​Tiga minggu istirahat Kyuhyun sama dengan tiga minggu Hyejin akan terus bersama Kyuhyun. Di mana ada Hyejin di situ akan ada Kyuhyun, setiap saat setiap waktu. Secara harafiah, Kyuhyun akan mengikuti ke mana pun Hyejin pergi.
“Kau mau ke mana?” Tanya Kyuhyun dengan wajah bangun tidurnya yang jelas-jelas menunjukkan ia belum siap untuk beraktivitas. Rambut ikalnya yang mencuat ke segala arah ikut mendukung.
“Kerja. Seperti biasa. Kenapa?” Sahut Hyejin sambil berdandan di depan kaca riasnya.
“Apa aku boleh ikut?”
“Apa aku bisa melarangmu? Dokter menyuruhmu istirahaf tiga minggu namun apa yang kau lakukan seminggu ini?”
“Aku hanya tidak ingin mati kebosanan. Lagipula aku kan tidak melakukan apapun, hanya duduk diam melihatmu syuting. Aku ikut ya?”
Hyejin menghela nafas pasrah. Ia ingin sekali memaksa Kyuhyun untuk istirahat di rumah mereka tapi ia juga tidak tega meninggalkan Kyuhyun sendirian tanpa kegiatan apapun. Ia pasti bisa mati kebosanan.
“Lalu kau mau pergi dengan tampang bangun tidur seperti itu? Eoh?”
Secepat kilat, Kyuhyun lari ke dalam kamar mandi. Tidak sampai sepuluh menit, ia sudah keluar lagi dengan penampilan yang jauh lebih segar. “Aku siap.”
Hyejin hanya sanggup menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kyuhyun yang akan kembali seperti anak kecil jika ia bersama dengan Hyejin. “Kau mau pergi hanya dengan handuk itu?” Tanya Hyejin menunjuk handuk yang membalut dari pinggang sampai lutut Kyuhyun.
“Aku tidak tahu harus pakai baju apa. Kau yang pilihkan.” Meskipun sudah seminggu Kyuhyun berkelakuan seperti ini, Hyejin tidak pernah protes sekali pun. Hal ini masih lebih baik jika dibandingkan saat Kyuhyun memiliki jadwal yang sangat padat sehingga menyulitkannya untuk bertemu dengan Hyejin.
“Pakai ini saja. Mau?” Hyejin menunjukkan sebuah kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna biru dengan sebuah celana jeans biru tua kepada Kyuhyun yang tanpa berdebat dipakai pria itu.
Kyuhyun mengancing kemejanya sambil bercermin. Ia dapat melihat Hyejin memeluknya dari belakang dengan erat. “Kau tahu pelukanmu ini bisa berakibat fatal?”
Hyejin menganggukkan kepalanya. “Tapi aku tidak ingin melepaskanmu. Biarkan seperti ini sampai manajerku datang menjemput. Ya?”
“Terus bagaimana cara aku menyisir rambutku? Kau tidak mau aku keluar dengan rambut berantakan kan?”
Kyuhyun bisa merasakan gelengan kepala Hyejin di punggung atasnya namun wanita itu tidak ada tanda-tanda ingin melepaskan Kyuhyun. “Kau tidak keberatan jika agak sedikit naik ke punggungku kan?”
Tanpa bertanya, Hyejin menaiki punggung Kyuhyun dan bergelayut di sana seperti anak monyet. “Kyuhyun-ah, apa kau akan selalu mencintaiku?” Tanya Hyejin dengan kepala berada di atas bahu Kyuhyun saat pria itu sedang memakai krim jerawatnya.
“Kalau tidak?”
“Entahlah. Mungkin aku akan memilih bunuh diri.”
“Kalau aku meninggalkanmu?”
“Karena wanita lain? Aku tidak berani membayangkannya. Itu sangat mengerikan.”
Kyuhyun memutar sedikit kepalanya sehingga ia bisa mencium bibir Hyejin yang persis berada di samping kepalanya. “Aku juga tidak berani membayangkannya. Pasti sangat mengerikan jika yang menggigit leherku bukan kau. Aku juga tidak yakin apa ada yang sanggup bertengkar setiap hari denganku selain kau.”
Hyejin mengeratkan tangan dan kakinya agar terus menempel di punggung Kyuhyun. Ia tidak mau turun meakipun manajernya sudah datang menjemput. “Kau mau keluar dengan gaya seperti ini? Kau tahu ini agak memalukan kalau sampai tertangkap kamera.”
