( The Other Side Of SUJU ) YOUR LOVE IS MY DRUG – SungJi Couple

Author : Estia Kim

CAST :

Lee Sungmin

Shin Yoonji

Genre : Romantic (maybe), GaJe, fantasy

Length : One Shoot

Disclaimer :

Karena otak saya lagi mancet untuk the other side of SUJU jadi saya kirim FF lama tanpa edit yang panjang nya minta ampun ini.

Dan ini juga sedikit pemaksaan untuk other side nya Sungmin.

Nanti deh kapan-kapan – yang entah itu kapan – saya perbaiki lagi konsep FF saya ini.

Melihat seorang Lee Sungmin berdasarkan satu ekspresinya di The President. Aku harap aku berhasil sedikit menghilang kan wajah aegyo nya (–“)

Dan demi mendapatkan Feel OC Cewek nya saya gak pake Jihyo.

Sebenarnya malas nge-edit nya juga sihh.. kekekeeekee …

Mian ya Jihyo-ya ^^v

Hope you like it🙂

Jangan lupa tinggallin jejak kalian (^^v)

Enjoy reading🙂

……………………………………………………..

What you got girl, is hard to find

I think about it all the time

I’m all strung out my heart is fried

I just cant get you off my mind

Because your love is my drug

……..

( Kesha – Your Love Is My Drug )

………………………………………………………

Sungmin POV

Apa kau pernah merasakan yang namanya “kecanduan” ???

Gelisah setiap malam karena kau tidak bisa menghirup “aromanya”.

Sedikit mengacaukan urusan hidupmu karena kau tidak bisa menghilangkannya dari pikiranmu.

Setiap kali kau menyelesaikan  pekerjaanmu, yang ada di pikiran mu adalah menghampirinya dan menghirup “aromanya” sebanyak yang bisa kau dapatkan.

Setiap detik waktu mu yang kau pikirkan adalah bagaimana caranya kau bisa memilikinya seorang diri, menjadikan nya seutuhnya milikmu.

Satu pikiran jahat yang terlintas dalam otakmu saat “kecanduan” adalah menerobos masuk kamarnya dan membawanya ketempat dimana tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukan kalian.

Itu lah yang aku rasa kan saat aku “kecanduan” dirinya.

Hanya bisa melihatnya tanpa bisa memeluknya, bukan .. bukan aku tidak bisa memeluknya. Aku bisa memeluknya sesuka ku tapi aku takut menghancurkan tulangnya yang rapuh karena aku terlalu erat memeluknya.

Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi ego ku terlalu tinggi untuk mengakuinya. Pengecut memang. Karena sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caraku mengakuinya.

Dia. Gadis itu. Melakukan hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Harusnya aku yang mendekatinya. Harusnya aku yang mengejarnya. Mengucapkan kata cinta setiap hari untuknya. Membawakan bunga setiap pagi di mejanya. Sedikit merayunya saat makan siang bersama. Mengajaknya jalan-jalan saat akhir pekan dan hal-hal romantic lainnya.

Bukankah seharusnya seorang namja yang melakukan hal-hal seperti itu ???

Tapi dia. Yeoja itu sudah mengambil alih semua yang harus nya aku lakukan. Dan membuatku menahan hasrat ku karena aku tidak ingin di anggap sudah takluk pada gadis itu.

Well ….

Selama ini aku dikenal sebagai pewaris utama dari SENDBILL Company yang berkepribadian dingin, susah didekati, angkuh, hampir tidak bisa tersenyum dan hal-hal buruk lainnya yang mencerminkan seorang ahli waris dari salah satu perusahaan paling berpengaruh di Korea.

Dan dia dengan gampang nya merusak imej yang sudah melekat pada diriku hanya dalam waktu kurang dari 1 detik kurasa. Aku terpesona pada senyum nya, pada suaranya, pada cara bicara nya, pada gerak-gerik tubuhnya, bahkan saat dia berkedip pun dia mampu membuatku melupakan bagaimana caranya bernafas.

Shin Yoonji.

Nama yeoja itu.

Teman ku Kyuhyun yang membawanya saat aku membutuhkan sekretaris karena sekretaris Appa harus di tugaskan ke kantor cabang.

Mungkin kami saling jatuh cinta pada waktu yang sama. Tapi dia dengan gampang nya memperlihatkan nya bahkan mengungkapkannya langsung padaku saat itu juga.

Aku masih ingat saat pertama kali Kyuhyun membawanya ke kantorku.

“ Lee Sungmin-ssi … apa kau tahu kalau kau begitu tampan ???”

“ Dan aku rasa aku jatuh cinta padamu saat ini.” Kata yeoja itu. Aku dapat melihat matanya yang berbinar saat menatapku.

Tetap mempertahankan ekspresi angkuhku, aku mencoba meredam detak jantungku. Dan sial nya, si evil direktur Cho menangkap perubahan ekspresiku walau hanya 0.05 detik. Dan dia langsung saja menyuruh Shin Yoonji bekerja dengan baik sambil tersenyum evil ke arahku.

Yoonji POV

Kriiiiiiiiiiing ………

Dengan segera aku mematikan weker dan meraih ponselku didekat bantal tidurku.

Langsung ku tekan speed dial no.8 dan tersambung pada nomor seseorang yang telah membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

“ euung … “

Aku tersenyum geli mendengar erangan bangun tidurnya.

“ cepat bangun oppa dan jangan lupa sarapan. Hari ini kita ada meeting dengan klien dari Hyundai Group jam9.” Kata ku mengingatkan jadwal paginya. Tidak perlu sebenarnya karena dia bisa meng-handle semua keperluannya sendiri.

“ aishh … jangan lagi menelpon ku jam6 pagi. Kau tahu, aku bahkan baru tidur jam3 tadi.” Kata Sungmin oppa dengan nada tinggi.

“ hey hey … sekretarismu yang cantik ini sudah berbaik hati membangunkanmu tapi kau malah berteriak seperti itu.”

“ cha … cepat bangun dan mandi lalu sarapan setelah itu jemput aku. Atau kau mau sarapan dengan ku disini???” kataku jail (berharap sebenarnya).

“aku tutup telpon nya.” Kata nya dingin dan … TUTTTTTTT ….

“ haaaa ….” Selalu saja seperti ini.

Aku segera bangun dan membuat sarapan serta bekal makan siang untuk aku dan Sungmin oppa.

Yahhh … inilah rutinitasku setiap pagi.

Menganggu tidurnya, membuat bekal makan siang untuknya dan tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan ekspresi kesalnya.

Sungmin POV

Aku menggeliat pelan merenggangkan ototku setelah aku selesai merancang neraca penjualan bulan ini. Sebenarnya ini adalah tugas sekretaris-ku, -kalau aku bilang “sekretaris-ku” berarti dia adalah milikku- tapi aku tak sampai hati melihat dia harus datang ke kantor dengan lingkar hitam di matanya.

Pukul 03.00 AM.

Dengan perlahan aku menuju bed kingsize ku dan segera terlelap.

Kurasa baru sesaat aku menikmati tidur malamku, -atau mungkin tidur pagi ku- aku merasakan getaran ponsel di ranjang. Masih enggan membuka mata, tangan ku meraba-raba mencoba menemukan sumber getaran sial itu. Setelah dapat langsung aku tekan tombol hijau -yang sudah aku hapal tempatnya- tanpa melihat caller ID nya dan menempelkannya di telinga kananku.

“ euung … “ aku mengerang kecil tanpa peduli siapa di seberang sana.

“ cepat bangun oppa dan jangan lupa sarapan. Hari ini kita ada meeting dengan klien dari Hyundai Group jam9.”

Mata ku langsung terbuka lebar mendengar suara si penelepon. Nyawaku langsung terkumpul 100% dan tersenyum senang saat melihat jam.

06.00 AM.

Dia bangun sepagi ini untuk menelponku. Aku senang. Sangat senang. Mengetahui satu kenyataan bahwa aku lah orang pertama yang dia ingat saat bangun pagi.

“ aishh … jangan lagi menelpon ku jam6 pagi. Kau tahu, aku bahkan baru tidur jam3 tadi.” Kata ku dengan nada tinggi. Selalu seperti ini caraku menyembunyikan rasa senangku.

“ hey hey … sekretarismu yang cantik ini sudah berbaik hati membangunkanmu tapi kau malah berteriak seperti itu.”

Dia pasti sedang mengerucutkan bibirnya, merajuk, salah satu ekspresi favoritku.

“ cha … cepat bangun dan mandi lalu sarapan setelah itu jemput aku. Atau kau mau sarapan dengan ku disini???”

