Game of Love Part 5

Sudah dua hari ini Seunghyun sajangnim bersikap aneh, mmh, bukan aneh juga sih, seharusnya aku bahagia. Dua hari ini, dia tidak memerintahkanku untuk yang aneh-aneh. Dia juga selalu membicarakan perkara pekerjaan, tanpa membicarakan hal yang lain.

Seharusnya aku senang, namun kenyataannya tidak. Aku tau mengapa dia bersikap seperti ini.

“Sajangnim,” Aku mendapatinya sedang memegang frame photo yang ada di mejanya. “Sajangnim ada meeting dengan Lee Corp. pukul 10.00 nanti.”

Aku bisa melihat wajahnya menegang saat melihat kehadiranku. Dia hanya menganggukkan kepalanya, memberi isyarat dengan tangannya bahwa sebentar lagi dia akan berangkat menuju kantor Lee Corp. Aku tetap berdiri di depan pintu ruangannya, menunggunya untuk berbicara sesuatu.

“Sekretaris Choi, kau sudah boleh keluar,” ujar Seunghyun sajangnim tanpa memandangku. Kurasa aku harusnya mengikuti perintahnya, namun, aku memberanikan diri untuk mengabaikannya. Aku masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Kurasa ia menyadari aku tidak keluar dari ruangannya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke depan mejanya. Kini aku mendapatkan perhatiannya secara penuh.

“Ada yang mau kau bicarakan?” tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya ke meja.

“Aku,” otakku lama sekali memilih padanan kata yang tepat untuk menyampaikan ke bos ku bahwa smartphonenya rusak gara-gara Kim Woobin. “Aku minta maaf sajangnim karena tidak mengangkat teleponmu sore itu.”

Seunghyun sajangnim melipat kedua tangannya di depan dada, dia menatapku dengan tajam. “Kau tau kalau kau bisa saja aku pecat?”

Aku mengangguk.

“Bagus, kalau begitu, keluar dari ruanganku sekarang.”

“Oppa,” Aku tau memanggilnya dengan sebutan itu melanggar aturan yang ia tetapkan. Namun, kurasa ini bukanlah mengenai urusan pekerjaan. “Smartphone yang kau berikan rusak, maksudku, smartphone itu jatuh ke air dan hingga saat ini masih belum bisa dihidupkan.”

“Kau boleh keluar sekarang, Sekretaris Choi,” ia mengulang kalimatnya lagi tanpa ada ekspresi apapun “Dan kau tidak usah ikut ke kantor Lee Corp.”

Seunghyun sajangnim sepertinya marah besar kali ini, mungkin jika aku semakin memaksakan untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya aku akan langsung dipecat di tempat, saat ini juga.

+++

Sudah sejak dua hari lalu, Woobin oppa selalu datang untuk menjemputku, tentu saja lengkap dengan segala perlengkapan penyamarannya. Aku tidak mengerti mengapa para paparazzi itu tidak berhenti mengikutiku. Key pun semakin hiperaktif menanyakan bagaimana keadaanku, siapa namja bertopi yang selalu bersamaku (Oiya, Key tau mengenai sang namja bertopi itu dari berbagai artikel online) dan betapa menggilanya Soohee mencari perhatian berbagai media.

Smartphone pribadiku bergetar, satu pesan masuk. Aku melihat jam yang terpampang di layar smartphoneku, pukul 16.50. Hanya ada satu orang yang beberapa hari ini mengirim sms padaku tepat di sore hari.

Kau akan pulang seperti biasa?

Aku membalas pesan dari Woobin oppa dengan hati-hati, agar aku tidak membalas dengan kalimat yang terlalu membuatnya tidak nyaman dan menyadari jika sebenarnya aku sangat senang jika setiap sore dia selalu menjemputku seperti ini.

Ne, oppa.

Baru saja aku menyentuh layarku untuk mengirimkan pesan balasan, hanya selang beberap detik saja, Woobin oppa sudah mengirimkan pesannya lagi.

Baiklah, tunggu aku di tempat biasa

Aku tersenyum sendiri membacanya. Jika aku saat ini tidak di kantor, mungkin aku akan berjingkrak kegirangan. Namun setengah dari pikiranku masih bersama bos menyebalkanku itu. Hingga saat ini, dia belum kembali dari kantor Jongsuk oppa. Atau jangan-jangan malah dia tidak kembali lagi ke kantor? Huh, lagipula aku kan sekretarisnya, kenapa dia tidak memperbolehkanku ikut ke kantor Jongsuk oppa sih?

Aku hampir saja ingin menekan nomer teleponnya dan menghubunginya, tapi bagaimana jika Seunghyun sajangnim masih rapat dengan Jongsuk oppa? Arrrrggghhh, bos ku ini sungguh membuatku pusing!

“Sudah ah, masa bodoh dengan Choi Seunghyun, aku mau pulang,” tanpa sadar aku berbicara sendiri. Bukankah lebih baik memikirkan Woobin oppa daripada Seunghyun sajangnim? Tapi sama saja sih, kedua namja itu membuat migrainku langsung kambuh kalau memikirkan mereka terlalu lama.

Aku berjalan keluar dari gedung kantor menuju lorong kecil di samping toko roti tempat untuk bertemu dengan Woobin oppa. Namun dari kejauhan, aku melihat seseorang berpakaian formal lengkap dengan jas hitamnya berjalan lunglai ke arahku. Itu bukannya Seunghyun sajangnim?

Kakiku refleks menuruti otakku untuk berjalan lebih cepat. Ini aneh, bukankah dia seharusnya naik mobil? Maksudku, jarak tempuh dengan menggunakan mobil saja dari kantor Jongsuk oppa hingga ke sini memerlukan waktu setengah jam. Seunghyun sajangnim tidak berjalan kaki kan dari kantor Jongsuk oppa?

“Choi Jihyo,” gumam Seunghyun sajangnim dengan lemah. Ia menghentikan langkahnya begitu melihatku setengah berlari.

“Oppa,” Aku langsung panik begitu melihatnya dari jarak dekat. Wajahnya pucat, seluruh tubuhnya berkeringat. “Mobilmu mana?”

Seunghyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, dia malah mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Smartphone yang sama persis dengan smartphone yang ia berikan kepadaku pertama kali.

“Aku sudah menginstall aplikasi pelacak yang sama di smartphone ini, bahkan aku mengunduh dering Darth Vader,” ujarnya sambil tertawa lemah.

Aku mengambil smartphone baru itu dari tangannya. Oh Tuhan, tangannya benar-benar dingin. Betul saja, Seunghyun oppa tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pundakku.

“Oppa!” Aku perlu beberapa detik untuk menstabilkan pijakanku dan menahan tubuh Seunghyun oppa. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, namun yang terlintas pertama kali di pikiranku adalah membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku melambaikan tangan menghentikan taksi dan membawa Seunghyun oppa ke rumah sakit.

“Ya ampun Choi Seunghyun, mengapa kau sampai seperti ini sih?” Aku mengelap keringat di wajahnya dengan sapu tanganku sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Seunghyun oppa terus saja mengigau tidak karuan.

“Kau seharusnya menjawab teleponku,” igaunya berkali-kali. Kali ini dia sukses membuatku merasa bersalah tidak menjawab teleponnya saat itu. Lagipula ini semua salah Kim Woobin yang seenaknya menjatuhkan smartphoneku ke dalam kuah ramyun.

“Jane, kau seharusnya menjawa teleponku,” ucapan Seunghyun oppa seakan memukul keras kepalaku. Jane? Bukankah itu nama yang diucapkan saat Woobin oppa mabuk? Atau jangan-jangan dia yeoja yang ada di foto bersama Woobin oppa dan Seunghyun oppa?

Otakku tak bisa memproses siapa Jane yang dimaksud lebih jauh, taksi yang kami tumpangi sudah sampai di depan rumah sakit. Aku meminta tolong supir taksi untuk membantuku membawa Seunghyun oppa masuk ke dalam rumah sakit sebelum aku membayar ongkos taksi.

Seunghyun oppa langsung dibawa masuk ke UGD. Tak berapa lama, dokter keluar dan memberitahu jika Seunghyun oppa kekurangan cairan dan demam tinggi. Kemungkinan Seunghyun oppa bisa pulang setelah beristirahat sehari di rumah sakit.

Aku masuk ke ruangan Seunghyun oppa dirawat, tiba ternyata sudah sadar dan tersenyum kepadaku.

“Gomawo,” ujarnya lemah.

Aku tersenyum, setelah seharian ini, tidak, berhari-hari ini dia bersikap dingin kepadaku, akhirnya dia kembali pada Choi Seunghyun yang kukenal.

“Oppa, istirahatlah. Kalau kau menjadi anak baik, besok kau sudah boleh pulang.”

“Bagaimana aku bisa beristirahat jika kau terus mengocehiku seperti ini.” Baiklah, mungkin dia sudah kelewat kembali menjadi bos yang ku kenal, bos yang paling menyebalkan selama aku bekerja di Choi Enterprise.

“Ne oppa, kalau begitu aku pulang dulu,” Aku memanyunkan bibirku karena kesal. Bahkan Master Choi ini tidak berterima kasih padaku.

“Tunggu,” Seunghyun oppa meraih tanganku. “Kau boleh pulang kalau aku sudah tertidur,” Seunghyun oppa bergeser sedikit agar aku bisa duduk di ranjangnya. Dia meletakkan tanganku ke atas kepalanya. “Ini perintah,” ucapnya sambil memejamkan matanya.

Aku tidak tau entah keberapa kalinya aku melakukan perintah-perintah anehnya selama aku bekerja untukknya. Namun, untuk yang kali ini, aku melakukannya dengan senang hati karena aku tidak tega bosku tergeletak lemah di ranjang rumah sakit. Aku membelai rambutnya agar ia cepat tertidur.

“Oiya,” Seunghyun oppa masih saja berusaha berbicara walaupun matanya sudah terpejam.

“Wae?”

“Perusahaan kita memenangkan proyek dengan Lee Corp.”

“Aku sudah tahu,” jawabku singkat.

“Kau sudah tau?” Seunghyun oppa membuka matanya. “Dari Lee Jongsuk-ssi?”

Aku mengangguk penuh kemenangan. “Tentu saja Jongsuk oppa akan memberitahuku.”

“Ah,” Seunghyun oppa mendengus kesal. “Kim Group juga memenangkan proyek itu. Kurasa kau juga sudah tau.”

Aku mengangguk. “Sudah, tidurlah oppa.” Aku tidak mengerti mengapa dia masih terus mengoceh soal pekerjaan sedangkan sebelumnya berdiri saja dia tidak bisa.

“Lusa akan ada perayaan kemenangan proyek sekaligus melihat lokasi untuk proyek di Jeju,” Seunghyun oppa kembali memejamkan matanya, aku tau kelanjutan dari ucapannya.

“Ne, aku akan menemanimu ke Jeju. Ini perintah kan?”

Seunghyun oppa mengangguk pelan, dia tak bersuara lagi, mungkin sudah berjalan menuju alam mimpinya.

+++

Jam di rumahku berbunyi tujuh kali saat aku membuka pintu rumah. Aku menemukan appa, eomma, Kim ahjussi, dan Kim ahjuma sejak berkumpul di ruang tamu.

“Loh Jihyo, Woobin mana?” tanya Kim ahjuma saat melihatku masuk ke rumah sendirian. Apa? Woobin oppa? Aku kan pulang sendiri naik taksi dari rumah sakit sehabis mengantarkan Seunghyun oppa.

“Woobin bilang tadi ia akan menjemputmu di kantor,” timpal Kim ahjussi. Aku seketika memukul jidatku. Bagaimana aku bisa lupa jika aku berjanji pada Woobin oppa untuk pulang bersamanya? Apakah dia masih menungguku di lorong itu?

Aku langsung menyambar kunci mobil milik appa yang tergeletak di meja tamu dan langsung keluar rumah lagi tanpa menjelaskan apapun pada appa, eomma, Kim ahjussi dan Kim ahjumma. Duh Jihyo, mengapa kau tadi tidak mengabari Woobin oppa terlebih dahulu sih.