Tapi Hyejin tidak peduli. Ia tetap berada di punggung Kyuhyun sampai akan masuk ke dalam mobil. “Kau akan duduk bersamaku kan?” Tanya Hyejin sebelum Kyuhyun membukakan pintu untuknya.
“Dan membiarkan manajer Oh melihatmu bergelayut manja sepanjang perjalanan? Aku rasa aku tidak setega itu. Aku akan duduk di depan dengannya.”
Hyejin kesal mendengarnya tapi ia tahu tidak ada gunanya merengek sekarang. Kyuhyun sudah memiliki perjanjian dengan manajemen bahwa ia bisa ikut ke manapun Hyejin pergi dengan syarat tidak melakukan segala sesuatu yang menarik perhatian orang seperti bermesraan dengan Hyejin.
“Orang tidak akan bisa melihat kita. Mobil ini kan dipasangi gorden,” keluh Hyejin saat mobil baru saja berjalan.
“Apa kau tidak mengganggap manajer Oh ini orang? Aku bisa menarik perhatiannya.”
Hyejin menggerutu kesal dan Kyuhyun hanya tersenyum geli mendengarnya.
“Cho Kyuhyun, jangan menertawakanku. Lebih baik kau mundurkan kursimu dan aku bisa memelukmu. Kau tidak bisa menolak. Manajer Oh sudah biasa melihatnya. Eric oppa dan MinAh sering melalukannya.”
Kyuhyun memundurkan kursinya sehingga Hyejin bisa memeluknya, memeluk lengannya saja lebih tepatnya. “Manajer Oh, apa semua anak-anakmu seperti ini?” Tanya Kyuhyun menunjuk Hyejin dan teman-teman satu grupnya.
Manajer Oh menggelengkan kepalanya. “Hanya Hyejin dan MinAh. Jihyo lebih suka menjahili kekasihnya. HyunAh dan Hamun lebih tenang. Mereka akan bercerita macam-macam dengan pasangannya.”
“Humm… Tidak menarik. Aku lebih suka wanita agresif seperti Hyejin. Oh bukan, aku lebih suka Hyejin.” Kyuhyun meralat perkataannya ketika melihat Hyejin sudah mendelikkan mata kepadanya.
Mereka telah sampai di lokasi syuting dan Hyejin tahu ia harus turun lebih dulu dengan manajernya. “Jangan terlalu lama menyusulku. Aku tidak janji akan memperbolehkanmu masuk kalau lebih dari 10 menit.”
Sepuluh detik menuju 10 menit, Kyuhyun berhasil mencapai ruangan Hyejin bersiap-siap. Hyejin sedang didandani dan Kyuhyun beristirahat santai di sofa di belakang Hyejin. “Ada berapa syutin hari ini?” Tanya Kyuhyun sambil memainkan game di ponsel pintarnya.
“Tiga. Kalau tidak salah. Kau bisa memastikannya dengan manajer Oh kalau ia sudah kembali.”
“Sampai jam berapa?”
“Delapan. Sembilan paling lama. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya punya ide, bagaimana kalau kita tidak pulang ke rumah malam ini.”
“Lalu kemana?”
“Rumah eomma. Kita sudah lama tidak menengok eomma dan appa.”
“Kau. Bukan kita. Aku minggu lalu makan siang dengan eommonim dan abeoji sepulang dari rumah sakit.”
“Jadi kita pulang ke rumah orang tuaku ya malam ini?” Hyejin setuju-setuju saja selama ia tidak tidur terpisah dari Kyuhyun.
Hyejin menyelesaikan pekerjaannya dua puluh menit terlambat dari jadwal tapi ia tidak mempermasalahkannya karena Kyuhyun sudah duduk di sebelahnya dengan menopang kepalanya yang sudah terasa sangat berat. “Aku lelah sekali,” keluh Hyejin.
Manajer Oh mengantar pasangan itu ke rumah orang tua Kyuhyun dan membawa pulang mobilnya ke apartemen tempat pasangan itu biasa tinggal. “Jadwalmu besok mulai jam 8 pagi. Aku harap kau tidak bangun kesiangan, Song Hyejin,” kata manajer Oh yang sebenarnya lebih ditujukan kepada Kyuhyun.
“Aku tidak akan terlalu keras padanya, manajer Oh. Besok jam 8 pagi, Hyejin akan siap dijemput. Bye, manajer Oh!”