Aku ingin sekali bilang “iya” dan segera meluncur ke apartemennya. Tapi …… yahh, ego ku mengalahkan  hasratku.

“aku tutup telpon nya.” Kata ku dingin dan menekan tombol merah

… TUTTTTTTT …

Dengan perlahan aku sandarkan tubuhku di kepala tempat tidur. Memejamkan mata mengingat wajah cantiknya yang sudah menjadi “canduku” 3th ini.

…………………………………………………..

Dengan tergesa aku menuju kamar eomma, -oke..aku tinggal dirumah super mewah bersama orangtuaku- membawa dasi warna hitam yang akan aku kenakan pagi ini.

Apa perlu aku katakan satu kenyataan memalukan tentangku ????

Well …. Aku TIDAK BISA mengikat dasi dan aku malas mempelajari caranya. Biasanya sebelum jam 07.30 eomma sudah kekamarku dan mengikatkan dasi ku tapi entah mengapa dia belum kekamarku pagi ini.

Tok tok …

Hening.

Tok tok …

“eomma … “ panggil ku sedikit berteriak.

Tetap hening.

“mianhae Sungmin-ssi … Nyonya dan Tuan Lee sudah berangkat ke Macau tadi pagi pukul 04.00.” kata Pak Jang, kepala pelayan dirumah ini.

(bayangin kehidupan sungmin kayak kehidupannya Kang Hyena di drama My Fair Lady)

“kapan mereka kembali?” tanyaku.

“3 minggu lagi kalau sesuai jadwal.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk, mengerti bagaimana eomma akan lupa jadwal padat Appa saat sudah berbelanja.

Dengan langkah gontai aku kembali kekamar dan memutuskan untuk hanya menyampirkan (?) dasi ku pada kerah kemeja yang aku pakai.

Setelah menyiapkan tas kerjaku, aku segera turun untuk sarapan. Salah satu nasehat eomma, “jangan pernah tinggalkan sarapan jam berapa pun kau bangun tidur, karena sarapan sangat penting untuk memulai harimu.” Dengan cepat aku selesaikan sarapanku dan bergegas mengendarai mobilku menuju apartemen Yoonji, atau lebih tepat nya aku hanya menunggu nya di depan gedung apartemennya.

Rutinitas baru ku di pagi hari. Memandang Yoonji yang tersenyum riang menuju halte sambil membawa tas bekal yang aku yakini isi bekal itu akan “bersarang” di perutku, tentu saja dengan paksaannya. Tapi JUJUR –okee aku hanya berkata jujur pada kalian- aku akan dengan senang hati memakan apapun masakan buatannya walaupun itu Asparagus sekalipun.

#critanya Sungmin alergi Asparagus

Author POV

Sungmin masih tersenyum memandang Yoonji yang sedang duduk di halte sampai tiba-tiba senyum itu lenyap dan di gantikan dengan tatapan membunuh serta rahang nya yang mengatup keras. Dia melihat seorang namja menghampiri Yoonji dan mereka terlihat akrab, bahkan mereka saling memeluk serta memberikan ciuman pipi.

Sungmin memukul setir didepannya hingga membuat tangannya lebam. Dengan emosi tingkat dewa dia menyetir mobil nya hingga menimbulkan bunyi dencitan yang cukup keras.

Yoonji POV

Setelah selesai menyiapkan bekal untuk Sungmin oppa aku segera bersiap pergi ke kantor. Dengan hati riang gembira (?) aku menuju halte yang tak jauh dari apartemen ku. Tidak berapa lama aku duduk ada seorang namja yang memanggilku.

“ Yoonjinnie …… “ aku menoleh dan melihat Min Chul Oppa, aku langsung terpekik senang.

“ Oppaaa ….” Min Chul Oppa memeluk dan mencium pipiku.

“ miss you oppa ….. “

“miss you too chagi ….”

Min Chul Oppa adalah oppa kandungku. Sudah lama kami tidak bertemu karena oppa mengurus bisnis appa di Jepang. Well, sebenarnya kondisi keluargaku tidak beda jauh dengan Sungmin Oppa. Tidak ada orang yang tahu bahkan teman-teman kuliahku, karena memang mereka berbasis (?) di Jepang dan di korea ini aku tinggal sendiri di apartemen yang memang tidak terlalu mewah.

Saat sedang asyik bercengkrama dengan Min oppa aku tersentak mendengar dencitan ban mobil yang cukup keras. Seseorang mengendarainya ugal-ugalan.

Tapi .. tunggu dulu …

“sepertinya aku kenal mobil itu … “ tanpa sadar aku bergumam.

“ Yoon … gwenchana?” Min oppa menepuk pundak ku.

“ ne? aa ne opaa, gwenchana.” Aku tersenyum.

“kajja .. oppa antar kau ke kantor.” Min oppa berdiri dan langsung menggandengku tanpa menunggu jawaban dariku.

Sungmin POV

Seperti orang kesetanan aku mengendarai mobilku. Sudah beberapa kali aku melanggar lampu merah. Buku-buku jari ku sampai memutih karena terlalu keras mencengkram setir.

Kau tahu?

Setiap hari dia bilang “saranghae” padaku tapi apa yang aku lihat tadi?

Dia.

Shin Yoonji. Dengan tidak tahu malunya bermesraan pagi-pagi, di halte bis pula.

Aku marah? TENTU SAJA!!

Aku cemburu? Apa harus aku jawab “IYA” ?

Aku bersumpah.

AKU LEE SUNGMIN TIDAK AKAN LAGI MEMBIARKAN “GADIS” ITU MENGACAUKAN PIKIRAN DAN HATIKU !!!!!

Ciiitttttt …….

Segera aku menginjak rem. Berusaha men-stabilkan detak jantungku.

Tidak!

Aku CABUT kembali sumpahku tadi. Aku benar-benar tidak bisa mengenyahkan dia dari hidupku.

Kyuhyun bilang hidupku jauh lebih baik saat gadis itu datang. Kyuhyun juga bilang kalau raut wajahku tidak lagi se”menakutkan” dulu, walaupun hanya dia yang menyadarinya.

“da*n !!!!!!!” sekali lagi aku memukul setir. Mengacuhkan lebam yang sudah aku dapatkan beberapa saat lalu.

Author POV

*Entah bagaimana waktu memihak pada kisah mereka.

Setelah meredam emosi dan memasang “topeng” nya, dengan langkah tenang dia menuju lift dan segera menekan angka 22. Baru di lantai satu lift itu berhenti dan terlihat seorang yeoja yang ekspresinya langsung berubah senang melihat siapa yang ada di dalam lift. Dengan langkah riang dia masuk dan tidak berhenti tersenyum sambil menatap intens seseorang itu.

“selamat pagi direktur Lee …” sapa Yoonji dan tidak lupa membarikan senyum terbaiknya.

“pagi.” Jawab Sungmin singkat.

Bukan hanya waktu yang memihak mereka, sepertinya keadaan dan situasi juga.

Hanya ada mereka berdua di dalam lift. Di lantai berikutnya pun lift tidak berhenti yang menandakan tidak ada orang yang berniat menggunakan lift itu.

“ hey direktur Lee .. kau tidak bisa mengikat dasi yaa?” Tanya Yoonji mengerutkan keningnya.

Sungmin tersentak. Dia menoleh dan mendapati Yoonji sedang tersenyum .. jail (?)

Seperti terhipnotis, Sungmin menurut saat Yoonji memutar tubuhnya untuk menghadapnya. Dia juga hanya diam saat Yoonji meraih tangan kirinya dan meminta Sungmin untuk memegang tas bekalnya. Dengan perlahan Yoonji mengikat dasi Sungmin serta merapikan kerah kemeja lelaki pujaan hatinya itu.

Yoonji tersenyum puas melihat hasil ikatan dasinya. Setelahnya dia segera mengambil tas bekal yang tadi dititipkan pada direkturnya itu. Namun, mata Yoonji membulat ketika dengan tidak sengaja dia melihat tangan kanan Sungmin.

“ omona???” pekik Yoonji kaget. Segera dia meraih tangan kanan Sungmin dan sibuk mencari “sesuatu” di tas nya.

“direktur Lee .. apa yang kau lakukan pada tangan kananmu? Apa kau tidak tahu bagaimana pentingnya tangan kanan itu? Kau hampir melakukan semua hal dengan tangan kanan kan? Dan coba lihat ini .. darimana kau mendapatkan lebam parah begini? Apa kau baru saja menolong seorang nenek yang sedang di ganggu preman, HAH??” dengan kesadaran penuh dan raut muka cemas Yoonji memarahi (?) direktur nya. Tetap saja berasumsi positif tentang bagaimana Sungmin mendapatkan lebam itu.

