Annyeong! Author @gyumontic is back! Tentu dengan FF pasangan paporit akyuuuh. KYUJIN! GO!
FF ini lanjutan Break Up. Semoga pada suka ya. Check it out!

****

“EONNI!!!” Seru Hamun saking terkejutnya melihat keberadaan Hyejin di dorm Super Junior, tempat yang tidak seharusnya leader Super Girls itu berada. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau sendiri apa yang kau lakukan?” Tanya Hyejin balik membuat Hamun salah tingkah.

“Aku…aku mau menjemput Donghae Oppa. Kami…mau kencan,” kata Hamun dengan jujur. Magnae ini memang tidak bisa berbohong pada leadernya.

Hyejin berlalu meninggalkan Hamun menuju dapur dan tidak lama kemudian muncul kembali dengan sebaskom air dan handuk kecil. Hyejin berjalan dengan santai menuju kamar yang setahu Hamun adalah kamar seseorang yang paling tidak ingin ditemui oleh Hyejin.

“Eonni…” Panggil Hamun membuat Hyejin berhenti sejenak dan menoleh pada Hamun.

“Wae?” Sahut Hyejin.

Hamun menunjuk kamar itu dengan ragu-ragu. “Itu kamar Kyuhyun Oppa. Kau mau masuk ke dalam?” Kata Hamun juga dengan keraguan yang sama.

“Aku tahu. Dia sedang demam,” kata Hyejin dengan santai.

“Bukannya eonni…”

“Iya, aku sudah putus dengannya,” potong Hyejin sebelum Hamun menyelesaikan kalimatnya karena ia sudah lebih dulu tahu kemana ucapannya magnae-nya itu akan berarah. “Tapi bukan berarti aku akan membiarkannya demam tanpa ada yang merawatnya.”

Hamun hanya tersenyum dan membiarkan Hyejin masuk ke dalam kamar Kyuhyun tanpa ingin tahu sedikit pun apa yang akan terjadi di dalam kamar antara mantan pasangan kekasih itu. Hamun lebih memilih untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar Donghae yang sudah daritadi membiarkan Hamun dengan tidak muncul-muncul ke hadapan Hamun.

“Donghae Oppa!!! Ayo kita berangkaaaat!!!” Seru Hamun dengan kencang.

—-

Kyuhyun terbaring lemah dengan handuk kecil basah di atas keningnya yang dipasang Hyejin untuk membantu menurunkan panas tubuhnya yang sudah kelewatan.

“Aku sudah telepon eommonim dan Ahra eonni. Mereka besok sudah pulang. Kau harus ke rumah sakit kalau tambah parah,” kata Hyejin.

“Apa kau tetap akan ke Osaka?” Sahut Kyuhyun tidak nyambung.

Hyejin yang memang masih mempunyai jadwal super sibuk untuk promosi album barunya dengan Junsu tentu saja harus kembali memenuhi jadwalnya kalau tidak mau dianggap melanggar kontrak dan membayar penalti 30 juta won.

“Kau terlalu banyak bicara. Buang-buang energi. Kau harusnya banyak istirahat,” kata Hyejin.

Kyuhyun yang sama sekali tidak berniat mendengarkan Hyejin dan memang terkenal dengan sifat keras kepalanya kembali bertanya, “Apa kau benar-benar akan meninggalkanku?”

Hyejin menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali dengan kasar. “Aku sudah menyiapkan obat-obatan yang harus kau minum. Ini antibiotik yang harus kau minum setiap habis makan,” kata Hyejin sambil menunjuk sebuah obat lalu menunjuk obat-obat yang lain. “Ini obat penurun panas dan yang ini obat flu. Kalau besok kau tidak sembuh juga, kau harus ke dokter. Aku juga sudah minta tolong Cha ahjumma untuk menyiapkan makananmu. Aku minta tolong padamu untuk makan dan minum obatmu dengan teratur. Arraseo?”

“Ne,” jawab Kyuhyun dengan lemas dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit dan kenyataan bahwa Hyejin akan segera meninggalkannya.

“Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa,” kata Hyejin sambil beranjak pergi. “Jangan lupa makan obatmu. Tertib!” Hyejin menutup pintu kamar Kyuhyun dan benar-benar menghilang dari hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil smartphone yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia mengetikkan beberapa kalimat untuk dikirimkan kepada Hyejin.

Semoga semua kegiatanmu berjalan lancar. Jaga kesehatanmu. Jangan sampai kau ikut-ikutan sakit sepertiku. Aku mencintaimu.