Kyuhyun menatap Hyejin yang sudah menatapnya lebih dulu dengan tatapan memelas. “Gendong,” katanya dan Kyuhyun tidak punya pilihan.
Kyuhyun mengangkat tubuh Hyejin ke dalam gendongannya dan kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. “Eomma! Appa!” Seru Kyuhyun agak kencang agar kedua orang tuanya bisa mendengar mengingat pendengaran mereka sudah cukup tua.
“Mungkin mereka sudah tidur,” bisik Hyejin dengan nada seduktif diikuti sebuah hirupan dalam di belakang telinga Kyuhyun.
“Dan kau pasti sudah memikirkan berbagai cara untuk tidak mengganggu tidur mereka. Iya kan?”
Hyejin hanya menganggukkan kepalanya. Tangan dan kakinya sudah terkait mengikat tubuh Kyuhyun sedangkan mulut yang bisa ia gunakan untuk bicara sudah menempel seperti lintah di leher Kyuhyun.
Kyuhyun membawa Hyejjn ke dalam kamar yang dulu ditempati Kyuhyun saat masih tinggal bersam orang tuanya. Kini menjadi kamar untuk Kyuhyun dan Hyejin jika mereka sedang berkunjung ke sana.
“Hei, nyonya. Kau harus mandi dulu kalau masih ingin tetap bersamaku malam ini. Kau masih sangat wangi tapi aku tidak mau tidur dengan wanita yang tidak mandi setelah seharian bekerja di tiga tempat yang berbeda.”
Hyejin menolak untuk turun. Ia tetap berada di gendongan Kyuhyun untuk beberapa saat sebelum Kyuhyun berhasil membujuknya. “Semakin lama kau turun dari gendonganku, semakin sebentar aku memelukmu nanti. Pilih mana?”
Sedikit tidak rela, Hyejin turun dari gendongan Kyuhyun dan pergi menuju kamar mandi. Baru tiga langkah meninggalkan Kyuhyun, Hyejin memutar tubuhnya untuk kembali kepada Kyuhyun. “Jangan pergi,” kata Hyejin.
“Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya akan mandi sebentar di kamar mandi luar lalu kembali ke kamar ini. Okay?”
“Okay.” Hyejin mencium bibir Kyuhyun sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Hyejin bukan tipe wanita yang betah berlama-lama di kamar mandi. Ia lebih suka berlama-lama di pelukan Kyuhyun sehingga ia tidak akan membuang waktunya hanya untuk diguyur air. Kyuhyun sama saja.
Kyuhyun sudah berada lebih dulu di atas tempat tidur. Ia telah menyediakan tempat untuk Hyejin yang mana Hyejin langsung melompat ke sana dan memeluk Kyuhyun dengan erat. “Terima kasih sudah menemaniku seharian. Kau semakin terlihat tampan.” Kata-kata itu membuat Kyuhyun tertawa.
“Apa hubungannya aku menemanimu seharian dengan tampan? Aku sudah tampan dari dulu. Itu salah satu alasan kau mau denganku kan?”
“Bukan. Karena kau punya banyak pekerjaan, aku yakin kau pasti punya banyak uang. Salah satu alasannya.”
“Masuk akal. Bisa diterima.”
“Tidak ingin tahu apa alasan pertamanya, tuan Cho?”
Perlahan tapi pasti, Hyejin merangkak naik ke atas tubuh Kyuhyun yang terbaring. Dengan lincah, tangannya bergerilya di permukaan kulit Kyuhyun dan Kyuhyun hanya tertawa menikmatinya.
“Alasan utamanya karena aku mencintaimu. Satu-satunya pria yang betah bertahun-tahun bersamamu. Aku juga yakin aku satu-satunya pria yang pantang menyerah untuk mendapatkanmu.”
“Bingo! Kau pintar. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Karena aku terlalu sering bergaul denganmu,” kata Kyuhyun diiringi tawa renyah yang menyebalkan namun menggoda Hyejin untuk melakukan sesuatu lebih dari menarikan jari-jarinya di atas tubuh Kyuhyun.
Hyejin menundukkan tubuhnya sampai jarak antara wajahnya dengan wajah Kyuhyun tidak sampai setengah panjang jari telunjuknya. “Aku yang menciummu atau kau yang melakukannya?”
“Mana yang kau mau?”
“Buat apa kau bertanya? Biasanya kau melakukan apa yang kau inginkan tanpa bertanya lebih dulu kepadaku.”