Selama perjalanan aku terus menghubunginya, namun Woobin oppa tidak menjawab teleponku. Apa mungkin dia tidak peduli denganku dan langsung pergi saat mengetahui aku tidak menunggunya di sana?

Begitu sampai di depan lorong aku langsung memarkirkan mobilku di pinggir jalan dan berlari kecill memasuki lorong, aku menyipitkan mataku agar bisa melihat di dalam lorong yang gelap itu. Namun sebelum mataku menyesuaikan dengan cahaya sekitar, Woobin oppa lebih dulu mendapatiku dan mendorongku dengan kencang ke tembok.

“Oppa, sakit,” Aku mengaduh kesakitan karena sikutku menghantam tembok dan kurasa agak lecet. Tangan Woobin oppa menekan pundakku dengan amat kencang hingga rasanya agar menimbulkan biru di kulitku. Kini mataku sudah beradaptasi dengan cahaya yang minim di tempat ini, dan aku bisa melihat mata Woobin oppa yang dipenuhi kekesalan, kemarahan, dan anehnya kurasa ada sedikit kesedihan di matanya.

“Aku sudah menunggumu sejak jam 5 sore tadi,” dari suaranya aku tau jika ia menggigil, dan aku merasa bersalah karenanya.

“Aku harus mengantar Seunghyun sajangnim dulu ke rumah sakit,” ucapku jujur. Woobin oppa langsung melepaskan tangannya dari pundakku. Ia mundur beberapa langkah dari hadapanku. Napasnya tersengal-sengal, namun aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena ia menjauhiku.

“Kau ke sini naik mobil?” ucapnya lemah.

“Ne,” jawabku sambil berjalan menuju ke arah mobilku dan Woobin oppa mengikutiku dari belakang. Aku tidak berani menoleh ke belakang, aku tidak tahu bagaimana keadaan mood Woobin oppa saat ini. Terlalu mengerikan untuk sekedar bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak, karena kenyataannya, Kim Woobin tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Mengapa kau selalu memperdulikan Seunghyun?” suara Woobin oppa terdengar menyedihkan di telingaku. Apa dia menangis? Mana mungkin seorang Kim Woobin menangis karena hal seperti ini?

“Karena,” Aku memberanikan diriku memutar badanku untuk melihat keadaan Woobin oppa di belakangku, namun percuma saja, ia menutup dengan sempurna wajahnya menggunakan topinya sehingga aku hanya bisa melihat siluet saja. “Aku adalah sekretarisnya,” ucapku ragu. Mungkin karena pada kenyataannya, aku peduli terhadap bos ku yang menyebalkan itu.

+++

Aku hanya bisa terus mengucapkan kata “Woaaaah!” untuk perjalanan dinas kali ini. Bagaimana tidak, semua akomodasi ditanggung oleh Lee Corp., mereka bahkan menutup sebuah resort terbaik di sana untuk acara ini. bahkan tadi saja aku dijemput di rumah dengan mobil perusahaan Jongsuk oppa, daebak! Kudengar berbagai band papan atas akan mengisi acara makan malam nanti. Ya ampun, menurutku ini bukannya kerja, tapi liburan, hahaha.

“Oppa,” aku setengah berlari agar bisa menyusul Jongsuk oppa yang berjalan paling depan. “Gomawoyoooooo! Ini benar-benar liburan, liburaaaan!” teriakku sambil bergelayut manja di lengan Jongsuk oppa.

“Haha, dasar bocah tengil. Kau harusnya berterima kasih pada bosmu karena sudah mengajakmu ikut,” Jongsuk oppa mencium kepalaku dengan cepat. Lalu ia menengok ke belakang dan tertawa sendiri.

“Kenapa sih tertawa sendiri?” Aku menatap Jongsuk oppa dengan tatapan aneh, dia terus saja tertawa.

“Kurasa, aku sudah membuat dua orang di belakang ingin menghajarku saat ini juga,” ujar Jongsuk oppa dengan nada kegirangan.

Aku langsung menengok ke belakang, aku hanya melihat beberapa karyawan dari Lee Corp., Seunghyun sajangnim, dan Woobin oppa, Soohee yang anehnya tetap diajak ikut oleh Woobin oppa dan Jongsuk oppa mengizinkannya, serta sekretaris Woobin oppa yang sok cantik itu saja kok. Aku tidak melihat ada orang yang berniat jahat pada Jongsuk oppa. Mungkin ini hanya lelucon garing Jongsuk oppa saja, huh.

Rombongan kami langsung masuk ke pesawat. Jongsuk oppa, Seunghyun sajangnim, bersama Woobin oppa (dan Soohee tentunya) duduk di bagian depan. Aku terpisah tempat duduk dari rombongan, tidak apalah, paling tidak mereka tidak akan melihatku tidur dengan mulut terbuka nanti, hahaha.

Aku menaikkan koperku ke atas tempat penyimpanan, namun aku sendiri tidak menyadari jika koperku ternyata cukup berat hingga aku hampir saja tertimpa koperku sendiri saat sedang berusaha mengangkatnya.

“Aaaaaak,” Aku berteriak heboh sambil memejamkan mataku karena koper yang aku angkat sudah siap beradu dengan kepalaku, lalu aku melihat sebuah tangan yang panjang dari belakangku menahannya.

“Kau harus hati-hati, agassi,” ujar namja di belakangku, ia membantuku menaruh koperku dengan benar. “Kau duduk di sini?”

Aku mengangguk. “Kursiku di dekat jendela,” Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Ternyata, sang namja penolongku ini duduk di sebelahku. Aku sempat melirik Jongsuk oppa berdiri menatapku sambil tersenyum jahil. Mungkin karena tadi aku berteriak agak berlebihan hingga semua orang menatapku. Namun, tatapan paling menyebalkan tentu saja datang dari Woobin oppa dan Seunghyun oppa yang sepertinya ingin menerkamku saat ini juga.