—–

Dengan terburu-buru Ahra dan ibunya masuk ke dalam kamar Kyuhyun. “Astaga! Kau kenapa?” Seru Ahra terkejut melihat adik semata wayangnya terbaring lemah di tempat tidurnya.

“Astaga kau panas sekali!!!” Pekik Ahra saat tangannya menyentuh kening Kyuhyun. “Eomma, kita harus membawanya ke rumah sakit.”

“Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku bisa istirahat saja di sini, noona,” tolak Kyuhyun yang memang tidak terlalu suka dengan bau rumah sakit.

“Kau harus ke rumah sakit. Panasmu sudah tidak wajar,” kata eomma Kyuhyun setelah merasakan suhu tubuh anaknya yang tidak wajar dengan tangannya sendiri.

“Eomma…” Kyuhyun berusaha menolak perintah eomma-nya dengan lembut agar wanita tua itu tidak tersinggung dan mengijinkannya untuk dirawat di rumah saja.

Dengan gemas, nyonya Cho mengambil smartphone-nya, membuka aplikasi kakao talknya dan menunjukkan deretan pesan dari Hyejin kepada anaknya. “Aku akan melaporkannya pada Hyejin kalau kau masih keras kepala, Cho Kyuhyun!!!”

Kyuhyun melihat deretan pesan dari Hyejin kepada eommanya.

Eommonim, Kyuhyun demam. Dia harus segera ke rumah sakit. Aku tidak sempat membawanya karena aku harus segera terbang ke Osaka. Tapi aku sudah memberikan obat untuk menurunkan panasnya. Nanti tolong kabari aku ya, eommonim.

Eommonim, aku baru sampai Osaka. Apa sudah bertemu Kyuhyun? Bagaimana keadaannya? Kalau ia tidak mau ke rumah sakit, tolong paksa sampai ia mau ya, eommonim. Aku khawatir sakitnya makin parah. Terima kasih.

Kyuhyun tersenyum lemah kepada eomma dan nuna-nya. “Jadi masih tidak mau ke rumah sakit?” Tanya eommanya.

Kyuhyun pelan-pelan memakai sweater dan kaus kaki serta sandal bulunya. Dibantu oleh Ahra dan nyonya Cho, Kyuhyun berangkat ke rumah sakit.

—–

“Kalian bertengkar lagi?” Tanya Ahra sambil menyetir mobil menuju rumah sakit.

“Noona bicara apa sih?” Sahut Kyuhyun bingung.

“Kau dan Hyejin. Siapa lagi? Kalian bertengkar lagi? Aku sudah lama tidak melihat kalian bersama,” kata Ahra menyadari sudah dua bulan belakangan ini Hyejin tidak pernah muncul dengan Kyuhyun di sampingnya atau sebaliknya. Mereka selalu muncul sendiri-sendiri.

“Tidak,” jawab Kyuhyun singkat.

“Lalu kenapa aku tidak pernah melihat kalian jalan bersama. Pasti ada sesuatu terjadi antara kalian kan?” Tanya Ahra lebih mendesak. Ahra mempunyai sifat keras kepala yang hampir sama dengan Kyuhyun. Ia harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya dan kali ini Ahra yakin jawabannya tidak akan menyenangkan.

“Bukan urusan noona,” kata Kyuhyun dengan dingin membuat Ahra menatap adiknya dengan tajam.

“Aku ini nuna-mu, Cho Kyuhyun-ssi. Seharusnya kau bersikap lebih sopan,” ujar Ahra. “Apa kalian sudah putus?”

Kyuhyun menghela nafasnya dengan berat. “Eomma, tolong bilang pada noona untuk jangan menggangguku. Aku kan sedang sakit….”

Nyonya Cho, ibu dari kedua kakak beradik itu menatap lembut anak perempuannya dari kaca spion. “Ahra-ya, adikmu sedang sakit. Jangan mengajaknya bertengkar terus,” kata eomma Kyuhyun dengan keibuan.

“Aku tidak sedang mengajaknya bertengkar, eomma. Aku hanya ingin meyakinkan diriku kalau anak laki-laki eomma itu tidak menyia-nyiakan kekasihnya yang paling baik hati,” sahut Ahra membela diri.

Eomma Kyuhyun menatap anaknya, meminta sebuah penjelasan. “Apa yang terjadi antara kau dan Hyejin?” Tanya nyonya Cho.

Kyuhyun kembali menghela nafasnya. Ia tidak bisa lagi berbohong kali ini. “Hyejin memutuskanku dua bulan lalu.”