Kyuhyun sekali lagi tertawa. Hyejin bisa merasakan perut Kyuhyun yang kembang kempis di bawah kakinya dan nafas Kyuhyun yang menerpa wajahnya. “Kau sedang bermain susah ditangkap? Heoh?” Tanya Hyejin yang sudah mulai gemas.
Kyuhyun tersenyum sambil membelai wajah Hyejin. Rambut yang jatuh ke hadapannya, disampirkan agar ia bisa lebih jelas melihat wajah Hyejin. “Aku pria paling tidak tahu malu, tidak sabaran dan paling murahan jika sudah bersamamu. Apa kau masih berpikir aku sedang mempermainkanmu?”
“Lalu kenapa kau belum melakukan apapun padaku?”
Hyejin menatap heran pada Kyuhyun yang masih berbaring tenang di bawah. Tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang mengganggu Hyejin. Kyuhyun terlalu tenang untuk sebuah malam yang dilengkapi seorang wanita seksi yang menduduki tubuhnya.
“Kau menginginkannya?”
Hyejin menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Tentu saja ia menginginkannya. Hyejin sangat menginginkan Kyuhyun menyentuhnya di setiap inci bagian tubuh yang dimilikinya.
“Aku akan melakukannya setelah mengobrol denganmu. Kau tahu hal-hal seperti ini sangat langka. Aku mau memanfaatkannya dengan baik selama tiga minggu aku menjadi pengangguran.”
Hyejin berguling turun ke tempat tidur dan memeluk Kyuhyun dengan erat. “Kita bisa mengobrol sampai pagi kalau kau mau. Tapi kau tahu aku sangat suka bicara. Aku harap kau tidak terganggu.”
“Kau bebas bicara apa saja. Aku akan mendengarkannya,” ujar Kyuhyun lalu menciun kening Hyejin. “Apa besok jadwalmu akan sampai malam?”
“Apa kau akan mengikutiku lagi besok?”
“Kenapa kau malah balik bertanya?” Kyuhyun tertawa. “Apa aku boleh menunggumu pulang? Aku mau menghabiskan waktuku dengan eomma dan appa. Sehari saja.”
“Aku tidak akan melarangmu tapi kau harus ingat untuk meneleponku atau paling tidak mengirimiku pesan setiap jam. Ok?”
“Ok. Aku rasa kita juga sudah lama tidak bertemu orang tuamu. Bagaimana kalau kita ke Swiss?”
“Kau tahu kita tidak punya waktu. Aku sangat ingin menemui mereka tapi mau bagaimana?”
“Kapanpun kau mau, aku akan menemanimu. Kita hanya perlu cuti beberapa hari. Otte?”
“Call.”
Kyuhyun tersenyum lalu mencium kening Hyejin sekali lagi dan melanjutkan obrolan mereka dengan berbagai macam topik sampai Hyejin tertidur lebih dulu di pelukan Kyuhyun. Kyuhyun mematikan lampu dan menyusul tidak lama kemudian.
“Kyu…” Beberapa jam kemudian tampaknya Hyejin terbangun.
“Wae?” Sahut Kyuhyun setengah sadar.
“Apa kau menginginkanku?”
“Kau menginginkannya?”
Hyejin menganggukkan kepalanya dan bukanlah hal yang sulit bagi Kyuhyun untuk melepas sehelai baju tidur yang hanya diikat tali di pinggang wanita yang entah sudah berapa banyak malam yang dihabiskan bersamanya.
“Kyu…”
“Eoh?” Sahut Kyuhyun saat ia sedang menikmati bagian yang paling ia suka saat sedang bermesraan dengan Hyenin.
“Aku mencintaimu. Sangat. Kau tahu?”
Kyuhyun tertawa gemas di atas Hyejin. Secepat kilat, ia menyambar bibir Hyejin dan menciumnya dengan lembut. “Aku tahu segalanya tentangmu. Tidak perlu kau katakan pun, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu meskipun kau tidak akan mengatakan kata-kata itu sampai maut memisahkan kita.”
Hyejin tersenyum senang mendengar roman picisan yang baru saja disampaikan Kyuhyun. Gombal tapi Hyejin suka. Hal itu membuat perutnya geli seperti dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan. Tambah lagi dengan Kyuhyun yang sedang menggelitik tubuhnya. “Aku menyukai setiap saat kau menyentuhku, Cho Kyuhyun. Aku menyukainya. Sangat.”
Kkeut!