Anyeong onniedul! chingudeul! dongsaengdeul!! nomu bogosiposo~

hehe @esterong heree! niatnya kan setahun ini hiatus dulu, tapi idenya ini ga bisa ditahan. dan kebetulan karena hari ini tanggal 20 juli (mood bagus banget) makanya ffnya bisa terselesaikan.

kurang pede sebenarnya sama ff ini karena rasanya uda lama nda bikin ff hehe tapi hope you like it and enjoy it ya =)

createb by: esterong. dedicated to : JoHae couple hehehe soalnya karakter cowoknya donghae banget. jd main castny emang hrs Donghae hehe

hope you like it yaa! leave your comments here chingudeul. ur comments are love for me =) thank you! ^^

******

20 Juni 2013

Sepasang pria dan wanita sedang duduk berhadapan. Meja dari kayu jati yang berukuran 1×1 meter menjadi penghalang diantara keduanya. Ditilik dari gaya berpakaian mereka, dapat diterka bahwa mereka berasal dari golongan kelas atas. Wajah yang tampan dan cantik memberikan aura keserasian yang membuat orang-orang akan berkata, ‘Ah, pasangan yang serasi’. Tapi apakah demikian kenyataannya?

“Kenapa kau menerima pertunangan ini?” tanya sang gadis melenyapkan kesunyian yang sempat tercipta. Sebuah pertanyaan yang memperjelas hubungan mereka, kalau tuan dan nona ini bukanlah sepasang kekasih yang serasi. Bahkan kata ‘teman’ rasanya tidak dapat mendeskripsikan hubungan mereka yang sesungguhnya.

Mereka adalah anak tunggal dari keluarga Lee dan Shim yang dijodohkan. Orang tua mereka berharap pernikahan ini akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Ya, mereka berdua hanyalah korban dari keegoisan orang tua.

Tangan pria yang sedang mengaduk coffee latte itu terhenti. Kini ia menatap lurus mata sang gadis itu. “Karena perjodohan ini akan memberikan keuntungan yang besar untuk keluargaku. Ah, juga untuk keluargamu,” balasnya lalu mengangkat cangkirnya dan menyesap coffee latte tadi.

“Tapi aku tidak mencintaimu, tuan Lee Donghae,” ujar gadis itu tegas. Memberikan penekanan pada kata ‘Aku tidak mencintaimu’ untuk memperkuat pernyataannya.

Pria itu kini meletakkan cangkirnya, matanya kembali menatap gadis tadi. “Aku juga tidak mencintaimu, Shim Johee shi. Apa yang kau harapkan? Menikah dengan orang yang kau cintai? Hey, hidup kita ini sudah diatur oleh mereka. Kita tak punya hak untuk memilih pasangan. Siapapun yang kita cintai, pada akhirnya yang kunikahi adalah dirimu dan yang akan menjadi suamimu adalah diriku,” ujar Lee Donghae.

“Itu menurutmu, Donghae shi,” balas wanita yang bernama Shim Johee. Kini ia menatap lekat mata Donghae, bukan dengan mata yang dingin namun dengan mata yang teduh dan penuh dengan keyakinan.

“Aku tahu kalau aku memang tak berhak untuk memilih, namun cita-citaku sejak kecil adalah menikah dengan orang yang aku cintai. Asal ada kasih diantara aku dan pria yang kucintai, aku rasa uang bukan lagi menjadi yang utama. Kurasa aku rela melepas semuanya demi dia. Kadang kala, aku membayangkan diriku hidup di kota kecil bersama pria yang kucintai, membuka restaurant kecil dan membesarkan anak-anak kami bersama, aku rasa hal itu tidak buruk dan cukup menyenangkan,” jelas Johee.

Saat mengingat tiap detail imajinasinya itu, tanpa sadar bibirnya sudah menyunggingkan sebuah senyuman tulus nan manis.

Donghae yang melihat itu semua hanya bisa mendengus tak percaya. Ia tak tahu apa gadis ini memang polos atau memang bodoh? “Kau ingin menolak pertunangan ini demi pria yang entah kapan akan muncul dihadapanmu? Aku tak akan membiarkan itu terjadi,”

“Lalu kau mau apa?” tantang Johee.

“Dalam waktu sebulan aku akan membuatmu mencintaiku. Kalau dalam waktu 30 hari kau tetap tidak menyukaiku, kau boleh membatalkan perjodohan ini dan menemukan pria lain yang bisa kau cintai dan kau ajak hidup di kota kecil yang kau impikan itu. Tenang saja, aku akan meminta ayahku untuk tidak membatalkan kerjasama antara perusahaan kita,” ujar Donghae.

“Kau gila? Kau kira cinta bisa dipermainkan seperti ini? Kau kira kau siapa sampai kau yakin aku akan jatuh cinta padamu dalam waktu 30 hari?” tanya Johee setengah murka. Ia tak menyangka pria dihadapannya sepicik ini.

“Bagaimana kalau akhirnya kau mencintaiku? Aku tak akan membiarkan pertunangan ini gagal dan aku kehilangan miliaran won ku,”

Johee menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya. “Baiklah, baiklah. Terserah kau, tapi sebagai gantinya aku juga akan membuatmu membenciku sampai-sampai kau tak sudi untuk menikah denganku,” ancam Johee. “Aku pergi. Kau yang bayar semua ini,” ujar Johee lalu segera beranjak dari tempat itu. Semakin lama ia disana, emosinya makin tak terbendung.

Donghae menggigit bibir bawahnya untuk meredam emosinya. Ia tak menyangka kalau tunangannya yang masih seorang mahasiswi itu sangat bebal dan susah dikendalikan.

*****

25 Juni 2013

Donghae bergumul dengan dokumen-dokumen yang perlu dicermati dan ditandatanganinya. Saking seriusnya, ia sampai tak memperdulikan perutnya yang sudah kelaparan. Jam makan siang sudah lewat dari 2 jam yang lalu.

“Tuan Lee Donghae ada?” tanya seseorang diluar ruangan Donghae. Donghae bisa mendengarnya karena jendela antara ruangannya dan ruangan sekretaris terbuka. Dari suaranya, Donghae tahu kalau tamu yang tak diundang itu adalah Shim Johee. Donghae memijat pelipisnya sebagai tanda kalau ia sedikit kesal dengan kehadiran gadis itu. Ia memutuskan untuk tetap diam ditempat dan mencoba untuk tetap fokus pada berkas-berkas menyebalkan tadi. Menganggap gadis itu tak ada.

“Nona, Tuan Donghae minta untuk tidak diganggu. Saya mohon jangan masuk, saya bisa dimarahi,” ujar Sekretaris Kim.

Biasanya di dalam drama-drama Korea, sang gadis pasti akan tetap memaksa masuk tanpa memperdulikan sekretaris itu akan dimarahi atau tidak, Donghae pun berpikir demikian. Donghae berpikir kalau Johee akan tetap memaksa masuk. Tapi ternyata aksi yang dilakukan Johee sangat berlawanan dengan perkiraannya.