Aku adalah tipe orang yang akan memilih mendengarkan musik sambil tidur di pesawat, namun entah mengapa perjalanan kali ini aku tidak bisa tidur. Aku berulang kali memencet-mencet lagu apapun yang aku temukan di playlist yang terpampang di layar entertainment di depanku.

“Tidak bisa tidur?” tanya namja di sebelahku.

Aku mengangguk.

“Aku juga tidak bisa. Oiya, aku Ahn Jae Hyun,” dia menyodorkan tangannya, aku menyambutnya dengan senang. Bagaimana tidak senang jika sebelahmu ada namja setampan dan seputih ini bahkan aku saja kalah putih bersinar.

“Choi Jihyo,” ucapku mantap. Kami berdua langsung terlibat pembicaraan yang seru, ternyata kami berdua sama-sama suka menonton film namun bedanya aku suka film science fiction sedangkan Jae Hyun-ssi lebih suka film horror. Aku juga mengetahui jika Jae Hyun-ssi memiliki restoran yang cukup terkenal di Jeju, bahkan restorannya di review oleh majalah penerbangan ini.

“Woooah, restoranmu ada di majalah,” Aku dengan semangat membaca artikel di majalah tersebut. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Seunghyun sajangnim melewati barisanku, mungkin dia mau ke toilet, tapi mengapa dia terus saja menengok ke arah bangkuku sih?

“Kau bisa datang dan mencoba makanan di restoranku jika nanti kau ada waktu. Untuk kedatangan pertama gratis,” Jae Hyun-ssi memberikan kartu namanya kepadaku.

‘Jjinja?” Aku mengucapkan kata itu dengan lengkingan keras hingga (sepertinya) membuat Woobin oppa terlihat bangkit dari kursinya lalu memelototiku. Ia berjalan menuju arahku dan terus berjalan ke toilet. Ada apa sih sebenarnya dengan kedua orang itu?

“Jjinja, dan nanti aku akan mengenalkanmu dengan chef terbaikku,” seru Jae Hyun-ssi.

“Aaaah, chef yang kau taksir itu yah?” godaku. Ada lagi satu kesamaanku dengan Jae Hyun-ssi. Ternyata kami berdua lebih nyaman membicarakan mengenai seseorang yang kami cintai dengan orang yang tidak kami kenal sama sekali dibandingkan dengan orang terdekat kami. Seperti saat ini, Jae Hyun-ssi bercerita jika ia sangat menyukai chef yang sudah bekerja di restorannya selama dua tahun. Tentu saja aku menceritakan mengenai Woobin oppa padanya, hanya saja aku tidak mengatakan jika orang yang aku cintai ada bersama kami di pesawat ini.

“Ne, aku akan mengenalkanmu pada Hyunah, tapi kau juga harus bawa Woobin oppa mu itu,” tantang Jae Hyun-ssi. Aku cemberut, mana bisa aku tiba-tiba mengajak Woobin oppa untuk makan berdua di restoran Jae Hyun-ssi.

Tidak terasa ternyata pesawat kami sudah mendarat. Jae Hyun-ssi membantuku menurunkan kembali koper, katanya teriakanku terdengar saat nyaring hingga bisa membuat telinga penumpang lain sakit. Aku refleks memukul lengannya. Apa-apaan namja ini baru bertemu sebentar sudah mengejekku. Aku sepertinya menemukan jiwa Key di diri Jae Hyun-ssi sehingga sepanjang jalan menuju ke dalam bandara saja aku dan Jae Hyun masih berbincang-bincang. Begitu melihat rombonganku sudah berkumpul di lobi bandara, aku pamit ke Jae Hyun dan berjalan menghampiri rombongan.

“Nona Choi, kau dalam masalah besar,” entah mengapa ucapan Jongsuk oppa seperti meledekku begitu melihatku datang.

“Sekretaris Choi, hidupkan kembali smartphonemu. Aku sulit untuk menghubungimu nanti,” perintah Seunghyun sajangnim. Aku tau, dia pasti menyuruhku untuk menghidupkan kembali smartphone ‘pemberian’nya itu agar dia bisa kembali memerintahku sesuka hatinya, nasib.

“Jihyo-ah,” teriak seseorang setengah berlari menghampiri rombongan kami.

“Jae Hyun-ssi, ada apa?” tanyaku begitu melihat sosok Jae Hyun mendekat.

“Aku lupa meminta nomermu. Ini, ketiklah,” Jae Hyun menyodorkan smartphonenya padaku. Apa ini perasaanku saja, atau memang Jongsuk oppa, Woobin oppa, dan Seunghyun sajangnim langsung memberikan tatapan tajam ke arah kami berdua?

Game of Love Part 4

Aku memandangi jam tanganku, satu menit lagi jam tanganku akan menunjukkan pukul 08.00 pagi, pasti sebentar lagi bos kesayanganku itu akan segera muncul membuka pintu ruangannya.

Daaaaaan, betul! Seunghyun sajangnim muncul sambil menenteng iPad nya, ia bahkan tidak melihat aku yang sejak tadi menunggunya di dekat ruangannya. Ia malah langsung masuk ke ruangannya.

“Sajangnim?” Aku membuka pintu ruangannya dan memasang tampang karyawan berprestasi. “Boleh masuk?”

“Kau sudah datang sepagi ini?” ujar Seunghyun sajangnim tanpa melihatku, matanya tak lepas dari layar iPadnya. “Oh, matamu tidak terlihat bengkak.” Kini perlahan ia melepaskan pandangannya dari layar iPadnya menuju ke wajahku.

“Itu dia masalahnya, sajangnim,” Aku menutup pintu ruangan sajangnim. “Masalahnya mengapa kau memasang aplikasi pelacak ke smartphoneku, SAJANGNIIIIM?”

“Apa hubungannya pertanyaanku mengenai matamu yang tidak bengkak dengan aplikasi pelacak di smartphoneku?” Seunghyun sajangnim memasang tampang tak berdosa. Aku tidak akan kalah hanya karena ia memasang tampang tampannya yang pura-pura tulus tak berdaya seperti itu.

