjin, lawan main Eric di drama ‘Ddo, Oh Haeyoung’.

“Ani. Hanya saja aku baru  mendengar sebuah rahasia besar, hahahaa. Ayo kita latihan adegan selanjutnya” ajak Eric.

Di dalam kepalanya, Eric sedang menyusun rencana untuk menggoda MinAh habis-habisan besok.

***
Thanks for reading ^^

The Sun that Embraces the Moon

Hope you enjoy it!:) would you like to leave your comments? Thank you so much for reading:)

Donghae sedari tadi hanya duduk di ruang makan sambil melihat smartphonenya yang tak kunjung menerima kabar dari Hamun. Donghae akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat kembali fotonya dan Hamun yang sudah ratusan kali ia lihat. Hanya supaya rasa rindunya yang menggebu ini bisa berkurang.
Continue reading

That Lady (Part 3)

September 2015

“Eo, Kyung soo ya~” panggilku pada sosok pertama yang kutemui di lobby

“Eo Joongki hyung~ sedang apa disini?” pekik Kyung Soo dengan mata lebar nya

“Menemuimu” jawabku sekenanya

“Eiyhh, kalau untuk menemuiku hyung tidak mungkin datang ke SM, hyung pasti menelpon dan menyuruhku datang ke apartemen mu.. Hyejin noona?”

Continue reading

That Lady – Part 2

August 2015

     ‘Yeoboseyo Hyejin a~’

     ‘Eo Oppa?’

     ‘Kalian jadi kemari?’

     ‘Eo wae? Shireo?’

     ‘Ani~ asal kalian tidak datang dengan tangan kosong’

     ‘Eiyhh tentu saja! Aku sudah menyiapkan Food Truck untukmu, Oppa’

     ‘Food Truck? Hanya itu?’

Continue reading

Mine is Mine

image

Hae my baby, see you soon!
Big hug and deep kisses from me.
PS. You’re too cute here. I can’t wait to meet you.

Aku merasa heran dengan pesan Kakao Talk yang dikirimkan oleh Hamun. Aku tidak ada jadwal kosong sampai satu minggu ke depan. Aku akan sibuk dengan festival kesenian yang dibuat oleh Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Seoul. Jadi tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Hamun.

See you soon, my baby Hamun.
Tapi aku rasa kita tidak akan bisa bertemu dalam waktu dekat.
Aku ada festival kesenian di tempat wamil-ku.
Mianhe, sayang.
PS. I miss you so much, my honey Hamunie.

Continue reading

Story From Year 2006

Cast :
Song Joong Ki
Song Hyejin
Cho Kyuhyun

image

Pada awalnya, aku merasa memiliki adik perempuan itu sangat menyenangkan. Aku jadi punya teman untuk aku goda kapanpun aku merasa bosan. Kencang suaranya saat menangis adalah tanda keberhasilan tersendiri untukku. Aku juga jadi punya teman untuk berbagi banyak hal, termasuk uang saku. Ketika aku memiliki kelebihan uang dan ingin belanja sesuatu tapi aku tahu aku tidak butuh apa-apa, aku punya alasan untuk membeli sesuatu. Lebar senyum Hyejin saat menerima pemberianku adalah salah satu definisi kebahagiaan untukku. Selain itu, yang paling utama sejak ia lahir, aku jadi memiliki seseorang yang membutuhkan perlindunganku. Ucapan terima kasihnya setiap aku berhasil menjauhkan laki-laki yang menganggunya merupakan kebanggaan untuk diriku sendiri.

Pada awalnya sampai ia  tiba-tiba muncul di kampusku dengan wajah sembap dan mata merah. Aku yakin sekali dia habis menangis. Ia duduk di hadapanku dengan menundukkan wajahnya tanpa bicara sepatah kata pun. Aku bertanya padanya tentang apa yang terjadi padanya sampai ia bisa menangis tapi ia tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Semua orang di kantin sudah menatap kami dengan curiga. Mungkin dipikir mereka aku melakukan yang tidak-tidak kepada bocah SMA ini dan ia datang meminta pertanggungjawabanku.

Tidak banyak yang tahu bahwa kami kakak beradik.

Continue reading

Dear My Sister

“Yoboseyo! Yoboseyo! Aduh! Suaramu tidak kedengaran. Yoboseyo! Telepon lagi saja nanti ya.”

Hyejin mematikan ponselnya dan aku menatapnya untuk diberikan penjelasan. “Mwo?” Tanyanya entah memang tidak mengerti atau hanya pura-pura.

“Sejak kapan kau pandai berbohong? Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Apa telingamu yang rusak?” Sahutku langsung. Aku tidak ingin menempuh jalan berkelok-kelok hanya untuk menyatakan aku tidak suka dengan perbuatan Hyejin. Sebagai kakak yang bertanggung jawab, aku tidak pernah mengajarkannya untuk berbohong.

Continue reading

That Lady – Part 1

July 2015

“CHUKKAEEE FOR YOUR DRAMA!!”

Baru membuka pintu apartemen, lagi-lagi aku disambut oleh suara memekakkan telinga dan pelukan bertubi-tubi, siapa lagi kalo bukan yeojadeul dongsaengdeul kesayanganku..

“Oppa kau beruntung sekaliii shooting dengan goddess eonni!! Kenalkan aku padanya.. Yaa yaa? Aku fans nya! Aku ingin ngobrol dengan nya tentang make-up, fashion, beauty aahhh~”

Si centil, Park MinAh

“Gampang, datanglah ke lokasi shooting, MinAh ya”

“Asssaa!!”

“Oppa~! Untuk kali ini saja kabulkan keinginanku.. Seo Dae Yeong.. Ani.. Jin Goo oppa.. Kenalkan aku padanyaaa~ Eung eung?? Tapi jangan bilang Kyuhyun..”

Si nona bawel nae dongsaeng, Song HyeJin yang sudah lupa dengan Lee Jin Ki tampak nya.. Padahal dia satu drama denganku..

“Apa kau sudah lupa pada Jin Ki?”

“Eiishh!!”

Continue reading

Brother Likes Her

“Hyejin-ah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Joong Ki di minggu pagi yang cerah di sebuah balkon hotel yang menghadap ke laut ditemani hembusan angin yang membuat sejuk kulitnya. Hyejin menyahut panggilan kakaknya dengan sebuah anggukkan sembari memotong-motong roti untuk kakaknya dan dirinya sendiri.

“Aku sedang menyukai seorang wanita,” kata Joong Ki dengan jujur. Sebagai kakak yang baik dan sangat menyayangi adiknya, Joong Ki memiliki prinsip tidak boleh ada yang ditutup-tutupi dari adiknya dan begitu juga sebaliknya. Sebagai adik yang baik dan juga sangat menyayangi kakaknya, Hyejin menghargai prinsip keterbukaan yang diterapkan Joong Ki meskipun kadang itu membuatnya kesal.

Hyejin menusukkan garpunya pada sepotong roti lalu menyuapkannya ke mulut Joong Ki. “Oppa makin kurus. Makan dulu,” paksa Hyejin lalu memakan rotinya sendiri setelah Joong Ki mengunyah roti yang disuapkan Hyejin.

Continue reading