“Kau akan dimarahi? Apa bossmu itu memang sedikit temperamental? Baiklah, kalau begitu aku akan menunggunya disini,” putus Johee.

Donghae tercengang dengan sikap Johee. Ia kaget pada Johee yang berani menghinanya didepan sekretarisnya, dan ia lebih kaget saat menyadari kalau Johee berbeda dengan wanita golongan atas lainnya. Baru kali ini ia menemukan seorang wanita dari golongan atas yang sangat memperdulikan orang lain seperti Johee —tidak membiarkan sekretaris itu dimarahi Donghae adalah suatu bentuk kepedulian yang jarang terjadi di kehidupan golongan kelas atas—. Johee ternyata tidak egois. Johee ternyata tidak seenaknya sendiri. Dan Donghae baru mengetahui hal itu 2 menit yang lalu.

Sisi lain Johee yang baru Donghae ketahui membuatnya tak bisa lagi menganggap gadis itu tidak ada. Ia tak bisa duduk dengan tenang disinggasananya. Ada suatu dorongan didalam hatinya yang menyuruhnya untuk keluar dan menghampiri gadis itu. Ia penasaran akan maksud kedatangan Johee ke tempat ini.

Tak ingin membuat Johee menunggu lebih lama, Donghae segera keluar dari ruangannya. Tentu saja ia berpura-pura tidak tahu-menahu dengan kejadian tadi.

“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Donghae dingin dan angkuh, seperti biasanya.

“Aku ingin mengajakmu makan siang,” balas Johee dengan wajah tanpa rasa berdosa. Penuh senyum dan membuat hati siapapun menjadi damai. Donghae pun merasakan hal itu, namun ia tak bisa menghilangkan kebiasaannya berbicara dengan dingin dan angkuh pada gadis ini.

“Untuk apa kau jauh-jauh dari kampusmu hanya untuk mengajakku makan siang?” tanya Donghae.

“Makan siang bersama dengan tunanganku sendiri kurasa bukan hal yang aneh. Lagipula aku hari ini sedang bekerja di perusahaan, bukan ke kampus. Waeyo? Kau tak suka aku disini? Kau tak mau? Bukannya kemarin kau ingin membuatku jatuh cinta padamu dalam waktu 30 hari? Kurasa kalau sikapmu seperti hal ini, sampai 5 tahun yang akan datang pun aku tak akan menyukaimu,” ujar Johee dengan senyum kemenangan sudah tergurat di wajahnya.

Baru 30 detik yang lalu senyum Johee membuat hati Donghae damai, tapi kali ini gadis itu membuat Donghae kembali memijat pelipisnya. Salah satu kebiasaannya saat ia tertekan, kesal, atau setres. Gadis ini berhasil membuatnya merasakan semua itu sekaligus. “Baiklah, kau mau makan dimana?” tanya Donghae. Suaranya sudah tak sedingin tadi namun tersirat emosi digelombang suaranya.

“Ddeokboki,” jawab Johee.

Mata Donghae membesar. “Dari semua restoran di hotel berbintang 5 yang ada di Seoul, kenapa kau harus memilih ddeokboki? Apa kau tak tahu bagaimana respon orang-orang dari sosialita kita jika tahu kau dan aku, penerus tunggal perusahaan Lee dan Shim, makan siang di warung kaki lima?!”

Sosialita yang Donghae maksud adalah suatu komunitas orang-orang kaya di Seoul yang menghabiskan kehidupan sehari-harinya dengan berfoya-foya, berbelanja, minum-minum, memamerkan kekayaan mereka masing-masing dan bergosip. Dan mengapa Donghae sangat tak menyetujui ide Johee tadi? Ya, karena makan di warung kaki lima dianggap sebagai tindakan para proletar —sebutan mereka untuk rakyat jelata kelas bawah— yang sangat memalukan bagi para sosialita.

Johee mendengus, seakan mengejek. “Sudah kuduga kau tak akan sudi melakukan hal ini. Apa kau kira aku akan jatuh cinta padamu jika kau lebih mementingkan gengsimu dari pada aku? Perlu kau ketahui, aku tak pernah perduli dengan pandangan para sosialita itu pada diriku. Mereka hanyalah kumpulan anak-anak manja yang hidup seenaknya dengan mengandalkan uang yang bahkan bukan hasil jerih payah mereka sendiri,” ujar Johee dengan tatapan mata yang merendahkan.

Donghae yang mendengar itu semua hanya bisa terdiam tanpa berani menyanggah. Sebagian dirinya kesal karena direndahkan seperti itu —Donghae termasuk dalam sosialita itu, jadi jika Johee menghina mereka sama saja seperti Johee sedang menghina Donghae—, tapi jauh didalam hatinya ia menyetujui pernyataan Johee. Hanya saja ia tak mau mengakui kalau Shim Johee memang benar. Ia tak ingin kalah dari Johee.

“Tak masalah kalau kau tak mau. Aku bisa makan sendiri. Lagipula aku tak mau kau menyalahkanku jika besok wajahmu ada di website itu,” kata Johee. Website yang Johee maksud adalah TopClassSosialite.com yang didalamnya memuat artikel tentang gosip-gosip terbaru dari pemuda-pemudi sosialita atas di Seoul. Sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu hobby para Sosialita ini adalah bergosip dan website inilah media mereka.

“Kurasa 30 hari lagi, akulah pemenangnya,” ujar Johee dengan seringai kemenangan. Senyum itu membuat Donghae kesal setengah mati. Emosi membuat otaknya melupakan semua kekhawatirannya. Dengan segera, Donghae menggengam tangan Johee dan menariknya menuju lift.

“Aku tak akan membiarkan kau menang,” ujar Donghae saat ia dan Johee sudah berada di dalam lift.

“Kau gila,” kata Johee dengan dengusan mengejek.

“Sayangnya orang yang kau anggap gila ini akan menjadi suamimu,” balas Donghae dengan seringai licik.

Johee menghela nafas panjang. Ia kesal pada Donghae juga pada dirinya sendiri. Ia membuka tasnya lalu memberikan sebuah topi pada Donghae. “Pakai ini,” ujar Johee, terkesan memerintah. Ya, Johee kesal pada dirinya yang tak tega untuk menghancurkan image pria ini. Topi itu adalah bentuk keperduliannya.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Agar wajahmu tak terlihat,” jawab Johee.

Donghae menatap Johee penuh curiga. “Aku kesal padamu. Sejujurnya, aku juga benci padamu. Bahkan ada saatnya aku ingin mencabik-cabik dirimu. Tapi aku adalah wanita dengan integritas tinggi, aku tak ingin menang darimu dengan cara seperti ini. Anggap saja ini adalah awal dan aku sedang melakukan pemanasan. Aku tak akan membiarkan imagemu hancur. Setidaknya bukan hari ini. Kali ini kau bisa makan tanpa perlu khawatir dengan imagemu atau kau akan ketahuan. Paling hanya wajahku saja yang ada di website itu nanti malam,” jelas Johee, yang sangat jauh berbeda dari kata hati Johee.