“Mataku tidak bengkak karena aku tidak menangis lama. Mengapa aku tidak menangis lama? Karena aku sadar jika kau memasang aplikasi pelacak di smartphoneku!” Aku tau aku tidak seharusnya marah-marah ke atasanku. Namun ini keterlaluan, aku akan mengadu ke Dewan Pekerja Perusahaan!

“Kalau aku tidak menggunakan pelacak itu, mungkin aku tidak akan bisa menjemputmu dan kau akan menangis semalaman. Lalu matamu bisa bengkak lagi dan kau akan jadikan alasan tidak masuk kerja hari ini,” Seunghyun sajangnim beranjak dari kursinya dan menghampiriku. “Lagipula, smartphone itu aku yang berikan kepadamu, Sekretaris Choi. Jadi smartphone itu bagaimanapun juga tetap milikku, arra?”

“Sajangnim,” Aku berusaha menata setiap kalimatku kini lebih sopan daripada aku dipecat. “Sajangnim kan sudah memberikan smartphone itu kepadaku, jadi bukankah itu seharusnya sudah jadi milikku dan sajangnim seharusnya tidak memasang aplikasi pelacaknya,” Aku berbicara pelan-pelan agar aku tidak emosi. Namun sayang, melihat seringaiannya saja rasanya sudah membuatku emosi pada CEO Choi Enterprise.

“Apa aku pernah mengatakan bahwa smartphone itu gratis?” Seunghyun sajangnim semakin mendekat padaku, aku praktis melangkah mundur belakang.

“Tidak pernah, sajangnim,” Aku merutuk diriku sendiri tidak berpikir panjang saat aku ingin protes ke Seunghyun sajangnim mengenai aplikasi pelacak ini.

“Bagus,” Seunghyun sajangnim meletakkan telapak tangannya di kepalaku. “Ada keluhan lain Jihyonnie?” Ia tersenyum, anehnya kali ini aku merasa dia sangat tampan tersenyum setulus itu.

“Tidak ada sajangniim,” Baru saat ini, aku sekuat tenaga melawan pesona bos ku yang menyebalkan ini.

“Kalau tidak ada keluhan lain, bereskan mejaku. Pilih dokumen-dokumen apa saja yang penting,” Seunghyun sajangnim memutar kenop pintu dan melenggang keluar. Aku hanya bisa menganga tidak percaya dengan perkataannya tadi. Aku disuruh membereskan mejanya? Dasar keterlaluan!

Aku bersungut-sungut mendatangi meja Seunghyun sajangnim. Haduh, sepertinya dia selalu menyuruhku membuat semua presentasi dan dokumen dalam bentuk softcopy. Darimana pula datangnya kertas-kertas ini?

Aku tak bisa bertahan lama membereskan tumpukan kertas itu, mataku tertuju pada salah satu sudut meja Seunghyun sajangnim. Berdiri tegak frame foto dengan latar belakang sebuah gedung, sepertinya itu gedung kampus. Namun yang membuat seluruh perhatianku melihat foto tersebut bukanlah karena gedung tersebut, namun tiga orang yang berada di depan gedung tersebut.

Selama ini, Seunghyun sajangnim selalu berkata jika dirinya dan Woobin oppa bersahabat. Namun, sejujurnya, saat aku pertama kali melihat mereka berdua berada di tempat yang sama, aku tidak merasakan adanya keakraban diantara mereka, hingga saat ini.

Berbeda dengan kedua namja di foto tersebut, mereka berangkulan, tertawa lepas, mengapit seorang yeoja yang sepertinya adalah orang Amerika atau Eropa. Rambut brunettenya kontras dengan kulitnya yang sangat putih. Apakah yeoja itu-

Getaran di saku rok ku menghentikan sejenak dugaan yang berkecamuk di kepalaku akan yeoja itu. Aku merogoh saku dan mengambil smartphoneku. Ya ampun, Kakao message dari Key. Dia itu sebenarnya kerja tidak sih?

Jihyo, kau harus liat berita ini, A.S.A.P

Aku mengklik link berita yang diberikan oleh Key. Dan, memang benar pesan dari Key, aku harus segera melihat berita ini. Ada foto Woobin oppa sedang bermesraan dengan Soonhee dan di foto satunya ada aku yang sedang membopong Woobin oppa ke dalam mobil. Judul artikel itu membuatku bergidik hingga aku tidak mau mengingatnya.

Aku menekan nomer handphone Key yang sudah sangat aku hapal. “Key, apa-apaan itu?!”

“Ya! Harusnya aku yang bertanya apa-apaan itu!” Aku langsung menjauhkan smartphoneku dari telinga karena teriakan Key yang lebih mirip seperti seorang eomma yang sedang mememarahi anaknya.

“Aku tidak tau kalau ternyata seperti ini jadinya. Lagipula aku kan hanya mengantarkan Woobin oppa ke apartemennya!” Apa sih salahku, aku kan tunangan (gelap)nya. Kalau ada pihak yang harus disalahkan, harusnya si selebritis itu!

“Kau tau, ini akan menjadi skandal besar kalau Soonhee si diva itu berbicara yang tidak-tidak. Tidak ada yang bisa aku lakukan, Woobin hyung baru saja berangkat ke Inggris,” Key terus saja menyerocos tak karuan. Apa? Woobin oppa ke Inggris? Dia pergi begitu saja saat tiba-tiba ada berita besar tentang dirinya.

“Hyonnie, kau terlibat masalah besar kali ini. Mulai hari ini, berhati-hatilah. Setiap gerak-gerikmu akan diawasi oleh para paparazzi, okay?”

“Key, aku bukan selebritis atau chaebol. Aku tidak mau diikuti paparazzi,” Aku merasa ngeri sendiri. Jika saja Siwon oppa ada di sini, dia bisa jadi bodyguardku dengan ilmu taekwondonya itu. Kenapa sih dia malah memilih menetap di Amerika, huhuhu.

“Jihyo,” suara Seunghyun sajangnim membuat aku refleks mematikan sambungan teleponku dengan Key. Dia seperti biasa, muncul tiba-tiba.