“Kenapa kalian bisa putus? Bukannya kalian akan menikah?” Tanya eomma Kyuhyun ingin tahu.

“Selamat tinggal calon adik ipar dan calon menantu terbaik di seluruh dunia,” sela Ahra dengan penuh penyesalan dan memandang Kyuhyun dengan kesal. “Dasar bodoh.”

“Panjang ceritanya. Intinya, Hyejin hanya salah paham kepadaku. Aku selalu berusaha menyelesaikannya tapi kami belum mencapai kata sepakat untuk kembali. Eomma tenang saja, Hyejin pasti kembali,” kata Kyuhyun.

“Kita lihat saja nanti seberapa bisa kau meyakinkan gadis itu,” kata Ahra kesal.

“Noona, bisakah kau menyetir saja sehingga kita bisa segera sampai ke rumah sakit?” Sahut Kyuhyun sama kesalnya.

“Cih! Kalau kau bukan adikku, aku pasti akan menghabisimu, Cho Kyuhyun-ssi!!” Omel Ahra yang dengan segera menginjak pedal gas mobilnya dan mempercepat mobilnya sehingga mereka lebih cepat sampai di rumah sakit.

—-

Seoul – Osaka
01.18 am

Kyuhyun mengambil smartphone dengan tangan kirinya karena tangan kanannya baru saja menjadi korban jarum-jarum suntik pengambil darah dan infus demi kesehatannya.

Kyuhyun memencet speed dial nomor 1 pada layar smartphone-nya,  yang akan langsung menghubungkannya dengan Hyejin yang berada di Osaka.

Demi kau. Aku akan membayar tagihan panggilan internasional ini, ucap Kyuhyun dalam hati.

“Aku sedang di rumah sakit,” kata Kyuhyun begitu Hyejin mengangkat teleponnya.

“Lalu?” Sahut Hyejin terkesan tidak peduli.

“Kau tidak mau tahu kenapa?” Tanya Kyuhyun tanpa mengubah posisi tidurnya akibat jarum infus yang sudah menembus pergelangan tangannya dengan sempurna. Ia akan terus berada dalam posisi seperti itu.

Sedangkan di Osaka, Hyejin terpaksa menjauh dari teman-temannya, melepaskan diri dari keramaian agar ia bisa mendengar suara Kyuhyun dengan lebih jelas. Karena sakit, suara Kyuhyun terdengar lebih pelan dan lemah. Hyejin tidak bisa berada di antara orang-orang yang sedang saling berteriak melempar lelucon dan tertawa-tawa kalau ingin mendengar suara Kyuhyun.

“Karena sakitmu semakin parah. Iya kan?” Kata Hyejin.

Kyuhyun tertawa kecil. “Bukan. Karena kau.”

“Karena aku? Apa hubungannya denganku, Kyu? Yang benar saja.”

“Karena kau bilang pada eomma untuk memaksaku ke rumah sakit.”

“Lalu apa kata dokter? Kelelahan, kurang istirahat, makan dan minum tidak teratur, lupa makan vitamin? Apa ada yang lainnya?”

“Haahahahha. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Penyakitmu klasik, Kyu. Itu lagi itu lagi.”

“Aku yakin juga begitu tapi tadi dokter menyuruhku cek darah.”

“Lalu apa hasilnya?”

“Belum ada. Aku harus menunggu sejam lagi. Ini aku lagi tidur-tiduran di UGD.”

“Semoga tidak ada penyakit aneh-aneh. Aku berani bertaruh kau hanya terlalu banyak bekerja tapi terlalu sedikit makan dan istirahat.”

“Kau memang tahu segalanya tentangku. Kkkkkk.”

“Tidak juga. Aku tidak pernah tahu rencanamu ke depan. Mungkin besok tiba-tiba keluar album baru-mu atau drama musikal barumu. Aku tidak tahu.”

“Hahahahaha. Sial. Jangan menyindirku.”

“Hemm.”

“Hye…”

“Humm?”

“Kalau aku harus rawat inap, apa kau akan menjengukku?”

“Aku rasa tidak.”

“Waaaae?”

“Aku sibuk, Kyu. Mian. ”

“Haish!!! Kau benar-benar tidak bisa menjengukku? Sehari saja….”

“Aku masih harus berada di Jepang untuk promosi album duetku. Mian.”

“Hhhh… Kau menjadi sangat sibuk sekarang.”

“Ya begitulah.”

“Apa kau sedang bersama Junsu sekarang?”

“Junsu hyung. Dia lebih tua darimu,Kyu.”