Begitu pintu lift terbuka, Johee berjalan mendahului Donghae. Donghae yang berjalan 5 meter dibelakang Johee, terus memandang Johee. Donghae yakin ia tak memiliki masalah dengan pendengarannya namun kata-kata Johee yang Donghae dengar adalah bukan tentang integritas atau apapun. Telinganya mentranslatekan semua perkataan Johee tadi seperti ini: ‘Aku —Johee— benci padamu, namun aku tak tega menghancurkan imagemu karena aku perduli padamu,’ seakan Donghae bisa membaca kata hati Johee.

Donghae terkesiap. Akhirnya ia tersadar kalau sedari tadi ia memandangi punggung Johee lekat-lekat. Otaknya kewalahan menebak jalan pikiran gadis yang ada dihadapannya. 5 menit yang lalu, gadis itu menghinanya, merendahkannya sedemikian rupa. Semenit yang lalu ia mendeklarasikan kebenciannya pada Donghae. Namun pada akhirnya, mengapa gadis itu tetap memikirkan kepentingan Donghae tanpa memperdulikan dirinya sendiri?

*****

“Ini apa?” tanya Donghae saat melihat makanan yang tersaji dihadapannya. Kini mereka berada di warung kaki lima pinggir jalan yang menjual ddeokboki. Tuan Lee Donghae belum pernah makan makanan seperti ini sebelumnya.

“Ddeokboki. Sudah kukatakan tadi kalau aku ingin mengajakmu makan ddeokboki. Apa aku perlu membersihkan kupingmu?” tanya Johee setengah kesal yang hanya bisa Donghae balas dengan tatapan benci.

Johee sudah lebih dulu menyantap makanan itu sedangkan Donghae masih mengamati dan mengaduk-aduk isi ddeokboki itu. “Apa ini sehat? Tidak beracun?” tanya Donghae khawatir.

Johee menatap Donghae kesal. “Yaa, apa aku terlihat seperti orang sakit? Atau orang keracunan makanan? Aku tetap baik-baik saja meskipun sudah memakan makanan ini berulang kali. Makanlah, tak akan terjadi apa-apa pada tubuhmu. Apa kau tak pernah memakan ini sebelumnya? Aku tak tahu harus merasa kasihan padamu atau justru takjub,” ujar Johee setengah emosi.

Meskipun Johee sudah berkata demikian, Donghae tetap tak percaya. Kini ia sudah meletakan sumpitnya seakan tak berniat untuk memakan ddeokboki itu.

Johee mendengus kesal lalu menggambil salah satu ddeokbokki miliknya. Ia memanggil nama Donghae, “Donghae shi,” lalu saat Donghae mendongakkan kepalanya, Johee menyuapkan ddeokbokki itu ke mulut Donghae.

Mata Donghae membesar karena kaget namun mulutnya tetap mengunyah ddeokbokki itu. Lidah memang tak bisa bohong, bagi Donghae, makanan ini sangat nikmat.

“Enak, kan?” tanya Johee. Kepala Donghae dengan sendirinya mengangguk sebagai jawaban. Johee tersenyum tipis melihat respon Donghae itu.

“Makanlah yang banyak karena kau tak bisa makan seperti ini lagi jika bukan aku yang menjadi istrimu. Kita tak akan kembali ke kantormu jika kau tidak menghabiskan ddeokboki itu,” ujar Johee lalu kembali melahap makanannya.

Senyum Johee yang hanya sekilas tadi seakan mencuci otak Donghae. Pikirannya tentang Johee yang mengatakan bahwa gadis ini dingin, menyebalkan, dan lain-lain seakan sirna. Yang terbesit diotak Donghae adalah ‘gadis ini sangat manis saat ia tersenyum’.

“Jangan hanya melihatku, Donghae shi. Makanlah,” ujar Johee yang membuat Donghae akhirnya tersadar kalau sedari tadi ia telah melamun sambil terus menatap Johee.

“Kau terlalu percaya diri. Aku tak menatapmu,” sangkal Donghae. Ia segera mengalihkan perhatiannya dengan melahap 3 Ddeok sekaligus.

Donghae mulai menyantap makanannya. Rasanya ddeokboki ini lebih nikmat daripada makanan yang selama ini dibuatkan khusus oleh Koki asal Prancis langganannya. Namun Donghae tak mengerti, asal kenikmatan ini apakah karena ddeokbokki memang selalu seenak ini? Atau karena ada Johee yang menemaninya saat ini?

…..

“Semuanya 10.000 won,” ujar ajjuma penjual ddeokboki itu. Johee sudah mengeluarkan uang dari dompetnya namun dengan segera Donghae menahan tangan Johee.

“Waeyo?” tanya Johee.

“Aku saja yang bayar,”

“Tidak perlu,” jawab Johee lalu mengulurkan tangannya pada ajjuma tadi namun lagi-lagi Donghae menahan tangannya. Kini matanya menatap Johee lurus.

“Aku ingin membayar makanan yang telah dipesan oleh calon istriku, Johee ssi,” ucap Donghae dengan senyum yang dibuat-buat.

“Kau kira dengan membayar makanan yang aku pesan, aku akan jatuh cinta padamu?” tanya Johee saat Donghae menyerahkan uang itu pada ajjuma. “Kau harus lebih kreatif sedikit. Hatiku tak akan tergerak jika kau hanya mengandalkan uang. Uangku sama banyaknya denganmu. Apapun yang kau berikan padaku dengan uangmu, aku dapat membelinya sendiri dengan uangku. Pada akhirnya, aku tetap saja tak akan jatuh cinta padamu,” balas Johee lalu pergi meninggalkan Donghae yang sudah melongo tak percaya.

“Dia memang gadis yang menyebalkan,” gumam Donghae kesal. Kini pemikirannya tentang Johee adalah gadis manis sudah sirna. Shim Johee memang menyebalkan!

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam namun Donghae masih tetap berada di ruangannya bersama dengan dokumen-dokumen yang tak ada habisnya. Ditengah kesibukannya, tiba-tiba saja ponselnya bergetar dengan ringtone yang menandakan ada sms masuk.

Donghae membuka pesan itu. Dari Lee Sungmin, sepupunya.

“Apa kau tadi siang makan ddeokboki di warung pinggir jalan bersama Shim Johee? Apa benar? Kau sudah liat artikel terbaru di website? Meskipun wajah pria itu tidak jelas karena memakai topi, tapi banyak yang asumsi itu adalah dirimu. Sebenarnya aku tak percaya, tapi lebih baik kau klarifikasi sendiri. Meskipun aku tahu Shim Johee adalah calon istrimu, tapi aku minta jangan sampai kau terbawa dengan harus kehidupannya. Kau tahu sendiri kan kalau image Shim Johee sudah jelek di mata sosialita? Kau harus menjaga dirimu,”

Begitu selesai membaca sms dari Sungmin, Donghae segera menyalakan laptopnya dan membuka website tersebut. Benar kata Sungmin, artikel tentang Johee dan pria yang adalah dirinya menjadi Top Stories yang paling banyak dibaca dan di comment.