“Ne, sajangnim?” Aku melirik iPad yang dia genggam. Apa jangan-jangan Seunghyun sajangnim sudah membaca berita yang beredar? Bagaimana kalau aku dipecat gara-gara itu?

“Kau sudah membereskan mejaku?” Dia memandangi mejanya yang baru saja dibersihkan setengah dari tumpukan kertasnya.

“Masih belum selesai sajangnim, masih setengah lagi, hehe,” Jujur itu pangkal disayang oleh bos. Itu mottoku, walaupun lebih banyak tidak ada hasilnya hahaha.

“Tidak usah, siapkan presentasi untuk siang nanti,” ujar Seunghyun sajangnim sambil merapikan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. WHAT? Kalau dia bisa merapikan mejanya sendiri, mengapa menyuruhku sih.

“Ne sajangnim,” Aku melangkah keluar dari ruangannya. Baru saja aku menutup pintunya, dering smartphoneku terdengar. “Yoboseyo sajangnim?”

“Aku tidak suka kau memasangkan theme song Darth Vader itu untukku,” ucapnya cepat dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Aku tertawa, kadang sajangnim ku ini memang seperti anak kecil.

+++

Apa ini hanya perasaanku atau aku yang memang sedang diikuti? Aku melihat jam tanganku, ini baru jam 5 sore. Kalau ada apa-apa, aku bisa berteriak dan masih banyak orang yang pulang kerja lewat jalan ini.

Harusnya aku memang lebih hati-hati jika berurusan dengan Kim Woobin. Aku lupa jika dia adalah pewaris salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Aku lupa jika popularitasnya sangat tinggi, apalagi dikalangan para yeoja khususnya para selebritis.

“Tolong!” Aku berteriak saat ada seseorang yang menarikku menuju lorong kecil, teriakanku dihentikan dengan bungkaman tangannya. Jantungku berdegap sangat cepat. Seingatku Key mengingatkanku untuk berhati-hati dengan paparazi, bukan dengan penculik.

“Kau berteriak sangat kencang,” bisik orang yang sedang membungkamku, aku kenal dengan suara ini. “Kau tau, paparazzi itu bisa mendengarmu dan menciptakan skandal baru?” Aku bisa merasakan hembusan napasnya menyapu leherku, aku berbalik dan menemukan seorang namja dengan turtleneck sweater biru navy dan topi yang memberikan senyum mengerikannya kepadaku.

“KAU TAU, INI TIDAK LUCU!” Aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga dengan high heelsku ini. Aku tidak mengerti apa maksudnya tiba-tiba datang menyergapku seperti penculik.

“Mianhae,” baru kali ini aku mendengar kata itu keluar dari mulut Kim Woobin. Baiklah, aku memang mudah luluh hanya karena satu kata seperti itu saja.

“Kau, bukannya sedang di Inggris?”

Woobin oppa tidak menjawab pertanyaannku, dia meraih jemariku dan menggenggamnya, lalu menuntunku berjalan keluar dari lorong. “Bersikaplah senatural mungkin agar para paparazzi itu percaya.”

Jika ada orang yang bertanya bagaimana perasaanku saat ini, mungkin seperti sedang berada di jet coaster. Kau tau, ada rasa senang tidak terkira, dan di sisi lain kau takut dan ingin segera permainan ini berakhir, namun begitu permainan kereta behenrti melaju, kau akan sadar bahwa kau menyukai permainan seekstrim itu dan tidak ingin pergi.

“Oppa,” Aku tak berani menatapnya langsung, aku takut jika wajahku yang bersemu merah ini terlihat olehnya. “Bukankah kau sedang keluar negeri?” Ak menanyakan hal itu sekali lagi.

“Aku hanya mengelabuhi para paparazzi itu,” Woobin oppa terdengar malas menjawab pertanyaanku. “Kau tidak baca artikel lengkapnya?”

Aku menggeleng.

“Namja yang terlihat seperti pewaris tahta kekayaan Kim Group, Kim Woobin, terlihat memasuki mobil bersama yeoja lain. Sesaat sebelumnya, ia tertangkap bermesraan dengan selebritis A-List, Soonhee,” ujarnya mengutip salah satu artikel. “Kau tau, namja yang terlihat, mirip,” Woobin oppa menekankan kata ‘mirip’ kepadaku.

Aku mengerti maksudnya, semua paparazzi sudah memberitakannya bahwa ia pergi ke Inggris, sedangkan di hari yang sama, Woobin oppa akan tertangkap kamera sedang berjalan bersamaku. Tentu saja tidak akan ada orang yang sama dalam dua tempat yang berbeda yang jaraknya beribu-ribu kilometer.

Sepanjang kami berjalan pulang, aku tak lagi mengatakan satu hata pun kepadanya. Aku tidak sampai sejauh itu memikirkan rencananya seperti ini. Aku sadar jika dia memang benar-benar tidak ingin dunia mengetahui jika aku dan dirinya bertunangan. Mungkin saja karena memang dia benar-benar mencintai Soonhee, atau memang dia hanya tidak ingin statusnya sebagai casanova jatuh begitu saja karena bertungan dengan yeoja kebanyakan sepertiku.

“Aku lapar,” ujarnya memecah kesunyian. Dia menarikku mengikutinya memasuki sebuah convenience store dan segera melepaskan genggaman tangannya dariku.

“Kau mau apa?” ujarnya, aku menggeleng. Aku tidak lapar, tidak haus, tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin dia terus berada di sampingku, tidak melepaskan genggaman tangannya dariku.

Aku melangkahkan kakiku untuk menuju tempat duduk, aku masih bisa melihat dari kaca convenience store, para paparazzi itu bersembunyi agar tdak terlihat dariku dan Woobin oppa. Apa mereka saat ini sedang bingung menebak-nebak siapa namja yang sedang bersamaku? Atau penyamaran Woobin oppa yang hanya menutupi wajahnya dengan topi sangat mudah mereka tebak?

“Ini,” Woobin oppa menyodorkan cup ice cream dan french fries ke hadapanku. Aku tersenyum melihatnya. “Gomawoyo, oppa,” tanpa sadar aku mengucapkan kata terima kasih dengan mode aegyo full.