“Baiklah. Junsu hyung. Apa kau sedang bersamanya?”

“Secara lokasi bisa dibilang begitu.”

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

“Kami hanya sedang makan malam bersama.”

“Berdua saja?”

“Kyu, kau terlalu banyak pertanyaan. Kau lebih baik istirahat.”

“Aku tidak mau. Aku masih mau mendengar suaramu. Sudah, jawab saja pertanyaanku. Kalian berdua saja?”

“Tidak. Ada manajer dan kru lain.”

“Kapan kau akan pulang?”

“Sebentar lagi mungkin.”

“Maksudku kembali ke Korea.”

“Oh, aku tidak tahu. Masih lama. Aku baru saja sampai. Masih banyak kota yang belum kami jalani. Masih ada 19 kota lagi kalau tidak salah.”

“Kau menikmatinya ya?”

“Promosi ini maksudmu?”

“Dan waktu-waktu yang kau habiskan bersama Junsu hyung.”

“Kyu, jangan paksa aku untuk mengingatkanmu bahwa…”

“Hubungan kita telah berakhir. Aku ingat. Bagimu mungkin tapi bagiku tidak. Hubungan kita tidak akan pernah berakhir.”

“…”

“Aku tetap mencintaimu. Yang terjadi di antara kita ini hanya salah paham. Kita hanya butuh waktu berdua untuk membicarakannya dan aku yakin masalah ini akan selesai.”

“Tapi belum tentu aku mau kembali padamu.”

“Hye… Kau benar-benar keras kepala.”

“Syukurlah kalau kau masih ingat bagaimana watakku. Sama denganmu kan?”

“Hye, aku menelepon bukan untuk bertengkar denganmu.”

“Terserah.”

“Hye…”

“…”

“Aku rindu padamu.”

“…”

“Apa kau tidak merindukanku?”

“…”

“Aku merindukanmu setengah mati. Kalau aku sedang tidak terbaring lemah di tempat sialan ini, aku pasti sudah terbang untuk menemuimu.”

“Lebih baik kau istirahat. Tidak usah khawatir. Aku yakin besok akan banyak orang yang datang untuk menjengukmu.”

“Hye, aku mohon jangan terus bersikap sinis kepadaku. Aku betul-betul merindukanmu. Tidak bisakah kau memaafkan aku?”

“Tidak bisakah kau mengangkat topik lain agar setidaknya aku tidak berniat untuk mematikan telepon ini?”

“Baiklah. Aku tidak akan membahasnya tapi kau tidak boleh mematikan teleponmu. Okay?”

“Humm.”

“Aku dengar Super Girls akan mengeluarkan mini album bulan depan ya?”

“Kalau tidak ada perubahan, sepertinya begitu.”

“Kalau begitu kau pasti ke akan segera kembali ke Korea ya kan?”

“Entah. Aku tidak tahu. Tahu sendiri kerjaan ini, bisa tiba-tiba besok aku dikasih tiket ke Korea tapi bisa juga tiket ke Sapporo. Hanya manajerku dan Tuhan yang tahu. Hahahhaha!”

“Hahahhaa. Aku mengerti maksudmu. Tapi setidaknya saat di Korea, kita bisa bertemu kan?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa? Apa aku harus sakit lagi agar kau mau menemuiku.”

“Tergantung seberapa banyak mini album Super Girls yang akan kau beli. Jangan pernah berharap untuk sakit lagi, Kyu.”

“Hahahahaha! Tenang saja. Aku sudah pre-order 20 album. Kira-kira aku bisa bertemu berapa lama denganmu dengan 20 album itu?”

“Kita lihat saja nanti. Aku tidak bisa berjanji padamu.”

“Yaa!! Apa itu kurang? Kalau begitu, aku akan beli 50 album lagi besok. Bagaimana?”

“Ide bagus tapi sayang uangmu.”

“Tidak masalah. Aku ini fans nomor satu-mu. Fans akan melakukan apa saja untuk idol-nya kan?”

“Hahahahhaa. Dasar kau.”

Tidak terlalu jelas, Kyuhyun mendengar suara seorang laki-laki yang ia kenal adalah suara Junsu, memanggil Hyejin.

“Apa itu Junsu hyung?”

“Ne. Kyu, aku harus pergi sekarang. Semua sudah selesai makan. Kami akan kembali ke hotel.”

“Tunggu! Kau janji tidak akan menutup teleponnya, Hye.”