Entah bagaimana Sungmin harus bereaksi dengan tingkah sekretarisnya itu. Lagi-lagi jantung nya dengan jujur bereaksi mendapat perlakuan “menyenangkan” itu dari Yoonji. Dia seakan lupa dengan apa yang dilihat tadi pagi.

Samar-samar tercium aroma kayu manis dari rambut Yoonji karena gadis itu sedang menunduk mengoleskan salep untuk bengkak yang akhirnya dia temukan di tas nya.

Perlahan Sungmin menyesap aroma itu, menghirupnya sebanyak yang dia bisa. Tanpa sadar jantung nya kembali tenang. Kelihatannya dia akan mengganti aroma therapy di rumahnya dengan aroma “Yoonji”.

“selesai.” Yoonji menegakan kembali wajahnya dan secara otomatis Sungmin memakai lagi “topengnya”.

“salepnya hanya akan mengempeskan bengkaknya, kau tetap harus minum obat untuk meredakan nyerinya.”

“ini pasti sakit sekali yaa …” wajah Yoonji berubah sendu menatap tangan bengkak Sungmin. Hal ini menjadi kesenangan tersendiri untuk Sungmin.

Ting …..

Lift sudah sampai di lantai 22. Dengan segera Sungmin menarik tangan nya dari genggaman Yoonji.

“gwenchana. Kamsahamnida Yoonji-ssi.” Kata Sungmin sambil menyerahkan tas bekalnya.

Dengan langkah tenang dia menuju kantornya dan Yoonji mengikutinya dari belakang. Dengan sengaja dia ikut masuk keruangan Sungmin setelah meletakan tas bekalnya di meja nya.

Sungmin POV

Entah mengapa aku bisa langsung lupa dengan “pemandangan indah” di halte tadi ketika melihat senyum nya. Bahkan aku sudah tidak merasakan sakit lagi di tangan kananku. Dan kenapa sekarang dia mengikuti ku masuk ruanganku sih??

“apa lagi?” Tanya ku dengan tetap mempertahankan “topengku”.

“ini obat untuk nyeri mu direktur.” Kata nya sambil menyerahkan 1strip obat yang hanya tinggal 2 tablet.

“ani. Aku tidak suka minum obat.” Kata ku tanpa sadar membocorkan (lagi) kelemahan ku.

“ne??” dia tampak kaget menatapku.

Mungkin dalam pikirannya dia sedang meremehkan seorang direktur sepertiku yang tidak suka minum obat.

“tapi kau harus tetap meminumnya direktur Lee, atau bengkakmu akan lama sembuhnya.” Dia tetap keras kepala menyuruhku minum obat.

“aku sih mau-mau saja menjadi “tangan kanan” mu, tapi kau pasti tidak mau kan??” katanya lagi dengan sedikit senyum jail (?)

Ada imajinasi menyenangkan tentang dia yang menjadi “tangan kanan” ku. Misalnya membantuku melepas jas kerjaku, menyuapiku makan, berdiri disampingku sepanjang jam kerja. Sepertinya itu menyenangkan. Tapi lagi-lagi aku harus membuang jauh hal-hal seperti itu.

“setelah kau minum obat segera makan permen ini maka rasa obatnya tidak akan tertinggal di lidahmu.” Dia meletakan obat dan permen itu dimeja ku.

“baiklah.” Aku menyerah, lebih tepatnya tidak menolaknya lagi atau bibir ku akan dengan kurang ajar nya membocorkan hal-hal memalukan (lagi).

“apa lagi?”

“ne?”

“kau tidak berniat segera mengerjakan tugasmu nona Shin?”

“ahh .. ne direktur Lee. Mianhae. Anyeong..” dia terlihat sedikit salah tingkah.

Author POV

Setelah Yoonji keluar dari ruangan Sungmin, dengan perlahan disandarkannya punggungnya pada kursi nyaman yang di pesan khusus dari Itali itu. Sungmin memejamkan mata, merilekskan otot wajahnya yang menegang.

Perlahan di raihnya obat dan permen dari Yoonji tadi, memandangnya lekat dan tanpa sadar bibir nya membentuk sebuah lengkungan manis yang pasti akan membuat Yoonji makin mencintainya jika gadis itu melihat senyum Sungmin ini.

Setelah puas menatap obat dan permen itu dengan penuh cinta (?), Sungmin segera bangkit untuk melepas jas kerjanya setelah menyimpan “special things” dari Yoonji. Namun tampaknya dia sedikit kesulitan karena lebam di tangan kanannya. Hal itu membuat sungmin menggeram kesal.

“ Aaarghhh …..”

Entah Yoonji mendengar geraman Sungmin atau feeling nya yang tepat karena terlalu mencintai direkturnya, tanpa sedikit pun sopan santun – walaupun hanya mengetuk pintu – Yoonji membuka pintu ruangan Sungmin dan menyembulkan kepalanya.

Gadis itu tersenyum geli melihat direktur tercintanya kesulitan melepas jas kerjanya. Karena posisi Sungmin yang membelakangi pintu, tentu saja dia tidak sadar kalau sekretarisnya melihat “pemandangan” yang menyenangkan untuk gadis itu.

“ Anda butuh bantuan direktur Lee??” Tanya Yoonji sambil tersenyum dan tetap hanya kepala nya saja yang nampak.

Sungmin yang tersentak kaget reflek menoleh ke arah pintu. Dengan cuek nya Yoonji melangkah pelan menuju Sungmin dan membantu direktur nya melepas jas kerjanya dan menggantung nya.

“ada lagi yang bisa aku bantu direktur?” Tanya Yoonji tanpa tingkah genit seperti sekretaris-sekretaris kebanyakan.

“ani. Kau boleh pergi.” Jawab Sungmin singkat.

“baiklah..permisi direktur Lee..” sebelum keluar Yoonji membungkuk sedikit dan melangkah pelan.

“ nona Shin ..” panggil Sungmin yang membuat Yoonji menghentikan langkah nya.

‘ne?”

“kamsahamnida..” kata Sungmin dan kali ini dia menatap Yoonji.

Untuk sesaat mata mereka bertemu yang membuat jantung keduanya berdebar. Yoonji tersenyum menjawabnya dan segera melangkah keluar.

Yoonji POV

Aku tersenyum sendiri dimejaku. Masih enggan meraih setumpuk dokumen yang harus aku selesaikan hari ini dan malah meraih buku agendaku yang tersimpan rapi di laci. Aku membuka langsung pada pembatas warna pink. Terlihat satu kalimat yang aku tulis dengan tinta ungu dan beberapa point di bawahnya dengan tinta hitam.

^^THE OTHER SIDE OF SUNGMIN LEE ^^

-memiliki senyum yang sangat indah.

-memiliki sorot mata yang memberikan perasaan berbeda bagi yang menatapnya, terlihat seperti memiliki kekuatan ajaib.

(itulah sebabnya aku langsung jatuh cinta padanya^^)

-ternyata dia menyukai balita dan sebaliknya.

(pernah aku lihat dia di panti asuhan dan terlihat banyak balita yang mengelilingi nya, yeoja dan namja^^)

-permainan pianonya sangat indah.

(hanya sekali aku melihatnya ditoko music daerah Myeondong^^)

-tidak pernah melewatkan hari minggunya untuk ke Gereja.

-jago martial art.

(tidak sengaja aku melihatnya menolong seorang nenek yang diganggu preman … keren banget .. kayak Inuyasha ^^)

-punya penyakit anemia.

(aku pernah lihat dilacinya ada obat penambah darah)

-suka dengan buah labu.

(aku sempat heran saat ada jus labu di mesin penjual minuman dan ternyata hanya Sungmin oppa lah yang membelinya ^^)

-tidak suka dengan Asparagus.

(alergi)

-tidak merokok.

(karena Sungmin oppa selalu wangi^^)

Aku segera menambahkan 2 point tentangnya yang aku temukan pagi ini.

-tidak bisa mengikat dasi.

-tidak suka minum obat.

………………………………………………….

Ketika waktu sudah menunjuk kan pukul2, aku segera menghampiri Sungmin oppa dengan kotak bekal yang tadi sudah aku siapkan.

“Direktur Lee … waktunya makan siang …” kata ku riang masuk ruangannya dan tetap saja tanpa mengetuk pintu.

“tidak bisakah kau ketuk pintu dulu nona Shin??” Tanya nya sinis.

“tidak. Tangan ku sedang repot membawa bekal dan minuman untukmu.” Jawabku santai.

Sungmin oppa hanya mendengus dan masih berkutat dengan komputernya. Keningku berkerut melihat raut wajahnya.

Sungmin POV

Sial !!!