Siapa pria yang bersama Shim Johee itu? Kalian bilang itu Donghae? Tak mungkin. Tak mungkin Donghae mau berteman dengan Johee. Kalian tahu sendirilah bagaimana Johee. Karena dia derajat sosialita kita menurun’ — Kang Hyosun

‘Lagi-lagi Shim Johee membuat masalah. Apa dia tak pernah puas menurunkan derajat sosialita kita?’ — Shin Seori

‘Siapapun yang memposting ini, pria itu bukan Lee Donghae, kan? Andwe!’ — Jung Hera

‘Shim Johee, kau menyebalkan! Apa yang kau lakukan pada Lee Donghae sampai ia mau makan bersamamu dipinggir jalan seperti itu?’ — Kim Bonsu

Ada sekitar 500 komentar disana dan hampir semuanya menghujat Johee. Donghae menscroll laptopnya hingga comment yang paling bawah. Matanya membesar saat membaca penulis komentar itu.

‘Hai, bro and sis. I’m here. Don’t talk about me behind me. Kalau kau tak suka padaku, langsung saja katakan padaku. Aku dengan baik hati akan meladeni kalian ^^. Ah, yang ingin kuberitahu adalah pria itu bukan Lee Donghae. Kalian tahu sendiri, kan? Lee Donghae tak mungkin bergaul denganku karena aku hanya akan merendahkan derajat sosialita dirinya dan kalian semua. Oia, jangan berani-beraninya menyangkut-pautkan masalah ini dengan tuan Donghae, ya. Kalian tahu sendiri kalau ia adalah tuan muda paling berkuasa di sosialita ini. Annyeong!’ — Shim Johee.

Donghae merefresh laman web itu, dan tak sampai semenit komentar yang ditulis Johee sudah direply oleh sekitar 200 sosialita lainnya. Isinya masih sama seperti tadi, menghina Johee dan lain-lain.

Donghae geram melihat setiap isi komentar itu namun bukan karena namanya yang dibawa-bawa melainkan karena Johee dihina. Ia tak bisa berdiam diri, ia harus melakukan sesuatu karena demi melindungi Donghae, Johee sampai dicerca sedemikian rupa.

Tiba-tiba saja, ponsel Donghae berdering lagi. Kini ommanya menelponnya. Inti dari pembicaraan ditelpon itu adalah Donghae disuruh segera pergi ke restaurant langganan mereka. Donghae menghela nafas panjang, ia tahu hal ini akan terjadi.

*****

“Mengapa kau bisa teledor seperti ini?!” tanya omma Donghae atau lebih tepatnya membentak. Ia pasti sudah membaca artikel di website itu. Donghae dan Johee (yang juga disuruh datang ke restaurant itu) hanya diam saja.

“Aku menjodohkan kalian berdua karena keluarga kita saling membutuhkan. Tapi yang kuinginkan adalah kau, Lee Donghae, tidak ikut menjadi seperti Johee yang memang terkenal dengan perilakunya yang membuat derajat sosialita ini menurun. Dan Kau, Shim Johee, yang kuinginkan adalah kau menjadi seorang wanita yang elegan yang pantas menjadi pendamping Donghae,” ujar omma Donghae.

Johee berdiri lalu membungkukan badannya. “Jwesonghamnida, aku memang salah karena tak berpikir panjang saat mengajak Donghae keluar. Tapi sampai kapan pun, aku tak berniat untuk mengubah diriku menjadi orang lain,” ujar Johee.

Wajah omma Donghae memerah, matanya membesar seakan tidak percaya dengan perkataan nona muda itu. “Kau!” serunya. Namun ia menahan emosinya mengingat dirinya harus menjaga intelektualnya.

“Harusnya gomonim berpikir lebih matang sebelum menjodohkanku dengan anakmu. Kau tahu sendiri aku bagaimana, kan? Kau salah satu pembaca setia dari website itu, kan? Annyeonghasimika,” pamit Johee lalu meninggalkan tempat itu.

“Omo, omo, omo. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu padaku? Bagaimana tuan Shim mendidik anaknya?” gumam omma Donghae tak percaya.

Donghae manatap punggung Johee lekat. Otaknya seakan mereview semua kebersamaannya dengan Johee beberapa hari ini. Ia ingat bagaimana menyebalkannya Johee saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu. Namun ia juga ingat bagaimana senyum Johee, kebaikan Johee, bahkan saat ini Johee tetap melindunginya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.

Semua ingatan yang kompleks itu membuat Donghae tersadar kalau Shim Johee memang bukan gadis yang biasa. Ada sesuatu dalam diri Johee, yang entah apa, namun mampu membuat Donghae takjub dan terpesona pada Johee.

“Yang aku yakini, keluarga Shim pasti mendidiknya dengan baik sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sederhana, tidak ada kesombongan dan keegoisan. Ia sangat mempesona,” ujar Donghae —Donghae sendiri tak menyangka mulutnya bisa berkata seperti itu— saat punggung Johee sudah menghilang dari pandangannya.

“Omma, akan kupastikan ia menjadi menantumu. Aku akan mengejarnya,” pamit Donghae lalu mengejar bayangan Johee itu.

Omma Donghae terduduk lemas dibangkunya. Ia tak pernah menyangka anak tunggalnya yang ia didik untuk menjadi pria paling perfect di Korea, bahkan di seluruh dunia ini, ternyata mencintai gadis yang sedikit kurang ajar seperti Johee.

Namun Donghae tak memperdulikan kekhawatiran orangtuanya itu. Ia terus berlari mengejar Johee. Otaknya masih bertanya-tanya, ‘Kenapa aku harus mengejarnya?’ namun hatinya tetap memerintahkan kakinya untuk berlari. Semua ketidak-sinkronan yang terjadi dalam dirinya menjawab pertanyaannya: Lee Donghae baru saja jatuh cinta pada Shim Johee. Rasa yang mungkin sudah ada sejak awal pertemuan mereka, namun kali ini persaan itu membuncah sampai tak mungkin lagi bagi Donghae untuk menganggap perasaan ini tak ada.

*****

“Johee,” panggil Donghae pada gadis yang berjalan 3 meter didepannya. Johee menghentikan langkahnya lalu memutar badannya untuk melihat Donghae.

“Waeyo?” tanya Johee. Ia menatap Donghae heran. Nafas Donghae tersenggal-senggal. Keringat mengalir dipelipisnya. Bahkan kemeja putihnya menjadi terawang berkat keringat yang membasahi kemejanya.

Donghae tak menjawab. Namun ia maju beberapa langkah mendekati Johee. Tepat saat dia sudah berhadapan dengan Johee, matanya hanya menatap lekat seluruh wajah Johee yang baru ia sadari ternyata begitu cantik.

“Waeyo?” tanya Johee lagi. “Kalau tak ada apa-apa, aku pulang. Aku bisa ketinggalan bus terakhir,” omel Johee.

“Aku ada perlu denganmu sebentar. Tapi aku ingin kau janji untuk tidak memukulku,” ujar Donghae. Alis Johee naik beberapa mili tanda ia tak mengerti maksud Donghae.