“Tapi aku harus pulang. Lagipula ini sudah jam 2 pagi. Kau harusnya istirahat bukan meneleponku. Bagaimana sih perawatmu itu? Masa ia tidak melarang pasiennya telepon orang tengah malam begini?”

“Dia ELF dan aku memberikannya tanda tanganku. Aku rasa itu cukup untuk menutup mulutnya bahwa dia memiliki pasien yang tidak bisa tidur saking merindukan kekasihnya.”

“Humm… Terserah apa katamu. Aku benar-benar harus pergi sekarang, Kyu. Mian. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa. Aku….”

Hyejin menutup teleponnya lebih dulu sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

“… mencintaimu,” lanjut Kyuhyun sambil menatap smartphonenya setengah tersenyum, setengah bersedih. Ia begitu senang bisa menghabiskan waktu dengan Hyejin walau hanya mengobrol namun di lain sisi ia begitu merindukan wanita itu.

—–

Hasil cek darah Kyuhyun sudah keluar dan hasilnya menyatakan Kyuhyun hanya kelelahan dan diminta untuk lebih memperhatikan kesehatannya.

“Kegiatanmu yang padat tidak seimbang dengan gizi yang masuk ke dalam tubuhmu. Kau harus lebih banyak makan dan mengkonsumsi vitamin. Kalau terus-terusan begini, kau bisa sakit nyaris setiap saat,” kata dokter.

“Tapi dokter sudah menyuntikkan vitamin ke tubuhku kan? Apa aku sudah boleh kembali bekerja?” Tanya Kyuhyun dengan tidak sabar. Ia ingin segera keluar dari rumah sakit, tempat yang tidak ia sukai.

“Boleh, asal kau tertib menjaga pola makanmu,” kata dokter itu.

Kyuhyun lalu bangkit berdiri dan memberikan hormat kepada dokternya. “Aku akan menjaga kesehatanku. Terima kasih banyak, dokter. Sampai jumpa,” ujar Kyuhyun lalu segera keluar dari ruangan dokter itu disusul oleh noona dan eomma-nya.

“Kau mau kemana, Kyu? Kau sudah sehat?” Seru Ahra sambil berjalan cepat, menyusul adiknya.

“Aku mau ke Osaka, menyusul Hyejin. Aku sudah benar-benar merindukannya. Sampai rasanya mau mati. Apa aku boleh pergi?” Kyuhyun mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil kakaknya.

Dengan senang hati, Ahra menyerahkan kunci mobilnya kepada Kyuhyun. “Gomawo,” ucap Kyuhyun lalu mencium pipi Ahra dan kemudian eomma-nya. “Eomma, aku pergi ya. Tidak apa kan kalau eomma pulang dengan taksi? Aku janji akan membawa Hyejin kembali untukmu. Ya? Sampai jumpa!”

Kyuhyun pun pergi dengan membawa mobil noona-nya dan meninggalkan Ahra dan eomma-nya untuk pulang dengan taksi. Nyonya Cho memandang anak tertuanya dengan cemas. “Apa tidak masalah ia pergi tanpa membawa obat-obatnya?”

Ahra tertawa karena ucapan eommanya. “Anak eomma yang satu itu tidak butuh obat. Dia hanya butuh bertemu dengan wanita yang dicintainya. Tidak usah khawatir. Meskipun mereka sudah putus, aku yakin Hyejin tidak akan membiarkan Kyuhyun sakit,” kata Ahra lalu menggandeng lengan eommanya dengan penuh kasih sayang. “Ayo kita pulang sekarang. Appa pasti sudah menunggu eomma di rumah. Kajja!”

Kedua wanita itu mengambil taksi terdekat yang parkir di depan rumah sakit, tidak memikirkan lagi apa magnae keluarga mereka sudah sampai di apartemennya atau bahkan sudah di bandara. Kalau ada yang dibutuhkannya, makhluk itu pasti akan segera menghubungi mereka.

—-

Kyuhyun segera melajukan mobilnya menuju bandara Incheon, setelah ia yakin telah membawa paspor di dalam tasnya. “Satu tiket ke Osaka, yang paling cepat dari sekarang,” kata Kyuhyun kepada petugas penjualan tiket Korean Air. Tanpa masalah, Kyuhyun mendapatkan tiket penerbangan yang akan membawanya ke Osaka satu jam lagi.

“Gomawo,” ucap Kyuhyun lalu segera masuk ke tempat check-in lalu menuju ruang boarding dan ia akan berada di Osaka hanya dalam waktu beberapa jam ke depan.

—–

Kyuhyun segera mengirimkan pesan kepada Hyejin begitu ia menginjakkan kakinya di bandara Kansai-Osaka.