Gara-gara lebam ini aku tidak bisa bekerja dengan baik, dan ini membuatku sedikit frustasi. Aku paling tidak bisa menahan rasa sakit sebenarnya. Tapi aku juga tidak suka minum obat ,, ah ani ani .. aku tidak bisa minum obat tepatnya. Dan tentu saja aku tidak bisa meminta Wookie datang kekantor hanya untuk sekedar memberiku injeksi analgesic.

“ aishhh …. Kenapa panas sekali cuaca hari ini … “ aku menurunkan suhu AC sampai 10’.

“Direktur Lee … waktunya makan siang …” Yonnji tiba-tiba masuk ruanganku tanpa mengetuk pintu yang sudah membuatku terbiasa dengan kebiasaan buruknya itu.

“tidak bisakah kau ketuk pintu dulu nona Shin??” Tanya ku sinis tanpa mengalihkan pandanganku pada layar komputer.

“tidak. Tangan ku sedang repot membawa bekal dan minuman untukmu.” Jawabnya santai.

Da*m !!

Aku mengumpat dalam hati. Kedatangannya makin membuatku sulit konsentrasi.

“ direktur Lee, gwenchana ??” Tanya nya dengan nada … errr …. Khawatir (?)

“ne. wae?” aku masih tidak “bisa” melihatnya.

“kau berkeringat dingin direktur…” jawabnya sambil mengusap dahi ku dengan tissue.

Aku tersentak. Mendongak dan mata kami bertemu (lagi).

“kau sudah minum obatmu kan??” Tanya Yoonji menyelidik.

“eeerrr …. Sudah.” Jawabku yang entah mengapa terlihat gugup, seperti seorang siswa sekolah yang ketahuan mencontek.

“ aku tahu kau bohong Oppa …”

“cepat katakan dimana obat itu sekarang?? Atau kau sudah membuangnya??”

“ ehm ehm .. “ aku hanya menggeleng pelan.

“kau tidak benar-benar membuangnya kan oppa ??” Yoonji sedikit bergetar, raut muka nya .. sedih (?).

“aku sudah bilang, aku tidak suka minum obat kan.” Kataku. Berusaha tidak menariknya dalam pelukanku karena raut wajahnya itu.

“tapi kan kau tidak harus membuangnya. Tidak tahukah kau aku mencemaskanmu? Dan lihat sekarang, kau pasti sedikit demam kan?” Kurasa dia masih menahan diri untuk tidak menaikkan suaranya.

Aku diam. Tidak menanggapinya.

Dia menghela nafas panjang. “terserahmu sajalah DIREKTUR LEE.”

Dia marah.

Keluar ruanganku. Menutup pintu sedikit kasar.

“ aaarrghhhhh ….” Aku hanya bisa mengerang frustasi.

“ Lee Sungmin BABO.” Umpatku pelan.

Pandangan ku tertuju pada kotak bekal dimeja. Aku menatap nya nanar.

“ Hyung .. kajja kita makan siang.. Oiya .. apa yang terjadi pada Yoonji? Aku lihat tadi dia berlari keluar sambil menangis. Kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak kan Hyung?” Kyuhyun ynag masuk seenaknya sambil terus bicara, tidak aku pedulikan.

“ Hyung …. Gwenchana ???” Tanya Kyuhyun khawatir.

Aku masih diam.

“ aishhh … BABOYA hyung …”

“ cepat kejar dia Hyung … sebelum kau MENYESAL!!” Kyuhyun berseru kesal di depanku.

1 detik

3 detik

7 detik

Author POV

Sungmin meraih kotak bekal Yoonji dan berlari menyusul Yoonji, namun dia berhenti di lobi saat menyadari kalau dia tidak tahu harus kemana. Dia terlihat mengacak rambutnya kesal, berpikir dimana Yoonji.

10 detik

17 detik

27 detik

Sungmin bergegas ke taman di gedung kantor itu. Dari kejauhan dia melihat bahu Yoonji bergetar yang menandakan kalau gadis itu sedang menangis. Sungmin masih bertahan pada ego nya. Dia enggan menghampiri gadis yang dicintainya itu.

Yahh ..

Dia memang “gagap” dalam hal wanita.

“ Yoon ….” Terdengar suara namja memanggil nama Yoonji.

Sungmin terpaku ditempatnya (diseberang Yoonji), menatap “horror” namja tersebut.

“ dia kan … ?” gumam Sungmin.

“ gwenchana?” Tanya namja itu setelah duduk disamping Yoonji sambil memeluk bahu Yoonji.

Yoonji hanya menggeleng menjawab pertanyaan namja itu.

Mata Sungmin berkilat marah, tangan nya menggenggam kuat, mengacuhkan rasa sakit yang dia rasakan. Entah bagaimana perasaannya sekarang, antara marah, cemburu dan menyesal. Perlahan dia meninggalkan tempat itu sebelum dadanya semakin sesak.

Yoonji POV

Dia menyebalkan.

Benar-benar menyebalkan.

Perlahan airmata ku mulai mengalir dan kali ini aku tidak lagi menahannya.

“ Yoon ….” Aku mendengar suara Min Chul oppa memanggilku.

“ gwenchana?” Min Chul oppa terdengar khawatir. Dia menarik bahu kedalam pelukannya.

Aku hanya menggeleng lemah menjawabnya.

“mianhae oppa… maaf sudah membuatmu khawatir…” aku masih terisak dipelukan oppa.

Author POV

Untuk pertama kali dalam 26th hidup Sungmin, dia merasa begitu hancur dan berantakan. Gadis itu benar-benar sudah mengacaukan hidupnya.

“ aarghhh …” Sungmin berteriak frustasi.

Setelah dari taman siang tadi, dia langsung bergegas pulang. Mengurung diri dikamar, mengacuhkan panggilan kepala pelayannya. Melampiaskan amarahnya dengan melempar semua yang ada dikamarnya hingga ruang pribadinya itu tak “berbentuk” lagi. Airmata nya mulai mengalir, membuatnya semakin sesak. Dilemparnya patung gajah kecil dari Thailand kearah cermin panjang disamping lemari bajunya hingga cermin itu pecah. Dadanya semakin sesak melihat cermin nya hancur, seolah sama seperti hatinya.

Perlahan Sungmin menenggelamkan kepalanya di antara kakinya. Keadaannya benar-benar menyedihkan. Seorang LEE SUNGMIN terpuruk di bawah tempat tidurnya.

Sungmin menangis. Benar-benar menangis.

Menangisi kebodohannya.

Keadaan Yoonji pun tidak jauh berbeda dengan Sungmin. Hanya bedanya Yoonji tidak tahu harus bagaimana menghilangkan sesak dihatinya. Selama ini, sekeras apapun Sungmin menolak nya, mengacuhkan perhatiannya, tapi Sungmin tidak pernah membuang pemberiannya.

Dia kecewa.

……………………………………………………..

Dari hari ke hari Yoonji tetap pada siklus baru hidupnya. Dia tetap mengejar Sungmin dan Sungmin tetap bersikap dingin, tambah dingin malah. Karena memang tidak ada kata menyerah dalam kamus Yoonji.

Sebelum pria itu menikah, Yoonji benar-benar tidak akan pernah menyerah mengejar Sungmin. Sesakit apapun penolakan pria itu, Yoonji mengacuhkan rasa lelahnya yang entah sampai kapan gadis itu mampu bertahan.

…………………………………………………………

Sejak kejadian siang itu, berbagai macam perasaan bercampur-aduk di dada Sungmin. Marah tapi juga menyesal. Benci tapi merasa kehilangan. Beberapa kali dia mencoba mengacuhkan Yoonji, tapi justru “kecanduannya” terhadap gadis itu semakin besar.

Sungmin POV

10.25 PM

Aku memandang lekat dasi yang di ikat Yoonji, obat+permen pemberiannya, serta menghirup perlahan aroma therapy kayu manis di atas meja. Aku membutuhkannya sekarang. Bagaimana pun aku mencoba membencinya, aku tidak pernah bisa menghilangkannya dari hati dan pikiran ku.

2 minggu aku tidak melihatnya. Dia mengambil cuti untuk mengunjungi orangtuanya. Bodohnya aku karena tidak tahu dia pergi kemana. Well,, aku memang tidak tahu apa-apa tentang dia. Dia menghilang dari jarak pandangku, membuatku sesak karena kehilangan sumber oksigenku.

Kyuhyun bilang aura ku semakin kelam. Tentu saja aku menyadarinya. Senyum nya adalah heroin bagiku. Heroin yang membuatku “kecanduan”. Heroin yang membuatku tenang.