Donghae maju selangkah lagi lalu menggenggam kedua tangan Johee. “Hanya untuk memastikan kalau kau tidak akan memukulku,” gumam Donghae lalu mengguratkan senyum manis diwajahnya.

Tiba-tiba saja Donghae mencium bibir Johee. Johee terkesiap namun ia tak bisa melawan, tangannya digenggam erat oleh Donghae. Meronta pun tak ada gunanya. Donghae mengecup bibir itu lama dan lembut. Johee bahkan bisa melihat bus terakhirnya baru saja melewati mereka berdua. Johee nyaris saja mati sesak nafas kalau Donghae tidak melepaskan bibirnya dari bibir Johee.

Johee ingin mendorong Donghae, menjauhkan tubuhnya dari Donghae. Namun tak ada yang bisa Johee realisasikan karena Donghae menggenggam erat tangan Johee.

“Apa maksudmu?!” seru Johee. Donghae tak menjawab. Ia tersenyum tipis sambil terdiam menatap lekat wajah Johee.

“Waeyo?!” tanya Johee lagi saking kesalnya. Ia kesal dengan semua perbuatan Donghae dan perubahan sikap Donghae yang terlalu tiba-tiba.

“Aku harus mengatakan, kalau usahamu untuk membuatku membencimu itu gagal total. Aku sudah jatuh cinta padamu,” ujar Donghae, akhirnya.

Mata Johee membesar menyatakan keterkejutan. “Mwo?! Kau gila! Mana mungkin kau jatuh cita padaku secepat itu? Lagipula yang kuingat selama ini adalah aku selalu membuatmu kesal! Tak mungkin kau jatuh cinta padaku!” seru Johee kesal. Ia merasa dipermainkan.

Donghae melepas salah satu genggaman tangannya. Ia merapikan poni Johee lalu menyingkap sebagian rambut Johee kebelakang telinganya. “Aku tahu kau tak akan percaya. Sebagian diriku juga tak mempercayainya. Kau memang sering membuatku kesal, namun kenyataannya kau lebih sering membuatku terpesona padamu. Dan aku akhirnya, mencintaimu Johee,” jawab Donghae dengan tulus.

Johee terdiam. Matanya memandang lekat mata Donghae. Tak ada kebohongan, kepalsuan, kemunafikan disana. Semuanya hanya kejujuran. Johee tak bisa menyangkal perasaan Donghae lagi. Mata Donghae sudah membuktikannya.

Menyadari perasaan Donghae yang bukan hanya tipu muslihat membuat tubuh Johee memanas dan wajahnya merona. Reflek, ia mengalihkan tatapannya dari mata itu.

“Baiklah. Aku percaya pada kata-katamu. Tapi sayangnya aku belum mencintaimu,” ujar Johee. Namun itu sama sekali tidak mematahkan semangat Donghae.

“Aku tahu itu. Tapi masih ada 25 hari, kan? Aku akan pastikan kau akan menjadi istriku,” ujar Donghae penuh percaya diri.

“Baiklah, jangan buat aku kecewa dengan sikapmu,” ujar Johee yang tersirat seperti tantangan.

“Jangan khawatir, nona Johee shi,” balas Donghae dengan senyum kemenangannya.

“Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kau kuantar pulang dulu? Aku tak tega membiarkan gadis yang kucintai harus berjalan kaki sampai rumahnya di Gang-Nam,” ujar Donghae.

“Kau kira salah siapa ini?” sindir Johee kesal.

“Salahmu. Kau terlalu mempesona sampai aku ingin sekali menciummu tadi,” balas Donghae dengan seringai usil, sedangkan Johee sudah mati kutu saking malunya.

“Kajja,” ajak Donghae sambil menggenggam erat tangan Johee.

******

30 Juni 2013. TopClassSocialite.com just posted:

LEE DONGHAE REVEAL THAT HE IS THE MAN IN SHIM JOHEE DDEOKBOKI’S SCANDAL!!!

“Pria yang bersama Johee saat itu adalah.. Ya, aku. Lee Donghae. Jadi, jangan pernah menghina Johee karena masalah ini. Justru kalianlah yang menurunkan derajat sosialita kita dengan hanya bisa menghambur-hamburkan uang untuk tujuan yang tidak jelas,”

Semua orang seakan mati kutu membaca postingan itu. Postingan itu dibaca nyaris sekitar 1.000.000 orang dalam satu jam, namun tak ada yang berani memberikan komentar apapun kecuali satu orang: Shim Johee.

“Jadi Lee Donghae menghancurkan image sendiri demi aku? Aku sangat tersentuh. Datanglah ke kantorku dan aku akan mengajakmu makan dddeokboki lagi ^^” – Shim Johee

Komentar itu langsung di reply oleh orang bersangkutan. Demi Johee, ia bahkan rela menunggu laman itu dan bolak-balik merefreshnya. Untuk apa? Sejak tadi ia memang menunggu Johee memberikan komentar akan postingan itu. Ia ingin tahu respon Johee. Ia melakukan semua ini dengan tulus karena cintanya pada Johee.

“Aku sudah dijalan. Tak cukup hanya ddeokboki. Aku butuh cintamu. Tinggal 20 hari lagi” — Lee Donghae.

……

“Lee Donghae. Apa kau berkepribadian ganda? Kau dulu sangat dingin, angkuh dan penuh gengsi. Tapi kau sekarang seperti orang lain!” ujar Johee setelah Donghae tiba di ruangan Johee, di Shim Cooperation.

Donghae terdiam sesaat, memikirkan perkataan Johee barusan. “Aku rasa, aku tidak memiliki kepribadian ganda. Aku tetap seperti Donghae yang dulu diluar sana. Tapi entah mengapa, saat aku bersamamu semua keangkuhan dan gengsi itu seakan luntur. Dan aku menikmati perubahan ini,” jawab Donghae.

Johee tersentuh dengan jawab Donghae. Namun ia hanya bisa tersenyum.

“Tapi, pernyataanmu dalam postingan itu sungguh mengesankan. Kau menakjubkan, Lee Donghae!” puji Johee.

“Aku melakukan semua ini untukmu. Tapi.. entah mengapa, aku memiliki kepuasaan tersendiri mengatakan hal itu pada mereka,” jawab Donghae. Kepuasaan tersirat diwajahnya.

Johee tersenyum kembali dalam diam sambil mengamati wajah pria itu. Sudah 5 hari ini Johee nyaris selalu bersama Donghae tiap saat —kecuali jika mereka ada meeting—. Selama itulah, Johee akhirnya benar-benar mempercayai perasaan Donghae.

Kini ia tak lagi membenci pria itu. Didalam dirinya tak ada lagi keinginan untuk mencabik-cabik tubuh pria itu. Tak pernah terbesit lagi. Kini yang Johee inginkan adalah bersama Donghae selalu, namun ia belum memastikan arti perasaannya. Ia belum bisa membedakan antara suka sebagai sahabat atau cinta. Maklum, ini juga pertama kalinya bagi Johee.

Masih ada 20 hari lagi dan Johee akan menjawab semua pertanyaan batin Donghae.