Kyuhyun
Tebak . Aku berada di mana sekarang?

Hyejin membaca pesan tersebut dan membalasnya tidak lama kemudian.

Hyejin
Osaka?

Kyuhyun
Bagaimana kau tahu?
Ahhh… Kau memang tahu segalanya tentangku.
Atau jangan-jangan kau memata-matai aku ya?

Hyejin
Eommonim yang memberitahuku. Dia menitipkanmu padaku. Haish! Kau kan sedang sakit, kenapa malah pergi sih? Seharusnya kau istirahat!!!

Kyuhyun baru mau membalas pesan Hyejin namun gadis itu sudah lebih dulu meneleponnya. Dengan kecepatan kilat, Kyuhyun mengangkat teleponnya.

“Tidak aku sangka kau begitu merindukanku sampai kau mau meneleponku lebih dulu,” kata Kyuhyun tanpa basa-basi dan tanpa ia sadari ia sudah senyum-senyum sendiri.

“YAAA!!! Kau itu harusnya istirahat di rumah, kalau kau tidak mau di rumah sakit, bukannya pergi ke negeri orang. Kau juga lupa bawa obat-obatanmu kan? Haisssh, Cho Kyuhyun!!! Maumu apa sih?” Hyejin sudah panjang lebar mengomel saking kesalnya dengan tingkah laku Kyuhyun yang sangat menyebalkan ini. “Kau tahu aku sibuk di sini. Aku tidak bisa menjagamu. Kalau kau tiba-tiba sakit di sini, siapa yang akan mengurusmu? Hah? Kenapa kau tidak berpikir panjang dulu sebelum berbuat sih?”

Kyuhyun tertawa keras mendengar omelan Hyejin. Bagi Kyuhyun, omelan Hyejin bukan barang baru. Ia bahkan sudah memiliki cara untuk mengganggap omelan itu sebagai ekspresi perhatian Hyejin kepadanya.

“Aku tidak kenapa-kenapa. Dokter sudah menyuntikkan obat dan vitamin tadi. Aku hanya ingin menemuimu sebentar. Apa tidak boleh?” Kata Kyuhyun dengan nada memohon.

“Sudah aku bilang, aku sangat sibuk, Kyu. Aku tidak bisa menemuimu,” sahut Hyejin.

“Aku tidak minta kau datang menemuimu. Aku yang akan menemuimu. Dimana kau menginap?” Tanya Kyuhyun.

“Aku tidak akan memberitahumu,” kata Hyejin dengan tegas.

“Okay. Aku bisa tanya manajermu atau member SG atau siapapun di SM yang bisa memberitahuku dimana kau menginap selama di Osaka. Aku bahkan tidak akan sungkan untuk bertanya pada Junsu hyung. Sampai jumpa, cantik,” kata Kyuhyun lalu menutup teleponnya, membiarkan gadis bernama Hyejin itu mengomel kesal kepada smartphonenya sendiri.

Kyuhyun membaca pesan KaTalk yang baru saja ia terima dan membalasnya dengan segera.

Gomawo, hyung. Meski aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Hyejin tapi kali ini aku sangat berterima kasih padamu. Semoga album kalian sukses! Sampai jumpa.

Kyuhyun baru saja mendapatkan alamat bahkan nomor kamar hotel Hyejin menginap dari Junsu. Tanpa menunda waktu, Kyuhyun mengambil taksi untuk segera meluncur ke hotel tujuannya dan menunggu kedatangan wanita yang ia cintai dengan sabar.

—–

“Astaga!!! Apa yang kau lakukan di sini?!” Seru Hyejin dengan mata terbelalak melihat Kyuhyun yang tiba-tiba muncul di hadapannya tepat saat ia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobby hotel. “Siapa yang memberitahumu aku menginap di sini?”

Kyuhyun hanya tersenyum. Dia tidak akan dengan bodohnya memberi tahu bahwa ia rela merendahkan dirinya kepada musuh bebuyutannya hanya demi sebuah alamat hotel. “Sudah aku bilang aku akan mendapatkan alamatnya. Kau tahu aku cukup pintar kan?”

“Iya aku tahu kau makhluk paling jenius di muka bumi ini,” sahut Hyejin lalu berjalan pergi dan diikuti oleh Kyuhyun.

“Kenapa mengikutiku?” Tanya Hyejin dengan galak, menatap Kyuhyun yang sudah mengikutinya ke dalam lift.

