“Kau selalu datang sepagi ini ke kantor orang lain?” aku menengok ke belakang, seperti biasa, bos kesayanganku selalu saja muncul tiba-tiba. Kali ini tepat di depan lift kantor Lee Corp., untung saja aku sudah melihat pantulan bayangannya dari pintu lift. Kalau tidak, aku pasti sudah berteriak kaget.

“Sajangnim, mengapa kau selalu muncul tiba-tiba seperti ini sih?” aku hanya bisa menggeleng melihat kelakuan bos ku yang kadang-kadang ajaib ini. Dia hanya memberikan senyuman mematikannya yang bisa membuat setiap yeoja di hadapannya bertekuk lutut. Untung saja aku sekretarisnya, setidaknya aku masih berpikir seratus kali untuk terpikat padanya daripada aku dipecat.

“Kau sudah siapkan presentasinya?” Seunghyun sajangnim tidak menghiraukan pertanyaanku. Dia melangkah memasuki lift. “Kau kenal dengan Lee Jongsuk kan?”

Aku mengangguk. Pintu lift tertutup. Seunghyun sajangnim kembali berujar, “Ku dengar kau akrab dengannya.”

Aku memelototi bos ku. Ya ampun, aku tau sih info seperti ini dengan mudah bisa didapatkan oleh orang sekaya dia, namun ini kan urusan personal aku mau berteman dengan siapa!

“Ne sajangnim, aku kenal Lee Jongsuk-ssi sejak kami masih sekolah menengah dulu. WAE?” Aku sengaja menekankan akhir kalimatku. Semakin lama bersama bos kesayanganku ini, entah mengapa semakin nyaman pula aku berbicara seenakku. Mungkin aku contoh karyawan yang mudah untuk dipecat, hahaha.

“Kau menggertakku, Choi Jihyo? Kau mau dipecat?” Seunghyun sajangnim balik memelototiku. Aku langsung menggeleng sambil mengeluarkan senyuman termanisku.

“Mianhae sajangnim,” aku langsung tak berani menatapnya. Tuh kan apa aku bilang, pasti kata pecat akan keluar dari mulutnya.

“Kau tau proyek ini sangat besar dan harus kita dapatkan. Aku mau kau membantu melobi Presiden Direktur Lee. Aku mau kita bergabung ke proyek ini, tanpa alasan apapun,” Seunghyun sajangnim melangkahkan kakinya keluar dari lift. Aku hanya bisa terbengong mendengar perkataannya. APA? LAGI-LAGI DIA MENYURUHKU MELOBI ORANG?

“Kau tidak keluar dari lift, Jihyo? Atau kau mau langsung ke ruangan Lee Jongsuk? Masih ada setengah jam lagi sebelum presentasi. Akan ada 5 perusahaan yang melakukan presentasi ke Lee Corp. dan hanya 2 perusahaan yang akan bekerjsama dengan Lee Corp. Pastikan perusahaan kita salah satunya,” pintu lift menutup sebelum aku sempat melangkahkan kakiku keluar saking kagetnya mendengar perkataan bos ku.

“YAAAA! CHOI SEUNGHYUN! MENGAPA KAU SUKA SEKALI MEMBERIKAN TUGAS AJAIB KEPADAKU SIIIH!!!!”

“Hyonnie, kau kenapa berteriak seperti itu sih?” pintu lift terbuka dan sosok tinggi menjulang masuk ke lift. AKu langsung memeluknya dengan cepat.

“Oppa! Aku merindukanmu!” mungkin karena efek syok mendapatkan tugas dari Seunghyun sajangnim dan tiba-tiba saja objek yang harus aku lobi tiba-tiba muncul di hadapanku, aku memeluk Jongsuk oppa dengan erat hingga napasnya tersengal.

“Ne, ne Hyonnie, lepaskan dulu pelukannya, aku tidak bisa bernapas,” ujar Jongsuk oppa.