Aku sudah hampir gila sekarang. Menyesap dalam-dalam aroma kayu manis dan membayangkan Yoonji di pelukanku saat ini.

………………………………………………………

07.00 AM

Aku sudah menjadikan telponnya sebagai alarm pagiku. Sekarang saat dia “cuti” aku sering terlambat ke kantor hampir 3minggu ini. Dia sudah berhasil membuatku gila.

08.56 AM

Aku baru tiba dikantor. Aku lihat meja Yoonji masih kosong. Selama dia cuti SunKyu yang menggantikannya.

Tapi dimana dia sekarang??

Kalau dulu aku selalu meng-handle sendiri jadwalku, karena tidak ingin melihat Yoonji kesulitan, sekarang aku menyerahkan semua jadwalku pada SunKyu.

Ckleek ….

Aku terpaku didepan pintu ruanganku. Menatap intens seorang yeoja yang sudah membuatku gila. Aku mendapatkan kembali oksigenku.

Dia sedang merapikan mejaku dan tidak menyadari kedatanganku. Dia menyusun folder dokumen sesuai abjad dan tiba-tiba pandangannya tertuju pada kotak hitam dirak paling bawah.

Ohh .. tidak !!!

“ kau sudah mulai bekerja nona Shin?” Tanya ku ketika dia hampir saja meraih kotak “special things from Yoonji” ku.

“ eh … ne direktur Lee.” Dia terkejut, berbalik menatapku.

“ bagaimana kabar anda?” Tanya nya basa-basi.

“baik. Sangat baik.” Jawab ku, berusaha meredam hasratku untuk menariknya dalam pelukanku.

“3minggu ini hidupmu pasti tenang karena tidak ada yang mengganggu mu.” Dia tersenyum. Tidak seperti biasanya. Dia terlihat … sedih (?)

Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya. Dengan langkah tenang aku menuju meja kerjaku.

“bagaimana jadwal ku hari ini?”

“ hari ini ada rapat dewan direksi pukul 10.30 lalu makan siang bersama dengan direktur Cho dan tadi ada telpon dari Ny. Lee, beliau berpesan agar nanti anda bisa pulang lebih awal karena beliau ingin dinner bersama.” Jawab Yoonji, membacakan agendaku hari ini.

“ Ne. kamsahamnida.”

“ Kalau begitu saya permisi dulu direktur Lee. Annyeong ..” dengan langkah tenang Yoonji meninggalkan ruanganku. aku hanya menatapnya dengan kening berkerut.

“ tidak biasanya dia langsung pergi …”

Yoonji POV

Setelah  cuti 3 minggu akhirnya aku kembali bekerja. Selama 3 minggu ini aku digantikan oleh SunKyu-ssi.

Kau tahu??

Direktur Lee memperlakukan SunKyu-ssi benar-benar seperti sekretarisnya.

Dia selalu melarangku mencatat jadwalnya, tapi dengan SunKyu-ssi, dia malah menyuruhnya.

Dia juga menyuruh SunKyu-ssi mengerjakan laporan bulanan yang tidak pernah aku kerjakan.

3th ini kerja ku hanya mengevaluasi hasil rapat, menyiapkan dokumen kerja sama, dan “mengganggunya”.

……………………………………………………

Pertama kali nya dalam hidupku, aku memaksa otakku berpikir keras. Bahkan saat dulu mengerjakan tesisku kepala ku tidak sampai sesakit ini.

Kemarin saat eomma menelponku dan memintaku pulang ke Jepang, dia dengan seenaknya saja membicarakan perjodohanku dengan anak teman lamanya. Tentu saja aku langsung menolaknya dan bilang kalau aku sudah punya pacar.

Sekarang siapa yang harus aku mintai tolong untuk pura-pura menjadi pacarku??

Tidak mungkin kan aku minta tolong direktur Lee???

Apalagi Kyu-oppa. Bisa-bisa Hye-unnie mengirimku ke neraka.

Ternyata aku tidak memiliki teman namja di Korea ini.

#galau

“ haaaa …..”

Jika ada orang yang melihatku dia pasti akan mengira kalau aku makan gaji buta. Yahhh …. Memang iya sih sebenarnya. Yang aku lakukan dihari pertama masuk adalah melamun dan meletakan kepalaku dimeja. Tidak ada pekerjaan menumpuk, tidak ada laporan evaluasi, tidak ada apa-apa. Mejaku benar-benar “bersih”.

Author POV

Yoonji menegang di depan pintu apartemennya mendapati orangtua nya duduk manis minum teh didepan TV. Dengan langkah gemetar dia mendekati orangtuanya.

“ kau sudah pulang Yoon ..?” eomma Yoonji yang menyadari kehadiran Yoonji segera menghampiri putrinya.

“ne .. eom .. eomma.” Jawab Yoonji gemetar.

“kau baik-baik saja Yoon??” eomma Yoonji tersenyum, sebuah senyuman yang Yoonji tahu arti dari senyuman itu. Yoonji pun hanya bisa menelan ludah gugup.

“eomma pasti sudah menggeledah apartemenku dan tidak menemukan tanda-tanda kalau aku sudah punya pacar.. Shin Yoonji PABO. JEONGMAL PABOYA.” Yoonji mengumpat dalam hati.

“duduklah. Eomma sudah buatkan pancake kesukaanmu.” Eomma Yoonji berlalu ke dapur.

Yoonji hanya mendesah dan mengambil duduk diseberang Appa nya dengan kepala menunduk dalam. Appa nya yang tahu betul apa yang sedang dirasakan putrinya hanya tersenyum geli dan menyerahkan semua pada istrinya.

“ ada yang ingin kau katakan pada eomma Shin Yoonji??” maksud dan ekspresi wajah eomma Yoonji benar-benar gak sinkron.

“ ne. eomma.” Yoonji menyerah.

Walau dia masih berharap pada Sungmin, tapi dia tidak menemukan alasan lain untuk menolak perjodohannya.

“jadi ….”

“ aku … tidak punya pacar.” Jawab Yoonji lemah.

Eomma nya hanya tersenyum lembut menanggapi putrinya.

“tapi ….”

“ Ne?” Yoonji menatap eommanya.

“ folder laptop mu penuh dengan foto namja Yoon.. Oppa mu yang mengatakannya pada eomma.” Eomma menjawab kekagetan Yoonji. Yoonji hanya bisa menunduk malu.

Sebenarnya orangtua Yoonji senang karena putrinya mengenal bahkan punya seorang namja yang dicintai. Tapi mereka sudah terlanjur membuat perjanjian dengan teman mereka.

@other side in same time

Sungmin hanya mengerutkan kening melihat eomma nya membongkar lemari bajunya. Sesaat setelah Sungmin masuk rumah, eomma nya langsung menyeret putra nya untuk segera mandi dan dia sibuk memilihkan kemeja yang cocok untuk “dinner” nanti.

“ kita dinner di luar ya eomma??” akhirnya Sungmin bertanya.

“ne.” jawab eommanya singkat.

“kenapa hanya kemeja kerja yang kau punya sih Minnie-ya ??” eomma nya terlihat sedikit jengkel. Sungmin tidak menjawab karena memang itu bukan pertanyaan untuk dijawab.

“ukuran mu dan Sungjin sama kan?” Tanya eomma nya lagi. Sungmin hanya mengangguk pelan.

Eomma Sungmin tersenyum lebar dan berlalu ke kamar Sungjin –adik Sungmin- di sebelah kamar Sungmin.

Tak berapa lama eomma kembali dengan Sungjin bersamanya. Sungmin hanya melihat sekilas lalu kembali menatap tablet pc nya.

“ Hyung, kajja!” tanpa peduli jawaban Sungmin, Sungjin menarik lengan Hyung nya dan sedikit menyeret Sungmin ke kamarnya.

Sungjin tersenyum jail. Dia sudah lama berniat meng-make over Sungmin, dan sekarang eomma nya memberi kesempatan untuk itu.

Setelah mendudukan Sungmin di bed nya, Sungjin segera membuka lebar lemari bajunya. Dia tampak senang mengacak-acak isi lemarinya.

Denim biru muda mendekati abu-abu.

Kaos pink lembut dengan model V neck.

Celana bahan warna senada dengan denimnya.

Sepatu kets hitam.

Sungjin menyusunnya di atas bed sebelah Sungmin. Kening nya berkerut, tangan nya mengusap dagu, Sungjin sedang berpikir sambil memvisualisasikan “kostum” tadi ke Sungmin.

Perlahan senyum nya mengembang.

“ perfect.” Sungjin menggumam pelan.

“ Hyung, cepat pakai ini.”

“ PINK ???” Sungmin mengangkat alis dengan ekspresi “jijik”.