“Kenapa kau menatapku sedari tadi?” tanya Donghae menangkap basah Johee. Johee yang merasa malu karena ketahuan hanya bisa mengalihkan wajahnya. Menjauhi tatapan Donghae. Jantung Johee berdebar kencang karena Donghae masih menatap lekat Johee seakan menyelidiki apa maksud Johee menatap Donghae tadi.

Ujung alis sebelah kiri Donghae naik beberapa mili. “Kau.. menyukaiku?” tanyanya. “Ani, Ani. Tak cukup hanya itu. Kau mencintaiku?” tanya Donghae.

Johee tak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Tapi, mendengar pertanyaan Donghae tadi membuat jantung Johee yang sudah berdebar kencang, debarannya makin kencang lagi. Sangat cepat, sampai membuat Johee sesak nafas.

Johee merasa dadanya sakit. Bukan sakit karena ia disakiti, namun karena ada perasaan yang hendak meledak dari dalam tubuh Johee namun setengah mati ia menahannya. Perasaan tertahan itulah yang begitu menyakitkan namun memabukkan.

Johee tak kuat lagi menahan perasaannya itu. Ia takut jantungnya bisa keluar dari rongga dadanya. ‘Aku harus segera pergi dari sini,’ pikir Johee. Johee bangkit dari tempat duduknya. Berjalan cepat, nyaris berlari, menuju pintu ruangannya. Namun sebelum Johee hendak membuka kenop pintu itu, tangannya ditahan oleh tangan Donghae. Gesekan antara kulit itu membuat detak jantung Johee makin abnormal.

Donghae berdiri di belakang Johee dengan posisi tangan kanan masih menahan tangan Johee yang bertengger di kenop dan tangan kirinya bersandar pada pintu itu. Menjaga agar tidak akan terbuka.

“Maafkan aku,” ujar Donghae lirih. Suaranya sangat lemah seperti orang yang baru saja disiksa batinnya. Suara yang menyakitkan itu membuat hati Johee mencelos. Semua perasaan yang tadi memabukkan seakan menguap, berganti dengan kesedihan, rasa bersalah, dan penasaran.

“Maafkan aku, Johee,” ujar Donghae dengan suara menyedihkan itu lagi. Posisi mereka belum berubah semili pun.

“Maafkan aku,” kata Donghae kesekian kalinya seakan ia baru saja melakukan dosa yang sangat besar sampai-sampai Johee tak akan mengampuninya. “Aku seharusnya tidak memaksakan perasaanku padamu seperti tadi. Harusnya aku memikirkan perasaanmu terlebih dulu. Kau terlihat tidak nyaman dan terganggu karena perasaanku. Aku mencintaimu tapi maafkan aku karena aku begitu egois. Aku akan berusaha berubah dalam 20 sisa hari ini. Tapi aku mohon, jangan pernah menghindar dariku,” ujar Donghae.

Johee mencelos. Ternyata Donghae begitu memikirkan perasaannya sampai-sampai ia harus menyakiti dirinya sendiri. ‘Kau bodoh Johee! Kau sudah menyakiti hati pria ini!’ Johee memaki dirinya sendiri. Johee merasah bersalah karena ia tak kunjung memberikan jawaban pada Donghae. perasaannya bercampur aduk karena ia sendiri belum bisa mengartikan debaran ini. Namun setidaknya, ia harus mengatakan pada Donghae kalau ini sama sekali bukan kesalahan Donghae.

Johee memutar tubuhnya. Kini posisi mereka saling berhadapan. Tubuh mereka berjarak sekitar 30 cm, namun Johee menarik perlahan kemeja Donghae sehingga kini mereka sangat dekat. Johee menjinjit dan kini Donghae sudah berada dalam pelukan Johee. Tangan Johee ia lingkarkan di leher Donghae. Donghae hanya diam terpaku tanpa membalas pelukan itu.

“Kau tidak salah sama sekali. Justru aku yang harus minta maaf karena menggantungkanmu selama ini. Aku tidak pernah terganggu dengan perasaanmu. Justru aku sangat bahagia mengetahui ada pria yang baik hati mencintaiku. Namun sayangnya, aku belum bisa mengartikan semua debaran yang aku rasakan saat bersamamu. Semua perasaan ini masih terlalu abstrak untukku sehingga aku memerlukan waktu lebih lama untuk memastikan hatiku sendiri,” jawab Johee, akhirnya ia mengeluarkan unek-uneknya.

Johee bisa merasakan hembusan nafas Donghae melewati telinganya. Donghae baru saja menghembuskan nafas lega berkat pernyataan Johee. Kini ia membalas pelukan Johee. “Coba jelaskan apa yang kamu rasakan saat aku di dekatmu. Mungkin aku bisa membantu,” saran Donghae.

Johee awalnya ragu, namun akhirnya ia melakukan sesuai saran Donghae. “Aku.. entahlah. Jantungku berdetak sangat cepat. Terlalu cepat sampai membuat nafasku sesak dan dadaku nyeri. Namun aku yakin ini bukan sakit jantung karena rasa sakitnya tidak menyiksa. Rasa ini memabukkan. Aku tak tahu kata ‘memabukkan’ itu apa bisa mendeskripsikan yang sesungguhnya aku rasakan. Tapi kurasa itulah yang paling mendekati. Aku bahagia, seakan lupa segalanya saat bersamamu. Aku seperti pecandu narkoba saat bersamamu. Tapi semua itu tak pernah kuperlihatkan karena aku takut kau beranggapan aku tidak normal,” kata Johee.

Johee dapat mendengar Donghae tertawa kecil. Johee bingung. Rasanya tidak ada statement lucu yang keluar dari mulutnya tadi. Johee melepas pelukannya untuk meminta pejelasan dari wajah gembira Donghae. Johee sama sekali tak tahu apa yang membuat Donghae tersenyum dan tertawa kecil seperti ini. Ia tak lagi sedih, malahan terlihat sangat gembira.

“Kenapa?” tanya Johee.

“Aku tahu mengapa kau merasakan hal itu,” jawab Donghae dengan senyum kemenangan. Johee menatap Donghae heran, sedangkan wajah Donghae terus mendekati telinga Johee. Bibir Donghae berbisik, “Karena kau mencintaiku,” gumamnya.

Johee tercekat, terkesiap. Lagi-lagi perasaan memabukkan itu muncul. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. “Sekarang jantungmu pasti berdetak, kan?” tanya Donghae. Dia benar. Namun Johee tak memberi jawaban apapun. “Itu karena aku berada sangat dekat denganmu. Juga karena kau mencintaiku. Dan kenyataannya, aku juga mencintaimu,” diakhir bisikan itu, Donghae mengecup kilat pipi Johee.

Johee berteriak dan hendak mendorong Donghae, tapi ternyata ia kurang gesit karena Donghae lebih dulu menariknya kedalam pelukannya. “Aku tahu, mungkin kau belum mempercayai dirimu sendiri kalau hatimu mencintaiku. Kau merasa semua ini terlalu cepat. Tapi asal kau tahu, awalnya aku juga membencimu, namun dalam waktu hanya 5 hari, aku sudah tergila-gila padamu. Awalnya aku tak percaya, namun akhirnya aku sadar kalau kita memang berjodoh. Jadi, dalam 5 hari aku jatuh cinta padamu bukanlah hal yang tidak mungkin karena Tuhan sudah berkehendak demikian. He has a bigger plan than we had for ourself,”

Johee menghela nafas panjang. Ia terlalu lelah untuk berdebat saat ini karena jantungnya sudah terlalu hyperaktif dari tadi. Ia hanya terdiam menyetujui perkataan Donghae.