“Ah, mian oppa,” aku langsung melepaskan pelukanku. Aku sedikit merasa bersalah kepadanya, hampir setahun kami tidak pernah bertemu dan saat akhirnya melihat Jongsuk oppa, aku malah menyakitinya.

“Haha, gwenchana Hyonnie. Masalahnya, dari dulu tenagamu itu selalu lebih kuat dibandingkan yeoja pada umumnya,” aku memanyunkan bibirku begitu mendengar perkataan Jongsuk oppa. DIa kebiasaan sekali mengejekku.

“Oiya, kau masih bekerja di Choi Enterprise?”  Jongsuk oppa merangkulku keluar dari lift menuju ruangannya.

“Ne oppa. Makanya kau harus memilih perusahaanku bekerja sebagai partnermu, kalau tidak, aku bisa dipecat!” aku benar-benar mengatakannya yang sebenarnya. Daripada aku harus melobi lebih baik aku katakan langsung.

“Hahaha, itu sebabnya kau tadi berteriak di dalam lift?” tanya Jongsuk oppa yang langsung aku jawab dengan anggukan.

“Tenanglah Jihyonnie, kudengar CEO barumu lulusan terbaik dari Amerika. Dia bisa mengatasinya tanpa harus kau memohon kepadaku,” Jongsuk oppa mengacak-acak rambutku, kebiasaan lamanya sejak kami pertama kali bertemu di sekolah menengah pertama.

“Kurasa saat ini kau lebih baik mengkhawatirkan hal yang lain,” Jongsuk oppa menatapku dengan lembut. “Woobin juga akan mengikuti presentasi nanti.

“Lalu?” Aku berusaha setenang mungkin. Sudah hampir sebulan aku tidak bertemu dengannya sejak terakhir di pesta pernikahan keluarga Hwang. Bohong jika aku tidak merindukannya. Namun, apa yang bisa aku lakukan? Ia tidak akan memperdulikanku, bahkan mengangkat teleponku pun ia tak akan mau, apalagi setelah aku tiba-tiba membentaknya di telepon malam itu.

“Aku akan meminta izin kepada bos mu agar kau tidak ikut masuk ke ruang presentasi,” Jongsuk oppa menatap cemas. Aku curiga jika Jongsuk oppa tau jika aku dan Woobin oppa bertunangan. Walaupun Jongsuk oppa bukan keluarga, namun ia dan Woobin oppa sudah bersahabat sejak mereka masuk ke sekolah menengah pertama hingga saat ini. Kemungkinan ia tau rahasia ini.

“Aku hanya tidak mau kau melihat Woobin bermesraan dengan sekretarisnya itu,” Jongsuk menghela napas sejenak. “Ayolah Jihyo, aku sudah tau sejak pertama kali aku melihatmu dulu, kau menyukai Woobin.”

Aku tak bisa berkata apapun. Toh aku memang benar menyukai Woobin oppa sejak lama, percuma saja membohongi Jongsuk oppa. “Aku bisa mengatasinya, oppa.”

Jongsuk oppa memelukku. “Kau kenapa harus selalu berakting tegar seperti ini sih, dongsaeng?”

+++

Aku memencet tombol 12 di dalam lift. Daritadi sajangnim sudah bolak balik menerorku dengan misscall nya. Salah sendiri kenapa tadi menyuruhku melobi Jongsuk oppa terlebih dahulu.

Aku melihat lift berhenti di lantai 14 dan pintu terbuka. Seseorang yang sangat aku kenal masuk ke dalam lift dan menggandeng seorang yeoja. Oh, jadi ini sekretaris yang dibicarakan Key. Dari pakaiannya yang minim saja sudah terlihat jelas ia wanita penggoda.

Mataku dan mata Woobin oppa bertemu, namun aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Saat ini aku diantara ingin menangis, menjambak yeoja itu, dan menampar Woobin oppa.