“ aissshh,,, percaya padaku Hyung, walau kau memakai warna pink, semua yeoja di Korea akan terpesona padamu, mungkin ,,,, akan ada beberapa namja juga di antara mereka.” Sungjin tersenyum jail.

“ MWO ?? SHIREO !!!!!” Sungmin menolak mentah-mentah.

“ aiisshh ,, ayolah Hyung.”

“ aku jamin sekretaris tercintamu itu akan langsung terpesona padamu dan langsung bilang “ I DO”..” Kata Sungjin.

Seperti menyadari kebodohannya dia segera menutup mulut dengan kedua tangan nya dan matanya melebar.

“ apa maksudmu??” tanya Sungmin penuh selidik.

“ ah .. a .. ani. Palli pakai bajunya.” Sungjin segera mengambil langkah kabur dari Hyung nya.

“ eeitsss … kau mau kemana?” dengan sigap Sungmin menarik baju Sungjin.

“ katakan apa yang tidak aku tahu !!” Sungjin hanya menelan ludah, takut, karena sungmin menatapnya “horror”.

“ dinner nanti kau akan dijodohkan dengan anak teman eomma. Dan …” Sungjin takut bicara lebih, karena eomma nya sudah mengancam akan mempercepat wamilnya kalau dia mengatakan soal perjodohan ini pada Hyung nya.

Sungmin masih menunggu kelanjutan cerita Sungjin.

“ apa hubungannya dengan sekretaris-ku? Dan apa maksudmu dengan “sekretaris tercintaku” ??”

“ jangan menyangkalnya Hyung. Aku tahu semua nya, aku tahu bagaimana Yoonji noona mengacaukan hidupmu. Percaya padaku, malam ini kau akan menjadi namja paling bahagia di dunia.” Sungjin mengakhirinya dengan menepuk pundak sungmin.

Sungmin masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Sungjin. Dia mencoba menuruti Sungjin, lagipula Sungjin termasuk golongan Fashionista.

………………………………………………

1 jam sebelum dinner

@Yoonji apartement

Yoonji dan Min Chul sedang duduk bersila dan saling berhadapan di bed Yoonji. Pintunya pun terkunci.

“ Kau yakin??”

“ Ne oppa.” Jawab Yoonji pelan. Min Chul hanya mengelus kepala yeodongsaeng nya sambil tersenyum lembut. Yoonji bergerak pelan memeluk oppa nya.

“ semua akan baik-baik saja Yoon … pasti baik-baik saja.” Min Chul mengelus punggung Yoonji, menenangkan Yoonji yang mulai terisak.

Sementara itu diruang makan, orangtua Yoonji nampak serius membicarakan masa depan putri mereka.

“ yeobo-ah .. dia putri kita satu-satunya kan? Aku ingin dia bahagia..” eomma Yoonji menunduk memainkan cangkir teh nya.

“ ne chagi.. aku pun juga ingin dia bahagia, tapi kata Chullie perasaan Yoonnie tidak terbalas. Kita pertemukan mereka saja dulu, untuk selanjutnya biarkan mereka sendiri yang menentukan, Ne??” Appa Yoonji bersikap bijak.

“ Ne yeobo …” eomma Yoonji tersenyum lembut ketika tangan suaminya menggenggam erat tangan nya.

“ sudah waktunya kita bersiap, kajja.”

“ Chullie,, Yoonnie,, ayow bersiap, sudah waktunya makan malam.” Eomma sedikit berteriak di depan pintu kamar Yoonji.

“ cha ,, cepat mandi.”

“ ne oppa.” Yoonji berjalan lesu ke kamar mandi dikamarnya.

………………………………………………

@restoran

Orangtua Yoonji memasuki rung VVIP yang sudah dipesan sebelumnya.

“ eh ,, ternyata kalian sudah datang.” Kata eomma Yoonji.

Keluarga Lee yang datang lebih dulu segera bangkit dan menyambut keluarga Shin. Suasana hangat langsung terasa diruang itu. Sedangkan kedua anak keluarga Lee nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Sungjin sibuk dengan ponselnya, kelihatannya dia sedang sms-an dengan yeojachingu nya. sedangkan Sungmin sibuk dengan i-pad nya, memantau pergerakan saham perusahaannya maupun perusahaan lainnya.

“ dimana putrimu?” Tanya eomma Sungmin.

“ dia masih di butik dengan oppa nya, tadi sewaktu mau berangkat bajunya ketumpahan teh.” Eomma Yoonji menjelaskan. Eomma Sungmin hanya ber-oh ria menanggapinya.

“ chagiya ,, ayow perkenalkan diri kalian. Tidak sopan sekali kalian ini.” Tegur eomma Sungmin.

“ mianhamnida eomma. Lee Sungmin imnida. Bangepsemnida.”

“ Lee Sungjin imnida. Bangepsemnida.”

Tak berapa lama pintu kembali terbuka. Seorang namja masuk tanpa rasa bersalah karena sudah terlambat.

Sungmin dan namja itu nampak kaget, namun dengan kekagetan yang berbeda.

Sungmin POV

Kenapa namja ini ada disini??

Aku tidak dijodohkan dengan dia kan??

Aku menatapnya .. errrrr… “horror”.

“ dimana adikmu?” Tanya ahjuma.

“ dia ke toilet dulu eomma.”

Eomma ?????

Apa aku akan dijodohkan dengan adiknya ????

Aku masih menatapnya dan mengacuhkan i-pad ku. Dia duduk didepan ku dan tersenyum, sekedar bersikap baik mungkin.

“ dia tidak mencoba kabur kan Min?”

“ ani. Eomma tenang saja, setelah dia melihat siapa calon suaminya dia pasti akan minta dinikahkan besok.” Jawab namja itu sambil tersenyum jail.

“ jinjja??” eomma sepertinya tertarik dengan obrolan mereka.

“ Wae??”

“ kita lihat saja nanti. Feeling ku bilang malam ini akan terjadi sedikit kehebohan.” Kali ini dia tersenyum penuh arti.

Kehebohan ???

Apa maksudnya ????

Min Chul POV

Aku sedikit tidak rela sebenarnya dengan perjodohan Yoonnie. Untuk pertama kali dalam 23th hidupnya dia jatuh cinta pada seorang namja. Senyum nya berbeda saat dia menceritakan namja-nya. walau hanya lewat skype aku bisa merasakan betapa bahagianya dia. Dan untuk pertama kali nya juga aku melihatnya begitu rapuh.

Hari ini dia menyerah mengejar cintanya. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan untuk menghiburnya. Senyumnya terlihat mengerikan. Apalagi tadi setelah aku tidak sengaja menumpahkan teh ke gaunnya, wajahnya tambah menyeramkan. Dan sekarang aku memaksanya mengenakan gaun yang lumayan seksi dan high heels 7cm, aku merasa sebentar lagi aku akan melihat neraka.

Yahh ..

Bagaimana pun juga aku ingin membuat namja yang akan dijodohkan dengan Yoonnie terpesona padanya.

Setelah sampai direstoran dia pergi ke toilet dulu. Aku segera menuju ruang VVIP. Aku terkejut melihat namja itu diruangan ini. Namja yang sudah membuat Yoonnie-ku jatuh cinta.

“ dimana adikmu?” Tanya eomma setelah aku duduk disebelahnya dan didepan namja itu.

“ dia ke toilet dulu eomma.”

“ dia tidak mencoba kabur kan Min?”

“ ani. Eomma tenang saja, setelah dia melihat siapa calon suaminya dia pasti akan minta dinikahkan besok.” Jawabku sambil tersenyum jail.

“ jinjja??” ahjuma didepan eomma terlihat senang (?).

“ Wae??” Tanya nya lagi.

“ kita lihat saja nanti. Feeling ku bilang malam ini akan terjadi sedikit kehebohan.” Kali ini aku tersenyum penuh arti.

“ ah yaa .. Min Chul Imnida. Bangepsemnida.”

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi.

“ oppaaaaaaa cepat angkat telponmu …” nada deringnya nya adalah suara Yoonnie. Aku lihat sekilas namja itu tersentak kaget.

“ mianhamnida..”

“ yeoboseo. Chagiya waeyo?”

“ ruangannya dimana oppa?”

“ dilantai 3 no.8.”

“ baiklah..”

“ aaaaarghhhh ….” Tiba-tiba Yoonnie mengerang kesakitan.

“ yak …. Yoonnie kau kenapa??” aku mulai panic mendengarnya, apalagi ditambah dengan suara aneh yang menandakan dia terjatuh.

“ aarghh … oppaaaa …. Appayoo ….”

“ Yoon .. kau dimana??”