“Hah, kau ini masih saja suka makanan aneh seperti ini,” ujarnya duduk sambil membuka cup ramyunnya.

“Ini tidak aneh,” aku menyendok ice cream vanilla kesukaanku dengan french fries, lalu memakannya. Baru saja aku mau memasukkan lagi satu french fries ke dalam mulutku, namun otakku mengetuk-ngetuk sejenak, bertanya bagaimana bisa Woobin oppa mengingat makanan kesukaanku sejak kecil ini.

“Kau tau, mana ada orang di dunia yang punya kesukaan aneh sepertimu? French fries seharusnya tetap bersama saus tomat,” Woobin oppa menyeruput ramyunya dengan cepat.

“Ada banyak orang di dunia ini yang suka memakan french fries dengan ice cream,” Aku paling tidak mau kalah kalau berdebat mengenai ice cream dan french fries ini. “Daripada kau. Ususmu sejak kecil sudah keriting karena terobsesi dengan ramyun,” aku menjulurkan lidahku.

“Ramyun itu makanan terenak yang pernah aku makan,” ujar Woobin oppa dengan mulut yang penuh dengan ramyun. Namun aku tidak terlalu memberi perhatian pada ucapannya. Aku tersentak saat mendengar lagu kesukaanku diputar.

“Saranghagi ttaemune!” ujarku bersemangat.

Woobin oppa sejenak memandangku dengan tatapan aneh, aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya dia pikirkan. Namun aku dengan cepat memberikan petunjuk sambil mengunjukkan jari telunjukku ke udara. “Ini lagu Saranghagi ttaemune versi Super Junior, Yesung oppa, Ryeowook oppa, dan -”

“Bisa tidak kau diam? Aku sedang makan,” Woobin oppa memelototiku. Aku tau dia kesal, tapi aku tidak peduli.

“Dan uri Sungminnie oppa~” ujarku sambil memasukkan beberapa french fries ke mulutku.

“Ya! Choi Jihyo!” teriaknya sambil memukul pelan tanganku. Aku tertawa. Dulu, aku ingat sekali saat Super Junior pertama kali debut. Aku selalu berteriak kepada seluruh orang di rumah dan orang-orang terdekatku jika aku menyukai Lee Sungmin, salah satu anggota dari boyband tersebut, dan suatu hari nanti aku akan menjadi istrinya.

“Waeyo, oppa?” Aku memberikan tatapan jahil kepada namja di hadapanku. Betapa anehnya aku kini merasa nyaman bersamanya, sama seperti kami kecil dulu, sebelum Woobin oppa tiba-tiba menjauh dariku.

“Lee Sungmin sudah menikah!” ujarnya cepat.

“Molla molla,” Aku menggelengkan kepalaku yang membuatnya semakin kesal. Aku ingat bagaimana kesalnya Woobin oppa dulu jika aku sudah mulai membicarakan idolaku itu. Dia akan membekap mulutku hingga aku berhenti mengoceh tentang Sungmin oppa.

“Apa menariknya sih memang, Lee Sungmin mu itu?”

“Banyaaaaak! Minnie oppa itu-” Aku hanya bisa melanjutkan kalimatku dengan gumaman, Woobin oppa sudah membekap mulutku dengan tangannya.

“What? Sorry, I can’t hear you, Jihyo,” Woobin oppa merasa dirinya sangat menang saat ini.

Aku baru saja berusaha melepaskan tangannya dari mulutku saat dering Darth Vader menggema dari smartphoneku yang tergeletak di meja. Saat aku mau mengangkat telepon, Woobin oppa dengan cepat menyentuh layar smartphoneku dan memutuskan sambungan telepon.

“Ya! Oppa!” Aku protes dengan tindakannya. Dia tidak tau apa kalau itu telepon dari Seunghyun sajangnim?

“Kemarin malam aku bermimpi aku mendengarkan lagu itu. Lagu itu menganggu tidurku,” ujarnya tanpa rasa bersalah. Apa Woobin oppa kemarin malam sadar jika smartphoneku berbunyi saat aku berada di kamar Woobin oppa?

Smartphoneku menyala kembali, dering Darth Vader itu semakin menggema, tanganku dengan kecepatan tinggi aku gerakkan untuk mengambil smartphoneku dari meja, namun sepertinya kecepatan tangan Woobin oppa melebihi kecepatanku, dia mengambilnya dan membaca nama penelpon di layar smartphoneku.

“Oppa, berikan smartphoneku!”

“Master Choi,” ujarnya membaca nama penelpon.

“Oppa, kemarikan! Itu telepon penting!” Aku geregetan melihatnya. Seunghyun sajangnim sudah beberapa kali menghubungiku, pasti ada yang penting.

“Jadi di perusahaanmu diperbolehkan jika bos dan sekretarisnya menjalin hubungan khusus?” sindirnya. Aku tidak percaya dia mengatakan hal seperti itu.

“Mwo? Kembalikan smartphonenya, cepat!” Apa-apaannya dia? Berani-beraninya dia menuduhku seperti itu. Apa dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang menjalani hubungan khusus dengan sekretaris menyebalkannya itu!

Dan tindakannya kali ini tidak bisa aku percaya. Woobin oppa dengan tampang tidak berdosa menjatuhkan smartphoneku ke dalam kuah ramyunnya.

“Oppaaaaa!” aku bangkit dari tempat dudukku dan memukul pundaknya bertubi-tubi dengan kesal. Anehnya, aku tidak merasa Woobin oppa kesakitan, ekspresi wajahnya dan tawanya malah mengatakan sebaliknya.

Game of Love Part 3

Annyeeong! Maaf banget baru di update kelanjutanya sekarang. Semoga masih ada yang inget dengan series ini. Kalau ada yang lupa, jangan lupa kunjungi library yaaah untuk baca part 1 dan part 2 nya hehehe *promosi*

Aku mencoba untuk berjalan normal dengan stiletto ini, namun tidak bisa. Kakiku masih sedikit terasa sakit karena terkilir, padahal ini sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu.