“Menurutmu, aku datang jauh-jauh hanya untuk melihatmu sedetik lalu pulang?”

“Mungkin saja kan?”

Kedua manusia itu kembali pada kebiasaan mereka, berdebat tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Kyuhyun tertawa. “Ya mungkin saja tapi hanya 1 persen. 99 persennya aku ingin menemuimu, mengobrol, menghabiskan waktuku denganmu,” kata Kyuhyun.

“Memangnya kau sudah sehat?” Tanya Hyejin sambil keluar dari lift dan tentu saja Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan ringan mengikuti Hyejin.

“Aku merasa sangat sehat malah,” jawab Kyuhyun menunggu Hyejin membuka pintu kamarnya.

“Kau tidak berencana menginap di kamarku kan? Aku tidak ingin membuat skandal dan….” Kata Hyejin dengan mata mendelik tajam kepada Kyuhyun mengingatkan bahwa tidak seharusnya mereka berada di dalam ruangan yang sama saat ini.

“Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam,” kata Kyuhyun lalu mendorong Hyejin untuk segera memasuki kamar gadis itu dan mendahuluinya untuk menguasai tempat tidur empuk nan nyaman.

Kyuhyun segera membaringkan dirinya di sana, memperhatikan Hyejin yang mulai sibuk menghapus riasan di wajahnya sehabis.

“Kau sudah makan?” Tanya Hyejin.

“Sudah. 1 porsi ramen dan 1 porsi teriyaki. Apa menurutmu itu sudah cukup?” Sahut Kyuhyun mengingat makan malamnya yang sangat mengenyangkan tadi.

“Aku rasa cukup. Tapi kau tidak membuang sayur-sayurannya kan?”

“Sayangnya aku masih tidak bisa makan sayur-sayuran.”

“Heisssh! Dan kau lupa membawa obatmu. Lalu kau berharap cepat sembuh?” Hyejin mengulurkan tangannya ke kening Kyuhyun dan memekik keras saat merasakan panas yang mengalir ke telapak tangannya.

“ASTAGA!!! Kau masih panas tinggi!!! Kau harus minum obat! Ya Tuhan!!” Seru Hyejin yang sudah berdiri dengan galak, menatap Kyuhyun yang berbaring tanpa merasa bersalah.

Kyuhyun hanya menyeringai kecil. “Tadi aku mau beli obat tapi aku bingung obat-obatan di Jepang. Jadi, aku berharap mungkin kau punya obat… Atau kru-mu?”

Hyejin menghela nafas panjang, menahan kekesalannya atas pria paling keras kepala yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya. “Kalau kau tidak sedang sakit, aku pasti sudah menghabisimu, Kyu! Aku akan mencari obat untukmu. Kau jangan kemana-mana! Kau harus istirahat! Dengar itu!” Omel Hyejin lalu keluar dari kamarnya.

Kyuhyun sudah memasukkan kakinya ke bawah selimut sedangkan tubuh bagian atasnya dia senderkan ke headboard tempat tidur saat Hyejin kembali dengan sekantong plastik obat-obatan. “Habis minum obat, kau harus langsung tidur. Aku mohon, jangan membantahku kali ini,” kata Hyejin yang sudah mulai membuka obat-obatan untuk Kyuhyun.

“Ayo diminum,” kata Hyejin sambil menyodorkan sebotol air mineral dan obat-obatan di tangannya.

Kyuhyun menelan obatnya satu per satu dengan bantuan air mineral tersebut. “Air-nya harus habis,” kata Hyejin dan tanpa membantah, Kyuhyun menghabiskan 500 ml air mineral.

“Gomawo,” ucap Kyuhyun sambil tersenyum kepada Hyejin.

“Sekarang kau harus istirahat,” perintah Hyejin sambil membantu Kyuhyun untuk membaringkan seluruh bagian tubuhnya di atas tempat tidur dan membetulkan selimut yang dipakai Kyuhyun. “Selamat tidur.”

“Lalu kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun menahan Hyejin beranjak dari sampingnya dengan memegang tangan gadis itu dengan erat. “Kau…tidak akan meninggalkanku kan?”

Hyejin tersenyum memandang Kyuhyun. “Malam ini tentu aku tidak akan meninggalkanmu, kalau kau ada apa-apa bagaimana?”

“Kau tahu bukan itu maksudku,” ujar Kyuhyun lemah.

Kyuhyun kembali pada posisinya dengan punggungnya yang bersender pada headboard lalu menarik Hyejin pelan sehingga gadis itu kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya memudahkan Kyuhyun untuk menatap Hyejin dengan lembut. Jemarinya dengan lembut menyusuri setiap inci wajah Hyejin, benda yang sudah lama tidak mengkontaminasi kulitnya.