“ Aku masih dilorong lantai 1.”

Sekilas aku lihat Sungmin keluar ruangan dengan wajah panic. Aku tersenyum evil (?).

“ tenanglah,, sebentar lagi akan ada pangeran tampan menjemputmu Yoon..”

“ Yaak .. oppaa, ap …” aku segera menutup ponsel.

Author POV

Para orangtua memandang heran pada Min Chul, sedangkan Sungjin heran dengan ekspresi hyung nya. ini pertama kalinya dia begitu panic. Satu-satunya alas an dia sepanik ini hanyalah Yoonji, dan Sungjin tau itu.

“ sebenarnya ada apa ini?” Tanya Ny. Shin penasaran.

“ kita tunggu saja, eomma.” Jawab Min Chul masih dengan senyum evilnya.

“ Hyung ..” panggil sungjin.

“ne??”

“ siapa nama adikmu?” Tanya Sungjin, sekedar meyakinkan opininya.

“ Yoonji. Shin Yoonji. Kenapa?” kening Min Chul berkerut.

Sungjin tidak menjawab, dia malah ikut tersenyum evil.

“ kau benar hyung. Malam ini PASTI terjadi kehebohan.” Kata Sungjin yakin.

“ apa maksudmu?”

“ Yoonji noonna bekerja di SENDBILL company kan??”

“ne. dari mana kau tahu?”

“ JJINJA ???!!!!” seru Tn. Dan Ny. Lee kaget.

“ hey .. ada apa ini sebenarnya??” Tanya Ny. Shin penasaran.

“ namja di laptop Yoonnie ….”

“ yeoja di i-pad Hyung ….”

Sedetik kemudian Min Chul dan Sungjin beradu pandang, heran. Detik berikutnya mereka tersenyum penuh arti.

Sungmin POV

Aku segera keluar mencari Yoonji, setelah tadi aku dengar jeritannya dari ponsel namja itu.

Okee … dia ternyata oppa kandung Yoonji.

Kurasa aku harus memanggilnya Hyung mulai sekarang.

Dengan sedikit berlari aku menyusuri lorong ruang VVIP di lantai 3.

Aku tidak melihatnya.

Segera aku turun ke lantai 2.

Aku masih tidak melihtnya.

Di lantai 1.

Aku melihatnya.

Dia berjalan pelan, berpegangan pada tembok dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang high heels dan clutch nya.

Aku menghela nafas lega. Perlahan aku menghampirinya. Me-normal-kan kembali raut wajahku.

Dia tidak sadar aku mengikutinya pelan. Samar aku dengar dia “nge-dumel” dan mengeluarkan sumpah serapahnya.

“ awas saja kau oppa, kau tidak akan selamat kali ini. Berani sekali kau menyuruhku memakai heels setinggi ini. Pasti tadi di butik kau menyuruh pegawai Auntie Juli menyembunyikan flatshoes nya.”

Aku tersenyum mendengarnya. Memikirkan cara untuk menghampirinya.

“ kenapa tidak ada lift nya sihh?? Kenapa tangga nya harus di ujung??”

“ aaarghhhh …”

“ menyebalkan!!!”

Saat dia berpegang pada pintu satu ruangan, tiba-tiba pintu itu terbuka. Aku segera menarik pinggangnya, mendekapnya dari belakang.

Dia kaget. Reflek menoleh kebelakang.

Baiklah .. Aku mulai “gila”.

Jantungku berdetak cepat.

Kenapa dia begitu mempesona saat ini?

“ gwenchana?”

Dia menggeleng lemah. Tapi kemudian dia mengangguk.

Seorang pelayan keluar dari ruangan tadi dan segera minta maaf.

“ tolong bawakan air es dan kompres ke ruang no. 8.”

“ ne, agashi.”

Pergelangan kaki kanan Yoonji bengkak. Tanpa pikir panjang aku menggendongnya ala bridal.

“ op .. oppa … turunkan aku..” dia shock, kurasa.

“ diamlah.”

Aku menatap lurus kedepan. Perlahan tangan kanan nya dikalungkan kepundakku. Dia menunduk malu.

Yoonji POV

Aku tidak bisa mengontrol detak jantungku. Saat ini aku tengah berada dalam gendongan Sungmin oppa. Wajah ku pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang.

Sungmin oppa menggendongku menaiki tangga.

“ oppa .. turunkan aku.. aku pasti berat kan?”

“ tidak. Kau sama sekali tidak berat Yoon.” Entah telinga yang salah atau apa, suara Sungmin oppa terdengar lembut.

Aku memandang intens.  Dia benar-benar mempesonaku saat ini. Kalau begini bagaimana bisa aku melupakannya.

“ aku tahu aku tampan. Aku tahu kau terpesona padaku. Aku tahu kau jatuh cinta padaku. Tapi kau tidak perlu melihatku seolah kau ingin menelanku kan?”

“ tsk … aku baru tahu kalau kadar percaya dirimu sama dengan Kyu-pa.”

Dia diam. Aku diam.

Aku sudah memutuskan untuk menyerah mengejarnya. Perlahan aku kumpulkan keberanianku untuk mengatakannya.

“ oppaa ….” Aku memanggilnya lirih, tanpa melihatnya.

“ ne?”

“ mianhae…”

“ untuk?”

“ Aku menyerah. Aku menyerah mengejar cintamu.” Aku berusaha menahan air mataku, walau suaraku sudah bergetar.

Dia berhenti. Tepat di anak tangga ke-8, tangga menuju lantai 3.

“ malam ini orangtua ku mengatur perjodohan untukku. Dan aku tidak punya alasan untuk menolaknya kan?”

Sungmin oppa mulai berjalan lagi.

“ dimana ruangan mu?”

“ no.8.”

Author POV

Sungmin berjalan pelan menuju ruang no.8. Yoonji berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya. Perasaan kecewa menyergap hatinya.

“ternyata keberadaanku tidak berarti baginya.” Gumam Yoonji dalam hati.

“ setelah 3th kenapa baru sekarang kau menyerah Yoon?” Tanya Sungmin dalam hati.

“ tunggu kejutanmu setelah ini.” Sungmin tersenyum dalam hati.

“ buka pintunya.” Kata Sungmin pelan. Yoonji pun membuka pintunya.

“ turunkan aku oppa.” Kata Yoonji lirih.

“ diamlah.” Sungmin berjalan mantap memasuki ruangan itu.

Keluarga Lee dan keluarga Shin terkejut melihat Sungmin menggendong Yoonji. Min Chul menarik kursi di sebelahnya dan memutarnya membelakangi meja, agar Sungmin mudah men-dudukan Yoonji. Tepat setelah Yoonji duduk pelayan yang diminta Sungmin mengantar kompres datang.

Sungmin berlutut dibawah Yoonji, menaruh kaki kanannya ke pahanya, segera setelah mengambil kompres yang dibawa pelayan tadi. Sungmin mulai menempelkan kompres pada pergelakan kaki Yoonji yang sudah membiru.

“ oppa lepaskan. Aku bisa melakukannya sendiri.” Yoonji bergetar. Sedikit takut pada situasinya sekarang.

“ diamlah.”

“ mana salepmu?” Tanya Sungmin, sambil menatap Yoonji .. lembut (?) tapi dia segera menunduk lagi dengan sedikit semburat pink dipipinya.

“ eh .. ehm .. aku tidak membawanya.” Jawab Yoonji lirih. Tampaknya dia terpesona dengan tatapan singkat Sungmin.

Perlahan Sungmin melepas jas nya dan menyampirkannya pada paha Yoonji yang terekspos akibat dress nya yang agak pendek. Wajah Yoonji makin memerah.

“ Jinnie-ya, dimana klinik terdekat dari sini?” Tanya Sungmin, masih sibuk mengkompres dan memijat kaki Yoonji.

“ eh ??” Yoonji menoleh bingung, menatap  orangtuanya dan oppa nya. Yang ditatap hanya tersenyum sambil mengangkat bahu.

“ sekitar 500 meter ke arah utara ada klinik 24 jam Hyung.” Jawab Sungjin setelah dia googling di yahoo (?)

Sungmin segera bangkit, tanpa bicara dia meraih Yoonji kembali ala bridal style setelah memindahkan jas nya pada pundak Yoonji.

“ yaa … oppa turunkan aku !!” Yoonji tersentak kaget dan sedikit berteriak.

“ diamlah Yoon..”

“ appa, eomma, abhoji, eommonim, kami menerima perjodohan ini, jadi tolong segera tentukan tanggal pernikahannya.” Kata Sungmin sambil tersenyum.

Yoonji hanya membuka mulutnya lebar.