“Hyonnie, mana Woobin?” Kim ahjumma menepuk pundakku. Aku hanya bisa menunjukkan senyum panikku. “Uhm, tadi ada, ahjumma.” Sebenarnya, sejak aku datang ke pesta ini setengah jam yang lalu, aku belum melihat Woobin oppa.

“Dia tadi menjemputmu, kan?” Kim ahjumma berusaha menelisik ekspresi wajahku, mencoba mencari tahu aku berbohong atau tidak. Sayangnya, aku memang ahli berbohong jika itu berkaitan dengan namja yang bernama Kim Woobin. Aku mengangguk merespon pertanyaan ahjumma. “Tadi dia ke toilet dan aku tidak melihatnya lagi.”

“Ah, anak itu memang benar-benar! Sebentar lagi sudah waktunya acara puncak dan potong kue. Kalau kau lihat Woobin, kabari aku ya Hyonnie. Haduh Yuna kemana juga sih?” Kim ahjumma pergi meninggalkanku sambil mendumel.

“Kau lihat Woobin hyung?” gantian Key kini mengagetkanku.

“NO!” Aku memberikan tampangku paling masam kepada sahabatku ini. “Kenapa sih semua orang menanyakan Woobin oppa kepadaku?”

Continue reading

We Fight and Make Love

THE MOST ROMANTIC COUPLE OF THE YEAR
By : Top Class Socialite

Aku cukup membaca judulnya dan melihat foto pria paling menyebalkan sedunia yang sedang menciumku di pinggir pantai dengan penuh kasih sayang sekaligus penuh nafsu, entah bagaimana website ini bisa mendapatkan foto tersebut. Aku tidak perlu membaca isinya yang pasti mengagung-agungkan pernikahan kami seolah pernikahan kami adalah pernikahan terbaik sepanjang sejarah. Aku sudah hafal kebiasaan website satu ini.

Continue reading

Nice To Meet You Too

Setahun sudah berlalu sejak ia pergi meninggalkanku. Ia, wanita yang memiliki keberanian luar biasa sehingga bisa menyampaikan isi hatinya lebih dulu kepadaku meskipun ia seorang perempuan. Tepat di hari kelulusannya, setelah bersahabat denganku 2 tahun lamanya, ia menyatakan cintanya padaku. Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi aku tidak berani membalas perasaannya karena, mungkin terdengar konyol tapi bagiku sangat serius, aku belum lulus kuliah. Ia lebih muda dariku tapi ia sudah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya. Bagaimana bisa aku bertanggung jawab pada dirinya jika pada diriku sendiri saja aku tidak bisa.  Hal ini yang membuatku berpikir untuk memberikan sebuah pekerjaan di perusahaan ayahku dengan berbagai macam klausul untuk ayahku yang intinya ia harus menjaga gadis ini baik-baik.

Dan aku memutuskan untuk kembali hari ini. Sudah bertahun-tahun aku meninggalkan Seoul, aku masih ingat seluk beluk kota ini. Kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang telah banyak berubah sejak aku tinggal 5 tahun lalu namun tetap memberikan rasa hangat yang sama ketika aku kembali menginjakkan kakiku ke tanah. Meskipun aku sangat menyukai London, aku lebih menyukai Seoul karena itu aku mempercayakan gadis yang paling aku cintai pada kota ini.

—-

Continue reading

Nice To Meet You

Hello…
Langsung aja yaa..
Semoga pada suka.

XoXo

Masih terekam jelas di ingatanku hari pertama musim semi menggantikan musim dingin 3 tahun lalu. Hari dimana pertama kali aku melihatnya. Seorang gadis sederhana di antara para gadis mewah yang bergerombol menghampiriku. Aku pikir gadis itu akan ikut mengerubungiku ternyata ia hanya terjebak dalam kumpulan itu. Saat para gadis lain berusaha mendapatkan perhatianku, ia justru memisahkan diri. Ia berlalu meninggalkanku dengan sebuah senyum basa-basi sopan yang ia berikan padaku.

2 hari kemudian aku bertemu lagi dengannya. Ia sedang duduk sendirian di kantin dengan buku setebal kitab suci yang terbuka lebar di hadapannya. Entah mendapat keberanian darimana, aku mengajaknya berkenalan. Sejujurnya, dia tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis lain yang aku kenal. Dia banyak bicara, seperti gadis lainnya, namun aku bisa merasakan bahwa apa yang keluar dari mulutnya tidak dibuat-buat.


Continue reading

Late Birthday Present

Annyeooooong…
Maaf yaa kalau FF ini telat..
Tapi semoga enjoy…

*****

Tidak perlu ada yang memberitahuku, begitu aku menginjakkan kaki kembali di Incheon, tujuan utamaku adalah dorm Super Girls, tempat Hyejin berada. Kami sudah hampir 2 minggu tidak bertemu, melewatkan hari ulang tahun dan malam-malam minggu yang seharusnya kami habiskan berdua. Tentu saja sekarang dia adalah orang pertama yang ingin aku temui.

Continue reading

One Night in February

 

3 Februari, pukul 23.40, Super Girls Dorm

“Jangan berisik, kau bisa membangunkan para member,” Hyejin menggandeng Kyuhyun menuju dorm Super Girls. Kyuhyun hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan Hyejin.

“Ini seperti awal-awal kita pacaran. Bersembunyi untuk mencari waktu,” Kyuhyun mengangkat alisnya, senyum nakalnya merekah.

“Ya!” Hyejin memukul lengan Kyuhyun. “Lihat saja nanti!”

“Lihat saja nanti apa?” Kyuhyun mendorong tubuh Hyejin ke tembok. Dirinya sudah tidak tahan untuk membungkam yeoja di hadapannya dengan ciuman.

Continue reading

Happy Birthday Uri Magnae & Uri Leader

wpid-img_20141014_195326.jpg

Happy Birthday to Uri magnae Cho Kyuhyun (kemarin) dan Uri Leader aka Song Hyejin aka author gyumontic hehehehe

Untuk Hyejin onnie, semoga makin mesra sama Kyuhyun ya.

Amin! kekekeke

Semoga makin produktif bikin FFnya ya kak.

Amin! kekeke

Love you! <3