“Apa kita benar-benar tidak bisa kembali bersama? Kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau tega membiarkan aku cepat mati karena kehilangan separuh nafasku? Aku bersumpah, tidak akan melakukan hal-hal yang membuatmu kesal lagi. Aku akan melakukan apapun yang kau mau,” kata Kyuhyun.

Hyejin menghela panjang nafasnya, menatap pria itu dengan penuh kasih sayang. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya masih milik Kyuhyun meskipun mereka sudah 2 bulan berpisah. Dengan lembut, Hyejin melemparkan senyum terbaiknya.

Tangan kirinya membelai lembut rambut Kyuhyun lalu turuk ke pipi Kyuhyun yang lebih kurus daripada biasanya, sedangkan tangan kanannya masih berada dalam genggaman Kyuhyun. “Aku akan memikirkan tawaranmu tapi kau harus cepat sembuh,” kata Hyejin.

“Apa aku boleh berharap kau akan menjawab ‘ya’ untuk tawaranku?” Tanya Kyuhyun.

“Aku sudah bilang akan memikirkannya kan? Kau hanya perlu istirahat sekarang agar kau sembuh lebih cepat. Okay?” Hyejin tersenyum lembut kepada Kyuhyun.

“Kau benar-benar keras kepala tapi aku akan menunggumu. Selama kau belum memberi jawaban ‘ya’, aku akan terus mengejarmu,” kata Kyuhyun dengan tatapan serius langsung ke dalam mata Hyejin.

“Aku tahu. Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kau harus istirahat,” paksa Hyejin sambil tertawa ringan.

Tubuh Kyuhyun bergelung di bawah selimut dengan tangannya yang masih menggengam tangan Hyejin. “Boleh aku memelukmu?” Tanya Kyuhyun penuh pengharapan.

Hyejin tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Kyuhyun. “Kau harus segera sembuh,” ucap Hyejin lalu memberikan sebuah kecupan di pipi Kyuhyun membuatnya terasa lebih panas dan bersemu merah.

“Itu sedikit hadiah awal kalau kau bisa sembuh besok,” kata Hyejin setelah melepaskan pelukannya. “Sekarang, tidur ya.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan patuh. Hyejin lalu bangkit berdiri. “Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun tanpa melepaskan tangannya.

“Aku hanya mau mandi. Badanku rasanya sudah sangat lengket. Ya? Aku tidak akan kemana-mana kok,” jawab Hyejin dengan sebuah elusan lembut di punggung tangan Kyuhyun yang menggenggam erat tangannya. “Kau tidak mau tidur dengan bau keringatku yang menguar kan?”

“Tapi kau janji tidak akan meninggalkan aku kan?” Tanya Kyuhyun ketakutan seakan ia tidak akan melihat Hyejin lagi kalau ia melepaskan tangan gadis itu.

“Aku hanya mau mandi, Cho Kyuhyun. Ya?”

Dengan pasrah, Kyuhyun melepaskan tangan Hyejin dan menatap punggung Hyejin dengan nanar. “Aku mencintaimu,” ucap Kyuhyun dengan sungguh-sungguh, setulus perasaannya kepada Hyejin.

Hyejin memandang Kyuhyun dengan lembut. “Aku tahu,” kata Hyejin sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Kyuhyun sudah tertidur pulas saat Hyejin selesai mandi. Dengan perlahan, agar Kyuhyun tidak terbangun, Hyejin mendekati Kyuhyun. Ia menyentuh kening Kyuhyun untuk mengecek suhu tubuh pria itu.

“Lama tidak melihatmu, kau makin tampan,” gumam Hyejin menikmati wajah Kyuhyun yang terlelap di depan matanya.

Dengan ujung jarinya, Hyejin menyentuh bibir Kyuhyun. “Aku merindukanmu. Sangat. Kau tahu? Hanya saja aku terlalu takut untuk kembali sakit hati kalau kembali padamu. Aku tahu itu semua semata-mata karena pekerjaanmu tapi aku takut. Maafkan aku ya,” gumam Hyejin lagi sepelan mungkin agar tidak membangunkan Kyuhyun.

“Aku mencintaimu. Kau tahu?” Ucap Hyejin tanpa suara lalu mencuri sebuah ciuman dari bibir Kyuhyun dan tersenyum. “Mimpi indah, sayang. Aku pasti akan kembali padamu.”

Kkeut!!!