“Sajangnim~, sehabis ini temani aku belanja yah?” aku mendengar yeoja itu merayu Woobin oppa. Aku tidak peduli, begitu pintu lift terbuka aku setengah berlari menuju ruangan presentasi.

“Sajangnim!” aku terkejut melihat Seunghyun sajangnim yang sudah duduk di ruang presentasi. Aku tau memang dia sudah berada lebih dulu di ruangan, namun yang sebenarnya membuatku terkejut adalah dia memakai kacamata.

“Selama aku bekerja untukmu, aku belum pernah melihat sajangnim memakai kacamata,” aku bergumam sendiri yang bodohnya didengar Seunghyun sajangnim.

“Apa yang kau ucapkan tadi?” Sajangnim kesayanganku mengerenyitkan dahinya. Omo, baru kali ini kulihat dia sangat tampan!

“Gwenchana sajangnim,” aku buru-buru duduk saat melihat Jongsuk oppa masuk ke ruangan.

Di ruangan ini, ada lima petinggi perusahaan berusaha untuk meyakinkan Lee Corp. agar bekerjasama dengan mereka. Namun, hanya dua perusahaan yang akan dipilih oleh Lee Corp. Satu persatu perwakilan setiap perusahaan maju untuk presentasi.

Aku mau tak mau harus melihat si yeoja penggoda itu selama presentasi. Aku tidak mengerti kenapa yeoja seperti itu bisa bekerja menjadi sekretaris Woobin oppa. Yah, mungkin juga oppa secara pribadi memilihnya. Namun keinginanku untuk menjambaknya semakin kuat saat dia tak hanya flirting ke Woobin oppa, namun seluruh namja di ruangan ini.

“Sajangnim,” aku mendekatkan diriku ke Seunghyun sajangnim sambil berbisik. “Yeoja seperti itu menarik perhatianmu?”

Seunghyun sajangnim malah memelototiku. Oke, salahku mengajak ngobrol bos ku saat sedang bekerja.

Sekarang giliran Woobin oppa. Dia tak gugup sedikit pun. Kini aku dengan bebas bisa memandanginya. Dulu saat kami masih di sekolah dasar, aku pernah mengatakan padanya saat acara pesta ulang tahun Kim Group bahwa aku menyukainya memakai setelan jas dan selama seminggu dia selalu memakainya.

Entah mengapa semenjak kami mulai remaja, dia tiba-tiba berhenti berbicara denganku, bahkan sikapnya berubah 180 derajat.

Seunghyun sajangnim tiba-tiba berbisik saat aku sedang berkonsentrasi melihat ketampanan Woobin oppa dari jauh. “Aku tidak suka yeoja seperti itu menjadi sekretarisku.”

Aku menoleh. Sekarang sajangnimku malah memasang tampang super tengil dan menyebalkan. Dia menggeser kursinya agar lebih dekat denganku, “Aku lebih suka sekretaris sepertimu, yang mudah disuruh-suruh dan tidak banyak meminta.”

Aku memelototi bos ku. Ya ampun benar-benar sekali namja satu ini. Namun aku tak bisa membalas perkataannya, aku hanya menyikut lengannya dengan keras. Anehnya, bukan bos ku yang bereaksi, malah Woobin oppa yang entah kebetulan atau tidak berhenti berbicara sejenak dan memandang ke arahku dengan penuh kemarahan.

++++

“Kau kembalilah ke kantor. Aku harus menjemput hyung ku di bandara,” ujar Seunghyun sajangnim saat keluar dari ruangan presentasi.

“Sajangnim akan menjemput tuan muda Choi Jinhyuk-ssi?” mataku tiba-tiba berbinar-binar. Dibandingkan dengan Seunghyun sajangnim yang baru pertama kali aku lihat saat CEO Kim melepaskan jabatannya, Choi Jinhyuk sudah beberapa aku aku lihat. Oh Tuhan, ketampanan Choi Jinhyuk bisa melelehkan es batu!