“Masih ada 20 hari lagi, aku akan membuatmu mengakui kalau kau memang mencintaiku, sayang,” bisik Donghae lagi.

‘Argh!’ gumam Johee dalam hati. Ia frustasi karena pria ini berhasil membuat dirinya dan perasaannya kacau balau.

******

5 Juli 2013. TopClassSocialite.com just posted:

SPOTTED! DONGHAE AND JOHEE ROMATIC KISS IN PEDESTRIAN!

Postingan itu berupa gambar dimana Donghae mencium Johee di trotoar pada tanggal 25 Juni 2013 yang lalu. Hari itu adalah hari dimana Donghae akhirnya menyadari kalau ia jatuh cinta pada Johee. Dari gambarnya jelas sekali kalau ini adalah gambar yang diambil secara diam-diam.

Reaksi postingan ini luar biasa. Kali ini tidak hanya viewers yang melebihi 1.000.000 dalam satu jam, komentar-komentarnya pun sangat banyak. Dan akan sangat mengerikan untuk dibaca karena komentar-komentar itu sangat jahat dan pedas. Contohnya:

YAA! SHIM JOHEE! APA YANG KAU LAKUKAN PADA DONGHAE?! KAU TAK PANTAS BERSAMANYA! APA KAU MENJUAL TUBUHMU?! YA, PASTI KAU SUDAH MENJUAL TUBUHMU KARENA TAK MUNGKIN PRIA SEMPURNA SEPERTINYA MENCINTAIMU! SEJAK AWAL, SAAT DONGHAE MEMBELAMU DIPOSTINGAN SEBELUMNYA, AKU YAKIN PASTI ADA YANG TIDAK BERES. KAU PASTI MENGANCAMNYA, KAN? MATI SAJA KAU!” – Cho Eunso

Komentar yang lain tak kalah sadis dari yang diatas ini. Donghae nyaris meledak membaca semua komentar ini. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba mengklarifikasi.

“Kalian salah besar. Tak bisa kah kalian melihat kedua tangan Johee yang kupegang sangat erat itu? aku melakukan itu karena aku tak ingin ia menolak ciumanku. Akulah yang menciumnya. Aku yang menginginkan ciuman itu karena aku mencintainya! Bukan seperti apa yang kalian tuduhkan!” — Lee Donghae

Beberapa menit kemudian, banyak yang mereply komentar Donghae seperti ini:

“Kau terlalu baik Donghae. Katakan saja kalau dia memang mengancammu, kami akan lebih mempercayai hal itu daripada komentarmu yang diatas ini,” — Kang Hyosun

Donghae melepas kaitan dasinya. Dan memijit pelipisnya. Ia tertekan, stress, dan kesal. Ia kesal karena semua hal itu menyakiti Johee, bukan dirinya. Ia tahu, Johee tak akan ambil pusing dengan semua komentar-komentar itu namun ia harus mencari cara agar seisi Korea Selatan ini tahu.. Ani.. Kurang! Seluruh dunia kalau perlu! Ia ingin mereka semua tahu kalau Lee Donghae benar-benar mencintai Shim Johee.

Donghae bergegas mengambil jasnya yang sedari tadi menggantung di kursi kemegahannya di ruangan kantornya itu. Ia berjalan menuju parkiran. Ia meminta kunci dari supirnya dan menyetir mobil BMWnya itu sendiri dengan kecepatan luar biasa sehingga jarak kantor Johee yang biasanya menghabiskan waktu 60 menit, kini hanya 20 menit.

Donghae berlari sangat cepat menuju ruangan Johee. Tak ada satu pun petugas keamanan ataupun resepsionis yang menahannya karena mereka sendiri tahu tentang artikel itu dan mereka tahu maksud kedatangan Donghae saat ini adalah: menyelamatkan Johee dari semua rasa sakit yang mungkin saja menghampirinya setelah membaca semua komentar jahat itu.

“Hai Donghae!” sapa Johee riang ketika Donghae memasuki ruangan Johee bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Reaksi yang sangat berbeda dari perkiraan Donghae tadi. Ia pikir, Johee sudah menangis tersedu-sedu. Namun wajah Johee yang tersenyum ceria seperti ini jauh lebih baik dari hal apapun.

Donghae lega setengah mati. Ia langsung menyambar Johee dalam pelukannya. Erat sekali.

“Aku tidak apa. Kau tahu sediri, kan? Ini bukan pertama kalinya aku dibashing. Aku sudah kebal,” jawab Johee santai sambil membalas pelukan Donghae.

“Harusnya aku ingat itu, jadi aku tak perlu menyetir dengan kecepatan 120 km/jam untuk sampai kesini dalam waktu 20 menit,” jawab Donghae diiringi tawa kecil, menertawakan kebodohannya. Ia sempat lupa kalau gadisnya ini sangat kuat dan tegar.

“Bagaimana kalau kita sekalian kencan? Aku sudah terlanjur membatalkan meetingku hari ini. Kalau aku kembali ke kantor sekarang, aku bisa bosan setengah mati,” jawab Donghae.

Johee tertawa dan mengangguk sebagai tanda persetujuannya. “Tapi kita makan ddeokboki dulu,ya?” pinta Johee dan tanpa ragu Donghae menyetujuinya.

“Kau tak masalah? Kau tak memikirkan komentar para sosialita itu?” tanya Johee, niatnya menggoda Donghae.

“Sejak aku jatuh cinta padamu, aku otomatis menjadi kebal dengan komentar-komentar itu. Aku bahkan tak pernah memikirkan image-ku lagi,” jawab Donghae yang memicu tawa mereka berdua.

“Tuan Donghae yang sekarang bukan lagi tuan muda yang angkuh seperti dulu. Aku suka perubahan itu,” timpal Johee.

“Kau yang membuatku seperti ini. Aku bersyukur jatuh cinta padamu,” balas Donghae dengan mengecup kening Johee.

******

20 Juli 2013. TopClassSocialite.com just posted:

LEE DONGHAE PROPOSED SHIM JOHEE!

Postingan itu berisi foto-foto dan video saat Donghae melamar Johee di gereja, didepan semua jemaat dan orang tua Johee.

Hari ini, jam 8 pagi tadi. Johee dan Donghae pergi ke gereja bersama. Sebulan ini mereka selalu melakukan hal  itu. 5 menit sebelum ibadah selesai Donghae menghilang. Johee pikir ia ke kamar mandi, ternyata Donghae muncul disamping Pak Pendeta setelah doa berkat selesai.