“ Ne. tentu saja. Kami akan mengurusnya, kalian tenang saja.” Kata Ny. Lee senang.

“ Tolong jaga putri ku yaa, Sungmin-ah..” kata Ny. Shin tak kalah senang.

“ Ne. aku akan menjaganya … sampai akhir hidupku..” Sungmin tersenyum mantap.

Yoonji masih shock. Min Chul tersenyum senang. Sungjin heran, dia tidak menyangka Hyung nya bisa bicara seperti itu.

“ Yaa .. oppa turunkan aku !!” Yoonji yang tersadar dari shock nya memberontak di gendongan Sungmin.

Sungmin POV

Mungkin inilah yang Min hyung katakan tentang “kehebohan” tadi.

Woow .. aku harus terbiasa memanggil nya Hyung mulai sekarang.

“ appa, eomma, abhoji, eommonim, kami menerima perjodohan ini, jadi tolong segera tentukan tanggal pernikahannya.” Entah dapat keberanian darimana aku bisa bicara seperti ini. Tapi ini membuatku lega.

Aku menatap Yoonji lembut. Dia shock. Tentu saja.

“ aku JANJI ! aku akan mencintaimu sampai Tuhan menghentikan detak jantungku.” Janjiku pada Tuhan.

“ Ne. tentu saja. Kami akan mengurusnya, kalian tenang saja.” Kata eomma senang.

“ Tolong jaga putri ku yaa, Sungmin-ah..” kata eommonim tak kalah senang.

“ Ne. aku akan menjaganya … sampai akhir hidupku..” jawabku dengan keyakinan penuh.

Yoonji masih shock. Min Hyung tersenyum senang. Sungjin memandangku heran. Mungkin dia sedang berpikir, apa benar aku ini hyung nya.

“ Yaa .. oppa turunkan aku !!” Yoonji yang tersadar dari shock nya memberontak di gendonganku.

“ diamlah sebentar Yoon. Apa kau tidak sadar kalau dress mu itu sangat pendek?” aku tidak suka dia memakai mini dress.

“ mwo??” dia membulatkan matanya.

“ aku juga tidak mau memakai dress seperti ini. Dan apa maksudmu tentang tanggal pernikahan? Memang nya aku mau menikah dengan mu? Memangnya kapan kau melamarku?”

“ jadi kau tidak mau menikah denganku?? Apa kau yakin?” tunggu ,, dari mana aku belajar tersenyum jail seperti ini?

“ kita harus ke klinik dulu, baru setelah itu aku akan melamarmu.”

Yoonji POV

“ kita harus ke klinik dulu, baru setelah itu aku akan melamarmu.”  Aku terpaku melihat senyum dan tatapan matanya. Apa benar namja yang tangah menggendongku ini adalah Ming oppa ??

“ Jinnie-ya mana kunci mobilmu?”

“ kau naik taksi saja Hyung, aku ada janji dengan Ra-ya nanti.”

“ aisshh ,, kau ini !”

“ pakai saja mobil ku.” Min oppa menghampiri kami dan menyerahkan kunci Audi S4 chasilas nya.

“ ne hyung. Gomawo.”

“ kau tidak marah lagi kan Yoon?” Tanya Min oppa sambil memamerkan senyumnya.

“ kali ini kau selamat oppa.” Aku masih memberinya death glare ku.

“ hahaha … Sungmin-ah gomawo .. jeongmal gomawoyo .. kau sudah menyelamatkan ku..”

“ baiklah, kami pergi dulu. Nanti aku akan langsung mengantarnya ke apartemen. Anyeong.” Kata Ming oppa.

Author POV

Yoonji kaget saat Sungmin melajukan mobil ke arah apartemen nya, padahal dia tidak memberikan arahan apapun bahkan mereka tidak saling bicara setelah dari klinik.

“ bagaimana oppa tahu apartemenku?” Tanya Yoonji ketika mereka sudah sampai di tempat parker.

Sungmin hanya tersenyum menjawabnya. Dia segera turun dan membukakan pintu untuk Yoonji. Sekali lagi dia menggendong Yoonji ala bridal.

“ oppa ..” panggil Yoonji pelan saat mereka sudah memasuki lift.

“ hhmmm ..” jawab Sungmin. “lantai berapa?” Yoonji segera menekan angka 8.

“ apa kau serius tentang melamarku tadi?”

“ tentu saja. Kenapa memang?”

“ kenapa? Kenapa melamarku?” ternyata Yoonji ragu dengan sungmin.

Sungmin tidak segera menjawab. Meski sekarang dia memakai kaos V neck pink, tapi dia tetap bukan namja romantis yang bisa dengan gampangnya mengumbar kata “saranghae”.

Yoonji menunggu. Ada sedikit harapan tapi keraguannya terhadap Sungmin lebih besar.

“ turunkan aku.” Kata Yoonji lirih ketika mereka sudah sampai di depan apartemen Yoonji.

“ oppa aku mohon, jangan mempermainkanku…” Yoonji menggigit bibir bawah nya, menahan tangisannya.

“ kau tidak percaya pada ku Yoon?” Tanya Sungmin.

“ apa yang harus aku percayai?”

Sungmin tetap bergeming. Kenapa sulit sekali mengucapkan satu kata yang dinanti Yoonji.

“ buka pintunya.”

“ Turunkan aku oppa. Aku bisa sendiri.”

“ aku bilang buka pintunya.” Sungmin sedikit menaikkan suaranya.

Yoonji tersentak. Dia yang tidak biasa dibentak sedikit gemetar ketakutan. Perlahan Yoonji memasuklan password dan membuka pintunya.

Sungmin menutup pintu dengan kakinya. Dia duduk disofa dengan Yoonji tetap dipelukannya.

*jadi posisinya Yoonji dipangku sungmin.

“ kau bisa merasakannya?” Tanya Sungmin setelah menarik kepala Yoonji kedadanya.

“ kau tahu aku tipe namja seperti apakan. Aku tidak bisa mengucapkan satu kata “ itu” dengan romantis, seperti yang kau harapkan. Jadi dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya.”

Yoonji merasakan detak jantung sungmin yang tidak berbeda dengan keadaan jantungnya. Dia merasa nyaman dalam dekapan “paksa” Sungmin.

“ menikahlah denganku. Aku pastikan sekarang, besok, 10th lagi, 20th lagi dan sampai Tuhan menghentikan detak jantungku aku akan selalu mencintaimu. Kita akan bahagia bersama. Membangun sebuah keluarga dengan penuh cinta dan kasih sayang.”

….

……

…….

“ SARANGHAE.” Kata Sungmin (akhirnya) dan detik berikutnya dia mencium puncak kepala Yoonji.

Yoonji mengeratkan pelukannya. Makin menengelamkan kepala nya didada Sungmin.

‘ nado saranghae oppa.” Sungmin makin mengeratkan pelukannya.

“ kriuuuukk ….”

“ hhhmpp …..”

“ kalau kau berani tertawa aku akan …”

“ ha ha haa haahaa …. Mian oppa … hheeempphhh …..”

“ aisshhhhh ,,,,”

“ haahaaa …” Yoonji merenggangkan pelukannya. Kesempatan ini tidak disia-sia kan oleh Sungmin.

“ eehhhhmp …..” tawa Yoonji terhenti seketika saat Sungmin menempelkan bibirnya pada bibir Yoonji.

-epilog-

Min chul POV

Setelah pulang dinner tadi aku mendapat telpon dari Jepang. Mereka bilang terjadi sedikit masalah dengan hasil produksi.

Aku meminta appa untuk mengantar ke apartemen Yoonji mengambil barang-barangku. Saat aku masuk aku melihat ada sepasang sepatu namja.

“ apa Sungmin belum pulang?” Tanya eomma.

“ mungkin.”

“ Yoon ,,,” aku sedikit berteriak memanggil yeodongsaengku satu-satunya.

“ kenapa sepi sekali? Dimana mereka?” aku bergumam.

Aku mengecek ke kamar nya dan langsung membukanya tanpa mengetuk pintu.

Cekleeeeek ……

Aku terpaku didepan pintu.

“ ada apa Min?” Tanya eomma mendekatiku, di ikuti appa dibelakangnya.

“ sepertinya urutan nya akan berbeda eomma.”

“ urutan apa?”

“ aigo !!!!” eomma menutup mulut dengan kedua tangannya.

“ mereka masih pakai baju kan?” Tanya appa ,, santai (?)

“ aku rasa begitu.” Aku tersenyum geli sambil menutup pintu kamar Yoonji pelan.

-the end-

Deep Bow bareng Hee-djusi🙂

Jangan lupa tinggalin jejak kalian yaa chingu🙂

Kamshahamnida🙂