“Kau sepertinya senang mendengar Jinhyuk hyung pulang,” Seunghyun sajangnim memicingkan matanya. Aku hanya bisa menyengir. “Dan anehnya kau tidak memanggil dia dengan sebutan sajangnim. Ya! Aku lebih muda darinya, mengapa kau tetap ngotot memanggilku sajangnim?”

Aku menghela napas panjang. Aku lupa jika sudah tak berhubungan dengan urusan pekerjaan, aku harus memanggil sajangnim dengan sebutan oppa. “Ne, Seunghyun oppa. Berarti aku boleh memanggil Choi Jinhyuk-ssi dengan sebutan oppa juga?”

Plak. Satu pukulan mendarat di kepalaku. “Sampai jumpa, Jihyonnie.”

Aku mengelus kepalaku, ya ampun nasib sekali hari ini dipukul bos ku. Akan aku laporkan ke dewan pekerja di kantor, huh.

“Jadi seperti itu hubungan antara bos dan sekretaris? Tak kusangka,” aku mengenali suara di belakangku. Woobin oppa menunjukkan rasa murkanya, namun Jongsuk oppa buru-buru menengahi.

“Hey, aku sudah lama tak bertemu kalian berdua. Kita makan siang bersama?” Jongsuk oppa melirik ke arah kami berdua. Aku menggangguk. Namun sepertinya Woobin oppa amat sangat tak bersedia untuk makan siang denganku.

“Ya! Kim Woobin! Kalau kau tak mau makan siang denganku, kupastikan perusahaanmu tak akan memenangkan proyek ini!” Jongsuk oppa mengancam dan akhirnya Woobin oppa bersedia.

Kami bertiga memutuskan untuk berjalan kaki menuju restoran yang tak jauh dari kantor Jongsuk oppa. Aku berjalan di depan, tak ingin membuat Woobin oppa kembali berubah pikiran untuk tidak makan siang dengan aku dan Jongsuk oppa.

Sejujurnya, aku sangat menginginkan ini. Aku ingin duduk dan memandangi Woobin oppa. Kurasa ini caraku untuk memuaskan diriku sebelum aku bisa mengatakan kepada appa dan eomma jika aku akan membatalkan pertunangan. Namun sayangnya, sepertinya aku tak pernah puas untuk memandangi Woobin oppa.

Aku bisa mendengar suara Jongsuk oppa berteriak ke arahku. Kurasa aku sejak tadi melamun dan tak melihat jika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan semua kendaraan melintas kembali. Aku terserempet mobil dan terjatuh ke pinggir. Aku merasa semuanya serba tak jelas, ada seseorang yang membawaku menjauhi jalan.

“Jihyonnie, kau tidak apa-apa? Ya ampun kaki dan tanganmu berdarah! Kau bisa berjalan?” terdengar kecemasan di suara Jongsuk oppa. Aku mengangguk dan mencoba berdiri. Namun sepertinya aku salah, aku langsung roboh ketika aku mencoba berdiri, untung saja ada seseorang yang menahanku agar aku tak jatuh.

“Kakinya terkilir,” aku baru sadar orang yang sejak tadi menopangku adalah Woobin oppa. Dia mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya, menggendongku.

“Pegangan,” nada suaranya tak berubah, tetap dingin, namun aku seperti biasa tak merasa tersinggung atau marah. Aku mengalungkan tanganku dengan ragu ke lehernya, ia tak membuka suaranya.

Kurasa, seumur hidupku, ini adalah momen yang paling membahagiakan. Bisa sedekat ini dengan namja yang sangat kucintai. Aku bisa mendengar degup jantungnya dan mencium aroma parfum yang melekat di jasnya. Kurasa, aku tak akan sanggup mengatakan aku ingin membatalkan pertunangan ini.