“Untuk para haelmoni, ajjushi, ajjuma, hyung, nuuna, dongsaeng, dan yeodongsaeng, duduklah sebentar di kursi anda masing-masing. Aku mohon, jangan ada satu pun yang keluar dari tempat ini karena aku memerlukan kalian untuk menjadi saksi di salah satu hari paling bersejarah untukku,” kata Donghae dengan microphone wireless yang ada di depan bibirnya agar semua orang dapat mendengar intrusksi darinya.

Donghae menatap Johee penuh arti. Sedangkan Johee malah mengangkat salah satu alisnya tanda ia tak mengerti, bingung, dan heran. Disaat Johee disibukan dengan pertanyaannya sendiri, sebuah melodi mengalun dari setiap speaker yang ada di gereja tua itu. Dan Donghae pun mulai bernyanyi. Marry You, Lagu hits di album kedua Super Junior.

Love, Oh baby my girl
My dazzlingly beautiful bride
You are a gift from god
Are you happy? There’s tears flowing from your eyes
Until the day your black hair turns white
My love, you my love, I swear I love you

I want to tell you every single day that “I love you”
Would you marry me?
I want to live loving you and cherishing you
I want to put you to sleep in my arms every night
Would you marry me?
With this heart of mine, will you accept me?

I’ll stay next to you for the rest of my life (I do)
I love you (I do)
Through rain and snow, i will be there to protect you (I do)
Let me be the one to protect you, my love

You in a white gown, me in a tuxedo
We walk step in step underneath the moon
I swear, no lies, no suspicion
My princess, my love, stay with me

Even if we are becoming older, we will smile and live on
Would you marry me?
Are you willing to live the rest of your life with me?

Through hardships and troubles (I do)
I’ll always be there (I do)
All the many days we’ll spend together (I do)
I’m going to be thankful each and every day (My Love)

I prepared this ring for you since long ago
Please take this shiny ring in my hand
I’ll remember this promise we shared with the same heart
Would you marry me?

I’ll stay next to you for the rest of my life (I do)
I love you (I do)
Through rain and snow I’ll cherish you (I do)
I’ll take care of you (My love)
Through hardships and troubles (I do)
I’ll always be there (I do)
All the many days we’ll spend together (I do)

All I have to give you is my love
That’s all I’ve got to offer
I know I lack many things but not my love
I’ll look out and take care of you

Donghae berjalan menuju tempat duduk Johee dengan langkah perlahan yang disesuaikan dengan tempo lagu tersebut. Namun langkah itu penuh keyakinan seakan tidak ada lagi keraguan dihatinya.

Will you promise me just one thing?
No matter what happens
We’ll always love each other… That’s all
Will you marry me?

Donghae kini tepat berada dihadapan Johee yang sudah keluar dari bangkunya dan berdiri di hadapan Donghae, tepat di bagian tengah gereja itu sehingga semua mata memandang mereka. Namun tiba-tiba saja suara dan lagu Donghae terhenti dilirik itu. Aneh. Padahal itu bukanlah lirik terakhir. Masih ada kata ‘I DO’ sebagai penutup lagu tersebut.

Donghae merogoh saku celananya. Ada sebuah kotak merah dilapisi kain beludru. Johee tahu apa itu, namun ia belum bereaksi sampai akhirnya Donghae membuka kotak itu dan memamerkan isi didalamnya. Indah. Berkilauan. Namun sedehana.

“Cincin ini sederhana namun setelah aku memandangnya cukup lama, aku sangat tertarik dan ingin membelinya padahal penjaga toko itu tidak merekomendasikan cincin ini padaku. Tapi akhirnya aku sadar, kenapa aku menginginkan cincin ini. Ya, karena ia sangat mirip denganmu. Kau sangat indah, berkilau, namun sederhana. setelah waktu 5 hari terlewati untuk aku mengenalmu, aku langsung jatuh cinta padamu. Sama seperti keputusanku untuk menjadikan cincin ini sebagai lambang aku ingin terikat denganmu,”

Johee tersenyum dengan mata yang berair. Johee hendak menangis. Tangis bahagia. Ia terlalu bahagia sampai lidahnya pun menjadi kelu. Donghae tersenyum bahagia melihat reaksi Johee itu. Ia terdiam sesaat agar Johee dapat menenangkan dirinya terlebih dahulu.

‘Nawa gyeolhanhaejurae?’ Donghae menyanyikan kembali lirik terakhir dari lagu itu yang artinya: Will you marry me?

Donghae terhenti lagi dan Johee akhirnya mengerti. Dialah yang harus menyelesaikan bagian terakhir lagu itu.

“I do.. Lee Donghae, i do,” ucap Johee lalu memeluk Donghae dengan sangat erat. Kebahagiaan mereka diiringi dengan tepuk tangan meruah dari semua jemaat yang ada di tempat itu.

Reaksi postingan ini sangat luar biasa! Dalam 30 menit sudah ada sekitar 1.000.000 viewers dan 5000 komentar dari visitor yang berasal dari dalam Korea dan bahkan mancanegara! Ada yang ikut senang dengan memberikan selamat, namun ada juga yang membashing postingan ini. Tentu saja, mereka hanya iri dengan Johee.

“Undang aku kalau kalian menikah,” — Paris Hilton

“Andwe! Aku tak rela! Pria itu seharusnya menjadi milikku!” — Cho Eunso

“Cepat menikah dan berikan kami cucu!” — Shim Shinwoo (Ayah Johee)

“Aku dengar kau melamar Johee sambil menyanyikan lagu Marry You kami? Undang kami, dan kami akan menyanyikan lagu itu sekali lagi di pestamu tuan Lee! Tenang saja, ini gratis. Hadiah dari kami ^^ Selamat!!” — Park Jungsoo, Leeteuk, Super Junior.

“Johee lihat!” panggil Donghae pada Johee yang tertidur dipangkuannya. Ia memberikan ipadnya pada Johee lalu menunjuk komentar paling akhir dari leader Super Junior itu.

Mata Johee membesar. “Jeongmal?!” Donghae mengangguk sebagai jawaban atas ketidak-percayaan Johee.

Tapi wajah Johee seketika jadi sedikit sedih. “Tapi aku inginnya sebuah pesta sederhana. Tidak berlebihan dan menghambur-hamburkan uang,” ujar Johee.

Donghae mengambil ipadnya kembali. Lalu meringkuk dan mencium bibir Johee sekilas. “Baiklah, kita tetap pakai konsep pernikahan sederhana. Namun, kita akan tetap mengundang Super Junior. Ketambahan 13 keluarga baru tidak masalah, kan?” usul Donghae yang Johee setujui.

*****

“Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tidak bisa mengundang kalian semua karena pernikahan sosialita kelas atas kali ini tidak seperti biasanya. Ini bukan pernikahan yang mengharuskan aku untuk menghambur-hamburkan uangku. Pernikahan kami hanya akan dihadiri kerabat dekat kami. Hanya sebuah pernikahan sederhana seperti yang diinginkan calon istriku. Namun, untuk Leeteuk shi, kami harap Super Junior mau bernyanyi untuk kami ^^. Aku akan mengantarkan undangan untuk Super Junior ke tuan Lee So Man ^^” — Lee Donghae

END.